Boruto's Time Adventure
.
Naruto © Masashi Kishimoto
~This story is Mine~
Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll
.
~Don't like Don't read~
Happy Reading Chapter 3, Minna-san
.
.
"Tou-chan?"
"Heh?"
Jemari Boruto bergetar. Otaknya masih menyangkal fakta tentang hal yang kini menimpanya. Anak dari wanita Hyuuga itu tak mampu bersuara. Denyutan dikepalamya semakin terasa sakit.
"Ugh,"
Boruto memegangi kepalanya. Meremas surai kepirangannya, berharap nyeri dikepalanya mereda.
"Kau tidak apa-apa?" Pemuda dewasa dengan surai putih itu mendekati Boruto. Namun si Uzumaki sulung itu menolak. Ia mengambil jarak, selangkah menjauhi pemuda dewasa yang dipanggil sensei itu.
.
"Kakashi-sensei! Ada apa dengan anak ini? Aku sama sekali tak mengerti apa yang sedang terjadi disini." Kini Ayahnya-lah yang bicara.
Kakashi-sensei? Apa maksudnya pemuda dewasa ini adalah Rokudaime Hokage? Hatake Kakashi?
"Kau.. Hatake Kakashi?" Timpal Boruto. Ia menatap Kakashi dengan pandangan syok. Hatake Kakashi balas menatap bocah Dattebasa itu heran. Meski tertutupi masker, Boruto cukup yakin wajah Rokudaime masa depan itu tengah menampakan ekspresi bingungnya.
"Darimana kau tahu namaku?"
.
Boruto tak menjawab. Ia memilih Untuk pergi memastikan bahwa dirinya benar-benar berada di masa lalu. Ia berlari menjauhi Tim ayahnya. "Tunggu! Kemana kau akan pergi?!"
Boruto berdecak. Tak ia kira Kakek Hokage keenam cukup suka mencampuri urusan orang lain dimasa mudanya. Boruto mempercepat kecepatan larinya saat cakra keempat orang itu terasa mengikutinya.
'Ck, Apa aku terlihat sebegitu mencurigakan?
'"Hoy! Tunggu!" Teriak Uzumaki Naruto. Boruto menoleh kebelakang tanpa mengurangi kecepatan larinya. Benar dugaannya. Ayahnya serta rekan timnya mengejar Boruto. Dan dimana Hatake Kakashi? Orang tua itu harusnya bersama dengan murid-muridnya.
.
Duak! Boruto terjungkal kebelakang saat tubuhnya membentur tubuh seseorang. Ia menegadah dan mendapati Hatake Kakashi tengah didepan tepatnya. Sial. Seharusnya ia tidak usah menoleh kebelakang tadi.
"Kau cukup cepat juga. Aku yakin kau bukanlah shinobi biasa." Seru Kakashi tanpa melepaskan pandangannya dari Boruto.
Drap! Boruto menelengkan kepalanya kebelakang. Sial, Dirinya terkepung oleh kelompok ayahnya sendiri. Ayahnya, gadis bernama Sakura, dan rekan timnya yang lain memasang posisi siaga.
.
"Hoy! Siapa kau? Jangan bilang kau mata-mata dari desa lain?!" Tanya Uzumaki Naruto sembari memasang wajah kesal. Cih, Mata-mata katanya? Untuk apa Boruto memata-matai desanya sendiri? Lagipula, Apa mereka buta? Tidakkah mereka melihat headband berlambang Konoha didahinya?
.
Boruto mengedarkan pandang. Ia merendahkan tubuhnya. Memasang kuda-kuda. Dan meraih sesuatu dari balik jaket hitamnya. "Minggir kalian! Jangan halangi aku!"
Kakashi menutup buku misterius yang sedaritadi dibacanya. Ia menatap Boruto curiga. Meletakan bukunya di kantong belakang, Hatake Kakashi mulai membuat segel ditangannya. Hal ini tentu saja disadari Boruto. Dan secepat kilat-
.
Bom!
"Kyyyaaa~"-Melemparkan bom asap tepat sebelum Kakashi menyelesaikan segelnya.
