Boruto's Time Adventure

.

Naruto © Masashi Kishimoto

~This story is Mine~

Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll

.


~Don't like Don't read~

Happy Reading, Minna-san


.

Ia bersumpah akan membunuh siapapun yang membuat ibunya menumpahkan air matanya. Tentu ia tidak main-main dengan sumpah yang sudah ia buat. Selama ia hidup, tidak ada yang boleh menyakiti ibunya. Tidak ada. Tidak boleh.

"Aku akan menjadi seseorang yang akan selalu menjaga senyumnya. Itulah komitmen cintaku pada Sakura-chan."

DUAK!

Boruto sudah tidak bisa lagi mengendalikan tubuhnya. Ia membiarkan tubuhnya bergerak sesuai dengan kemauan emosinya yang semakin meluap-luap. Ia menghantam pipi ayahnya keras-keras. Dan dengan secepat kilat menduduki tubuh Uzumaki Naruto, menarik kerah jaket orangenya kasar.

Manik Boruto yang biasa bersinar cemerlang kini tertutupi kabut emosi. Alisnya menukik tajam. Pandangan nyalang ia arahkan tepat di mata sang ayah yang serupa dengannya.

Boruto mengutuk sang Jinchuriki Kyuubi didalam hati. Bagaimana bisa orang yang ada didepannya ini begitu lancang membuat Hinata menangis? Bagaimana bisa orang rendah ini dengan lancang melukai hati ibu yang amat ia sayangi? Bagaimana bisa orang seperti ini bisa dicintai oleh ibunya? Boruto mengumpat. Dilihat dari segi manapun ayahnya memang tidak pantas bersanding dengan ibunya. Ayahnya tak pernah bisa membuat ibunya bahagia. Baik sekarang ataupun di masa depan.

"A-Apa yang kau lakukan, Hah?!" Bentak Naruto tak terima. Bocah Jinchuriki itu berusaha melepaskan dirinya dari Boruto. Namun, Boruto sama sekali tak merubah posisinya. Bocah dengan ahoge itu masih menatapnya nyalang, syarat akan kebencian yang dalam, syarat akan niat membunuh.

Kepalan tangan Boruto terangkat ke udara. Bersiap melancarkan serangannya yang lain. Manik biru milik sang bocah kian menajam, namun tak lepas dari wajah ayahnya.

"B-Boruto! Hentikan! Apa yang kau lakukan?!" Boruto merasakan tangannya ditarik. Tanpa perlu menoleh ia sudah tahu adalah ibunya yang berani menarik kepalannya. Boruto tak menghiraukan panggilan Hinata, ia menarik kasar pergelangan tangannya dari cengkraman sang ibu. Sejurus kemudian kembali menghantam pipi Uzumaki Naruto kuat. Membuat sudut bibir sang ayah mengeluarkan darah lebih banyak, tak pelak pipinya pun semakin membiru.

DUAK!

Iris Hinata bergetar. Tangannya terangkat kearah bibirnya yang juga bergetar tak kalah hebat. Sosok Boruto didepannya begitu mengerikan, sosok yang sama sekali tidak Hinata kenali.

Apa yang terjadi dengan Boruto? apa yang sedang merasukinya?

Naruto meleguh kesakitan. Bukan karena ia tidak ingin membalas, namun ia tak mampu. Posisi Boruto saat ini mengunci pergerakannya. Dan ia berani bersumpah, Tenaga Boruto saat ini kuat bukan main.

Pukulan diwajahnya terus datang bertubi-tubi. Tanpa henti. Uzumaki Boruto bahkan tak memberikannya kesempatan untuk bicara. Rasa sakit diwajahnya kian merambat menimbulkan nyeri.

"Hentikan! Boruto!" Kali ini ia melihat Hyuuga Hinata menarik lengan Boruto lebih kuat, pemuda penyuka serangga itupun ikut menghadang serangan-serangan Boruto lancarkan padanya.

"LEPASKAN, KAA-SAN!" Teriak Boruto emosi. Tangan kanan milik bocah itu menangkis kasar lengan ibu serta rekannya. Napasnya memburu, wajahnya memerah, kepalannya semakin menguat.

"Kaa-san?"

