Boruto's TimeAdventure
.
Naruto © Masashi Kishimoto
~This story is Mine~
Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll
.
~Don't like Don't read~
Happy Reading, Minna-san
.
"Shikadai-tte... Eh?"
Boruto mendorong tubuh Naruto. Ia berlari dengan tergesa kearah bocah yang ia panggil Shikadai. Ekspresi senang ketara sekali terlihat diwajah Boruto. Apa mungkin yang terjebak disini tidak hanya dirinya seorang? Itu berarti, Ia tidak sendirian.
"Shikadai!"
Bocah yang dipanggil Shikadai itu membuka sebelah matanya. Ia memandang Boruto dengan tatapan malas. "Apa?"
Boruto senang bukan main, Ia mempercepat langkahnya. Membuat kedua orang disamping bocah Nara beringsut mundur. "Shikadai! Kau benar Shikadai 'kan?!" Tanya Boruto menggebu-gebu.
"Apa yang kau bicarakan Naruto?! Berhentilah menatap Shikamaru dengan pandangan yang menjijikan seperti itu!" Serobot gadis ponytail disamping sang bocah Nara.
Boruto menunjuk gadis itu cepat. Ia memasang wajah emosinya, "Aku tidak ada urusan denganmu, Perempuan! Enyahlah kau! Mengganggu saja. Dasar pirang!"
Gadis itu dan kedua temannya terperanjat. Tak mau kalah, Gadis itu balas meraung, "Hey! Apa masalahmu? Tidak sopan! Kau mengusirku? Beraninya kau, Naruto!" Kepalan gadis itu mengarah pada si sulung Uzumaki.
.
"T-Tunggu, Ino-"-Duak!
.
"Uaarrggg!"
Tinju Ino dengan sukses mengenai Boru-Ah Bukan, Tinjuan Ino dengan mulus mendarat dipipi kanan Naruto. Membuat bocah pirang dengan jaket Orange itu tersungkur ke tanah dengan tidak nyaman.
"Ah! Tou-Maksudku, Naruto!"
Nara Shikamaru menautkan alisnya. Ia memang tidak peduli, Namun ada hal ganjil yang menganggunya. Kini didepannya, Ada dua Naruto. Awalnya ia tak ambil pusing karena ia berpikir hal itu sudah wajar bagi seorang Ninja. Namun Shikamaru yakin ini bukanlah Bunshin no jutsu. Karena normalnya, Bunshin akan menghilang begitu tubuh aslinya terluka. Namun hingga detik ini, Tak ada satupun dari kedua Naruto itu yang menghilang bersama asap.
.
"Naruto." Panggil Shikamaru. Sang empunya nama menoleh dengan tangan yang mengusap-usap pipinya yang membiru. "Hng?"
"Kau sedang berlatih Bunshin no Jutsu?" Tanya Shikamaru. Naruto bangkit, Boruto membantunya berdiri. "Tidak." Jawab Naruto sambil meringis.
Ino menyikut pria gendut disamping kirinya. "Choji, Apa kau dengar? Kalau salah satu dari mereka bukanlah Bunshin, Lalu apa?"
Pria besar yang sedaritadi memakan snack kentangnya itu mengedikan bahunya. "Kalau begitu. Jelaskan pada kami kenapa bisa ada dua Naruto?"
.
Naruto mengerjap polos, "Apa maksud kalian? Naruto 'kan hanya aku seorang."
Shikamaru mengorek telinganya malas. Terlalu, Naruto memang payah.
"Daritadi kau terus bersama dengan orang ini dan kau bahkan belum menyadari bahwa wajah kalian begitu mirip?"
Naruto menoleh kearah Boruto. Bocah Jinchuriki itu menyipitkan matanya seraya berpikir, "Apa iya dia mirip denganku?"
Boruto mendelik, "Sama sekali tidak mirip."
.
"Kalian bisa melihatnya sendiri di kaca toko itu. Bukti bahwa kalian ini seperti saudara kembar." Ino ikut bersuara. Naruto nenoleh menatap pantulan wajahnya dan wajah Boruto di kaca etalase toko. Tak yakin, Naruto menirukan ekspresi sombong Boruto beberapa kali.
