Bubble Couple
.
.
2Park (Pink Sausages)
.
Park Woojin x Park Jihoon
.
.
Woojin,
Laki-laki menyebalkan yang sering membuat Jihoon naik darah.
Apapun yang dilakukan Woojin selalu konyol dan diluar batas wajar.
Seperti idiot yang berusaha membuat dirinya terlihat pintar.
Padahal sih biasa saja.
Itu menurut Jihoon.
.
.
"Jangan meletakkannya disana, disini saja."
Jihoon mendengus.
"Kalau diletakkan disitu tidak akan kering."
Woojin mengerutkan kening, "Bagaimana kalau digantung?"
"Dimana?"
"Balkon."
"Nanti terbang."
"Tidak akan. Percaya saja padaku."
Lalu Woojin meraih kaos kaki basah kesayangan Jihoon kemudian berjalan kebalkon.
"Kenapa naik tangga?"
"Supaya mudah menjemurnya."
"Maksudnya?"
"Dijemur diatas, Jihoon."
Woojin meletakkan kaos kaki Jihoon asal-asalan.
"Jangan diletakkan begitu saja, pakai penjepit."
"Tidak akan terbang. Dia akan tetap menggantung disini sampai kering."
Woojin tersenyum lebar sampai gingsulnya terlihat. Jihoon sudah mau protes, tahu-tahu angin kencang berhembus, dan kaos kaki Jihoon jatuh kebawah.
"NAH KAN? JATUH KAN? KAU TAHU APARTEMEN KITA DILANTAI BERAPA? AKU TIDAK MAU TAHU, POKOKNYA KAU HARUS MENGAMBIL KAOS KAKIKU, WOOJIN!"
.
.
Woojin dan Jihoon,
Dua anak laki-laki yang memiliki tahun lahir yang sama.
Kedua-duanya suka menari.
Kedua-duanya suka berekspresi.
Kedua-duanya juga pandai menciptakan gerakan-gerakan dengan detil yang keren.
Mereka berdua hebat dalam membuat lirik rapp.
Sebab posisi mereka berdua memang seorang rapper pada grubnya.
Tapi ya begitulah, dua-duanya tidak pernah bisa selaras.
Setiap kali mereka bersama, ada saja hal-hal kecil yang membuat mereka adu mulut dari pagi hingga petang.
"Kau harus menggerakkan kakimu seperti ini, Jihoon."
Jihoon melirik, kemudian mencibir.
"Bukan begitu, tapi begini."
Woojin mengeleng.
"Tidak, tidak, gerakan itu salah. Ikuti gerakanku."
"Kenapa aku yang harus mengikuti gerakanmu?"
"Karena aku yang menciptakan gerakannya."
Jihoon mendengus, "Aku juga ikut andil."
"Tapi bagian ini aku yang punya."
Woojin menarik tangan Jihoon hingga pemuda itu berdiri didepannya, berposisi seperti akan memeluk Jihoon dari belakang, kemudian berkata, "Akan jauh lebih baik jika gerakan ini dilakukan seperti yang aku katakan. Jangan membantah, member sudah lelah, kita harus segera menyelesaikannya dan beristirahat."
Jihoon terdiam sebab hangat napas Woojin mengenai perpotongan lehernya. Matanya melirik, melihat member yang sudah lesu dengan tubuh penuh peluh.
Mungkin benar jika Jihoon dan Woojin selalu berselisih paham, tapi terkadang Woojin memiliki pemikiran yang jauh lebih matang dari Jihoon. Jihoon pun mengakui itu. Ketika Woojin sudah berkata, dan menatapnya lekat, maka telak, perkataan pemuda itu tidak pernah bisa Jihoon bantah.
.
.
"Sudah mau tidur?"
Woojin bertanya ketika melihat Jihoon rebahan diatas ranjang. Berjalan mendekati pemuda itu kemudian turut berbaring disampingnya.
"Eng."
Jawabnya dengan dengungan.
"Apa lelah?"
"Tidak terlalu."
Woojin melirik, menemukan mata Jihoon yang terpejam ringan.
"Sudah makan?"
"Belum."
"Mau ramen?"
Jihoon membuka mata, "Apa boleh?"
Woojin mengembangkan senyumnya, "Pakai jaketmu, kita makan di mini market depan dorm."
.
.
Terkadang Jihoon tidak mengerti dengan sikap Woojin. Sebentar dia usil, sebentar dia acuh, sebentar kemudian dia penuh perhatian. Terkadang pula Jihoon sampai harus memahami situasi sendiri. Bagaimana mood Woojin yang sedang ingin bercanda maupun ketika Woojin sedang serius.
"Kenapa membeli banyak sekali?"
Jihoon menatap tiga cup ramen, kibab segitiga, udon, dan beberapa cemilan diatas meja.
"Karena satu cup saja tidak akan cukup untukmu."
Jihoon terdiam, memandang Woojin yang membuka sumpit lalu mengadukkan ramen untuknya.
