Boruto's Time Adventure

.

Naruto © Masashi Kishimoto

~This story is Mine~

Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll

.

~Don't like Don't read~

Happy Reading, Minna-san


.

"Sekali lagi kau menyentuhnya, Akan kubunuh kalian semua.."

Naruto tak bergeming. Bocah dengan jaket orange itu masih takjub akan kedatangan Uzumaki Boruto. Lidah Naruto kelu, nyaris kehilangan suara malah.

"K-Kau! Bagaimana bisa ada dua-"

Naruto menoleh kesekitar. Orang-orang menatap mereka berdua dengan pandangan kaget bercampur takut. Manik Uzumaki Naruto kini terfokus kembali kearah Boruto yang tengah membelakanginya. Naruto mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia harus segera membawa Boruto pergi dari sini.

"Sudahlah Boruto, Aku-" Naruto bangkit. Lengan kanannya menyentuh pergelangan tangan Uzumaki Boruto. Namun sedetik kemudian, Naruto merasakan tangannya ditepis kasar. "Diamlah Naruto! Jangan ikut campur!" Bentak Boruto keras. Bocah itu bahkan tidak berbalik demi menatap Naruto. Uzumaki Boruto benar-benar marah. Gawat.

Seorang pria dengan kimono biru muncul diantara kerumunan warga desa. Boruto meliriknya sinis. Pria itu menunjuk Uzumaki Boruto dengan ekspresi kesal, "Kalian berdua! Pergilah dari sini! Tidak tahukah kalian, Satu bocah iblis saja sudah membuat kami sangat kesulitan! Bayangkan jika ada dua! Kalian pembawa sial hanya menjadi bencana untuk desa ini!"

"Tutup mulutmu!" Teriak Boruto emosi.

"Boruto!"

Satu detik kemudian tinju milik Boruto dengan mulus mendarat ke pipi pria berkimono biru. Membuat pria itu tersungkur dengan lebam keunguuan dia pipinya. Manik biru Boruto berkilat kala sekerumunan orang mengepungnya. Menggertakan gigi, Boruto memasang kuda-kuda dan menyerang beberapa orang yang hendak memukulnya.

Jangan pikir dirinya akan diam saja.

Boruto menangkis setiap serangan yang datang kepadanya. Membalas dengan kekuatan dua kali lipat. Menendang wajah orang-orang yang hendak melawannya tak tanggung-tanggung. Uzumaki Boruto kalap. Sosoknya kali ini nampak seperti seorang pembunuh bayaran.

"Boruto! Hentikan!" Naruto berteriak. Namun Boruto tak peduli. Persetan dengan teriakan ayahnya. Orang-orang ini sudah keterlaluan.

Kerumunan orang disana menatap kedua bocah pirang itu ngeri. Beberapa wanita paruh baya ikut melempari kedua Uzumaki itu dengan sayuran. Boruto menekuk alisnya semakin turun. Keterlaluan.

Boruto membuat segel ditangannya. "Kagebunshin no jutsu!"

Bofh! Bofh!

Uzumaki Boruto menyeringai sinis. Jangan kira ia akan tinggal diam. Bunshin-bunshin milik Boruto menyerang beberapa orang yang mencoba melukai dirinya dan Naruto. Sekuat tenaga Boruto meyakinkan hatinya bahwa ia tidak bersalah. Ia melakukan ini untuk membela dirinya dan Naruto. Ia tidak akan dipecundangi ketakutannya sendiri. Tidak.

Uzumaki muda dengan jaket hitam itu menendang perut salah seorang warga disana. Bersalto kemudian meninju pipi orang yang dianggapnya musuh. Boruto berusaha mengelak dari setiap pukulan yang coba dilancarkan padanya. Uzumaki Boruto mengayunkan kakinya, tendangan itu berhasil mengenai rahang seorang pemuda dengan suara keras.

Pupil milik Uzumaki Naruto bergetar. Ia tak bisa membiarkan ini. Ia ingin menghentikan bocah yang bersurai sama dengannya itu. Tapi tidak bisa. Boruto didepannya benar-benar mengerikan. Pemandangan didepannya membuat kaki Naruto lumpuh seketika.

"Boruto! Hentikannn!"

