Boruto's Time Adventure

.

Naruto © Masashi Kishimoto

~This story is Mine~

Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll

.


~Don't like Don't read~

Happy Reading, Minna-san


.

"Uzumaki Boruto, kau bilang?"

"Ya."

Sarutobi Hiruzen kini berada di ruangannya bersama dua orang yang sangat berpengaruh di desa Konoha. Kedua orang yang kurang lebih sebaya dengannya. Mendesah pelan, "Aku yakin kalian sudah mendengar kabar mengenai dirinya, bukan?" Tanya sang Sandaime Hokage sambil menghisap cerutunya tenang.

Mitokado Homura membenarkan letak kacamatanya yang merosot turun. Ia balas menatap Hokage ketiga bingung, "Tentu kami sudah mendengarnya. Dengan segala kehebohan yang dibuatnya, mustahil kami tidak mengetahui keberadaan bocah itu." Balas si orang tua sembari menutup matanya, seolah berpikir.

"Apa kau yakin soal ini, Hiruzen? Maksudku, Kita bahkan tidak tahu asal-usul yang jelas soal anak itu. Bisa jadi dia adalah musuh yang menyamar. Kau tahu, jutsu semacam Kage Kagami Shinten no Hō" Timpal Utatane Koharu –Patner Homura.

Hokage ketiga menyamankan duduknya. Ia menopang wajahnya ditangan kemudian berseru, "Dia bukan musuh. Aku dan Hatake Kakashi bisa menjaminnya."

Kedua tertua desa itu bersitatap. Mereka jelas bingung. Kenapa bisa sang Sandaime Hokage bisa segampang itu menaruh kepercayaannya kepada orang asing yang mirip dengan Jinchuriki Kyuubi itu?

Kedua tertua Konoha itu memang belum bertemu si bocah asing itu secara langsung, namun dari kabar yang beredar, Bocah itu sangat mirip dengan Uzumaki Naruto, baik dari segi rupa maupun segi sifat. Keduanya terus saja dihantui pertanyaan 'siapa sosok Uzumaki Boruto sebenarnya? Dari mana ia berasal?'

Sekali-dua kali, Homura dan Koharu mendatangi Hokage Ketiga dan bertanya padanya identitas asli dari Uzumaki Boruto -Bagaimanapun, Sarutobi Hiruzen adalah seorang Profesor jenius, Sang Hokage ketiga pasti tahu kebenarnya lebih dulu dari siapapun–itu pikir mereka.

"Lebih dari itu, Apa kau yakin kau akan mengikutsertakannya kedalam ujian Chunnin kali ini, Hiruzen?" Tanya Homura

Hokage dengan tubuh ringkih itu mengangguk mantap. Sebuah kurva terbit diwajahnya yang semakin menua. "Anak itu.. memiliki kejeniusan seorang Shinobi dari semenjak ia lahir. Aku tertarik dengan kekuatan yang dimilikinya." Ujar Hokage ketiga dengan nada melamun. Kedua tertua desa itu kengangkat sebelah alisnya. Si kakek dengan kacamata –Homura- itu berdehem sekali, "Dia hanya seorang Genin. Jangan melebih-lebihkan begitu, Hiruzen."

Sandaime memfokuskan pandangannya kearah sebuah bola kristal –yang biasa ia gunakan untuk mengawasi setiap inchi penjuru desa. Nampak personifikasi seorang anak muda dengan jaket hitam dengan Headband yang senada. Anak muda dengan surai keemasan serta mata sebiru lautan yang ia warisi dari ayahnya. Anak dari Uzumaki Naruto di masa depan. Uzumaki Boruto.

"Bukan melebih-lebihkan. Aku hanya merasa Boruto memiliki kemampuan yang menarik.." menggantung kalimatnya sejenak, Sandaime memutar kursinya kearah jendela besar dibelakangnya, kemudian melanjutkan, "..sama seperti Naruto. Aku merasa Boruto memiliki kekuatan yang bisa merubah masa depan.. menjadi lebih baik lagi."

.


.

"E-Eh?! K-kau bercanda 'kan?"

Menghisap cerutunya tenang, Sembari menghembuskan asap dari mulutnya Sandaime Hokage menjawab, "Apa aku terlihat sedang bercanda, Uzumaki Boruto?"

Bocah dengan nama Uzumaki Boruto itu maju menghadang sang Hokage, untuk genin seusianya, menghadang seorang Hokage adalah tindakan yang luar biasa tidak sopan, tapi siapa peduli? Faktanya Uzumaki Boruto bukan Genin biasa.

