Boruto's Time Adventure
.
Naruto © Masashi Kishimoto
~This story is Mine~
Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll
.
~Don't like Don't read~
Happy Reading, Minna-san
"Yah, Selamat atas kelulusanmu di babak pertama. Aku bahkan tidak menyangka kau bisa lolos dengan cara semudah ini."
Suara itu langsung menyapanya begitu Uzumaki Boruto keluar dari ruangan Hokage ketiga. Boruto menoleh kearah lawan bicaranya, memasang wajah tersindir dan mendengus sebal, "Kau terdengar seperti sedang meremehkanku-ttebasa."
Sang lawan bicara menegakan bahunya. Ia tidak lagi bersandar ditembok dan memilih untuk melangkah kearah genin dengan surai pirang yang tingginya bahkan tidak mencapai pundaknya itu. "Aku tidak bermaksud seperti itu." Sahutnya sembari tersenyum.
Boruto mencibir sembari membuang wajahya. Menatap kearah jendela yang menghadap lurus kearah desa Konohagakure. "Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Beberapa hal." Jawab lawan bicaranya. Boruto merasakan sang lawan bicara berdiri disampingnya, ikut menatap pemandangan desa Konoha yang luas. Semilir angin menerbangkan poni sang bocah dengan anggunnya. Putra Nanadaime Hokage masa depan itu menutup matanya. Menikmati angin sejuk yang membelai pipinya mesra.
Ah, Betapa ia merindukan Konoha di zamannya. Konoha yang padat penduduk dengan bangunan-bangunan tinggi pencakar langitnya yang mengagumkan.
"Kudengar Hinata lolos ujian babak pertama." Hatake Kakashi mulai bicara. Boruto meliriknya sebentar, kemudian tersenyum cerah. Ia menggaruk pipinya, "Ibuku memang hebat."
Kakashi membenarkan posisi headbandnya sesaat, "Naruto juga begitu."
Senyum diwajah bocah itu lenyap seketika. Kakashi tak kuasa menahan senyum ketika menangkaap perubahan ekspresi Boruto yang begitu cepat. "Ada apa? Kupikir Sandaime-sama sudah memberimu wejangan yang ampuh."
Boruto tak menjawab. ia memilih diam dengan wajah yang sedikit tertunduk. Kakashi tidak dapat melihat seperti apa ekspresi wajah bocah didepannya, namun dari sisi pandangannya, Boruto terlihat begitu rapuh, terlihat begitu sedih.
"Apa yang dikatakan Sandaime-sama?" Tanya Hatake Kakashi hati-hati. Uzumaki Boruto mengangkat tangannya sebatas dada. Bocah itu menatap telapaknya penuh arti. Untuk sesaat suasana berubah lengang, Kakashi merasa ia tak perlu repot-repot bertanya ulang. Dirinya yakin bocah masa depan itu akan bercerita jika ia bersedia.
"Setiap cinta memiliki waktunya."
Kakashi menoleh kearah sang bocah pirang dengan heran, "Apa?"
"Itu yang dikatakan Sandaime-no-jiichan padaku." Terang Boruto tanpa menatap lawan bicaranya. Kakashi diam. Ia tak dapat mengerti kenapa Sandaime berkata demikian pada bocah ini. Uzumaki Boruto masih terlalu muda untuk mengerti emosi rumit yang disebut cinta. Entah mengerti atau tidak, pandangan bocah ini justru terlihat begitu jauh, menerawang, entah siapa yang dicarinya.
Tentu sulit bagi bocah seumuran Boruto mendapati kenyataan bahwa ibunya bukanlah cinta pertama sang ayah. Apalagi jika kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri. Melihat bagaimana ayahnya terlihat begitu mendambakan gadis lain ketimbang ibunya.
Boruto terlihat mengepalkan tangan kecilnya. Pandangannya berubah tajam, alisnya bertaut mengerikan, "Tapi.. meskipun seorang Hokage yang mengatakan itu padaku.. Tetap saja itu tak merubah fakta bahwa Tou-chan telah menyakiti Kaa-sanku."
Hatake Kakashi menjejalkan tangannya kembali ke saku celana, ia lantas berujar pelan, "Biar kuberitahu sesuatu."
"Tidak perlu-ttebasa."
