Boruto's Time Adventure

.

Naruto © Masashi Kishimoto

~This story is Mine~

Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll

.


~Don't like Don't read~

Happy Reading, Minna-san


"KAA-SANNN!"

"E-Eh?"

Boruto menarik sang gadis kedalam rengkuhannya-

BRUK!

-Dan berakhir dengan ketidak siapan Hinata. Tubuhnya limbung dan membuat kedua tubuh itu terjatuh dengan tidak elitnya ditanah yang kasar.

"Oy! Naruto! Apa yang kau lakukann?!"

Inuzuka Kiba dan Aburame Shino langsung menarik tubuh Boruto yang menimpa tubuh mungil rekan timnya. Memegangi kedua pergelangan tangan Boruto untuk menghalangi serangan-serangan Boruto lainnya.

Hatake Kakashi bergegas membantu Hyuuga Hinata berdiri. Sebagai seorang Jounin elit sekaligus orang yang bertanggung jawab atas Boruto, Tentu Kakashi tak bisa diam saja. "Lepaskan aku! Urusi masalahmu sendiri-ttebasa!" Ronta Boruto nyaring. Kiba mempererat pegangamnya di tangan kanan Boruto. "Apa yamg mau kau lakukan pada Hinata, Naruto?!" Balas Kiba tak kalah nyaring.

Boruto berdecih. Lagi-lagi orang-orang menganggapnya Naruto. Boruto semakin memberontak. Tubuhnya menggelinjang bagai orang kesetanan. Uzumaki pirang ini tak terima diperlakukan seperti ini, tentu saja. Apa yang salah? Ia hanya ingin merealisasikan niatannya untuk memeluk sang ibu. Sekali lagi, katakan apa yang salah dengan itu?

"Kau ini suka sekali mencari masalah, Boruto. Kalau klan Hyuuga tahu kau menyentuh hairessnya, bisa-bisa kepalamu dipenggal dan membuangnya ke perbatasan Konoha-ttebayo."

"..."

"..."

"Apa? Kenapa kalian melihatku begitu-ttebayo?"

Kiba dan Shino saling berbagi pandangan. Kemudian beralih menatap Uzumaki Naruto dan Boruto bergantian. Hyuuga Hinata yang sedari tadi bersembunyi di balik tubuh Kakashi-pun ikut menatap kedua bocah pirang didepannya.

"N-Naruto-kun?" Gumam Hinata tanpa melepaskan pandangannya dari Boruto. Naruto memberengut, "Hinataaa! Naruto itu aku! Aku-ttebayo!" Bantah Naruto sembari menunjuk-nunjuk hidungnya sendiri.

Gadis Hyuuga itu melonjak kecil. Kemudian lebih merapatkan tubuhnya kearah Kakashi-sensei. Pegangan tangan gadis itupun semakin mengerat di lengan baju sang sensei.

Kiba menggeser pupilnya kearah Naruto. Gurat heran bercampur kaget tergambar jelas dirupa tampannya. "Apa yang terjadi sebenarnya?! Kenapa bisa ada dua Naruto?" Tanya Kiba kecang. Uzumaki Boruto meringis, Bocah yang baunya seperti anjing itu berteriak di dekat telingannya. Ya, Tuhan.

Kakashi menghela napasnya. Akan sulit menjelaskan ini kepada Genin-genin didepannya. Well, Kakashi tidak bisa segamblang itu mengatakan bahwa Uzumaki Boruto adalah putra dari Uzumaki Naruto yang datang dari masa depan. Tidak! Tidak! Asal usul Boruto yang sebenarnya harus tetap menjadi rahasia antara dirinya, Boruto dan Sandaime.

"Kiba, Shino, Hinata. Kuperkenalkan pada kalian, dia adalah Uzumaki Boruto. Dia shinobi baru desa Konoha." Jelas Kakashi sambil tersenyum. Shino dan Kiba lantas melempar pandangannya kearah Boruto. Menatap bocah blonde Uzumaki itu curiga. Boruto memutar bola matanya gusar, "Gezz, Berhentilah menatapku seperti itu-dattebasa."