"Aku baru saja menjadi seorang Genin dan aku yakin aku sudah mengatakannya padamu! Kalau kau tidak lupa, Tujuanku disini adalah untuk mencari jalan pulang kembali ke tempat asalku. Aku tidak punya waktu untuk mengikuti Ujian Chunnin atau semacamnya!" Tolak Boruto mentah-mentah.

Sarutobi Hiruzen menghembuskan napasnya. Sudah ia duga yang keluar dari mulut anak keras kepala ini adalah penolakan. "Ujian Chunnin bukan ujian sembarangan. kau seharusnya bangga, aku sendiri yang mempromosikanmu untuk turut serta dalam ujian Chunnin kali ini."

Boruto melipatkan tangannya didepan dada, "Aku tidak merasa harus berbangga diri karena itu-ttebasa." Cibirnya kesal.

Sebutir keringat seukuran biji jagung muncul di pelipis Sandaime. Yah, apa boleh buat, Ia terpaksa harus mengeluarkan kartu Asnya.

"Ujian Chunnin adalah ujian yang harus dilakukan seorang Genin agar dipromosikan sebagai Chunnin. Asal kau tahu, pada Zaman ini seleksi ujian Chunnin sangat ketat, dan bahkan kemungkinan adanya korban jiwa tak terbantahkan." Jelas Sandaime tanpa menatap langsung manik kebiruan Boruto.

Boruto mengeryitkan alisnya. Lantas apa hubungannya dengannya? Tidak ada gunanya jika dirimu menjadi seorang Chunnin di dunia yang seharusnya bukan tempat dimana kau harus berada.

".. Dan.. Hinata juga akan ikut serta."

Bocah dengan surai keemasan itu mengangkat wajahnya cepat. Ekspresi wajahnya dengan jelas menampilkan gurat keterkejutannya. Berpuluh-puluh pertanyaan muncul di kepala Boruto, Tapi dari pada memikirkan itu, yang lebih mengambil alih pikirannya saat ini adalah, Hinata, Ibunya akan ikut serta dalam ujian Chunnin.

Mengeratkan kepalannya, Gurat kekhawatiran tercipta jelas diwajah Boruto yang bulat, "Apa Hinata akan baik-baik saja?"

Sebuah senyuman kembali mengembang diwajah Sarutobi Hiruzen. Dugaannya tepat. "Aku tidak bisa menjaminnya."

Pikiran Boruto kembali berkecamuk. Kekhawatiran pada ibunya tak bisa ia bendung lagi. Ia tidak ingin ibunya terluka. Ia tidak mungkin membiarkan ibunya terkena masalah. Ia tidak akan membiarkan ibunya terperangkap dalam bahaya. Tidak. Selagi dirinya masih hidup, ia tak akan membiarkan seorangpun melukai Kaa-san yang teramat ia sayangi. Kaa-sannya serta Himawari adalah orang-orang paling berharga yang dimilikinya, Boruto tidak bisa membayangkan seperti apa kehidupannya tanpa dua malaikat bersurai indigo itu.

Tapi kini, apa yang mesti ia lakukan? Ia tidak yakin ibunya bisa melewati Ujian yang bisa memakan korban jiwa seorang diri. Harus ada seseorang yang melindunginya. Dan sosok sang ayah yang masih bocah sama sekali tak bisa ia andalkan.

Boruto mengacak poninya kasar. Sial. Ia harus memilih. Ia tidak bisa fokus mencari jalan pulang untuk kembali kemasa depan sedangkan Hinata dalam bahaya. Sialan, tak ada pilihan lain.

Boruto mengangkat wajahnya mantap. Sandaime sempat takjub begitu maniknya menangkap sorot keyakinan yang terpancar dari iris Boruto. "Biarkan aku ikut Ujian Chunnin-ttebasa!"

Sandaime mengusap dagunya, pura-pura bersikap heran, "Hoo.. Semudah itu kau berubah pikiran, Eh, Boruto?"

Sekelebat bayangan Hinata muncul dibenaknya. Sosok Hinata dewasa hingga menyusut menjadi sosok Genin. Sosok ibunya yang selalu tersenyum. Ibunya yang selalu menatapnya lembut. Pandangan dari manik seindah bulan itu tak pernah berubah ketika menatapnya. Tetap hangat dan menenangkan, baik di zaman ini ataupun di masa depan.

Boruto mengepalkan tangannya. Mengangkat kepalan tangan kanannya hingga sebatas dada, menatapnya sungguh-sungguh. "Aku ingin melindunginya. Apapun yang terjadi, Akan kupastikan dia tidak akan mendapat masalah.."