"Ck, Kalaupun mirip, Aku lebih tampan darimu." Imbuh Boruto malas. Naruto mengangkat bibir bawahnya keatas, "Keterlaluan."
Shikamaru mendesah bingung. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Mendokusei, Jadi siapa dia, Naruto? Dia shinobi Konoha seperti kita?"
Boruto menghela napasnya. Kenapa semua orang di masa ini penasaran sekali terhadapnya? Boruto beringsut maju, dengan tangan yang ia jejalkan ke saku celananya, Boruto kembali memperkenalkan diri, "Namaku Boruto. Aku Shinobi baru disini-dattebasa! Dan soal mirip, Jangan ambil pusing, Mungkin saja ketika Ibuku mengandung, Ia membenci orang ini dan secara tidak langsung Tuhan malah membuat wajahku mirip dengannya." Seru Boruto setengah bercanda.
Naruto terperangah, Bocah Kyuubi itu hendak protes, Namun, Injakan Boruto dikakinya membuat Naruto bungkam menahan sakit.
.
Alis Shikamaru berkedut, Memang ada hal seperti itu? Ah, Masa bodoh. Lagipula ini bukan masalahnya. Untuk apa ia ikut campur tangan?
Ino maju selangkah. Ia mengulurkan tangannya kearah Boruto. Boruto menatap tangan Ino yang terulur padanya heran. "Namaku Yamanaka Ino. Aku suka gayamu, Boruto. Cukup keren, Kupikir. Semoga saja kau tak sebodoh Naruto." "Apa?!" Sahut Naruto pura-pura tersinggung.
Yamanaka? Boruto mencoba menggali ingatannya. Ia pernah sekali mendengar nama Yamanaka Ino. Ino.. Ino-jin! Gotcha! Gadis ini adalah Ibu Inojin! Ah, ya benar. Ia sempat lupa soal Ibu Inojin. Ya, maklum saja. Ia hanya pernah sekali bertemu dengan Ibu Inojin ketika ia mengantar Ibu dan Adiknya membeli bunga di toko Yamanaka.
Boruto menyambut tangan Ino. Ia tersenyum kecil, "Salam kenal. Kutebak keluargamu memiliki toko bunga?"
Ino tersentak. Ia melepaskan tautan tangannya, "B-Bagaimana kau bisa tahu?!" Tanya Ino kaget. Boruto tersenyum miring, ia mengalihkan pandangannya tanpa ada niat menjawab Ino.
.
"Boruto, Perkenalkan, Namaku Akimichi Choji. Dan temanku ini Nara Shikamaru dari klan Nara. Senang berkenalan denganmu." Kini si Gempal yang memperkenalkan dirinya tanpa diminta. Boruto memperhatikan Choji lama. Nah, Kenapa ia jadi merasa main tebak-tebakan?
Tubuhnya yang berisi sekilas mengingatkannya pada seorang gadis berkulit gelap di tim Shikadai. Baiklah. Kali ini Boruto Cukup yakin bahwa Choji ini adalah ayah Chou chou. Dan tak usah berpikir panjang, Borutopun yakin Shikamaru didepannya ini adalah kaki tangan ayahnya dimasa depan. Ayah Shikadai.
'Choji-jiichan terlihat lebih lebar saat ia masih genin-ttebasa.' Batin Boruto meringis.
.
"Baiklah-ttebayo! Aku benar-benar tidak dianggap disini. Aku pergi saja. Sampai jumpa!" Suara Naruto membuyarkan lamunannya. Boruto mengerling sekilas kearah Ino-Shika-Cho sebelum dirinya mengikuti Naruto dengan langkah terburu-buru.
"Sampai jumpa nanti-ttebasa!" Teriak Boruto sembari melambaikan tangannya. Naruto dan Boruto menghilang dipertigaan. Tim 10 masih diam ditempat.
"Oh, Tuhan. Kupikir aku jatuh cinta." Ujar Ino tiba-tiba. Shikamaru dan Choji saling pandang.
"Mendokusei."
.
