Boruto's Time Adventure

.


Naruto © Masashi Kishimoto

~Story belongs to Bieber's Wife~

Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll

.


~Don't like Don't read~

Happy Reading, Minna-san


"UAAHHHHH!"

Brukk!

Ia dan enam peserta lainnya berbalik kearah pintu masuk stadion. Bocah itu memberengut jengkel begitu menangkap sosok Uzumaki Naruto tengah terkapar dengan konyol di tanah.

"Semuanya, lari! Sekumpulan banteng besar akan datang menyerbu-dattebayo!"

Lagi-lagi ayahnya mengoceh tidak jelas. Boruto mengusap dahinya. Ia tidak habis pikir bagaimana bisa seorang Nanadaime Hokage di masa depan awalnya adalah bocah berisik macam bocah orange itu?

Uzumaki Boruto berjalan mendekati Naruto dengan wajah masam. Ia melirik Nara Shikamaru sebentar, kemudian menoleh kearah ayahnya, "Apa yang kau katakan-dattebasa? Lagipula kalau kau tidak terlalu idiot menyadari bahwa kau sangat terlambat, seharusnya kau langsung berlari ke stadion dan bukannya berlarian di emperan jalan bersama seorang bocah seperti monyet!"

"Bagaimana kau–Ah! Kau juga terlambat 'kan!? Kenapa kau membiarkanku di bodohi Konohamaru!?"

Alis Boruto terangkat sebelah. Konohamaru? Mungkinkah orang yang dimaksud ayahnya adalah Sarutobi Konohamaru? Senseinya? Ah, itu pasti benar Senseinya. Tidak mungkin ada yang menduakan nama 'Konohamaru'.

Boruto sedikit menyesali keputusannya untuk membiarkan Naruto tadi. Andai ia bergabung dengan Naruto, ia pasti berkesempatan untuk bertemu pandang dengan sosok masa lalu Senseinya. Dan sedikit banyak, ia mungkin bisa membalas perlakuan Konohamaru-sensei padanya di masa depan. Hm, ia mungkin akan menyimpan satu atau dua jitakan di kepala Senseinya nanti.

"Hm? Hey, Sasuke dimana?"

Celetukan ayahnya membuat Boruto tersadar. Benar juga, peserta babak keempat seharusnya berjumlah sepuluh orang –termasuk dirinya sendiri. Namun peserta Ujian Chunnin yang berdiri di depannya hanya berjumlah tujuh orang. Ada dua peserta yang belum hadir dan tentu saja Sasuke-no-occhan adalah satu dari dua orang yang dimaksudkannya. Ia tidak mengenal satu peserta lainnya, jadi Boruto memilih untuk tidak ambil pusing.

Pertandingan pertama adalah milik ayahnya dan juga Hyuuga Neji. Pertarungan yang menjadi sorot atensinya. Pertarungan antara ayahnya dan sang paman.

Ia dan peserta lain mengambil tempat disisi stadion untuk menunggu giliran. Pada kenyataannya ia sungguh tidak berminat mengikuti ujian chuunin semenjak Hinata di kalahkan paman congkaknya. Ingatannya masih tajam –tentu saja, ia bersedia mengikuti ujian chuunin yang merepotkan ini hanya untuk melindungi ibunya. Dan nampaknya usahanya berakhir sia-sia karena pada akhirnya Hinata tetap terluka dan harus di rawat di rumah sakit dalam waktu yang cukup lama.

Ia nyaris tidak bisa menunjukan wajahnya didepan Hinata karena ketidakmampuannya menjaga gadis itu dengan kekuatannya sendiri.

"Sudah kukatakan sebelumnya, bukan? Aku pasti menang!"

Suara Uzumaki Naruto yang lantang bergema di studion.

Ia tidak bermaksud untuk memandang remeh ayahnya, tapi dari sudut manapun, Uzumaki Naruto di masa ini terlihat benar-benar payah. Entahlah, mungkin ini hanya pendapatnya, karena sekalipun ia belum pernah benar-benar menyaksikan pertarungan ayahnya.

