Boruto's Time Adventure
.
Naruto © Masashi Kishimoto
~This story is Mine~
Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll
.
~Don't like Don't read~
Happy Reading, Minna-san
Tsurugi Misumi tidak terlihat seperti Shinobi yang mesti ia perhitungkan. Dari perawakannya saja Boruto menebak bahwa Shinobi ini bukanlah shinobi dengan kemampuan yang menonjol. Uzumaki Boruto mengedikan bahunya sekilas. Yah, kita juga tidak bisa menilai seseorang dari cara ia berpenampilan. Ia akan menahan penilaiannya sampai pertandingan ini selesai.
"Pertama, harus kukatakan bahwa aku merasa tersanjung bisa bertarung denganmu secepat ini." Suara Misumi terdengar. Boruto mengangkat sebelah alisnya tinggi, "Apa itu kekuatanmu? Menjilat?" Tanya Boruto blak-blakan. Oh, ia memang tidak berencana untuk bersikap ramah kepada lawannya –sekalipun ia adalah shinobi Konohagakure.
Boruto tidak bisa melihat perubahan ekspresi apa yang kini ditampilkan Misumi dibalik cadarnya. Yang pasti, ia bisa dengan jelas melihat kedutan di sekitar pelipis lawannya.
Shinobi Konoha dengan kacamata bening itu membentuk segel di tangannya kemudian berkata, "Kau menarik, aku menyukaimu."
"Kau tidak menarik dan aku tidak menyukaimu." Balas Boruto sembari menyiapkan ancang-ancangnya.
Gekkou Hayate yang merupakan wasit dalam ujian chunnin babak ini tersenyum masam. Ada apa dengan Uzumaki Boruto ini? Sombong sekali. Hayate berdehem sesaat, "Kalau begitu, Pertempuran dimulai!"
Lengan milik Tsurugi Misumi memanjang. Boruto tersentak untuk beberapa saat sebelum melompat. Yang benar saja, itu jutsu yang sama dengan milik kawannya –Mitsuki. Boruto mengeluarkan beberapa shuriken kemudian melemparnya dengan cekatan. Ia sudah memprediksikan bahwa Tsurugi Misumi pasti akan dengan mudah menghindar. Dengan tubuh elastis seperti itu, ia bisa jadi lebih cepat dari yang diduganya.
Lengan panjang milik Misumi terus saja mengikuti pergerakannya seperti ular yang mengincar mangsa. Boruto berdecih. Dalam situasi seperti ini, Tsurugi Misumilah yang akan ia jadikan mangsanya.
Boruto membuat segel ditangannya. Sebuah bunshin muncul bersamaan dengan kepul asap di udara. Boruto menyeringai senang ketika maniknya mendapati mata Tsurugi Misumi membulat seketika. Oh, Tidak. Ia tentu belum selesai hanya dengan bunshin sederhana. Dengat gesit, Uzumaki Boruto mengganti segel di tangannya.
Putra Nanadaime Hokage itu menarik napasnya dalam-dalam, mengumpulkan udara di mulutnya sebelum merapalkan jutsu, "Fuuton!"
Boruto meniupkan angin besar dari mulutnya. Angin yang cukup kuat untuk mempercepat pergerakan bunshinya hingga tendangan kloningnya dengan sukses menghantam lawan.
Tsurugi Misumi melemparkan sebuah shuriken kearahnya. Tentu saja ia dengan mudah menangkis serangan itu dengan kunainya. Boruto meleguh kecewa ketika apa yang diharapkannya ternyata tidak semenyenangkan apa yang ia duga. Ia berpikir lawannya bisa jauh lebih tangguh daripada ini. Ah, ekspektasi memang menyakitkan.
Tubuh lawannya tersungkur di tanah. Namun kembali bangkit dengan gesit. Boruto berjalan mendekati lawannya. Baiklah, untuk seorang genin, Tsurugi Misumi bisa ia kategorikan sebagai shinobi dengan harga diri yang cukup tinggi. Orang itu pasti tidak mau dipermalukannya. Hei, memang berapa umur Misumi sekarang? Lima belas? Atau lebih? Berapapun itu, Boruto jelas yakin bahwa Tsurugi Misumi tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri dengan dikalahkan seorang shinobi yang lebih muda darinya –yeah, Boruto cukup yakin dirinya lebih muda.
"Tadi hanya pemanasan. Mari kita mulai pertandingan yang sesungguhnya." Seru Misumi dengan suara datar. Uzumaki Boruto mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Orang ini terlalu banyak bicara. Tipe orang yang tidak ia senangi.
Kepala serupa daun itu menggeleng pelan. Manik milik Boruto menatap lawannya tak tertarik, "Maaf, kawan. Tapi mengobrol ditengah pertandingan bukan gayaku."
Tsurugi Misumi mengambil sebuah kunai dari kantung ninjanya. Tangan milik bocah dengan kepala pirang itu kembali membentuk segel. Segel yang berbeda.
"Suiton!" Rapal Boruto. Gumpalan air dengan jumlah yang tidak sedikit seketika muncul dihadapan sang bocah. Mengundang decakan kagum dari seluruh orang yang ada dalam arena pertandingan. Padahal jarak tempat ini dan sumber air begitu jauh, tapi dengan jeniusnya bocah pirang itu bisa menggunakan suiton.
