Because I Care
.
Because I Care © Sweatpanda
.
Cast :
Main
Lai Guanlin X Bae Jinyoung (PanDeep) Slight
!2Park !SamHwi
Side
!NielHwang !OngWoon !HwanSung
And many more.
Genre :
Romance, Hurt/Comfort
Length :
Chaptered
Summary :
Menjadi seorang Beta, bukanlah keinginan seorang Bae Jinyoung. Karena jujur, Jinyoung tidak mau memilih antara sang sahabat Alphanya Lai Guanlin, atau Omega yang dijodohkan dengannya, Park Jihoon.
Rated :
T - M
Warning :
Omegaverse!AU, YAOI, Typo(s), OOC.
.
.
Chapter 6
.
.
"Ada apa memintaku kemari?" Jinyoung bertanya dengan alis yang bertaut pada Woojin yang duduk nyaman di depannya.
Woojin mengulas senyum kecil, ia menyeruput Cappuchinonya sebelum berdeham kecil.
"Aku hanya ingin bilang padamu, jika Park Jihoon sudah jadi mate-ku," jawab Woojin diiringi seringai kecilnya.
Mata Jinyoung membulat, terkejut dengan pernyataan Woojin. "Kau bercanda?"
Woojin menggeleng samar, "Tidak. Aku serius, Jinyoung-ah. Jika tidak percaya, kau bisa lihat sendiri."
Woojin berdiri dari duduknya, menyambut seseorang yang muncul dari belakang Jinyoung. Itu Jihoon. Jihoon berjalan mendekat pada Woojin dan berdiri di samping pemuda bergingsul itu. Senyum Woojin melebar, ia memeluk Jihoon dari samping dan menurunkan kerah leher kemeja milik Jihoon.
"Lihat ini, Jinyoung-ah. Ini adalah tanda kepemilikanku atas Jihoon."
Jinyoung berdiri dari duduknya dan mata Jinyoung semakin membulat melihat tanda yang ada di leher sebelah kiri milik Jihoon itu. Jihoon membuang pandangannya, tak mau menatap Jinyoung yang menatapnya penuh dengan tanda tanya.
"Jihoon-ah," Jinyoung memanggil nama Jihoon dengan nada tak percaya. Jihoon meliriknya sebentar sebelum mengalihkan pandangannya lagi.
"Aku sudah mengatakan pada orangtuaku untuk membatalkan perjodohan kita. Dan mereka setuju," ujar Jihoon pelan. Kepalanya menunduk dan tangannya mencengkram jaket yang Woojin kenakan.
Woojin tersenyum miring, ia mengeratkan pelukannya di bahu Jihoon dan kembali menatap Jinyoung.
"Well aku rasa, semuanya sudah jelas. Kami harus pergi sekarang, Jinyoung-ah. Jika ada yang ingin kau tanyakan lagi, hubungi aku saja nanti. Sampai jumpa!" Ucap Woojin seraya berjalan meninggalkan Jinyoung yang masih membeku di tempatnya. Jihoon sekali lagi melirik Jinyoung dengan mata yang berair, sebelum akhirnya mengikuti langkah Woojin.
"Oh Tuhan! Drama apa lagi sekarang?" Gumam Jinyoung seraya mengacak rambutnya frustasi.
.
.
"Lho, Samuel? Kau sendirian? Di mana Daehwi?" Jisung mengernyitkan dahinya, menatap bingung pada Samuel yang berjalan menghampirinya dengan langkah lesu dan sendirian.
"Guanlin." Hanya itu yang Samuel ucapkan ketika ia sudah duduk di kursi meja makan. Jisung yang sedang memotong-motong sayuranpun menghentikan kegiatannya.
"Guanlin? Maksudmu dia pergi menemui Guanlin?" Tanya Jisung lagi seraya menghampiri Samuel dan berdiri di dekat pemuda Alpha itu.
Samuel mengangguk lemah. "Hm. Tadi, saat perjalanan pulang, Daehwi melihat Guanlin yang sedang sendirian di taman. Jadi, dia memilih untuk menghampiri Guanlin dan menyuruhku pulang duluan." Jawab Samuel dengan raut wajah lesu.