Hinata memberanikan dirinya untuk beringsut maju, tidak lagi bersembunyi dibelakang tubuh Kakashi. Gadis itu menunduk dengan jemari yang saling bertaut gugup. Poni ratanya sedikit menutupi mata besarnya. "D-Dia begitu mi-mirip dengan N-Naruto-kun."

"Yah, Entah kenapa dia selalu meniruku! Mulai dari Marga, wajah, Ah! Dia bahkan merebut apartemenku, Hinata!" Naruto mengadu dengan mimik wajah yang sengaja ia buat-buat. "Apa katamu?! Kau sendiri yang mengajakku untuk bermalam di apartemenmu, Idiot!" Sangkal Boruto cepat.

"Bermalam?!"

"Bukan 'bermalam' seperti yang ada di otak kotor kalian-ttebasa!" Tambah Boruto histeris.

Boruto mengumpat dalam hati. Untuk memeluk ibunya saja ia tak bisa. Kedua bocah rekan tim ibunya masih belum melepaskan Boruto. Dirinya bukan kriminal. Ia adalah putra Hokage ketujuh. Seharusnya ia dihormati. Bukan diperlakukan seperti ini. Boruto melirik Hinata, sepertinya ibunya-pun tak kunjung menyadari bahwa Boruto adalah anaknya. Baiklah, Boruto mulai meragukan 'ikatan batin antara ibu dan anak'.

"Sialan! Sudah berapa kali kubilang lepaskan aku! Kalian ingin kuhajar, hah?!" Raung Boruto. Putra sulung Nanadaime Hokage itu menggerakan tubuhnya kuat. Kakinya ia angkat tinggi-tinggi. Kepalan tangannya pun bergerak kesegala arah dengan membabi buta.

"Kami tidak akan melepaskanmu. Salah-salah kau bisa menyerang Hinata lagi," Balas Kiba. Boruto berdecak, "Hei! Aku tidak akan melukainya!"

Uzumaki Naruto memicingkan matanya. Kedua manik biru itu bersirobok. "Aku tidak yakin-ttebayo."

Baiklah, Ayahnya mulai menyebalkan. Boruto menegadah, menatap Kakashi dengan wajah memelas. Meyakinkan pria bermasker itu bahwa dirinya tidak akan macam-macam pada ibunya sendiri. Sang Rokudaime masa depan itu memandang Boruto datar. Berpikir keputusan apa yang seharusnya ia ambil. Sesungguhnya ia tidak tega kepada Uzumaki sulung itu, mengingat dirinya juga mengetahui seberapa rindunya Boruto itu pada ibunya.

Menghela napas, Kakashi mengangguk, "Boruto tidak akan macam-macam. Kalian boleh melepaskannya, Shino, Kiba."

Boruto menatap Kiba nyalang, Sebuah senyuman tersungging dibibir Boruto, "Kau dengar dia? Cepat lepaskan aku-ttebasa."

"Cih."

Kiba melepaskan cengkramannya dilengan Boruto, yang kemudian disusul Shino. Boruto memijat pergelangan tangannya yang agak kaku. Memukul-mukulnya pelan, kemudian memutar-mutar persendiannya hati-hati. "Cih, tanganku jadi pegal."

Boruto menegakan tubuhnya. Manik samudra bocah itu bersinar tatkala mendapati sosok Hyuuga Hinata berdiri didepannya. Ibunya, Orang yang paling ia sayangi. Senyumannya makin merekah, Pipi sang Uzumaki merona hebat. Bisa ia rasakan sendiri debaran jantungnya yang kian bertalu-talu.

Kali ini Boruto tak akan bertindak sembrono -terlebih kini Kakashi masih belum melepaskan pandangan dari dirinya, Mengawasinya. Boruto melangkah yakin, Membuat sang gadis Hyuuga tersentak kecil. Uzumaki Naruto bersiaga, Takut-takut Bocah yang mirip dengannya itu kembali menyerang Hairess Hyuuga yang terhormat.

Grep~

"E-Eh?!"

Boruto menggenggam tangan ibu masa depannya. Telapak tangan yang berbeda warna itu bertaut dengan tangan Boruto yang meremas telapak sang gadis.

