Boruto's Time Adventure

.

Naruto © Masashi Kishimoto

~This story is Mine~

Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll

.


~Don't like Don't read~

Happy Reading, Minna-san


"Jadi begitu ya. Jutsu yang kurang lebih sama dengan Kujaku Myōō."

"Begitulah, Sandaime-sama."

Sandaime Hokage menyenderkan punggungnya ke senderan kursi. Ia menatap lawan bicaranya lurus-lurus. "Kuminta kau menyelidiki soal ini lagi. Aku menunggu laporanmu selanjutnya. Bagaimanapun keadaannya, Adalah tanggung jawab kita mengembalikan bocah itu kembali ke zaman dimana seharusnya ia berada."

Lawan bicara sang kakek Hokage mengangguk patuh, "Tentu."

"Aku mengandalkanmu, Kakashi."

Hatake Kakashi tersenyum sopan, Ia menegakan tubuhnya kemudian menjawab yakin, "Percayakan semuanya padaku."

.


Shin no Mori adalah salah satu tempat yang tidak sembarang orang bisa masuk kedalamnya. Pada kenyataanya, Hutan ini memiliki berbagai macam jenis tumbuhan dan hewan yang sangat tidak familiar. Berbagai macam hewan melata raksaksa, hewan buas dan tumbuhan beracun bisa kau temukan disana. Tempat yang sangat pas untuk menguji seberapa tangguh para Genin yang turut ikut dalam ujian seleksi Chunnin.

Tak hanya medan yang berbahaya, Seleksi babak kedua ujian kali ini bisa kau sebut sebagai neraka, Karena Mitarashi Anko-lah peraturannya. Perebutan gulungan Chi To Sho dan Ten No Sho.

"Yahoooo! Bertahan hidup memang keahlian kita! Iya 'kan, Akamaru?"

"Guk!"

Anjing berbulu putih bersih bernama Akamaru itu menggonggong seolah menyahuti perkataan majikannya, Inuzuka Kiba. Tim Delapan yang berada dibawah naungan kepemimpinan Yuhi Kurenai itu melesat dari dahan ke dahan dengan lincahnya.

Inuzuka Kiba menoleh kearah rekan setimnya yang lain kemudian berujar semangat, "Untung saja mereka yang terjebak tadi membawa Chi no Sho. Kalau begini, kita akan jadi orang pertama yang sampai di menara."

"Kau terlalu percaya diri," Aburame Shino membalas dengan wajah datar yang biasa, "Setidaknya kita harus waspada agar tidak menarik perhatian lawan. Itu cara paling aman."

"Serangga sekecil apapun demi menghindari serangan lawan–"

"Aku tahu itu! Dasar penggila serangga! Selalu mengeluarkan perkataan yang sulit dimengerti. Jangan bertingkah seperti bos. Ketua kelompok ini 'kan aku!" Tandas Kiba sebelum Shino menyelesaikan perkataannya.

Hyuuga Hinata mendesah pelan. Apapun perannya disini, kedua anak-laki-laki ini harus dipisahkan. Karena itu, Hinata memaksakan dirinya untuk turut larut kedalam perdebatan rekan timnya. "T-Tapi apa yang dikatakan Shino-kun masuk akal.." Sela Hinata samar.

Sahutan Kiba yang tak mau kalah membalas perkataan si gadis Hyuuga. Shino memutuskan untuk tidak kembali bersuara. Sebagai seorang keturunan klan Aburame dirinya memang harus menyikapi berbagai macam masalah di kelompoknya dengan dewasa. Dalam pandangannya, Kiba hanyalah bocah bermulut besar yang berisik. Hinata sendiri cenderung menarik dirinya dari lingkunganya, menghindari pertikaian. Kedua tipe orang yang sangat sulit dihadapi Shino. Jadi, Tolong beritahu dirinya kenapa ia terjebak dalam keadaan yang sama sekali tidak menguntungkannya?

Langkah si bocah anjing terhenti secara mendadak. "Kalian berdua, Berhenti!" perintah Kiba seraya menggerakan isyarat dengan kedua tangannya.

Shino beserta Hinata menurut. Ketiganya berdiri di sebuah dahan besar ditengah-tengah Shin no Mori. Apa yang akan dilakukannya kali ini? Batin Shino.