Pada babak sebelumnya ia juga tidak sempat melihat pertarungan ayahnya karena ada beberapa urusan yang mesti ia tanggulangi. Satu-satunya pertandingan Naruto yang di saksikannya langsung hanyalah pertarungan ayahnya dengan monster ular di babak kedua. Itupun dengan campur tangannya karena –yeah, harus ia akui– ular keparat yang menjijikan itu memang membuat duo ayah-anak Uzumaki kerepotan bukan main.

Ia melipatkan tangannya diatas pagar lantas menopangkan dagu diatasnya. Boruto dengan jelas melihat Hyuuga Neji telah mengaktifkan Byakugannya. Naruto terlihat percaya diri, seolah bocah pirang itu tidak gentar sama sekali, terlihat jelas dimatanya. Namun tentu saja, mata biru milik Boruto dapat menangkap tangan ayahnya yang gemetar hebat.

Sebelah alis Boruto terangkat. Untuk ukuran orang bodoh, Naruto cukup pintar untuk merasa gugup saat berhadapan dengan seorang jenius Hyuuga.

Hyuuga Neji menyiapkan ancang-ancangnya. Dengan Byakugan yang masih aktif, ia tenatap lurus bocah Kyuubi di depannya dengan tatapan merendahkan. "Heh, Kau membuatnya menjadi lebih mudah. Aku tidak sabar untuk melihat kekecewaanmu saat kau tahu apa itu kenyataan yang sebenarnya."

"Tutup mulutmu. Ayo kita mulai!" balas Naruto yakin.

Bersamaan dengan itu, angin yang cukup kuat berhembus di arena pertandingan. Membuat keadaan semakin mencengkam. Boruto menggigit bibirnya. Sial.

Tatapan mengintimidasi milik Hyuuga Neji seolah dengan jelas merefleksikan akhir pertandingan ini.

Boruto kembali memfokusan pandangannya kearah arena pertandingan. Ia sangat mengenal gaya bertarung seorang Hyuuga dan pertempuran jarak dekat sama sekali bukan ide yang bagus untuk menghadapi satu diantaranya.

Ayahnya itu.. Apa dia tahu soal itu?

Naruto melempar beberapa kunai secara mendadak. Dilihat dari kontrolnya, Uzumaki Naruto nampaknya sengaja melemparnya sebagai pengecoh.

Tanpa berpikir, sang Jinchuuriki Kyuubi itu berlari kearah Hyuuga Neji. Terang-terangan. Dari depan! Apa ayahnya sudah gila?!

Serangan sebrono macam itu jelas-jelas akan membuatnya kalah!

Naruto menyerang Hyuuga Neji dengan taijutsu bar-barnya. Dan dengan sempurna Neji berhasil menghindari dan menangkis setiap serangan Naruto dengan mudah. Sungguh. Boruto merasa bahwa ia tidak perlu merasa kagum kepada pamannya. Itulah yang diharapkan dari seorang Elite Hyuuga.

Uzumaki Naruto masih saja terus menyerang Neji tanpa jeda. Seharusnya bocah Kyuubi itu tahu bahwa itu hal sia-sia. Apa ayahnya tidak pernah belajar dari pengalaman? Kenapa tidak coba ayahnya belajar dari pertarungan Hinata dan Neji di babak ketiga? Menyerang seorang Hyuuga dari depan secara langsung adalah tindakan sembrono. Bodoh.

Ah, Naruto adalah orang bodoh. Ia mungkin harus membuat pengecualian.

Sebuah Tenketsu di pundak Naruto membuat si bocah pirang orange terguling kebelakang. Bocah itu terengan pelan. Mustahil Naruto akan menyerah begitu saja. menurut pengamatan Boruto, satu-satunya hal pada diri Naruto yang mengungguli Hyuuga Neji adalah staminanya. Dan… kekeraskepalaannya –tentu saja.

Naruto berdiri. Membentuk segel yang sudah dihapalnya di luar kepala. Kage bunshin no jutsu.

Bersamaan dengan asap, empat buah bunshin muncul lantas merogoh kantung kunainya serentak. Boruto memiringkan kepalanya sedikit. Naruto itu.. ia menggunakan otaknya, bukan begitu?

Kage bunshin. Jika chakranya dibagi rata maka tentu saja Neji tidak akan bisa mendeteksi mana sosok Naruto yang asli dengan Byakugan yang dibanggakannya.