Boruto tidak mengindahkan teriakan ayahnya. Teriakan Tou-channya malah membuat emosi Boruto semakin tersulut. Yang benar saja, Pak tua! Daripada diam sambil memasang tampang bodohmu itu lebih baik kau bantu aku! Maki Boruto dalam hati.

Tangan Boruto menarik kasar tangan orang yang berusaha memukulnya. Lututnya menghantam keras perut orang itu. Orang itu terhuyung mundur dan jatuh ketanah.

Wanita-wanita yang menonton perkelahian itu berteriak histeris. Bahkan beberapa anakpun ikut menangis. Naruto memandang nanar ke sekelilingnya. Jika begini, Boruto benar-benar akan dianggap sebagai monster.

Uzumaki Boruto menangkat kakinya tinggi-tinggi. Naruto terkesiap, Tidak.. Tidak! Kaki milik bocah itu akan menghantam kepala bagian belakang seseorang.

Setelah itu, semuanya seolah-olah terjadi dalam gerakan lambat. Sekelebat bayangan seorang Shinobi datang dan mendorong tubuh Boruto. membuat bocah Uzumaki itu tersungkur dan jatuh ditanah.

Naruto mengerjap. Butuh waktu sepersekian detik untuk menyadari siapa gerangan Shinobi yang berhasil menghentikan amukan Boruto.

"K-Kakashi-sensei..."


"K-Kakashi-sensei..."

Hatake Kakashi memandang Uzumaki Naruto sejenak, kemudian disunggingkannya senyum tipis seperti biasanya, "yare, yare, Apa yang kulewatkan disini?"

Naruto tidak menjawab. ia memilih menelengkan wajahnya kearah Boruto. Dilihatnya Uzumaki Boruto yang tengah meringis sembari menyeka keringatnya. Naruto juga bisa melihat bocah itu tengah melancarkan umpatan, sumpah-serapah pada orang yang dengan lancang mendorong tubuhnya hingga terjungkir ditanah.

Naruto menoleh kembali kearah Kakashi, "Sensei, Boruto.. Kumohon.."

Pemimpin Tim Tujuh itupun menatap Boruto dengan wajah pasrah, Baru saja ia tiba di desa, Boruto sudah kembali berulah.

Menghela napas, Kakashi membalas, "Serahkan masalah Boruto padaku.. Kau, tenanglah, Naruto."

.


.

"Lihatlah apa yang kau perbuat sekarang. Aku yakin ayahmu pernah mengajarkanmu bahwa seorang Shinobi tidak boleh melukai warga desa tempat ia tinggal. Oh, kau keterlaluan, Boruto."

Boruto memutar bola matanya acuh tak acuh. Omelan Hatake Kakashi ia anggap angin lalu. Masa bodoh. Kenapa harus ia dengarkan kalau isi omelan itu hanya menyudutkannya? Kini, Dirinya berada di kantor Hokage. Hatake Kakashi-lah yang menyeretnya kemari untuk melaporkan perbuatannya kepada Sandaime.

Hokage ketiga menghela napasnya, "Bukankah aku sudah pernah melarangmu melukai warga desa Boruto?"

"..."

Jemari Sandaime terangkat, menyentuh keningnya dan memijatnya pelan. Anak Uzumaki Naruto ini jadi lebih sulit di kendalikan. Dan dirinya tidak bisa melakukan tindakan apapun untuk menekan tingkah Boruto yang kadang sering meledak-ledak. Terlebih memikirkan ulah Boruto selama berada di jaman ini membuat kepala sang Hokage semakin pening.

"..Kenapa.."

Atensi Sandaime kembali terfokus kearah Boruto. setelah sekian lama bungkam, Bocah bermarga Uzumaki itu akhirnya angkat suara. Sandaime Hokage mengangkat alisnya, "Hm?"

Boruto semakin menundukan kepalanya, jemarinya terkepal kuat, "Kenapa? Kenapa semua orang menyebutku dan Tou-chan sebagai anak iblis..? Kenapa?" Tanya Boruto dengan suara rendah nan dingin.

"Apa itu 'Anak Iblis'?" Boruto melanjutkan, kali ini dengan suara bergetar. "Apa itu 'pembawa sial'? Kenapa kehadiranku dan Tou-chan begitu tidak diinginkan disini?!" Tanya Boruto dengan suara tertahan.