Lompatan tinggi dilakukan Uzumaki Boruto lantas menendang gumpalan air yang melayang itu dengan kumpulan chakra di kakinya bagai bola sepak. Dan secara objektif mengenai Tsurugi Misumi sekali lagi. Boruto memasang seringai sombongnya. Ia lantas berkata, "Kh! Sayang sekali. kali ini kau akan kukalahkan dalam satu tebasan-ttebasa!"
Sebuah bola kecil berwarna biru yang menyala terang muncul diantara lengan si bocah.
Hatake kakashi menatap tak percaya terhadap apa yang kini ada didepannya. Yang benar saja! itu Rasengan? Jutsu yang diciptakan oleh Yondaime Hokage itu bisa Boruto kuasai? Astaga. ia jelas tahu Boruto adalah seorang Shinobi jenius yang sangat berpotensi. Tapi Rasengan? Di usia yang sedini ini? Oh, Tuhan. Bocah itu mengerikan!
Boruto melemparkan Rasengan di tangannya. Rasengan itu mendesing dan menghilang tepat di depan mata Tsurugi Misumi.
Sebagaimana Misumi mulai membuka mulutnya dan mencemooh Boruto, kejutan yang mengerikan menyerang seluruh tubuhnya.
DUAK!
Selain Uzumaki Naruto, semua orang merasakan kekagetan yang sama. Bahkan untuk Tsurugi Misumi yang mendapat hempasan kuat dan membuatnya tersungkur ke belakang.
Ia, Tsurugi Misumi, tidak tahu apa yang baru saja terjadi.
Tapi, ia hanya tahu satu hal. Ia kehilangan kendali atas tubuhnya dan merasakan sakit yang merambat menimbulkan nyeri.
Mengejutkan sekali mengetahui fakta bahwa ia dikalahkan seorang genin muda dengan mudahnya. Ia tak punya pilihan lain selain mengakui bahwa genin pirang bernama Uzumaki Boruto itu memang kuat.
Uzumaki Boruto tersenyum miring. Ia menoleh kearah Tokubetsu Jounin yang mematung di tempatnya. Hayate masih tercengang rupanya. Ia bahkan sampai melupakan kedudukannya sebagai wasit.
"Ehem!"
Boruto berdehem keras. Hal itu sukses menyadarkan kembali Gekkou Hayate dari keterkejutannya.
"Ah.." Hayate merasa lidahnya kelu untuk sesaat. Ia nyaris tidak bisa memikirkan hal apa yang harus ia katakan. Namun ia cepat-cepat mengendalikan diri. Ia menatap Uzumaki pirang di depannya dan Tsurugi Misumi yang terkapar dilantai bergantian.
Gekkou Hayate tersenyum kecil. Astaga, pertandingan tadi adalah pertandingan tercepat yang pernah dilihatnya seumur hidup. "Pemenangnya, Uzumaki Boruto!"
Riuh tepuk tangan menyapa indra pendengarannya. Uzumaki Boruto tersenyum senang. Ia mengedarkan pandangannya kesekitar. Sandaime Hokage, Hatake Kakashi, Kotetsu, Izumo dan ibunya menatapnya dengan raut wajah bahagia. Uzumaki Naruto –ayahnya- juga menatapnya. Entah apa maksud dari tatapan yang diberikan ayahnya –Boruto memilih tidak peduli. Kemudian, seulas senyum terukir di wajah ayahnya. Boruto tak bisa menahan dirinya untuk tidak ikut tersenyum.
Inilah yang selalu diinginkannya. Ia menarik leher ayahnya, membuat pak tua itu sadar betapa hebatnya seorang Uzumaki Boruto. Sekalipun dalam hal ini –pada saat ini- ayahnya masih seorang Genin yang bahkan tidak mengetahui siapa ia sebenarnya, namun Boruto tidak keberatan. Ia tidak akan mengeluh untuk yang satu itu.
Boruto membiarkan kakinya melangkah mendekati ayahnya. Entahlah. Boruto mulai merasakan dirinya sedikit gugup. Kira-kira apa yang akan dikatakan ayahnya? apakah ayahnya bangga? Atau...
"Boruto."
Sebelum Boruto menyelesaikan perkiraannya, Sang ayah sudah berdiri didepannya. Menyebut namanya. Tersenyum penuh arti. Hanya padanya.
Boruto tidak bisa melakukan apapun selain membalas tatapan ayahnya. Uzumaki Naruto memperlebar senyumnya, "Kau bertarung dengan hebat!"
Matanya membulat. Ia nyaris saja berteriak andai ia tidak sadar dimana kini ia tengah berada.
Nanadaime Hokage masa depan itu menepuk-nepuk pundak putranya senang, "Hanya dengan melihatmu seperti itu saja aku bisa sesenang ini! Kau memang kuat, Boruto!"
Boruto mengerjapkan matanya. Ia mulai merasakan wajahnya memanas. Oh, astaga. apa sebaiknya yang harus ia lakukan?