Alis Kakashi bertaut, seolah menyiratkan pertanyaan 'kenapa'. Boruto yang mengerti mendengus sebal, "Mendengarnya tidak akan membuatku merasa lebih baik."
Ada jeda yang panjang setelahnya. Desahan pasrah Kakashi memecah keheningan yang sempat melanda. "Kau berbeda dari ayahmu, Boruto."
Uzumaki Boruto memutar matanya dengan wajah jengkel. Kita mulai lagi.
"Kau mungkin terlahir sebagai sebuah keajaiban, kau terlahir dengan diiringi tangisan bahagia kedua orang tuamu. Sedangkan Naruto tidak."
Kakashi mendapati bocah disampingnya tersentak kecil, meski bocah itu masih menolak menatapnya. "Ayahmu terlahir di hari dimana Konoha luluh lantah oleh amukan Kyuubi. Orang tua Naruto pun menangis, Tapi berbeda dengan orang tuamu, mereka menangis karena harus berpisah dengan anaknya, berkorban demi Konoha dan anaknya yang baru saja lahir."
Kepala kuning itu terangkat, menatap Kakashi dengan raut wajah tak mengerti. Kakashi balas menatapnya. Suasana menjadi senyap untuk beberapa saat sebelum Kakashi kembali melanjutkan, "Kau mungkin selalu dikelilingi orang-orang yang menyayangimu. Tapi Naruto tidak begitu, Ia selalu sendiri, ia memikul beban berat sebagai seorang Jinchuriki seorang diri." Lanjut Kakashi. Ia menatap Uzumaki pirang disampingnya penuh arti.
"Kau mungkin sudah diakui dari semenjak kau terlahir ke dunia sebagai anak dari seorang Hokage, tapi –lagi-lagi- Naruto justru sebaliknya. Ia berjuang mati-matian demi sebuah pengakuan. sekalipun dia juga adalah anak dari seorang Hokage, sama sepertimu."
Menghela napasnya sesaat, kakashi balas menatap bocah disampingnya, "Naruto adalah orang yang paling mengerti apa itu kepedihan hidup. Ia tumbuh sebagai anak yang bahkan tidak tahu siapa ibu dan ayahnya."
Tangan kiri Hatake Kakashi mendarat dibahu kanannya, "karena itu, Cobalah kau pahami sedikit bagaimana perasaan ayahmu. Jangan pandang Naruto yang sekarang dengan cara yang sama dengan caramu memandang Naruto yang kau tahu di masa depan."
Uzumaki Boruto menunduk. Tangannya mencengkram kaos bagian dadanya. Ia menarik napas dengan susah payah sembari menggigit bibirnya kuat-kuat.
Hening sejenak.
"Seperti yang kukatakan sebelumnya-ttebasa." Sang sulung Uzumaki itu akhirnya buka suara, "Mendengar itu semua sama sekali tidak membuat perasaanku jadi lebih baik."
.
"Boruto.."
Suara itu membuyarkan lamunan singkatnya. Ia mencondongkan tubuhnya dan membantu Uzumaki Naruto berdiri. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Boruto untuk kedua kalinya.
Uzumaki Naruto meringis pelan, namun senyum lebar itu masih belum lenyap diwajah kotornya, "Yeah. Seperti yang kau lihat, aku sangat baik-ttebayo."
Ular dengan ukuran raksasa disana melata dengan cepat dan bersiap untuk kembali menyerang. Secara bersamaan, kedua Uzumaki itu mengambil kunainya.
"Kh! Ukurannya bahkan lebih besar dari yang kuduga-ttebasa." Gumam Boruto sambil tersenyum meremehkan. Naruto memasang memasang kuda-kudanya, "Jangan lengah! Jika kau dilahap olehnya, aku akan kewalahan mengeluarkanmu-ttebayo!"
Maniknya menatap bocah pirang yang sama dengannya dengan senyum miring, "Kurasa perkataan itu lebih cocok ditunjukan padamu, Naruto."
Kepala besar milik ular dengan tubuh coklat itu menerjang kedua Uzumaki. Membuat keduanya melompat kearah yang berbeda. Ular raksasa itu meliuk di pohon dengan cepat dan menerjang Uzumaki Boruto dengan menjulurkan kepalanya kearah sang bocah. Tangan milik bocah dari masa depan itu dengan lincah mengeluaran empat Shuriken di masing-masing tangannya, "Menjauhlah, Ular jelek!"
