Boruto's Time Adventure
.
Naruto © Masashi Kishimoto
~This story is Mine~
Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll
.
~Don't like Don't read~
Happy Reading, Minna-san
.
"Hoaaammmm~~~"
"Akhirnya kau bangun. Kau tidur seperti Babi-ttebasa."
.
Masih dengan memeluk gulingnya, Naruto mengedipkan matanya yang masih setengah mengantuk. Air liur yang merembes dari mulutnya meninggalkan jejak di guling yang kini tengah ia peluk. Naruto menggaruk kepalanya malas, "Sakura-chan?"
-DUAK! "Jangan mengigau! Cepat bangun dan bantu aku-ttebasa!"
.
Naruto mengaduh histeris. Bocah itu bahkan sampai terjatuh dari ranjangnya. Ya, Jelas saja. Karena Uzumaki Boruto memukul kepala kuning bocah itu dengan katel yang tengah ia cuci. Naruto masih mengaduh dilantai sana, air mata menggantung lucu di sudut matanya. Menahan sakit.
"Aa.. Sakitt! Kau ini kasar sekali! Tahan tenagamu ketika kau memukul teman sebayamu! Ugh! Aku akan menuntutmu kalau-kalau kepintaran otakku jadi dangkal dan membuatku bodoh." Cerocos Naruto. Uzumaki Naruto bangkit, ia mengusap kepalanya yang benjol. Boruto mendengus, "Kau memang sudah bodoh. Berterima kasihlah. Siapa tahu pukulanku tadi bisa sedikit mempercerdas otakmu!"
"Apa kau bilang?!" Naruto mengepalkan tangannya dramatis. Jinchuriki Kyuubi itupun menatap Boruto dengan pandangan sebal. "Lagipula apa yang sedang kau lakukan?"
Boruto berdecak sebal. Uzumaki sulung itu berkacak pinggang, alisnya menukik tajam, "'Sedang apa' kau bilang? Tentu saja membersihkan apartemenmu yang seperti lubang tikus ini. Astaga. Aku bahkan tidak bisa tidur semalam karena semua sampah yang menumpuk ini." Boruto menunjuk-nunjuk sampah yang berserakan dilantai emosi. Naruto mengusap air liurnya yang merembes disudut bibirnya. Masih diam sembari sesekali memperhatikan setiap pergerakan Boruto yang mondar-mandir membersihkan apartemennya.
.
'Benar-benar mirip Himawari. Astaga. Tepat seperti apa yang dibilang Kaa-san, Dasar pemalas.'
Uzumaki Boruto meruntuk didalam hatinya. Yang benar saja, bagaimana bisa ayahnya tinggal ditempat yang mirip tempat sampah ini? Sampah dimana-mana, Pakaian kotor yang menumpuk disudut ruangan, susu basi yang belum dibuang, dan cup ramen yang berserakan dimeja makan. Kali pertama Boruto menginjakan kakinya disini, Ia tentu saja kehilangan katanya. Pada awalnya ia enggan masuk, Namun ketika melihat ekspresi bahagia yang ditunjukan ayahnya membuat Boruto tidak tega. Dan dengan terpaksa, Boruto bersedia untuk tinggal dan melewati malamnya disana.
.
Berterima kasihlah kepada ibunya yang selalu mendidik Uzumaki Boruto menjadi anak baik yang cinta akan kebersihan. Jelas saja, Dulu ketika ibunya mengandung Himawari, Boruto-lah yang membantu pekerjaan rumah ibunya -meskipun sedikit banyak Ia dibantu Hanabi. Dan disaat seperti itupun sang ayah tidak ada. Ia masih disibukkan dengan urusan misi sebagai seorang shinobi.
Naruto selalu mengatakan pada semua orang bahwa Boruto adalah putranya. Namun, Boruto tak merasa demikian. Uzumaki muda itu tumbuh tanpa figur seorang ayah meski secara teknis ayahnya ada. Yak! Boruto sendiri bahkan sudah lupa kapan terakhir kali keluarga kecilnya berkumpul untuk makan malam bersama. Dan tentu saja, lagi-lagi ini disebabkan oleh Jabatan Hokage yang merebut paksa Ayahnya. Mengharuskan dirinya berbagi kasih sayang sang ayah dengan warga desa.
.