"T-Tentu saja aku kuat! S-sudah kubilang aku ini jenius-ttebasa!" Tukas Boruto terbata. Ia membuang wajahnya dengan wajah tak peduli. Ah, pada kenyataannya ia hanya berusaha menutupi rasa malunya.
"Boruto!"
Begitu namanya dipanggil, Boruto langsung menoleh. Adalah Hatake Kakashi serta Sandaime Hokage yang berdiri tepat di belakangnya. Sang sulung Uzumaki itu memutar tubuhnya lantas berkacak pinggang, "Simpan pujianmu untuk nanti. Kau tidak lihat aku sedang sibuk?"
"Sayang sekali, tapi disini kami memang tidak berminat untuk memujimu, Boruto." Sangkal Kakashi sambil mengangkat bahunya polos. Boruto melipat tangannya, memasang wajah penuh selidik.
"Kau , ikutlah dengan kami." Kali ini Sandaimelah yang angkat suara. Dari pada ajakan, Boruto merasa itu adalah perintah. Ada apa ini?
Ia bukan tipikal orang yang terbelit-belit. Karena itu ia langsung menyetujui ajakan –atau perintah- Sandaime untuk ikut bersamanya. Ia meninggalkan Naruto begitu saja dan melenggang tak peduli sekalipun kini ayahnya berteriak kearahnya karena merasa tidak terima ditinggalkan begitu saja. Masa bodoh. Apa peduliku? Setidaknya, itulah yang ia pikirkan.
"Fuuton, Suiton, Kagebunshin, dan Rasengan. Itu tadi adalah serangan paling sempurna yang pernah kulihat dari seorang Genin." Hatake Kakashi angkat suara begitu ketiganya –Boruto, Sandaime, serta Kakashi- berjalan disebuah lorong sepi.
Hatake Kakashi melirik bocah pirang yang berjalan disampingnya dengan wajah senang, "Yah, Apalagi yang kau harapkan dari seorang Shinobi dari masa depan selain kesempurnaan?"
seulas senyum tipis terlihat begitu Boruto menoleh kearah Kakashi. Dahi sang Jounin mengkerut samar. Senyum yang diarahkan padanya itu seolah menjabarkan perkataan 'Aku tahu aku hebat. Kau tidak perlu repot-repot menjabarkannya'. Maka Kakashi memutuskan untuk memandang bosan bocah itu dan memilih untuk mengunci bibirnya rapat-rapat.
Langkah ketiganya terhenti. Boruto memiringkan kepalanya sedikit demi menatap kakek tua yang menjabat sebagai Hokage ketiga disampingnya dengan heran. Sandaime Hokage lantas mengintruksikan bocah masa depan itu untuk berjalan lebih dulu memasuki subuah ruangan remang yang hanya disinari beberapa obor yang menempel di pilar-pilar besar.
"Aku tidak mengerti alasan kenapa kalian berdua membawaku kemari. Dan aku memaksa kalian untuk menjelaskannya sekarang!" Tuntut Boruto bersungguh-sungguh. Kakashi menutup matanya sesaat, kemudian berjalan dengan santai kearah si sulung Uzumaki.
"Kami berhasil menemukannya!" Suara Kakashi membelah keheningan yang semula mendominasi. Boruto yang tidak mengerti lantas menyipitkan matanya, "Aku bahkan tidak tahu ia menghilang-ttebasa!"
Hokage ketiga mengusap puncak kepala bocah pirang itu sesaat. Manik hitam milik sang Hokage menatap birunya kelereng Boruto lurus-lurus. "Setelah sekian lama membongkar dan memodifikasi beberapa jutsu terlarang. Akhirnya kami berhasil meciptakan formula yang tepat." Seru Sandaime.
"Seharusnya kau senang. Kami hanya perlu mengembangkan segel yang ada dengan formula jutsu yang baru saja diselesaikan."
Boruto tidak yakin otaknya mengerti hal apa yang tengah dibicarakan Sandaime. Semua istilah yang digunakan kakek tua itu terdengar asing di telinganya.
"Aku punya dua kesimpulan disini." Boruto mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya. "Pertama, Aku tidak tahu kenapa aku harus merasa senang." Boruto menggantungkan kalimatnya. Ia menatap Hatake Kakashi dan Sarutobi Hiruzen dengan wajah dongkol, "Dan kedua, Aku bahkan tidak mengerti sama sekali dengan apa yang kalian tengah bicarakan!"
Hatake Kakashi mengembuskan napasnya sebelum berkata, "Kujaku Myōō no jutsu. Itulah hal yang kini tengah kita bicarakan."
"Lantas apa hubungannya denganku-ttebasa?"
Kakashi mendesah kesal. Astaga. Apa yang terjadi? Kenapa kini seorang jenius macam Uzumaki Boruto bisa begitu bebal?
"Itu berarti..Kau akan segera pulang, Uzumaki Boruto."
Dan saat itu, segala ekspresi diwajah Uzumaki Boruto lenyap tak berbekas.
.
.
"Ah! Akhirnya kau kembali!"