Uzumaki muda dengan Ahoge itu melemparkan Shuriken dengan cepat. Ular raksasa itu berhasil menghindarinya. Berdecih, Boruto membuat segel dengan kedua tangannya, "Kage Bunshin no Jutsu!"
Empat kloning muncul bersama asap di udara langsung menerjang reptil dengan ukuran yang bukan main itu. Uzumaki Naruto melompat kearah Boruto sembari tersenyum mengejek, "Kau berusaha pamer, huh?! Kalau begitu, Aku juga bisa-ttebayo!"
Uzumaki Naruto membuat segel ditangannya dan merapalkan jutsunya dengan semangat, "Tajū Kage Bunshin no Jutsu!"
Bofth! Bofth! Bofth! Bofth!
Manik Boruto melebar tak percaya begitu mendapati ratusan –coret- ribuan kloning ayahnya muncul memenuhi berbagai tempat. Boruto memandang punggung kecil ayahnya. seulas senyum lebar terukir diwajah Boruto yang bulat. Semangatnya muncul entah dari mana.
Kaki mungil milik Boruto mendarat di sebuah dahan besar. Ular besar menjijikan disana sedang berhadapan dengan bayangan Ayahnya. untuk sekejap, Boruto yakin bahwa seluruh hutan ini akan berubah menjadi orange jika ayahnya menambah jumlah bunshinnya.
"Jangan sok kuat hanya karena aku disini, Naruto!" Teriak Boruto. Bocah dengan jaket hitam itu melompat tinggi. Ia bergabung dengan bunshin-bunshin ayahnya untuk melumpuhkan ular raksasa merepotkan disana.
Satu-persatu bunshin milik ayahnya menghilang bersamaan dengan asap. Boruto berlari dengan cepat diatas tubuh ular dengan ukuran besar itu, memanjatnya dengan kumpulan chakra di kakinya. Namun, sang ular nampaknya tak mau kalah, dengan gerakan tak terkendali ular itu meliukan tubuhnya keberbagai arah, menghantam tubuh para Naruto dengan membabi-buta.
"Uwaaa!"
Naruto yang asli terlempar ke tanah. Mata tanjam si ular berkilat. Tak perlu hitungan detik ular dengan tubuh coklat itu melesat kearah tubuh mungil Uzumaki Naruto.
"Narutoooo!" Tak ambil pikir, Borutopun ikut melesat kearah tubuh sang ayah. Tangannya dengan cekatan melempar kunai demi menghalangi pergerakan sang ular. Sial, Dimana Kotetsu dan Izumo saat mereka diperlukan?
Mengambil kesempatan, Naruto melompat menjauh. Tangannya merogoh kantung Shinobi yang terletak dibelakang tubuhnya.
Bom!
Boruto mengerjap. Itu bom asap. Sial, si bodoh itu bahkan tidak tahu bahwa ular tidak akan terpengaruh oleh hal seperti itu. Reptil semacam ular lebih dominan mengandalkan kemampuan sensoriknya.
Dan benar saja, Ular itu dengan gesit berpindah dari pohon satu ke pohon yang lainnya. Mengejar sosok Uzumaki Naruto dibalik asap. "Sial!" Decih Boruto kesal.
"Kage Bunshin no Jutsu!"
Bunshin Naruto muncul dibalik asap dan menghantam ular raksasa itu dengan gerakan tak terkendali. Manik safir milik Boruto dapat menangkap Naruto yang asli melompat kearahnya dengan irama napas yang berantakan.
"Bodoh! Bisakah kau pakai otakmu sedikit? Kau nyaris saja menghilangkan nyawamu sendiri!" Maki Uzumaki Boruto kepada ayahnya. Sang ayah itidak merespon perkataannya. Ia masih berusaha mengatur irama napasnya sembari tersenyum puas.
"Tak akan kubiarkan hanya kau yang bertingkah keren." Balas Naruto akhirnya.
Boruto diam. Ia tidak mengerti perkataan ayahnya tadi. Siapa yang keren? Kapan?Batin Boruto bertanya.
