Bocah itu terus memacu langkahnya melewati lorong rumah sakit Konoha yang cukup ramai. Ia mengindahkan teriakan beberapa perawat yang memintanya untuk tidak berlarian di kawasan rumah sakit.
Tentu saja ia mengindahkannya. Ada hal yang lebih penting yang mesti ia pastikan daripada mendengarkan protes beberapa orang yang sama sekali tidak ia kenali.
Siapa yang ia tubruk sebenarnya bukan masalah. Masalah utama yang sedang dihadapinya adalah kekhawatirannya sendiri kepada Hyuuga Hinata. Ia khawatir. Ia takut. Ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada gadis itu. Tidak didepan matanya. Tidak jika ia ada disini untuk melindunginya. Jikapun itu benar terjadi, ia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri terhadap apa yang dialami Hinata.
Manik biru jernihnya menangkap sesosok gadis mungil dengan manik yang sama dengan Hinata tengah berlari dari arah yang berlawanan dengannya. Ia cukup yakin gadis kecil itu juga panik sepertinya, dan tentu saja gadis itu juga pasti berniat menemui Hinata di ruang rawat yang sama dengan yang ditujunya.
Langkahnya terhenti tepat didepan sebuah pintu kayu bercat ungu gelap yang nampak kokoh. Ia berpandangan dengan gadis kecil didepannya sesaat lantas membuka pintu lebar-lebar.
"Ku dengar Hinata-neesama terluka parah!" Gadis kecil yang masuk bersamaan dengannya langsung berseru panik.
Visualnya melihat Ojii-sama-nya serta seorang tertua Hyuuga tengah berdiri kaku di samping ranjang tempat Hinata berbaring. Tertua Hyuuga dengan banyak keriput di wajahnya meliriknya sekilas. Dalam situasi normal, ia akan langsung ciut dan mungkin memilih untuk segera bersembunyi dibalik punggung kakeknya, tapi tidak kali ini. Tidak sekarang. Ia terlalu khawatir bahkan untuk sekedar takut.
"Dia sudah dirawat dan sudah sadar sekarang. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Suara milik tertua Hyuuga itu mengalun datar.
Ia melemparkan kelerengnya kearah Hinata. Gadis itu tidak membalas tatapannya. Hyuuga sulung itu menolak memertemukan matanya dengan siapapun. Entahlah, ia sendiri bahkan tidak mengerti apa nama ekspresi wajah yang kini mendominasi wajah sang gadis. Namun ia jelas tahu satu hal. Hatinya sakit hanya dengan menatapnya.
"Dia pasti sudah memerkirakan akan begini jadinya jika nekat menghadapi Neji." Tertua Hyuuga kembali berbicara. Ia meliriknya sesaat. Kakek tua itu terlalu banyak bicara. Ojii-sama-nya yang memasang wajah datarpun sama sekali tidak membantu membuat perasaannya jadi lebih baik.
Ia menghirup napas dalam-dalam. Berusaha mengenyahkan sesak yang tiba-tiba merayapi dadanya. "Hinata.." Panggilnya pelan.
Ia mendekati sang gadis. Berusaha menarik atensi si gadis padanya. Namun tetap tidak berhasil. Lantas tatapan nanar kembali ia berikan, "Kenapa kau tidak menyerah saja?"
Masih dengan ekspresi wajah yang sama, Hyuuga Hinata menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan menerawang, "Aku.. tidak bisa melakukan itu."
Ia tersentak untuk beberapa alasan. Manik birunya kembali terkunci kearah wajah bulat sang sulung Hyuuga. "Aku sadar siapa diriku. Mereka bilang aku orang lemah yang selalu gagal."
Hinata menarik napasnya sebelum kembali melanjutkan, "Tapi aku tidak ingin menyerah, Aku ingin menjadi kuat. kurasa mungkin aku bisa berubah."
Untuk pertama kalinya, Hinata memertemukan manik keduanya. Biru laksana cerminan langit bersirobok dengan Lavender yang memesona. Seulas lengkungan kecil nan manis di sunggingkan si gadis. "..melihat Naruto-kun membuatku merasa seperti itu."
Maniknya membulat. lagi-lagi nama itu yang keluar dari mulut Hyuuga Hinata. Uzumaki Naruto. sebenarnya apa yang dilihat gadis itu dari seorang Uzumaki Naruto? Hal apa yang dilakukan bocah itu hingga Hinata begitu memercayainya?
Hinata menutup matanya, memutuskan pandangannya. Lavender indah sang gadis kembali nampak. Kali ini dengan tekad kuat yang berhasil dikumpulkannya dan tergambar jelas di sorot matanya, "Aku tidak akan menarik kata-kataku. Karena itu adalah.. jalan ninjaku!"