Boruto menggelengkan kepalanya. Baiklah, Ia melamun lagi. Boruto melirik ayahnya kesal, "Heh kau! Sampai kapan kau mau terus-terusan memeluk guling sambil menatapku dengan pandangan tidak bergunamu itu? Kalau memang kau punya hati dan otak, kuharap kau keluar dari futonmu dan bantu aku membereskan semua sampah ini."
Naruto memberengut, "Berhentilah merecokiku, Boruto."
Tak peduli, Uzumaki Boruto kembali memfokuskan dirinya pada pekerjaan yang tengah digeluti saat ini. Menyapu lantai.
Naruto menguap lebar, mengucek-ucek matanya sebentar, "Tidak kusangka kau berbakat dalam pekerjaan perempuan seperti ini."
Boruto merasa itu adalah sebuah sindiran yang menohoknya. Kakak dari Uzumaki Himawari itu menggemeretukan giginya. Bayangan Uzumaki Naruto yang tengah ia hajar begitu menggiurkan dipikirannya, Namun bocah itu masih berusaha mengendalikan dirinya, "Kau pikir pekerjaan seperti ini gampang? Ibuku bilang pekerjaan rumah tangga itu sama saja dengan sebuah pertarungan-ttebasa."
Naruto mengacak rambut pirangnya, "Oh ya?" jawabnya tak tertarik.
Boruto kembali menyapu lantai, kali ini lebih cepat, membuat debu-debu dilantai sedikit berterbangan.
"Hah. Untung saja ibuku mengajariku untuk tahu diri dan membuat diriku berguna. Tidak hanya malas-malasan ditempat tidur dengan wajah memuakan." Kata Boruto tanpa menghentikan gerakannya. Sebelah alis Naruto terangkat, Bocah itu menyindirnya?
.
"Dan lagi, Ibuku juga-" "-Apa kau selalu seperti ini?" sela Naruto. Boruto menatap ayahnya dengan alis yang saling bertaut heran. "Hah?"
Naruto mendudukan tubuhnya diranjang. Topi kataknya sedikit miring ketika pemuda itu meregangkan tubuhnya. "Yah, Mengaitkan segala hal kepada ibumu. Ibu. Ibu. Ibu. Hanya itu yang sedari kemarin kudengar dari mulutmu. Tsk, Aku bahkan sempat mendengar kau mengigau soal ibumu semalam. Shinobi macam apa kau ini? Mommy's boy."
Pipi Boruto memanas dengan Iris yang melebar. Sedetik kemudian, ekspresi marah bercampur malu ditampilkannya. "Apa katamu?" desis Boruto. Naruto menyipitkan matanya, Memasang wajah yang ketara menjengkelkan bagi Boruto.
"Ha? Kau tersinggung? Ingin menangis lagi seperti kemarin? Menangis dan mengadulah pada ibumu-ttebayo." Ejek Naruto semakin antusias melancarkan serangannya. Kemudian tawanya meledak.
.
'Cukup!'
Dengan langkah berat, Boruto mendekati ayahnya. Aura hitam pekat menguar dari tubuh Boruto. Genggaman Boruto di sapunya semakin mengerat.
Mata sebiru batu Shappire milik Boruto berkilat marah. Naruto yang masih tertawa sembari memeluk perutnya yang terasa sakit masih juga belum menyadari aura membunuh Boruto yang ditujukan padanya.
"Matilah." Naruto menghentikan tawanya, ia mengusap air mata yang menggantung disudut matanya. Naruto mengangkat wajah, "Eh?"
Boruto mengacungkan sapunya, Manik birunya menggelap kesal, "Mati kau, Uzumaki Narutooo!"
.
"H-Ha, Uuwwwwaaaaaaa!"
.
.
"Selamat Pagi, Naruto." Sapa Kakashi dengan senyum biasanya. Kakashi memiringkan tubuhnya. "..Dan tentu saja, kau juga Boruto." Sambung Kakashi.
Naruto mendengus, Ia berjalan mendekati rekan timnya dengan langkah lebar. Boruto sendiri lebih memilih untuk tak peduli dan masih melangkah santai dengan dagu yang sedikit dinaikannya.
Kakashi tersenyum heran dibalik maskernya. Sepertinya Naruto dan Boruto masih belum bisa akrab. Padahal Kakashi sengaja menugaskan Naruto untuk menemani anak masa depannya agar hubungan antara kedua Uzumaki itu membaik. Yah, Seingatnya, Dengan Naruto-lah Boruto selalu memberontak dan sulit dikendalikan.
