Prenote: Aturannya masih sama, perhatikan tahun dan tanggal di cerita ini supaya kalian nggak pada keliru. Enjoy :)
.
.
.
.
Gangnam, 20 November 2017
Baekhyun baru saja hendak meneguk kaleng Cola keduanya ketika bel akhirnya berbunyi. Tanpa perlu mengintip dari lubang, dia sudah tahu kalau itu pasti ibunya.
Kehadiran wanita itu sudah dinanti-nantikan Baekhyun sejak kemarin ketika dia meminta ibunya secara pribadi mengunjunginya di Gangnam. Wanita itu dengan senang hati menerima undangan putranya, mengingat mereka sudah lama tidak bertemu semenjak sepuluh setengah tahun yang lalu ketika Baekhyun menikah dan ikut bersama Chanyeol pindah ke Gangnam.
Pada saat Baekhyun membuka pintu dan setiap kali melihat wajah ibunya, satu hal yang pasti dia lakukan adalah segera berlari ke dalam pelukannya. Aroma tubuh ibunya masih sama seperti biasa. Wangi tubuhnya selalu berbeda dari anggota keluarga yang lain, harum, hangat dan menyenangkan. Ketika Baekhyun menenggelamkan wajahnya ke dalam ceruk leher ibunya, dia tahu dengan segera bahwa tangisnya akan pecah. Tapi, sebelum itu benar-benar terjadi dan merusak momen ini dari awal, Baekhyun segera menarik tubuhnya kembali dan melemparkan senyum pada ibunya.
Tidak banyak hal yang mereka katakan saat Baekhyun mengajak wanita itu masuk ke dalam. Hanya sekedar bertukar kabar dan ibunya, dengan menarik napas dalam-dalam, melemparkan bokongnya ke atas sofa.
Wanita itu mengangkat kaleng kosong Cola yang Baekhyun minum ke depan wajahnya dan putranya berniat menawarkannya minuman ringan atau bir, tetapi dia menggeleng.
"Apa kau punya rokok?"
Baekhyun tersenyum di balik pintu kulkas dan menutupnya kembali. "Sudah kuduga Ibu akan meminta rokok," katanya, lalu berjinjit ke atas kulkas dan mengambil dua bungkus rokok yang dibeli oleh Yamano semalam.
Di dekat pantry, Yamano yang sedang menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri, hanya tersenyum mendengar Ibu dan anak itu akhirnya bertemu kembali dan merokok bersama. Diam-diam Yamano mendengarkan pembicaraan kedua orang itu, bukan bermaksud tidak sopan, hanya saja suara mereka terdengar begitu jelas di telinganya.
Ibu Baekhyun melempar tas tangannya di sudut sofa yang lain dan dengan gembira menerima uluran bungkus rokok tersebut. "Kau memang benar-benar anakku, Byun Baekhyun."
Senyum skeptis perlahan terbentuk dari kedua sudut bibir Baekhyun. Wanita itu menyalakan puntung rokoknya dan Baekhyun ikut bergabung bersamanya di sofa. Ibunya menikmati isapan rokok pertamanya dengan gembira seakan-akan dia sudah lama sekali tidak merokok meski Baekhyun tahu bahwa mungkin wanita itu sempat merokok dalam perjalanannya menuju kemari. Ibunya mengamat-amati seisi flat kecil Baekhyun dan segala bentuk kekacauannya—tumpukan piring yang belum dicuci di atas bak, pakaian kotor yang belum disentuh di atas keranjang dan beberapa bungkusan plastik kotor di atas meja makan yang belum sempat Baekhyun singkirkan—dalam diam. Ibunya lalu tiba-tiba menatap Baekhyun dan bertanya;
"Kau tidak bermaksud membawa Yamano bersamamu untuk membereskan semua kekacauan ini, 'kan?"
Baekhyun tertawa ringan, terkesan malas lebih tepatnya. "Tidak, aku memanggilnya kemari untuk menemaniku. Kekacauan ini," Baekhyun berhenti untuk mengamati flatnya sendiri. "Aku akan membayar seseorang untuk membereskannya segera. Aku hanya sedang tidak ingin apa-apa, dan tidak ingin berpikir juga."
"Pekerjaanmu?"
"Aku minta cuti."
"Chanyeol tahu?"
Baekhyun menelan ludah dengan keras dan menggeleng sedih. " Tidak. Aku tidak pulang ke rumah dari seminggu yang lalu," tegasnya.
Sempat terdengar wanita itu mengeluarkan makian lirih ke atas udara sebelum dia mengisap rokoknya lagi. "Seharusnya kau meneleponku lebih awal sebelum kau kabur seperti ini," ucap ibunya dengan nada kesal.
Baekhyun menundukkan kepalanya. Tatapannya tertuju pada jari-jarinya, yang tengah sibuk memilin-milin ujung bajunya sendiri. "Kami akan bercerai sebulan lagi, pengacaraku sedang memproses semuanya."