Tangan kiri milik Boruto ikut naik. Mata secerah langit milik Boruto menatap lurus kearah kedua tangannya yang terkepal kuat. "..Aku akan menjaganya dari jauh dengan kedua tanganku!"

Sandaime Hokage tertawa pelan. Semilir angin menbelai wajahnya yang menua, "Aku suka gagasan itu. Berjuanglah, Boruto."

Boruto menoleh menatap sang Hokage tua itu dengan pandangan heran. Bocah itu memicingkan mata seolah tersinggung, bersidekap lantas berkata, "Hentikan tawamu. Lagipula, Kalau tidak salah, Syarat utama mengikuti Ujian Chuunin adalah dengan kelompok tiga orang. Dimana aku mencari anggota Timku lainnya dalam keadaan mendesak seperti ini-ttebasa?"

Hokage ketiga menghentikan tawanya. Ia cukup kagum dengan cara berpikir bocah Uzumaki didepannya. Pemikiran yang rasanya sangat timpang dengan Naruto.

"Kau tenang saja. Aku sudah menyiapkan Teammatemu." Jawab si Hokage tua. Boruto memiringkan wajahnya polos, "Sungguh?"

Sebuah anggukan Sandaime berikan demi menjawab pertanyaan Boruto. Lengkungan penuh keyakinan diwajahnya belum juga hilang. Boruto memamerkan senyuman secerah Mentari bulan Juni miliknya. Tekad dan semangat tercermin dengan jelas dimanik lazuardi si sulung Uzumaki. Ya, Boruto telah memantapkan hatinya. Ia akan melindungi Hinata –ibunya- di Ujian Chuunin nanti. Hanya itu tujuannya.

.


"Haahhhhhhh."

Boruto melirik kesal kebelakang, "Berhentilah mengikutiku." Serunya jengkel. Orang dewasa yang sedari tadi mengekor dibelakangnya hanya mengulas senyum tipis dibalik topengnya.

"Apa kau akan berkencan dengan seseorang, Boruto?"

Kekehan menggoda terdengar. Boruto memutar bola matanya jengah, "Terserah apa katamu, Hatake Kakashi-san!"

Hatake Kakashi menjajarkan langkahnya dengan si pirang yang tengah menggerutu tidak jelas. Pria dewasa dengan surai silver itu menjejalkan tangannya kebalik saku celana, "Jadi, Sampai kapan kau akan menghindar dari Naruto, huh?"

Langkah Boruto terhenti. Dengan enggan ia menolehkan kepalanya, "Siapa yang menghindari siapa?" Tanya sang Uzumaki ogah-ogahan. Kakashi mendelikan bahunya, "Kau tahu maksudku."

Uzumaki Boruto menghela napasnya gusar, kemudian berseru, "Aku tidak menjauhinya, Aku hanya sedang sibuk mempersiapkan diri untuk ujian Chunnin nanti."

"Kau? Mengikuti ujian Chunnin? Hah –maksudku, sejak kapan?"

"Sejak aku di promosikan oleh Sandaime. Haha, Sebenarnya aku tidak tertarik mengikuti Ujian Chunnin. Tapi, Ada hal yang harus awasi selama ujian berlangsung." Jelas Boruto sembari menjadikan kedua tangannya bantalan kepala. Kakashi memasang tampang bingungnya. Sepertinya ia melewatkan banyak hal. Padahal ia bertugas mengawasi tindak tanduk Boruto di zaman ini, Kenapa hal sepenting ini tidak diketahuinya? seingatnya ia tidak pernah melepaskan pengawasannya terhadap Boruto.

"Apa maksudmu 'hal yang harus awasi'?" Tanya Kakashi sambil mengelus dagunya heran. Boruto menatapnya dengan sebelah alis terangkat, "Kenapa aku harus memberitahukannya padamu?"

Kakashi mendengus pelan. Ia tidak menjawab. lebih tepannya ia tidak tahu bagaimana cara membalas perkataan bocah Uzumaki disampingnya. Boruto benar, siapa dirinya berani mendesak anak itu?

"Tidak masalah kau tidak ingin menjelaskannya, Lebih dari itu, kau harus menjelaskanku soal keikutsertaanmu dalam Ujian Chunnin kali ini. Bagaimana bisa Sandaime semudah itu mempromosikanmu?"

Uzumaki Boruto mengangkat bahunya sekilas. Ia memandang Kakashi-sensei dengan senyuman sombongnya. "Karena aku ini Shinobi jenius?"