"Oy! Jangan meremehkanku!" Seru Naruto dengan lantang. Birunya mata Naruto berkilat semangat menatap Hyuuga Neji. Empat sosok Uzumaki Naruto kemudian berlari bersamaan menerjang Neji dengan sebuah kunai di masing-masing tangannya.

Neji bersalto dengan mudahnya. Menangkis setiap serangan dari keempat sosok Naruto tanpa merasa kesulitan. Boruto berdecih. Hyuuga Neji. Diumurnya yang sekarang, pamannya sudah sangat terampil menggunakan Byakugan bergitupun taijutsunya. Brengsek! Neji melenyapkan bunshin-bunshin Naruto semudah meletuskan sebuah balon.

Naruto menggertakan giginya. "Orang ini.. Apa dia memiliki mata dibelakang kepalanya?"

Neji tersenyum miring, "Kau ingin menjadi Hokage 'kan? Dengan level yang seperti ini kurasa itu mustahil."

Hokage. Nama itu sangat sensitif untuk Naruto di zaman ini. Sejauh yang bisa ia ingat, ia bisa bertengkar seharian dengan ayahnya hanya karena ia mengungkit dan menjelekkan nama Hokage didepan ayahnya.

"Dengan mata ini Aku secara umum bisa mengatakan… kemampuan hakiki sudah ditetapkan. Segala sesuatu yang melekat pada diri manusia sudah diatur."

Naruto menggeram kesal. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. "Kenapa? Kenapa kau selalu menilai seperti itu-ttebayo? Brengsek!"

"Lantas.. Apakah kau bermaksud untuk mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi Hokage hanya dengan bekerja keras? Hanya sangat kecil presentasi dari Shinobi yang terpilih menjadi Hokage. Cobalah untuk lebih melihat kenyataan! Orang-orang yang menjadi Hokage terlahir dengan sebuah takdir. Itu bukanlah sesuatu yang bisa kau capai melalui usaha untuk mewujudkannya. Itu ditetapkan oleh takdir! Setiap orang hidup didalam perbedaan arus masing-masing yang tidak bisa ditentang. Hanya satu hal yang pasti. Takdir yang sama yang dimiliki semua orang… kematian!"

Uzumaki Naruto menundukan kepalanya. Tangannya mengepal makin kuat. Giginya bergemeretuk keras. "Lalu.. Lalu kenapa?!" Tanpa rasa takut, Naruto kembali mengarahkan tinjunya kearah Hyuuga Neji dengan kesal. "Aku tidak akan menyerah!"

Secepat kilat membuat segel ditangan dan merapalkan jutsu, "Kage bunshin no jutsu!"

Sepersekian detik kemudian, puluhan sosok Naruto memenuhi arena pertandingan.

.


"Apa kau pernah melihat pertandingan yang sudah terlihat jelas hasilnya seperti ini? Pertandingan ini bisa kau ibaratkan seperti halnya gajah raksasa melawan seekor semut kecil."

Boruto menoleh cepat ke sumber suara itu. Suara menjemukan yang memperburuk moodnya. Genin Sunagakure dengan wajah penuh coretan itulah yang dengan lancang mengoceh tidak jelas.

Seolah menyadari tatapannya, Genin Sunagakure itu menoleh kearah Boruto dengan senyuman menjengkelkan. "Apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Boruto baru saja akan mendekati si Genin Suna dan memberi mulut besarnya pelajaran sebelum tangan Nara Shikamaru menahan pundaknya.

"Mendokusei. Tahan dirimu. Kau memiliki banyak kesempatan untuk menghajarnya di arena pertandingan. Dan percayalah, tidak akan ada yang menghentikanmu saat itu terjadi."

Uzumaki Boruto berdecih. Ia membuang wajahnya kesal kearah arena pertarungan. Maniknya menajam begitu melihat puluhan Bunshin Naruto dikalahkan dengan mudah oleh pamannya. Sial, Ayahnya sama sekali tidak bisa menangkap Neji.

Neji berlari melewati beberapa bunshin. Ia mengincar satu Naruto yang berposisi tepat di barisan paling belakang. Kemudian dengan gesit melancarkan Juuken kearah dada kiri si Jinchuriki Kyuubi.