Mengalihkan pandangannya, menatap ular besar yang hendak menuju kearah keduanya. "Berhenti mengoceh dan fokuskan perhatianmu pada musuh."
Naruto mengangkat tangannya, mengusap peluhnya sekilas, "Kau mulai terdengar seperti Sasuke." Balas Naruto dengan nada mengejek.
Lagi, Boruto memilih tidak berkomentar. Mereka harus segera keluar dari situasi ini. Ular ini harus cepat dilenyapkan, karena sepertinya tidak mungkin ular sebesar ini bisa jinak.
Boruto mengambil ancang-ancang untuk melompat, "Naruto, Dengarkan aku." ayahnya menatapnya dengan alis yang terangkat sebelah. "Aku akan mengalihkan perhatiannya dengan Shuriken Jutsuku, Jika ada kesempatan, kau habisi ular menjijikan itu. Kau mengerti?" Intruksi si Uzumaki dengan jaket hitam.
Tanpa menunggu balasan Uzumaki Naruto, Boruto melompat dengan tiga buah kunai dan Shuriken di tangannya. Ia melesat kearah sang ular dan melesatkan beberapa kunai dengan gerakan cepat dari tangannya.
Bersalto, Boruto melemparkan Shurikennya kearah yang berlawanan dengan kunainya. Membuat kedua benda itu bertubrukan dan menghasilkan bunyi 'trang' yang familiar.
Sebuah kunai berhasil melukai tubuh si ular raksasa. Boruto berdecih pelan, sepertinya jika hanya kunai kecil tidak akan bisa melumpuhkan ular itu dengan cepat.
Ular besar itu tidak mau kalah, sosoknya yang besar melata ditanah dengan gesit, berusaha menangkap Uzumaki Naruto dengan ekor besarnya. Boruto menggemeretukan giginya kuat-kuat. sepertinya tidak ada pilihan lain selain menggunakan tubuhnya sendiri sebagai umpan. Jemarinya membentuk segel, "Kage Bunshin no Jutsu!"
Bofth!
Bunshin-bunshinnya menerjang si ular besar tanpa ragu. Uzumaki pirang dengan Ahoge itu melompat keatas. Tepat dibawah matahari, membuat sosoknya terlihat berkilauan.
Uzumaki Boruto memosisikan kedua tangannya didepan dada. Pijaran cahaya kecil muncul diantara lengannya. Sebuah bola kecil berwarna biru dengan pusaran didalamnya melayang diantara telapak tangan Boruto.
Rambut milik Boruto berantakan, jaketnya berkibar. Naruto yang melihatnyapun terpana. Bola yang melayang ditangan Boruto itu terlihat begitu berkilau sama seperti halnya manik milik Boruto sendiri.
"Rasengan!"
Bocah dengan kalung berbandul baut itu melemparkan jutsunya. Bola bak percikan kembang api itu menghilang di udara setelah beberapa meter terlepar.
Uzumaki Naruto belum pernah melihat jutsu semacam ini, namun ia yakin bola biru itu tidak menghilang. Ia yakin itu.
DUAKK!
Sesuatu yang tidak terlihat menghantam wajah sang ular telak.
"Naruto! Sekarang-ttebasa!" Teriak Boruto senang.
Namun, Uzumaki Boruto terlalu pongah. Terlalu cepat baginya untuk merasa senang. Tidak, ini belum berakhir. Ular besar yang baru saja terjatuh di tanah langsung bangkit dan membuka moncong besarnya lebar-lebar. Bersiap menelan Uzumaki pirang dengan jaket hitam itu bulat-bulat. Manik milik sang bocah melebar. Sial, ia tidak akan bisa menghindar jika jaraknya sedekat ini.
Boruto menoleh dengan cepat kearah ayahnya, "Naruto! Ini kesempatanmu! Jangan pedulikan–eh?!"
Naruto melompat kearahnya. Bukan. Bocah Jinchuriki itu tidak bermaksud melumpuhkan sang ular. Tidak. Bocah dengan jaket orange itu memilih untuk ikut terjun bersamanya kedalam mulut sang ular sambil berusaha menggapai lengan miliknya.
Dan dengan cepat, ular dengan ukuran bukan main itu menelan kedua Uzumaki itu sekaligus.
"KAU BODOHHHHHH!"