Boruto memandang ibunya serius. Pandangan yang seolah mampu menembus hati Hyuuga Hinata. Manik biru yang serupa dengan milik Naruto itu memancarkan keseriusannya, "Hinata. Jangan banyak bicara dan ikutlah denganku!"

Tiga...

Dua...

Satu...

BLUSH~

BRUK!

"H-Hinataaaa!" "Teme! Apa yang kau lakukan pada Hinata?!"

.


.

Semilir angin membelai kulit Tan miliknya. Surai kepirangan itu menari seirama hembusan angin. Angin sore yang menusuk tak ia pedulikan, Matanya masih betah menatap lama gadis yang kini tengah terbaring disampingnya. Mengacuhkan orang-orang yang sedari tadi bersamanya.

Manik biru itu mengamati setiap garis wajah sang gadis, dalam hati ia terkagum-kagum akan rupa gadis indigo itu. Gadis yang tak sadarkan diri itu cantik -Ah, Menurutnya sangat cantik, bentuk wajahnya bulat dilapisi kulit seputih porselen. Tangan tan bocah itu terulur, merapihkan poni si gadis yang sedikit berantakan. Surai indigonya bahkan begitu halus ditangannya.

"Lihat itu. Kubilang tingkahnya sangat aneh."

"Apa yang tengah dilakukannya pada Hinata?"

"Kakashi-sensei, Tidak apa kita biarkan dia?"

Kakashi diam, tak menjawab. Pandangannya masih lurus menatap tindak tanduk bocah dengan bentuk rambut menyerupai daun. Kakashi menyenderkan punggungnya di pohon, tangannya ia silangkan, "Biarkan saja."

Uzumaki Naruto kembali memfokuskan pandangannya. Manik shappire miliknya menajam. Dadanya bergemuruh tak nyaman kala ia menatap pemandangan didepannya. Ada sesuatu diantara dirinya, Bocah pirang itu, dan si Gadis Indigo. Benar, Tapi ia sendiri tidak mengerti itu apa. Perasaan rumit yang sulit ia mengerti. Ah, bahkan terlalu sulit untuknya.

"Boruto.."

Uzumaki Boruto menoleh, Irisnya tak menangkap seorangpun disekelilingnya. Alis Uzumaki sulung itupun terangkat, Dimana Ayahnya dan yang lain?

Suara erangan menarik atensinya. Dengan cepat, kepala Blonde itu menoleh kearah sumber suara. Bibirnya mengembangkan sebuah senyum lebar tatkala tubuh gadis yang sedari tadi tak sadarkan itu bergerak sedikit. Boruto merendahkan tubuhnya, Menumpukan berat badannya ditelapak tangan.

Kelopak terbuka, Menampilkan Iris Lavender yang memesona. Boruto dibuat takjub karenanya. Ia bahkan sampai tak bisa bergerak barang sesentipun saking gugupnya. Boruto mengumpat dalam hati. Kenapa bisa ibunya secantik ini saat ia genin? Ah, Demi semesta, Uzumaki Naruto adalah bajingan yang beruntung.

"Akhirnya kau sadar."

Mata sang gadis melebar. Bagaimana tidak? Wajah orang yang disukainya begitu dekat dengan wajahnya. Sepersekian detik pipi tembem itupun dinodai warna merah seindah senja. Dan-

"Kkkyyyaaaaaaaa! P-pergii N-Naruto-kunn!"

DUAK!

-Hinata mendorong tubuh Boruto dengan Chakra yang terkumpul dikedua tangannya. Hal ini membuat Uzumaki Boruto tersungkur sejauh dua meter. Punggung bocah itu membentur pohon dibelakangnya. "Argghh!"

Hyuuga Hinata menyembunyikan tubuhnya dibalik pohon. Berusaha menjaga jarak dengan Boruto. Wajahnya pun sudah merona hebat, tubuh si gadis pun bergetar kecil.

"N-Naruto-kun?"

Boruto menggeram pelan. Ini murni kesalahan ayahnya, Andai saja wajahnya tidak mirip dengan Kuso Oyaji itu, Boruto tentu tidak akan dilempar se-tidak sopan ini oleh ibunya sendiri. Keparat. Dia memang dewa kesialanku.