Boruto menghiraukan pandangan heran yang Shino tujukan padanya. Ia memilih menatap ibunya tanpa suara. Giginya bergemeretuk kesal, "Biarkan aku menghabisi orang ini. Kau tidak perlu ikut campur."

Hyuuga Hinata menggigit bibir bawahnya. Gadis itu mencengkram jaket gading miliknya kuat-kuat. Hinata membenci dirinya yang seperti ini. Ia tidak bisa melakukan apapun untuk melindungi Naruto. Sama seperti saat itu.

"Lepaskan aku, Boruto!" Naruto memberontak begitu merasakan cengkraman Boruto di kerahnya melemas. Jinchuriki Kyuubi itu dengan susah payah mendorong tubuh Boruto dari tubuhnya, membiarkan Shino menahan kedua lengan Boruto dengan tangannya.

Boruto menggertakan giginya. Ia belum puas menghajar ayahnya –meskipun kini ayahnya sudah babak belur karenanya. "Lepaskan aku! kau tidak perlu ikut campur, Shino!"

Uzumaki Naruto menyeka darah disudut bibirnya. Ia meludahkan darahnya, "Apa maumu?! Kau sama sekali tidak memiliki alasan untuk memukulku-dattebayo!"

Alis Boruto menukik semakin turun. Tidak ada alasan katanya? Otot rahangnya semakin berkedut, kepalan tangannya sudah gatal ingin meninju wajah sang ayah yang mirip dengannya itu.

Boruto melepas paksa cengkraman tangan Shino di pergelangan tangannya. Sekejap mata Uzumaki sulung itu menarik kasar jaket orange Naruto yang lusuh. Sebelah tangan bocah Uzumak-Hyuuga itu terangkat.

"TIDAK ADA ALASAN KATAMU?!" Bentak Boruto didepan wajah ayahnya. kilatan emosi jelas terpancar dari manik Boruto. Tidak salah lagi, Naruto bisa melihatnya dengan jelas. Naruto tidak menjawab. ia lebih memilih balik menatap Boruto kesal.

"KAU PIKIR SIAPA DIRIMU?! MENGATAKAN HAL YANG TIDAK-TIDAK, KAU PIKIR BAGAIMANA PERASAAN ORANG LAIN YANG MENDENGARNYA, HAH?!" Teriak Boruto nyalang.

Hinata melirik Shino, memberikan isyarat kepada bocah serangga itu untuk memanggil bantuan –atau setidaknya Hatake Kakashi kemari. Shino mengangguk mengerti. Dengan gesit, bocah dari klan Aburame itu melesat pergi, menghilang dari jangkauan pandangan Hyuuga Hinata.

"Apa maksudmu? Aku tidak mengatakan sesuatu yang-" "Kau taruh dimana otakmu, keparat?! Seharusnya kau sadar ada orang lain yang tersakiti karena ucapan tololmu tadi!"

Naruto tak bergeming. Otaknya berusaha keras memikirkan maksud dari perkataan Boruto. Apa maksudnya? Siapa yang tersakiti? Lantas kenapa hal itu bisa begitu mengganggu Boruto? Otak Naruto yang sederhana akhirnya menyimpulkan suatu hal.

Uzumaki Naruto berusaha menyunggingkan senyum miringnya,"Kau.. Jangan-jangan.. Ini soal kau juga yang menyukai-"

"INI BUKAN SOAL AKU!" Teriaknya marah. Boruto berusaha sekuat tenaga untuk tidak langsung menghabisi bocah orange didepannya. Boruto menunduk. Uzumaki sulung itu merasakan tubuhnya bergetar dengan sendirinya, tanpa bisa ia kendalikan.

Putra Nanadaime itu menggigit bibir bawahnya sebelum bergumam lirih, "... Ini soal Hinata.."

Naruto berjerngit. Hinata? Apa hubungan semua ini dengan Hinata?

Hyuuga Hinata memberanikan dirinya untuk meraih pergelangan tangan Boruto –lagi. "Boruto.. Hentikan. Kumohon."

Manik Lavender milik sang puteri Hyuuga beradu pandang dengan manik biru Boruto yang terlihat makin menggelap. "Ia menyakitimu! Mana bisa aku membiarkannya terus menerus menorehkan luka padamu.." Boruto membalasnya dengan suara rendah. Suara yang seolah menyiratkan bahwa bocah yang mirip Jinchuriki Kyuubi itu tersakiti.