Jangan berpikir Hatake Kakashi tidak tahu apapun. Boruto kini berada dibawah pengawasannya. Tentu saja ia tahu hal-hal apa saja yang dilakukan Boruto kemarin. Dari mulai bertemu Tim 10, Bertemu Sasuke, Menyelinap ke kediaman Hyuuga, hingga saat dimana Naruto menghampiri anak masa depannya ditaman Konoha semalam.
.
Awalnya ia sulit mempercayai ketika Boruto dengan mudahnya menarik minat Sasuke -Mengingat Uchiha itu hanya tertarik pada orang kuat- dan mulai berteman dengannya. Tapi sepertinya, Dengan orang seperti Sasuke-lah Boruto merasa cocok. Apa benar begitu?
Kakashi mengusap surai silvernya pelan. Sepertinya zaman semakin berubah.
"Naruto. Kau terlambat melebihi Kakashi-sensei. Kau tidak tahu kami menunggumu lebih dari dua jam? Astaga. Apa yang kau lakukan, Uzumaki Naruto?!" Omel Sakura sambil menunjuk-nunjuk wajah sang Jinchuriki. Boruto mengernyit, Menunjuk orang itu tidak sopan, Tapi sepertinya Sang ayah sendiri merasa tidak keberatan.
Naruto menyilangkan tangannya kebelakang kepala. "Gomen Sakura-chan. Tadi pagi orang menyebalkan itu menggangguku." Jawab Naruto sedikit melirik Boruto. Sakura menoleh kearah Boruto, Mengamatinya dengan pandangan yang membuat Boruto terganggu.
Menatap orang seperti itu juga tidak sopan. Batin Boruto malas. "Apa?" Kata Boruto sembari menatap Gadis pink itu risih. "Kau ini tidak hanya mirip dari segi wajah, Namun juga dari segi sifat, kau sangat mirip dengan Naruto."
.
"Kami tidak mirip."
"Kami tidak mirip."
Jawab kedua Uzumaki bersamaan. Keduanya saling pandang, kemudian membuang wajahnya kesal. Sakura mengerjap, gadis itu mundur selangkah, "O-Okay."
"Baiklah, Sudah cukup. Kita akan berlatih bersama hari ini. Dan meskipun sepertinya kalian sudah saling kenal, Aku minta kau memperkenalkan dirimu sekali lagi, Boruto." Lerai Kakashi seraya mengacak-acak rambut Boruto. Bocah bermarga campuran Uzumaki dan Hyuuga itupun melipat tangannya, menatap Tim 7 –dalam kasus ini sepertinya hanya pada Naruto- dengan tatapan malas. "Namaku Uzumaki Boruto-" "HAAA!" Potong Naruto histeris. Boruto berdecak, Tidak bisakah Naruto menahan protesnya sampai Boruto menyelesaikan perkataannya?
Naruto berdiri, "Kau bahkan meniru margaku!" Todong Naruto emosi. Boruto mendelik kearah ayahnya jengkel, "Apa kau bilang?! Kalau aku bisa memilih, Aku juga tidak mau memiliki marga yang sama sepertimu!"
Kakashi menggeleng pasrah. Akhirnya mengerti, Hubungan antara ayah dan anak itu sangat buruk. Bahkan sepertinya lebih buruk daripada hubungan antara Naruto dan Sasuke.
"Naruto. Biarkan Boruto menyelesaikan perkataannya."
Naruto kembali mengambil posisi duduk. Namun, gerutuan dari bibirnya masih belum berhenti. Boruto memutar bola matanya bosan. Ia memilih tidak peduli.
"Aku Uzumaki Boruto. Dua hari lalu aku menjadi genin. Impianku adalah menjadi shinobi yang mampu melampaui gelar kehormatan ayahku. Dan aku... Benci Hokage." "Heii!" Naruto kembali berdiri. Menggeram kesal dengan kepalan yang terangkat. Uzumaki Boruto mengangkat alisnya seolah menantang. "Apa?"
.
"Jangan seenaknya kau membenci Hokage! Secara tidak langsung kau menyindirku yang akan menjadi Hokage di masa depan! Boruto baka. Baaaka." balas Naruto tak terima. Bocah Kyuubi itu maju menghadap kearah Boruto. Berusaha sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menjitak kepala kuning milik Genin pirang itu.
Boruto berdecih, Ia berencana balik menghardik ayahnya. Namun, Tangan Hatake Kakashi menahan bahunya.