Hey, Kau terlalu sering menyalahkan Ayahmu, Boruto.

Boruto mencoba tersenyum, Sambil mengusap punggungnya yang terasa nyeri, "Aku bukan Naruto. Aku Boruto."

Hinata mengerjap polos, "B-Boruto?" Alis Hinata berkerut, ia menilik personifikasi bocah didepannya. Dilihat dari manapun, Bocah ini terlihat seperti Uzumaki Naruto.

"K-Kau tidak b-berbohong, b-bukan?"

Boruto beringsut mendekati si gadis, langkahnya ia buat sesantai mungkin. Ia tentu tidak mau ibunya kembali pingsan. Oh, ia tak akan membiarkan itu terjadi. Ada banyak hal yang ingin ia bicarakan dengan sang ibu. "Untuk apa aku berbohong kepadamu?" Tanya Boruto balik. Tak lupa ia mengulas senyuman lebarnya diakhir.

Hinata merona, ia kembali bersembunyi dibalik pohon. Gadis itu mencoba menetralkan irama jantungnya. Senyuman yang diberikan Boruto padanya ternyata berefek sama dengan senyuman yang selalu Naruto pamerkan. Boruto menyentuh sisi lain dari pohon yang Hinata gunakan untuk bersembunyi, "Karena aku bukan Naruto, kau tidak usah bersembunyi."

"Bu-bukan i-itu maksudku." Hinata mencoba mengelak. Ia tidak mau Boruto beranggapan dirinya membenci Naruto. Sikapnya ini justru diakibatkan karena ia.. pada Naruto.. Ah, sudahlah.

Dengan langkah malu-malu, Hinata keluar dari balik pohon. Berjalan dengan –sangat- pelan mendekati Uzumaki Boruto. Melihatnya, Boruto tersenyum senang, ia tertawa kecil dan menggaruk pipinya yang memerah. Telunjuk gadis Hyuuga itu bertaut gugup, manik seindah bulan miliknya tak kunjung berani menatap iris si sulung Uzumaki,

"Ayo kita berkenalan." Ujar Boruto sedikit kikuk. Kakak dari Uzumaki Himawari itupun mengulurkan tangannya, "Namaku Uzumaki Boruto. Siapa namamu?"

Hinata meremas jaketnya pelan. Perasaan aneh tiba-tiba muncul begitu ia berhadapan dengan Boruto. Ini berbeda dengan perasaanya pada Naruto. Ada sesuatu yang lebih dari itu. Perasaan asing yang membuat tubuh si gadis menghangat. Perasaan yang sama dengan saat dimana Hinata memeluk ibunya.

Hyuuga Hinata memberanikan diri untuk menyambut uluran tangan Boruto, "H-Hyuuga H-Hinata." Balas Hinata gugup.

DEG!

Ketika tangan keduanya bertemu, sensasi aneh itu kembali mengerubungi seluruh tubuh Boruto. Pipinya semakin merona, namun ia menyukainya. Ia menyukai sensasi yang timbul diantara dirinya dan Hinata. Boruto mengulas senyumnya, Hinata membalas senyuman itu tak kalah manis.

Hanya ini yang bisa Boruto lakukan untuk menyalurkan kerinduannya pada sang ibu. Meski tidak seperti di masa depan, ia tetap merasakan kehangatan yang sama dari Hinata didepannya. Tidak apa-apa, asal ada ibunya, Boruto akan berusaha untuk kuat. Asal ada ibunya, Boruto sudah bersyukur, setidaknya ibunya tidak membencinya seperti sang ayah.

Meskipun sang ibu sendiri tidak menyadari bahwa ia adalah putranya.

.


"Selamat pagi, Naruto. Kau telat lagi hari ini."

Naruto terengah, tangannya bertumpu di lutut, keringatnya bercucuran, tanda bahwa ia sudah berlari sekencang mungkin untuk tiba kesini. "Gomen-dattebayo. Hah, hah." Sesalnya.