Tawa kecil meluncur mulus dari bibir Kakashi, "Berhenti mengada-ada."

Boruto mengembungkan pipinya. Baru saja ia berniat membalas perkataan Kakashi, Suara sehangat mentari menyapa indra pendengarannya di waktu yang tepat. Teramat tepat malah. "B-Boruto!"

Uzumaki sulung itu meloleh cepat. Senyuman lebar otomatis terukir diwajah bulatnya tanpa bisa ia kontrol. Ah, bagaimana bisa dengan melihat sosok itu saja bisa membuat Boruto tersenyum sebahagia ini?

Lantas, Bibirnya mengucapakan sebuah nama dengan cerianya, "Hinata!"

Hatake Kakashi diam ditempat. Memerhatikan si bocah pirang yang kini berjalan cepat kearah gadis mungil yang bernama Hinata. Menimbang-nimbang, haruskah ia bergabung dengan Boruto dan Hinata? Tapi dilihat dari sisi manapun, Kakashi terlihat seperti sedang berusaha mengganggu acara kencan anak muridnya. Oh, menggelikan. Kakashi-sensei menggelengkan kepalanya pelan, kemudian helaan napasnya menyusul. Bagai manapun tugasnya adalah mengawasi tindak-tanduk Boruto, Lagipula ia tidak bermaksud mengganggu kegiatan Boruto dan ibunya.

Kakashi berjalan santai kearah dua genin yang tengah berbincang hangat itu, "Wah, Apa kalian akan berkencan, Boruto? Hinata?"

Kakashi dapat merasakan lirikan tajam Boruto mengarah padanya, namun ia mencoba bersikap tak acuh dengan mengabaikan tatapan mematikan milik si Uzumaki. "B-Bukan. K-Kami tidak.. A-Ano.." Hinata dengan wajah memerahnya mencoba menyangkal. Gadis manis dengan surai indigo itu nampak kesulitan menjelaskan hingga terbata saking malunya.

Boruto menatap Hyuuga Hinata sejenak, hingga kemudian berinisiatif mengambil alih pembicaraan, "Kami akan berlatih bersama untuk menghadapi ujian Chunnin. Hiashi-ojiisama memintaku melatih Hinata sampai batas waktu yang ia tentukan." Jeda sejenak, Uzumaki Boruto memasang wajah jengkelnya yang khas, "Tunggu, kenapa aku menjelaskannya padamu?"

"Karena kau mencoba membantu Hinata menjelaskan?" Kakashi mengusap belakang kepalanya.

"Ah, ya. Benar."

Menolehkan kepalanya kearah sang gadis Hyuuga, "Jadi, Hinata. Kau juga akan mengikuti Ujian Chunnin, eh?" Tanya Kakashi sembari tersenyum. Hinata mengangguk mengiyakan. Sepersekian detik kemudian, pipi sang Hairess Hyuuga merona, mempermanis wajahnya, "A-Ano.. N-Naruto-kun..?"

Hatake Kakashi tertawa, kemudian menjawab ramah, "Ya, dia juga ikut."

Manik biru Boruto dapat menangkap ekspresi Hinata yang ketara senang. Bocah dengan marga Uzumaki itu mendengus senang. Boruto mengusap keningnya pelan, senyuman Hinata mengundangnya untuk tersenyum juga. Astaga, Sudah ia duga, Ayahnya adalah bajingan yang beruntung.

"Jadi.. Kita akan berlatih dimana?" Boruto kembali bersuara. Hatake Kakashi mengangkat alisnya ketika ia merasa suara bocah Uzumaki itu melembut. Hinata tersenyum, lantas menjawab, "B-Bagaimana kalau d-di tempat latihan tim delapan yang biasa?"

Boruto mengusap dagunya, "Baiklah. Dimanapun tidak masalah." Jawabnya menyetujui. Lalu, manik sebiru laut milik putra Nanadaime itupun menatap satu-satunya Jounin disana dengan tatapan malas. "Kau boleh berhenti mengikutiku-ttebasa."

"Aku tidak mengikutimu, Sungguh." Kakashi mengibaskan sebelah tangannya didepan wajah, kemudian menambahkan, "Aku hanya mengawasimu karena aku peduli dengan semua masalah yang tengah kau hadapi sekarang ini."

Boruto berdecih kesal. Si sulung Uzumaki itu mendesah kesal sebelum berkacak pinggang. "Dengar, Kau tahu hanya ada garis tipis yang membedakan antara orang yang peduli dan orang yang suka ikut campur."