Wanita itu menyelipkan rokoknya di antara telunjuk dan jari tengahnya, lalu menggeser tubuhnya lebih dekat ke arah putranya. "Mengapa kau tidak melakukan sesuatu untuk mencegahnya?"
Hembusan napas panjang keluar dari mulutnya. "Entahlah, Bu. Aku merusak semuanya," sahutnya dengan suara pelan.
Ibunya menatap Baekhyun dengan waswas dan saat kedua pasang mata mereka bertemu, Baekhyun tahu ini saat yang tepat. Wanita itu menyingkirkan rokoknya ke dalam asbak yang ada di atas meja dan membuka kedua lengannya lebar-lebar sebagai tempat bagi Baekhyun untuk bersandar.
"Oh, kemarilah, Sayang," bujuknya.
Baekhyun menjatuhkan diri di atas sana dan akhirnya, tangisnya meledak di dalam dada ibunya sementara Baekhyun terus mencoba mengatur napas ketika perasaan emosional menguasainya.
Ibunya terus membisikkan "Tidak apa-apa" atau "Menangislah jika itu merasa membuatmu jauh lebih baik" ke telinga Baekhyun untuk menenangkannya. Meski tidak berbuat cukup banyak, setidaknya Baekhyun tahu bahwa masih ada ibunya yang peduli dan memahami keadaannya.
Baekhyun bisa mencium bau rokok yang tajam keluar dari mulut ibunya ketika dia terus membisikkan kalimat-kalimat penenang. Jauh sebelumnya, Baekhyun tidak pernah menyukai ide tentang seorang perempuan yang merokok. Apalagi ini adalah ibunya. Hal ini sedikit mengingatkan Baekhyun pada perdebatan sengit mereka beberapa tahun silam soal ibunya yang merokok.
Mereka—ayahnya dan dirinya—tidak pernah setuju jika ibunya merokok. Ayahnya adalah orang yang paling keras menentang hal itu. Meski pria itu adalah orang yang pertama mengetahuinya sebelum pernikahan itu terjadi, ayah Baekhyun sebelumnya tidak pernah berkomentar soal kebiasaan merokok istrinya. Nanti ketika Baekhyun mulai menyatakan ketidaksukaannya pada kebiasaan ibunya, barulah ayahnya ikut-ikutan menyuarakan pendapatnya dan bahkan berdiri di baris paling depan untuk menghentikan istrinya.
Walaupun mendapat protes keras dari mereka berdua, wanita itu menolak untuk mendengar keluhan anak dan suaminya, dia hanya berkomentar dengan ringan, "Jika aku merasa sangat lelah dengan urusan rumah tangga, rokok adalah satu-satunya penghiburku. Dan kalian masih ingin juga menyiksaku dengan melarangku merokok?" Setelah itu, tidak ada lagi yang melarang-larang wanita itu merokok. Termasuk suaminya.
Setelah Baekhyun pikir-pikir lagi, sejak insiden itu, Baekhyun belakangan tahu bahwa sebenarnya ayahnya begitu punya banyak hal untuk dikatakan pada ibunya. Jika Baekhyun diizinkan untuk mengutarakannya, ayahnya adalah sosok paling pengecut yang pernah Baekhyun kenal. Ketika ayahnya menginginkan sesuatu atau menyampaikan keluhannya tentang berbagai macam hal—seperti kebiasaan buruk ibunya yang lain yang sering lupa memadamkan lampu ruangan yang sudah tidak dipakai, tidak menutup makanan di atas meja, atau meletakkan barang-barang penting di sembarang tempat, ayahnya justru akan mendatangi Baekhyun, dan menggunakan Baekhyun sebagai perantara untuk menyelesaikan permasalahannya dengan ibunya. Dan wanita itu, karena telah terikat dengan kebiasaan yang dilakukan suaminya sejak awal, akhirnya ikut-ikutan melakukan hal yang sama pada Baekhyun.
Pada akhirnya, kebiasaan itu membawa mereka pada situasi di mana mereka tidak pernah benar-benar mengobrol atau mengutarakan sesuatu secara empat mata. Baekhyun, yang saat itu baru beranjak remaja, dengan pikiran yang masih kekanakan akhirnya mengambil kesimpulan sendiri bahwa begitulah memang rumah tangga yang seharusnya.
Bukankah anak dilahirkan sebagai tali penghubung yang mengikat kedua orangtua mereka? Begitulah Baekhyun berfungsi sebagai alat komunikasi kedua orangtuanya. Dan Baekhyun terus termakan oleh gagasan keliru tersebut selama bertahun-tahun lamanya sampai akhirnya dia tahu bahwa ayah dan ibunya tidak pernah terikat dalam hubungan cinta sebelum mereka menikah. Hal itu diungkapkan oleh ibunya sendiri, ketika suatu saat ibunya sedang bertengkar hebat dengan ayahnya dan Baekhyun dipaksa mendengar hal-hal buruk tentang ayahnya selama masa pertengkaran itu.