"Gah! Kemana dia?" Naruto berusaha menghilangkan asap disekelilingnya. Menajamkan tatapannya. Berusaha mencari orang yang memiliki warna rambut yang sama dengannya. "Sial, Dia melarikan diri."
Hatake Kakashi menatap asap yang mengepul disekelilingnya dengan pandangan datar. "Cepat. Anak itu... Siapa dia sebenarnya?"
.
.
Boruto tersenyum sombong. Hah! Kecepatannya adalah nilai tertinggi yang ada dalam grafik kekuatannya. Yang benar saja. Ia adalah putra Hokage ketujuh dan cucu pertama Hokage keempat. Memalukan kalau dirinya memiliki kecepatan layaknya genin biasa.
Boruto kini telah sampai ditempat yang ia tuju.
Bukit Hokage.
.
Boruto berdiri dipahatan wajah Hokage ketiga. Sepoy angin menerbangkan helai Pirangnya. Ia berdiri tanpa bisa menggerakkan tubuhnya.
"Ini, Konoha?" Tanya Boruto ambigu. Pertanyaan tersebut juga dimaksudkan untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dirinya memang berada di Konoha. Namun, Bukanlah Desa Konoha tempatnya dilahirkan. Langitnyapun jauh lebih biru. Udaranya bahkan terasa sangat berbeda dengan udara yang selama ini ia hirup.
Pahatan wajah Hokage keempat menutup barisan pahatan Hokage disana. Pahatan wajah Gondaime, Rokudaime apalagi Nanadaime masih belum dibuat.
Ini seperti mimpi. Ah, Benar juga.
.
"Pasti ini mimpi. Ya benar. Kalau aku menutup mataku, semuanya akan kembali seperti sem-"-Bletak!
"Itteeeeee!"
"Kau ini sedang apa disini?! Kami capek mencarimu, dasar bodoh!" Cerosos Naruto emosi. Tangan bocah itu masih terkepal. Kekesalannya sedikit berkurang setelah menjitak kepala kuning milik Boruto. Boruto menggeram kesal. Ia menatap nyalang Naruto sambil mengusap kepalanya. "Apa yang kau lakukan?! Apa kelakuan burukmu ini sudah kau dapatkan sejak kau masih kecil?! Cih, Keparat. Selalu saja begini. Kau lah penyebab segala kesialanku. Idiot."
.
Merasa tersinggung, Naruto meraung tak terima, "Apa kau bilang?! Seenaknya saja kau mengatakan aku ini pembawa sial! Justru kaulah penyebab kesialanku hari ini! Dan jaga bicaramu! Kau tidak tahu siapa aku, Hah?! Akulah Uzumaki Naruto! Hokage masa depan-ttebayo!"
Boruto berdecih sombong, Ia maju seolah menantang. "Hokage katamu? Hah, Menjijikan. Hanya orang bodoh yang mau jadi Hokage!"Naruto semakin memicingkan matanya tajam. Ia menggerang. Dengan cepat menyambar kerah jaket hitam milik Boruto kasar. "Apa kau bilang?! Jangan meremehkan seorang Hokage! Kau menantangku bertarung, Hah?"
.
Boruto tak menjawab. Ia lebih memilih diam dan melepaskan cengkraman Naruto dibajunya. "Pergi. Jangan ganggu aku."
"Apa?!" Naruto mulai jengkel. Siapa anak yang menyebalkan ini? Tiba-tiba muncul dan memakinya tak jelas. Sebagai Seorang Uzumaki Naruto, Tentu ia tidak terima.
Syut!
Boruto menoleh cepat. Seseorang dibelakangnya, Reflek ia melompat tepat kepatung Hokage keempat. Uzumaki Boruto memusatkan cakra dikakinya. Membuat Anak Nanadaime Hokage itu bergantungan di pahatan wajah Kakeknya.
.
"Kau cepat.".
Gah! Itu dia pemuda dingin yang sedari tadi bersama dengan gadis yang bernama Sakura. Boruto menatap pemuda dengan rambut emo itu lama. Ia yakin pernah melihat pemuda ini. Selain itu, cakra anak itu terasa familiar.
Belum sempat Boruto menyelesaikan asumsinya, Tiba-tiba-
-Duk!
