.

.

BIAS

.

Park Woojin x Park Jihoon

Pink Sausages

Angst!

.

.

Kim Jong Soo 1214

.

.

.

Uap-uap hangat itu mengudara, terbang pelan-pelan diterpa dinginnya musim. Perlahan gerakan dari hawa itu menarik perhatian si mata tajam yang tengah duduk menatapnya.

Woojin tidak ingat sejak kapan cokelatnya dingin. Sebab yang terakhir kali ia ingat hanya wajah seorang pelayan yang datang mengganti cangkirnya dengan yang baru.

Pikirannya melayang.

Pergi jauh mengikuti setiap tarikan napasnya.

Disini,

ditempat ini,

Woojin membawa kenangannya kembali.

.

.

.

.

BIAS

.

.

.

.

.

Woojin tidak tahu menahu tentang kehidupan laki-laki itu.

Laki-laki pemilik mata bulat, serta senyum semanis permen gula-gula.

Temannya bilang, laki-laki itu bernama Jihoon.

Woojin mengetahuinya di minggu ke tujuh setelah kepindahannya disekolah ini.

Dan sejak saat itu, Woojin lupa pada alasan mengapa ia terus menatap Jihoon.

Mengawasinya dengan senyum dan tatapan ringan dari seberang gedung sekolahnya.

Sampai sekarang pun Woojin tidak mengerti mengapa Jihoon selalu duduk disana, memandang langit jingga, dari balik jendela kaca lantai tiga.

Bangunan tinggi itu adalah sebuah Rumah Sakit.

Dengan selang bening pada nadi ditangan, Jihoon membawa langkah kaki menjauh dari jendela.

.

.

.

.

.

.

.

"Menatap Jihoon lagi?"

Sebuah suara berat mengalun, menarik kesadaran yang sempat berkeliaran beberapa saat yang lalu.

Woojin menoleh sebentar, lalu kembali membawa pandangannya pada gedung tinggi itu setelah tahu siapa yang bertanya.

Hening sesaat.

Masing-masing dari mereka terperangkap pada lamunan yang datang tiba-tiba.

"Sejak kapan hyung mengenal Jihoon?"

Woojin bertanya dengan mata yang belum juga teralih dari jendela kaca.

"Sejak kecil."

Jawaban itu berhasil menarik atensi si laki-laki Park. Matanya yang tajam memandang Daniel yang kini tengah meneguk soda pada kaleng yang dibawanya.

Merasa diperhatikan begitu intens, Daniel tersenyum, "Kau benar-benar tertarik padanya, ya?"

Woojin tidak menjawab.

Tertarik?

Mungkin lebih tepatnya 'penasaran'.

"Tidak."

Ada gurat luka pada wajah Daniel.

Ia menunduk, mengalihkan pandangan, bergerak memutar badan untuk membelakangi jendela kaca tempat Jihoon dirawat.

"Kupikir kau tertarik padanya."

Daniel tersenyum kikuk.

"Belum."

Woojin kembali menatap jendela itu.

Dan Jihoon, sudah kembali duduk disana dengan setoples kecil kue ikan.

Daniel tersenyum setelah melihat Jihoon, lalu melirik pada Woojin yang juga sedang tersenyum.

"Nikmati saja waktumu. Aku tidak mau mengganggu."

Kalimat itu terdengar seperti nada menggoda, tapi Woojin terlihat tidak ingin menanggapinya.

Daniel tahu bagaima sifat adik kelasnya itu. Woojin bukan tipe anak yang suka berbasa-basi. Untuk itulah Daniel hanya menepuk pundak Woojin sebagai isyarat jika dirinya akan pergi dari tempat itu.

Daniel tidak tahu, jika diam-diam Woojin menaruh curiga pada tatapannya.

Tatapan dari seorang Kang Daniel yang penuh tanda tanya.

.

.

.

.

.

.

.

Kadang-kadang, Woojin melihat Jihoon tersenyum.

Melambai padanya dari balik jendela meski mereka belum saling mengenal.

Dadanya terasa hangat kala itu.

Sebab senyum Jihoon jauh lebih manis dari yang dia kira sebelumnya.

Tapi kadang-kadang pula Woojin melihat Jihoon menekuk wajah.

Menunduk, dengan raut lesu tak bertenaga.

Woojin pikir, mungkin Jihoon kesepian.

Sebab setahu Woojin, sejak dirinya mengawasi laki-laki itu tujuh minggu yang lalu, tidak ada yang pernah menjenguk Jihoon sekali-kali.

Entahlah.

.

.

.

.

.

.

.

Kalau tidak salah hitung, kira-kira sudah berjalan lima bulan, hingga Woojin mulai hafal pada kebiasaan Jihoon.