Jisung tersenyum samar, ia cukup mengerti bagaimana sebenarnya perasaan Samuel pada adik sepupunya itu. Apalagi sebenarnya Samuel dekat semenjak kecil dengan Daehwi di Amerika sana sebelum Daehwi memilih untuk pindah ke Seoul mengikuti ayah Jisung.
"Kau tahu, apa yang sering Daehwi ceritakan pada hyung, dulu?" Samuel menatap Jisung ingin tahu.
Jisung tersenyum kecil sebelum berjalan kembali ke tempat sebelumnya yang mengakibatkan mata Samuel mengikuti pergerakan Jisung.
"Pada awal kepindahannya, Daehwi selalu bercerita tentang teman dekatnya yang sayangnya harus ia tinggalkan di L.A. Daehwi selalu bercerita, jika ia merasa selalu terlindungi jika berada di dekat temannya itu. Dan Daehwi selalu menginginkan jika temannya itu akan menjadi pasangannya saat ia besar nanti." Cerita Jisung panjang lebar seraya meneruskan kegiatannya—yaitu memotong sayuran.
Sinar di mata Samuel yang tadinya meredup berubah menjadi cerah begitu mendengar cerita Jisung. Sudah sangat jelas, siapa 'teman dekat' yang Jisung maksud di sini.
"Tapi, kenapa Daehwi sepertinya sangat menyukai Guanlin?" Tanya Samuel dengan nada tak suka.
Jisung mendongak, menatap Samuel yang kini tengah memainkan kedua jari-jemarinya.
"Itu, karena dia terlalu merindukanmu. Dia mencari sosok yang dapat melindunginya, mengertinya, dan selalu dekat dengannya. Dan Daehwi menemukan itu pada Guanlin. Hyung tahu, jika bukan maksud Daehwi untuk melupakanmu. Tapi, tingkahmu yang sekarang membuatnya selalu bertanya-tanya, apakah kau masih mengingatnya? Apakah kau masih menganggapnya teman? Itu yang sering Daehwi ceritakan pada hyung, Samuel." Jelas Jisung dengan pandangan menerawang.
Samuel menghembuskan nafasnya. Jelas, kenapa Daehwi berpikiran seperti itu. Salahkan saja, orangtuanya yang selalu menyuruhnya untuk belajar, belajar, dan belajar. Hingga ponsel pun orangtuanya sita, jadi, susah bagi Samuel untuk menghubungi Daehwi.
"Daehwi belum terbiasa. Jadi, kau harus mencoba terus untuk dapat meluluhkan hatinya kembali untuk memaafkanmu. Hyung yakin, kau pasti bisa. Kau adalah Alpha yang kuat. Bukan begitu?"
Samuel melihat ke arah Jisung yang tersenyum lebar kepadanya. Mau tak mau, Samuel membalas senyuman itu meskipun dengan senyuman tipis.
"Hm. Kau benar, hyung."
.
.
Guanlin melihat ke seluruh taman, ketika ia merasa bosan. Tangannya yang berada di saku jaket menggenggam erat sepasang gelang couple yang ia beli kemarin di toko aksesoris yang berada di Lotte World. Guanlin mendesah pelan, ia beranjak dari tempatnya berdiri untuk duduk di bangku taman yang lumayan sepi.
Angin musim gugur yang berhembus membuat Guanlin sedikit menggigil. Guanlin menundukkan kepalanya seraya mengeluarkan gelang miliknya dari saku jaketnya. Guanlin tersenyum tipis, ia membayangkan bagaimana seandainya gelang itu berada di pergelangan tangan Jinyoung. Pasti sangat indah. Pikir Guanlin dengan senyum lebarnya yang mengembang.
"Lai Guanlin!"
Guanlin tersentak dari lamunannya begitu mendengar seseorang meneriakan namanya. Guanlin melihat ke arah belakangnya dan menemukan Daehwi yang berlari ke arahnya dengan senyuman lebar. Sementara seseorang di belakang Daehwi, berjalan menjauhi keduanya dengan kepala yang tertunduk lesu. Guanlin menatap bingung pemandangan itu.
"Daehwi-ya?" Guanlin berdiri, mendekati Daehwi yang diam berdiri di samping bangku yang ditempati Guanlin.
"Kau kenapa?" Tanya Guanlin ketika melihat raut wajah Daehwi yang berubah.
"Dia, sudah pergi 'kan?" Daehwi balik bertanya. Matanya melirik ke arah belakangnya takut-takut.