Uzumaki Boruto mencengkram pagar pembatas besi di depannya. Neji menatap Naruto dengan Byakugannya. Urat-urat chakra di sekitar matanya berdenyut. "Kau adalah tubuh yang paling sedikit melakukan serangan. Aku yakin kau melakukannya karena khawatir titik chakramu diserang."

Naruto terbatuk darah. Melihatnya membuat Boruto geram. ia tidak tahan jika hanya menonton. Tidak bisakah ia melompat ke arena dan menggantikan ayahnya menghajar Neji? Sialan.

"Tidak peduli bagaimana kau melihatnya, Naruto tidak akan pernah bisa mengalahkan seorang Hyuuga." Boruto menoleh kesampingnya. Itu tadi Nara Shikamaru yang berbicara. Uzumaki Boruto menatap si pemalas Nara dengan tatapannya mengintimidasi. Meminta penjelasan dari Shikamaru sebelum tinjunya unjuk gigi.

Shikamaru balas menatapnya. Tersenyum kecil kemudian melanjutkan, "Yah, setidaknya aku juga berpikiran seperti itu pada awalnya."

Shikamaru mengedikan dagunya kearah Naruto. "Tapi… kukatakan padamu, Kau akan terkejut jika kau meremehkannya."

Boruto tersentak. Kemudian mengikuti arah pandangan Shikamaru. Ia melihat ayahnya tengah terkekeh dibawah tekanan Neji.

Uzumaki Naruto tersenyum sinis. "Sudah kukatakan jangan seenaknya mengasumsikan sesuatu."

Sekonyong-konyong, sosok Naruto menghilang dibalik asap. Boruto dan yang lainnya tersentak kaget. Itu tadi bunshin? Lantas dimana sosok Naruto yang asli?

Secepat kilat, dua sosok Naruto melompat dari arah belakang Hyuuga Neji. Boruto tersenyum tipis. Dengan begini Naruto bisa memojokan pamannya dengan mudah.

"Aku sudah menyerang dari awal! Terima ini-dattebayo!" Naruto mengarahkan tinjunya ke sisi kiri wajah sang bunke Hyuuga. Untuk beberapa saat, Boruto nyaris yakin ayahnya akan berhasil.

Tapi pamannya terlihat tidak gentar. Neji berputar. Putaran kubah chakra yang membuat tubuh Naruto terhempas begitu saja.

Manik Boruto melebar. Ia menggenggam palang pembatas besi didepannya kuat-kuat. Itu tadi… Kaiten?

Menurut pengamatannya, kisaran terbesar dari vision Byakugan Neji adalah 360 derajat. Teknik pertahanan itu… Hakkeshou Kaiten!

Saat Neji diserang, dia melepaskan sejumlah besar titik chakra dari titik chakra di tubuhnya, memblokir setiap serangan musuh dengan chakra tersebut, menggerakan tubuhnya secara melingkar dan menangkis setiap serangannya.

Boruto berdecih. Hyuuga Neji terlalu muda untuk bisa menguasai teknik macam itu. Ah, benar. Umur sama sekali tidak ada hubungannya dengan menjadi seorang ninja. Hyuuga Neji memang jenius. Genin yang mengerikan.

"Ini akhirnya," Neji memasang kuda-kudanya. "Kau sudah berada didalam wilayah Hakke no Ryouikiku."

Hyuuga Neji merapalkan jutsunya, "Juuken Hou… Hakke Rokujuuyonshou!"

Secepat kilat, Neji berlari kearah Naruto. Menghujaminya dengan Juuken berantai yang bahkan tidak mampu dihindari ayahnya. Hingga Juuken keenam puluh empat membuat Naruto terjungkir kebelakang dengan darah yang merembes di bibirnya.

Uzumaki Boruto meringis pedih. Tidak bisakah ayahnya menyerah saja? Ia telah membiarkan Hinata terluka di tangan Neji sebelumnya, jika ia harus kembali melihat ayahnya sama terlukanya di tangan orang sama ia tidak yakin sanggup bertahan untuk tidak membenci Hyuuga Neji.

Dalam keadaan yang menyedihkan, Naruto tetap berusaha berdiri. Meski seluruh tubunhnya bergetar dan mati rasa, bocah Kyuubi itu tidak mau mengakhiri pertarungannya begitu saja.