Kakashi dan Sandaime bertukar pandang. Tak mampu menjawab. Tak segampang itu menceritakan rahasia desa kepada orang asing yang mengaku datang dari masa depan. Dan lagi, Orang asing itu tak lebih dari seorang anak kecil.

"APA SALAHNYA? APA SALAH TOU-CHAN?!" Boruto tak bisa lagi menahan emosinya. Ia berteriak, tak peduli lagi pada kenyataan bahwa orang yang diteriakinya adalah seorang Hokage.

Boruto menggeram, Alisnya semakin menukik turun, wajahnya memerah menahan emosi, "APA DOSA YANG TELAH DIPERBUAT TOU-CHANKU HINGGA BEGITU BANYAK ORANG MEMBENCINYA?!"

Uzumaki pirang itu mencengkram kalung berbandul baut yang melingkar dilehernya kuat-kuat. "Katakan padaku semua kebenarannya!"

Sandaime menunduk, Entah apa yang tengah dipikirkannya. Boruto menyerangnya dengan pertanyaan berantai yang menyakitkan. Bagaimana bisa ia menjawab? Mana mungkin segamblang itu ia mengatakan bahwa Uzumaki Naruto adalah jelmaan Kyuubi? Monster rubah ekor sembilan yang menyerang Konoha dua belas tahun lalu? Mana tega ia mengatakannya kepada putra Naruto sendiri. Mana mungkin. Kalaupun Boruto harus tahu, anak ini harus mengetahuinya langsung dari mulut Naruto sendiri, Bukan dari orang lain.

"Boruto, Dengarkan aku. Semua orang memiliki alasan. Dan mengenai alasan itu, kami tidak bisa mengatakannya padamu." Kakakshi angkat suara.

"OMONG KOSONG!" Hardik Boruto.

Uzumaki Boruto terengah. Ia menatap kedua orang dewasa di depannya dengan pandangan terluka. "Kalian sama saja. Kalian juga tidak menginginkan Tou-chanku, bukan?! Kalian berpura-pura bersikap baik padanya hanya karena dia adalah anak Yondaime 'kan?!"

Kakashi dan Hokage ketiga terbelalak. Anak ini... Ia tahu soal siapa ayah Biologis Naruto. Apa mungkin Naruto di masa depan telah mengetahui siapa Ayah dan Ibunya? Sandaime tahu cepat atau lambat Naruto pasti akan mengetahui siapa orang tua yang telah melahirkannya kedunia. Dan Naruto bahkan menceritakannya pada anak-anaknya. Tapi kenapa? Kenapa Naruto tidak memberitahukan putranya sendiri soal masa lalunya dan juga soal Kyuubi yang besemayam didalam tubhnya? Apa alasanmu Naruto?

"AKU BENAR BUKAN?!"

Mata Boruto berkaca-kaca. Ia sudah tidak tahan berlama-lama ditempat ini. Ia muak. Ia muak terhadap segala hal yang bersangkutan dengan zaman ini. Karena itu, Uzumaki Boruto berbalik, kemudian membanting pintu masuk ruangan Hokage dan berlari sekencang mungkin.

Ini mengerikan. Kenapa ia baru mengetahui perihnya masa lalu sang ayah sekarang?! Seandainya Ayahnya lebih terbuka dan menceritakan soal masa lalunya lebih awal, ia pasti...

Seandainya... Seandainya...

Bruk!

Boruto terhuyung kebelakang ketika dirinya menabrak seseorang. Bocah dengan headband hitam itu tidak lantas membungkuk dan minta maaf seperti yang selalu ibunya selalu ajarkan, Ah.. peduli apa? Kepalanya terlalu pusing untuk melakukan itu semua!

"Boruto?"

Boruto terperanjat. Suara ini..

Mengangkat wajah. Berbagai macam emosi bercampur dihatinya kala Boruto menatap wajah itu. Boruto bahkan sudah tidak bisa lagi membayangkan bagaimana ekspresi wajahnya sekarang.

Dengan susah payah bibirnya menyebutkan nama orang itu, "Naruto.."

Uzumaki Naruto tersenyum canggung. Ia menyilangkan tangannya dibelakang kepala, "Kau sudah selesai mendapatkan omelan Sandaime?"

"..."