"Cih, Lihat siapa yang mengikutiku sekarang."
Boruto melirik sinis ayahnya. Ia mendengus, "Kakashi-sensei menyuruhmu menemaniku, Bukan? Jangan seenaknya meninggalkan tugasmu, Bodoh."
Naruto membuang mukanya, Ia menyilangkan tangannya kesal, "Terlalu. Kau memiliki kebiasaan bicara yang buruk, Boruto."
Boruto tidak menjawab. Perkataan Naruto barusan sama seperti perkataan ayahnya dimasa depan. Ayahnya sering sekali menegur kebiasaan jelek Boruto dalam berbicara. Ibunya bahkan sudah beberapa kali menceramahinya untuk lebih baik lagi dalam menjaga perkataan. Namun Boruto tidak lantas menurut. Sekalipun Kaa-sannya yang meminta, Ia terlanjur gengsi untuk memperbaiki cara bicaranya yang sembrono.
.
"Omong-omong, Dimana kau tinggal, Boruto?" Naruto memecah keheningan. Boruto melirik ayah masa depannya datar. Bukannya menjawab, Boruto malah membuang muka -lagi. Membuat Naruto memberengut dan ikut memalingkan wajahnya kesal.
Boruto melempar pandangannya ke langit Konoha. Menyipitkan matanya guna meminimalisir sinar mentari yang menyapa iris Oceannya.
"Aku ingin ke suatu tempat. Kau tidak perlu menemaniku lagi." Seru Boruto mendadak. Alis Naruto bertaut, "Jangan seenaknya memutuskan ini itu semaumu." Protes Naruto tidak terima.
Boruto mengedikan bahunya. Ia berbalik memunggungi Naruto, "Terserahmu. Yang terpenting jangan ikuti aku." Balas Boruto tanpa menoleh kearah Bocah Jinchuriki itu.
Baru saja Naruto membuka mulut untuk melancarkan umpatannya, Boruto langsung melesat naik dari atap ke atap dalam sekali kedip.
.
"Orang itu cepat." Gumam Naruto tak sadar.
.
.
Boruto berlari cepat. Ia melompati atap demi atap dengan mudah. Ia ingin memastikan sesuatu. Meski tidak tahu jalan, Namun Boruto cukup yakin dirinya berada di jalan yang benar kearah tempat tujuannya.
Boruto mendarat ditanah dengan mulus. Ia mengedarkan pandangannya dan berlari menerobos kerumunan warga. Tanpa memperdulikan hardikan warga yang memintanya agar jangan berlarian ditempat ramai.
"Cih, Apa aku salah jalan?" Ujarnya pada diri sendiri.
Iris Boruto menangkap personifikasi seseorang yang sekilas pernah ditemuinya. Ia tersenyum senang dan mendekati orang itu.
Tep~
Boruto menepuk pundak orang itu. "Hey! Kau teman Tou-c, Err.. Maksudku, Naruto 'kan?" Sapanya sok kenal. Orang itu menoleh. Ia memandang Boruto dengan wajah yang merasa terganggu.
"Kau ya." Seru orang itu tak tertarik.
Boruto menyunggingkan seringainya. Orang itu berjalan, diikuti Boruto disampingnya. "Ada yang ingin kutanyakan padamu." Kata Boruto tidak yakin. Orang itu menoleh kearahnya dengan wajah datar.
"Ah, sebelum itu. Siapa namamu?" Tanya Boruto basa-basi. Orang disebelahnya mendengus, "Heh. Aku hanya tertarik pada orang yang kuat."
Boruto meniup poninya singkat, Ia tersenyum miring, "Yah. Kurasa begitu." Orang disebelahnya tersenyum kecil. Iris Onyxnya bersembunyi dibalik kelopak matanya. "Sasuke. Uchiha Sasuke."
Deg!
Boruto terhenyak. Ia menoleh kearah Sasuke tanpa berkedip. "Sasuke?"