"Hentikan Boruto. Naruto. Aku tidak menyuruh kalian untuk bertengkar. Tolong hargai keberadaanku, Sakura, Maupun Sasuke disini." Seru Kakashi sambil tersenyum.
Kakashi mendorong Naruto kembali ketempat dimana seharusnya ia duduk. Sedang Boruto ia persilahkan untuk duduk disamping Uchiha Sasuke.
"Wah, Wah. Masih pagi kalian sudah bersemangat saja." Kakashi tertawa garing, Ia menjejalkan tangannya kedalam saku celananya. "Baiklah, Akan kujelaskan latihan kali ini. Kita akan berlatih berjalan dipohon dengan menggunakan Chakra."
Kakashi masih tersenyum, Ia menoleh kearah Boruto, "Boruto. Kau sudah menguasai bagaimana caranya bukan?"
Anggota Tim 7 lainnya ikut menatap Boruto dengan ekspresi tertarik. Boruto meniup poninya santai. Menyelonjorkan kakinya, "Hanya itu?" Balas Boruto. Kakashi mengangguk.
"Kuyakin kau sudah bisa. Bisa tolong kau perlihatkan caranya pada Tim 7?" Pinta Kakashi. Boruto mengusap dagunya, memberengut. Berjalan di pohon itu sangat mudah. Bisa dibilang seorang Shinobi wajib menguasai tekhnik ini.
Boruto mengangguk, "Baiklah." Uzumaki Muda itu bangkit dari posisinya. Menyunggingkan senyum miringnya dan mengambil ancang-ancang berlari. "Baiklah, Ini dia-ttebasa!"
.
Drap! Drap! Drap!
.
Boruto melesat cepat menaiki pohon didepannya. Surai kepirangan miliknya berkibar bersama angin. Jaket Hitamnya samar-samar mengeluarkan aroma khas dirinya. Putra Nanadaime itupun nenghentikan larinya kala dirinya sudah bergelantungan di batang pohon paling tinggi layaknya kelelawar.
Boruto tertawa senang, "Haha, Ini mudah-ttebasa!" Akunya.
Yah, Wajar saja. Selama ini Boruto selalu berusaha keras berlatih menjadi seorang ninja demi mengalahkan Ayahnya. Well, Dulu sekali ayahnya memang pernah melatihnya sedikit soal jutsu-jutsu mudah semisal melempar shuriken, bertarung dengan kunai, Bunshin no Jutsu, dan mengendalikan chakra. Oh, dan tentu saja berlari dipohon sangat mudah baginya. Darah Hyuuga dan Uzumaki mengalir di tubuhnya. Jangan sesekali remehkan dia!
"Ya, kurang lebih begitulah caranya." Kata Kakashi kalem. Anak dari muridku ternyata adalah Shinobi yang berbakat. Rasanya seperti melihat cucu. Batin Kakashi Bangga. Sakura berdecak kagum. Manik Emeraldnya bersinar-sinar kagum. "Hebat sekali." Boruto melompat turun. Dengan mulus berpijak ditanah dengan kedua kakinya. Uzumaki Boruto tersenyum lebar, "Yah. Kunci utamanya adalah pengendalian chakra. Pusatkan chakra kalian di telapak kaki dan berlarilah secepat angin." Jelas Boruto antusias.
Naruto mendengus, "Tukang pamer." Boruto menjulurkan lidahnya, mengejek. Uchiha Sasuke berdiri. Tersenyum tipis -Ah, Sangat tipis, sembari menatap Boruto. "Begitu rupanya." Gumam Sasuke.
Hatake Kakashi mengambil buku misterius berwarna orange dari kantung senjatanya. Membuka buku itu, namun pandangan sang sensei masih mengarah kepada anak didiknya.
"Kalian bisa menggunakan Kunai untuk menandai pada pijakan mana kalian jatuh. Setelahnya, Kuharap kalian bisa melampaui tanda batas yang kalian buat"
Naruto mengambil Kunainya cepat. Ia tersenyum semangat, "Yosh! Aku tidak akan kalah-ttebayo!" Kemudian menoleh kearah Sasuke. Kilatan listrik muncul ketika iris Shappire milik Naruto bertemu tatap dengan Onyx Sasuke. Aliran listrik persaingan menghubungkan manik keduanya.
Naruto membentuk segel dengan tangannya. memusatkan chakra dikakinya.
