Sebab hanya dari sebuah kata 'bertahan', segalanya bisa berubah.

.

.

.

Downpour

Park Woojin x Park Jihoon (2Park)

.

.

.

©Kim Jong Soo 1214

.

.

.

.

.

Back Sound : Downpour – I.O.I

.

.

.

.

.

Happy Reading

.

.

.

.

.

Bening manik itu mengembun. Perlahan berubah merah seiring kelopaknya yang membengkak. Mengedip pelan-pelan, menahan sesak yang dirasa dalam dada. Ia menghembuskan napas kasar, mencoba mengatur detakan yang tiada teratur didalam dadanya.

Tangan mungil terangkat, meneliti detikan jarum jam yang melekat pada lengannya. Sudah hampir dua jam Jihoon berdiri disana. Didepan rumah besar dengan pagar besi menjulang. Mengeratkan niat supaya dapat melihat sang Tuan muda barang sebentar.

Jihoon menghela napas lagi, kali ini jauh lebih dalam. Tanpa dirasa warna jingga sudah berubah gelap.

Jihoon resapi hawa dingin yang mulai menyapa raganya. Lalu membawa tatapan pada langit kusam, bergumam lirih-lirih, dan terpaku.

Satu-satu ia hitung dengan jari. Mengarah pada langit yang sudah mendung sedari tadi. Posisinya belum berubah ketika titik-titik air itu jatuh. Memaksa tangan mungil bergerak menarik hodie guna menutupi kepala.

Jihoon menunduk, sama sekali tiada buat gerakan dari tubuhnya. Ia biarkan dirinya basah, sebab itu jauh lebih baik untuk samarkan luka pada tubuhnya.

"Jihoon…"

Telinganya menajam saat namanya digaungkan. Mengangkat kepala, dan mendapati sang 'tuan muda' turun dari mobil mewahnya. Singkat, bibir tipis melukis senyum, lalu segera pudar begitu tatapannya menangkap tiga sosok ber jas hitam dibelakang Woojin.

"Sejak kapan kau disini?"

Woojin meraih payung yang diberikan oleh bodyguardnya, membawa langkah mendekati Jihoon supaya payungnya dapat menjangkau mereka berdua.

Jihoon masih tiada bergerak, diam dengan pandangan was-was.

"Hoon…"

Woojin memanggil pelan. Ia rasakan dingin pada pipi pucat yang disentuhnya.

"Bisa kita bicara sebentar… berdua?"

Woojin menaikkan sebelah alisnya. Ia menangkap hal ganjal pada diri Jihoon. Lalu tanpa berkata, ia memberi gesture lewat tatapan mata supaya tiga orang bawahannya masuk ke rumah besar itu lebih dulu.

"Ada apa?"

Jihoon terdiam. Matanya yang sayu menatap wajah Woojin lamat-lamat. Beberapa detik berikutnya, ia tersenyum.

"Sepertinya kita terlalu lama tidak bertemu. Kau terlihat sedikit kurus."

Woojin mendengus, menggaruk pipi kirinya lalu memajukan bibir.

"Maaf. Aku ingin menemuimu, tapi beberapa minggu ini aku terlalu sibuk."

"Beberapa minggu? Maksudmu dua bulan?"

Woojin melebarkan garis senyumnya. Gigi bergingsul itu terlihat, dan Jihoon tidak bisa untuk tidak tertawa.

"Kau makan dengan baik, kan?"

Jihoon tanya begitu reda tawanya.

"Eng." Woojin mengangguk berkali-kali, "Tentu saja."

"Ck! Bohong." Wajah datar itu kembali dipasang, "Kalau kau makan dengan teratur, pipimu tidak akan kempis seperti itu."

Gelak tawa terdengar. Mata sipitnya semakin hilang ditelan tulang pipi yang menyembul. Jihoon rasa Woojin masih sama seperti Woojinnya yang dulu.

"Woojin…"

Suara Jihoon terdengar sedikit parau saat memanggilnya. Woojin lalu mengehentikan tawa. Mendapati wajah manis itu kembali seperti beberapa waktu tadi.

"Ada yang ingin kau sampaikan padaku?" tanya Woojin. Kali ini nadanya terdengar sedikit serius sebab rasa penasaran sudah menjalar sedari tadi.

"Aku pikir, kita harus mengakhirinya."

Mata Jihoon menatap lama. Menunggu reaksi dari laki-laki didepannya.

"Maksud-"

"Aku sudah lelah, Woojin."

Woojin tidak tahu mengapa dadanya terasa sesak. Nada yang mengalun dari bibir tipis itu terkesan penuh kekecewaan. Ia tahu, bahkan sangat tahu bagaimana sifat Jihoon. Dia bukan tipe orang yang mudah mengeluarkan keluh kesahnya. Bahkan setelah hampir tiga tahun mereka bersama, Woojin dapat menghitung dengan jari seberapa jarang Jihoon menangis.

"Kenapa? Kau marah padaku?"