-Seseorang memukul tengkuknya. Membuat kesadarannya kembali hilang.
.
.
Krieett~
.
"Sandaime-sama"
Kakek tua bergelar Hokage ketiga itupun berbalik. Mengalihkan atensinya dari pemandangan Konoha ke arah pintu masuk ruangannya. "Ada apa, Kakashi?"
Kakashi masuk diikuti anggota Tim tujuh lainnya. Sandaime sempat mengerjap bingung ketika Naruto masuk dengan menggendong seseorang yang tak sadarkan diri dipunggungnya.
Hokage ketiga melangkah mendekati Kakashi dan timnya, "Kakashi, Siapa yang kalian bawa?"
Naruto mendumal. Ia membenarkan gendongannya, "Tidak tahu. Anak ini tiba-tiba datang dan memakiku tidak jelas. Setelah itu dia malah kabur dan membuatku kesulitan mencarinya karena ia lumayan cepat ju-" "-Biar aku saja yang menjelaskannya, Naruto. Misi hari ini selesai. Kalian pulanglah dan beristirahat untuk misi besok." Sela Kakashi sembari tersenyum, Meski senyum itu tertutupi maskernya-tentu saja.
.
Naruto mengerucutkan bibirnya, "Cih, Curang." Protesnya setengah mendengus.
Kakashi mengambil Boruto dari gendongan Naruto. Meletakan tubuh bocah itu dikursi terdekat. Hokage ketiga terbebelalak saat visualnya menangkap personifikasi sang bocah.
"Anak ini..." Gumamnya tak percaya.
.
"Ada apa dengan anak ini, Jii-chan?" Cerocos Naruto.
Hokage ketiga menatap Naruto dengan pandangan heran. Bingung. Tentu saja. Tidakkah Naruto menyadari kemiripannya dengan anak yang tak sadarkan diri itu?
Hatake Kakashi mendorong tubuh Naruto mendekati rekan timnya. "Sudah kubilang pulanglah."
Naruto sempat protes, Namun tidak digumbrisnya. Ia harus cepat-cepat mengeluarkan Naruto dan kawan-kawan dari sini. Ada suatu hal penting yang harus ia diskusikan dengan sang Hokage.
.
Setelah yakin anak didiknya telah pergi, Kakashi berbalik dan kembali menghampiri Sandaime. Sang Hokage sendiri masih sibuk mengamati rupa bocah yang kini terbaring tak sadarkan diri. "Jadi Kakashi, Ada apa ini sebenarnya?"
Kakashi menghela napasnya. Bingung memulai ceritanya dari mana.
"Anak ini tiba-tiba jatuh dari langit saat Tim-ku berkumpul dibawah tebing Hokage." Jelas Kakashi ragu. Hokage ketiga mengerutkan alisnya bingung, "Jatuh dari langit seperti malaikat?" Tanya sang Hokage tak yakin. Kakashi tidak menjawab. Ia memilih diam.
Hokage tua itu beranjak mendekati kursi Hokagenya. Ia mendudukan tubuh ringkihnya dan mulai menganalisa hal yang kini terjadi.
"Tidak masuk akal. Aku yakin Minato dan Kushina hanya memiliki satu putra. Dan itu adalah Naruto." Ujar sang Hokage. Kakashi diam mengiyakan. Ia juga mengetahui fakta soal Naruto dan keluarganya. Seolah ingat sesuatu, Kakashi lantas berseru, "Boruto. Ia memperkenalkan dirinya sendiri sebagai Uzumaki Boruto." Kakashi melipat tangannya didepan dada. "Selain itu, Dia berkata Dattebasa layaknya Naruto serta Kushina-san." Tambahnya.
.
"Begitu rupanya."Sarutobi Hiruzen menangkupkan tangannya dibawah dagu. "Apakah kau yakin dia tidak menyamar? Atau barang kali ia menggunakan semacam Jutsu terlarang?"
Pria bermasker dengan Sharingan dimata kirinya itu menggeleng, lantas menjawab, "Aku sudah memeriksanya. Dia tidak menggunakan jutsu apapun."