Boruto's Time Adventure
.
Naruto © Masashi Kishimoto
~Story belongs to Bieber's Wife~
Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll
.
~Don't like Don't read~
Happy Reading, Minna-san
.
"Sejak kapan aku setuju kau jadi bosku?"
"Asal kau tahu saja, aku –sama sekali- tidak berminat menjadi bosmu."
"Kalau begitu berhentilah memerintahku-ttebayo!"
"Aku hanya meminta bantuanmu! Oh, astaga. Bisa kita selesaikan ini sekarang juga? Kau membuang waktuku yang sangat berharga!"
"Terlalu! Kau ini benar-benar.."
Uzumaki Boruto berusaha untuk tidak memutar bola matanya. Ia lantas mengambil keputusan untuk segera membuka pintu ruang rawat Hyuuga Hinata sebelum bocah pirang disampingnya ini kembali mencekokinya dengan umpatan-umpatan tidak berguna.
Seorang gadis dengan surai pendek berwarna indigo adalah hal pertama yang menyapa indra penglihatannya begitu ia membuka pintu. Kepala dengan rambut indah itu kemudian mengalihkan atensinya dari jendela kepadanya. Ah. Ia sungguh tak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum.
Hyuuga Hinata memperbaiki posisi duduknya. Setelah itu mengangkat punggungnya dari bantal, memandangnya dengan senyum kecil yang terkembang anggun.
Gadis itu, posisi duduknya diatas ranjang, kaca jendela besar, sinar matahari yang menyinarinya.. Boruto sempat terpesona melihat kombinasi semua itu. Dengan sinar matahari yang menembus masuk dari kaca jendela, sosok gadis Hyuuga itu mejadi semakin berkilau. Gadis itu sangat cocok berada di tempat terang. Sama seperti namanya.
Ia bisa saja terus mengamati gadis itu andai ia tidak menyadari bahwa ia membawa seseorang bersamanya hari ini.
"Hai." Sapa sang sulung Uzumaki pelan. Senyum kecil dibibirnya nampak enggan hilang.
Hinata tertawa kecil, kemudian membalas, "Halo, Boruto. kau datang lagi hari ini."
"Tentu saja. Omong-omong, coba tebak siapa yang datang bersamaku?" tanya Boruto santai. Uzumaki Boruto menoleh sesaat kearah pintu masuk. Kemudian, sosok seorang bocah yang mirip dengannya muncul di ambang pintu.
Boruto yakin jelas mata Hinata membulat lebar. Sedetik kemudian rona merah di pipi sang gadis muncul. Bibir Hinata bergetar kecil sebelum menyebutkan sebuah nama, "N-Naruto-kun?"
Astaga. ia nyaris tidak bisa menahan senyum gelinya. Wajah Hinata yang gugup –atau malu?- serta Uzumaki Naruto yang dengan kikuk masuk kedalam ruang rawat sang gadis menjadi hiburan tersendiri baginya. Ayah masa depannya –Uzumaki Naruto- menggaruk kepala kuningnya canggung sembari memamerkan senyuman konyol.
"Hai, Hinata. Bagaimana kabarmu?" Tanya Naruto begitu ia berdiri disebelahnya.
Hinata menunduk, memainkan kedua telunjuknya malu. "S-Sudah c-cukup sehat. B-bagaimana denganmu, N-Naruto-kun?"
"Tentu saja aku baik. Tidak pernah lebih baik dari ini. Bahkan akhir-akhir ini aku cukup sibuk dengan latihan." Sahut Naruto. Hyuuga Hinata mengangkat wajahnya sebelum berucap, "K-Kau pasti sibuk s-sekali. K-kenapa malah r-repot-repot menjengukku kemari?"
Bibir sang Jinchuriki Kyuubi itu mengerucut sebal. Manik birunya melirik bocah pirang di sebelahnya kesal, "Seharusnya begitu. Tapi bocah di sebelahku ini memaksa –nyaris menyeretku kema –Aduh! Kenapa kau menginjak kakiku-ttebayo?"
Demi Tuhan. Tidak bisakah Naruto menutup mulutnya kali ini saja? Tidak bisakah ayahnya itu memikirkan kembali perkataannya sebelum berkomentar? Lihatlah, Hinata pasti merasa kecewa karena kenyataannya Naruto tidak menjenguknya kemari karena niat tulus bocah itu sendiri. Boruto mendesah pelan begitu melihat ibunya –Hyuuga Hinata- menampilkan senyuman yang terlihat suram dimatanya. "S-Seharusnya kau tidak p-perlu repot-repot datang, Naruto-kun."