Ya tuhan. Orang ini adalah Shishounya di masa depan. Kenapa ia tidak menyadarinya? Demi apapun itu, Uchiha Sasuke dimasa lalu ada didepannya. Sasuke pada masa ini terlihat berbeda dengan rupanya dimasa depan. Harus Boruto akui, Wajah Sasuke memang tampan. Dan juga terlihat sangat kuat. Argh! Ia ingin berfoto dengan Sasuke sekarang andai saja pada Zaman ini kamera digital sudah ditemukan.
.
Sebersit perkataan ayahnya di masa depan terlintas di ingatannya. Ia ingat, Sewaktu ia mengajak teman-temannya kerumah dulu, Naruto berkata bahwa Sarada begitu mirip dengan Sasuke dimasa lalu.
Dan benar saja. Kali ini, Boruto mengiyakan perkataan ayahnya. Sasuke saat Genin bagaikan Sarada versi Laki-laki. Inilah keajaiban genetika yang paling diakui Boruto.
"Apa maumu?" Tanya Sasuke setelah sekian lama Boruto terpaku ditempat.
Boruto mengerjap. Ia berusaha kembali menjaga sikapnya didepan Sasuke. "Baiklah, Umm. Begini, Apa kau tahu dimana kediaman Hyuuga?" Tanya Boruto sambil menggaruk kepalanya gugup. Sasuke mengernyit, "Untuk apa kau kesana?" Sasuke balik bertanya, heran -tentu saja.
Boruto mendengus, "Bukan urusanmu, Sasuke."
Sasuke diam. Ia memalingkan wajahnya. Uchiha itu berdecih, "Cih, Ikut aku."
Boruto tersenyum simpul. Ia berlari mengikuti langkah Sasuke.
.
"Disini."
Sasuke menghentikan langkahnya. Boruto berpaling menatap kompleksHyuuga yang ada didepannya. "Hebat. Bangunannya masih terlihat Kuno sekali." Seru Boruto tak sadar. Sasuke mengernyit, Boruto yang sadar akan tatapan Sasukepun lantas memamerkan senyum lebarnya. Kemudian Boruto mengintip kedalam, Orang-orang Hyuuga berlalu lalang disana. Sial, Ini akan menyulitkannya.
Boruto menyiapkan ancang-ancangnya, "Aku akan masuk. Sasuke, Kau ikut?" Tawar Boruto tanpa menoleh kearah Sasuke.
"Tidak." Balas Sasuke dingin. Boruto tersenyum meremehkan, "Pengecut."
Sepersekian detik, Boruto melompat cepat. Meninggalkan Sasuke disana seorang diri. Uchiha Sasuke menggeram, "Sialan."
-Dan detik selanjutnya, Sasuke melompat, mengikuti Boruto -tentu saja.
.
Boruto dan si Uchiha bungsu bersembunyi dibalik semak. Boruto menyamarkan chakranya. Jaga-jaga seorang Hyuuga menyadari keberadaan dirinya dan Sasuke.
"Dimana rumah Hyuuga Hinata?" Tanya Boruto dengan suara sepelan mungkin. Sasuke menatapnya heran. Uchiha itu lantas balik bertanya, "Urusan dengan gadis Hyuuga, eh?"
Sang Uzumaki sulung itu mengangguk singkat. Sasuke yang tak berminat mencampuri urusan bocah yang mirip sahabatnya itu kemudian memberikan isyarat dengan tangannya. Boruto mengerti, Manik Shappirenya bergerak liar. Mengawasi keadaan.
Uzumaki Boruto mengangguk, "Aman. Ayo bergerak."
Syut! Syut!
Keduanya melompat cepat. Sesekali kembali bersembunyi. Bagaimanapun Boruto tahu, Hyuuga tak akan semudah itu membiarkan orang lain masuk kedalam kawasannya. Karena hingga pada masanya pun peraturan itu tidak berubah.
.
"Apa gadis yang kau maksud itu adalah putri Hyuuga Hiashi?" Tanya Sasuke. Boruto mengangguk mengiyakan. Sasuke mengedarkan pandangannya. Ia memerhatikan sekelilingnya, "Lewat sini."
Sasuke berlari, Diikuti Boruto dibelakangnya. Kedua bocah itu mendarat disalah satu pohon. Merendahkan tubuhnya agar terhalangi daun. Boruto menajamkan matanya. Mencari sosok yang ingin ia temui.