Boruto memilih melarikan matanya dari iris Hinata. Bocah Uzumaki itu tidak sanggup jika harus melihat ibunya menatapnya dengan pandangan seperti itu.

Bofth!

Asap tebal muncul secara tiba-tiba. Boruto reflek melepaskan cengkramannya di kerah sang ayah. Membuat Uzumaki Naruto limbung sesaat. Kepulan asap itu mulai menipis, dan Boruto mendapati sosok Hatake kakashi di baliknya.

Sang Rokudaime masa depan itu menatap para genin didepannya dengan wajah datar. Ia melirik Naruto yang babak belur, kemudian maniknya beralih ke sosok Boruto yang tengah membuang mukanya. Menghembuskan napasnya keras, "Dari mana aku harus mulai bertanya?" Tanya Kakashi.

Hyuuga Hinata balas menatap Kakashi-sensei dengan wajah menyesal, "M-Maafkan aku."

Kakashi tersenyum kearah sang Souke Hyuuga. Sebuah gelengan menyusul. "Kuyakin ini bukan salahmu, Hinata."

Hatake Kakashi memutuskan untuk bertindak cepat. Ia tak ingin sampai Boruto menimbulkan ulah lainnya. Karena itu, ia mengulurkan tangannya, menggapai lengan Naruto, membuat si empunya menoleh kearahnya cepat.

"Dattebayo?"

"Aku akan mengurus yang satu ini. Hinata, sisanya kupercayakan padamu." Seru Kakashi tegas. Hinata mengangguk. Sebelum Boruto melancarkan protesnya, Kakashi memilih melarikan diri dengan membawa serta Naruto bersamanya. Ia membuat segel ditangan, kemudian merapalkan jutsu, menghilang bersama asap. Meninggalkan Boruto bersama ibunya disana.

.


.

"Aduh!"

Boruto meringis begitu Hinata membalut tangannya dengan perban. Tangannya sudah memerah, dan rasanya sakit sekali. Ini karena ia terlalu sering memukul tadi.

Kini, dirinya dan juga Hinata berada di hutan dimana biasanya Tim delapan berlatih. Suasananya benar-benar hening. Hinata tidak mengucapkan sepatah katapun sejak mereka datang kemari. Gadis itu lebih memilih diam dan menyibukan diri dengan membalut tangan miliknya. Untuk pertama kalinya Boruto mengetahui bahwa keheningan bisa juga mematikan.

Manik Boruto bergerak gelisah. Jujur saja, sedari dulu, Boruto dengan bangga mengatakan dirinya tidak takut pada apupun –termasuk pada ayahnya. Ayahnya memang menyeramkan ketika marah, tapi jika itu ibunya, maka akan jadi urusan lain.

Ibunya tidak akan memakinya. Ia hanya diam. Dan inilah yang sedang Boruto hadapi.

"Hinata."

Setelah lima belas menit dilewati keduanya dalam diam, akhirnya Boruto menemukan suaranya kembali. "Ya?" sahut Hinata, tanpa menatapnya.

Boruto mengusap tengkuknya salah tingkah. Ia memberanikan dirinya menatap Hinata dengan pandangan was-was, "Kau tidak ingin menanyakan sesuatu padaku?"

Indra pendengarnya menangkap helaan napas sang ibu. "Aku menunggu."

Suaranya masih sama. Manis, tapi entah kenapa terdengar mengerikan di telinganya.

Boruto mendesah pelan. Ia harus membuat semuanya jelas. Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Hinata. Ia ingin lebih mengerti bagaimana perasaan ibunya terhadap Uzumaki Naruto –ayahnya.

Dan Hinata tentu saja ingin juga mendengar penjelasan darinya soal amukannya tadi. Uzumaki pirang itu meringis begitu gagasan itu terlintas dipikirannya.

"Hinata, Kau... menyukai Naruto 'kan?" Tanya Boruto ragu-ragu. Hinata melonjak, pipinya otomatis memerah. "K-Kenapa k-kau b-bertanya?"