"Eh?"
Naruto meliriknya panik. Sepertinya ayahnya baru saja menyadari keadaannya sekarang. Boruto memberikan sinyal kepada Naruto lewat matanya.
"A-Ah.. Hinata. Ini untukmu." Naruto mengulurkan dua tangkai bunga gerbera di tangannya kearah sang gadis. Hinata terkesiap. Manik seindah bulan itu menatap bunga, Naruto dan dirinya –Boruto- bergantian.
"I-Ini untukku, N-Naruto-kun?" tanya Hinata terbata. Tangannya terangkat, meraih bunga ditangan Naruto dengan manik yang berbinar senang.
Uzumaki Boruto tersenyum kecil. Sebenarnya ia sama-sekali tidak tahu bunga apa yang disukai ibunya selain Himawari. Tadi pagi begitu ia mampir ke toko bunga Yamanaka, lelaki paruh baya bersurai pirang panjang yang diikat tinggi berkata bahwa bunga yang dimaksudnya tidak tersedia disana. Ia harus cukup puas dengan dua tangkai bunga gerbera yang di usulkan si penjual bunga padanya. Ia tidak tahu apa bahasa bunga untuk bunga gerbera, tapi sepertinya gagasan memberikan Hinata bunga adalah pilihan yang tepat.
"N-Naruto-kun m-membelinya untukku?" Tanya Hinata penuh harap. Uzumaki Naruto tersenyum lebar, "Tentu saja tidak. Sejujurnya Borutolah yang menyuruhku memberikannya padamu. Padahal dia sendiri yang membelinya di Toko Yamaknaka tadi pagi-ttebayo."
Boruto menatap ayahnya dengan pandangan tidak percaya. Astaga, andai saja Hinata tidak ada, ia tidak akan segan untuk menjejali mulut ayahnya dengan tomat utuh. Dan –demi bintang-bintang!- ia akan melakukannya tanpa ragu!
Boruto berusaha menahan kekesalannya dan menyikut perut ayahnya keras-keras. Sang ayah mengaduh histeris dan balik memprotesnya dengan suara nyaring, "K-Kau! Apa maksudmu, hah?! Ini sakit sekali, astaga. Aduduh.."
Bayangannya melempar Naruto dari jendela nampak menggoda baginya. Tapi niatan itu terhenti begitu suara tawa yang hangat mengambil semua atensi yang dimilikinya. Boruto menoleh keasal suara dengan gerakan cepat. Ah, itu suara tawa Hinata. Ibunya.
Uzumaki Boruto tidak bisa menahan dirinya untuk tidak ikut tersenyum lembut. Tawa yang sangat dirindukannya. Ia bisa mempertaruhkan apa saja –apa saja- untuk melihat tawa itu selalu berada di wajah manis ibunya. Karena tidak ada yang tidak akan dilakukannya untuk seorang Hyuuga Hinata. Ibunya. Wanita nomor satunya.
Hinata menghentikan tawanya. Seulas senyuman tulus kemudian mengembang, "K-Kalian ternyata lebih dekat d-dari yang kukira."
Tersentak kaget. Boruto menatap Hinata dengan wajah tak terima. Yang benar saja? Dekat dengan sosok bodoh ayahnya dimasa ini? Jangan membuatnya tertawa.
Decakan sebal Naruto terdengar. Bocah Jinchuriki itu melipatkan tangannya di depan dada lantas mengerucutkan bibirnya lucu, "K-Kami tidak seperti itu-ttebayo!"
Boruto menatap ayah serta ibunya dengan senyum yang masih setia tersungging di bibirnya. Ia sungguh merindukan saat-saat seperti ini. Saat dimana ayah dan ibunya menghabiskan waktu bersama. Melihat Hinata yang tersenyum penuh arti kepada Uzumaki Naruto membuat perasaan sang sulung Uzumaki menghangat. Sudah berapa lamakah ia tidak melihat pemandangan seperti ini?
Hari ini adalah hari kelima ia datang ke rumah sakit untuk bertemu dengan si sulung Hyuuga. sebenarnya, ia tidak tahu apa yang mesti dilakukannya selain itu. Ia tidak berminat untuk berlatih menghadapi Ujian Chunnin babak selanjutnya. Ia hanya ingin berada di dekat gadis itu. ia ingin gadis itu berada dalam jangkauan pandangannya agar ia bisa terus memastikan ibunya baik-baik saja. Walaupun –mungkin- kedatangannya yang terlalu sering membuat Hinata bosan, setidaknya ia bisa duduk di sudut kamar dan terus memerhatikan Hinata dalam diam.