"Kau bilang kita harus waspada tanpa menarik perhatian musuh 'kan?" Tanya Kiba dengan nada sambil lalu. Tersenyum miring, Kiba menoleh kearah si gadis Hyuuga. "Hinata apa kau bisa melihat satu kilometer kedepan di arah sana?"

Hinata memilih untuk mengikuti perintah rekan setimnya lalu membuat segel ditangannya, "Ya, Akan kucoba."

'Byakugan!'

.


Ia bisa dengan jelas merasakan gadis itu mulai mengaktifkan Byakugannya.

Byakugan. Salah satu dōjutsu terhebat yang hanya dimiliki orang-orang dengan kemampuan kekkei genkai. Mata yang mampu menembus sesuatu dan mampu melihat jarak sejauh apapun. Mata yang praktis. Yang –tentu saja- hanya dimiliki oleh para anggota klan Hyuuga.

Adiknya juga memilikinya. Himawarinya juga mewarisi Byakugan meskipun warna maniknya serupa sang ayah. Ibunya pernah berkata bahwa Byakugan milik Himawari adalah Byakugan yang spesial. Manik unik berwarna pucat itu akan muncul di ceruk mata adik kecilnya begitu bungsu Uzumaki itu marah. Oh, astaga. Ia bahkan sudah bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak lagi macam-macam pada adik manisnya itu.

Siapa sangka seorang gadis manis semanis Cinnamon Rolls bisa juga berisiko membunuhmu? Ah, Seperti apa yang dikatakan ayah Shikadai, Penampilan luar memang bisa menipu.

"Boruto."

Lamunannya buyar begitu suara rekan satu timnnya memanggil namanya. "Ada apa-ttebasa?" Sahutnya datar.

Hagane Kotetsu membasahi bibirnya sebelum berbicara, "Kupikir kita harus mulai bergerak." Boruto mengangkat alisnya heran, "Kita sudah bergerak dari awal."

"Bukan itu maksudku." Kotetsu menggeleng. "Lantas apa?" Tanya Boruto tidak sabaran.

Izumo maju sembari menjejalkan lengannya ke saku celana. "Hinatamu akan baik-baik saja. Kau tentu sadar kalau tim inipun sepertinya harus segera mencari gulungan Chi no Sho sebelum kelompok ini didisfikualifikasi karena datang ke menara tengah tanpa membawa gulungan Ten dan Chi secara lengkap."

Baiklah, Boruto mulai tidak menyenangi gaya bicara yang dipakai rekan timnya tadi. Ia cukup cerdas untuk menangkap maksud kedua rekannya adalah untuk berhenti mengawasi pergerakan tim delapan. Tim ibunya.

"Apa kalian lupa tujuan awalku mengikuti ujian ini?" Todong Boruto sembari mengangkat telunjuknya. "Dan apa maksudmu dengan Hinataku?"

"Kau tahu apa maksud kami, Boruto."

Menggemeretukan giginya kesal, "Apa kalian coba berkhianat?" desis Boruto sinis.

Kotetsu terkesiap. Berkhianat? Oh, Astaga. Yang benar saja. "Wow, Wow. Bukan seperti itu maksud kami. Tahan pikiranmu itu."

Uzumaki Boruto mendengus. Ia tidak perlu bersusah payah untuk berpura-pura tidak terlihat kesal. bocah dengan ahoge itu melipat tangannya didepan dada, "Teruskan."

Kotetsu mengacak surai jabrik miliknya pelan. Kenapa bocah pirang ini tidak kunjung mengerti? Izumo dan dirinya mengkhawatirkan bocah didepannya, dan dengan lancang Boruto malah berbalik mencurigai niat baik keduanya. Yang benar saja.

"Dengarkan aku." Lengan Kotetsu mendarat dengan mulus dipundak Uzumaki Boruto. "Kau tentu ingin melindungi Hinata hingga akhir 'kan? Bukankah akan terlihat menggelikan jika kau berakhir disini hanya karena tidak berhasil mendapatkan gulungan Chi dan Ten?"

Matanya menangkap Boruto menyipitkan matanya curiga. Kotetsu mendesah keras, mencoba meredam emosinya. "Setidaknya kau harus memikirkan dirimu sendiri terlebih dahulu sekarang. Setelah kedua gulungan terkumpul kita bisa kembali fokus pada tujuan utamamu."