Sakura menunduk, menyilangkan tangannya di depan dada, maniknya menajam seolah mengintimidasi, "Akhir-akhir ini kau sering terlambat. Bahkan lebih dari Kakashi-sensei. Kami lelah membuang waktu percuma untukmu, Baka!"

Naruto mengangkat wajahnya, masih terengah, Naruto menjawab, "Salahkan Boruto –hah," "–Dimana Boruto, Naruto?" potong Kakahi. Benar juga, sedari tadi ia belum melihat si Uzumaki masa depan itu. Biasanya bocah itu selalu mengekori Naruto kemanapun.

"Dia menolak ikut kemari dan malah memberontak ditengah jalan. Dia terus-terusan merancau hal aneh yang tidak masuk akal," Jelas Naruto emosi. Ia bahkan sampai mengayun-ayunkan tangannya kesana-kemari.

Uchiha Sasuke menatap heran sahabatnya, "Hal aneh?"

Naruto mengepalkan tangannya, menginjak-injak tanah dengan keras. Perempatan muncul dipelipisnya, "Benar, tahu! Dia terus-terusan merancau ingin menemui ibunya! Kemudian berteriak kearahku ia ingin berada disamping Hinata! Ah, ketika aku menyeretnya paksa, dia malah berbalik dan mencakar wajahku-dattebayo!" Cerocoh Naruto bertubi-tubi. Ia bahkan menunjukan luka cakaran karya Boruto di dekat matanya.

Kakashi melongo. Astaga, Boruto semakin menjadi saja. Apa mungkin ia harus membiarkan bocah itu berada disekitar Hinata agar lebih mudah dikendalikan?

"Dan kau menyerah mengejarnya lalu datang kemari?" Tanya Sakura antusias. Naruto menggeleng, ia mendudukan dirinya ditanah. "Tentu tidak. Aku mengerjarnya tapi ia menghilang begitu saja di dekat sini. Begitu sadar, aku baru sadar kalau kalian berada tak jauh dari posisiku saat itu."

Sasuke mendengus, "Bukankah itu sama saja dengan menyerah?" Naruto menoleh cepat, dipasangnya wajah tersinggung andalannya, "Cih! Aku baru akan mencarinya lagi sekarang."

Hatake Kakashi mengusap surai silvernya. Ia menyimpan buku bacaannya ke kantung senjata. Boruto selalu membuat dirinya gagal menyelesaikan bacaan icha-ichanya.

"Baiklah, Ayo cari Boruto!"

.


.

Menurut informasi yang didapatnya, Tim delapan saat ini tengah berlatih di hutan bagian timur Konoha. Kakashi lantas mengarahkan timnya kesana. Ia tidak boleh melepaskan pengawasannya pada Boruto. Karena itu, ia tidak akan membiarkan Boruto begitu saja.

Dahan demi dahan dilompati anggota Tim tujuh. Perbatasan hutan bagian timur sudah terlihat. Ia bahkan bisa melihat anggota tim delapan yang tengah berlatih tanding. Hatake Kakashi memberikan anggota lainnya isyarat agar bersembunyi dibalik semak yang tak jauh dari lokasi Tim delapan berlatih.

"Garougaaaa!"

Zrakkkk!

Naruto menyikut senseinya. Ia lantas berbisik, "Yang kulihat hanyalah Kiba dan Shino yang tengah sparing. Aku tidak melihat dimana bocah sialan itu berada."

Kakashi tidak menjawab. Ia kembali memasang matanya untuk mencari sosok Boruto. Uchiha Sasuke mencolek pundak Naruto. Naruto menelengkan kepalanya dengan ekspresi bertanya. Sasuke lantas menunjuk ke suatu arah, "Itu dia."

Kakashi cepat-cepat menoleh kearah yang ditunjuk Sasuke. Ia memicingkan matanya agar lebih jelas.

"Apa yang sedang dilakukannya dengan Hinata?"

"Mereka terlihat sedang mengobrol. Kupikir mereka baru selesai berlatih." Timbrung Sakura. Insting wanitanya mulai bangkit. Gadis Haruno itu jadi penasaran apa yang terjadi diantara Boruto dan sang Hairees Hyuuga.