Boruto menggelengkan kepalanya. Rasanya jadi terlihat mengerikan jika ia benar-benar membayangkan dirinya terus menatap ibunya dari sudut kamar.
"Walaupun begitu, jika kau bersama N-Naruto-kun kau pasti akan terlihat lebih senang." Terang Hinata setengah bergurau. Gadis Hyuuga itu meletakan tangannya di bibir, berusaha menahan tawanya yang nyasis meledak.
Uzumaki Naruto menoleh kearah putra masa depannya dengan wajah tersinggung. Jinchuriki Kyuubi itu lantas melancarkan protes ketidaksetujuannya kepada sang gadis yang hanya bisa membalas dengan tawa dan gumamam kecil.
Boruto meremas ujung jaket hitamnya. Sekelebat perasaan aneh mulai menyelimuti dirinya. Manik biru bak batu sapir itu tidak bisa melepaskan fokusnya kepada si gadis dan si bocah Kyuubi.
Keluarganya. Perasaan yang selalu dirindukannya. Kini, ia merasa memiki semuanya. Di zaman yang seharusnya bukan tempat dimana ia harus berada ini.. Ia mendapatkan semua yang diimpikannya. Keluarganya.
Tidak. Perasaan seperti ini adalah kesalahan. Tidak seharusnya ia merasa demikian. Sebahagia apapun ia, semua ini salah. Ia tidak boleh terus tenggelam di dalam kebahagian yang semu. ia berbeda. Dan bukan disinilah tempatnya untuk pulang.
"B-Bukankah menurutmu.. Alangkah bahagianya bila kita terus seperti ini?"
Suara itu membuatnya tersentak kebelakang. Ia menatap Hyuuga Hinata dengan pupil yang mengecil. Kalimat tiba-tiba dari ibunya begitu menohoknya.
Sungguh, Boruto ingin dengan mudah berkata 'ya'. Sungguh! Tapi, suatu yang tak kasat mata mencekik lehernya. Membuat sepatah katapun enggan keluar dari bibirnya. Uzumaki Naruto menoleh kearahnya. Jinchuriki Kyuubi itu melembutkan pandangannya. Tanda bahwa bocah itu sependapat dengan perkataan Hyuuga Hinata.
"Ya! Pasti akan menyenangkan-dattebayo! Ayo buat kenangan yang indah bersama-sama!"
Uzumaki Boruto menunduk, Poninya yang panjang jatuh menjuntai seiring gerak gravitasi yang menariknya kebawah. sang sulung Uzumaki tersenyum pedih dibalik poninya, "Kenangan ya?" gumamnya datar.
Uzumaki Naruto dan Hyuuga Hinata menoleh kearah Boruto bersamaan. Menatapnya dengan pandangan heran.
Boruto mengembangkan senyumnya sedikit, ia menatap kaca jendela yang menampilkan langit luas diluarnya. "Karena kau mengungkitnya, aku jadi mengingat banyak hal. Kenanganku yang berharga. Yang kudapatkan jauh sebelum aku datang kemari-ttebasa."
Kepala kuning milik Naruto berpaling kearah Hinata sebentar. Hinata juga menatapnya tidak mengerti. Kemudian, keduanya memilih untuk kembali memfokuskan antensinya kepada sang prodigy Uzumaki.
"Jika kupikirkan lagi… kenangan seperti halnya sebuah rumah. Kau bisa mengunjunginya kapanpun. Hanya saja…." Boruto menggantung kalimatnya. Ia memandang jauh keluar sembari mengepalkan tangannya yang tersembunyi dibalik kantong celana, "..Hanya saja… Terkadang kita tidak bisa pulang."
"A-Apa maksudmu?" Hinata akhirnya memberanikan dirinya untuk bertanya. Boruto kembali menunduk. Ia menyerongkan tubuhnya agar ibu dan ayahnya bisa melihatnya dengan jelas, "Aku tidak bisa terus disini. Aku harus pulang."
Naruto tersentak kecil. Maju selangkah sebelum bermaksud menjawab perkataan bocah didepannya, "Apa maksudmu? Kau adalah Shinobi Konoha! Disinilah tempatmu untuk pulang."
Sebuah dengusan mengalun pelan dari mulut seorang Uzumaki Boruto. Ia menatap ayah masa depannya dengan senyuman kecil, "Seperti yang kau katakan dulu. Aku adalah orang asing."
"Tentu saja kau tidak seperti itu-ttebayo!" Sergah Naruto cepat.