Izumo mengangguk. Shinobi dengan pangkat Chunnin itu mengembangkan senyumnya, "Atau kau lebih suka kita semua datang menyergap tim delapan dan mengambil.." "Jangan coba-coba!" Sahut Boruto cepat. Terlalu cepat, bahkan sebelum Izumo menyelesaikan kalimatnya.

Butuh dua kali kedipan mata sebelum Izumo mendapatkan kembali kemampuan bicaranya. Kamizuki Izumo memlih untuk cari aman dan mundur teratur, "Kau sendiri yang bilang. Jadi, berhentilah menatapku begitu dan simpan cakarmu."

Uzumaki Boruto berdecih sebal. Ia memajukan bibir bawahnya lantas membuang mukanya cepat. "Terkadang aku lupa kalian bisa juga jadi menyebalkan-ttebasa."

.


Sebelumnya ia bahkan tidak pernah berpikir untuk ikut ujian ini. Mengumpukan kedua gulungan dalam babak kali ini saja tak pernah terlintas dipikirannya. Ia adalah tipe anak laki-laki yang fokus pada tujuan awalnhya, dan tujuannya ikut serta dalam ujian ini tak lain tak bukan adalah untuk melindungi gadis itu. Hyuuga Hinata. Seseorang yang begitu penting untuknya.

Mengedarkan pandangannya, Ia mempertajam semua indra yang ia punya. Izumo dan Kotetsu memang benar. Ia akan terlihat sangat menggelikan kalau berhenti sampai disini, Dirinya tak akan setengah-setengah, Ia akan terus mengawasi ibunya hingga ujian ini berakhir. Setelah semua ini berakhir, barulah ia bisa dengan tenang mencari jalan pulang untuk kembali ke tempat dimana seharusnya ia berada, masa depan.

"Berhenti!"

Suara Izumo otomatis menghentikan pergerakannya. Ketiganya berdiri disebuah dahan besar yang sedikit tertutupi daun. Tidak masalah, mereka bisa berhenti sembari bersembunyi.

"Ada apa?" Timpalnya.

Izumo menggerakan tangannya kebawah. Mengisyaratkan rekannya yang lain untuk turut melihat apa yang dilihatnya.

Ia menyibak dedaunan yang menghalangi pandangannya. Terhenyak kecil begitu visualnya menangkap bayangan sosok seorang Genin dengan gulungan Chi no Sho ditangannya. Baiklah, kenyataan sosok itu adalah seorang genin tidaklah mengejutkannya, lebih dari itu hal yang jelas-jelas mengganggunya adalah-

"Kunoichi. Bagus sekali. Apa kalian bercanda?" Ujarnya dengan wajah mengejek.

Izumo menoleh kearahnya dengan santai, "Kebetulan yang menyenangkan. Bukankah begitu, Boruto?"

Uzumaki Boruto berusaha mati-matian untuk tidak memutar bola matanya, "Astaga. Yang benar saja."

Mata sipit milik Kotetsu semakin berkerut begitu ia menarik sudut bibirnya, tersenyum lebar. "Oh, Kita beruntung." Sahutnya ceria.

"Tolong jangan bilang kalau kalian serius. Astaga, Kenapa harus perempuan?!" Balas Boruto dengan wajah tersinggung.

Izumo memiringkan wajahnya polos, "Kenapa tidak?"

"Kenapa harus?" Todong Boruto langsung.

"Kenapa kau terus bertanya kenapa?"

Menggeram kesal, Boruto menjambak poni panjangnya frustasi, "Demi Tuhan. Dimana kau taruh harga dirimu-ttebasa? Tiga Shinobi melawan seorang Kunoichi. Bahkan kuantitasnyapun sangat tidak jantan."

Kamikuzi Izumo menyenderkan punggungnya kebatang pohon. Ia menatap genin dengan surai kepirangan itu kesal, "Shinobi ataupun Kunoichi, Laki-laki atau perempuan, Musuh tetap musuh."

"Tapi kenapa harus perempuan? Lagipula dia sendirian!" Protes Boruto tidak terima.

"Kalau kau punya usul yang lebih baik, aku bersedia mendengarkan." Ujar Izumo dengan nada kesal yang sama sekali tidak disembunyikannya.

Kotetsu yang sedari tadi diam terpaksa mendorong dirinya sendiri untuk menengahi kedua rekan timnya yang lain, "Izumo benar. kita tak punya pilihan lain."

"Tapi.."