"Seseorang ingin tahu apa yang tengah mereka bicarakan?"

.


.

"Hee, Jadi Hinata suka suka Cinnamon roll. Haha, aku baru tahu."

Hinata tertawa kecil. Ia meletakan tangannya dibibir guna meredam tawanya, "uh-hm. L-Lalu makanan apa y-yang Boruto sukai?" Tanya Hinata lembut.

Boruto meletakan telunjuknya di dagu. Menyipitkan matanya seraya berpikir, "Hmm.. Aku suka Burger-ttebasa."

"Burger?"

Boruto tersentak kecil. Ah, ia baru ingat. Mana ada Burger dijaman ini. Ia tersenyum kikuk, kemudian menggaruk belakang kepalanya, "Yah, bisa dibilang itu masakan khas tempatku lahir. Hehe." Jawabnya agak ragu.

Hinata mengangguk, ia kembali memakan Cinnamon roll yang dibelinya sebelum latihan tadi. Boruto terkekeh, Hinata yang mendengarnya lantas menoleh kearah bocah disebelahnya, "A-Ada apa?"

Boruto menggeleng. Mencoba menjaga sikapnya, Boruto menarik napas dan menghembuskannya perlahan. "Aku menyukai senyummu saat kau memakan Cinnamon roll itu. Kau selalu tersenyum ketika memakannya. Apa rasanya seenak itu? Haha."

Blush~

Sepersekian detik, pipi itu kembali merona setelah kata suka meluncur mulus dari bibir Boruto. Hinata membuang mukanya malu. Ia lebih memilih melarikan matanya dari manik Shappire milik Boruto.

Senyuman Uzumaki Boruto mengembang. Ia senang ketika menyadari fakta bahwa Hyuuga Hinata sudah tidak lagi segugup saat pertama mereka bertemu –setidaknya gadis itu tidak pingsan. Hey! Boruto sendiri tidak menyangka Hinata akan secepat itu terbiasa dengannya, padahal mereka baru berkenalan sore kemarin. Mungkin inilah yang dinamakan ikatan batin antara ibu dan putranya.

Tangan Boruto terulur, "Hinata."

Reflek si gadis menoleh. Tangan tan itu menyentuh sudut bibir Hinata, membuat si empunya membatu dengan mata melebar. Jemari milik Boruto mengusap sudut bibirnya pelan –Sangat pelan.

"Ada sisa gula dibibirmu. Kau ini ceroboh juga sampai belepotan begini," Ujar Boruto sambil menampilkan gigi putihnya. Wajah Hinata semakin merona, rona itu menjalar bahkan hingga ke kupingnya.

"A-Aaa.."

.


.

"Ya Tuhannn~~~ Tidak kusangka Boruto bisa se-keren itu!"

Sakura memekik tertahan. Gadis itu melempar pandangnya kearah Uchiha Sasuke. "Aku juga mau diperlakukan begitu~" Rancau Sakura manja. Ia melirik Sasuke dengan tingkah yang sengaja ia buat manis. Si Uchiha tidak merespon, namun rona tipis dipipinya sudah menjelaskan semuanya dengan sangat jelas.

Kakashi tertawa pelan. Benar dugaannya. Ternyata memang Boruto lebih cocok dengan tipe orang pendiam seperti Sasuke atau Hinata.

"Yah, kupikir tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ayo pergi dari sini." Pemuda dewasa Hatake itu melangkah munduh, ia melirik Uzumaki Naruto sekilas, "Jangan melamun Naruto!"

Naruto melonjak, ia menatap Kakashi jengkel, "Aku tidak melamun-dattebayo."

Kakashi mengedikan bahunya, "Terserah saja. Yang penting, ayo pergi."

Naruto melirik sosok Boruto dan Hinata sebentar, menutup matanya, kemudian mengikuti langkah Tim tujuh menjauh dari sana.

.


.

"Tadaima~"

"Okaeri."

Naruto tersentak kebelakang. Jelas saja ia kaget, Seumur-umur, baru kali ini ada yag menjawab salamnya ketika ia pulang. Derap langkah kian terdengar, tak lama sosok seorang anak kecil seumuran dengannya mucul dengan wajah berseri-seri.