Setiap selasa, Jihoon akan mengganti bunga lily pada vas yang ada disudut jendela dengan yang baru.

Bunga pemberiannya.

Meski Woojin hanya menitipkan bucket bunga pada suster penjaga, setidaknya Woojin tahu bahwa Jihoon menyukai bunga pemberiannya.

Tak terkecuali hari ini, Woojin pergi ketoko bunga dekat Rumah Sakit untuk membeli lily segar seperti biasa.

"Lily lagi?"

Daniel tiba-tiba menepuk pundaknya.

Woojin mendengus, hamper saja terlonjak.

"Ya."

"Untuk Jihoon?" Daniel menelisik, dan itu membuat Woojin tidak nyaman.

"…ya."

Daniel mengangguk beberapa kali.

"Woojin-ah…"

Panggilan itu terasa mengusik telinga. Mengalihkan pandangan pada ribuan bunga lily didepan mata lalu menghadap Daniel yang sedang menatapnya penuh perhatian.

"Ada apa, hyung?"

Tampak raut ragu diwajah itu.

"Aku perlu bicara padamu."

Selama Woojin mengenal Daniel, laki-laki itu tidak pernah menunjukkan ekspresi seperti ini. Woojin benar-benar tidak mengerti dengan suasana yang sedang berputar disekitarnya.

"Apa ada yang ingin kau sampaikan, hyung?"

Daniel mengangguk.

Woojin tampak tak kalah ragu. Sebab dirinya tahu betul bagaimana sifat Daniel. Sahabatnya itu tidak pernah mengajaknya berbicara jika benar-benar tidak ada hal penting yang ingin disampaikan.

Tapi disatu sisi juga, dirinya telah memiliki jadwal lain.

"Tapi aku sedang buru-buru. Bagaimana kalau besok?" tawarnya.

Daniel memasang wajah datar. Lalu detik berikutnya senyum cerah terpancar.

"Begitu ya?"

Mata Daniel menatap bucket bunga ditangan Woojin,

"…baiklah. Temui aku jika kau siap."

.

.

.

.

.

.

.

Sore itu Woojin menatap pantulan wajah manis dari balik jendela diseberang gedung sekolahnya.

Disana,

ditempat yang jauh darinya,

ada Jihoon yang sedang menghirup wangi bunga.

Senyum kecil tergambar dari dua belah bibir manis, membawa Woojin jatuh pada pesona anggun sang pemilik mata bulat.

"Bunga cantik, untuk seseorang yang cantik.

Gumaman mengalun lirih. Sanjungannya mengarah pada Jihoon.

Kekaguman pada pesona itu, ia bawa melalui bunga pemberiannya.

Woojin hanya tahu Jihoon bahagia, sebab ia tidak menangkap butiran kristal yang mengembun dari sudut-sudut matanya.

Woojin hanya tidak tahu, apa makna senyum Jihoon yang sebenarnya, pada lily pemberiannya.

.

.

.

.

.

.

.

Cuaca cerah di Kamis pagi tidak secerah wajah laki-laki bergingsul yang sedang duduk dibangkunya.

Woojin tidak menemukan Daniel.

Sahabatnya itu menghilang ketika Woojin baru sampai dikelas.

Teman-temannya bilang Daniel pindah,.

Tanpa berpamitan padanya.

Tanpa menemuinya.

Ahh… Woojin jadi ingat sesuatu.

Tentang pertemuannya dengan Daniel tempo hari ditoko bunga.

Tentang wajah gundah Daniel kala itu.

Dan tentang pernyataan ambigu yang keluar dari bibirnya.

Woojin jadi terpikirkan akan satu hal.

"Apa yang akan dia sampaikan saat itu adalah tentang kepindahannya? Sialan!"

.

.

.

.

.

.

Woojin merasa begitu buruk pagi itu.

Jika biasanya dirinya akan tertawa-tawa bersama Daniel sambil menatap dan bercerita tentang kekagumannya pada Jihoon, hal itu tidak akan bisa ia lakukan hari ini.

Woojin benar-benar merasa jika moodnya telah rusak.

Untuk itu ia memutuskan berjalan menyusuri lorong panjang sekolahnya, untuk menuju tempat biasa ia memandang Jihoon.

Mood buruk yang sempat melanda beberapa menit yang lalu, menghilang seketika setelah siluet mungil tertangkap matanya.

Woojin tersenyum tipis.

Menatap Jihoon yang berada dibalik jendela kaca, menikmati pantulan bias jingga yang mengarah pada wajahnya. Indah.

Dari jarak ini, Woojin mendapati mata bulat itu mengarah padanya.

Woojin sempat terlonjak, tidak menyangka jika Jihoon memperhatikan dirinya yang sedang mengagumi indah biasnya.