Alis Kakashi berkerut tidak nyaman. Siapa sangka bocah Uzumaki di depannya ini ternyata lebih menyebalkan dibandingkan ayahnya? Hey, Kalau dipikir, Borutolah yang menyulitkannya akhir-akhir ini, Ia tidak pernah bisa menyelesaikan bacaan Icha-ichanya hanya demi mengurusi setiap masalah yang bocah itu timbulkan. Seharusnya anak itu lebih bisa menjaga sikapnya –beserta ucapannya, tentu saja-.

"Kebiasaan bicaramu memang buruk, Boruto."

Kedua alis milik si pirang bertaut. Itu bukan suara Hatake Kakashi. Boruto menggeser sedikit tubuhnya lalu visualnya menangkap personifikasi teman satu tim Hinata yang suram dan misterius. Aburame Shino.

Kakashi membalikan tubuhnya. Berusaha mengembangkan senyuman ramah seperti yang biasa ia tampilkan dibalik topengnya kepada sang bocah serangga. "Ah, Shino. Kupikir siapa."

"..."

Penerus klan Aburame itu tidak menjawab. Bocah dengan high collar itu membenarkan letak kacamatanya kemudian berseru, "Apa kalian akan berlatih?"

Merasa diabaikan, Kakashi tersenyum kikuk kepada dirinya sendiri. Berada disekitar anak-anak memang membuatnya tidak nyaman. Apa sebaiknya ia pergi saja? Tidak apa 'kan kalau ia melepaskan Boruto satu hari saja? Kakashi tersenyum ketika gagasan itu terbersit dipikirannya. Ah, benar. Lagipula beberapa minggu terakhir ini ia belum mengunjungi pusara kawan lama.

"Baiklah, Aku tidak akan mengganggu kalian. Hinata, pastikan kalau hari ini Boruto tidak berulah lagi. Aku mengandalkanmu."

Sekonyong-konyong, sosok Hatake Kakashi menghilang bersama asap, meninggalkan bunyi 'bofh' yang familiar.

Boruto menjejalkan kedua tangannya ke saku celana kemudian berdecak kesal. "Akhirnya ia pergi. Ugh, Kehadirannya membuat pergerakanku tidak nyaman."

Bocah dengan dua garis yang berada di kedua belah pipinya itupun menoleh kearah Hinata dan Shino, "Jadi kita pergi latihan sekarang? Ah, Shino, kau juga mau ikut?" Boruto mengangkat dagunya seolah menunjuk kearah depan.

Boruto tak tahu ekspresi apa yang kini dipasang Aburame Shino di wajahnya. Tentu ia tak bisa. Tidak akan ada seorangpun yang bisa membaca ekspresi wajah Shino yang tersembunyi dibalik kacamata dan kerah tingginya. Boruto hanya mampu menatap balik pandangan Shino yang ditujukan padanya. "Baiklah."

Hinata Hyuuga berjalan bersisian dengan putra masa depannya, Sedang Shino mengekor dibelakang, memilih tidak bergabung kedalam obrolan-obrolan kecil yang Boruto buat selama perrjalanan. Baiklah, perlu kau catat Boruto, Selain perasaan wanita, hal yang tak pernah bisa kau mengerti lainnya adalah segala hal yang bersangkutan dengan Aburame Shino.

Yang benar saja, Kalau ia mengasingkan diri seperti itu, kenapa memilih ikut berlatih bersama kami? Batin Boruto heran.

"Akhirnya misi hari ini selesai juga. Kakashi-sensei payah! Meninggalkan kita seenaknya disaat kita sedang butuh bantuannya. Cih, Sensei macam apa itu-ttebayo."

Suara itu menghentikan langkah ketiga orang disana. Boruto dan juga gadis disampingnya tahu jelas siapa pemilik suara itu. Mendengar suara itu menimbulkan efek tersendiri pada diri keduanya, Yah meskipun dalam maksud yang berbeda.

"Bukankah itu Naruto?" Shino akhirnya angkat suara.

Sosok tim tujuh semakin mendekat. Boruto memutar otaknya demi mencari ide untuk melarikan diri saat ini. Baiklah, Boruto akui dirinya belum siap bertemu sang ayah untuk kali ini. Setidaknya jangan sekarang. Tapi andai kata jika dirinya memutuskan untuk segera angkat kaki dari sini, Apa yang akan dipikirkan Hinata –ibunya? Gadis itu sudah pasti akan tahu niatannya menjauhi Naruto belakangan ini.