"Jika yang kau maksud seseorang yang bersamamu tadi, maka dia sudah pergi sejak kau berlari ke sini." Jawab Guanlin santai.
Guanlin menarik tangan Daehwi dan mendudukan pemuda itu di bangku. Sementara Guanlin, ia mengantongi kembali gelangnya sebelum duduk di samping sahabatnya itu.
"Jadi, dia yang selama ini kau maksud?" Guanlin kembali membuka suaranya setelah beberapa menit berlalu hanya suara angin yang menemani keduanya.
Daehwi mendesah pelan seraya menganggukkan kepalanya. "Aku harus bagaimana Guanlin-ah? Aku bingung." Ujar Daehwi seraya menggigit bibir bawahnya.
Guanlin terkekeh pelan, "Harusnya kau senang, Daehwi-ya. Dia itu cinta pertamamu 'kan? Dan dia sudah ada di sini sekarang. Dan dia ke sini untuk menjemputmu. Untuk menjadikanmu matenya, Daehwi. Itu 'kan yang dia katakan padamu?"
"Itu benar. Tapi, aku masih ragu."
Alis Guanlin terangkat, merasa bingung dengan ucapan Daehwi. "Jika kau ragu karena aku, kurasa itu adalah hal yang salah, Daehwi-ya. Kita sudah seringkali membahas ini 'kan? Kita dekat karena merasa nyaman satu sama lain. Okay, itu benar. Tapi nyaman di sini, itu karena kita bernasib sama. Kau jauh dari orang yang kau sayangi, baik itu orangtua maupun Samuel. Sementara aku, orangtuaku. Dan hubungan kita juga hanya sahabat. Baik kau atau aku, sudah mempunyai orang yang kita cintai masing-masing."
"Ck, siapa yang bilang jika aku ragu karenamu, Lai Guanlin?" Daehwi menatap Guanlin sengit. Bisa-bisanya, pemuda Taiwan itu percaya diri selangit seperti ini.
"Ya, bisa saja. Semua orang bahkan menganggapmu mencintaiku, Lee Daehwi."
"Bisa tidak, jangan bahas itu? Aku sedang tak mood."
"Iya, iya. Jadi, apa yang membuatmu ragu pada Samuel?"
Daehwi menghembuskan nafasnya. Matanya menatap dalam mata Guanlin. "Aku merasa, aku kurang pantas untuk Samuel. Aku bukanlah seseorang yang sempurna untuk Samuel. Aku takut, aku mengecewakannya ketika kami bersama nantinya."
Guanlin tersenyum, tangannya ia lingkarkan di bahu Daehwi dan menepuk bahu pemuda Omega itu, berusaha menyemangati sahabat baiknya itu.
"Di dunia ini, tidak ada seorangpun yang sempurna, Lee Daehwi. Kau tahu kenapa setiap orang diciptakan berpasangan? Itu karena, agar kita dan pasangan kita bisa melengkapi kekurangan satu sama lain. Setiap orang mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jadi, tugas kita adalah menutupi kekurangan pasangan kita, agar kita menjadi pasangan yang sempurna. Begitu, Lee Daehwi."
Daehwi tertegun mendengar ucapan Guanlin. Daehwi tak menyangka, jika Guanlin bisa mengatakan hal-hal dewasa seperti ini.
"Nah, sekarang kau harus melupakan rasa ragumu itu. Percaya pada dirimu sendiri jika kau pantas untuk Samuel, dan Samuel akan menerimamu apa adanya. Karena aku yakin, Samuel juga sangat mencintaimu."
Daehwi mengangguk semangat. Ia lantas berdiri dari duduknya.
"Terima kasih Guanlin-ah. Aku mengerti sekarang. Baiklah, aku pergi dulu. Bye Guanlin-ah! Bye Jinyoung-hyung!" Daehwi melambaikan tangannya dan berlari meninggalkan Guanlin.
Tunggu?!
Jinyoung? Sejak kapan pemuda itu ada di sini? Di belakang Guanlin pula.
"Guanlin-ah, ayo pulang." Ajak Jinyoung dengan suara datar. Guanlin yang merasa jika Jinyoung tengah berada dalam mood yang burukpun langsung mengikuti langkah Jinyoung yang berada tiga langkah di depannya.