Uzumaki Boruto menyudahi lamunannya. Ia mengangkat wajahnya dan menangkap sosok Izumo dan Kotetsu di ujung lorong. Kedua Chunnin itu sama sekali tidak terlihat baik di matanya. Seragam Genin kedua orang itu nampak lebih lusuh jika dibandingkan dengan terakhir ia melihatnya.
Apakah kedua Chunnin itu baru saja selesai bertanding?
"Ah, Berapa pertandingan yang kulewatkan?" Tanya Boruto seraya memercepat irama langkahnya. Izumo terkekeh lantas berkata, "Cukup banyak. Sayang sekali, kau melewatkan saat dimana Kotetsu di hajar habis-habisan oleh Genin Suna dengan coretan wajah aneh itu."
"Hey! Aku tidak di hajar habis-habisan, mengerti? Aku hanya mengalah. Menyerah sampai babak ini adalah rencana awal, kau ingat?" Protes Kotetsu pura-pura tersinggung. Boruto memiringkan wajahnya, tersenyum mengejek, "Jadi kalian kalah?"
"Yang benar adalah mengalah!" Koreksi Kotetsu cepat.
"Tidak?"
"Tidak!"
Boruto mengentikan candaannya begitu Kotetsu mulai menggerutu tak jelas. Ia tertawa sesaat. Sebelum suara Izumo kembali terdengar. "Ah! Kau pasti tidak akan menyangka siapa yang kini tengah bertanding!"
Alisnya terangkat. Pertandingan siapa? Bocah pirang itu lantas membiarkan Izumo menarik lengannya lebih dekat kerena pertandingan.
Ketika ia berada di ujung lorong. Langkah kakinya terhenti. Matanya menyipit. Pandangannya terarah kepada seorang gadis kecil yang tengah berdiri di arena pertandingan. Berhadapan dengan seorang bocah bersurai coklat.
Oh... Hinata? Langsung saja wajah Boruto berseri-seri dan senyum senang tersungging di bibirnya.
Ia melepaskan tangan Izumo di lengannya, berlari sebelum berniat berteriak selantang mungkin untuk menyemangati ibunya. Ia tidak akan peduli sekalipun ia mendapat teguran karena terlalu berisik, ia hanya ingin sebisa mungkin mendukung ibunya.
Ketika langkahnya terhenti di depan pagar pembatas, ia mencengkram pagar itu sekuat tenaga dan mulai menghirup napas kuat-kuat sebelum melancarkan niatannya untuk berteriak.
Namun ketika hendak merealisasikan aksinya, Ada suatu hal yang mengganggunya. Boruto menghembuskan kembali napasnya. Ia mungkin akan menunda sorakannya untuk Hinata beberapa saat. Tapi.. tunggu dulu! Kenapa semua orang terlihat begitu tegang?
Ada apa disini?
Ia menoleh ke kanan dan kekiri bergantian. Semua orang disini bahkan mengeluarkan aura ketegangan yang sama. Alis Boruto terangkat naik. Ia memfokuskan kembali pandangannya kearah Hinata. Ibunya juga menampilkan ketegangan yang jelas di wajahnya. Selain itu, ia mulai meyakini bahwa tubuh ibunya bergetar hebat.
Pemandangan yang jelas mengganggunya. Menggeram, Boruto mengumpati orang yang sudah dengan lancangnya membuat ibunya seperti itu.
"Dengan kata lain.. jauh dalam lubuk hatimu, kau mengetahui kebenaran itu, bukan?"
Suara itu terdengar menggema di arena pertandingan. Suara yang terdengar sangat dingin di telinga Boruto sendiri. Apa itu suara lawan Hinata? Ibunya tengah berbicara dengan lawannya? Jadi bajingan itu yang membuat ibunya ketakutan seperti itu?!
"Merubah dirimu, adalah hal yang tak akan pernah bi.."
"BISA!"
Suara teriakan lain yang berasal dari barisan peserta itu dengan sukses membuat semua orang yang ada disana terperanjat kaget. Boruto meringis. Ia merasa tidak perlu lagi bertanya siapa orang bodoh yang berani berkoar-koar dengan suara melengking seperti itu, karena tentu saja ia sudah kenal betul dengan suara itu. suara Uzumaki Naruto. Ayahnya.
Lawan Hyuuga Hinata menoleh kearah ayahnya. Iris Boruto membulat begitu maniknya menangkap sosok siapa yang menjadi lawan sang ibu. Oh, tidak mungkin. Matanya pasti mengelabuinya!
Uzumaki Boruto mengucek matanya berkali-kali. Tapi tidak berhasil. Sosok lawan Hinata disana memang Hyuuga Neji. Pamannya!
Sulung Uzumaki itu mematung. Matanya terbelalak melihat sosok Hyuuga Neji yang menatap ibunya penuh benci. Hatinya seolah dicubit. Memaksanya untuk menyadari sesuatu sebelum ayahnya kembali berteriak marah.
"Kau tidak punya hak menilai seperti apa orang lain, Bodoooh! Habisi saja orang seperti itu, Hinata!"
Boruto melihat ayahnya memukul pagar besi didepannya kesal. "Hinata! Katakan sesuatu-ttebayo! Aku mulai kesal melihatnya!"