"Kau tahu, Aku sering lolos dari omelannya kalau aku menggunakan Oiroke no Jutsu secara mendadak. Haha. Itu menyenangkan-ttebayo." Canda Naruto. Boruto tak merespon, ia masih diam sambil menatap Ayahnya dengan tatapan kosong.

Naruto memiringkan wajahnya polos, "Boruto? Kau mendengarku?"

Tak ada jawaban.

"O-Oy. Apa kau sakit?"

Masih tidak ada jawaban.

Naruto meraih tangan Boruto lantas berseru khawatir, "Ayo kita periksakan dirimu di rumah sakit. Aku takut-" –Set.

Belum sempat Naruto menyelesaikan perkataannya, Boruto menepis tangan Naruto ditangannya. Membuat Uzumaki Naruto terpaku ditempat. Ada apa dengan anak ini?

"Jangan sentuh aku." Ujar Boruto dingin. Naruto memberengut sebal, "Apa yang kau bicarakan?"

Boruto menampakan wajah tidak sukanya. Pandangannya menajam, air mukanya menggelap. "A-Apa yang terjadi padamu?" Tanya Naruto lagi.

"Berhentilah bersikap sok baik. Itu memuakan." Seru Boruto sarkatis. Naruto mundur selangkah. Boruto didepannya ini bukan seperti Boruto yang ia kenal. "Kau ini bicara apa?" Lagi, Naruto bertanya.

Uzumaki Boruto berdecih, "Berhentilah bertingkah seolah semuanya baik-baik saja! Dan berhentilah bertingkah seperti kau tidak tahu apa-apa!"

Naruto memutar otaknya. Sebenarnya kemana arah pembicaraan Boruto? Apa maksudnya perkataan Boruto tadi?

"Kenapa kau tidak membalas...?" Tanya Boruto akhirnya. Bocah itu menatap ayahnya dengan pandangan yang semakin menajam. "Membalas apa maksudmu?" Naruto bertanya balik.

"MEREKA!" Bentak Boruto langsung. "Warga desa.. Kenapa kau diam saja? Diperlakukan seperti itu.."

Mata Naruto melebar.

"KENAPA KAU MAU MELINDUNGI DESA YANG TELAH MEMBUATMU MENDERITA SEPERTI SEKARANG?!" Boruto tahu, seharusnya pada Naruto di masa depanlah pertanyaan ini ditujukan. Tapi apa pedulinya? Saat ini yang berdiri didepannya adalah orang yang sama. Orang didepannya tetaplah seorang Uzumaki Naruto. Ayahnya.

"..."

"KENAPA KAU TERIMA DIPERLAKUKAN SEPERTI SAMPAH?! KENAPA KAU MEMILIH MENJADI PECUNDANG?! KENAPA!?"

Kau mungkin bisa menerimanya, Tapi aku tidak! Sebagai anakmu, mana bisa aku terima kau direndahkan!

Ledakan emosinya sudah tak bisa ditahan lagi. Kali ini Boruto menumpahkan seluruh emosinya. Masa bodoh dengan semesta. Boruto mencengkram kasar kerah jaket Orange milik Naruto, "JAWAB AKU PECUNDANG! KAU TAHU AKU MEMBENCI DIRIMU YANG LEMAH SEPERTI INI! AKU BENCI UZUMAKI NARUTO YANG PENGECUT SEPERTI INI!"

Mata Naruto berkilat emosi. Cukup!

Naruto melepaskan cengkraman Boruto dikerah bajunya tak kalah kasar. Tertunduk sesaat, "...Apa yang kau tahu soal diriku?" Gumam Naruto menyerupai bisikan.

"!"

Manik Naruto berkilat marah, balik menatap anak blonde yang mirip dengannya dengan wajah geram.

"Apa kau berpikir aku tidak ingin membalas?!" Tanya Naruto setengah menggeram. "Apa kau berpikir semudah itu aku menerima semua perlakuan buruk yang kerap kali menghujamiku?!"

Boruto mundur selangkah, Apa katanya? "Kau pikir aku akan diam saja selamanya?! TIDAK!"

Uzumaki Naruto tidak tahu apa yang telah merasuki dirinya. Dalam hati ia berusaha menghentikan dirinya sendiri untuk tidak berteriak kepada Boruto. Entah kenapa hati kecilnya tidak terima.