"Hhhyyaaaaaaaa"
Naruto berlari dengan cepat. Dan sedetik kemudian anggota tim 7 lainnya menyusul.
.
.
"U-Uwaaaaa!"
-Srek! BRUAK!
Naruto mengusap sudut bibirnya. Ternyata ini lebih sulit dari apa yang dipikirkannya. Ia memicingkan matanya, melihat goresan dipohon yang baru saja dibuatnya. Ia bahkan belum sampai setengahnya.
Uzumaki Naruto menoleh kesamping, Sasuke sudah berhasil mencapai setengah dari pohonnya. Sedangkah Sakura...
Naruto mengernyit, Dimana gadis merah jambu itu? Mengedarkan pandang, Naruto menoleh kesana kemari demi mencari sosok rekan setimnya. Dan-
"Su-Sugoi." Gumam Naruto tak percaya, Ia melebarkan maniknya. Ah, Haruno Sakura telah duduk-duduk santai diatas pohon sana bersama Boruto. Memandanginya dan Sasuke geli. Ah, Gadis Haruno itu memang memiliki kemampuan mengontrol Chakra yang hebat. Melebihi Sasuke dan dirinya. Jadi sudah wajar jika Haruno Sakura dapat secepat itu menguasai tehnik ini.
Naruto mendesah singkat. Ia kembali bangkit. Menyeka keringat, Senyuman secerah matahari bulan Juli kembali muncul diwajah sang Jinchuriki Kyuubi. "Yosh! Aku tidak akan menyerah-ttebayo!"
.
Boruto menyenderkan punggungnya. Menatap Ayahnya yang tengah berusaha naik keatas pohon dengan chakra. Padahal hal seperti ini mudah. Tapi kenapa ayahnya terlihat payah begitu? Benarkah dia adalah ayahnya? sang Hokage Ketujuh? Sama sekali tidak terlihat kuat.
"Hey, Boruto." Panggil Sakura. Boruto menoleh, Menatap gadis dengan jidat luar biasa lebarnya dengan wajah tertekuk. "Apa?" Sahutnya malas.
Sakura memberengut, Ia beringsut mendekati Boruto. Boruto yang menyadarinya perlahan menjauhi gadis pink itu risih. "Apa, kubilang?" Ulangnya sekali lagi.
Sakura menunjuk hidung Boruto, Bibir gadis itu mengulas senyuman aneh, "Kau ini saudara jauh Naruto 'kan?" Tanya Sakura akhirnya. Boruto mendelik sebal. Kenapa setiap orang menanyainya begitu?
"Tidak. Yang benar saja." Balas Boruto setengah mendengus. Boruto menepis telunjuk Sakura didepannya. Kembali mengamati Naruto yang tengah bersusah payah naik keatas. "Kau tidak bohong, bukan?" Selidik sang Gadis. Boruto memutar shappirenya, "Apa untungnya aku bohong padamu -Umm.. Siapa namamu tadi?"
Haruno Sakura mengembungkan pipinya, Menyilangkan tangannya didepan dada. "Keterlaluan. Namaku, Sakura."
Boruto mengusap keningnya. Benar, sedari kemarin ia merasa tidak asing dengan nama itu. Dan lagi surai pinknya yang begitu mencolok. Boruto menggaruk kepalanya, Menatap Sakura penasaran. "Apa jidat lebarmu itu sudah merupakan ciri khas keluargamu?"
Twich~ Pertanyaan salah, Boruto.
.
"Shannaroo!" -DUESH!
Boruto terlempar sebelum bocah itu menyadari keadaannya. Anak dengan surai mirip daun itu jatuh dari atas pohon yang lumayan tinggi dengan tidak nyaman. Mencium tanah dengan kerasnya.
Bunyi bedebum keras mengambil atensi Naruto, Sasuke dan Kakashi sekaligus. Ketiganya kaget, dan dengan cepat berlari mendekati asal bunyi bedebam itu. "Ada apa ini?" Tanya Kakashi begitu dirinya menatap Boruto yang terkapar mengenaskan ditanah dengan ekspresi heran. Naruto yang panik cepat-cepat menolong Bocah Uzumaki yang mirip dengannya untuk bangkit. "K-Kau kenapa? Apa yang terjadi?" Tanya Naruto cemas.