"Apa dia orangnya?" Sasuke menujuk seseorang. Dengan cepat, Boruto otomatis memfokuskan pandangannya kearah yang ditunjuk Uchiha Sasuke. Iris Boruto melebar tak percaya. Uzumaki pirang itu menganga lebar. Sosok itu adalah-
.
"Hanabi-baachan?!" Sasuke terkesiap. Dengan cepat ia menyumpal mulut Boruto dengan tangannya. Sasuke berbisik kesal, "Pelankan suaramu, Idiot."
Gadis kecil yang tengah berlatih itu menoleh. Ia mendengar suara asing yang menyebut namanya. Alisnya berkerut. Tak buang waktu, Hanabi mengaktifkan Byakugannya.
"Sial." Sasuke berusaha pergi. Menarik Boruto bersamanya. Namun-
"Jangan kabur. Keluarlah!" Suara Hanabi menghalanginya. Sasuke menoleh kearah Boruto. Boruto tersenyum kikuk, kemudian mengangguk. Sasuke mendengus.
Kedua Shinobi itu akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Mendarat tepat didepan Hanabi. Hanabi menon-aktifkan Byakugan miliknya dan mengibaskan rambutnya kebelakang.
"Kalian..."
Boruto tak mampu melepaskan pandangannya dari Hanabi. Bibinya di masa depan itu begitu imut. Ah, tidak. Sangat imut! Tidak heran bibinya dimasa depan nanti tumbuh menjadi gadis yang cantik.
"Uzumaki Naruto dan Uchiha Sasuke. Ada apa kalian kemari?" Tanya Hyuuga Hanabi bingung. Gadis itu menyeka keringatnya.
Sasuke menatap gadis kecil itu datar. Ia enggan menjawab. Toh, ia disini untuk menemani Boruto. Boruto menggaruk pipinya yang memerah, "Err... Kau Hanabi?" Tanya Boruto agak kaku.
Hanabi mengeryit, "Bagaimana kau tahu namaku, Uzumaki Naruto?"
Boruto tidak menjawab, Ia memilih untuk menjongkokkan tubuhnya agar sejajar dengan Hyuuga bungsu itu. "Boleh kutahu dimana Kakakmu?" Tanya Boruto sembari menyunggingkan senyumnya.
Hanabi mundur selangkah. Aneh baginya seorang Uzumaki Naruto menanyakan kakaknya. Hanabi menatap Boruto dan Sasuke bergantian. Memandang keduanya curiga. "Dia sedang menjalankan misi. Kenapa kalian mencarinya?" Jawab Hanabi tanpa melepaskan pandangan curiganya.
Boruto tidak menjawab, Ia bangkit dan mendengus sebal. Gagal sudah. Padahal ia ingin sekali bertemu dengan ibunya di masa lalu.
Boruto kembali menatap gadis kecil didepannya, "Tidak apa-apa. Kami pergi dulu. Ayo, Sasuke!" Kedua Shinobi dengan klan yang berbeda itu tanpa basa-basi menghilang dalam sekejap mata. Meninggalkan Hanabi yang tengah keheranan.
Boruto mendudukan tubuhnya di ayunan. Ia menghela napas. Uchiha Sasuke yang sedaritadi bersamanya hanya diam didepannya dengan tangan yang dimasukan kedalam saku celana. Hari sudah mulai dilelapkan senja.
Langit yang awalnya berwarna biru berubah menjadi jingga.
Sasuke berbalik, Ia melirik Boruto dengan ekor matanya, "Aku pulang." Boruto tak menjawab. Ia memalingkan wajahnya, "Arigatou sudah menolongku." Ujar Boruto menyerupai bisikan.
"Hn."Dan dalam sekejap. Sosok Uchiha itupun menghilang.
.
.
Hening. Boruto hanya diam dengan wajah tertunduk. Ia menyenderkan kepalanya ketali ayunan. Tubuhnya sudah lelah. Dan ia lapar. Ah, benar. Seharian ini ia hanya memakan roti panggang yang ibunya buat untuk sarapan. Selain itu, hari ini sudah banyak hal buruk yang terjadi padanya, Mana mungkin ia sempat memikirkan waktu makan?