Hokage ketiga memijat pelipisnya. Masalah ini sulit dicerna otak jeniusnya. Bagaimana mungkin ada anak yang sangat mirip dengan putra Hogake keempat jatuh dari langit? Mustahil.
Kakashi menelengkan kepalanya. Ia mengamati Boruto yang masih tak sadarkan diri. "Dan lagi, Kecepatan anak ini jauh diatas rata-rata anak-anak seumurannya. Kutaksir ia masih genin, Anda bisa melihat dari headbandnya yang masih baru. Namun dengan kecepatan sehebat itu, Anak ini mungkin saja sudah setara dengan seorang Chunnin." Jelas Kakashi panjang lebar.
.
Sandaime menautkan alisnya heran. "Darimana ia mendapatkan headband Konoha?"
Kakashi balik menatap sang petinggi desa. Ia menggeleng. Tanda bahwa ia juga tidak mengerti.
"Bawa headbandnya kemari." Perintah Hokage ketiga. Kakashi mengangguk, dan dengan cekatan melepas headband yang melingkar didahi Boruto. Ia melangkah kembali dan meletakan benda itu dimeja sang Hokage.
Pria tua yang menyandang nama Profesor itupun memperhatikan headband milik Boruto dengan teliti.
"Ini bukan Headband yang biasa digunakan Shinobi Konoha. Metal protectornya-pun berbeda." Jelas Sandaime dengan ekspresi bingung.
Hokage ketiga menghela napasnya. Ia menutup matanya seraya berpikir. "Hatake Kakashi. Aku menugaskanmu untuk mengawasi anak ini. Keberadaan anak ini adalah tanggung jawabmu."
Hatake Kakashi menimbang-nimbang sejenak. Kemudian mengangguk sopan. "Aku mengerti."
.
.
Boruto mengerjapkan matanya. Tubuhnya terasa mati rasa. Uzumaki dengan kalung berbandul baut itupun menatap sekitarnya dengan linglung.
"Akhirnya kau bangun."
Kaget. Boruto reflek mengambil sebuah kunai dari kantung senjatanya. Ia mundur demi menjaga jarak antara dirinya dan orang yang ia angap musuh.
"Tenangkan dirimu, Anak muda."
Suara itu membuat kesadaran Boruto pulih sepenuhnya. "Hatake... Kakashi?" Gumamnya pelan.
"Ya, Ini aku. Kau bisa menyimpan kembali Kunaimu, Uzumaki Boruto." Balas Kakashi. Boruto mengusap kepalanya yang bersenyut nyeri. Ia meringis. Sampai ia menyadari-
"-headbandku? Dimana headband milikku?" Tanya Boruto panik. Ia baru mendapatkannya kemarin. Itu adalah bukti kerja kerasnya. Bukti bahwa Ayahnya mengakui dirinya sebagai Shinobi Desa Konohagakure.
.
"Headbandmu ada padaku, Anak muda.".
Boruto menoleh cepat keasal suara yang menimpali pertanyaannya. Iris birunya menangkap sosok pria tua dengan jubah Hokage tengah menggenggam headband miliknya.
"Siapa kau, Orang tua?! Kemarikan headbandku!" Teriak Boruto kesal. Tidak terima headband berharga miliknya dirampas tanpa seiizinnya. Kakashi menyentuh pundak Boruto, "Jaga bicaramu didepan Sandaime, Boruto."
Boruto kembali menatap pria tua didepannya. Namun kali ini, Ekspresi kekagetanlah yang mendominasi wajahnya. "J-Jadi kau Hokage ketiga?"
Sang Hokage terkekeh. Tidak hanya rupanya, Caranya berteriak, Ekspresinya yang cepat berubah-ubah sangat mirip dengan Naruto. Bocah yang mengaku bernama Boruto itu makin membuatnya penasaran.
"Kau akan mendapatkan kembali headbandmu ini setelah kau mengatakan yang sejujurnya siapa kau, darimana asalmu, dan kenapa kau ada disini." Ujar Sandaime tanpa mengurangi sedikitpun wibawanya. Boruto menunduk. Kenapa sekarang ia merasa posisinya semakin sulit?
.
Boruto membuang muka. Berdecih, "Jika aku mengatakan yang sesungguhnya-pun, Kalian pasti tidak akan percaya."