.
Uzumaki Boruto bukanlah Shinobi biasa. Orang-orang bahkan menyebutnya sebagai genin elit. Dengan nama besar sang ayah dibelakangnya, ia harus selalu tangguh disituasi apapun. Ia tidak akan kalah dengan mudah.
Tapi, membayangkan dirinya mejadi santapan seekor ular raksasa menjijikan sama sekali tak pernah dipikirkannya sebagai jalan untuk mengakhiri hidupnya. Ditambah lagi yang membuatnya terjebak kedalam keadaan seperti ini adalah ayahnya sendiri. Ya, Uzumaki Naruto.
"Heyy! Keluarkan akuuuu!"
"Kubilang keluarkan akuu!"
"Keluarkan aku-ttebayoo!"
"Berisik!" Teriak Boruto emosi. Uzumaki Boruto mendesah frustasi, "Beberapa menit lalu kau sendiri yang mendorong tubuhmu kemari dan kau baru menyesalinya sekarang?"
Uzumaki Naruto masih berusaha menusuk-nusuk daging kemerahan yang menjepit tubuhnya dengan susah payah. "Aku tidak mau berakhir disini-ttebayo!"
Di dalam tubuh seekor ular membuat Boruto merasa dirinya sendiri begitu menyedihkan. Ia tidak bisa melakukan gerakan apapun karena daging ular menjijikan ini menjepit tubuhnya. Terlebih cairan yang kini membasahi tubuh hingga rambutnya membuatnya jijik pada dirinya sendiri.
Dengan susah payah, Naruto menggerakan tangannya ke kantung ninjanya, "Bagaimana caranya agar bisa keluar dari sini..?" Gumamnya sembari meraih sesuatu di dalam kantungnya.
Boruto menggerakan kepalanya pelan, kaki milik Naruto berada diatas kepalanya dan ia mulai sulit bernapas. Naruto mengeluarkan sesuatu dari kantung ninjanya, "Ah, Onigiri untuk makan siangku."
"Yang benar saja, Kau mau makan disaat seperti ini?" Tanya Boruto setengah kesal. Jepitan daging ular ini semakin menguat. Onigiri di lengan ayahnya terlepas begitu saja. "Ah."
Onigiri itu menggelinding hingga di depan wajahnya. Boruto tak mampu melakukan pergerakan apapun selain menatap onigiri di wajahnya.
Selang beberapa detik, Onigiri dengan ukuran kecil itu menghilang begitu saja didepan matanya. Boruto mengedipkan matanya dua kali. A-apa?
"T-Tercerna?!" Teriak ayahnya histeris. "I-Itu berarti.. Kita berdua akan tercerna seperti onigiri itu..?"
Daging lembab yang menjepit tubuh keduanya bergerak. Boruto merasakan sesuatu menariknya kebawah. Begitupun Naruto. "S-Sial."
"Tidakkk! Keluarkan aku! Kubilang keluarkan aku-ttebayooo!"
Boruto mengambil kunainya. Berusaha menancapkan kunainya dengan kuat. percuma, Daging milik ular ini terlalu kuat.
Tangannya dengan susah payah terus mengulangi hal yang sama. Tanpa hasil. Boruto mendesah keras. teriakan ayahnya justru membuatnya semakin panik.
"Berhentilah merengek! Seharusnya tadi kau tidak perlu menyelamatkanku-ttebasa!" Ujarnya marah. Naruto meliriknya kesal, "Mana kutahu! Tubuhku bergerak sendiri!" Balas sang Jinchuriki tak mau kalah.
Uzumaki Boruto berdecak sebal, ia benci lendir milik ular menjijikan ini membasahi seluruh tubuhnya, memuat tubuhnya terasa lengket. "Sial, Kita harus melakukan sesuatu agar ular ini memuntahkan kita secepatnya!"
"AH!"
Berusaha menoleh kearah ayahnya, Boruto memaksakan tangannya menahan daging yang semakin kuat menjepitnya. "Ada apa-ttebasa?"
Naruto menatap Boruto dengan wajah yang terlihat bodoh. Boruto mengernyit, Apakah benar orang bodoh ini mirip dengannya?