Boruto menyentuh perutnya yang meronta-ronta untuk diisi. Kemana ia harus pulang untuk saat ini? Dirinya hanya sendiri sekarang. Ia harus bisa melalui ini seorang diri. Tak ada siapapun. Ia meremas perutnya. Ayolah, Boruto adalah putra Hokage ketujuh, Mana mungkin hal seperti ini membuatnya menyerah.
Uzumaki Boruto menegadahkan wajahnya kelangit. Senja telah ditelan malam. Pantas udara dingin mulai menusuk tulang. Pikiran bocah itu melayang.
Pada saat seperti ini, Biasanya ibunya tengah menyiapkan makan malam. Dan dirinya bersama sang adik tengah menonton TV diruang tamu.
Boruto terkekeh bergitu wajah sang ibu melintas diotaknya. Sekarang ia mengerti kenapa Ibunya selalu mewanti-wanti dirinya untuk tidak menyisakan makanan di piring. Seharusnya ia mendengarkan ibunya saat itu. Jadi beginikah yang namanya kelaparan?
.
"Kaa-san pasti mengkhawatirkanku karena belum pulang." Gumam Boruto. Angin malam membelai wajahnya mesra.
'Aku lebih baik sebatang kara daripada mempunyai ayah sepertimu!'
Baiklah, ia yang mengatakan hal itu pada ayahnya tempo hari, Namun sekarang ia tarik kata-katanya saat itu. Sendirian bukan hal yang menyenangkan. Ini kali pertama Boruto merasakannya.
Uzumaki Boruto menggeram. Tempat ini bukanlah tempat dimana seharusnya ia berada. Seharusnya sekarang ia berada dirumah bersama dengan Ibu dan adiknya.
Menikmati makan malam bertiga dengan tenang. Ya, Bertiga. Karena sang kepala keluarga terlalu sibuk bahkan untuk meluangkan waktu makan malamnya bersama keluarganya.
.
Boruto berdecih. Kalau saja saat itu ia tidak kabur dari ayahnya, kejadian seperti ini pasti tidak akan menimpanya. Andai saja ia tidak nakal. Andai saja ia tidak mengganggu pekerjaan ayahnya.
Andai saja... Ayahnya tidak menjadi seorang Hokage.
.
Ia ingin pulang. Ia ingin berkumpul dengan keluarganya.
"Kaa-san.."
Tes~
.
Boruto menegadahkan wajahnya. Hujan?
Ah, tidak. Dirinya menangis. Boruto menyentuh pipinya yang basah. Boruto meringis.
"Kaa-san.. Aku merindukanmu. Aku ingin pulang." Gumamnya lirih. Ia mengusap air matanya kasar.
Namun ternyata tidak berhasil. Hal itu malah membuat air matanya semakin deras mengalir.
Boruto menangis dalam diam. Seperti yang biasa ia lakukan ketika melihat ibunya terbaring disofa menunggu ayahnya pulang atau ketika ayahnya tidak datang ke perayaan ulang tahun dirinya atau bahkan Himawari.
Boruto mengeratkan pegangannya pada tali ayunan. Berusaha sekeras tenaga agar isakan tidak keluar dari bibirnya.
"Aku ingin melihatmu, Kaa-san. Aku akan melakukan apapun asal aku bisa bertemu denganmu. Aku tidak akan mengganggu Tou-chan lagi. Aku akan mendengarkanmu. Aku akan jadi anak baik. Dan aku tidak akan lagi menyisakan makanan dipiringku. Apapun itu asal aku bisa bertemu denganmu."
Boruto menundukan wajahnya. Membiarkan lelehan air mata mengalir dipipinya.
.
Set~
.
Boruto mengangkat wajahnya sedikit. Takoyaki?
Bocah itu mengerjap. Bagaimana bisa ada Takoyaki didepannya?
"Makanlah. Aku tahu kau lapar."