"Ini satu-satunya kesempatan kita, Boruto. kesempatan berharga ini tidak akan datang dua kali. Kau tentu ingin cepat hal ini selesai dan kembali fokus pada tujuan awalmu, bukan?" Izumo tersenyum begitu perkataan Hagane Kotetsu sepertinya berhasil membuat bocah Uzumaki itu tak mampu membalas perkataannya lagi.

Bocah dengan Ahoge itu menyipitkan matanya pertanda kesal. kedua orang Chunnin didepannya jelas sudah mengetahui apa yang jadi kelemahannya. Sialan.

Kotetsu tersenyum lebar, ia menepuk pundak milik putra Nanadaime Hokage itu pelan, "Ayolah kawan. Jangan ikuti gengsimu dan bergabunglah."

Manik milik Boruto menatap galak rekannya, seolah tersinggung. Ia adalah gentleman. Melawan seorang wanita jelas-jelas tidak ada dalam kamusnya. Ugh, kesampingkan Sarada yang sudah ia anggap sebagai rivalnya. Bah, Bahkan ia sendiri ragu apa dengan kekuatan seperti monster itu Sarada pantas ia anggap sebagai perempuan?

Uzumaki Boruto menghela napasnya keras, "Tiga orang laki-laki melawan seorang perempuan. Aku hanya tidak percaya dengan kenyataan ini."

Izumo dan Kotetsu berbagi pandang kemudian tersenyum bersamaan. Bocah keras kepala ini terkadang bisa juga ditaklukan.

.


Setelah membuat beberapa strategi, Boruto dan yang lain memutuskan untuk membagi timnya menjadi dua. Mereka sepakat bahwa Izumo akan menyerang secara mendadak begitu kunoichi yang menjadi sasaran ketiganya melakukan serangan. Dengan kata lain, Izumo akan bersembunyi dibalik semak hingga ia benar-benar dibutuhkan. Sedang Boruto dan Kotetsu akan menggertak si gadis dan mengambil Chi no Sho yang ada dilengan sang Kunoichi.

Uzumaki Boruto mati-matian meyakinkan hatinya bahwa apapun yang dilakukannya saat ini adalah demi sang ibu. Ia merendahkan dirinya sendiri adalah untuk ibunya.

"Kalian paham?"

Boruto dan Kotetsu mengangguk mantap. Izumo mengangguk kecil kemudian menghilang dalam sekali kedipan mata. Lenyap bersama angin.

Kotetsu mengambil Kunai Blade yang ia letakan dipunggungnya. Tangan milik Boruto meraih sebuah kunai di kantung senjatanya. "Kau siap?" Tanya Kotetsu. Uzumaki Boruto tersenyum miring. Ia meniup poninya sekilas, "Kau bercanda? Aku terlahir untuk siap."

Senyuman kembali mengembang diwajah bulat milik Chunnin itu, Kotetsu kemudian menggeleng kecil, "Baguslah. Itu yang kuharapkan."

Tanpa tendeng alih, Kedua Shinobi dengan Headband berlambang desa Konoha itu meloncat dari atas dahan, Mendarat tepat didepan seorang Kunoichi yang tersentak begitu kedua Shinobi itu muncul didepannya secara tiba-tiba.

Boruto menegakan tubuhnya. Menatap Kunoichi di depannya dengan wajah datar. Angin kencang berhembus, membuat surai milik si sulung Uzumaki menari dengan angin. Surai panjang si gadispun ikut melambai. Boruto mengerutkan alisnya, Mengamati bagaimana surai milik si gadis terlihat begitu memesona di mata birunya.

Sebelah alisnya kemudian terangkat. Tunggu, Apa yang dipikirkannya tadi?

"M-Mau apa kalian?!" Tanya si gadis sembari mengeratkan pegangannya pada Chi no Sho yang ia pegang. Butuh dua detik bagi Boruto untuk mendapatkan kembali kesadarannya sepenuhnya. Ia mengangkat kunainya didepan wajah, "Bukankah itu pertanyaan yang tidak masuk akal, Nona?"

Sang Kunoichi mundur selangkah. Sapuan angin berhenti, Hingga kini dengan jelas Boruto dapat melihat Headband yang dipakainya didahi. Jika tidak salah, Itu adalah lambang desa Kusagakure. Lambang desa Kusa tercetak di Headbandnya.