"Itu dia! Kau akan muntah jika terlalu banyak makan-dattebayo!" Jelas Naruto antusias. Boruto berusaha memahami maksud perkataan ayahnya. Ia menatap sang ayah dengan tatapan tak percaya, "Jangan bilang.. Kage Bunshin?"
Kepala kuning Naruto mengangguk. Beberapa lendir pekat jatuh kewajahnya, membuat wajah ayahnya semakin terlihat kotor. "Kalau makhluk ini tak mau mengeluarkan kita, Aku yang akan melakukannya sendiri-ttebayo!"
Boruto kehilangan kata untuk mengomentar ayahnya. seulas senyum lebar tak bisa ia tahan, Boruto membiarkan senyumnya mengembang begitu saja. "Tidak ada salahnya dicoba. Ayo lakukan-ttebasa!"
Keduanya membuat segel ditangan, dan dengan bersamaan keduanya merapalkan Jutsu, "Kage Bunshin no Jutsu!"
.
Ular besar itu beristirahat disebuah pohon besar. Gundukan besar diperutnya membuktikan bahwa makhluk besar itu baru saja selesai dengan santapannya, ralat, Dua santapannya.
"Kage Bunshin no Jutsu!"
Gundukan diperutnya membesar. Terus membesar hingga merambat keseluruh tubuhnya. Membuat ular itu terlihat membengkak karena sebab yang tidak jelas. Hingga akhirnya tubuh makhluk besar itu tidak sanggup lagi menampung banyaknya benda didalam tubuhnya dan–
DUAR!
Tubuh sang ular meledak hingga menjadi serpihan-serpihan daging yang menjijikan, dengan empat orang Uzumaki Boruto dan ratusan Uzumaki Naruto yang keluar dari dalam tubuhnya.
Cairan kental serta darah membanjiri daerah sekitar. Naruto mendaratkan kakinya di tanah, menyeka lendir kotor diwajahnya dengan tangan, "Aku adalah Shinobi yang kelak akan menjadi seorang Hokage.. Hah.. Hah.. Aku tidak akan kalah oleh ular besar itu!"
Uzumaki Boruto mendudukan tubuhnya ditanah. Ia menghirup udara sebanyak mungkin ia bisa. Membuat napasnya berantakan. Matanya yang sedikit terpejam menatap punggung sang ayah.
'Ia berjuang mati-matian demi sebuah pengakuan.'
Boruto tersenyum tipis begitu perkataan Hatake Kakashi terngiang dikepalanya secara tiba-tiba. Benar, Ayahnya sudah berjuang gigih.
Disaat Boruto sudah hampir menyerah ketika ia berada di dalam perut makhluk besar itu, Ayahnya sama sekali tidak kehabisan cara untuk mengeluarkan mereka berdua dari sana. Dan ketika ia meminta ayahnya untuk menyerang ular besar itu tanpa memerdulikannya, sang ayah justru mengabaikan apa yang ia katakan dan malah berusaha mencoba menolongnya.
Punggung Naruto terlihat begitu kecil. Terlalu kecil untuk menanggung kebencian warga desa. Tapi ayahnya masih tetap bisa berjalan kedepan, konsisten dengan apa yang diinginkannya. Dialah Uzumaki Naruto yang sebenarnya. Bocah lugu dengan hati yang mulia. Sosok lain dari ayahnya yang baru saja Boruto ketahui.
"Boruto."
Panggilan itu membuat lamunannya terhenti. Kini sang ayah berjalan kearahnya dengan irama napas yang sudah stabil. "Hng?" Gumam Boruto.
Naruto mengulurkan kepalan tangannyanya pada si bocah dengan Ahoge yang tengah terduduk di tanah. Boruto menatap ayahnya dengan alis terangkat. Naruto lantas membuka kepalannya, menunjukan suatu benda di tangannya. "Kalungmu-ttebayo."
Dengan cepat ia meraba seputar lehernya. Benar, kalung yang biasanya menggantung disana lenyap. "Bagaimana bisa?" Tanya Boruto linglung.
"Ku pungut ini begitu kita semakin terhisap kedalam perut makhluk tadi. Mungkin kalungmu tersangkut dan tanpa sadar terlepas." Jelas Naruto sembari mendudukan tubuhnya didepan Boruto.