"Aku sudah menekan enam puluh empat tenketsu ke seluruh tubuhmu. Kau bahkan tidak akan bisa berdiri."

Boruto mengepalkan tangannya. Tou-chan… buktikan bahwa apa yang dikatakannya salah.

Dengan gerakan tertatih, Naruto bangkit berdiri dengan irama napas yang berantakan. Baju orange yang mencolok miliknya sudah terlihat kotor dan lusuh. Manik biru milik Naruto menatap Lavender Neji tegas, "Sudah kukatakan padamu sebelumnya, aku tidak akan menyerah." Seru Naruto setengah terengah.

"Kenapa… Kenapa kau yang kuat ini… dengan tampang yang menampilkan seakan kau melihat semua dengan mata itu, menjatuhkan Hinata yang berusaha keras secara mental?! Menghina Hinata dan dengan egois mencapnya sebagai sebuah kegagalan sesukamu. Aku tidak akan pernah memaafkan orang bodoh yang menyebut orang lain sebagai kegagalan!"

Neji nampaknya sudah kehilangan ketenangannya. "Baiklah, jika kau bersikeras. Aku akan menceritakan padamu mengenai takdir Hyuuga akan kebencian!

"Dalam keluarga souke Hyuuga, ada sebuah Ninjutsu rahasia yang telah dilewati dari generasi ke generasi. Itu adalah Juinjutsu!"

Hyuuga Neji membuka headband miliknya. Menampilkan tanda segel Juinjutsu Souke di dahinya.

Apa yang harus dilakukannya? Tanya Boruto dalam hati.

Hiashi-jiisamanya sudah menceritakan perihal masalah souke dan bunke padanya kemarin. Soal Kumogakure dan Hyuuga. Soal Hiashi dan Hizashi. Soal Hinata juga Neji. Boruto merasa salah jika ia menyalahkan Neji karena itu. Pada kenyataannya Neji juga merupakan korban kebengisan dunia Shinobi. Kondisilah yang membuat Neji berakhir seperti yang ada di depannya ini. Tapi kini ia sungguh tidak bisa memaafkan perbuatan Neji kepada kedua orang tuanya. Ia tidak akan bisa mengampuni siapa saja yang dengan lancang menyakiti kedua orang tuanya yang berharga. Bahkan Hyuuga Neji sekalipun.

Ia mengerti dan sangat paham. Karena itulah ia merasa muak pada dirinya sendiri yang tidak bisa melakukan apapun untuk meluruskan kesalahpahaman diantara Neji, keluarga souke Hyuuga, dan juga ayahnya.

Hyuuga Neji menggenggam kuat Headband di tangan kirinya. Air mukanya menegang, terlihat marah dan tegang di saat yang bersamaan. "Perang bisa dihindari berkat ayahku yang tewas sebagai pengganti Hyuuga Hiashi untuk melindungi keluarga souke!"

"Takdirmu adalah kekalahanmu dariku. Itu pasti." Seru Neji dengan senyum sinis diwajahnya.

"Kau tidak akan tahu sebelum kau mencobanya! Sudah lama ayahmu terbunuh… aku juga tidak tahu sejauh mana rasa sakit yang kau rasakan, tapi adalah sebuah kesalahan besar untuk berpikir bahwa takdir sudah ditentukan secara menyeluruh-dattebayo!"

Neji mengikatkan kembali headband di dahinya, merapihkan rambut lurus kecoklatannya sekilas. "Kau putus asa."

Sekali lagi Neji melancarkan Juukennya pada tubuh Naruto. Uzumaki Naruto yang tidak siap tersungkur beberapa meter kebelakang.

"Orang gagal." Gumam Neji datar sebelum hendak beranjak pergi.

Tepat di langkah kedua, suara Uzumaki Naruto menghentikan Neji. "Aku.. tidak akan lari."

Uzumaki Boruto menggigit bibirnya tidak sadar begitu menatap ayahnya yang berusaha berdiri dengan kerepotan. Keras kepala.

Naruto menyentuh tulang rusuknya. Meski telah babak belur, bocah Kyuubi itu masih belum kehilangan semangat. "Aku tidak akan menarik kata-kataku. Karena itu adalah jalan ninjaku!"

Untuk beberapa alasan, perasaan Boruto mencelos. Kata-kata itu.. Jalan ninja yang sama persis dengan milik ibunya.

