.
.
OoO
.
Park Woojin - Park Jihoon
.
My Answer
.
©Kim Jong Soo 1214
.
OoO
.
.
.
"Kau sibuk?"
Kepala Woojin menyembul dari balik pintu kayu yang setengah tertutup. Nadanya terdengar lemah dan sedikit serius.
Jihoon menoleh sekilas, kemudian kembali berkutat pada kertas dan bolpoin yang dia tumpu diatas paha, "Menghafalkan lirik, seperti biasa."
"Boleh aku masuk?"
Jihoon mengangkat satu alis dengan tidak merubah posisi.
"Tumben sekali minta ijin."
Bahu Woojin mengedik, "Hanya ingin saja."
Segala peralatan yang ada didepannya ditaruh pada meja. Arah pandang Jihoon terbawa mengikuti langkah Woojin yang berjalan pada sofa panjang yang sedang didudukinya.
Jihoon merasa sedikit aneh. Bahkan ketika sudah berada disampingnya pun Woojin belum juga bersuara. Tahu-tahu, pemuda itu menarik lipatan kakinya supaya terjulur lurus. Menempatkan kepala dipahanya lalu memejamkan mata tanpa rasa berdosa.
"Woojin?"
Jihoon memanggil.
"Hm?"
"Kau sakit?"
Hening.
Kepala Woojin yang berada dipaha Jihoon sama sekali tiada bergerak.
"…Woojin?"
"Hm?"
"Aku tanya, apa kau sakit?"
"Tidak."
"Tidak enak badan?"
"Tidak."
Jihoon mengerutkan kening. Ia menundukkan kepala sebatas dada, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Woojin yang kembali terjaga. Hembusan napas hangat beradu, mengenai pipi bulat yang putih pucat.
"Mau aku cium?"
"Tidak usah, Jihoon."
Jihoon tidak benar-benar serius dengan ucapannya. Woojin pun tahu jika itu hanya sebuah wacana. Jihoon bukan tipe orang yang suka menawarkan skinship terlebih dulu. Termasuk pada dirinya sekalipun. Mungkin itu salah satu alasan mengapa Woojin suka sekali mencuri-curi kesempatan sepihak pada si mata bulat.
"TUH KAN KAU SAKIT! IYA KAN?!"
Jihoon menjerit, masih didepan wajah Woojin.
Sejujurnya Jihoon hanya asal menebak saja. Diagnosa yang tidak berdasar sebab Jihoon sendiri kurang begitu tahu bagaimana ciri-ciri orang sakit jika hanya dilihat dari mata awam. Jihoon hanya merasa aneh saja, apalagi tingkah Woojin yang tidak biasa. Maksudnya, Woojin tidak pecicilan seperti kebiasaanya.
"Tunggu aku bersiap, kita ke dokter sekarang."
Jihoon itu mudah gugup. Sifatnya pun sedikit keras kepala. Namun dari sekian banyak sifat Jihoon yang ajaib, semua orang tahu bahwa Jihoon itu perasa. Dia mudah khawatir. Lebih mengutamakan orang lain dari pada dirinya sendiri.
Contoh kecilnya saja, Jihoon akan marah kalau dirinya mendapati Woojin tidur larut malam. Jihoon juga akan marah ketika dirinya mendapati Woojin berlatih dari pagi sampai pagi lagi demi memperbaiki kualitas menarinya. Tapi tetap, Jihoon akan marah kalau Woojin melarang-larang kemauannya.
Meski begitu, Woojin tetap tahu bagaimana cara mengatasi Jihoon. Ibaratnya, jika api dilawan dengan api maka akan semakin panas dan tak berujung. Meski perbedaan usia diantara mereka tidak cukup terlihat, mereka tetap dituntut untuk saling mengerti satu sama lain. Berpikir dewasa, dan mengalah adalah salah satu diantaranya.
Woojin pun tahu, seseringnya Jihoon marah, ia tetaplah orang yang tahu tempat. Maksudnya, Jihoon akan marah pada apa yang seharusnya ia marahi. Marahnya pun sesuai porsi. Tidak mengomel terus-terusan, atau mengungkit kembali kesalahan yang sudah pernah terjadi.
"Aku hanya mengantuk. Ingin tidur saja disini."
Woojin menepuk pelan paha Jihoon yang dijadikannya bantalan.
"Kalau mengantuk kenapa tidak tidur dikamar?"
"Memangnya kau pikir ini dimana?"
"Maksudku, dikamarmu sendiri, Woojin."
Jihoon menyentil gemas dahi pemuda itu.
"Dikamarku sedang ada Ong hyung, Sungwoon hyung, dan Jaehwan hyung. Mereka sangat berisik."
Woojin memperbaiki posisi kepalanya. Membuat gesekan pelan dari rambut dengan kulit paha Jihoon yang terlihat sebab celana selututnya yang tidak menjangkau.
"Kau 'kan kepala sukunya. Si biang rusuh. Biasanya kau suka kalau harus mengusili mereka."
Jihoon mengangkat tangan, membawanya pada poni Woojin yang menutupi dahi.
"Aku rindu padamu. Tidak mau pergi."
"Ish!"
Jihoon sentil lagi dahi itu. Tidak terlalu kuat, tapi cukup untuk Woojin tersenyum karenanya.
"Hoon…"
"Hm?"
"Kemarin aku melihatmu dengan Daniel hyung pergi ke café di Gangnam."
Woojin melirik Jihoon sekilas.
"Lalu?"
Ada jeda sebentar sebelum Woojin kembali memejamkan matanya.
"Tidak apa-apa."
Jihoon menghela napas. Jadi Woojin bersikap seperti ini karena hal itu?
Jika Woojin mengetahui sifat Jihoon dengan begitu cermat, maka Jihoon pun juga demikian. Ia selalu cepat tanggap dengan hal-hal semacam ini.
"Apa kau mau tidur?"
Jihoon bertanya begitu ia rasa Woojin tidak lagi bergerak-gerak.
"Eng."
"Mau aku nyanyikan sebuah lagu?"
Jihoon memberi tawaran yang membuat Woojin kembali membuka matanya.
"Lagu? Memangnya kau bisa menyanyi?"
"Ya! Aku baik dalam menyanyi."
Woojin tersenyum lalu mengangguk.
Jihoon balas tersenyum. Tangannya kembali terangkat untuk menyentuh dahi Woojin. Pelan-pelan jarinya yang lentik menari disana, mengelus lembut. Sebuah tarikan napas yang begitu dalam terdengar. Jihoon, mulai bernyanyi.
Nan kanghae boyeodo
utgo isseodo honjail ddaega manha
Neul geogjeonghana eobseo boyeodo hal mali manha
.
Cheom bon sungan neomuna kkeullyeoseo igeotjeogeot jaeji
mothago marhaesseo
.
The answer is you…
My answer is you…
.
Nae modeungeol da boyeojwo bwasseo
You are my everything, neomuhwagsinhaeseo.
.
Dan pada akhirnya nada-nada lembut itu menghantarkan Woojin pada mimpinya yang manis. Membiarkan jIhoon tersenyum oleh sifat manja kekasihnya.
.
.
.
.
.
End
.
.
.
.
.
A/n : Hallo, saya balik dengan fiksi Pink Sausages. Sekedar Info, penggalan lirik itu judulnya My-Answer dari EXO (Suho, Baekhyun, D.O . Boleh jadi rekomendasi buat kalian yang suka lagu mellow romantis :)