Boruto menangkap Haruno Sakuralah yang pertama kali menyadari kehadiran Boruto, Hinata serta Shino disana. Gadis dengan surai bernada permen kapas itu tersenyum lebar dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Hey, Kalian!"

Tersentak, Boruto mencoba bergeser sedikit mendekati Hinata. Berusaha bersembunyi dibalik tubuh Hinata yang kecil –ia tahu bersembunyi dibalik tubuh Hinata adalah hal percuma, namun tetap ia lakukan. Uzumaki muda itu mendengar langkah Shino yang maju kedepan, menyejajarkan dirinya dengan kedua temannya.

Gadis dengan surai merah jambu itu menarik rekan setimnya yang lain mendekat kearah Boruto dan temannya. "Hai, Apa yang sedang kalian lakukan?" Sapa Sakura riang begitu jarak diantara mereka hanya bersisa satu meter.

"Kami akan pergi berlatih. Apa kalian baru selesai menjalankan misi, Sakura?"

"Seperti yang kau lihat, Shino. Misi kali ini terlalu mudah."

Untuk beberapa saat manik biru milik Naruto dan milik anaknya bertemu. Kedua Uzumaki itu tersentak lantas langsung membuang mukanya kearah lain. Tidak. Ini bahkan lebih canggung dari apa yang diperkirakan Boruto.

Alis Naruto tertekuk. Ekspresi sebalnya masih juga menempel diwajahnya. Apa-apaan si Boruto tadi? Apa maksudnya langsung membuang muka dengan wajah menyebalkan seperti tadi?

Tak mau ambil pusing, Naruto memilih bersikap seolah bocah pirang yang mirip dengannya itu tidak ada. Ya, mungkin sebaiknya begini. Bagaimanapun ia tentu tidak ingin membuat yang lainnya merasa tidak nyaman.

Uzumaki Naruto melipat tangannya dibelakang kepala. "Ah, sudahlah. Aku sangat lapar sekarang. Jadi, umm..." Manik biru milik Naruto berkilat gugup melirik gadis disampingnya, rona merah di pipi serta seulas senyuman malu menyusul setelahnya, "Sakura-chan! Bagaimana kalau kita kencan seka-" Telinga Boruto berkedut, –Duak!

Naruto terguling beberapa meter hingga punggungnya menghantam pagar kayu disana. Gadis dengan jidat lebar yang menjadi pelakunya mendenguskan napasnya keras, "Siapa yang mau berkencan denganmu, Baka Naruto!"

Boruto memicingkan matanya, "Berkencan?" tanya Boruto tidak yakin.

Jinchuriki Kyuubi itu mengaduh pelan. Kemudian ia bangkit sambil mengelus pipinya yang membiru, "Kenapa kau memukulku, Sakura-chan? Aku yang akan mentraktirmu dalam kencan kita kalau itu yang kau khawatirkan-dattebayo."

Otak jenius Boruto masih belum bisa mencerna keadaan yang sedang terjadi. Apa maksudnya ini? Hanya pertanyaan itulah yang kini menjejali otaknya.

"Shannaro! Mana mau aku berkencan dengan orang sepertimu! Lebih baik.." Emerald milik Sakura beralih menatap pemuda Uchiha yang sedari tadi diam, "Sasuke-kun, Bagaimana kalau kita–" "Aku menolak!"

Uchiha Sasuke melangkah pergi tanpa banyak bicara. Haruno Sakura menatapnya dengan wajah sedih bercampur kesal. Naruto yang tidak tahan melihat wajah gadis Haruno itu tertekuk lantas berinisiatif menghiburnya.

"Kau lihat Sakura-chan? Sasuke menolakmu, lebih baik kau menerima ajakan kencan pria tampan ini-dattebayo!"

Sakura memicingkan matanya galak, "Apanya yang tampan?! Shannaroo!" –Duak!

Pukulan di perut kini didapati si bocah Kyuubi. Naruto mengaduh keras, beruntung kali ini Sakura tidak mengikut sertakan chakra dalam pukulannya. Sakura memaksakan seulas seyum dan membaginya dengan Boruto dan yang lain, sebelum membungkuk dan pergi mengejar si bungsu Uchiha.

"Sasuke-kun, Tunggu aku!"

Boruto yang masih mematung ditempat hanya bisa menatap kepergian Sasuke dan Sakura dengan wajah tidak mengerti. Tunggu sebentar! Mengapa kinerja otaknya jadi menurun begini?

Naruto meleguh, sejurus kemudian mengusap perutnya yang terasa nyeri. Naruto tersenyum tipis, "Pukulan Sakura-chan memang menyakitkan.. Tapi seperti itulah gadis yang kusukai."