"KAU SALAH MENILAI DIRIKU!" Lagi-lagi Naruto menundukan wajahnya. Memejamkan matanya erat-erat,

Uzumaki Naruto mengangkat wajahnya. Ia menggertukan giginya kesal, "ORANG ASING SEPERTIMU TAHU APA SOAL AKU!?"

Mata Boruto melebar. Perkataan ayahnya barusan tepat menikam hatinya. Bagai katana yang langsung ditembuskan dari dada hingga punggungnya. Sakit.

Boruto mencengkram kaos bagian dadanya, seolah menahan nyeri. Tak pernah terlintas dipikirannya sang ayah akan mengatakan hal yang sedemikan menyakitkan. Baginya, Tidak masalah semua orang di zaman ini menganggapnya orang asing, siapa saja asal bukan orang tuanya, Bukan Tou-chan dan Kaa-channya.

Tapi tak selamanya semesta mengabulkan apa yang kita harapkan, Kenyataan menamparnya dengan begitu menyakitkan. Ayahnya malah menganggapnya orang asing sama seperti yang lain. Ayah yang coba ia lindungi tadi siang malah balik menyerangnya.

Ini menyakitkan. Inikah balasan Naruto setelah Boruto mati-matian membelanya siang tadi?

Uzumaki Boruto mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ayahnya memang benar. Boruto tak tahu apapun soal Naruto. Ia tidak mengerti, dan tidak akan pernah mau mengerti.

"PECUNDANG!" Teriak Boruto.

Uzumaki Boruto menubruk pundak Naruto dan berlari sekencang mungkin dengan wajah tertunduk. Berusaha menyembunyikan wajahnya dari siapapun. Naruto tidak mengejarnya. Kh! Tenang saja, Borutopun tak mengharapkan ayahnya mengejarnya.

Boruto terus berlari tak tentu arah. Ia tidak peduli jika ia tersesat, yang ia pikirkan sekarang adalah pergi sejauh mungkin dari ayahnya.

Bocah pirang dengan jaket hitam itu mencengkram kaosnya lebih kuat. Berandai bahwa yang ia cengkram adalah hatinya sendiri. Berandai dengan tangannya sendiri ia bisa menghancurkan hatinya, agar ia tak bisa merasakan apapun lagi. Agar ia tak bisa merasakan sakit lagi.

.


Boruto melangkah gontai. Ia lelah berlari seharian tanpa tujuan yang jelas. Pandangannya kosong, begitu pula pikirannya. Ia muak memikirkan hal yang semakin memberatkan otaknya.

Bocah itu memandangi sekitar. Ia mendapati dirinya ada di tempat yang tidak asing. Bangunan didepannya mengingatkannya pada suatu bangunan yang ada di masa depan, tempat seharusnya ia berada.

Gerombolan anak-anak disana berlomba-lomba keluar sambil menggendong tas. Beberapa anak menghampiri orang tuanya yang sudah menunggu didepan pintu gedung masuk.

Tak perlu berpikir dua kali, Boruto dapat langsung menangkap gedung apa didepannya ini. Akademi Konohagakure.

Langkah kakinya membawa bocah dari masa depan itu ke sebuah ayunan sederhana yang diikat kuat didahan sebuah pohon besar. Boruto mendudukan dirinya di ayunan itu tanpa melepaskan pandangannya dari akademi.

Gedung itu membuatnya bernostagia. Otaknya kembali memutar saat-saat dimana dirinya masih seorang murid akademi.

Saat itu, Akademi mengadakan pertemuan Ayah dengan murid –Acara ini didedikasikan untuk hari ayah yang baru pertama kali diadakan di akademi. Disana, Murid-murid calon genin diminta untuk unjuk kebolehan didepan para Ayah yang hadir hari itu. Semuanya tampak gembira dan berlatih demi mempersembahkan pertunjukan terbaiknya. Ya, semua orang. kecuali Boruto.

Percuma saja, Saat itu Boruto tahu ayahnya tak akan datang, karena itu Boruto memilih duduk dibangku paling belakang. Boruto duduk diam ketika pagelaran berlangsung, sambil menahan kecewa karena hanya ia satu-satunya yang duduk tanpa seorang ayah disampingnya. Silih berganti, teman-temannya mempersembahkan kehebatan mereka dengan wajah bangga. Boruto berdecih, Seharusnya ia ikut saran Sarada untuk tidak datang. Yeah benar, Kalau ibunya tidak memaksanya datang kemari, ia tidak akan sudi datang dan malah berakhir dengan terlihat menyedihkan seperti ini.