Kalung itu. Kalung yang sudah menempel bersamanya bahkan semenjak ia masih berada di akademi. Kalung itu adalah pemberian ayahnya ketika ia masih jauh lebih muda dari sekarang.
Boruto menimbang-nimbang sejenak kemudian menggeleng pelan, "Tidak usah. Kau buang saja. Aku bisa mendapatkan yang baru setelah aku kembali ke rumah-ttebasa."
"Kenapa begitu-ttebayo?" Tanya Naruto dengan wajah tertekuk kesal. "Karena aku pantang menggunakan barang yang sudah rusak. Kau lihat, talinya sudah putus." Telunjuknya menunjuk kearah tali kalungnya yang terputus.
Uzumaki Naruto menatap kalung itu sejenak, "Tapi ini masih bisa digunakan." "Aku bisa minta orang tuaku membelikan yang baru. Asal kau tahu, Aku lebih suka memakai barang yang baru dan bagus." Jawab Boruto sambil mengangkat bahunya.
"Kalau begitu, Kalung ini untukku saja-ttebayo." Seru Naruto tiba-tiba. Boruto mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi. "Itu sudah rusak. Lebih baik kau membuangnya-ttebasa."
Mendengus pelan, Kedua lengan Naruto mengalungkan kalung berbandul baut itu ke lehernya sendiri, "Kau sudah tidak memerlukannya lagi, itu berarti aku boleh memilikinya."
Boruto terkesiap berlebihan, "Astaga. Aku lupa bahwa kau ini memang orang yang tidak mau kalah. Dasar mulut besar."
Kemudian keduanya tertawa. Naruto adalah orang pertama yang menghentikan tawanya. Ia memandang bocah yang mirip dengannya itu dengan pandangan hangat.
"Aku minta maaf."
Tawa Boruto langsung terhenti. Ia menatap ayahnya dengan ekspresi heran. "Apa yang kau bicarakan?"
"Atas semua hal yang terjadi padamu. Aku tidak tahu kau mendapatkan serangan dari warga desa saat aku menjalankan misi. Karena kau mirip denganku.. Aku jadi melibatkanmu kedalam masa–" "Wow! Wow! Tahan pikiranmu itu, sobat!" potong Boruto akhirnya.
Boruto membenarkan letak duduknya. Dengan ragu ia menatap ayahnya. "Darimana kau tahu soal ini? Aku yakin tidak pernah mengatakannya padamu." Tanya Boruto.
"Kakashi-sensei yang memberitahukannya padaku-ttebayo" Jawab Naruto cepat. Jinchuriki Kyuubi itu mengacak surai pirangnya yang basah, "Kakashi-sensei bilang itulah sebabnya kau jadi uring-uringan selama ini. Maafkan aku. padahal kau tidak ada hubungannya sama sekali dengan ini."
Uzumaki Boruto mengusap tengkuknya gugup. Ia membuang wajahnya kearah lain, "Yah, Tak usah dipikirkan. Aku sudah melupakannya-dattebasa." Sesaat suasana berubah lengang, Boruto kembali melanjutkan perkatannya, "Aku juga minta maaf karena telah memukulmu tempo hari."
Semburat merah tipis secara otomatis muncul di pipi bulatnya. Manik safirnya mencuri pandang kearah sang ayah dari ekor matanya. "K-kejadian itu memang salahmu-dattebayo! Saat itu, kau ini seperti hewan buas yang sedang liar dan tak terendali! Kau sama sekali tidak punya alasan untuk memukulku hingga seperti itu-ttebayo!" balas Naruto sambil menunjuk-nunjuk anak masa depannya dengan berapi-api.
Twich.
Perempatan tercipta di pelipis sang sulung Uzumaki.
"Apa?! Aku saja langsung memaafkanmu tadi! Hari itu mutlak adalah salahmu! Mulut besarmu itu terus saja mengoceh soal Sakura-chan, Sakura-chan! Menyebalkan tahu!" Boruto membalas tak mau kalah.
"Kenapa kau begitu emosional begitu aku menyebut-nyebut nama Sakura-chan? Jadi benar kau memang–"
"Tutup mulutmu, sialan. Kau mau aku memukulimu lagi, hah?!"
"Aku meragukannya, Boruto. sejauh yang kuingat, pukulanmu sama halnya dengan pukulan seorang wanita-ttebayo."