Deg!

Mata Boruto melebar. Bocah itu merasa dirinya bagai ditampar oleh tangan tak kasat mata. Apa katanya?

Boruto maju selangkah, otot rahangnya menegang, "Apa maksudnya ini?" Tanya Boruto dengan suara pelan.

Kacamata Shino bersinar sesaat. Ia menyejajarkan posisinya dengan Boruto, "Kau tidak tahu? Naruto menyukai Sakura."

Deg!

Maniknya semakin melebar. Bibirnya bergetar tanpa bisa ia cegah. Tubuhnya seolah dipaku ditanah. Boruto merasa kehilangan kendali atas tubuhnya. Pandangan sang bocah tidak lepas dari sosok sang ayah yang kini membelakanginya, memandang kepergian kedua rekannya.

Tidak mungkin. Sulit dipercaya. Astaga.

Boruto meremas dadanya. Ia berusaha menahan luapan emosi yang siap meledak dari dalamnya. Boruto menatap Shino dengan wajah syok. Seulas senyum dipaksakan ia coba tampilkan, "Jangan bercanda kau Shino."

"Aku tidak bercanda." Balas Shino datar. Aburame Shino adalah orang yang terus terang. Baik sekarang maupun di masa depan Boruto mengenal sikapnya yang seperti itu dengan baik. Aburame-sensei ini selalu mengatakan hal yang sebenarnya, kenyataannya, Faktanya.

Boruto mencoba menyangkal pikiran-pikiran yang terlintas diotaknya. Tidak mungkin ayahnya..

Shappirenya menoleh cepat kearah gadis yang sedari tadi bungkam. Gadis itu diam. Pun seulas senyum dibibirnya masih bertahan. Namun itu bukan senyuman yang biasa ia tampilkan. Senyuman getir kini bergelayut diwajah wanita yang amat Boruto sayangi.

"Bagaimana bisa.." Boruto akhirnya menemukan suaranya lagi, meskipun agak sedikit bergetar, Bocah itu berusaha melanjutkan perkataannya. "...Sakura mencintai Sasuke 'kan? B-Bagaimana bisa?"

"Justru karena aku tahu dia mencintai Sasuke.." Kali ini suara yang amat dikenalinya mengintrupsi. Boruto menelengkan wajahnya kearah Naruto. Ayahnya masih memunggungi mereka. Masih setia menatap punggung rekan satu timnya yang semakin menjauh.

Naruto tersenyum kecil, "Karena Sakura-chan mencintai Sasuke, aku akan mendukungnya mengejar cinta Sasuke.. karena aku tahu Sakura-chan mencintai Sasuke, Aku diam, Akulah yang menginginkan kebahagiaannya lebih dari orang lain.."

Boruto tergugu di tempat. Lidahnya kelu, tenggorokannya kering, Uzumaki Boruto mendapatkan dirinya tak bisa membalas perkataan ayahnya.

"Aku cemburu. Aku marah begitu melihatnya begitu bahagia disamping Sasuke. Aku selalu bertanya-tanya, Kenapa harus Sasuke? Kenapa bukan aku? Aku tak selalu bisa menunjukan perasanku padanya. Sekeras apapun aku mencoba menaklukan hatinya, Sakura-chan hanya melihat Sasuke. Hanya mencintainya..."

Boruto dapat menangkap nada keseriusan dari ucapan ayahnya. Ayahnya sungguh-sungguh. Tapi ia tidak menyukainya. Ini tidak benar. Pasti ada yang salah.

"ketika aku melihatnya menumpahkan air mata untuk pertama kalinya, Aku bersumpah aku merasakan jantungku berhenti berdetak, tubuhku seolah lumpuh, Aku hampir bisa merasakan kefrustasiaannya begitu melihat tubuh Sasuke terkapar tak berdaya di Nami no kuni." Lanjut Naruto. Suaranya berubah lirih, pandangannya masih terpaku menatap punggung si Uchiha ada gadis yang disukainya.

"Karena Sakura-chan mencintai Sasuke, Aku akan menjadi seseorang yang selalu mendukung kecintaannya pada Sasuke."

Uzumaki Boruto menoleh kearah ibunya. Hinata terlihat menghela napasnya dalam-dalam, berusaha meredakan rasa nyeri dihatinya, tanpa hasil.

"..Meskipun aku harus mengorbankan hatiku sendiri, kupikir tidak apa-apa. Asal Sakura-chan bahagia."