Apa yang terjadi? Apa saja yang dilewatkannya selama ia pergi? Pertanyaan serupa terus saja mengganggu pikirannya. Tangan sang Uzumaki muda itu menggenggam erat pagar besi. Berusaha meredakan emosinya.
Hyuuga Hinata –ibunya- menatap Uzumaki Naruto dengan iris yang bergetar. Kemudian kepala sang gadis tertunduk. Membuat Boruto tidak bisa melihat seperti apa kini ekspresi wajah sang gadis.
'Dia adalah shinobi berbakat nomor satu sejak tahun lalu.'
Hinata.. Akan baik-baik saja 'kan?
'Orang itu adalah... Hyuuga Neji.'
Ibunya.. pasti akan menang 'kan?
Boruto menggigit bibirnya kuat-kuat. Dadanya bergemuruh. Perasaan memuakan apa ini?
Mata biru milik Boruto mendapati ibunya kini akhirnya mengangkat wajah. Membuat putra Nanadaime terperangah menatap wajah sang gadis. Sorot mata ibunya berubah. Boruto tidak bisa meragukannya, Keyakinan serta percaya diri yang kuat jelas terukir di wajah porselen seorang Hyuuga Hinata.
Bagaimana bisa?
Boruto menelengkan wajahnya kearah sang ayah. Apa mungkin...
"Jadi kau tidak mau mundur? Aku tidak akan bertanggung jawab dengan apapun yang terjadi nantinya." Hyuuga Neji kembali berujar.
Hinata mengangkat tangannya kemudian membuat segel dengan cepat. Boruto nyaris tidak bisa melihat segel apa yang tengah dibuat sang ibu. Apa yang akan ibunya lakukan? Detik selanjutnya, netra sang gadis Hyuuga terbuka. Menampilkan kekkei genkainya yang aktif sempurna. Boruto tak bisa menahan dirinya untuk tidak terkejut. Yang benar saja! Ibunya benar-benar berniat menantang Hyuuga Neji?
Hyuuga Hinata memasang kuda-kudanya, "Neji-niisan! Ayo kita bertanding!"
Boruto melongo. Bagaimana bisa ibunya mengatakan hal seperti itu dengan begitu tegas. Ia mengeratkan genggamannya ke pagar besi. Dari awalpun pertandingan ini sudah tidak adil. Ia tidak bisa terima pertarungan yang mengharuskan seorang gadis melawan seorang laki-laki. Pertandingan ini memuakan!
Tapi.. ibunya kuat. Ia tidak bisa membantah hal itu. ibunya mungkin saja bisa memenangkan pertandingan ini. Namun tetap saja..
Uzumaki pirang itu menggeram begitu perdebatan diotaknya tak kunjung usai. Haruskah ia percaya pada ibunya? Bisakah ibunya menang?
Pada akhirnya, Boruto mengacak-acak rambutnya kesal. Sial! Ia tidak tahu apa yang mesti ia perbuat! Kepalanya lantas menoleh kearah dimana Uzumaki Naruto berada. Ayahnya.. Apa yang akan ayahnya lakukan di dalam keadaan seperti ini?
Pandangan manik biru itu kembali teralihkan kearah arena pertandingan begitu suara decitan sandal Shinobi terdengar dari sana. Hinata dan Neji sudah memulai pertandingan. Juuken berantai keduanya lakukan hampir bersamaan. Dengan kecepatan yang sama pula. Boruto tidak meragukannya lagi, ini.. Taijutsu aliran Hyuuga!
Tangkisan dan serangan kedua Hyuuga itu begitu gesit. Luar biasa! Ibunya memang hebat. Sekalipun ia perempuan, bisa juga ia mengimbangi pamannya yang hebat. Dan tanpa sadar, bibirnya tertarik naik. Membentuk seulas senyum senang.
"Baguuus! Hinataaa!"
Teriakan itu lagi. Boruto mendengus senang. Jangan pikir ia akan kalah begitu saja dari ayahnya.
"Hinataaa! Berjuanglahhh!" Boruto berteriak lantang. Mengundang berbagai macam mata menoleh kearahnya. Namun, tentu saja ia tidak mengindahkanya. Apalagi begitu manik sang ayah bertemu dengan miliknya. Ah, Boruto benar-benar merasa rela mengabaikan semua. Sungguh!
DUAK!
Suara itu membuat sang sulung Uzumaki tersentak. Apa serangan Hinata berhasil? Dari sudut pandangannya, ia tidak begitu melihatnya dengan jelas. Posisi Neji yang membelakanginya membuat Boruto tak bisa melihat secara langsung siapa yang berhasil melukai lawannya.
"Uhuk!"
Manik Boruto membulat begitu darah keluar dari mulut ibunya. K-kenapa? Serangan Hinata seharusnya mengenainya!
Kemudian Hinata menepis tangan Hyuuga Neji, berniat kembali menyerang sebelum Hyuuga Neji memblok serangannya secara mendadak dengan melumpuhkan Tenketsu di lengan sang gadis.
Uzumaki Boruto menggeram, Orang itu... Apa-apaan dia..