"Cepat makan sebelum dingin."
Mata bulat itu melengkung, membentuk sabit dengan bulatan pipi yang mengembang, tersenyum.
"Yaah~ aku yakin manager hyung tidak akan memberi ampun jika mengetahui kita makan banyak ramen malam ini."
Jihoon tertawa renyah bersama Woojin, kemudian mulai memasukkan satu suap ramen kemulutnya.
"Woojin-ah…"
Tiba-tiba laki-laki itu menghentikan makan, menatap Woojin yang sedang sibuk mengunyah.
"Apa?"
Jihoon terlihat sedang menimbang sesuatu, lalu beberapa detik berikutnya dia menggeleng.
"Makan yang banyak."
.
.
Jika Jihoon sering sulit memahami mood dan sikap Woojin ketika sedang bersamanya, tidak berbeda dengan Woojin. Pemuda itu jauh lebih sulit memahami Jihoon dengan sikapnya yang terlampau lembut.
Woojin berpikir seseorang yang terlihat halus dan tenang terkadang tidak benar-benar sesuai dengan kelihatannya. Isi kepala orang-orang seperti itu sedikit berbeda. Mereka terlampau pandai menyimpan sesuatu, menutupinya dengan senyum dan tawa bebas yang terkesan memaksa.
Sebenarnya Woojin tidak ingin berpikir demikian, tapi dirinya pernah menemukan Jihoon menangis dikamar mandi sendirian tengah malam. Tanpa alasan dan sebab.
"Ingin langsung pulang ke dorm?"
Woojin bertanya ketika mereka baru keluar dari mini market.
"Sebenarnya aku ingin jalan-jalan sebentar. Mau menemaniku?"
Woojin mengangguk.
"Baiklah."
.
.
Jihoon memejamkan mata, menikmati hembusan angin yang perlahan membelai kulit wajahnya.
Sekarang pukul 02.35 pagi, jadi mereka tidak khawatir akan ditemukan penggemar diatas gedung kosong ini.
"Woojin-ah…"
Yang dipanggil menoleh, mendapati mata bulat yang sedang menatapnya tajam.
"Apa kau menganggapku sebagai teman?"
Woojin mengerutkan kening.
"Pertanyaanmu aneh sekali."
"Jawab saja."
"Tentu saja kau temanku. Kita sudah bersama sejak masih diasrama kan?"
"Tapi aku penasaran dengan satu hal."
"Apa?"
"Kenapa kau selalu mengajakku bertengkar?"
"Aku? Mengajak bertengkar? Yang benar saja. Bukankah kau yang selalu seperti itu."
Plak!
Jihoon mengeplak lengan Woojin, tidak terlalu keras, tapi cukup membuat pemuda itu meringis kesakitan.
"Kenapa memukul?"
"Menyebalkan."
"Nah kan, sekarang siapa yang lebih dulu mengajak bertengkar?"
Jihoon diam, memajukan bibir dengan kedua tangan terlipat didepan dada.
"Jangan sok imut, kau mau aku menyerangmu disini?"
"Ish!"
Woojin tertawa, kemudian meraih tubuh Jihoon agar menghadap kearahnya.
Mata tajamnya menatap lekat, mencari sesuatu yang tersembunyi didalam mata bulat itu.
"Apa sedang terpikirkan sesuatu?"
Inilah yang Jihoon maksud. Woojin itu sulit ditebak. Kelihatannya saja acuh, tapi sebetulnya Woojin memahami dirinya dengan sangat baik.
Jihoon mengangguk tiga kali.
"Ingin berbagi denganku?"
Jihoon menimbang-nimbang, "Boleh aku bertanya padamu?"
"Kenapa harus meminta ijin, tanyakan apapun yang mengganggu pikiranmu."
"Apa kau…benar-benar hanya menganggapku sebagai teman?"
Woojin terdiam. Matanya belum juga teralih dari mata bening yang sedang menatapnya menanti jawaban.
"Mau dijawab yang sebenarnya atau tidak?"
Jihoon menghela napas malas, "Aku sedang serius, park Woojin!"
Woojin tertawa, kemudian kembali menatap mata Jihoon dengan senyuman.
"Apa kau tidak bisa menebaknya?"
"Menebak apa?"
"Tentang hubungan kita."
Hening…
"Kalau aku bisa, aku tidak akan bertanya padamu."
Woojin mendekatkan wajahnya pada wajah Jihoon, begitu tiba-tiba hingga Jihoon tidak sadar bahwa bibir hangat itu sudah menempel pada bibirnya.
Lembut. Woojin melumat bibir Jihoon pelan. Mata bulat yang semula perpendar, perlahan tertutup ringan. Hembusan napas teratur, menikmati setiap usapan hangat bibir Woojin pada bibirnya.
Tautan itu terlepas, lalu kedua mata itu kembali berpandangan.
"Sudah tahu jawabanku?"
Jihoon tersenyum, pipinya yang penuh kini sudah merah padam, lalu detik berikutnya ia mengangguk.