Suaranya hampir tertelan gemerasak hujan ketika Woojin bertanya. Ia bahkan sudah tiada peduli lagi dengan sepatu mahalnya yang basah oleh genangan air.

"Kau tahu, bukan itu alasannya."

"Bagaimana bisa aku tahu kalau kau tidak mengatakannya?!"

Woojin menaikkan tune, membuat mata sayu itu menatapnya takut-takut.

"Apa karena kesibukanku?"

Jihoon terdiam. Maniknya belum beralih pada mata sipit yang tengah dipandangnya. Jihoon masih menimbang-nimbang, haruskah dia mengatakan yang sebenarnya?

"Ya."

Woojin tersenyum kecut. Meskipun ia tahu itu hanya sebuah alasan, namun hatinya tetap merasa terhianati.

"Kau tidak seharusnya berkata seperti itu, dan jug-"

"Untukmu."

Jihoon memotong ucapan Woojin. Menyerahkan sebuah bungkusan yang disembunyikannya dibalik hoodie hitam.

Woojin termangu. Bukan pada bungkusan itu, melainkan pada tangan Jihoon yang membiru. Lengan jaketnya tersingkap, perlihatkan banyak lebam disana.

"Bohong…"

Kepala tertutup hodie terangkat, kembali menatap lekat manik hitam yang berubah tajam.

"Ayahku 'kan?"

Jihoon buru-buru menarik tangannya. Sadar jika arah pandang Woojin tertuju pada luka di lengan yang sudah mati-matian disembunyikannya.

"Dia yang melukaimu?"

Tatapannya terkunci. Mendobrak pintu tak kasat mata yang sudah ia gembok rapat-rapat didalam sana. Woojin tahu apa yang selama ini dilalui Jihoon. Meskipun laki-laki itu tiada pernah berkata padanya, tapi Woojin memiiki radar yang luas untuk dapat mengetahui apa-apa saja yang dilakukan Ayahnya terhadap Jihoon.

"Apa yang kau bicarakan? Ini tidak ada sangkut-pautnya dengan Ayahmu."

"Lalu kenapa kau ingin mengakhirinya?"

Woojin bertanya, menuntut, "Kau bosan padaku?"

Hening menyelimuti mereka. Tatapan Jihoon ia bawa turun, mengamati sepatu mahal Woojin yang sudah penuh lumpur. Membandingkan dengan sepatunya yang lusuh karena termakan waktu. Jihoon tersenyum kecut.

"Haruskah aku mengatakan semuanya?"

Jihoon sama sekali tidak mengerti bagaimana jalan pikirnya. Mengapa pada akhirnya dirinya memberikan pilihan yang ia sendiri tahu bahwa itu akan menyakiti hati Woojin.

"Katakan."

Masih pada posisinya, Jihoon menarik napas dalam, "Lihatlah kebawah."

Woojin mengikuti arahan itu.

"Dari sepatu saja, sudah sangat jelas mengapa aku ingin mengakhiri hubungan kita."

Woojin terpaku. Entah mengapa hatinya terasa seperti dipukul menggunakan palu. Nyeri dan sesak.

"Kau seharusnya bisa mengerti, Woojin." Mata sayu itu beralih memandang wajah kekasihnya, "Kita berbeda."

Hanya ada deru deras air hujan, memantul pada atap payung lalu turun dengan tergesa. Woojin belum memberi balasan, sebab dirinya sudah kehabisan kata-kata untuk sekedar bersuara. Sarafnya mati tiba-tiba. Ia terluka.

Meskipun begitu, Woojin tahu jika Jihoon jauh lebih terluka dari pada dirinya. Bukan kali pertama kekasih gembulnya itu mengatakan demikian. Membandingkan bagaimana kehidupannya dengan kehidupan Jihoon yang serba kekurangan.

Woojinpun tahu jika Jihoon berusaha untuk menyadari dimana letak posisinya. Merendah, meski Jihoon bukan orang sembarangan. Ya, Jihoon seorang musisi. Setidaknya itu lebih baik dari apa yang dituduhkan Ayahnya pada Jihoon.

"Kita sudah berjalan sejauh ini, Jihoon. Kenapa kau-"

"Aku tahu!"

Lagi-lagi Jihoon tidak memberi kesempatan pada Woojin untuk berbicara.

"Aku sangat tahu. Tapi aku sudah lelah, Woojin …. aku lelah… ."

Setitik air mata jatuh melewati pipi putih itu. Pelan-pelan tersamarkan air hujan. Woojin tiada perlu menebak, sebab hanya dengan tatapan itu saja dirinya tahu Jihoon-nya sedang mangis.

"Kemari."

Satu langkah diambil, lalu setelahnya dekapan hangat terasa. Tangan kekar yang sudah lama tidak menyentuhnya itu melingkar ditubuhnya. Memberikan ruang pada Jihoon untuk menangis.

Woojin tahu, sebuah pelukan dan usapan lembut pada punggung Jihoon akan segera meredakan amarahnya. Ia masih sangat hafal tentang bagaimana cara memperlakukan Jihoon, sebab dirinya begitu menyayangi laki-laki itu.