Perkara itu lantas membuat Baekhyun bertanya-tanya, bagaimana bisa dua manusia yang tidak saling mencintai, rela menggadaikan seluruh kehidupan mereka satu sama lain dalam satu atap? Ini agak mengikis kepercayaan Baekhyun—dan banyak orang—tentang bagaimana pernikahan seharusnya dilandasi dengan perasaan cinta. Jika dua orang yang saling mencintai saja masih punya kemungkinan untuk berpisah, lalu bagaimana nasib kedua orangtuanya jadinya? Baekhyun sempat mencemaskan hal itu dan mencoba meraba-raba akan ke mana pernikahan kedua orangtuanya mengarah.
Dan pada suatu siang, ketika pertengkaran hebat antara keduanya akhirnya berlalu dan rumah tangga kedua orangtuanya masih baik-baik saja, ibunya sedang mencuri-curi kesempatan untuk mengisap rokoknya di sela-sela sedang menjemur pakaian basah yang baru saja dicucinya, ketika Baekhyun memberanikan diri untuk bertanya.
"Jika Ibu tidak pernah mencintai Ayah, lantas kenapa Ibu mau menikah dengan Ayah?"
Ibunya, kemudian, dengan ketenangannya yang seperti biasa berkata, "Aku menikah dengan ayahmu karena dia pria yang baik. Dia pria yang sopan. Dia tidak pernah memukul wanita. Dia adalah pria religius. Lalu, apalah arti Ibu yang sifatnya buruk dan perokok berat ini ketimbang sosok ayahmu yang sempurna?"
Ibunya, seolah-olah sedang menekankan kepada Baekhyun bahwa dirinyalah yang beruntung karena masih ada pria yang ingin meminangnya. Sementara Baekhyun tahu, dari gayanya berbicara, ibunya terlalu mengelu-elukan sosok suaminya sehingga semua ucapannya terdengar palsu. Dan kemudian Baekhyun balik bertanya di dalam hatinya, apakah ibunya yang beruntung karena mendapatkan ayahnya atau ayahnya yang beruntung karena bisa mendapatkan ibunya?
Berangkat dari gagasan-gagasan itu dan setelah tahun-tahun berlalu ketika pernikahan kedua orangtuanya selalu dalam wilayah aman, Baekhyun sendiri mulai melihat pernikahan sebagai sesuatu yang mau tidak mau, atau cinta atau tidak, harus dilakukan. Dan semenjak saat itu, prioritas untuk menikah tidak lagi menjadi hal penting dalam hidupnya. Tanpa disadarinya, hal itu juga turut membuatnya berpandangan pesimis tentang cinta. Baekhyun tidak benar-benar percaya lagi dengan cinta dan seluruh omong kosong tentang cinta yang sering diagung-agungkan banyak orang.
Meski tidak lama, pandangan rendahnya terhadap cinta tersebut dibantah sekeras-kerasnya saat dia bertemu dengan suaminya, Park Chanyeol, tiga belas tahun yang lalu. Baekhyun benar-benar jatuh cinta padanya dan segala hal tentang Chanyeol membuatnya kembali menemukan harapan tentang cinta.
Sebelum mereka menikah, Baekhyun dan Chanyeol membuat daftar panjang mengenai hal-hal yang menyenangkan yang harus mereka lakukan begitu mereka menikah. Satu per satu Baekhyun dan Chanyeol lakukan secara bertahap, mulai dari membeli rumah dengan tabungan mereka sendiri—mengingat bagaimana Ayah Chanyeol tidak menyukainya—, membeli perabotannya, berbulan madu di California, memiliki tanggung jawab satu sama lain, mengurus satu sama lain, sampai pada akhirnya mereka berada pada batas terakhir daftar kebahagiaan mereka.
Tiba-tiba saja, roda kehidupan rumah tangga Chanyeol dan Baekhyun seolah-olah berhenti seiring dengan kesibukan mereka sendiri. Baekhyun melupakan perihal daftar tersebut dan terlalu asyik dengan diri sendiri.
Baekhyun murung dan tidak bersemangat lagi tentang pernikahan mereka, tanpa menaruh belas kasihan, dia meminta berpisah dari Chanyeol. Pria tinggi itu mencoba mempertahankan pernikahan mereka dan mencoba meyakinkan Baekhyun bahwa keduanya bisa memulainya kembali dari awal seperti saat mereka masih menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih.
Tetapi Baekhyun menolak. Masih tergambar dengan jelas dan bersih bagaimana Chanyeol menunjukkan wajah muramnya di suatu malam saat mereka sedang duduk berdua di meja makan setelah berhasil membuat janji melalui telepon. Keduanya tampak sama-sama sedang kelelahan dengan segala rutinitas rumah tangga mereka sehingga rasanya sulit sekali untuk membuka percakapan.
Chanyeol tidak benar-benar menyadari kejanggalan apapun sampai Baekhyun melayangkan kalimat tajamnya pada pria itu.
"Chanyeol, aku rasa aku tidak bisa meneruskan pernikahan ini," begitulah Baekhyun menghancurkan hati suaminya.