"Ada apa ini? Kupikir kau adalah orang pertama yang akan melompat kegirangan begitu aku tidak ada." Gurau Boruto garing. Bocah dengan jaket orange itu menggertakan giginya. Merasa ayah masa depannya tidak berada di-mood yang tepat untuk menjawab candaan, Boruto cepat-cepat mengganti topik bahasannya. Ia kembali menatap jendela besar didepannya dengan pandangan datar, "Kurasa… Aku mulai merindukan semuanya."
Lagi-lagi, Naruto dan Hinata tersentak. Pandangan keduanya kembali bertemu. Keduanya heran. Kemana arah pembicaraan yang dibuat bocah dengan ahoge itu?
"Aku merindukan semuanya. Rumahku, kamarku, Himawari, Ibuku, bahkan.." Boruto memutar kepalanya, menatap kedua orang didepannya dengan senyuman yang terkembang apik, "..Bahkan mungkin.. sekarang ini.. aku juga mulai merindukan Ayahku-ttebasa."
Manik Naruto otomatis melebar. Perkataan terakhir dari Boruto membuat dadanya seolah dibanjiri oleh perasaan hangat yang entah apa namanya. Dan demi apapun itu, ia tidak tahu apa sebabnya. Jinchuriki itu merasa ada bergagai macam kupu-kupu dalam tubuhnya yang tengah menari, membuat perutnya tergelitik, memaksa senyuman terbaik miliknya muncul.
Hyuuga Hinata menatap bocah dengan jaket hitam didepannya dengan lembut. Ia sungguh tidak bisa menahan senyumannya untuk tidak melengkung bebas. "I-Ini pertama kalinya… kau bercerita tentang hal baik yang berkaitan dengan ayahmu."
Boruto menoleh kearah Hinata, kemudian memiringkan kepalanya sedikit. Tanda bahwa bocah itu tidak mengerti. Sulung Hyuuga itu tertawa kecil lantas melanjutkan, "S-Sebelum ini yang selalu kau ceritakan mengenai ayahmu adalah hal yang berkonotasi negatif, kau tahu?"
Untuk beberapa saat, Boruto diam. Ia melirik Uzumaki Naruto dari ekor matanya. "K-Karena.. akhir-akhir ini aku mulai melihatnya dari sisi yang berbeda dengan sebelumnya. Akhirnya aku tahu.., Ayahku juga manusia biasa. Dia mungkin.. tidak seburuk yang kupikirkan-ttebasa."
"Manusia biasa? Apa sebelum ini kau pikir Ayahmu adalah monster?" Timbrung Naruto. Untuk beberapa alasan ia merasa kesal.
Uzumaki Boruto mengangkat bahunya. "Kau tidak akan menyalahkanku untuk berpikiran seperti itu jika kau jadi aku-ttebasa."
"Apa maksudmu itu-ttebayo?" Selidik sang Jinchuriki dengan mata yang menyipit lucu. Boruto mendengus kecil, lantas tersenyum tanpa menjawab.
Reaksi khas yang sudah sangat familiar bagi Naruto dan Hinata. Reaksi yang seolah menyiratkan perkataan, 'Jangan harap aku menjawabnya'. Dan sungguh! Keduanya sudah lelah dengan sikap Boruto yang seperti itu. Karenanya, Hyuuga sulung dan Uzumaki tunggal itu memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut.
Hinata menghembuskan napasnya pelan, "A-aku percaya sebenarnya kau ingin menceritakan semuanya dengan gamblang 'kan, Boruto?"
Uzumaki Boruto tidak menjawab. Maniknya terfokus kearah manik Lavender Hinata yang berkilat cemerlang. Pada sepasang mata indah Hinatalah, ia ingin menjadi tamu. Ia betah berlama-lama menatapnya tanpa jemu.
"Tapi.. Ada sesuatu yang membuatmu tak punya pilihan selain tetap diam, bukan begitu?" Tanya Hinata sembari tersenyum kecil.
"T-Tidak masalah jika kau tidak ingin menceritakannya. Kami akan menunggu hingga kau siap menceritakan… s-semuanya."
Lagi, sudut bibirnya tertarik secara otomatis. Kelereng Boruto yang bersinar biru menatap Hinata penuh arti. "Terima kasih, Hinata.. Mendengarnya darimu membuatku senang."
Hinata mengayunkan telapak tangannya didepan wajah sembari tertawa kecil. Kemudian menjawab lembut, "Nah, Nah, Kau hanya terlalu mudah dibuat senang."
"Mudah bagimu. Tidak bagi orang lain." Jawab Boruto enteng.
Uzumaki Boruto merasa Ibunya mulai tersipu. Ia tidak mungkin tidak menangkap perubahan wajah gadis itu yang sangat signifikan. Tapi ia bersungguh-sungguh. Hanya dengan mengingat Uzumaki Hinata –serta Himawari– adalah cara yang paling sederhana untuk membuatnya bahagia.
