Because I Care

.

Because I Care © Sweatpanda

.

Cast :

Main

Lai Guanlin X Bae Jinyoung (PanDeep) Slight

!GuanHwi !DeepWink !2Park

Side

!NielHwang !OngWoon !HwanSung

And many more.

Genre :

Romance, Hurt/Comfort

Length :

Chaptered

Summary :

Menjadi seorang Beta, bukanlah keinginan seorang Bae Jinyoung. Karena jujur, Jinyoung tidak mau memilih antara sang sahabat Alphanya Lai Guanlin, atau Omega yang dijodohkan dengannya, Park Jihoon.

Rated :

T - M

Warning :

Omegaverse!AU, YAOI, Typo(s), OOC.

.

.

Chapter 5

.

.

Jinyoung mendesah pelan ketika matanya tak kunjung menemukan Jihoon yang memintanya untuk bertemu. Ini hari Minggu, dan Jihoon meminta pada Jinyoung untuk berjalan-jalan di taman bermain sekaligus untuk mendekatkan diri satu sama lain, yang disetujui begitu saja oleh Jinyoung. Namun sudah dua puluh lima menit ia menunggu, Jihoon belum juga muncul di hadapannya.

Jinyoung bersandar pada pohon maple di belakangnya, helaan nafasnya terdengar begitu jelas. Matanya bergulir mengikuti langkah-langkah orang yang berlalu lalang di hadapannya.

"Jinyoung-hyung?"

Jinyoung mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan jika ia tidak salah lihat bahwa Guanlin-lah yang tengah berdiri di hadapannya.

"Ah, aku mencari hyung sedari tadi," sambung Guanlin sembari tersenyum lebar. Jinyoung memiringkan kepalanya, menatap bingung pada Guanlin.

"Kenapa kau di sini?" Tanya Jinyoung bingung. "Aku di sini, untuk menggantikan Jihoon-hyung!" Jawab Guanlin semangat.

Mata Jinyoung menyipit begitu mendengar jawaban Guanlin, "Maksudmu?"

"Woojin-hyung mengirimiku pesan, katanya Jihoon-hyung tiba-tiba mendapat heatnya. Jadi dia tidak bisa keluar hari ini," ujar Guanlin seraya memperlihatkan pesan Woojin yang berada di ponselnya.

"Kenapa Woojin tidak mengirimiku pesan, kenapa malah mengirimnya padamu?" Balas Jinyoung dengan wajah polosnya.

Guanlin mengedikkan bahunya, "Aku juga tidak tahu, hyung."

Jinyoung pun mengangguk kecil, ia lantas menundukkan kepalanya untuk berpikir sebentar. Guanlin, menggantikan Jihoon? Artinya, ia akan berkencan dengan Guanlin begitu? Entah mengapa, pipi Jinyoung memanas seketika.

"Emhh, apa hyung tidak suka, aku di sini?" Cicit Guanlin saat melihat Jinyoung menundukkan kepalanya.

Dengan wajah yang memerah, Jinyoung lantas mendongak, menggeleng dengan cepat membantah ucapan Guanlin. "Tidak, Guanlin-ah. Hyung, hanya.." Jinyoung menggigit bibir bawahnya, bingung untuk mengatakan apa pada Guanlin. Haruskah ia bilang, jika ia sangat senang mengetahui Guanlin menggantikan Jihoon untuk berkencan dengannya? Yang benar saja! Meskipun dalam hati, Jinyoung ingin sekali mengatakan hal itu.

"Wajahmu memerah hyung, apa kau sakit?" Tanya Guanlin ketika matanya melihat rona merah pada wajah Jinyoung.

"E-eh, ti-tidak.." Jinyoung menggeleng-gelengkan kepalanya yang masih menunduk. Kemudian, Jinyoung mendongak untuk menemukan Guanlin yang tengah menertawakannya.

"Kau menertawakanku?" Mata Jinyoung menatap tajam pada Guanlin yang masih tertawa. "Habisnya, hyung lucu sekali," balas Guanlin sembari menghentikan tawanya.

Jinyoung mengalihkan pandangannya dari mata Guanlin ketika Guanlin sudah berhenti tertawa dan kini menatap dirinya.

"Ayo, kita masuk hyung," ajak Guanlin dengan suara senang. Ia lantas menggenggam tangan Jinyoung dan melangkah masuk ke dalam taman bermain.