"Berikan Chi no Sho itu sekarang juga!" Kali ini Kotetsu yang bicara. Ia menodongkan Kunai Bladenya kedepan si gadis. Gadis itu –sekali lagi- mundur selangkah. Ia mencengkram gulungan Chi no Sho didadanya.

"Tidak!" Tolak si gadis. Gadis kemudian berlari, mencoba untuk melarikan diri. Uzumaki Boruto menghela napasnya pelan. Dengan kemampuan lari yang selambat itu, mustahil gadis dengan surai indah itu bisa melarikan diri dari dirinya dan Kotetsu.

Apa benar ia seorang kunoichi? Ia lebih terlihat seperti gadis biasa yang bahkan sama sekali tidak terlihat memiliki bakat seorang ninja.

"Kyaa!" Gadis itu tersandung kakinya sendiri. Ia terjerembab ditanah tanpa melepaskan pegangannya pada gulungan ditangannya.

Ia merasakan Kotetsu memandangnya dengan wajah dungu. Bagus sekali, selain hanya seorang gadis, Kunoichi Kusagakure itu tampaknya juga ceroboh. Ah, bicara soal ceroboh. Gadis ini mengingatkannya pada seseorang.

Uzumaki Boruto melangkah mendekati sang gadis. Ia menggaruk kepala kuningnya canggung, "Berhentilah keras kepala dan berikan Chi no Sho itu-ttebasa."

Gadis itu meliriknya galak lantas membalas, "Kubilang tidak!"

"Masih bisa berlagak juga kau rupanya." Boruto mencondongkan tubuhnya sembari berkacak pinggang didepan sang gadis. Gadis dengan surai panjang itu beringsut menjauh dengan ketakutan. Apa dia takut padaku? Jangan-jangan dia berpikir aku ini kanibal? Boruto membatin.

Menjongkokkan dirinya didepan si gadis kemudian mendengus sebal, "Ayolah. Aku tidak ingin melukaimu-ttebasa. Tidak bisakah kau menurut dan biarkan aku serta yang lainnya menyelesaikan ini sekarang juga?"

Gadis itu tak bergeming. Manik ruby milik si gadis menatap Boruto tanpa berkedip. Hal ini tak ayal membuat si sulung Uzumaki kembali memasang wajah tersinggungnya. "Apa? Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa ada sesuatu di wajahku?"

Kunoichi Kusagakure itu tersentak kecil. Ia membuang mukanya dan cepat-cepat menjaga jaraknya dengan si bocah pirang. Kotetsu berdiri di samping Boruto, "Apa kita paksa saja dia sekalian?"

"Jangan bercanda." Balas Boruto.

Manik Boruto melirik lengan sang gadis. Ia mengamati lengan putih gadis didepannya dengan seksama. Alisnya kembali bertaut tanda heran.

Tanpa pikir panjang, Boruto merogoh kantung ninja yang menempel dibawah punggungnya. Ia mengambil benda bundar yang ia dapat dari Hyuuga Hinata kemarin malam. Salep tradisional Hyuuga.

Boruto melemparkan salep ditangannya kepangkuan sang gadis. Hagane Kotetsu memandangnya dengan ekspresi heran. Pun si gadis. Manik sang gadis bergantian menatap salep dipangkuannya dan bocah bersurai cerah itu terus menerus.

Seolah mengerti maksud dari pandangan yang ditujukan padanya, Putra Nanadaime Hokage masa depan itu berkata, "Pakai itu dan oleskan pada luka ditanganmu. Ku dengar salep itu bisa menyembuhkan luka fisik dengan cepat." Jeda sejenak. Boruto membuang wajahnya cepat, "Dan berhentilah menatapku seperti itu-ttebasa."

"Karin! Apa yang terjadi?!"

Kotetsu dan Boruto berjengit kaget begitu indra keduanya mendengar suara itu. Suara itu berasal sekitar beberapa meter dari tempat ini. Oh, Sepertinya rekan satu tim gadis ini.

Kotetsu berbalik dan menangkap isyarat dari Izumo untuk mundur. "Sial! Boruto ambil Chi no Shonya!"

"Aku mengerti." Sahut Boruto tegas. Dengan cepat ia mengambil Chi no Sho dari tangan sang Kunoichi dengan mulus, tanpa adanya penolakan dari sang gadis. Sama sekali tak ada penolakan.