"Aku yakin kau lupa. Mau coba kuingatkan sekali lagi?"
Naruto tertawa lebar setelahnya. Melihat wajah Boruto yang memarah menahan malu tampak begitu menarik. Wajah seperti itu mengingatkannya pada seseorang. Seorang gadis yang berada satu kelas dengannya dulu saat di akademi.
Gelak tawa Naruto mereda. Manik sebiru lautan milik sang Jinchuriki Kyuubi menyipit. Ia menatap bocah yang mirip dengannya lamat-lamat. "Ternyata.. Matamu memang lebih biru dari milikku-ttebayo."
Boruto tersentak kecil. Ia menggaruk tengkuknya gugup. "A-Apa yang kau bicarakan-ttebasa!" Kilah Boruto. Putra Nanadaime hokage itu berusaha menutupi rona merah dipipinya dengan poni. Ia malu –tentu saja. Ayahnya mengatakan hal yang persis sama dengan yang di katakan ibunya tempo hari yang lalu. Inilah kali kedua Uzumaki Boruto mendengar suatu hal penting yang berkaitan dengan dirinya, Suatu hal yang bahkan baru ia sadari akhir-akhir ini.
"Hey, Boruto." panggil ayahnya pelan.
Kepala kuningnya terangkat. Boruto balas menatap manik biru ayahnya. untuk sesaat, Boruto bisa merasakan angin dingin menyapa kulitnya yang sudah setengah basah. Lengang.
"Sebelum ini.. Aku melihatmu dan Hinata di depan gerbang hutan."
Perkataan ayahnya sontak membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Begitu nama Hinata keluar dengan mulus dari bibir sang ayah seketika itu juga membuat tubuh sang sulung Uzumaki menegang entah kenapa sebabnya.
Kepala Naruto tertunduk sesaat, "Kau tahu.. Ada suatu hal yang mengganjal begitu aku melihatmu dengan Hinata. Aku tidak mengerti, Tapi.." Naruto mengangkat kembali wajahnya. Uzumaki Naruto memandang genin pirang didepannya lurus-lurus.
"Kau, aku... dan Hinata.. Kita bertiga pasti punya suatu keterkaitan, bukan?"
Boruto bangkit dari posisi duduknya. Ia menatap Naruto dengan mulut menganga. Oh, ia bahkan kehabisan ide untuk berkelit.
Uzumaki Narutopun ikut bangkit. Matanya masih tak lepas dari sosok bocah pirang dengan jaket hitam didepannya, "Sebenarnya... Kau ini siapa?"
Deg!
Boruto mundur selangkah. "Lalu, Seperti apa.. hubungan kita bertiga?"
~À Suivre~
A/N: Hallo! Seperti yang Bieber janjikan, Hari kamis ini pasti update XD Duh, maaf actionnya agak gimana. Bieber sadar kok Bieber gak jago bikin adegan actionnya/?
Bagaimana tanggapan kalian? Sekedar informasi bahwa Hyuuga Neji akan muncul di chapter depan X3 kkyyyyaaaaa #Dijuuken#
Dan seperti biasa, Chapter depan akan Bieber update minggu depan pada hari Senin/Kamis ^^
Nah, langsung ke sesi tana jawab deh :3
Q:jangan2 nanti karin malah suka sm boruto bukan sasuke lg?
A: Oh, nggak akan kok ^^
Q: ni kira2 sampe chap berapa?
A: Entahlah, Bieber sendiri masih galau :'3/no
Q: heh? di tolong sasuke? kok gak tau ya? itu versi anime apa manga sasuke nolong karin?
A: AniManganya kok :3 Coba cek chapter dimana Sasuke berniat membunuh Karin setelah bertarung melawan mbah(?) Danzo ya :D
Yosh! Segitu yang bisa Bieber jawab ^^ Ah, Sempet lupa. HAPPY NARUHINA FLUFFY DAY 2016, NHLs ^ ^ Yuk ramaikan event NaruHina ini sama-sama! Jangan mentang-mentang udah canon lantas kita gak peduli lagi sama event tahunannya ship kita ya :'D/apalu
Terima kasih sudah berkesempatan untuk membaca/Review/Fav/Follow ff Bieber ^^
Akhir kata,
Mind to Review?