"Yak! Tentu saja. Lakukan apapun yang kalian mau lakukan dan teruslah hiraukan aku-ttebayo!" Cela Naruto begitu merasa dirinya sudah diabaikan kehadirannya.
Boruto menampilkan senyum kikuk kearah ayahnya. Manik birunya menyipit, berusaha berbasa-basi. "Tahan sebentar. Apa yang membuatmu begitu kesal?"
Naruto balas mencibir, "Ya,Siapapun akan kesal jika melihatmu menggoda seorang gadis dengan rayuan garing itu."
"Hah?! Apa maksudmu?"
"S-Sudahlah. Jangan bertengkar." Hinata dengan sigap melerai kedua bocah pirang yang mulai bertingkah di ruang rawatnya. Ia berusaha menghentikan pertengkaran kecil itu sekalipun ia tidak mengerti kenapa ia harus merasa begitu.
"Kami tidak bertengkar. Kami berdiskusi!" Kedua Uzumaki pirang itu serentak menjawab.
Hyuuga Hinata mengangguk ragu. Senyuman manisnya tak lantas luntur begitu saja, "B-Baiklah. Baiklah."
Boruto melirik sosok masa lalu orang tuanya diam-diam. Kelihatannya kedua orang tuanya sedikit banyak sudah mulai mengorek informasi mengenai dirinya. Pada kenyataannya ia tidak keberatan. Namun, Boruto bertanya-tanya bagaimana reaksi kedua orang tuanya begitu semua ini berakhir?
.
"Katakan padaku."
Uzumaki Boruto mengangkat wajahnya. Menatap Hatake Kakashi dengan alis yang sebelah terangkat.
"Kau sama sekali tidak mendengar apa yang baru saja kusampaikan, bukan?" Kakashi-sensei bertanya penuh selidik. Boruto memasang cengiran minta maafnya. Namun nampaknya itu tidak berpengaruh banyak bagi Hatake Kakashi.
"Baiklah. Mari kita selesaikan dulu masalahmu. Katakan hal yang mengganggu kepalamu itu, Boruto."
Tersentak pelan. Boruto berusaha membantah, "T-Tidak ada hal yang menggangguku-ttebasa."
Kakashi menyipitkan matanya. Berusaha meyakini Boruto bahwa mustahil usaha bocah itu berhasil meyakinkannya. "Jangan mengelak. Semuanya tergambar jelas di wajahmu. Kau sama sekali tidak bisa menyembunyikannya dengan baik."
Boruto berdecih. Kemudian membuang wajah.
Bocah Uzumaki ini sama sekali tidak bisa jujur. Kakashi paham itu. Karena itu, kini ia menimbang-nimbang, haruskah ia mendesak Uzumaki Boruto lebih lanjut? Kakashi-sensei lantas menggeleng. Tidak. Itu keputusan yang sangat gegabah. Keputusan tidak masuk akal yang bisa jadi menyebabkan risiko Boruto balik membencinya. Jadi, tidak. Ia tidak akan bertanya lagi.
"Kalau begitu dengarkan perkataanku." Kakashi mengedikan bahunya singkat. Setelah yakin ia kembali mendapatkan atensi sang bocah pirang, Kakashi melanjutkan penjelasannya. "Dari apa yang sudah kami selidiki –ditambah dengan ceritamu. Penyebabnya adalah Kujaku Myōō –semacam jutsu yang mengirim seseorang ke masa lalu. Namun pemicunya misteri."
Hokage ketiga menyejajarkan posisinya dengan Hatake Kakashi. Pak tua itu tersenyum berwibawa, "Tapi tentu saja kami sudah melakukan apa yang harus dilakukan. Dengan begitu kau bisa kembali ketempat asalmu sesegera mungkin, Uzumaki Boruto."
Uzumaki Boruto menyentuh anak rambutnya gelisah, "Kapan aku bisa pulang?"
"Tidak hari ini. Mungkin seminggu kedepan. Tolong bersabarlah." Jawab Kakashi sembari tersenyum.
Boruto tidak mengerti, namun, pernyataan terakhir Kakashi membuatnya lega.
.
Uzumaki Boruto bukan tipikal orang yang suka memerhatikan orang lain, terlebih ketika ia sedang diburu waktu. Tetapi apabila orang-orang yang berlalu lalang terus-terusan membahas hal yang sama setiap kali ia berjalan, ia sungguh tidak bisa merasa tidak terganggu.
"Pertandingan pertama adalah Hyuuga Neji 'kan?"