Hatake Kakashi berjongkok. Menyejajarkan tubuhnya dengan Boruto. Ia tersenyum dibalik topengnya.
"Kami percaya. Kau tidak usah khawatir."
Boruto tidak menjawab. Ia masih memasang wajah masamnya yang khas. Tak mau menatap pria bersurai putih didepannya.
.
Sandaime menghela napas. Sudah ia duga. Sifat keras kepalanya bahkan sangat mirip dengan Naruto. Hokage dari klan Sarutobi itupun kembali angkat suara, "Sebenarnya ini hanya asumsiku saja. Tapi, apakah kau..." Hokage ketiga menggantungkan perkataannya. Ia menatap Hatake Kakashi sejenak.
.
"...Dari masa depan?" Lanjut Sandaime tidak yakin.
.
"..."
Dengan tenang, Kakashi ikut bertanya, "Benarkah itu?"
Boruto tak menjawab. Ia memilih diam sambil mempertahankan wajah masamnya. Hokage ketiga tersenyum puas, "Sepertinya dugaanku tepat."
Uzumaki Boruto mengepalkan tangannya, Ia balas menatap Hokage ketiga tanpa ragu. "Kau sudah mengetahui apa yang ingin kau ketahui dariku. Jadi, Kembalikan headbandku!"
.
Hokage ketiga bangkit, Ia berjalan kearah Boruto dan menyerahkan headband itu ketangan Boruto. "Aku senang bertemu dengan generasi penerus Konoha sehebat dirimu, Uzumaki Boruto." Seru Sandaime sembari mengusap puncak kepala kuning si Uzumaki. Boruto diam, Pipinya memerah. Ia tersipu kala Hokage ketiga memujinya.
Kakashi menegakan tubuhnya. Ia berdiri disamping Sandaime, menatap Boruto yang kini tengah memasangkan kembali headband dikepalamya dengan riang.
Sandaime dan Kakashi sempat terpaku ditempat saat menatap senyuman cerah milik Boruto. Ini adalah senyuman pertama Boruto semenjak ia menginjakan kakinya dimasa lalu. Begitu lebar, cerah dan tentu saja, Sangat mirip dengan milik Naruto.
Boruto berkacak pinggang. Ia masih tersenyum, Kemudian menatap dua orang didepannya, "Baiklah, Kupikir aku bisa mempercayai kalian berdua."
.
Boruto membenarkan letak headbandnya. Ia memegangi Metal protector dengan simbol Konoha miliknya. "Namaku Uzumaki Boruto! Genin Konohagakure dari masa depan! Putra Nanadaime! Impianku adalah, melampaui gelar Hokage milik Tou-chan-dattebasa!" Seru Boruto ceria.
.
"Nanadaime? Maksudmu-" Lidah Kakashi kelu. Ia bahkan tak bisa melanjutkan perkataannya. Boruto mengangguk antusias. "Ya! Nanadaime Hokage adalah Ayahku. Uzumaki Naruto-dattebasa!"
Hokage Ketiga tersenyum sumringah. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak keluar. Ia bangga -tentu saja- mengetahui Naruto di Masa depan nanti telah mewujudkan impiannya. Kalau bisa, Ia ingin sekali melihat Naruto dengan jubah Hokagenya berdiri di pahatan wajahnya sendiri. Andai ia bisa.
"Sudah kuduga, Naruto.." Respon Kakashi sambil tersenyum bangga. Boruto memfokuskan pandangannya pada Kakashi. Boruto tersenyum miring, "Dan lagi, Suatu keberuntungan bisa bertemu dengan calon Rokudaime."
Hokage tercengang. Ia mengikuti arah pandangan Boruto, "Anak muda, Maksudmu Kakashi-lah Rokudaime Hokage?" Kali ini ia bertanya.
Sekali lagi, Boruto mengangguk, "Ya!"
.
Kakashi bisa merasakan pipinya memanas. Ia menggaruk pipinya kikuk, "Baiklah, Kupikir sudah cukup kau memberitahu kami soal Masa depan. Jangan bicarakan hal tentang Masa depan pada siapapun lagi, Boruto. Sedikit banyak, Hal itu memengaruhi duniamu di Masa depan."