"Kau beserta takdirmu. Aku tidak akan pernah kalah dari orang brengsek berkaki dingin sepertimu!" Teriak Naruto.

"Seorang bocah nakal yang tidak tahu apa-apa macam dirimu tidak pantas berceramah dengan sombong. Aku telah ditakdirkan menanggung beban dari segel yang tidak akan bisa kuhapus seumur hidup! Bagaimana bisa kau mengerti semua itu?!" Neji berteriak marah. Ia menunjuk lawannya dengan menggebu-gebu.

Naruto menopangkan tubuhnya. Ia menatap Neji yakin sekalipun tubuhnya bergetar hebat menahan rasa sakit yang menjalar ke setiap inchi tubuhnya. Tersenyum mengejek. "Aa... Aku mengerti-ttebayo. Lantas apa?"

Uzumaki Naruto mendengus pelan. "Jangan berlagak keren! Bukan hanya kau yang spesial! Hinata juga merasa putus asa menentang takdirnya! Kau juga tidak ada bedanya, 'kan?"

Kaki si bocah Kyuubi melangkah lebar ke samping. Masih menatap Hyuuga Neji dengan tatapan seriusnya. "Aku pasti akan mengalahkanmu dan membuktikannya!"

Cengkraman Boruto di palang pembatas besi makin menguat. Ia menggemeretukan giginya. Bagaimana bisa Naruto menghadapi Hyuuga Neji dengan titik chakra yang sudah tertutup sempurna? Darimana ia mendapatkan kepercayaan diri itu? Apakah Naruto sudah gila?

"Kenapa kau berusaha keras mencoba melawan takdirmu?" Tanya Neji sinis.

Naruto tidak menjawab untuk beberapa detik. Kemudian, "Karena aku.. dijuluki orang yang gagal."

Uzumaki Naruto membuat segel Hitsuji (biri-biri; domba) kemudian chakra berwarna orange kemerahan menguap dari tubuhnya. Boruto dan yang lainnya tersentak kaget. Chakra yang luar biasa. Ia tahu benar Neji telah menutup seluruh titik chakra pada tubuh Naruto. Bagaimana bisa?!

Luka-luka yang didapatkan Naruto secara cepat pulih begitu saja. Chakra Naruto mengalir keluar dengan dasyat. Boruto terperangah. Apa maksudnya ini? Inikah kekuatan sejati ayahnya? Biiju itu?

Naruto kembali menyerang. Kali ini gerakannya seratus kali lipat lebih cepat. Hingga bahkan Neji sekalipun tidak sanggup melihatya. Keduanya saling melempar kunai. Berpijak sedetik dan tanpa pikir panjang Naruto berlari kearah Neji cepat. Setiap langkahnya berdebam keras. Menandakan bahwa sang Jinchuriki Kyuubi sudah kelewat kesal.

"Aku tidak tahu apa-apa mengenai takdir kebencian Hyuuga! tetapi jika kau berkata bahwa itu sia-sia maka lupakan dan jangan lakukan apapun!"

Neji mencoba melakukan Kaiten. Namun nampaknya tidak akan sempat. Naruto terus berlari kearah sang bunke Hyuuga dengan emosi. "Setelah aku menjadi Hokage… Akan kurubah Hyuuga!"

Dan kemudian kedua kunai saling berbenturan. Ledakan chakra yang membuat debu bertebaran datang setelahnya.

.


Uzumaki Boruto mematung di tempat. Keringat dingin mengalir dipelipisnya. Kedua peserta terjungkir. Kepulan debu mempersulitnya untuk melihat siapa yang berhasil memenangkan pertarungan.

Kemudian sebuah tangan keluar dari dalam tanah. Diikuti sosoknya. Napas Boruto tercekat. Itu.. Hyuuga Neji!

Itu berarti ayahnya kalah?!

Cengkraman Boruto yang kelewat kuat sedikit membengkokan palang pembatas besi. Ia menggeram marah menatap sosok Naruto yang terkapar ditanah.

Namun tepat saat dimana ia akan melompat menghajar pamannya, seonggok gumpalan tanah di bawah kaki Neji bergerak. Sekonyong-konyok tinju seorang bocah pirang muncul dari sana. Menghantam dagu Hyuuga Neji kuat-kuat. Membuat si elite Hyuuga terjungkir kebelakang dengan suara berdebum keras.