Tadinya Chanyeol pikir Baekhyun akan melompat dan tertawa, kemudian melontarkan permintaan maaf karena telah membuat Chanyeol terkejut atas leluconnya yang sama sekali tidak lucu. Tapi, Baekhyun hanya diam saja di seberang meja, dengan kedua telapak tangannya melingkari cangkir kopinya, menunggu Chanyeol bereaksi.
Pada saat itu, Chanyeol yang dalam keadaan cukup terguncang, antara percaya dan tidak percaya, berhasil mengumpulkan kekuatan dan bertanya pada Baekhyun mengenai alasan permintaannya tersebut. Baekhyun hanya menyebutkan bahwa dia tidak bisa meneruskan pernikahan mereka dan merasa bahwa hubungan mereka seakan-akan hanya jalan di tempat.
Chanyeol mencoba menggenggam tangan suaminya dengan sisa tenaga yang dia punya dan berkata padanya bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa mereka pasti bisa melalui hal ini. Namun, Baekhyun menarik tangannya menjauh dan berkata;
"Kau harus menghadapi kenyataannya, Chanyeol, bahwa tidak ada lagi yang bisa diselamatkan dari pernikahan kita."
Chanyeol menggeleng tidak mengerti ke arahnya dan bertanya, "Apanya yang tidak bisa diselamatkan, Baekhyun? Kita—kau dan aku—bahkan belum berjuang."
Lagi-lagi, Baekhyun menggeleng. "Kau tahu persis bahwa kita sudah sama-sama berjuang, Chanyeol. Selama ini. Namun, tidak ada hasilnya."
Chanyeol sedikit terkejut dengan sifat keras kepala suaminya itu. Tanpa dia sadari, tangannya bergetar. "Jadi, kau benar-benar serius dengan ucapanmu?" pria itu bertanya dengan suara yang juga bergetar.
Baekhyun mengangguk tanpa keraguan sama sekali. "Aku hanya mencoba bersikap realistis."
Sejak saat itu, Baekhyun sendiri melihat sikap realistisnya sebagai akal-akalan tidak berdasar dari seorang pengecut. Chanyeol pasti tahu persis Baekhyun hanya ingin lari dan tidak ingin menghadapi masalah. Dan karena Baekhyun begitu kukuh dengan keyakinannya, Chanyeol merasa tidak bisa melakukan apapun ketika Baekhyun malam itu pergi meninggalkan rumah.
Setelah badai besar yang menimpa rumah tangga mereka, Baekhyun menghabiskan banyak hari-harinya di dalam flat kecil dengan menangis dan mengurung diri. Berat badannya turun secara drastis hanya dalam seminggu. Di situlah Baekhyun memutuskan bahwa dia membutuhkan seseorang untuk segera menolongnya. Ibunya menjadi satu-satunya pilihan terbaik yang dia punya. Dan sekarang, wanita itu berada di sini dan mendengar seluruh keluh kesah Baekhyun dengan sabar.
"Kau tahu, pernikahan tidak melulu soal kebahagiaan," ujar ibunya sembari menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Kau memang harus mengalami dan menghadapi banyak masalah di dalam pernikahanmu."
Baekhyun tidak menjawab, wanita itu memandangi putranya dengan sorot mata sedih dan melanjutkan, "aku seharusnya memberitahumu sejak awal."
Baekhyun mengerti bahwa ibunya merasa bertanggung jawab atas apa yang telah dialaminya sekarang. Wanita itu tidak pernah membekalinya dengan ilmu yang cukup tentang pernikahan dan tidak juga memberi contoh pernikahan yang baik dengan ayahnya sendiri. Sementara itu, Baekhyun terlalu banyak berkhayal tentang pernikahan yang indah sehingga dia lupa bahwa cinta juga bisa berubah menjadi hal yang sangat liar dan sulit dikendalikan. Kejadian ini membuatnya kembali teringat akan pernikahan kedua orangtuanya, apakah mungkin pernikahan itu seharusnya seperti milik orangtuanya, meski tanpa cinta?
Setelah tangisnya berhenti dan Baekhyun berhasil mengumpulkan akal sehatnya kembali, ibunya kembali mengisap rokoknya dan Baekhyun mengamatinya sembari menyesap Cola. Wanita itu kelihatan sedang berpikir keras ketika dia mengisap rokoknya, lalu tiba-tiba dia berkata,
"Sebenarnya ada masa-masa di mana aku juga ingin berpisah dari ayahmu."
Mendengar pengakuan yang tiba-tiba ini, Baekhyun sedikit terlonjak. Ibunya menjawab seolah-olah dia mampu membaca pikiran Baekhyun.
"Lalu, kenapa Ibu masih bertahan dengan Ayah?" tanyanya.
Sulit rasanya untuk mengakui hal ini, tapi Baekhyun sudah membuat sosok ayahnya terlihat buruk meski pria itu tidak melakukan sesuatu yang salah.