"Simpan lagi barangnya."

Suara berat mengudara, menembus gendang telinga putih yang menempel pada dadanya,

"Bukankah kita sudah sepakat, jika kita akan menggunakannya setelah kita lulus kuliah?"

Jihoon masih diam, hangat pelukan Woojin memberinya suasana berbeda ditengah hujan. Ia tidak ingin menjawab, sebab menikmati pelukan ini adalah kesukaannya. Jihoon merasa bahwa dirinya menjadi sedikit tenang.

Beberapa menit berlalu dengan posisi seperti itu. Hingga Woojin merasakan usapan kepala Jihoon pada kemejanya. Ingus, seperti biasa.

"Ppfft…"

Woojin menahan tawa, membuat Jihoon harus mengangkat kepala demi melihat wajah konyol itu.

"Sudah menangisnya?"

Tanya Woojin pelan-pelan. Jihoon hanya diam, lalu sebuah sentilan mendarat tepat dikeningnya.

Jihoon meringis, lalu meringsut lagi didada hangat itu.

"Dengar,"

Woojin menepuk punggung Jihoon pelan-pelan,

"Tidak peduli apa yang membuatmu goyah pada hubungan kita, aku akan tetap mempertahankannya. Sekuatku, semampuku. Jadi, kau juga harus melihat seberapa besar usahaku. Jangan menjadi Jihoon yang mudah menyerah. Karena Jihoon-ku, adalah Jihoon yang paling kuat sepanjang masa. Mengerti?"

Kepala mungil terangkat, menatap manik hitam yang memandangnya sayang. Jihoon jadi merasa bersalah sudah mengatakan hal itu pada Woojin. Karena dirinya menyadari bahwa bukan hanya dirinya saja yang berjuang. Bahkan Jihoon tidak pernah tahu bagaimana cara Woojin menghadapi perilaku Ayahnya selama ini. Mungkin hal buruk yang terjadi padanya, sudah lama terjadi pada Woojin. Jadi yang Jihoon harus lakukan adalah-

"Aku mengerti."

mencoba memahami hati Woojin lebih jauh lagi.

.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

Saya suka cerita yang membuat 2Park lebih 'hidup'. Menghidupkan feel dari sebuah cerita itu susah ternyata :v

.

.

.

.

.

.

.

.

.

OMAKE

Woojin berlari terburu-buru,

Menembus kabut tipis pagi buta dengan wajah cerah andalannya.

Kakinya terus bergerak,

Tiada ia rasa dingin yang menghantam kulit tulangnya.

Sebab yang ada dikepalanya hanya satu nama…

"Jihoon!"

Yang dipanggil menoleh,

Mendapati seorang laki-laki tersenyum dengan gingsul sedang melambai kearahnya.

Jihoon ikut tersenyum melihat senyum itu.

Ia melangkah pelan-pelan, supaya lebih dekat dengan kekasihnya.

"Kenapa kau kemari, Woojin. Ini masih terlalu pagi."

Woojin tiada pedulikan pertanyaan Jihoon.

Dirinya segera duduk pada kursi kayu lapuk disudut gang.

Menarik lengan yang lebih mungil supaya berjajar dengannya.

"Untukmu."

Jihoon mengerutkan kening, menahan tawa dengan apa yang dilihatnya.

"Aku tidak sedang ulang tahun, Jin. Kau pagi-pagi datang kemari hanya untuk menyerahkan babi seperti ini?"

Woojin mengerucut.

"Aku tahu kau tidak sedang ulang tahun. Tapi jangan menghina babi-ku."

Jihoon sudah hampir meledakkan tawanya, tapi dia masih punya hati untuk tidak menertawakan kekasih konyolnya ini.

"Beri aku alasan. Kenapa kau memberiku babi?"

Woojin tersenyum cerah, Jihoon jadi ikut tersenyum melihat perubahan mood yang tiba-tiba itu.

"Dengar, kita akan buat kesepakatan."

Jihoon mengangkat satu alisnya.

"Kesepakatan?"

Pertanyaannya dibalas anggukkan.

"Kita penuhi babi ini dengan uang hasil kerja kita. Setelah kau lulus kuliah, aku akan menikahimu."

"Bwahahahaha…."

Tawa itu meledak juga.

Woojin benar-benar konyol.

"Kenapa tertawa. Aku serius, Jihoon."

Jihoon mencoba menghentikan tawanya.

Menatap manik hitam itu lamat-lamat, lalu tersenyum.

"Kau serius?"

Anggukkan tercipta, "Tentu saja."

Jihoon menghela napas.

Menerima bungkusan babi itu lalu dipeluknya.

"Baiklah. Ayo kita penuhi babi ini. Tapi janji, harus dari usaha kita sendiri. Arra?"

"Arraseo…"

.

.

.

.

.

END!

.

.

.

.

.

A/n : Tolong tinggalkan komentar sekedar untuk menghargai karya saya. Semakin kalian mengapresiasi karya saya, semkain saya semangat menulis untuk kalian :):)

.

.