Woojin melihat tangan mungil itu meraih sesuatu, menggoreskan tinta diatasnya, kemudian menempelkannya pada jendela.

"Kau datang?"

Begitu isi tulisan Jihoon.

Woojin buru-buru mengeluarkan buku dari dalam tas.

Sambil tersenyum, dia membalas.

"Begitulah... Bagaimana kabarmu?"

Jihoon kembali menulis.

"Seperti yang kau lihat."

Woojin ikut tersenyum saat Jihoon tersenyum.

Jarak mereka memang jauh, tapi susunan kalimat pada kertas itu membuat semangat Woojin membara.

"Kau menyukai bunganya?"

Woojin menunjuk vas kecil disamping Jihoon.

Laki-laki mungil yang baru selesai membaca isi pesan Woojin mengangguk.

"Terimakasih."

Dan setelah tulisan itu terbaca olehnya, Jihoon berjalan menjauh. Woojin merasa aneh dengan hal ini. Terasa seperti Jihoon sedang berusaha menunjukkan sesuatu. Seperti… sebuah petunjuk.

Tapi apa?

Kesendiriannya?

"Hhh…"

Woojin mendesah kecewa.

Ia ingin banyak bertanya tentang Jihoon.

Tapi pada siapa?

Daniel hyung?

Tidak.

Dia sudah pindah tanpa berpamitan padanya.

Mengingat itu, mood Woojin menjadi buruk kembali.

Woojin masih belum menyadari pada kaitan hidupnya.

.

.

.

.

.

.

.

Woojin ingat betul, sejak percakapannya lewat kertas bersama Jihoon tempo hari, Woojin tidak lagi melihat laki-laki manis itu duduk dibalik jendela kaca.

Jihoon tidak lagi melihat bias jingga.

Tidak lagi mengganti bunga.

Tidak juga diam dalam lamunan disana.

Apa Jihoon juga akan menghilang?

Tidak..tidak…

Mungkin Jihoon sedang banyak istirahat.

Ya…

mungkin.

.

.

.

.

.

.

Satu hari sejak Jihoon tidak muncul dibalik jendela kaca, Woojin tidak merasa curiga.

Tapi dihari kelima, Woojin mulai khawatir.

Apa Jihoon sudah keluar dari Rumah Sakit?

Jika biasanya Woojin tidak berani ke Rumah Sakit karena phobianya, kali ini Woojin bertekad menjenguk Jihoon kesana.

Dengan keberanian penuh, mengesampingkan ketakutannya pada bau obat juga ruangan bernuansa putih itu.

Woojin datang ketika warna jingga sudah terlihat di langit Korea.

Ditangannya, terdapat bucket besar bunga lily putih kesukaan Jihoon yang biasa diberikannya.

Bertengger sebuah note kecil bertuliskan kalimat penyemangat, berharap Jihoon akan senang ketika membacanya.

Ketika Woojin sudah berdiri didepan sebuah kamar rawat, ia menarik napas dalam-dalam sekedar untuk hilangkan gugupnya. Dia sudah bersiap masuk ketika sebuah suara menginterupsi.

"Permisi, apakah anda keluarga pasien?"

Belum sempat tangannya memutar kenop pintu, sebuah suara wanita mengalun, mencuri perhatian Woojin dari segala aktifitasnya.

"Ah… saya hanya seorang teman."

Woojin menggaruk kelapa, senyum kikuk ia keluarkan setelahnya.

Suster itu berjalan mendekat.

"Teman dari Tuan Park?"

"Park?"

Woojin balik bertanya. Ia rasa, marga itu tidak asing untuknya.

Suster itu mengangguk.

"Mohon maaf sebelumnya, Tuan. Tapi masa berkabung sudah habis, sebab jasad Tuan Park sudah diawetkan. Keluarganya bilang, pemakaman akan diselenggarakan hari ini."

Entah mengapa tiba-tiba Woojin tidak dapat merasakan detak jantungnya.

Dadanya seolah dipukul.

Sesak.

Pikirannya melambung pada sebuah kenangan dengan lembar-lembar kertas.

Dengan tulisan rapih yang tertempel dijendela kaca.

Dengan senyum manis yang memancar diujung bibirnya.

Jihoon…

…Park Jihoon…

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Halo~ saya kembali dengan Fic PINK SAUSAGES.

Mungkin feelnya sedikit aneh, karena fiksi ini sebenarnya adalah fiksi adaptasi dari cerita yang sebelumnya.

Penasaran sama keadaan Jihoon kan pasti?

Nasib Woojin?

Dan sebuah pesan yang coba diucapkan Daniel melalui kalimat ambigunya?