Boruto menatap gadis dengan surai merah indah itu sejenak. Gadis itu mencengkram salep yang diberinya sambil berusaha berdiri. Sang kunoichi membenarkan letak kacamatanya yang miring, kemudian mengginggit bibirnya sebelum berkata, "Pergilah."

Uzumaki Boruto berusaha mengulas senyum tipis sebelum kembali kepada rekan satu timnya, "Ya. Kau juga.. Selamat bejuang!"

Dan dengan secepat kilat, Bocah dengan jaket hitam itu menghilang begitu saja. Membiarkan gadis bernama Karin itu mematung ditempat. Mengamati kepergiannya.

.


"Kau lihat wajahnya tadi? Hey, Apa kau juga tertarik padanya?"

"Apa maksudmu? Berhentilah merancau tidak jelas."

Tim Boruto meloncat dari dahan kedahan. Berlari dengan semangat sembari mencari-cari chakra yang dipancarkan Tim delapan. Tim Hyuuga Hinata.

Uzumaki Boruto berdecak sebal. Kedua rekan Timnya memang tidak masuk akal. Kenapa bisa mereka berspekulasi bahwa gadis dengan surai merah yang baru saja ditemuinya bisa tertarik kepadanya? Oh, astaga yang benar saja.

Kotetsu terkekeh, "Semakin kau coba untuk mengelak, semakin kami curiga, Boruto."

"Aku mencium bau keanehan disini. Katakan padaku, apakah kau juga tertarik pada gadis tadi? Oh, Apakah Uzumaki Boruto jatuh cinta?" Tawa Izumo meledak. Boruto melirik teman satu timnya garang, "Tutup mulutmu!"

Hagane Kotetsu menyamakan langkahnya dengan si pirang Uzumaki. Tawanya mereda sebelum kembali bersuara, "Ayolah, bung. Kami hanya bercanda. Kau tidak perlu seserius itu." Kotetsu sengaja menggantungkan kalimatnya, membuat si bocah pirang meliriknya heran. "..atau kau memang tertarik padanya?"

Uzumaki Boruto baru saja akan membuka mulutnya untuk memprotes Izumo sebelum–

WHHUUUZZZZ!

"!"

Angin yang kuat mendadak muncul. Boruto memegangi dahan pohon agar tubuhnya tidak ikut terhempas. Menyipitkan matanya, Sial, Dengan angin yang sebesar ini, ia sama sekali tidak bisa melihat apapun didepan sana.

"Apa yang terjadi?!" Teriak Boruto. Desingan angin yang kuat membuat suara miliknya teredam. Sial. Boruto mengumpat dalam hati.

Dengan gerakan cepat, Boruto mengambil kunai, menancapkannya kuat ke dahan pohon, menjadikannya pegangan yang lebih kuat.

"Boruto!" Suara Izumo sayup terdengar memanggil namanya. "Aku baik-baik saja-ttebasa!" Balas Boruto sekeras mungkin. Putra Hokage ketujuh itu memosisikan tangannya didepan wajah, menjadikannya tameng agar –setidaknya- ia bisa melihat kedepan.

"Sial."

Apa ada musuh? Pertanyaan itu muncul secara otomatis di otaknya.

Perlahan, Angin yang bagaikan topan itu berhenti dengan suara bedebum keras di akhir. Boruto membuka matanya. Beberapa pohon tumbang, beruntung pohon tempatnya berpijak tidak ikut runtuh. Untuk pertama kalinya, Boruto menghela napasnya lega. "Yang tadi itu.. apa?" Tanya Boruto pada dirinya sendiri –sekalipun ia sendiri tak memerlukan jawaban untuk itu.

Uzumaki Boruto melompat turun dari pohonnya. Ia memutuskan untuk mencari rekan setimnya yang kemungkinan besar terpisah gara-gara angin kuat tadi. Tentu saja ia yakin Kotetsu dan Izumo pasti akan baik-baik saja, lagipula mereka adalah Chunnin.

"Aduhh.."

Boruto reflek mengambil kunainya begitu telinganya menangkap suara rintihan seseorang. Kenapa suara itu terdengar tidak asing ditelinganya?

Perlahan, Boruto bersembunyi dibalik sebuah pohon besar. Ia tetap menajamkan semua indranya, berjaga-jaga jika ada musuh yang mendekat. Tubuh dengan jaket hitam itu dengan hati-hati mengintip di sela pohon.

"Hah? Dimana Sakura-chan dan Sasuke?"