.
.
"Woojin! Dimana komikku?"
Woojin yang sedang merakit robot mainanpun tersentak.
"Jangan teriak, Jihoon!"
"Aku tidak menemukannya!"
Woojin menghela napas, kemudian menatap Jihoon yang sedang mondar-mandir didepannya.
"Cari dibawah meja, bukankah tadi malam habis kau baca?"
"Tidak ada."
Cemberut, wajahnya sudah merah ingin menangis.
"Ada. Cari yang benar."
"Tidak ada, Woojin. Aku sudah membongkar seisi meja."
"Kalau aku menemukan, bagaimana?"
Woojin berdiri, berjalan melewati Jihoon lalu berjongkok mengambil komik yang tertimbun banyak bantal.
"Uwaahh~ketemu~"
Jihoon tersenyum riang lalu berjalan mendekat pada Woojin. Tangannya hampir meraih komik itu sebelum Woojin mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Berikan komikku."
"Mana imbalannya?"
"Dasar kepompong! Sedikit-sedikit minta imbalan."
"Aku bukan kepompong."
"Aku suka dengan julukan itu."
"Aku tidak."
"Kepompong."
"Ck!"
"Kemarikan komikku~"
Jihoon merengek.
"Cium aku."
Woojin mengetukkan jarinya dipipi.
Cup!
Mengecup pipi Woojin secepat kilat lalu kembali merengut. Sebetulnya Jihoon sempat merona sebab Woojin yang melempar senyum padanya.
"Sudah kan, mana?"
Woojin tertawa sebentar lalu mengacak lembut rambut Jihoon. Menyerahkan komik dengan suka rela, kemudian bergumam, "Dasar bayi."
.
.
Dalam diam kadang Jihoon berpikir macam-macam hal. Tentang dirinya dan masa depan, tentang kelanjutan karirnya setelah grub ini bubar, dan tentang perpisahannya dengan Woojin.
Jihoon suka memanggil Woojin dengan sebutan kepompong. Bukan tanpa sebab, tapi memang begitulah sifatnya. Terlalu tertutup. Tapi sebetulnya Jihoon memiliki makna lain dari panggilan itu.
"Woojin-ah, kau tahu tidak, arti dari sebuah ketulusan?"
Woojin menoleh pada sang pemilik suara, matanya yang tajam menyipit seolah sedang membaca ekspresi mimik wajahnya.
"Tidak."
Jihoon menutup komik yang sedari tadi dibaca. Bangun dari posisi rebahan lalu menarik kakinya yang berada diatas paha Woojin untuk duduk didepan laki-laki itu.
"Kenapa tidak mencoba menjawab?"
Wajah yang selalu Woojin benci. Karena wajah itu menyimpan terlalu banyak teka-teki.
"Haruskah?"
Woojin menarik sebuah toples kaca, membuka tutupnya lalu mengambil bola-bola renyah dari sana.
"Jawab saja."
Jihoon menatap lekat. Lalu Woojin berhenti mengunyah.
"Eung...melakukan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan, mungkin."
Acuh tak acuh sebenarnya, tapi kemudian kepala Jihoon mengangguk-angguk.
"Benar."
Woojin menelengkan kepala, sedikit tidak puas dengan tanggapan Jihoon.
"Hanya itu saja?"
Jihoon mengangguk lagi.
"Tapi aku punya perandaian yang lebih baik darimu."
Woojin kembali meletakkan toples kacanya diatas meja, kini seluruh atensinya tepat mengarah pada mata Jihoon.
"Tulus itu, ketika kau merawat kepompong hingga dia berubah menjadi seekor kupu-kupu, meskipun kau tahu jika semua yang bersayap akan selalu terbang."
Terkadang pula Woojin menatap Jihoon terlalu lekat. Mencari-cari satu hal yang mungkin saja dikhawatirkannya. Selama ini belum pernah Jihoon berkata tentang keluh kesahnya. Tapi malam itu Woojin menyadari satu hal, jika kepompong yang Jihoon rawat dengan baik, perlahan telah menjadi kupu-kupu. Dan kupu-kupu itu sedang bersiap untuk terbang.
Haruskan mereka benar-benar berpisah jika saatnya tiba?
.
.
.
.
END
.
.
.
.
Hallo. Saya kembali membawa chapter baru dengan cerita yang sedikit absurd :v
Sebetulnya mau dibikin romance dengan bumbu-bumbu pertengkaran ala-ala bunsondan gitu, tapi apa daya otaknya malah nyeleweng kearah sini :v
Sedikit angst, tapi masih ada manisnya kok, semoga kalian suka.
Btw masih ada peminat ff ini ga sih, beberapa chapter belakangan yang review hanya 1 atau 2 orang saja, padahal viewernya perchapter lebih dari 1k loh.
Tolong dong, yang masih mau menikmati ff 2park, berisaya semangat lewat review dari kalian.
Terimakasih.