Ibunya mengangkat bahunya saat itu dan sebuah senyum manis tersungging dari bibirnya. "Saat aku menikah dengan ayahmu, saat itu kupikir inilah inti dari sebuah pernikahan, yaitu bersatu dengan seseorang yang ingin berbagi denganmu. Aku sudah berbagi begitu banyak hal bersama ayahmu. Mulai dari makanan favoritku, buku-buku yang kubaca, musik-musik yang kudengarkan dan film-film yang kutonton. Ayahmu melakukan semua hal itu bersamaku, dan begitu pula sebaliknya. Ketika seiring berjalannya waktu, kami mulai tidak sepaham, aku merasa ayahmu mulai menyerah padaku walaupun aku masih punya harapan untuk terus berbagi dengannya. Tapi, itu bukan hal yang mudah bagiku, dengan semua tekanan yang kualami karena merasa seakan-akan hanya aku yang sedang memperjuangkan pernikahan ini, aku akhirnya menyerah juga. Namun, aku tidak ingin mengatakan ingin berpisah dari ayahmu karena aku tidak mau merasa bersalah atau menyesal karena sudah meninggalkan ayahmu. Aku ingin ayahmu yang melakukannya duluan agar nantinya dia tahu persis apa yang sudah dia lewatkan."
Atau membuatnya terlihat seakan-akan ayah lah yang jahat di sini, sambung Baekhyun di dalam hati. Baekhyun meringis terpukul seolah-olah kalimatnya barusan lebih cocok untuk dirinya.
Ibunya tiba-tiba tertawa, menepuk paha Baekhyun dengan lembut dan melanjutkan, "Anehnya, ayahmu tidak juga ingin berpisah dariku. Dia belum mengatakan apa-apa hingga saat ini dan meneruskan pernikahan kami seolah-olah tidak ada yang salah dengan itu. Di sisi lain, aku juga ingin bersikap masa bodoh dan menarik diri kembali dari ayahmu. Tapi, sejak kejadian itu, tentu saja banyak hal yang berubah. Terutama ketika aku mendengarkan lagu-lagu kesukaanku, aku tidak bisa lagi mendengarkannya dengan perasaan yang sama karena aku justru teringat oleh peristiwa-peristiwa di mana aku juga pernah mendengarkan lagu itu bersama ayahmu. Dan hal itu membuatku kesal."
Baekhyun tertawa bersama ibunya dan dia tampak puas dengan apa yang diungkapkan wanita itu. Baekhyun begitu kagum pada sosok ibunya, mengingat dengan segala macam peristiwa yang berhasil dilewatinya hanya dengan sebatang rokok. Baekhyun tidak pernah tahu ibunya pernah menjalani masa-masa sulit seperti itu dalam pernikahannya bersama ayahnya. Tapi, memang begitulah hidup bekerja, dia rasa.
Baekhyun mulai menyimpulkan satu hal, yang sangat penting, untuk dirinya maupun orang lain; Tidak ada yang pernah tahu seberapa banyak seseorang telah tersakiti. Kita bisa saja duduk di samping seseorang yang sedang mengalami depresi berat tanpa mengetahuinya.
"Dan apakah Ibu bahagia? Maksudku, dengan semua ini?"
Wanita itu menjentikkan abu rokoknya di atas asbak dan berkata tanpa menatap kedua mata putranya, "Apalah arti sebenarnya dari sebuah kebahagiaan? Kita bisa saja merasa bahagia saat ini dan di menit berikutnya, kita menyesal mengatakan bahwa kita sudah mencapai kebahagiaan sementara kenyataannya selalu berubah-ubah."
Baekhyun melihat ibunya seolah sedang mencoba menghindari matanya, tapi dengan cepat wanita itu menepis kecurigaan Baekhyun karena selanjutnya dia menggamit tangan putranya dan melanjutkan dengan suara lembut, "Tetapi, satu hal pasti yang kita tahu, meski kebahagiaan tidak berlangsung lama, kita masih bisa merasakannya setelah kita berhasil melewati kesulitan yang sedang kita hadapi. Dan itulah yang terpenting dari segalanya, untuk bisa merasa lebih hidup, bahwa kita masih bernapas dengan bahagia."
Tadinya, Baekhyun tidak pernah banyak mengobrol dengan ibunya seperti yang dilakukannya sekarang. Baekhyun terbiasa menangani masalahnya seorang diri tanpa bantuan siapa pun, termasuk ibunya. Dan jika dia sedang dalam masalah, ibunya menjadi pilihan pertama dan terakhir yang Baekhyun punya jika dia merasa harus berbagi sesuatu dengan seseorang. Namun, setelah semua ini, setelah obrolan jujur di antara kedua ibu dan anak yang sama-sama sedang berada pada kondisi kritis di dalam sebuah pernikahan, Baekhyun jadi ingin lebih banyak mengenal ibunya dan mendengar cerita-cerita yang tidak sempat wanita itu ungkapkan padanya.
Ketika matahari mulai tenggelam di luar dan hari mulai gelap dan setelah mereka memutuskan untuk melupakan sejenak kepenatan kehidupan rumit rumah tangga dengan mengobrol ringan serta melempar lelucon seperti pasangan ibu dan anak lainnya, ibu Baekhyun akhirnya beranjak dari sofa dan pamit ke toilet untuk buang air.