Guanlin dapat melihat Jinyoung yang menundukkan kepalanya. Guanlin berdecak dalam hati. Apa lagi yang sudah terjadi pada pemuda yang dicintainya ini?
"Perjodohanku dan Jihoon—" Guanlin menajamkan indera pendengarnya agar dapat mendengar suara Jinyoung yang terdengar begitu pelan.
"—batal."
Ingin rasanya Guanlin berteriak senang saat itu juga. Guanlin berusaha menyembunyikan raut wajah bahagianya ketika Jinyoung melirik ke arahnya. Guanlin mengulum senyumnya, ia memberanikan diri untuk mensejajarkan langkahnya dengan Jinyoung sebelum merangkul bahu Jinyoung.
"Tapi, kenapa ekspresimu begitu hyung? Bukankah kau harusnya senang karena tidak jadi dijodohkan? Kenapa kau malah terlihat sedih begini?" Guanlin bertanya dengan raut wajah bingung. Sungguh, Guanlin tidak tahu apa yang ada di pikiran Jinyoung saat ini. Atau jangan-jangan, Jinyoung sudah jatuh cinta pada Jihoon?
"Aku sedih bukan karena aku sudah jatuh cinta pada Jihoon," jawab Jinyoung seperti dapat mendengar suara hati Guanlin. "Tapi aku kecewa pada Woojin, kenapa dia tidak memberitahuku dari awal jika dia mencintai Jihoon? Jika aku tahu dari awal 'kan aku akan terang-terangan menolak perjodohan ini."
"Oh, jadi kau sedih karena itu, hyung?"
"Tentu saja. Woojin itu sahabatku. Tapi, masalah seperti ini saja dia tak mau cerita."
"Memangnya, Woojin-hyung menganggapmu sahabatnya?"
Delikan tajam didapat Guanlin setelah ia berceletuk. Guanlin tertawa hambar sembari menggaruk belakang lehernya yang tak gatal.
Tapi, kata-kata Guanlin ada benarnya juga. Memangnya Woojin menganggap Jinyoung itu sahabatnya? Woojin saja tak pernah bercerita apapun tentangnya pada Jinyoung kecuali Jinyoung —atau teman-teman lain yang bertanya.
Jinyoung mendengus menyadari kebodohannya sendiri. Park Woojin itu misterius. Tidak ada yang benar-benar tahu siapa itu Park Woojin. Termasuk teman-teman sekelasnya, atau bahkan Park Jihoon saja mungkin tidak tahu siapa Park Woojin itu. Dan di dalam hati, Jinyoung berdoa, semoga Park Woojin dan Park Jihoon akan menjadi pasangan yang bahagia ke depannya. Meskipun tadi, Jinyoung dapat melihat Jihoon yang sepertinya terpaksa, Jinyoung berharap, jika ia hanya salah lihat tadi.
"Sampai jumpa besok, Jinyoung-hyung!" Jinyoung tersentak dari lamunannya begitu mendengar seruan Guanlin.
Jinyoung mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menemukan Guanlin yang sudah berdiri di depan rumah keluarga Jung di seberang sana.
Sejak kapan dirinya sudah berada di depan rumah?
Dan apa—
"Jangan lupa dipakai hyung!" Seruan Guanlin sebelum menghilang di balik gerbang adalah yang terakhir kali Jinyoung dengar sebelum fokusnya teralih pada sebuah gelang —yang
berada di genggaman tangan kanannya.
'MY MATE -LGL'
Wajah Jinyoung memanas. Kapan Guanlin membeli gelang ini? Dan, apa maksud Guanlin dengan ini? Dan yang pasti, bolehkah Jinyoung berharap?
"Dasar menyebalkan!"
.
.
TBC
.
.
A/N :
1.) Halo! Ada yg masih nunggu ff ini? /emangnya ada?
2.) Maaf ya lama, efek males yg berkepanjangan, haha XD.
3.) Niatnya mau diendingin dichap ini. Tapi, takut gimana gitu. Jadi, aku tambahin 1-2 chap lagi.
4.) Terima kasih banyak buat yg udah review, favorit, serta follow fic ini.
5.) Review lagi ya! Siapa tau bisa bikin aku semangat dan ku baik hati buat fast update haha xD /maunya.
See you next chap!
07 Oktober 2017