"Boruto?"

"Okaeri, Naruto." Ulang Boruto dengan senyum lebar. Naruto melepaskan sandal shinobinya. Meletakannya asal, "Apa yang kau lakukan?"

Boruto mendengus, ia berjalan melewati Naruto dan dengan cekatan meletakan sandal shinobi milik Naruto ketempatnya. "Kau pikir apa?" Boruto balik bertanya. Naruto mengerucutkan bibirnya, "Aku tidak ingat sejak kapan aku memiliki pembantu." –Bletak!

"Itteee!"

"Jangan seenaknya bicara. Aku melakukan ini hanya karena moodku sedang bagus. Jadi, jangan berani menghancurkan moodku, Naruto."

Bocah Kyuubi itu mengernyit, "Bagus apa yang kau maksud?"

Boruto tidak menjawab, ia memilih melangkah kearah kamar dengan langkah lebar. Naruto yang heranpun mau tak mau mengikuti langkah bocah itu ke kamarnya.

Uzumaki Boruto mengambil sebuah kotak kecil. Naruto berasumsi ini adalah kotak bento. Tapi, darimana Boruto mendapatkan kontak bento semewah ini?

"Apa ini?" Tanya Naruto langsung. Boruto cengengesan, ia lantas membuka kotak itu, dan–

"Lihatlah!" "Wooahhhhh!"

Didalamnya ada beberapa onigiri lucu yang bentuknya mirip dengan wajah Naruto. Naruto kagum bercampur heran. Onigiri seperti ini memangnya ada?

"Ini pemberian Hinata." Jelas Boruto. Naruto mengangkat wajahnya, "Benarkah?"

Uzumaki Boruto mengangguk, "Hinata memberikannya ketika aku mengantarkan ia pulang tadi. Hehe." "Apa?"

Boruto menutup kotak bento itu dan meletakannya di meja makan, "Kubilang Hinata mem–" " –Tidak, maksudku, kau mengantar Hinata pulang?" Sela Naruto. Putra Yondaime itu memutari tubuh Boruto dengan pandangan khawatir. Ia bahkan memeriksa tubuh Boruto, sesekali berkomat-kamit tidak jelas. Boruto menatap ayahnya bosan, "Apa yang kau lakukan?"

Naruto menjambak rambutnya sendiri, ia berteriak frustasi, "Astaga Boruto. Kau mengantar Hinata pulang?! Kau bisa dibunuh ratusan Hyuuga disana karena telah berdekatan dengan putri Hyuuga-dattebayo!"

Boruto berdecak. Ia menanggalkan jaketnya, dan melepaskan headband yang melingkari kepalanya, "Tapi nyatanya aku baik-baik saja. Para Hyuuga itu memang menatapku tajam awalnya, tapi tentu saja aku tidak sepengecut itu dengan kabur begitu saja."

"Kau ini, menyebalkan. Aku saja tidak berani membuat onar di kawasan Hyuuga, dan kau berani-beraninya-" "–Aku tidak sepengecut dirimu, Naruto."

"Apa kau bilang?!"

–Dan pertengkaran antara ayah dan anak itupun kembali dimulai.

.


Boruto membolak balikan tubuhnya diatas Futon, berusa mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Namun seberapa kalipun ia mencoba, kenyataannya ia tetap tidak bisa menutup matanya barang sedetik saja.

"Kau ini berisik sekali, Boruto. Biarkan aku tidur, Besok ada misi pengawalan pertamaku. Bantulah aku sedikit."

Boruto menegadah. Ia menyikap selimutnya kesal, "Aku tidak bisa tidur kalau tidak tidur diranjang."

Uzumaki Naruto berdecak, "Kau ini manja sekali. Dari kemarin aku sudah dapat giliran tidur di futon. Sekarang giliranmu."

Boruto tidak menjawab. Putra Nanadaime Hokage itu menghela napasnya berat. Pandangannya lurus menaatap atap apartemen milik ayahnya. Hening sesaat.

"Hey, Naruto."

"Hm?"

Boruto memiringkan tubuhnya. Bocah itu agak sedikit ragu menanyakan ini pada ayahnya.