Setetes air mata turun dari sudut mata sang gadis Hyuuga. Boruto nyaris merasakan dunianya hancur. Tangan gadis dengan surai pendek itu menghapus cepat air mata dipipinya, kemudian sang gadis menarik ujung bibirnya sedikit, berusaha tersenyum.

Boruto merasakan matanya mulai berkaca-kaca. Uzumaki sulung itu menggertakan giginya kuat-kuat. Mengepalakan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.

Ia. Uzumaki Boruto. telah bersumpah akan membunuh siapapun yang membuat ibunya menumpahkan air matanya.

Dan sekarang. Boruto mengutuk pria yang paling berharga bagi ibunya.

"Aku akan menjadi seseorang yang akan selalu menjaga senyumnya. Itulah komitmen cintaku pada Sakura-chan."

DUAK!

Tanpa sempat menyadari keadaannya, Naruto merasakan sebuah kepalan menghantam pipinya kuat. Membuat uzumaki dengan Bijuu dalam tubuhnya itu tersungkur ditanah. Naruto merasakan rahangnya nyaris patah, darah mulai mengalir deras di sudut bibirnya.

Uzumaki Naruto merasa sebuah tubuh menduduki perutnya, disusul dengan kerahnya yang ditarik kasar.

Naruto membuka matanya. Manikya berpandangan dengan shappire yang berkilat marah. Pandangan yang mencerminkan dengan jelas keinginan membunuh pemiliknya. shappire yang sama dengannya. Shappire Boruto.

Mata Boruto dengan jelas dialamatkan padanya. Pandangan yang haus darah itu seolah ingin membunuhnya saat itu juga. Pandangan yang seumur-umur baru dilihatnya kali ini.

"B-Boruto!"

~À Suivre~

A/N: Hallo, Semua! Bieber kembali lagi ^ ^ Yak, maaf ceritanya jadi begini. Apa ada yang mau komplain? Atau maki-maki? Bieber terima dengan ikhlas dan lapang dada kok :D Bieber tahu di chapter ini bakalan ada NHL yang komplain, tapi ini demi kelancaran cerita :'3 Harap maklum ya~

Terima kasih sudah menunggu ff ini hingga sekarang. Meskipun agak sedih juga sih melihat review yang chapter kemarin sedikit sekali ( TwT) Apa kalian bosen sama ff ini? ( TwT) #udehlu#

Tapi gimana pun Bieber tetap harus lanjutin ff ini :'3 Bieber sudah janji bukan? ^^ hehe. Bagaimana chapter kali ini? Bieber tunggu tanggapan-tanggapa kalian ya! XD Maaf Bieber gak bisa secepet itu update ff, well, meskipun liburan, Bieber berubah profesi dari pelajar menjadi pembantu rumah tangga (TwT) #digorokEmak#

Langsung sesi tanya jawab yuk ^^

Q: Tapi apakah cerita Canon nya di masukin?

A: Masukin ^^

Q: Boruto ttep di dunia NH kecil ampe Sasu pergi gak?

A: Nggak, Sampai ujian chunnin XD

Q: Apa Naruto g cemburu dg kedekatan Hinata dan boruto? Yah meski Naruto masih cinta monyet dg Sakura. Kan pasti ada rasa2 gmn gt Thor.. coba itu lbh digali lagi donk.

A: Ada saatnya kok :3 #janSpoiler#

Q: apakah naruto/boruto yg membalaskan perbuatan neji pada hinata. ?

A: Ra-ha-si-a :3 #ditampol#

Q: hanya sdr mau melapor . Ada yang mengkopi cerita bieber-san . memang ceritanya tidak terlalu mirip krn ada sarada diana , tapi tetap sj trs sama. mohon tindk lnjut i. plagiat jngn didiamkan fanfictionnya brjudul : Boruto & Sarada: Our Parents Past

A: beneran deh. Ini review yang bikin Bieber ngangkat alis tinggi-tinggi. Jujur aja, Bieber juga gak pernah baca fic yang bersangkutan. Jadi soal plagiat-plagiatan Bieber juga gak bisa comment kalau belum baca langsung. Well, kita gak boleh langsung buruk sangka dulu. Mungkin benar kata Munya-chan, ff Bieber ini jadi pioner *senyum malu*/dirasengan

Yosh! Segitu yang bisa Bieber jawab ^^ Bieber gak akan banyak cincong deh -.- Tinggalkan Review kalian ya, Agar Bieber juga lebih semangat lagi melanjutkan fanfic ini ^^

Akhir kata,

Mind to Review?