Mata Guanlin bersinar cerah menatap segala permainan yang ada di hadapannya. Sementara Jinyoung, ia menelan ludahnya secara paksa melihat permainan-permainan yang ada di hadapannya itu. Bukannya Jinyoung takut, hanya saja, Jinyoung tidak biasa atau bahkan tidak pernah bermain di taman bermain seperti ini. Alasannya, setiap kali Jinyoung ingin ke taman bermain, pasti ada saja masalahnya. Orangtuanya sibuklah, Minhyun-hyung sibuklah, pokoknya Jinyoung seperti seorang pangeran yang terkurung di penjara emas rumahnya selama ini. Membuat Jinyoung tidak pernah bersenang-senang seperti anak-anak seumurannya yang lain.

"Hyung, ayo naik itu!" Guanlin menunjuk sebuah permainan yang mana bisa membuat Jinyoung membulatkan matanya.

Itu Bungee Drop, Jinyoung tidak tahu harus melakukan apa. Dalam hati, Jinyoung ingin sekali mengangguk dan menyanggupi apa kemauan Guanlin. Di hati kecilnya, tentu saja Jinyoung menolak. Kalau terjadi apa-apa dengan dirinya bagaimana? Kalau muntah saja sih itu bukan masalah. Tapi kalau sampai pingsan? Sudah merepotkan banyak orang, buat malu diri sendiri lagi. Tentu saja, Jinyoung menolak akan hal itu.

"Bisakah kita hanya jalan-jalan Guanlin-ah? Hyung rasa, hyung sedikit tidak enak badan," ujar Jinyoung dengan mata yang memandang arah lain.

Sinar mata Guanlin berubah saat mendengar ucapan Jinyoung. "Kau sakit hyung? Kenapa tidak bilang saja sejak tadi?" Tanya Guanlin dengan nada cemas yang kentara.

Jinyoung mengulas senyum tipis, "Tidak Guanlin-ah. Hanya saja, kita jalan-jalan saja ya? Atau kita pergi ke toko pernak-pernik sekitar sini saja. Siapa tahu kita menemukan barang bagus."

Guanlin berpikir sejenak, sebelum menganggukkan kepalanya dan menggenggam erat tangan Jinyoung.

"Baiklah hyung, ayo kita ke sana," balas Guanlin dengan senyum lebarnya. Keduanya pun melangkah menuju toko aksesoris yang tak jauh dari tempat keduanya.

Keduanya memasuki toko, mata Jinyoung lantas menjelajah ke sekelilingnya untuk menemukan sesuatu yang mungkin menarik untuk dirinya.

Jinyoung melepas genggaman tangan Guanlin untuk menuju tempat yang mana terdapat banyak gelang dan kalung. Guanlin sendiri, ia memilih untuk menuju ke tempat yang mana banyak boneka tersedia di sana.

Jinyoung melihat-lihat dengan serius apa yang ada di hadapannya saat ini. Tangannya meraih sepasang gelang couple berwarna hitam yang terbuat dari karet dan terdapat tulisan 'MY MATE' di gelang tersebut. Diam-diam sudut bibir Jinyoung terangkat membentuk sebuah senyuman. Jinyoung menggenggam erat sepasang gelang itu sebelum senyum di bibirnya perlahan luntur.

Jika ia membeli gelang ini, harus ia berikan pada siapa? Jihoon? Atau, Guanlin? Jinyoung mendesah pelan. Ia mengembalikan gelang itu pada tempatnya sebelum beralih ke tempat lain.

Tidak menyadari, seseorang yang memperhatikannya semenjak tadi, mengambil gelang tersebut dan pergi dari sana.

.

.

Jihoon menatap kesal pada Woojin yang saat ini sedang duduk santai di sofa yang ada di dalam kamarnya. Sementara dirinya sendiri, kini tengah berbaring di atas ranjang sambil menahan rasa sakit yang terasa di dalam tubuhnya.

"Aku akui, rencanamu itu sangat bagus, Jihoon-ie. Mengajak kencan Jinyoung saat dirimu sedang heat, untuk apa? Agar kalian mating kemudian dia menjadi milikmu begitu?" Woojin memperlihatkan gigi gingsulnya lewat senyum lebarnya.

Jihoon mengalihkan pandangannya, menolak untuk bertemu pandang dengan sosok di depannya itu.

"Pergilah!" Seru Jihoon kesal. Wajahnya sudah sangat memerah akibat rasa sakit dan panas yang terasa di sekitar bagian privasinya. Sungguh, Jihoon sangat membutuhkan obatnya dan kakaknya sekarang. Obatnya sudah habis, dan kakaknya itu, pergi entah kemana pagi-pagi begini.

"Aku datang justru ingin membantumu, Jihoon-ie," Senyum Woojin perlahan menghilang. Digantikan oleh seringai licik yang kini terulas di wajahnya.

Woojin berdiri, mendekati secara perlahan Jihoon yang kini sudah meringkuk di tengah ranjangnya. Woojin mengusap sayang rambut Jihoon yang membuat sang empunya lantas memejamkan matanya.