"Yeah. Genin jenius itu bukan? Kita tidak boleh melewatkan pertandingan pertama."
Boruto memerhatikan beberapa orang disekitarnya. Semuanya membicarakan perihal pertandingan pertama yang akan digelar hari ini. Ah, tidak. Lebih tepatnya perihal Pamannya. Hyuuga Neji.
Boruto menggigit bibirnya. Apa Hyuuga Neji benar sekuat itu? Ia berandai. Bagaimana bisa Ayahnya mehanan semua desakan macam ini? Tidakkah hal ini membuat ayahnya merasa ciut?
Ia mendongkak menatap langit tak berawan diatas sana. Pandangannya menerawang. "Hyuuga Neji.." bisiknya bersamaan dengan deru angin.
ia sudah mendengar soal Hyuuga Neji dari kakeknya. Hyuuga jenius dari bunke. Tak ada seorangpun yang bisa menyainginya. Kemenangan yang sudah ditetapkan Hyuuga Neji adalah hal yang absolut.
Lantas.. Bagaimana dengan Naruto? Apakah Ayahnya akan baik-baik saja?
Manik biru Boruto beralih kearah etalase toko yang memamerkan jam. Berkedip dua kali. "AHH! Sial! Aku akan terlambat! Hinata pasti sudah menungguku-dattebasa!"
Uzumaki tunggal itu lantas bergegas melajukan kecepatan larinya. Berlari secepat yang ia bisa untuk bertemu dengan Hinata. Karena gadis itu sudah keluar dari rumah sakit dan kini gadis itu tengah menunggunya, ia tidak bisa membuat Ibunya menunggu lama lebih dari ini.
.
"A-aku berharap kau bisa menang, Naruto-kun."
Boruto otomatis menghentikan larinya. Ia menoleh kesana-kemari. Matanya bergerak liar sebelum sosok ibunya yang tengah berhadapan dengan Uzumaki Naruto menyapa indra penglihatannya.
Manik Boruto menyipit. Bagaimana bisa Ayahnya berada di tempat ini? Terlebih lagi.. bersama Ibunya?! Astaga!
"Eh?"
"K-Kau tahu.. saat kau menyemangatiku.. Aku merasa diriku menjadi lebik kuat. K-ketika awal pertandingan.. aku merasa aku mulai menyukai diriku sendiri walau hanya sedikit. Dari sudut pandang orang lain… m-mungkin terlihat biasa saja. T-tapi aku merasa aku bisa berubah. K-Kupikir itu semua berkat Naruto-kun."
Pipinya memanas. Boruto menyembunyikan dirinya di balik pohon kemudian menangkup pipinya yang memerah padam. "P-Pembicaraan macam ini-ttebasa?"
Ia tidak ingin mengganggu. Momen ini adalah saat berharga untuk Ibunya. Melihat Hinata yang berjuang gigih menyampaikan perasaannya membuat Boruto tak bisa menahan dirinya untuk tidak mendukung sang ibu.
'Berjuanglah, Kaa-chan!'
"Katakan, Hinata," Kali ini suara Naruto yang didengarnya. Bocah Jinchuuriki itu sedikit menundukan kepalanya. Namun manik birunya masih menatap Hinata dengan jelas. "Apa kau benar-benar berpikir seperti itu?"
"Eh?"
Ayahnya terlihat menggeretakan giginya singkat, lantas berucap dengan nada menyesal, "Aku mungkin terlihat kuat bagimu, Tapi.. yang kulakukan adalah kegagalan. Dan aku berlagak kuat karena aku frustasi-ttebayo."
"Itu tidak benar!"
Boruto terlonjak. Hinata menyanggah perkataan Naruto dengan bersungguh-sungguh. Demi Tuhan. Ia hanya tidak bisa memercayai penglihatannya untuk saat ini.
Hinata terhihat menyunggingkan senyum penuh arti. "Sekalipun kau selalu gagal.. B-Bagiku.. Kau adalah orang gagal yang patut dibanggakan."
Uzumaki Naruto memandang Hyuuga Hinata dengan tampang dungu. Hinata menunduk sesaat lantas kembali memandang wajah sang bocah kyuubi dengan pipi merona. "K-Ketika aku melihatmu.. Aku merasakan kekuatan yang melingkupi hatiku.. K-Kau memang tidak sempurna. Kau memang gagal. Tapi.."
Hinata menggantungkan perkataannya. Kedua telunjuk si gadis Hyuuga saling bertaut gugup. Manik lavender indahnya menatap malu kelereng sang tunggal Uzumaki.