Boruto nyaris terjungkir di tempat. Kenapa ia bisa bertemu Uzumaki Naruto di tempat seperti ini? Boruto memutuskan untuk tetap bersembunyi dibalik pohon. Ia akan mengawasi pergerakan Uzumaki Naruto dari sini.

Kenapa ayahnya bisa sampai kemari? Atau jangan-jangan ia terhempas oleh angin tadi?

DEG!

Seketika tubuhnya menegang. Boruto mencengkram perutnya yang tiba-tiba terasa bergolak. Ada aura mencekam disekitar sini. Uzumaki pirang itu memfokuskan chakranya. Benar. Tidak salah lagi, Ada chakra lain selain mereka. Chakra yang begitu besar dan... mengerikan.

DEG!

"Oh, Astaga." Boruto merosot turun. Sensasi ini sama sekali tidak disukainya. Ia melirik ayahnya –Uzumaki Naruto- cepat. Chakra ini.. Chakra dengan jumlah besar ini tidak mengarah padanya. Melainkan pada...

"!"

Mata Boruto membulat. Bibirnya bergetar, pegangannya pada kunainya semakin menguat. Ia melihatnya. Bayangan yang mendekati ayahnya adalah...

"U-Ular!?"

Ular yang sangat besar ukurannya. Mustahil ada yang seperti ini. Untuk pertama kalinya bagi Uzumaki Boruto melihat ular yang sebesar itu.

Uzumaki Naruto mengangkat wajahnya. Mulutnya menganga lebar begitu seekor ular dengan ukuran yang bukan main berada didepannya. "B-Besarnya!"

'Sekarang bukan waktunya untuk terkagum-kagum begitu, Bodoh! Pergilah!' Teriak Boruto dalam hati. Oh, kakinya bahkan tidak bisa bergerak. Sialan.

Ular raksasa itu mulai bergerak. Tubuh besarnya menerjang tubuh mungil ayahnya. dengan lincah Uzumaki Naruto berhasil menghindar. Tidak. Terlalu cepat baginya untuk bernapas lega.

Ular itu lebih lagi. Selain besar, ular itu memiliki kecepatan yang luar biasa. Dan dengan cepat pula ekor milik reptil besar itu menarik tubuh mungil Uzumaki Naruto. Secepat kilat melilit seputar tubuh milik ayahnya.

Mulut ular itu terbuka dengan lebar. Wajah ayahnya berubah pucat. Ayahnya akan ditelan ular itu bulat-bulat. Ayahnya akan mati.

Boruto memejamkan matanya kuat-kuat. Ia harus bagaimana? Apa yang harus ia lakukan?

Ia tidak bisa diam dan menonton saja. Ia harus menyelamatkan ayahnya. Apapun yang dikatakan orang-orang... Uzumaki Naruto tetaplah..

'Uzumaki Naruto.. Dia adalah jelmaan iblis'

'Aku tak butuh bantuanmu! Dasar pembawa sial! Iblis!'

'Salah jika kau berpikir Naruto tidak membenci warga desa..'

'Naruto-kun membangkitkan semangat hidupku. Ia-lah yang menyadarkanku bahwa aku tidak boleh selamanya menjadi orang gagal.'

'Segala hal butuh waktu, begitupun perasaan ayahmu'

Boruto menggigit bibirnya kuat. Ia tidak bisa..


.

Uzumaki Naruto merasakan inilah akhir hidupnya. Lilitan ular besar ini ditubuhnya benar-benar membuatnya kehabisan napas. Ia nyaris tak bisa bernapas. Naruto coba memberontak, ia berusaha melepaskan diri. Tanpa hasil.

Naruto tidak memegang cermin, namun ia yakin wajahnya sudah pucat pasi begitu ular raksasa yang melilitnya membuka mulutnya lebar-lebar. Bersiap melahapnya tanpa pikir panjang.

Rahang yang besar itu bahkan lebih besar dari tubuhnya. Sial, Apa yang harus dilakukannya? Suaranya tercekat. Bahkan tak ada satupun kata yang yang keluar daru mulutnya sedari tadi.

Bayangan rekan berharganya mulai menggerilya dipikirannya. Mulai dari kedua Senseinya. Rival abadinya. Gadis impiannya. Serta.. Bocah itu. Bocah yang mirip dengannya.

Uzumaki Boruto.