Boruto meringis sakit. Memicingkan matanya keatas, kearah Sakura kesal. "Wanita kasar itu memukulku tiba-tiba. Dasar monster." Umpat Boruto agak keras. Sakura melompat turun. Urat-urat didahi lebarnya terlihat menegang. Naruto bergidik ngeri melihat kepalan sang Gadis.
"Dia seenaknya meledekku! Sebagai seorang perempuan, tentu saja aku tidak terima! Shannaro!" Bentak Sakura emosi.
Boruto mengerjap. Ah, tunggu sebentar. Apa katanya? Shannaro?
Mirip dengan si Kacamata Uchiha.
Ting!
Boruto membelalakan matanya. "HA! Benar dugaanku! Kau... Kau Uchiha Sakura!"
.
Kyun~
Ekspresi di wajah Sakura langsung berubah. Pipinya mendadak merona. Tersipu malu khas anak perempuan.
Bagai ditimpa batu karang, Sasuke dan Naruto langsung membatu. Dan, Hey! Uchiha Sasuke-pun ikut merona.
Seolah tersadar, Sasuke maju dan mencengkram kerah jaket milik Boruto kasar. "Jangan seenaknya menyebut nama Uchiha!" Hardik Sasuke tak terima. Namun sepertinya rona merah dipipi sang Uchiha muda itu enggan hilang. Tak mau kalah, Naruto ikut mencengkram kerah Boruto, "Jangan main-main kau ya! Sakura-chan bukan Uchiha! Bukan! Bukaaann!" Tambah Naruto dramatis.
.
Kakashi menggeleng pasrah. Mirip seperti Naruto, Bicara tanpa berpikir terlebih dahulu. Manik gelap Kakashi menatap rekan timnya lesu. Sepertinya hari inipun Kakashi tidak bisa menyelesaikan bacaan Icha-icha paradise miliknya.
.
.
Matahari mulai bersembunyi dibumi bagian barat. Dengan anggunnya jingga mendominasi langit. Burung-burung terbang pulang kesarangnya. Membuat suasana sore di Konohagakure ini terasa semakin damai.
Boruto berjalan lunglai disamping Hatake Kakashi. Didepannya, Uzumaki Naruto masih sibuk berkutat dengan perlengkapan ninjanya yang berantakan. Kejadian tadi siang benar-benar menguras seluruh tenaganya. Awalnya ia hanya keceplosan dan tidak menyangka reaksi Sasuke dan Naruto akan seperti itu. Dan berakhirlah dengan pertempuran kecil yang sudah tidak bisa lagi disebut pertengkaran antar genin. Ck, Sasuke dan Naruto menyerangnya secara bersamaan. Saling melempar Kunai dan shuriken sampai-sampai Boruto sendiri harus kehilangan banyak Shuriken andai saja Hatake Kakashi dan Haruno Sakura tidak memisahkan ketiganya.
.
Boruto menghela napasnya. Sepertinya kehadirannya disini tidak disukai banyak orang, termasuk Ayahnya. Sekarang ia benar-benar ingin pulang.
Kakashi menepuk pundak Boruto pelan. Boruto menegadahkan kepalanya. "Apa yang kau pikirkan?"
Uzumaki Boruto menggeleng. Ia memasukan tangannya kebalik saku celana. Berjalan lesu dengan wajah tertekuk. Didengarnya tawa ringan Kakashi, Boruto semakin memberengut.
"Jangan pikirkan soal hal tadi. Aku yakin Sasuke menyerangmu karena ia ingin menutupi rasa malunya, dan Naruto.." Kakashi tidak melanjutkan. Boruto mengernyit bingung. "Kenapa dengannya?" Tanya Boruto penasaran.
Kakashi mengusap dagunya. Menimbang-nimbang benar atau tidak perkataannya nanti. Salah-salah, Boruto bisa kembali memberontak. Kakashi berdehem, "Sebelum kukatakan, Boleh kutahu siapa nama ibumu?"
Sebelah alis Boruto terangkat, Tanda ia semakin tidak mengerti. "Sebelumnya kau berkata aku tidak boleh membahas soal Masa depan lagi." Timpal Boruto penuh selidik. Mata Shappirenya menyipit lucu. Kakashi tersenyum simpul, Kemudian membalas, "Yah, Aku tidak mau kau tersakiti kalau aku mengatakannya. Kau bisa saja mengamuk jika ternyata ibumu itu orang lain." Uzumaki Boruto menampakan wajah curiganya. Kenapa ia harus mengamuk? Dan lagi-
"Apa maksudmu 'Orang lain'?"