"..."

Dahi Naruto mengerut, "Boruto?"

"Naruto, Apa kau... Menyukai Hinata?" Tanya Boruto akhirnya. Ia tidak bisa menahan diri lagi.

Naruto terdiam, dirinya heran. "Apa jawaban itu penting bagimu?"

Boruto membisu. Ia enggan menjawab, ia lebih memilih berbalik memunggungi ayahnya. Perlahan, Naruto tersenyum tipis, "Hinata adalah teman yang baik."

Boruto mengangkat sebelah alisnya, "Teman?"

"Ya, tentu saja. Dia temanku-ttebayo!" Jawab Naruto semangat.

"Teman seperti apa? Ada banyak sekali definisi teman di dunia ini-ttebasa!"

Naruto meniup poni rambut yang menjutai didahinya, "Teman seperti ketika kami berada di akademi yang sama, atau teman seperti sesama shinobi Konoha, Dan teman seperti aku menganggapnya teman."

Boruto mengangguk ragu, Ia tidak bisa memungkiri fakta bahwa rasa sesak dalam dadanya muncul begitu saja.

Apa itu berarti ayah dan ibunya tidak saling mencintai? Padahal ayahnya selalu bilang bahwa dirinya jatuh cinta pada sang ibu dari semenjak mereka masih seorang genin. Apa itu artinya ayahnya berbohong?

Dan anehnya, pertanyaan itu membuat dada Boruto semakin sesak.

"Kuso Oyaji.."

=To Be Contineud=


A/N: Eits! Jangan hakimi Bieber X'D Gomenne, telat banget updatenya. Handphone Biber ke reset dan akhirnya fic yang lagi dikerjain ludes seketika. Nah, dari situ Bieber putus asa tingkat dewa! ( T0T) Bieber juga gak bisa terus pake lepi :''3/udeh

Nah loh, ceritanya jadi kaya gini XD makin ngaco? Gaje? Au ahhh :'D/heh

Oh, Bieber ganti genrenya jadi Fantasi/Family soalnya ya, kembali ke masa lalu lebih cocok kalau fantasi :'D/no

Chapter ini bikin kecewa? Maaf ya :''D seenggaknya ada Hinata X'D #Dibunuh# Oh, Bieber juga gak bisa sering update sekarang :') Gomen. Gak janji update kamis nanti :'D

Ini dia balasan Review!

Q: ini sampai ujian chunnin kalo iya berarti ketemu Neji dan ngelihat pertempuran gara vs Naruto dong

A: Tepat sekali! :D

Q: trus naruto cemburu gak sma boruto klo dia deket2 hinata terus?

A: Nggak :D Si Naruto masih terobsesi sama Sakura soalnya :3

Q: Hinata ntar akrab nggak sma Boruto?

A: Pastinya ^^

Q: Nanti Boruto bakalan ngebongkar rahasianya gak sih?

A: Nanti sih iya :D

Q: gk ganggu. kelas 12?!

A: ya, ganggu gak ganggu sih :'D #Ditimpuk#

Q: Apa nanti Hinata yang duluan tau tentang Boruto dari Naruto?

A: Kayanya sih... Nggak :D

Q: berapa lama boruto disana author-san?

A: Sampai Ujian Chunnin :D

Q: 'Benar-benar mirip Himawari. Astaga. Tepat seperti apa yang dibilang Kaa-san, Dasar pemalas.' Thor kok ak ga ngerti ya sm kalimat(?) itu?.-. Apanya yg mirip himawari?

A: Bieber baca headcanon sih XD katanya waktu masih balita Himawari suka bikin rumah berantakan (mirip Naruto) Nah, dari situ Boruto belajar beres-beres bantuin Hinata :D #soktahu#

Yosh! Segitu yang Bieber bisa jawab! Maaf gak bisa jawab semuanya! Sebagian nantinya jadi spoiler kalau Bieber kasih tau X'D #no#

Arigatou Review/Fav/Follownya! Terima kasih koreksinya XD *ketjup basah*/heh

Sampai ketemu di chapter selanjutnya!

Akhir kata,

Mind to Review?