Cus lah disimak lagi :v

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Omake

"Menunggu lama?"

Woojin mengalihkan pandangan dari cangkir cokelatnya. Menatap penuh minat pada seseorang yang sudah lama ditunggunya.

"Tidak, hanya saja dua cangkir cokelat sudah terlewat dari tenggorokanku tanpa terasa."

Daniel tertawa renyah.

"…maaf."

Lalu duduk tepat didepan Woojin.

Keadaan menjadi sedikit canggung. Hawa dingin yang menusuk membawa suasana kaku diantara mereka.

Woojin juga masih kesal pada Daniel karena kepindahannya. Tapi Woojin berusaha bersikap dewasa. Bahwa dirinya datang bukan untuk membahas masalah itu.

"Jadi?"

Woojin memulai, setelah beberapa saat berlalu.

Daniel masih diam, seolah sedang menimbang-nimbang kalimat yang akan diutarakan.

"Jihoon sudah meninggal satu tahun yang lalu."

Woojin menunduk.

"Aku tahu…."

Tangannya bergerak meraih cangkir cokelat, "…kenapa hyung tidak mengatakannya padaku?" lalu menyesapnya sedikit.

"Aku ingin, tapi aku tidak bisa."

"Kenapa?"

Hening.

Woojin meletakkan kembali cangkirnya.

"Karena hanya kau dan aku yang dapat melihat Jihoon."

Daniel mengatur nada bicaranya, "…kau tahu, sejak awal aku ingin berbagi denganmu, tapi aku sadar jika kau memang memiliki dunia sendiri dengan Jihoon."

Woojin menatap tajam, "M-maksudmu?"

Daniel tidak menjawab, ia justru mengeluarkan sebuah kertas dari dalam saku mantelnya.

"Dulu kalian saling mengenal. Jihoon… adalah teman kecilmu."

Daniel mengambil napas panjang, "…beberapa kali aku berusaha memberitahumu tentang itu, tapi kau terlampau jauh terpikat pada Jihoon yang hanya bias itu. Aku mengerti tentang bagaimana kau menyukai Jihoon, tapi ingatanmu yang tidak mendukungmu."

Woojin mengerutkan kening, "Ingatanku?"

Jadi sebelum ini, dia sudah mengenal Jihoon?

Kapan?

"Bacalah. Aku tidak perlu menerangkan panjang lebar tentang siapa Jihoon, karena kau jauh lebih tahu dia dari pada aku. Semoga kau lekas mengingatnya."

Dengan itu, Woojin menerima kertas beramplop biru dan membiarkan Daniel pergi meninggalkannya.

Pikirannya hanya terfokus pada kertas surat itu.

Surat dari Jihoonnya.

.

.

.

.

Seoul, 22 November 2017

.

Hallo…

Apa kabar Woojin?

Kau mengingatku?

Aku, yang datang dari masalalumu.

Aku, datang untuk mengatakan sesuatu.

Aku harap, kau tidak menyesal setelahnya.

.

Um….pertama, aku ingin bertanya,

kenapa kau tidak pernah datang padaku sejak saat itu?

Kau tahu, sejak masa itu, sejak saat kau meninggalkanku, hidupku menjadi kacau.

Meskipun aku terus bertemu seseorang, dan tertawa gembira, tapi tidak pernah ada yang berubah.

Ketika aku sedang memikirkanmu yang sedang tertawa, aku merasa seolah aku menyerah.

Aku seperti orang bodoh yang mengharapkan kau mengalami lebih banyak masa sulit sejak kau meninggalkanku.

Karena aku pikir dengan begitu kau akan sempat memikirkanku meski hanya sebentar saja.

Pikiran yang bodoh bukan?

Ya… aku tahu itu.

Tapi aku juga ingin belagak seolah aku baik-baik saja sepertimu.

Meskipun sulit, aku terus melakukan hal bodoh seperti itu.

Aku hanya menyesal setelah menabrakmu.

Membuat ingtanmu hilang dan menjadikanku mati seperti ini.

Tuhan mungkin adil, sebab aku tidak diangkat ke surga sebelum kau menyadari keberadaanku.

Ketika kau melihatku,

Ketika aku menulis baris kalimat padamu,

Ketika itu pula bibirku terasa kering.

Jika dulu aku bisa memanggilmu sesukaku, sekarang aku sadar akan keadaanku.

Aku hanya sebuah bias.

Ruh dingin yang ingin menyampaikan sesalku padamu.

.

Aku akan pergi setelah ini.

Berjanjilah bahwa kau akan terus merasa baik-baik saja jika tidak ada aku.

Jaga kenangan kita,

Jaga bias-ku pada senja Jingga.

Dari teman tersayangmu, PARK JIHOON.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

END