"Aku heran kenapa kau membalikan pertanyaanku?"

Hinata terdiam. Ia mengalihkan pandangannya dari Boruto. Uzumaki Boruto mendengus geli. Sudah pasti Hinata tak akan menjawabnya. Tapi tidak masalah, walaupun gadis itu tidak mengatakannya, sikapnya sudah dengan jelas mencerminkan perasaannya pada sang ayah.

Boruto memilih untuk tidak mendesak ibunya untuk menjawab. Bocah dari masa depan itu mulai merancang kata untuk bertanya kepada ibunya lebih lanjut. "Hey, Hinata."

Panggilan bocah disampingnya membuat Hinata menoleh. Ia mengawati bentuk wajah Uzumaki Boruto dengan seksama sebelum membalas, "Y-Ya?"

Hinata tercekat begitu wajah Boruto menoleh kearahnya. Iris seindah batu safir itu mengunci pandangannya, membuat Hinata menahan napas untuk sesaat.

"Ketika cinta tak bisa disuarakan... Akankah ia bisa disampaikan?"

Mata Hinata melebar secara otomatis. Pipinya semakin merona. Ia memang tidak terlalu mengerti maksud pertanyaan bocah Uzumaki didepannya, hanya saja ia yakin. Pertanyaan ini pasti menyangkut dirinya dan dia. Uzumaki Naruto.

Apa yang harus ia jawab? Hinata mengatupkan bibirnya. Ia tidak tahu. Astaga. jangan tanya Hinata.

Boruto masih menatapnya serius. Matanya berbinar tajam. Bibir sang bocah kembali bergerak, "Kenapa selalu diam? Apa alasanmu?"

Jawaban seperti apa yang ingin kau dengar, Boruto? Hinata membatin.

Uzumaki Boruto menatap manik ibunya. Mata itu. Mata yang selalu ia sukai. Mata yang selalu bisa membuatnya tenag dalam situasi sesulit apapun. Mata itu begitu luas, begitu dalam. Mata yang berani menyimpan rahasia lebih jauh dari bintang jatuh; melebihi kesedihannya.

Hinata tidak melakukan pergerakan apapun. Gadis itu tidak mengalihkan pandangannya seperti biasa, gadis itu balik menatap Boruto. sunyi sesaat, Hingga akhirnya suara manis dari sang gadis terdengar.

"D-Diam mengajariku.. Jika untuk mencintainya, cukup aku dan Tuhan yang tahu.." Hinata memutuskan pandangannya dengan Boruto. Gadis itu mengedarkan pandangannya kelagit luas, "..d-dan.. jika soal alasan.. segala yang jatuh bukan tanpa alasan, kecuali cinta."

Hinata tertawa kecil, ia memainkan kedua jari telunjuknya malu, "A-Aku tahu ini tidak boleh, Tapi.. kepada Naruto-kun, cinta berlari lebih cepat dari yang ku kehendaki."

Boruto tersenyum pedih. Bagaimana bisa ibunya masih tetap menyukai seseorang yang menyukai orang lain? Seseorang yang bahkan belum tentu sudi melirik kebaikan hati Hinata –ibunya.

Menelan ludahnya gugup, Boruto kebali bertanya, "Bagaimana bisa?"

Mata sang gadis Hyuuga terpejam. Seulas senyum tulus terukir diwajahnya, "A-Aku mengenal Naruto-kun dari jiwa. B-Bahkan sorot matanya adalah cahaya yang menuntunku kembali hidup.." "-Tapi dia mencintai Sakura. Kau mendengarnya sendiri, bukan? Apa kau tidak merasa sakit, Hinata? Tidakkah kau sesak mendengarnya?" potong Boruto menggebu.

Untuk sesaat Hinata kembali diam. Ia membiarkan angin menerpa wajahnya, membuat pipi dan hidungnya tersa dingin. "Aku sakit –tentu saja. Aku tahu Naruto-kun mencintai Sakura-san, Tapi siapa yang menyangka, pengakuan langsung darinya seperti tadi terasa begitu menyakitkan."

Uzumaki Boruto terpana. Hinata mengatakan itu dengan senyuman yang tak kunjung menghilang di wajahnya. Bagaimana bisa ibunya masih bisa tersenyum?