.
"Woff! Woff!"
Anjing kecil yang tiba-tiba melintas didepannya membuat Boruto terlonjak kaget. Darimana datangnya anjing sialan ini?
"Ah, Akamaru." Naruto ikut berbalik, Berjongkok demi menatap Akamaru lebih dekat. "Akamaru?" Gumam Boruto tanpa sadar. Apanya yang Aka? Apa pemiliknya bodoh? Seharusnya si pemilik menamai anjingnya dengan Shiro. Menggelikan.
.
Naruto menoleh kekanan dan kekiri. Berdiri kembali dan memasang wajah heran. "Dimana Kiba? Bukankah seharusnya dia bersama denganmu, Akamaru?"
Anjing bernama Akamaru itu mendekatkan dirinya kearah Boruto. Mengusap-usapkan kepalanya kesandal Shinobi milik Boruto. Uzumaki sulung itu mengernyit. Ada apa dengan anjing ini?
"Hei, Dia menyukaimu, Boruto." Timbrung Kakashi. "Hah?"
.
"Kemana perginya?"
"Seharusnya kau menjaganya, Kiba."
"Ah, Dia pergi begitu saja tadi."
"Majikan yang buruk."
"Oy."
Boruto menoleh kearah pertigaan. Didengarnya suara dua anak laki-laki yang saling berseteru. Boruto menebak salah satu dari merekalah majikan anjing bernama Akamaru ini.
Selang beberapa detik, Akhirnya dua anak laki-laki muncul dari sisi kanan pertigaan. Dua pemuda yang terlihat aneh.
Deg!
Uzumaki Boruto terperangah. Dengan cepat ia meremas dadanya yang tiba-tiba bergemuruh. Apa yang terjadi?
.
"K-Kiba-kun, Shino-kun. Tunggu aku."
Deg!
Manik milik Boruto terbelalak lebar. Tubuhnya kaku. Seolah mati rasa.
Helaian indigo menyapa penglihatannya. Sosok bertubuh mungil dengan jaket berwarna putih gading itu seakan menghancurkan kinerja otaknya. Kesadaran miliknya sudah tak berfungsi. Napas Uzumaki pirang itu tercekat. Bibirnya bergetar, sama hebatnya dengan getaran ditangannya. Bergetar tanpa sepengetahuannya.
Hatake Kakashi menoleh kearah Boruto. Alismya bertaut kala bocah itu kembali bersikap tidak wajar. Ada apa dengan bocah itu? Kakashi bertanya-tanya.
"Boruto." Panggil Kakashi pelan. Tak ada reaksi. Gurat keheranan makin jelas terlihat diwajah pemuda Hatake itu. Naruto yang menyadari tingkah senseinya lantas menatapnya dengan pandangan 'ada apa?'.
Hatake Kakashi mengikuti arah pandang Boruto. Melonjak kecil, kembali menatap Boruto.
"Jangan bilang.."
Naruto melangkah mendekati Uzumaki Boruto, "Boruto?"
Boruto berjuang menyembunyikan air matanya. Tidak mau sang ayah mengatainya Mommy's boy lagi.
.
"C-Cantik."
Naruto mengernyit, Ditolehkan kepala pirangnya. Mendapati Tim 8 yang tengah berbincang di ujung pertigaan sana. "Siapa? Kiba? Shino? Atau Hinata?" Tanya Naruto bego.
Kakashi menyikut pundak muridnya pelan, "'Cantik' itu digunakan untuk memuji perempuan, Naruto." Kakashi membenarkan.
Mulut Jinchuriki Kyuubi itu membentuk huruf 'O'. Kembali mengalihkan pandangnya kearah Boruto, "Hinata, ya? Dia putri keluarga bangsawan Hyuuga dan -Hey!" Boruto mendorong Ayahnya kasar. Perlahan, Dirinya melangkah.
"K-Kaa-san.." Ucapnya lirih.
.
Boruto mempercepat irama langkahnya. Mengabaikan Akamaru yang menggonggong kepadanya. Langkahnya berubah makin cepat, Boruto berlari.
Tubuh Kakashi tersentak sekejap. "G-Gawat. Naruto! Tahan dia!" Tanpa menunggu perintah, Naruto mengejar Boruto. Merentangkan tangan. Mencegat bocah Uzumaki dengan baut dikalungnya. "Boruto. Berhenti!"