Suara itu. Boruto mengangkat wajahnya. Irisnya membulat. Orang itu-
"Tou-chan?" Gumam Boruto tak sadar. Uzumaki Naruto mengernyitkan alisnya, "Siapa?"
Boruto mengerjap. Ah, Apa yang dikatakannya tadi? Sang Uzumaki sulung itupun menegakan tubuhnya. Balik menatap Uzumaki Naruto dengan wajah tanpa ekspresi.
Naruto membuang wajahnya, Masih menyodorkan Takoyaki kepada Boruto. Bibir Jinchuriki Kyuubi itu berkerucut, "Jangan menangis. Seorang Shinobi tidak boleh menampakan emosinya disaat apapun." Seru Naruto tanpa menatap wajah Boruto.
Boruto terhenyak. Ia menghapus air matanya kasar. "Kenapa kau disini?"
Uzumaki Naruto tidak menjawab. Ia malah mendudukan tubuhnya pada ayunan lain disebelah Boruto. Tangan Tan milik Naruto memindahkan Takoyaki ditangannya ke pangkuan bocah yang mengaku bernama Boruto itu. Boruto masih tetap menatapnya datar.
.
Padahal di masa depan, Ketika ia membutuhkan ayahnya, Naruto tak pernah datang. Tapi kenapa sekarang ayahnya datang ketika Boruto tak menginginkannya? Hey, Padahal tadi ia mengharapkan ibunyalah yang datang.
Naruto menunduk. Ia mengayunkan ayunanya dengan kakinya pelan. Hening menyelimuti keduanya. Tak ada satupun dari kedua Uzumaki itu yang berbicara.
Boruto mengalihkan pandangannya kearah Takoyaki yang dibawa Ayahnya. "Memangnya.."
Uzumaki Boruto memalingkan wajahnya cepat, Menatap ayahnya yang masih menunduk.
.
Masih menunduk, Naruto mengeratkan pegangannya pada tali ayunan. "..Memangnya.. Ibumu seperti apa?"
Boruto mengatupkan bibirnya. Sesaat wajahnya berubah sendu. Pandangan Boruto beralih kearah Takoyakinya lagi.
"Kaa-san, Orang yang lembut dan penyayang" Jawab Boruto lirih. Naruto menoleh kearah bocah disampingnya. Ini kali pertama Boruto mau bercerita mengenai dirinya. Naruto masih menunggu Boruto melanjutkan perkataannya. "Kaa-san adalah orang yang paling sabar yang pernah kutemui. Ah, bahkan sangat sabar kalau itu bersangkutan dengan Tou-chan." Lanjut Boruto.
.
Boruto menggaruk belakang kepalanya geli, "Ya, Meski dia tidak secerewet Tou-chan, Tapi ia juga sering menceramahiku ini itu. Aku yakin ia melakukannya karena ia sangat menyayangiku dan Himawari."
"Himawari?" Tukas Naruto. Boruto menoleh kearah ayahnya sembari tersenyum lebar, "Ya. Dia adik perempuanku."
Naruto mengangguk, ia berseru senang, "Aku juga ingin memiliki adik perempuan kalau aku bisa meminta." Boruto meringis. Ah, Pembahasan yang salah. Rasanya tidak menyenangkan melihat ayahnya sekarang ini berusaha menyembunyikan wajah sedihnya.
Boruto mencomot satu Takoyaki dipangkuannya. Pura-pura tak mendengar perkataan sang ayah. Hening kembali menyelimuti keduanya. Naruto sibuk dengan pikirannya, sedang Boruto sibuk dengan Takoyaki yang kini tengah ia lahap.
"Kemana kau akan pulang sekarang?" Naruto kembali bertanya. Boruto menghentikan kunyahannya. Ia balas menatap sang ayah. Boruto mengedikan bahunya, "Entahlah. Lagipula aku juga tidak punya uang untuk menyewa apartemen."
Naruto tersenyum kecil. Perasaan senang mengerubungi tubuhnya. Entah kenapa ia agak senang mengetahui ada anak yang sama kesepiannya dengannya.
Naruto bangkit, melangkah tanpa mengeluarkan suara. Boruto menatap lekat pergerakan ayahnya. Heran.