Sementara itu, Baekhyun yang mulai merasa jauh lebih baik, berkeliling apartemen dan menyalakan lampu-lampu. Dia sudah tidak menemukan Yamano berdiri di dekat pantry, melainkan membereskan kekacauan di dalam flat tersebut.
"Jangan membereskannya, Yamano. Kau bisa beristirahat di kamarmu."
"Aku tidak apa-apa, Tuan. Biarkan aku membersihkannya, maka aku akan beristirahat setelah ini."
Aku sudah akan melemparkan protes selanjutnya karena—astaga, wanita tua ini cukup keras kepala rupanya— ketika ibunya tiba-tiba melompat keluar dari toilet dan menghampirinya dengan berjingkat-jingkat kecil di lantai karena tidak mau meninggalkan jejak air dari kakinya yang masih basah.
Ibunya mengeluarkan ponsel dari saku celananya, melihatnya sebentar dan berbalik ke arah Baekhyun. "Maafkan aku, Sayang, tapi aku sebenarnya sudah ada janji dengan ayahmu untuk makan malam bersama malam ini. Apakah kau keberatan aku tinggalkan sekarang?"
"Oh. Begitu?" Baekhyun tersenyum padanya. "Tidak sama sekali. Jika Ibu ingin makan malam dengan ayah di luar, tentu saja aku bisa membiarkan Ibu pergi bersamanya, kan?"
"Oh, Baekhyun. Kau benar-benar anakku yang manis."
Wanita itu memegangi wajah Baekhyun dan menciumi pipi putranya dengan riang. Baekhyun justru merasa seperti seorang Ayah yang baru saja memberikan izin kepada anak gadisnya untuk keluar bersama kekasihnya di malam minggu.
"Kau tahu, Ayahmu sempat protes kenapa kau hanya ingin bertemu denganku, sementara dia masih ayahmu." Wanita itu tertawa sebentar sebelum melanjutkan, "pastikan kau memikirkan kembali tentang pernikahanmu, sebelum semuanya terlambat dan kau kehabisan waktu."
Sebelum pergi, Baekhyun mengawasi ibunya yang sibuk menggosok giginya di wastafel dapur untuk menyingkirkan bau rokok dari mulutnya, disusul dengan memperbaiki riasan wajah. Baekhyun memperhatikan dengan saksama bagaimana ibunya dengan lihai menyapukan sepon bedak pada garis-garis kerutan pada dahi, pipi dan dagu untuk menyembunyikannya.
"Kau terlihat cantik, Bu," puji Baekhyun setengah terkekeh. Dan kedua pipi wanita itu memerah setelahnya.
Setelah berdandan, Baekhyun melihat ibunya sempat mengetik pesan pada ponselnya. Dia lalu meminta izin untuk pergi.
"Jika terjadi sesuatu padamu atau kau membutuhkanku, kau bisa langsung meneleponku dan aku akan segera tiba di sini dalam lima menit," katanya saat berdiri di ambang pintu dan berusaha mengenakan sepatu tepleknya.
Baekhyun tertawa walau dia tahu ibunya tidak benar-benar serius dengan ucapannya. "Oke. Selamat bersenang-senang bersama Ayah, Bu."
Tiga jam setelah kepergian ibunya, Yamano melihat Baekhyun tengah bersiap-siap ingin keluar. Ketika Baekhyun hampir mencapai pintu, Yamano memanggilnya.
"Tuan ingin keluar?"
"Kau ingin menitip sesuatu?"
"Tidak, aku hanya bertanya. Kondisi Tuan belum cukup baik untuk pergi keluar sendirian. Aku bisa ikut bersama Tuan Byun Baekhyun kalau diizinkan."
Baekhyun menepuk bahu wanita itu pelan, "aku sudah merasa lebih baik setelah berbicara dengan Ibu. Istirahatlah Yamano, kau sibuk bekerja sejak tadi. Aku baik-baik saja pergi sendirian."
Baekhyun mengambil kunci mobil yang tergantung tidak jauh dari pintu, lalu pergi setelah merapatkan mantelnya. Suhu di luar cukup dingin.
Ketika mobil Baekhyun sudah pergi, Yamano mulai mengerti kemana Baekhyun akan pergi. Dia ingin menemui Chanyeol.
.
.
.
.
Gangnam, 31 Desember 2000
Baekhyun sudah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di malam tahun baru.
Ada sedikit bagian licik dari diri Baekhyun yang tampaknya ingin merusak pesta tahun baru tersebut, yang membuat laki-laki itu seakan-akan ingin mengingatkan kembali pada semua orang di muka bumi ini bahwa tahun baru bukan saja persoalan tentang 'memulai sesuatu yang baru', namun juga bisa berarti 'mengakhiri sesuatu'. Maka Baekhyun dengan sabar menikmati detik-detik menjelang kematiannya dengan duduk di dalam kamarnya, ditemani beberapa kaleng bir dan dua kotak rokok milik ibunya yang berhasil dicurinya tadi siang, sembari mengamati ledakan kembang api dan suara terompet di luar sana.