Hyuuga Neji menyikap lengan jaket Hinata sebatas siku. Memperlihatkan beberapa titik Tenketsu yang berhasil dilumpuhkannya. Dan tanpa membuang waktu mendorong Hinata kasar, membuat gadis Hyuuga itu tersungkur dilantai. "Kyaa!"
"Hinata!" Boruto kembali berteriak. Andai bukan pertandingan, ia pasti akan melompat turun dan menghajar pamannya habis-habisan!
Boruto memfokuskan pandangannya kearah sosok lawan ibunya. Orang ini... Benarkah dia Hyuuga Neji? Shinobi hebat dari klan Hyuuga yang merupakan pahlawan perang dunia shinobi keempat itu?
Ini tidak masuk akal.
Apanya yang hebat!? Hyuuga Neji yang kedua orang tuanya sebut sebagai pahlawan ternyata hanya omong kosong! Seorang pahlawan tidak akan memanfaatkan pertandingan untuk mencelakai ibunya. Seorang pahlawan yang selama ini di sebut-sebut ayah dan ibunya tak lebih dari seorang bajingan di matanya.
Ayahnya berbohong, kini bahkan ibunya juga ambil peran. Lagi-lagi Boruto menyadari ia termakan cerita bualan yang dibuat ayahnya. Hyuuga Neji bukanlah orang baik. Bukan orang yang mengorbankan hidupnya demi orang tuanya. Bukan sosok pahlawan yang memunyai nama yang sama dengannya.
Brengsek!
Ia tidak akan bisa berlama-lama melihat Hinata terus menderita. Hyuuga Neji benar-benar berniat membunuh ibunya saat itu juga. Ia tidak bisa tinggal diam. Tapi.. apa yang harus dilakukannya?
Hyuuga Neji berjalan mendekati sang gadis. "Hinata-sama.. inilah perbedaan kekuatan yang takkan bisa dirubah. Perbedaan yang memisahkan kaum elit dan orang gagal."
Apa katanya?
Manik biru Boruto menatap Hyuuga Neji penuh emosi. Rasanya seluruh emosi yang sudah ditahannya kini telah memuncak hingga ke ubun-ubun dan siap untuk di muncratkan. Andai ia berotak kosong, Boruto yakin dirinya tidak akan berpikir dua kali untuk langsung melompat ke arena dan memberikan pamannya pelajaran karena berani membuat ibunya begitu kesulitan.
Ibunya tidak akan bisa menang dalam kondisi seperti itu.
"Menyerahlah...!"
Boruto menutup matanya rapat-rapat. Ia menggemeretukan giginya menahan geraman yang nyaris keluar. Ia enggan mengakuinya, tapi Hyuuga Neji benar. Ibunya harus menyerah. Jika melihat Hinata yang lebih terluka dari ini.. ia tidak yakin bisa menahan diri untuk tidak langsung menghajar pamannya sampai mati.
Melihat orang yang dicintainya dilukai didepan matanya sendiri, Ia tidak akan menerima. Sampai matipun ia tidak akan menerimanya. Hinata adalah wanita nomor satu yang ingin selalu ia lindungi. Hinata adalah alasan utamanya untuk terus bertambah kuat.
Hyuuga Hinata terpekur di tempat. Ia berusaha menopang tubuhnya untuk kembali bangkit sekalipun darah kembali merembes dari mulutnya. "Aku..."
"Ti..tidak akan... menarik kembali... kata-kataku... karena itu jalan ninjaku..!"
Boruto menatap tubuh bergetar ibunya dengan wajah putus asa. Apa yang di harapkan Hinata? Apa yang coba di buktikannya?
Hinata mengangkat wajahnya. Mengarahkan tatapannya ke sebuah objek –ah, seseorang. Uzumaki Naruto. Dengan irama napas yang berantakan, gadis itu berusaha menyunggingkan senyuman terbaiknya.
Untuk sesaat, Boruto tertegun. Itu senyuman yang berbeda dari senyuman yang biasa Hinata tampilkan. Senyuman itu.. Sebuah senyuman yang hanya dibagikannya untuk seorang Uzumaki Naruto.
Benar. Selama pertandingan ini berlangsungpun, Hinata sama sekali tidak meliriknya –maupun mendengarnya. Sekalipun ia yakin Hinata mengetahui keberadaannya, tapi sedikitpun Hinata tidak pernah melihatnya. Hinata hanya menatap dia. Dan gadis itu tak pernah mampu memalingkan pandangannya dari Uzumaki Naruto. Tidak pernah.
Sebelum Boruto menyadari apa yang dilakukannya, dia berlari.
Untuk beberapa alasan, langkahnya membawanya ke hadapan sang ayah. Uzumaki Naruto menatap sosoknya dengan raut wajah heran seorang menyiratkan pertanyaan 'ada apa?'.
"Hinata! Buat dia berhenti! Jika lebih lama lagi dia akan–" "Kenapa kau memintaku menghentikannya?" Pertanyaan ayahnya berhasil memotong rentetan kata yang siap dilancarkannya.
Boruto menatap ayahnya dengan manik yang berbinar biru, "Karena dia hanya mendengarkanmu! Hinata tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Dia akan terluka parah dan aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika hal itu benar-benar terjadi karena aku tidak bisa melindungi–" "Tidak!"