"T-Tapi mengingat hal yang sudah Naruto-kun berikan padaku sampai saat ini, rasa sakit itu menguap begitu saja. Hal yang jauh lebih berharga ketimbang memikirkan rasa sakit yang membuatku sesak." Boruto mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi, "'Hal yang jauh lebih penting'?"

Hinata mengangguk cepat. Boruto berniat mengajukan pertanyaan tambahan, namun urung begitu manik seindah bulan milik ibunya terfokus padanya. "S-Semangatnya membuatku luluh. Membuatku ingin bangkit, m-membuatku bersedia merangkak dari takdir klan yang selalu menjatuhkanku. Ia terus tersenyum meski kesepian. Naruto-kun selalu berjuang meski orang bilang ia adalah orang gagal. Naruto-kun membangkitkan semangat hidupku. Ia-lah yang menyadarkanku bahwa aku tidak boleh selamanya menjadi orang gagal. Naruto-kun adalah poin penting dalam kehidupanku."

Boruto bersumpah. Kali inilah kali pertama Boruto mendengar Hinata muda berbicara sepanjang itu. Dugaannya tepat. Hinata selalu mengubur perasaannya sendiri. Mengubuh kesedihannya jauh-jauh tanpa mau melibatkan oran lain.

Dengan susah payah, Boruto menelan ludahnya, "Kau.. akan terus menunggunya? Menunggu hingga ia menyadarimu?"

Hinata mendongkakan wajahnya kelangit, tersenyum simpul, "M-Mencintai Naruto-kun adalah caraku bernapas. Menunggunya adalah caraku mengartikan cinta."

Uzumaki Boruto menahan napasnya. Ia tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk membalas perkataan ibunya. Hingga Hinata berbalik, kembali menatap Boruto penuh arti, kemudian senyuman sehangat senja itu terbit.

Senyuman yang lagi-lagi mengundang Boruto untuk tersenyum.

Boruto merasakan dadanya sudah tidak lagi sesak. Senyuman sederhana dari ibunya ternyata berefek sangat bagus terhadapnya.

Tawa Boruto terhenti saat ia menyadari Hinata menatapnya lekat. Boruto mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Alisnya terangkat, "A-Ada apa-ttebasa?"

Hinata masih memandangnya lamat-lamat, "M-Matamu.. ternyata m-mereka lebih biru dari milik Naruto."

Dan Uzumaki Boruto merasakan pipinya memanas. Astaga.

.


.

Ujian Chunnin yang sudah lama ditunggu akhirnya tiba. Desa Konohagakure mulai dipadati berbagai macam orang. Dari mulai peserta ujian hingga para pedagang. Hampir seluruh desa besar di negara api mengikutsertakan para genin terbaiknya. Konoha menyelenggarakan perayaan yang besar-besaran untuk menyambut ujian chunnin kali ini, begitulah yang Boruto dengar dari kakeknya –Hyuuga Hiashi.

"Jadi, katakan padaku kenapa kau menahanku disini dan tidak membiarkanku mengikuti seleksi babak pertama-ttebasa!?"

Ya, benar. kini Boruto berada di kantor Hokage. Sandaime membenarkan letak topi Hokagenya. Ia menempatkan tangannya di belakang tubuh, berjalan pelan mendekati si Uzumaki muda.

Boruto mendengus, "Terlebih, dimana teammate yang kau katakan itu?"

"Kau ini tidak sabaran. Tenanglah dulu. Kau sudah ku khususkan dalam babak pertama. Kau tidak perlu mengikuti babak ini dan langsung lulus ke babak kedua. Kau puas?" Terang Hokage Ketiga sambil melepaskan cerutu dari mulutnya.

Lagi-Boruto mendengus, "Bukan itu yang ku khawatirkan-ttebasa." Sarutobi Hiruzen mengngkat sebelah alisnya jahil, "Lantas soal apa? Hinata?"

"..."

Sandaime terkekeh, "Kau tenang saja. Aku yakin Hinata akan baik-baik saja. Ujian pertama ini hanya ujian tertulis."

"Tetap saja aku khawatir-ttebasa."

Hokage ketiga menghembuskan napasnya pelas kemudian membalas, "Baiklah kalau itu maumu. Akan kutunjukan ia tidak apa-apa. Kemarilah."