Boruto berdecih, "Cih, Jangan halangi aku."
Syut!
Boruto bersalto. Melewati Naruto dengan mudahnya. Kakashi berusaha menghadang, Ia terpaksa melancarkan tinjunya ke perut Boruto. Namun-
Boffhh!
Hatake Kakashi berujar Kaget, "Kagebunshin?!"
.
Tak ada yang bisa menahannya. Ah, Dia benar-benar sudah gila. Boruto tahu itu. Tapi masa bodoh, Ia bahkan tak peduli fakta pada bahwa saat ini tim 8 menoleh kearahnya dengan pandangan takut bercampur kaget.
"Kaa-san.." Suara Boruto bergetar. Ia rasakan air matanya mengalir, dan ia tak peduli.
Boruto mempercepat larinya. Ia mengangkat tangannya dengan perasaan menggebu-gebu.
"KAA-SANNN!" "E-Eh?"
Boruto menarik sang gadis kedalam rengkuhannya-
BRUK!
-Dan berakhir dengan ketidak siapan Hinata. Tubuhnya limbung dan membuat kedua tubuh itu terjatuh dengan tidak elitnya ditanah yang kasar.
.
=To be Continued=
A/N: Makin gaje ya tuhan X'''D Aduh, Bieber sok tahu banget soal pengendalian chakra X'D Padahal gak tau bener gak tau salah penjelasannya X''D Kalau ada koreksi atau ralat, Bieber terima X''D Oh, Oh, penulisan yang benar itu Cakra atau Chakra? Di Komik Naruto ditulis Cakra. Tapi Bieber rasa penulisannya Chakra X''D Au ah gelap (/.\) #Ditimpuk#
Nah, Gimana chapter kali ini? Hinata udah muncul tuh walau seuprit :D #Dichidori# Maaf php soal Hinata, Soalnya kalau dilanjut malah kebanyakan :') Terus Bieber juga mulai sekolah, jadi sibuk lagi. Selain itu Bieber udah kelas 12, jadinya mulai sibuk :'D #janganCurhat#
Dan, Ini bukan fic Time Travel kah? #lah#
Jadi gini loh. Boruto memang jatuh, Nah begitu sadar dirinya benar-benar ada di masa lalu. Masih jamannya Hokage ketiga :'D Jadi bukan jatuh sembarangan dong ya? XD Tapi memang ini fic gaje banget. Harap maklum kalau ada bagian yang gak masuk akal :')
Typo banyak? Pasti :'3 Bieber gak pernah ngedit sebelum publish sih :'D #whut
Arigatou buat Azu-nyan dan Dura-chan (Bieber panggil begitu aja boleh?) yang koreksi kesalahan di chapter sebelumnya :'D
Oke, Sesi tanya jawab Mulai! ^^
Q: Kira kira sampe chap brp kak?
A: Nggak tahu :'D Masih bingung(?)
Q: Sikap boru terlihat sangat cool. Apa itu akibat tertular senseinya?
A: Boruto nge-Tsun Hahaha Bisa jadi XD
Q: Bagaimana cara baruto pulang? apa ga akan merubah keadaan dimasa depan kalau baruto terlalu lama ?
A: Jawabannya, Rahasia *ketawa jahat*/?
Q: Eh eh nanti bakal ada SS moment nggak?
A: Di Chapter ini ada gak? '-')a #malah balik nanya#/?
Q: Um, apakah Sasuke akan berteman baik sama Boruto?.
A: Iya :)
Q: apakah boruto tau masa lalu ayahnya?
A: Untuk saat ini belum ^^
Q: kira2 ntar Naruto bakal akrab gk sma Boruto?
A: pasti akrab kok ^^
Q: ntar boruto gmna baliknya? Trus ntar waktu di msa dpan brubah ga?
A: Jawabannya rahasia XD #dibuang#
Q: Tp yg membingunkan saya kenapa Boruto bisa kembali ke masa ayahnya?
A: Ohohoho. Nanti dijawab di chapter-chapter terakhir XD
Segitu yang bisa Bieber jawab :'D Arigatou buat semua Review/Fav/Follow-nya! Dukungan kalian membuat Bieber semangat buat nulis :'D Arigatou~ #sungkem#
Oh, hari kamis Bieber gak jamin bisa update. Soalnya sekolah nguber-nguber :'D #udeh
Akhir kata,
Mind to Review?