Tadinya Baekhyun pikir dia bisa tidur saja selama beberapa jam sampai pesta kembang api itu berakhir. Namun, suara ledakan-ledakan, jeritan-jeritan tajam anak-anak kecil yang saling memamerkan batang kembang api mereka, dan suara gelak tawa orang-orang dewasa yang sedang bernostalgia mengingat kekonyolan-kekonyolan mereka di tahun ini, membuat Baekhyun tidak bisa tidur. Seluruh kebisingan itu justru membuatnya mual dan terus terjaga hingga pukul tiga pagi.
Begitu pesta mulai mereda dan orang-orang mulai kembali pada tempat tidur masing-masing di dalam rumah mereka yang hangat dan nyaman, Baekhyun keluar dari dalam kamarnya pada pukul setengah empat pagi. Dia menunggu tiga puluh menit lamanya hanya untuk memastikan bahwa keadaan sudah benar-benar kondusif dan dia merasa cukup aman untuk menginjakkan kakinya ke luar.
Baekhyun kemudian menyambar mantel coklatnya yang kusam pada gantungan di belakang pintu kamar dan berjingkat keluar untuk menyaksikan sisa-sisa kekacauan yang dihadirkan oleh orang-orang yang berpesta tadi. Baekhyun menendang sisa-sisa kembang api yang belum sempat dibakar di pinggir jalan dan melihat sampah—kaleng-kaleng bir dan minuman bersoda, bungkus rokok, botol-botol plastik air mineral, kotak-kotak makanan—yang tergeletak tanpa ada yang benar-benar peduli.
Baekhyun ingin mengutuk orang-orang yang melakukan hal ini, tapi dia lalu teringat bahwa seluruh morat-marit yang ada di sekitarnya ini tidak akan lagi menjadi urusannya dalam beberapa jam ke depan. Dan dia senang karena tidak harus menjadi bagian dari manusia-manusia tidak tahu diri ini lagi.
Dengan perasaan waswas, Baekhyun dengan cepat menyeberangi jalanan-jalanan yang kotor menuju sebuah toko kelontong 24 jam di sudut jalan. Toko kelontong tersebut kelihatannya merupakan satu-satunya pemandangan di kota ini yang sama sekali tidak merayakan pesta tahun baru. Kemurungan yang dihadirkan oleh udara lembab di dalam toko saat Baekhyun mendorong pintu kacanya, serta wajah lelah dan penuh jerawat milik seorang pemuda di belakang meja kasir memperkuat kesan tersebut. Di dalam toko itu, Baekhyun melihat ada seorang pria dengan pakaian compang-camping dan rambut abu-abu yang awut-awutan berdiri dengan ragu-ragu di rak rokok.
Pria paruh baya tersebut mengenakan sarung tangan biru gelap yang beberapa bagiannya terlihat kumal dan penuh lubang. Di telapak tangannya terdapat beberapa uang receh dan selembaran yang tidak seberapa jumlahnya. Baekhyun mendengar pria tua itu menggumam, seperti sedang menghitung jumlah uang yang dia punya, kemudian melihat-lihat kembali pada deretan bungkus rokok yang ada di rak.
Baekhyun melewati pria tua itu menuju rak obat-obatan dan mencium bau amis dari badan pria tua tersebut, seolah-olah pria itu telah melewati begitu banyak hari tanpa sempat mandi.
Meski sibuk mengamati pria tua itu, Baekhyun tidak lupa tentang tujuan utamanya kemari. Dia dengan cekatan dan tanpa pikir panjang, memborong secara acak beberapa papan obat-obatan sakit kepala, obat cacing, obat maag, obat gatal, dan beberapa butir obat anti-mual ke dalam lengannya. Pada saat dia berbalik, pria tua tadi sudah berdiri di meja kasir dengan sebungkus rokok di tangan kanan dan beberapa uang yang dia punya di tangan kiri. Baekhyun mendengar perdebatan yang cukup sengit antara pemuda penjaga kasir dan pria tua itu.
"Uang Anda tidak cukup untuk membeli rokok ini," kata pemuda penjaga kasir itu dengan nada tinggi. Kelopak matanya terlihat berat saat dia berucap, sepertinya sudah terlalu lelah karena menjaga toko hampir seharian.
Pria tua itu menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dengan lagak bingung dan membalas tidak kalah keras, "Tidak bisakah kau memberiku diskon? Ini malam tahun baru. Berilah aku sedikit diskon!"
Pemuda penjaga kasir itu memutar bola matanya. "Kau pikir ini pasar? Tidak ada tawar-menawar di sini. Jika kau tidak punya uang, jangan berbelanja di sini, Pak Tua!"
"Kalau begitu, biar aku yang bayar." Baekhyun bergerak maju membela si Pak Tua.