Boruto melangkah mendekati meja hokage. Ia menatapp bola kristal milik Sandaime didepannya perlahan mulai menampilkan sebuah gambar. Uzumaki pirang itu terperangah, Jutsu hokage ketiga tentu jutsu tingkat atas, tapi Boruto sendiri tak percaya ada juga jutsu yang sangat mirip fungsinya dengan camera CCTV di masa depan.

Visual milik Boruto menangkap sosok Hyuuga Hinata yang tengah menulis sesuatu diatas kertas. Boruto tersenyum melihatnya. Tapi senyum itu tidak bertahan lama, kernyitan di alisnya tampak begitu menyadari gelagat Hinata yang nampak... gugup?

Mengerti dari perubahan wajah bocah pirang didepannya, Sandaime menjauhkan titik fokus pada kristalnya, men-zoom out agar bocah itu bisa melihat dengan jelas keadaan ujian chunnin babak pertama.

Boruto sedikit tersentak. Adalah Uzumaki Naruto Disebelah ibunya–Hinata. Naruto yang terlihat uring-uringan berkutat dengan soal di kertas yang nampaknya tidak ia pahami. Boruto dapat melihat dengan jelas bagaimana ibunya berkali-kali melirik ayahnya yang terlihat panik.

"Kaa-san.. Tou-chan.."

"Ya. Itu mereka. Jadi kau tidak perlu khawatir."

Derap langkah mengambil atensi Boruto dan Sandaime. Keduanya berbalik begitu dua orang Shinobi dewasa datang dang membungkuk sopan didepannya.

"Maafkan atas keterlambatan kami, Sandaime-sama."

Hokage ketiga tersenyum tulus, lantas berseru, "Tidak masalah. Ku yakin kalian punya alasan." Hiruzen tua menelengkan kepalanya kepada bocah yang sedari tadi bersamanya. Boruto yang sadar kemudian berucap, "Siapa mereka?"

Tangan tua milik sang Hokage bergerak memainkan cerutunya ditangan. "Uzumaki Boruto. perkenalkanlah, Hagane Kotetsu dan Kamizuki Izumo. Mereka adalah Chunnin elite Konoha yang akan menjadi Teammatemu."

~À Suivre~


A/N: Holla! Bieber balik lagi XD Maaf chapter kali ini Cuma seuprit XD Gomenne~ ceritanya juga jadi gini banget lagi X''D nyahahaha Ada sebagian adegan yang Bieber ambil dari Boruto: Naruto The Movie loh! Tebak yang mana XD Maaf ya Sarada, Bieber replace kamu : *ngumpet di pelukan Naruto*/dichidori

Maaf ya updatenya lelet juga. Tapi Bieber punya alasan kok! Lepi Bieber dirampas adik –w-" jadi maaf ya. Ini juga nyolong seharian XD/no

Yuk, sesi tanya jawab dulu ^^

Q: pengen banget ada adegan BoruHima!

A: Diusahakan ya! ^^

Q: Entah kenapa semua alur chapter ini bisa ditebak, tehe.. Atau emang dura aja yang kece ya?'-'

A: kamu yang kece kali '3'/heh

Q: Kepikiran kalo entar hinata malah suka sama boruto gmna?

A: sedang dipikirkan #dirasengan#

Q: Ketemu Jiraiya gak?

A: kayanya nggak deh, maaf ya?

Cukup sekian yang bisa Bieber jawab. Terima kasih sudah menunggu ff ini*ojigi* Terima kasih pula bagi yang sudah Review/Fav/Follow Fic Bieber XD Ah, soal minta acc media sosial, maaf ya Bieber gak kasih : Bukan karena Bieber sombong dan gak mau temenan, Cuma pada dasarnya, Bieber ini orang yang pemalu X''D/digevlak

Bieber tunggu tanggapan dan Reviewnya! Dan ingat, Review yang berkualitas ya ^^ jangan menyertakan kata-kata kotor apalagi sampai mengatai Bieber dengan sebutan kebun binatang. Selain gak sopan, Bieber bukan hewan ^^ Terima kasih sebelumnya.

Akhir kata,

Mind to Review?