Rasa sakit yang Boruto rasakan memuncak kala melihat teman-teman sebayanya turun dan memeluk ayah mereka dengan perasaan senang. Boruto mendengar tepuk tangan yang meriah mengiringi teman-temannya. Saat itu, dimata Boruto, kehidupan teman-temannya terlalu sempurna. Terlalu bahagia.

Dan Uzumaki Boruto menuntut keadilan.

Entah dorongan apa yang Boruto rasakan waktu itu, tapi bocah dengan marga Uzumaki itu merasa iri pada teman-temannya. Iri karena mereka memiliki ayah yang selalu ada disampingnya. Kesal kerena kebahagian yang mereka rasakan saat itu adalah hasil jerih payah ayahnya menjaga kedamaian Konoha hingga mengorbankan waktu bersama anak-anaknya. Ayahnya selalu menjaga kehangatan keluarga-keluarga lainnya tanpa menyadari bahwa keluarganya sendiri hampir membeku.

Memang benar kata pepatah, jika kau menginginkan sesuatu, pasti akan ada pengorbanan yang menyertainya. Dan benar, Ayahnya telah mengorbankan dirinya, ibunya, serta Adik kecilnya demi Konoha. Keluarga seorang Hokage tak ubahnya seekor tumbal. Menyedihkan.

Suara perut membuyarkan lamunan Boruto. Merogoh sakunya, kemudian mendecih kesal, "Sialan. Aku lupa aku tidak punya uang sepeserpun."

Boruto mengusap pelan perutnya. Dirinya berandai, haruskah ia kembali ke kediaman Hyuuga dan meminta makanan kepada Hinata juga kakeknya? Oh, Ayolah, Ia punya cukup malu untuk datang kesana bagai peminta-minta.

Boruto meringis. Kenapa ia jadi merasa kasihan kepada dirinya sendiri?

Tuk!

Boruto menoleh cepat kala kepala belakangnya disentuh pelan oleh sesuatu. Bocah itu memajukan bibir bawahnya sebagai tanda ia tidak menyenangi kedatangan orang dibelakangnya. "Apa yang kau lakukan disini, Sandaime?"

Hokage dengan tubuh ringkih itu terkekeh pelan, ia melemparkan sebuah onigiri kearah Boruto, yang dengan cepat bocah itu tangkap dengan kedua tangannya.

"Makanlah."

"Ini tidak akan membuatku kenyang-ttebasa." Tukas Boruto.

Sandaime tak lantas menjawab. Pria itu malah berjalan ke belakang tubuh Boruto, mengulurkan tangannya dan mengayunkan ayunan yang tengah diduduki Bocah itu perlahan. Boruto tidak menolak –atau tidak peduli- dan memilih untuk melahap onigiri sedang ditangannya.

Sekejap, keadaan benar-benar hening. Hanya suara angin yang sesekali membelai kulit wajah. Boruto membiarkan angin menerpa wajahnya, menerbangkan poninya bergerak kesana-kemari seiring gerak ayunan.

Manik sebiru lautan itu memandang kosong pemandangan didepannya. Menatap anak-anak calon genin yang nampaknya berniat pulang dari Akademi. Boruto Mendengus, "Lihat mereka. Mereka tertawa tanpa mengetahui beban yang tengah ditanggung ayahku saat ini."

Sandaime melirik Boruto dari ekor matanya. Ia sedang mencari kata-kata yang tepat untuk disampaikan pada anak tanggung dari masa depan ini. Benar, Boruto bukan tipe anak yang semudah itu mendengar perkataan orang lain. Sarutobi Hiruzen membutuhkan kalimat ampuh untuk membuat Uzumaki muda ini takluk dan tidak mampu lagi menyangkal argumennya. "Bagiku, Tawa mereka tak ubahnya sebuah cemoohan. Tsk, Menjemukan."

Boruto menggeram tertahan, "Hidup ini kadang ganjil sekali. Ada miliyaran orang, tapi kenapa hanya ayahku yang dianggap monster?"

Boruto semakin menundukkan kepalanya murung. Banyak sekali pertanyaan yang tidak bisa di jawab otaknya sendiri. Begitu banyak hingga membuat Boruto muak.