Boruto mengangguk tanda mengerti. Kakashi memasukan lengannya kebalik saku celana, "Dan asal kau tahu. Mulai sekarang, Kau berada dibawah pengawasanku, Boruto."
Anak dari Hyuuga Hinata itu menoleh cepat. Ia mendengus, "Keh, Sebenarnya aku tidak keberatan. Tapi jangan sesekali campuri urusan pribadiku, Kau mengerti?"
.
Hatake Kakashi tersenyum simpul, "Tidak masalah."
.
.
Boruto berjalan santai dijalanan Konoha. Ia meletakan tangannya dibelakang kepala. Memperhatikan sekitarnya dengan pandangan heran. Konoha pada zaman ayahnya terlihat Kuno sekali. Pikirnya.
Tidak ada gedung pencakar langit. Semua orang bahkan masih menggunakan Kimono sederhana dengan sandal yang menghiasi kakinya. Fuh, Yang benar saja. Jika mereka berada di Konoha-nya, sudah pasti mereka akan ditertawakan. Batinnya. Boruto memutar bola matanya, "Dan... Kenapa kau mengikutiku?"
"Jangan terlalu percaya diri. Kakashi-sensei yang memintaku menemanimu." Ah, Naruto ternyata. Ayah Boruto di masa depan itu merengut kesal.
Boruto mendengus. Ia memilih kembali berjalan selangkah didepan Naruto. Naruto mengumpat dalam hati. Sifat bocah didepannya membuat dirinya panas bukan main. Sikapnya bisa jadi semenyebalkan Sasuke.
"Jadi," Naruto angkat suara. "..Siapa namamu?" Boruto menghentikan langkahnya, Ia berikan Naruto ekspresi menyebalkannya, "Apa itu penting bagimu?"
Twich! Perempatan dipelipis Naruto muncul. Ia mengepalkan tangannya gemas. "Awas kau ya."
.
Boruto meniup poninya sekilas, menyeringai sinis kearah Ayahnya, "Namaku Boruto."
Naruto memiringkan wajahnya polos, "Dattebayo?"
Boruto mengerucutkan bibirnya lucu. "Kubilang Boruto-ttebasa!"
Naruto tersentak. Ia menyipitkan sebelah matanya. "ttebasa?" Tanya Naruto heran.
.
Naruto mengusap dagunya. Mencoba berpikir. Ada hal yang terasa aneh diantara Nama Boruto dan Frase ttebasa miliknya. Tapi apa? Dengan otak yang pas-pasan, Naruto tetap berusaha memahami hal aneh yang dirasakannya.
"Hmm..."
Boruto mengangkat alisnya. Baiklah, Naruto pasti heran mendengar namanya, dan Dattebasa-nya, tentu saja. Jika Naruto tak sebodoh penampilannya, Boruto tetap mengharapkan Naruto mengenali dirinya sebagai anaknya dari masa depan. Meski dengan cara tidak langsung seperti ini.
.
"Aku yakin ada yang aneh dengan Namamu itu. Tapi aku tidak yakin itu apa."
Bruak! Boruto jatuh terjungkal kebelakang.
Uzumaki muda itu menepuk jidatnya keras. Sayangnya Ayahnya di masa lalu memang bodoh. Batinnya menangis.
Naruto menyipitkan matanya, "Kau ini kenapa?"
"Seharusnya aku yang bertanya begitu. Kau benar-benar harus melakukan sesuatu pada otakmu." Balas Boruto. Bangkit berdiri, ia menepuk-nepuk celanannya.
.
Pandangan Naruto seketika terfokus pada headband milik Boruto. mengamati headband itu lama. Boruto yang menyadarinya balas menatap sang ayah dengan wajah jengkel, "Apa?"
"Kau shinobi Konoha?" Tanya Naruto agak ragu. Boruto menautkan alisnya, "Tentu saja. Dimana kau taruh matamu? Tidak lihat headbandku?"
Naruto menatap Boruto curiga. Ia melipatkan tangannya, kemudian mencondongkan tubuhnya kearah Boruto. "Tapi aku belum pernah mendengar tentang dirimu selama ini. Kalau kau shinobi, seharusnya kita seangkatan, bukan?"