Tangan Woojin turun ke wajah Jihoon dan mengusap pipi gembil Jihoon. Ia pun mendekatkan wajahnya ke telinga Jihoon dan berbisik di sana, "Kau milikku, Jihoon-ie. Hanya milikku."

Mata Jihoon membuka setelah mendengar bisikan Woojin. Jihoon lantas menatap mata Woojin yang juga menatapnya dengan tajam. Mata itu berkilat, antara marah, kecewa dan juga nafsu. Entahlah, tapi Jihoon melihatnya seperti itu.

Jihoon perlahan duduk di atas kasurnya, memundurkan badannya hingga menyentuh kepala ranjangnya, dan memeluk guling kesayangannya dengan erat. Mengalihkan pandangannya untuk tidak menatap pada sosok lain yang tengah menatapnya intens itu.

"Sebenarnya, apa maumu, Woojin?" Tanya Jihoon pelan. Suaranya sedikit teredam oleh guling yang berada di pelukannya.

Woojin mendekati Jihoon secara perlahan, ia duduk di samping Jihoon dan menatap tepat ke mata Jihoon.

"Aku hanya ingin kau tahu, bahwa aku mencintaimu, Jihoon-ah."

Jihoon diam, tidak membalas apapun pada Woojin. Tak lama, ia terkekeh pelan yang membuat mata Woojin menyipit saat menatapnya.

"Kau jangan bercanda, Woojin-ah. Kau tahu sendiri, aku tidak punya perasaan apapun padamu. Lagipula aku sudah dijodohkan dengan Jinyoung. Jangan membuat masalah ini semakin menjadi Woojin-ah, aku sudah berusaha keras untuk menerima perjodohanku dengan Jinyoung. Jadi, simpan bercandaanmu ini."

Jihoon menatap datar pada Woojin yang menatapnya dalam diam. Perlahan, seringai kecil terbentuk di wajah tampan Woojin.

"Kau sendiri yang bilang kau sudah berusaha keras. Jadi, tidak salah 'kan jika aku juga berusaha keras untuk memperjuangkan cintaku? Aku mencintaimu Jihoon. Dan aku akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu."

Jihoon memincingkan matanya, menatap tak percaya pada Woojin. Jihoon tidak pernah berpikir jika Woojin bisa mengatakan hal-hal seperti itu, terlebih pada dirinya. Yang notabenenya adalah sahabat sedari kecil.

"Dan omong-omong Jihoon-ie, feromonmu itu sangat menggodaku sedari tadi. Apa sekarang saja aku menandaimu, ya?" Goda Woojin sembari menjilat bibir bawahnya.

Woojin tidak berbohong. Apalagi dirinya yang sebenarnya adalah seorang Alpha, akan susah untuk menahan diri dari wangi feromon yang keluar dari Omega yang sedang dalam masa heatnya. Apalagi ini Jihoon, sosok Omega yang amat sangat dicintainya.

"Kau jangan gila, Park Woojin!" Sergah Jihoon dengan wajah yang memucat. Woojin tertawa, namun suaranya terdengar lebih serak dan lebih dalam di telinga Jihoon.

"Jika aku gila, ini semua karenamu, Park Jihoon."

Tawa Woojin menghilang, digantikan ekspresi keras Woojin yang kini menahan tangan Jihoon ketika Omega itu berniat lari dari hadapannya.

"Aku tidak akan menahan diriku lagi sekarang, Park Jihoon. Maaf jika aku kasar, tapi kau yang memaksaku."

Woojin lantas membaringkan tubuh Jihoon dengan paksa di atas ranjang king size milik Jihoon. Jihoon menggeleng-gelengkan kepalanya menolak perlakuan Woojin padanya. Apalagi kini Woojin tengah mendekatkan wajahnya ke leher Jihoon.

"Tidak, akh!"

Jihoon berteriak dengan keras, ketika rasa sakit dan panas menguar dari leher dan seluruh tubuhnya. Air mata Jihoon menetes, merasakan rasa panas dan sakit yang semakin tak tertahankan lagi.

"Kau milikku, Park Jihoon."

Woojin berbisik setelahnya, tak lupa, ia mengulum cuping telinga Jihoon dan ia mengusap leher Jihoon.

"It's showtime."

.

.

Guanlin menatap penuh kebingungan pada dua boneka berukuran sedang yang berada di tangannya. Yang satu boneka kucing berwarna putih, dan yang satu lagi boneka puppy berwarna honey brown. Guanlin tengah membandingkan dua boneka di tangannya itu dengan Jinyoung. Bukannya apa-apa, Guanlin hanya ingin saja. Lagipula, boneka ini 'kan untuk Jinyoung bukan untuk dirinya sendiri.