"Apa dia tidak memiliki penyesalan? Tidakkah ia membenci orang-orang yang menyakitinya? Apa tidak ingin ia balas dendam?" Tanya Boruto entah pada siapa.

Boruto dapat mendengar helaan pelan dari Hokage ketiga. Kemudian suara berat nan berwibawa itu akhirnya terdengar juga. "Salah jika kau berpikir Naruto tidak membenci warga desa.."

"Salah jika kau mengira Naruto tidak ingin balas dendam."

Boruto tersentak kecil. Namun ia coba menjaga sikap. Bocah itu ingin lebih mengetahui, bagaimana perasaan ayahnya. Seperti apa seorang Uzumaki Naruto dimata Sandaime Hokage.

"Dia bermaksud membalas dendamnya dengan menjadi Hokage.." Jeda sejenak, ".. dengan begitu, semua orang yang memandang rendah dirinya akan mengakui keberadaan ayahmu." Sebuah senyum tulus terukir diwajah Sandaime.

"Itulah yang dipikirkannya. Kecintaan Naruto pada Konoha lebih besar dari pada kebencian yang dimiliki penduduk desa. Kerna itulah, menjadi Hokage adalah impiannya.. dia sudah berjuang gigih."

Boruto mengangkat wajahnya. Senyuman Himawari dan ibunya melintas begitu saja dipikirannya, "Tapi dengan menjadi Hokage.. Dia membuat diriku serta keluarga yang kucintai terjerumus kedalam kesepian yang berbeda.. Aku tidak akan bisa memaafkannya. Tak ada cara agar aku bisa memaafkannya. Tou-chan tidak pernah mencintai keluarganya.. Sekalipun kami adalah keluarga, Aku, Himawari dan Kaa-san tidak akan pernah bisa memilikinya.."

Sandaime termenung sesaat. Untuk seusianya, Boruto tampak lebih kritis menanggapi masalah seperti ini ketimbang anak-anak sebayanya. Bocah ini bisa jadi memiliki kejeniusan yang mengerikan.

"Kau tahu Boruto, kasih sayang tak hanya dibisikan lewat kata-kata. Karena setelah kata itu hilang, tidak akan ada lagi yang tersisa." Desau angin menerbangkan jubah Hokage milik Sandaime, Menutup mata sebelum kembali melanjutkan perkataannya.

"Ada banyak sekali jenis cinta di dunia ini, Boruto. yang jika kita cinta, bukan lantas harus memiliki. Ada banyak sekali jenis cinta, yang jika kita cinta, tidak harus dibawa pulang."

Boruto merasa hatinya diremas oleh tangan tak kasat mata. Perkataan Hokage ketiga benar-benar menohok hatinya. Bocah dengan darah Hyuuga itu mencoba menyela, namun, Kata-kata itu seolah tersendat di tenggorokannya dan malah ia telan.

Sarutobi Hiruzen menatap Boruto dengan sebuah senyuman hangat, "Egois sekali, jika tetap kau lakukan, bukan?"

Kakek tua itu dapat melihat Boruto kini balik menatapnya. Tangannya terulur, mendarat tepat dipuncak kepala pirang sang Uzumaki. "Kalaupun Ayahmu tidak tahu kau dan keluargamu merindukannya, Walaupun ia tidak mengetahui kau dan keluargamu memikirkannya, Aku yakin Naruto tetap mencintai kalian." Ujarnya lembut.

"Kau tahu, Boruto? justru dengan bersikeras memaksa ayahmu pulang, perasaan yang ada didalam hatimu justru akan bermetamorfosis menjadi egoisme dan sebatas keinginan yang tidak terkendali saja."

"..."

"Maka setidaknya kau harus bersyukur. Aku tidak tahu persis seperti apa masa depan. Tapi, jangan berkaca dari Naruto di masa depan, belajarlah tentang bagaimana Naruto bisa mencapai titik itu. Kau paham?"

Kakek dari Sarutobi Konohamaru itu tidak bisa melihat seperti apa reaksi yang kini terpampang di wajah Boruto, karena anak itu menunduk dan poninya yang menjuntai menghalangi wajahnya. Tapi dengan jelas, ia dapat menangkap gerakan kepala si bocah pirang, Mengangguk. Meski pelan, Dengan jelas, anak keras kepala itu mengangguk.