Begitu ular raksasa itu bersiap melahapnya, Naruto menutup matanya rapat-rapat. Inikah akhirnya?

"RASENGAN!"

DUAK!

Kejadiannya begitu cepat. Terlalu cepat. Ia bahkan tidak melihat apapun tadi. Ular raksasa itu melepaskan tubuh Naruto. Jinchuriki Kyuubi itu masih membatu ditempat layaknya orang tolol. Apa itu? Yang tadi itu apa?

"Kau tidak apa-apa, Naruto?"

Suara itu. Naruto jelas tahu siapa pemiliknya. dengan gerakan patah-patah ia menoleh kesamping, kearah suara itu berasal.

Bisu sejenak. Akhirnya Uzumaki Naruto mendapatkan kembali kesadarannya dan bergumam lirih, "Boruto.."

~À Suivre~


A/N: Hallo! Ujian Nasional selesai hari ini! Shannarooo! Mari kita pesta bersama, Wahai semua anak kelas dua belas! *angkat gelas*/apasih

Fuh, tahapan-tahapan ujian rasanya berat banget. Puas rasanya kita –khususnya Bieber- bisa ngelewatinnya dengan lancar XD Semoga siswa-siswi kelas dua belas se-Indonesia lulus 100% yaa~/udeh

Teruntuk, Dera Shinka yang baik hatinya, Terima kasih dukungan dan sarannya selama ini ^^ Terima kasih untuk selalu ada sisi, terima kasih untuk pelajaran tambahannya XD/heh

Bieber sebenernya udah bikin chapter ini dari bulan Maret. Tapi, Bieber udah janji ke temen bakal update chapter kali ini pas Ujian Nasional udah selesai *lirik Dera Shinka*/?

Adakah yang masih ingat fic ini? :"3 Gomenne lama update. Karena ujian sudah selesai, rasanya Bieber bisa dengan tegas copot status hiatus dan mulai kembali aktif di dunia per-fanfictionan ^^

Yah, Bieber akan update setiap hari Senin atau Kamis setiap minggu. Yah tergantung para reader sekalian sih responnya gimana *senyum manis*/No

Yosh! Gimana Chapter kali ini? Bieber tunggu tanggapan dari kalian ya :D

Nah, langsung ke sesi tana jawab deh :3

Q: Kapan bertemu dgn Neji?

A: Segera :3

Q: Sebenernya Boruto (Himawari juga) tau soal Kurama nggak sih?

A: Menurut Bouto novel sih, Sebenernya Boruto (Himawari juga) tau soal Kurama nggak sih, Boruto tau sekilas. Gak begitu menditail. Dia Cuma mau ada Biju didalam tubuh ayahnya :3

Q: Buat kejadian Boruto di hajar shinobi lain karena terlalu percaya diri dengan kekuatannya, jadi bisa buat pelajaran untuk Boruto "percaya diri boleh, tapi jangan terlalu over sampai merendahkan musuhnya."

A: Ada saatnya *senyum jahat*/ditimvuk

Q: lanjutiiin segeraaa sukses ya buat ptn nya

A: Ini asli Bieber terhura :'D Iya~ Arigatou ya :3

Fyuh~ mungkn segitu yang bisa Bieber jawab :'D Maaf gak bisa jawab semua. Banyak pertanyaan yang menjurus jadi spoiler, dan Bieber gak suka spoiler XD/Dirasengan/ Pertanyaan-pertanyaan yang menjurus ke spoiler akan terjawab dengan sendirinya di dalam cerita :D Tolong bersabar dengan Bieber :'3

Yang pasti, Bieber gak akan bikin fic ini discontineud! *kibar bendera husbando –justin bieber-/dirajam

Terima kasih sudah berkesempatan untuk membaca/Review/Fav/Follow ff Bieber :'D Ah, sebelum ada yang tanya, Bieber mau jelasin. Ya! Karin di plot aslinya di selamatkan oleh Sasuke dari serangan beruang di hari keempat –saat itu Sasuke sedang berpisah dengan Tim Tujuh untuk mencari air-. Sedang sekarang (di ff Bieber) masih hari pertama. Anggap saja Karin dan kawan-kawan kembali dapat gulungan Chi to Sho lainnya dari kelompok yang mereka incar setelahnya(?)

Uhuk, Bieber kebanyakan ngomong :'D Gomenne~

Akhir kata,

Mind To Review?