"Guanlin-ah!"

Suara riang seseorang menyadarkan Guanlin dari acara berpikirnya. Menolehkan kepalanya, Guanlin mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya tersenyum tipis.

"Daehwi-ya!" Balas Guanlin. Ia pun menaruh kembali kedua boneka yang tadi diambilnya pada tempatnya.

Daehwi berjalan mendekat, ia pun merangkul manja lengan Guanlin sebelum kembali membuka suaranya.

"Sedang apa di sini?" Tanya Daehwi dengan tatapan penasaran. Guanlin tersenyum lebar, "Menemani Jinyoung-hyung."

Sinar mata Daehwi meredup, namun ia tetap membalas senyum lebar Guanlin dengan senyum sendu miliknya.

"Oh ya? Lalu, dimana Jinyoung-hyung sekarang?"

"Tadi dia sedang melihat-lihat gelang sepertinya. Kau sendiri? Sedang apa di sini?" Guanlin balik bertanya dengan alis yang menyatu.

"Oh itu, aku menemani temanku. Dia baru datang dari Amerika dua hari lalu," jawab Daehwi dengan senyum yang lebih lebar.

"Benarkah? Apa dia teman yang sering kau ceritakan?"

Daehwi mengangguk singkat. Ia lantas melepaskan pelukannya di lengan Guanlin ketika matanya menemukan sosok yang tadi pergi bersamanya tengah berjalan ke arah mereka.

"Daehwi-ya," sosok itu memanggil Daehwi. Matanya menatap datar pada Guanlin yang menatap sosok remaja tanggung di hadapannya dengan bingung.

"Hm, Guanlin-ah, ini Samuel temanku. Dan Samuel, ini Guanlin. Dia juga temanku," ujar Daehwi dengan senyum canggungnya.

Guanlin mengulurkan tangannya, mencoba berkenalan yang dibalas singkat oleh remaja di hadapannya itu.

"Guanlin-ah, sepertinya kami harus pergi. Ayo Samuel," Daehwi menarik tangan Samuel dan berjalan dengan cepat meninggalkan Guanlin yang masih berdiam diri di tempatnya.

Guanlin tidak mengerti, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Daehwi seperti menyembunyikan sesuatu darinya?

"Melamun saja."

Guanlin tersentak dari lamunannya begitu suara Jinyoung memenuhi indera pendengarannya. Menolehkan kepalanya, Guanlin menemukan Jinyoung yang tersenyum lebar ke arahnya.

"Kau kenapa? Aku seperti melihat Daehwi tadi, kemana dia?" Jinyoung bertanya dengan pandangan yang mengedar mencari Daehwi.

"Daehwi sudah pergi, bersama Samuel." Jawab Guanlin dengan senyum kecil.

"Samuel? Siapa?" Tanya Jinyoung lagi dengan alis yang bertaut. Guanlin mengendikkan bahunya, "Katanya sih, temannya."

"Katanya? Oh, kau cemburu, Guanlin-ah?" Jinyoung tertawa kecil melihat wajah Guanlin yang terlihat kesal. "Sungguh hyung, aku tidak cemburu. Aku bahkan akan merasa sangat senang jika pemuda tadi adalah mate Daehwi," ucap Guanlin pelan.

"Yakin, Guanlin-ah?" Goda Jinyoung sembari menaik-turunkan alisnya.

"Yakin hyung! Kau tahu sendiri, aku cintanya dengan siapa. Jadi, aku tidak mungkin cemburu dengan Daehwi!" Balas Guanlin tegas.

Jinyoung mendadak terdiam. Ia mengusap belakang lehernya canggung dan menundukkan kepalanya.

"Sudah sore. Ayo pulang," cicit Jinyoung seraya berjalan terlebih dulu.

Guanlin mengikuti, dalam diamnya, Guanlin tersenyum.

'Tidak lama lagi, Jinyoung-hyung. Kau pasti jadi milikku.'

.

.

TBC

.

.

A/N :

1.) Terimakasih untuk yang sudah review, favorite, serta follow ff ini.

2.) Niatnya mau ngeup rated, tapi ga jadi. Meskipun emang udah ada di atas rated T-M, tapi, belum mood bikin adegan NCnya. Mau namatin di chap ini juga ga jadi, karena ya gitu, males. Haha xD.

3.) Bulan ini sibuk, pertengahan bulan UTS, akhir bulan sidang prakerin -yg diundur lagi. Jadi, ku harap kalian ngerti kalo ff ini atau yg lain ngaret banget updatenya.

4.) Bisa kali ya, silent readers muncul. Satu kata atau satu huruf aja gapapa kok. Hitung-hitung buat semangatin authornya.

See you next chap!

03 September 2017

Panda