"K-Karena.. K-karena itulah kau memunyai kekuatan dari hal itu. K-kupikir i-itulah arti dari kekuatan yang sesungguhnya. A-aku rasa Naruto-kun adalah o-orang yang sangat kuat." Hinata mengakhiri perkataannya dengan seulas senyum malu. Gadis itu lantas memundurkan langkahnya. Berusaha menyembunyikan dirinya di balik pohon.
Uzumaki Boruto masih mematung di tempat. Wajahnya sudah memerah total. Padahal Hinata tidak berbicara dengannya –melainkan pada Naruto– tapi sungguh! Ia merasa tersipu. Dan lagi.. entahlah. Ia merasa lancang karena sudah menguping tanpa izin.
"Terima kasih, Hinata."
Lagi-lagi Boruto tersentak. Kali ini suara sang ayah yang mengejutkannya. Ayahnya tersenyum senang, menatap ibunya penuh arti, "Meskipun aku selalu menjadi yang terendah.. Tapi bagaimanapun aku sudah berusaha keras." Nada ceria kembali terdengar dalam suara ayahnya.
"Aku yang frustasi sama sekali bukan karakter asliku."
Naruto memperlebar cengirannya. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Tapi sekarang aku merasa lebih baik-ttebayo!"
"Naruto-kun.."
Boruto tersenyum tipis. Bocah itu menyenderkan punggungnya di batang pohon. Ia lega akan keputusannya untuk tidak mengintrupeksi kedua orang tuanya di masa depan.
"Baiklah! Aku akan meluncur ke pertandingan!"
Naruto melambaikan tangannya sekilas kepada sang gadis Hyuuga. Baru beberapa langkah bocah itu berjalan, ia berbalik. Menatap sang gadis Hyuuga dalam diam.
"Hinata." Panggil ayahnya.
Boruto meremas kaosnya. Sial. Padahal ayahnya hanya memanggil nama ibunya. Kenapa tiba-tiba dadanya berdegup kencang? Gawat. Ia mulai merasa wajahnya kembali memanas dan keringat muncul dari pelipisnya.
"Huh?"
"Sepertinya aku.. pikir kau.."
Uzumaki Boruto memasang mata dan telinganya baik-baik. Sialan. Jangan bilang ayahnya sudah mulai terpikat dengan Hinata dan kali ini bocah itu akan mengungkapkan perasaannya? Astaga! Ia tidak boleh kehilangan momen ini.
"muram, pemalu dan aneh!"
BRUK!
Boruto terjungkir kebelakang.
Ayah sialan! Bisa-bisanya ia mempermainkannya dengan ibunya seperti ini! Uzumaki Boruto mengepalkan tangannya gemas. Ia bersumpah akan memberikan pelajaran kepada ayahnya yang tidak tahu diri itu.
"Tapi.."
Suara Naruto kembali terdengar. Tangan tan milik sang bocah Kyuubi naik, membenarkan letak metal protector di dahinya.
"Orang sepertimulah yang aku sukai!"
Seketika Boruto merasa angin musim panas menerpa wajahnya. Maniknya membulat tak percaya dan pipinya makin memanas. Setelah mendengar penyataan ayahnya, Boruto merasa dadanya semakin ringan. Demi Tuhan. Bagaimana bisa sesuatu yang sangat sederhana bisa membuatnya sedemikian bahagia?
Boruto tertawa singkat. Uzumaki Naruto sialan. Pikir Boruto dalam hati.
"Eh! G-Gawatt! Aku akan terlambat! Sampai nanti, Hinata!"
Suara Naruto menyadarkannya. Kedip. Kedip. Sepertinya ia melupakan sesuatu.
"EHH! AKU JUGA BISA TERLAMBAT-TTEBASA!"
.
~À Suivre~
A/N: Haloo! Bieber kembali! ^^ #dikeroyok# Hehe, maaf ya sangat telat update. Ada banyak kejadian yang gak bisa Bieber ceritakan selama empat bulan ini. Banyak banget sampai Bieber gak punya waktu buat lanjutin ffnya :'D
Tapi Bieber kembali pastikan. Ff ini tidak akan Discountineud. Titik.
Terima kasih kepada kalian yang selalu Review/Fav/Follow ( TwT )/ Terima kasih juga bagi kalian yang sudah gencar mengingatkan (baca: nagih) Bieber buat lanjutin ff ini :'D Jangan sungkan ya kalau mau nagih #elu
Ah, Sebenarnya Bieber sudah punya account Watpadd! Yeay~
Silahkan Follow kalau berminat uzumakiani_ XD #Ditamvol
Bieber berencana buat memindahkan (dan melanjutkan) Boruto's Time Adventure kesana. Bagaimana? Setuju? XD
Akhir kata,
Mind to Review?