.
Boruto tak bergeming. Air muka Naruto berubah serius. Boruto berbalik, menghadap langsung kearah Naruto. Bocah dengan bentuk rambut serupa daun itu menjejalkan tangannya kedalam saku celana. "Begitukah?"
.
"Tapi wajahmu sepertinya sering sekali kulihat. Dimana aku melihatmu kira-kira?" Tambah Naruto.
Sebutir keringat jatuh dipelipis Boruto. Ya Tuhan, Ayahnya ini benar-benar..
Sungguh, Apa ia tidak pernah mengenali wajahnya sendiri? Rupa Boruto dan Naruto itu ibarat ping dibelah dua. Hanya orang bodoh yang tidak menyadari keajaiban genetika diantara Boruto dan Naruto. Dan tentu saja. Uzumaki Boruto adalah salah satu dari orang bodoh tersebut.
.
"Hoy! Naruto!"
Ayah dan anak itu menoleh bersamaan. Namun Boruto-lah yang paling menampakan kekagetannya. "Kau..."
.
.
"Shikadai!?"
.
"Shikadai-tee... Eh?"
=To be Contineud=
A/N: Heloooo! Bieber balik lagi XD Wah, Bieber gak nyangka fic ini responnya membom-banjir(?) XD Bieber seneng bangett! Padahal Bieber kira ini fic amburadul banget -_- Tapi Hontoni Arigatouuuu #Ojigi
Soal chapter ini, Maaf wordnya dikit XD Dan maaf seenaknya bikin Boruto jadi tipe sensor -_- maksud Bieber Cuma mau ngebuat karakter Boruto ngerti soal begituan(?) dikit-dikit.
Banyak yang nanya soal Hinata sama Himawari, Kalau Hinata pasti muncul (Mengingat si Boruto kan Anak mamih) Mungkin di chapter-chapter selanjutnya. Tapi Himawari... Bieber pertimbangkan dulu deh ya ^ ^
Soalnya Bieber mau fokus sama petualangan Boruto dan familynya hubungan Boruto-Naruto XD Dan untuk tamatnya, Memang terlalu sedikit sih genre Adventure kalau 5 chapter -_- Mungkin akan ditambah, pokoknya sampai ujian Chunin! XD #labilwoy#
Oh, sekedar info. Bieber kalau bulan puasa updatenya perminggu sekitar Hari Senin/Kamis. Bisa update kilat kalau gak badmood :D #ditampol
Oke, saatnya balas pertanyaan:
Q : apa nanti boruto membocorkan tentang kejadian masa depan?
A : Boruto Cuma bilang ke orang-orang tertentu aja kok ^ ^ Tapi Bieber pastiin dia gak akan bocorin soal masa depan ke NaruHina! ^ ^
Q : Kalau boleh ralat, bukannya pas Hinata dibawa sm Toneri ke bulan itu Hinata belum jadi pacarnya Naruto ya? Tapi disini seolah Hinata udah jd pacarnya Naruto pas dia dibawa Toneri.
A : Emang iya XD #Plak# Maksud Bieber dibikin 'Kekasih' itu biar gak repot jelasin sekarang NaruHina udah jadian XD Arigatou ralatnya ^ ^ Sorry Bieber potong Reviewnya ^ ^
Q : Kira kira entar naruto bakal tanya gk ya siapa istri masa depannya ama boruto :v?
A : Nggak ^ ^ Si Naruto sadar sendiri :p #janganspoiler/?
Q : ah itu boruto terjebak dimasa lalu ya?
A : Iya ^ ^
Q : Seruuuu,, apa boruto bisa kembali?.
A : Nah, loh. Bisa gak ya? Bisa mungkin. Atau nggak aja sekalian? XD #Plak
Q : Thor apakah nanti boruto bisa menggunakan byakugan?
A : Nggak XD
Oke, Segitu yang bisa Bieber jawab XD Sekali lagi, Arigatou sudah mau Review/Follw/Fav X''D
Gomen chapter ini makin gaje -_- Yosh! Yosh!
Akhir kata,
Mind to Review?