Sandaime tersenyum senang.

Ia melangkah maju, memutari tubuh Boruto dan memunggunginya. "Yah, sebenarnya aku datang kesini bukan hanya untuk menceramahimu saja, anak muda."

Sandaime cukup yakin kali ini Uzumaki Boruto mengangkat wajahnya dan menautkan alisnya heran. Tak mau bertele-tele, Hokage dengan jubah bertuliskan 'Sandaime' itu menoleh kearah Boruto.

"Ujian Chunnin akan diselenggarakan seminggu lagi." Ujarnya dengan wajah serius. Boruto bangkit dari ayunan yang sedari tadi didudukinya, "Ujian Chunnin kau bilang?" Ulang Boruto tak mengerti.

Hokage ketiga mengangguk mantap membenarkan. "Uzumaki Boruto. Kau. Berpartisipasilah dalam Ujian Chunnin kali ini."

~À Suivre~


A/N: Arigatou sudah sabar menunggu ff ini :') Bieber berjuang keras demi melanjutkan ff ini, sungguh! Terima kasih telah bersedia menunggu ya :3 Ah, chapter kali ini cukup complicatid buat Bieber sendiri. Bieber tanya sana-sini demi kelancaran chapter ini :') Terlebih, Ada sedikit emosi pribadi di bagian-bagian tertentu, Habis, ceramahannya Sandaime ngingetin Bieber sama Papa Bieber :') #MalahCurhat# Dan Voila! Beginilah hasilnya. Maaf jika tidak sesuai seperti apa yang kalian ekspetasikan TwT)/

Tak lupa ungkapan Terima kasih Bieber kepada Ajeng Ratna Dewi (Dera Shinka) yang sudah banyak membantu –Uhuk (sebenernya dia –sedikit- maksa Bieber buat tulis namanya di A/N kali ini '3' #digaplok) Terima Kasih untuk idenya ya :3

Yuk, langsung ke sesi tanya jawab ^ ^

Q: Btw kok Ino tau Boruto?

A: Seperti yang Ino bilang sebelumnya, Mungkin karena cinta? #digaplok#

Q: Bieber-san.. kemana aja?

A: Ada :'D Tapi lagi sibuk sekolah. Yah, Begitulah(?)

Q: boleh saya request? chap depan bisakah naruto memukul boruto di awal adegan?

A: Bieber hargain masukannya X'D Rencana awal juga mau Bieber bikin kaya gitu. Tapi Bieber urungkan. Karena ada saatnya Boruto memukul Naruto di saat yang tepat :3 *liat plot cerita*/?

Q: Selain masa kelam naruto, apa masaa kelam keluargaa hyuuga juga akan dibahas?

A: Bieber masih pikir-pikir dulu buat yang satu ini. Hm, Bisa dipertimbangkan sih :D

Q: hinata ada potensi bangkitin tenseigan gak y?

A: Hinata masih belia disini. Rasanya gak mungkin bisa membangkitkan Tenseigan X'D

Q: Btw gimana kabarnya?

A: Baik :'D Terima kasih sudah bertanya :'D

Q: Pokoknya senpai gak boleh bolos cuma buat ke bioskop, TO udah mulai kan? UN udah dekat, harus sabar dong, download aja kan bisa:(
Nanti kalau udah selesai UN senpai up nya sehari sekali ya?:'3

A: *sungkem* Maafkan anakmu yang lalai ini, Mah. Sudah kepalang nonton dan anakmu ini sama sekali gak menyesal udah bolos sekolah Cuma buat nonton Boruto :'D #digiles# Sehari sekali? Ya... Diusahakan lah X'D/?

Q: Udah kls XII kan? Jngan lupa blajar ya,,...!

A: Iya :'D Ini Bieber sedikit baper diperhatiin kaya gini *blushu*/no

Q: ini brp chapter lagi mau tamat kak ?

A: Hmm... Kurang tahu :'3

Q: Adakah Boruto-Neji?

A: pasti adaaa! Harus adaaaa! XD

*peres keringat* Cukup dulu ya sesi tanya jawabnya X'D Bieber seneng banget sama tanggapan-tanggapan kalian yang luar biasa XD Terima kasih sudah setia menunggu ff ini ya! Bieber janji ff ini tidak akan discontineud :D

Akhir kata,

Mind to Review?