Uzumaki Boruto mulai kesal dengan sikap ayahnya yang selalu memotong ucapannya. Ia hendak memprotes ayahnya sebelum matanya bersirobok dengan manik biru sang ayah yang menatapnya kesal. membuatnya bungkam.
"Jangan remehkan Hinata! Hinata bisa berjuang dengan kekuatanya sendiri. Ia sama sekali tidak memerlukan perlindunganmu-ttebayo." Suara ayahnya terdengar begitu datar. Dan dingin. Hal itu membuat hatinya seolah dicubit.
Pandangan sang bocah pirang jatuh pada wajah ayahnya yang terlihat begitu marah. "Kau tidak perlu mencemaskan Hinata. Kau hanya harus percaya padanya!"
BUGH!
Suara pukulan yang cukup kuat itu membuat Boruto dan yang lainnya menoleh kearah Hinata dengan cepat. apakah Hyuuga Neji berhasil melumpuhkan ibunya? Astaga, Ia tidak akan mengampuni dirinya jika hal itu sungguh terjadi.
Mata sang sulung Uzumaki membulat seketika begitu sosok sang gadis Hyuuga terkapar di lantai. Astaga. Tangannya seketika itu juga bergetar. Lututnya terasa lemas dan mulai kehilangan kendali atas tubuhya. Ia menggenggam pagar besi penghalang dengan kuat hingga ia yakin pagar itu akan hancur jika ia menambah tekanannya lagi.
"Hinata!"
Ibunya tidak akan mendengarnya. sekalipun ia berteriak hingga pita suaranya putuspun Hinata tidak akan mendengarnya. Gadis itu bersusah payah untuk bangkit. Berusaha kembali untuk melawan Hyuuga Neji.
"Kenapa kau berdiri? Jika terus seperti ini kau akan mati."
Boruto memang keras kepala, tapi ibunya jauh lebih keras kepala. Ia tidak akan berhenti hingga dirinya sendiri memintanya begitu.
Hyuuga Neji kembali mengaktifkan Byakugannya, "Sejak lahir.. kau sudah memikul tanggung jawab sebagai Souke Hyuuga. menyalahkan keberadaanmu yang tidak punya kekuatan. Tapi, manusia takkan bisa berubah.. ini adalah takdir."
Hinata berusaha mengatur irama napasnya. Ia memandang sepupunya lurus-lurus. "Itu salah, Neji-niisan. Karena aku bisa melihatnya. Daripada aku.. kau jauh lebih menderita karena takdir Souke dan Bunke."
Boruto merasakan chakra pamannya kembali berkobar. Dia masih berniat menghabisi ibunya? Sialan!
"Hinata!" teriaknya lantang.
Hyuuga Neji berlari menerjang Hinata. Berniat memberikannya Juuken untuk membuat gadis itu tutup mulut. Gadis itu sama sekali tidak berhak menilai apakah ia menderita atau tidak. Gadis itulah penyebabnya. Semua mimpi buruk yang selama ini ia alami adalah akibat dari perlakuan tidak adil yang diterimanya dari para Souke. Ia membenci gadis itu. ia berhak membencinya!
Empat Jounin turun ke arena untuk menahan serangan Neji. Membuat Hyuuga tunggal dari Hizashi itu menghentikan pergerakannya seketika.
"Uhuk! Uhuk!"
Ketika mendengar suara batuk dari ibunya, Boruto sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak langsung berlari kearah sang ibu. "Hinata!"
Ia juga merasakan ayahnya ikut berlari mengikutinya. Bersama dengan Sakura serta Genin aneh dengan pakaian ketat berwarna hijau.
"Hinata! Kau tidak apa-apa?" Tanya Uzumaki Naruto khawatir. Boruto menatap nanar sosok ibunya yang terbaring di lantai. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Hyuuga Neji sialan itu.. benar-benar berniat membunuh ibunya.
Boruto memicingkan matanya menatap Hyuuga Neji. menatap sosok itu dengan seluruh kebencian yang tiba-tiba merasukinya. Ia yakin jelas ia tidak menyukai Hyuuga Neji. Sama sekali.
"Oy.. Orang gagal disana."
Uzumaki Naruto bukan orang gagal. Tapi Boruto yakin jelas jika pamannya kini tengah memanggil sang ayah. Dan dengan bodohnya Uzumaki Naruto menoleh. Mempertemukan matanya dengan mata Lavender milik sang Hyuuga.
"Aku punya dua saran untukmu. Pertama jika kau Shinobi, berhenti berontak dan berteriak seperti orang bodoh. Dan satu lagi.." Hyuuga Neji menutup matanya sesaat, kemudian membukanya lagi didetik selanjutnya. "Orang gagal akan selalu gagal. Tidak akan ada yang berubah!"
Boruto bangkit berdiri. Ia maju dengan wajah tertunduk. Berusaha mengontrol emosinya yang nyaris meluap-luap. Ia berjalan dengan langkah berat mendekati ayahnya. Berdiri tepat di samping sang ayah. "Jangan hanya karena kau menang dalam pertarungan ini, kau merasa berhak menilai seperti apa orang lain."