Pemuda penjaga kasir itu mengangkat bahu dan tampak masa bodoh. Dia menghitung seluruh belanjaan Baekhyun dan menggabungkannya dengan rokok milik pria tua itu. Baekhyun membayar jumlah yang dia beli, kemudian menyerahkan bungkus rokok tersebut pada pria tua itu. Pak Tua menerima rokok tersebut dengan malu-malu dan membisikkan terima kasih.
Begitu keduanya keluar dari toko kelontong tersebut, mereka berpisah dengan arah jalan yang berbeda.
Baekhyun seakan baru saja tersadar atas apa yang dilakukannya beberapa menit yang lalu, beralih menengadahkan kepalanya ke atas langit lalu berteriak,
"Brengsek!"
Dia mengumpati dirinya sendiri. Di tengah keadaannya membawa sekantong obat-obatan, di tengah keinginannya untuk bunuh diri, dia justru menolong orang lain, memilih peduli dengan orang lain.
Baekhyun membanting kantong plastik yang berisi obat-obatan itu ke atas aspal, lalu menginjak-injaknya dengan emosi.
"Jangan pernah berpikir untuk bunuh diri, bajingan, kalau pada kenyataannya kau masih sepayah ini."
Dengan sisa-sisa dirinya yang masih dikuasai kekalutan, Baekhyun menjatuhkan tubuhnya pada sisi trotoar, memeluk lututnya kencang dengan lengan bergetar, lalu menangis dalam diam.
Pesta tahun barunya yang terlambat baru saja di mulai.
...
Gangnam, 20 November 2017
Baekhyun berada di jalan itu lagi. Dia melempar pandangannya keluar mobil, mengamati perubahan yang sudah banyak terjadi pada sekelilingnya. Toko kelontong 24 jam yang dulu berdiri di tepi jalan kini digantikan oleh sebuah gedung asuransi. Mengingat bagaimana dulu betapa menyedihkan dirinya dengan pikiran ingin mengakhiri hidupnya namun pada kenyataannya dia masih bernapas hingga detik ini.
"Bagaimana jika tujuh belas tahun yang lalu aku benar-benar mati disini?" tanyanya pada diri sendiri dengan konyol.
Beberapa saat kemudian pikirannya sudah kembali dipenuhi oleh Chanyeol, pada nasib rumah tangganya yang hampir tidak bisa diselamatkan. Perkataan ibunya membuatnya lega sekaligus gelisah. Sebagian dirinya masih menginginkan pernikahannya dengan Chanyeol untuk dilanjutkan, masih ingin bersama Chanyeol, masih ingin membuat daftar panjang tentang rencana-rencana baru mereka. Namun sebagian dirinya mengatakan dia sudah terlambat, sangat terlambat.
Lalu disini lah Baekhyun, mengemudi mobilnya dengan kencang dalam perasaan yang tidak menentu. Hatinya bergejolak hebat, pikirannya berdebat, dia tidak mengerti mengapa malam ini dia ingin menemui suaminya namun belum memikirkan sesuatu untuk dikatakan pada pria itu.
Kemudi mobil diremasnya dengan kencang, pandangannya mulai mengabur akibat airmata yang berkumpul pada kelopak matanya. Dia merasa begitu putus asa, kecewa pada semua hal.
Baekhyun mengusap matanya dengan kalut, sebelum dia merasakan sebuah sinar terang membuyarkan penglihatannya—dan bunyi benturan yang sangat keras serta pecahan kaca yang merobek lapisan kulitnya membuatnya tidak bisa bergerak.
Dia merasakan pandangannya mulai berpendar jauh, kepalanya terasa sangat sakit dengan aliran darah segar menutupi kelopak matanya—dia menyentuh serpihan kaca tajam yang menusuk lapisan kulitnya dan bersarang di rongga dadanya.
Sebelum semuanya berubah menjadi sangat gelap dan tenang, karena dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
.
.
.
.
-TOBECONTINUED-
.
.
.
.
Mental Note:
Hubungan Baekhyun-Sehun di masa lalu diskip dulu ya, gue simpan buat chapter depan atau depannya lagi.
Ngomong-ngomong makasih banget buat semuanya yang masih berkenan baca cerita ini, atau cerita-cerita gue yang lain, apalagi buat kalian semua yang bersedia ngeluangin waktunya ninggalin beberapa kata di kotak review. You guys such a sweet person with those warm words. Mungkin yang udah lama baca tulisan gue disini tau ya kalau sekarang cara menulis gue agak berbeda dari biasanya. Sengaja guys, soalnya gue pengen lebih santai aja. Santai dimananya? Di kalimatnya, dipemilihan diksinya, di feels-nya. Kalo tema-tema cerita sih, dari dulu gue tetap sama. Lebih suka sama tema cerita yang mungkin nyeleneh, yang mungkin secara nggak langsung gue udah bercerita secara urban tapi akhirnya nyeleneh juga, tema-tema yang taboo (terlepas dari Boys Love itu sendiri juga tabu), atau mungkin next time gue pengen nyoba tema yang selama ini gue hindari. Semacem gue pengen nge-challange diri sendiri.
Anyway, Masih mau nebak?