"Kau bisa tinggal diapartemenku kalau kau mau."
.
Uzumaki muda itu nyaris tersedak. Ia cepat-cepat menelan sisa Takoyaki dimulutnya. "Apa?" Tanya Boruto tak percaya. Naruto membalikan tubuhnya, Menatap Boruto dengan senyuman yang terkembang dibibirnya, "Kau bisa ikut aku, Boruto."
.
Boruto melebarkan matamya. Ia terpaku sesaat. Ia ingin menangis, tapi gengsi melarangnya. Hingga, Boruto mewakilkan seluruh ucapan syukur dan perasaan bahagianya dengan seulas senyum lebar.
"Yo!"
.
.
=To Be Contineud=
A/N: Hai, Hai! Kembali lagi dengan Bieber! Udah liat SasuSaku –ah, Naruto Gaiden? Uwaahhhh! Keren bangettt XD Bieber sebelum update ini fic wajibb baca Naruto gaiden dulu XD #Apaan
Mohon maaf untuk kesalahan penulisan di chapter kemarin X'''D Itu emang Bieber yang salah nulis. Harusnya Uzumaki Naruto malah ditulis Uzumaki Boruto. Ah Maaf banget -_- Salah Bieber juga sih yg gak edit dulu sebelum di publish X'''D Arigatou untuk perhatian kalian semua! Kalian jeli sekali X''D
Bagaimana chapter kali ini? Semakin gaje? Whuahaha(?) Apa Sasuke nya OOC? Aih, Karakter Sasuke memang paling susah Gomen, kalau banyak yang OOC. Bieber usahakan IC ^ ^
Nah! Di Chapter ini, Boruto sudah bertemu Ino-Shika-Cho, lalu mulai deket sama Sasuke, dan udah ketemu Hanabi ^ ^
Kalau untuk bertemu Hinata, Umm... Chapter depan kayanya Hinata muncul :D
Oke, Bieber bakal bales pertanyaan kalian nih ^ ^
Q: Apa nanti boruto akan di cari ma ke dua orgtuanya ke masa lalu
A: Sepertinya nggak ^ ^
Q: Boruto kok kasar ya?
A: Dia memang kasar sama songong kok XD/heh
Q: kira" seperti apa reaksi dari Naruto saat mengetahui Boruto adalah anaknya?
A: Hmm, Bieber belum kepikiran reaksi Naruto gimana X''D
Q: Meskipun masih anak kecil, itu tetep bapaknya. Napa bilang keparat?
A: Sifat Boruto menurut Bieber memang songong :') Maafkan anakku ya :'3 #dijuuken#
Q: Apa nanti danzo akan mengawasi boruto.?
A: Rahasia XD/hoy
Q: Apa nanti Boruto akan bertemu Hinata muda?
A: Pasti ketemu ^ ^
Q: Apa akan ada naru dari masa depan untuk menjemput baruto?
A: Nggak :D
Q: Apa Naruhina tau kalau boruto anaknya di masa depan?
A: Untuk sekarang masih belum tuh ^ ^
Q: apakah Boruto mengalami petualangannya sendirian?
A: Boruto sendirian kok *ketawa jahat*/heh
Q: apa tujuan boru kembali ke masa lalu?
A: Nanti di chapter terakhir dikasih tau deh XD
Q: Apa boruto nanti masuk juga ke tim 7?
A: Nggak. Dia Cuma ngekor doang sama tim 7 ^ ^
Q: kapan naruto nya bisa tau kalau boruto anaknya?
A: Di chapter-chapter terakhir mungkin ^ ^
Q: Kalau hinata nnti bisa peka ga kalau boruto itu anaknya?
A: Nggak. Pokoknya tunggu saatnya XD
Segitu yang bisa Bieber jawab ^ ^ Arigatou untuk review/fav/follow-nya ^ ^
Oh, hanya mengingatkan. Bieber Update setiap hari Senin/Kamis ^ ^ Antara dua hari itu, tapi bisa juga update kilat XD
Mohon maaf jika banyak cacat sana sini ( TwT)7 Yosh,
Akhir kata,
Mind To Review?