Uzumaki Boruto menggemeretukan giginya kuat-kuat. tangannya terkepal menahan emosi. "Jangan kira aku akan diam saja..."
Ia mengangkat wajahnya menatap Hyuuga Neji yang juga menatapnya. Birunya manik Boruto berkilat emosi dengan alis yang menukik turun. "Jangan berani kau menyebut Naruto sebagai orang gagal!"
"Boruto.." Naruto Menatap putranya dengan mulut yang ternganga lebar.
Boruto menarik napasnya sesaat. Ia masih menatap pamannya lurus-lurus. "Tenang saja-dattebasa."
Perkataan itu tertuju padanya. Naruto yakin itu. sekalipun Boruto tidak menghadapnya, namun ia yakin jelas. Kini Boruto tengah berbicara padanya.
"Karena.. Aku tahu. Lebih dari semua orang di Konoha. Lebih dari siapapun di dunia ini... bahkan lebih dari Neji." Boruto akhirnya memberanikan dirinya untuk menatap sang ayah. Kedua manik biru yang identik itu bertemu. Membuat seulas senyum tipis di wajah sulung Uzumaki itu merekah, "Kau bukan orang gagal dan tidak akan gagal!"
"Karena itu.. Bersumpahlah kau akan membalasnya. Jika bukan untukku, lakukan itu untuk Hinata!"
Boruto masih belum berminat melepaskan tatapannya dari sang ayah. Hingga Uzumaki Naruto berjongkok, mengoleskan jemarinya di darah Hinata yang berceceran di lantai. Jinchuuriki Kyuubi itu mengepalkan tangannya kuat. Ia menatap putra masa depannya penuh arti. "Aku bersumpah. Untuk Hinata, untuk diriku sendiri, dan untuk dirimu.."
Uzumaki Naruto mengarahkan tinjunya yang berlumuran daran kearah Hyuuga Neji. "Aku pasti menang!"
~À Suivre~
A/N: Alo! Akhirnya Bieber bisa kelarin chapter ini :') Jujur, Chapter ini sulit banget buat Bieber. Bieber butuh banyak referensi. Dari mulai baca Manga, databook, nonton Anime dan banyak referensi lainnya. Cukup memakan waktu untuk chapter kali ini jadi mohon maaf atas keterlambatannya yang sangat-sangat tidak bisa dihindari ( TwT)/
Menurut Narupedia dan Trivia Boruto The Movie, Boruto bisa menggunakan Fuuton, Suiton, bahkan Raiton. Di Storm 4 Boruto benar-benar bisa menggunakan Fuuton dan Suiton tanpa Kote. Jadi Bieber rasa dua jutsu itu layak masuk alur cerita untuk menunjukan betapa hebatnya si jenius Uzumaki Boruto.
Bieber akui banyak kecacatan di chapter kali ini. mulai dari Typo yang bertebaran dan lain-lain. Bieber minta maaf untuk itu. Tapi chapter ini bener-bener susah dibikin ( TwT) mulai dari pemotongan dialog dari manga dll. Ah, Tepar langsung/?
Bieber usahakan kedepannya akan lebih baik lagi. Karena itu mohon dukungannya ya semua! ^^
Ah, Tidak lupa ucapan terima kasih Bieber untuk readers yang selalu setia nunggu ff ini. terima kasih juga atas review/Fav/Follownya.
Melihat itu semua membuat Bieber merasa begitu dihargai :')
Saatnya balas Review ya ^^
Q: Apa nanti bakal ada kericuhan saat ujian chuunin juga kaya yg di anime?Apa nanti Boruto ketemu Orochimaru? Apa nanti Boruto bakal tau kalo Sasuke pergi dari desa? Apa nanti bakalan lanjut sampe Naruto shippuden?
A: Sedang dipikirkan XD/ditampol/ Untuk tahu Sasuke pergi dari desa dan soal lanjut sampai Shippuden, Bieber gak yakin bisa sampai kesana X'D Plot ceritanya hanya sampai Ujian Chunnin. Dan sepertinya sebentar lagi tamat X'D/plak
Q: Kak kapan my silky love update?: (
A: Ah, Jujur Bieber terharu ada yang nanya ini :') Bukannya gak mau lanjutin.. tapi ff itu.. Bieber udah gak ada feelnya buat nulis :') Dari tahun kemarin sampai sekarang My Silky Love baru Bieber tulis sampai 2 halaman :') maaf ya :')
Q: Naruto (masa kini) bakal nyadar kalo boruto tu anaknya gak?
A: Pasti sadar! Tapi sekarang bukan waktunya XD
Q: biber san... kenapa lamaaaa banget update
A: Bieber mulai sibuk jadi mahasiswi baru nih :') maaf ya selalu telat update :')/hus
Cukup sekian yang bisa Bieber jawab X'D Sekali lagi terima kasih untuk dukungannya! Bieber kembali pastikan jika ff ini tidak akan discontineud!
Bieber nunggu banget tanggapan kalian mengenai chapter kali ini ^^
Akhir kata,
Mind to Review?