Mata biru Boruto mengecil. Rahangnya tergantung lemas. Itu tadi ayahnya?! Bagaimana bisa? Jangan-jangan sosok ayahnya yang sebelumnya terlihat terkapar ditanah itu hanya sebuah bunshin?!

Trik murahan yang dengan sialannya berhasil mengelabui semua orang bahkan dirinya juga Hyuuga Neji. Pak tua sialannya itu.

Ia percaya pada kemenangan, berpikir tentang apa yang akan terjadi kelak dan bertindak bahkan saat mendapat pukulan.

Kekuatan akan kepercayaan pada diri sendiri. Itulah kekuatan yang akhirnya mengubah takdir. Ayahnya tahu itu dan terus memercayainya.

Uzumaki Boruto menatap ayahnya lekat. Ayahnya mungkin tidak pernah menjadi orang gagal. Dia mungkin hanya memilih jalan yang harus ia ambil berdasarkan keinginannya sendiri. Dan kemudian ia menjadi sekuat ini.

Boruto membiarkan sudut bibirnya tertarik begitu saja. membentuk seulas senyum yang menawan.

Uzumaki Naruto telah mengubah takdirnya.

Ayahnya adalah orang yang bodoh, pantang menyerah, dan selalu berjuang atas nama desa dan teman-temannya.

Berhati mulia dan begitu hangat. Orang yang begitu dicintai serta dikaguminya sedari dulu.

Boruto mendengus senang. Kemudian bertepuk tangan, disusul tepuk tangan peserta lainnya.

"Pemenangnya adalah Uzumaki Naruto!"

Dan suara riuh penonton membanjiri stadion pertandingan setelahnya.

.


Boruto menunggu didepan ruang rawat hingga Hyuuga Hiashi –kakeknya– keluar setelah berbicara dengan Hyuuga Neji. pembicaraan serius yang nampaknya bisa meluruskan kesalahpahaman antara Neji dan juga keluarga souke.

Setelah kakeknya mengizinkannya masuk, Boruto membuka pintu rawat, mengintip dan mendapati pamannya –Hyuuga Neji– tengah menggosok matanya. Apakah pamannya baru saja menangis? Batin Boruto bertanya.

Ia melangkah masuk. Neji menyadari kedatangannya lantas menoleh. "Naruto…" Gumam Neji pelan. Boruto hendak membenarkan, namun Neji cepat-cepat menggelengkan kepalanya. "Bukan. kau anak yang mirip dengannya itu 'kan?"

Senyum tipis disuguhkan si bocah ahoge. Ia memasukan kedua tangannya ke kantung celana. "Kau sepertinya cukup cerdas untuk bisa membedakannya."

Ada jeda sejenak sebelum Neji bertanya, "…Ada perlu apa kau kemari?"

"Sebenarnya aku sangat ingin menghajarmu atas apa yang kau lakukan terhadap Hinata… juga Naruto-ttebasa."

Neji mengangkat alisnya heran. "Kalau begitu kenapa tidak kau lakukan?"

"Aku sungguh sangat tergoda melakukannya tapi tidak. Memberi pelajaran seseorang yang tidak berdaya sepertimu sama sekali bukan gayaku. Kau lolos hari ini."

Membuang mukanya. Hyuuga Neji tersenyum miring. "Kau menyia-nyiakan kesempatanmu untuk menghajarku hanya untuk mengoceh tidak jelas? Bagaimana jika kau bersiap untuk pertarunganmu sendiri ketimbang menjengukku?"

"Tidak masalah. Aku memang tidak tertarik dengan ujian ini. Tujuan utamaku adalah melindungi Hinata. Semenjak –kau tahu– ia tereleminasi, minatku akan ujian ini lenyap seketika-dattebasa." Balas Boruto acuh.

Lengang. Hyuuga Neji menatapnya dengan alis berkerut. "Siapa kau ini sebenarnya?"

Boruto mengedikan bahunya. Ia berjalan mendekat kearah Neji. "Omong-omong, bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

"Kenapa kau berbicara seolah kau tahu segalanya soal diriku?" Neji balas bertanaya sinis.

"Aw, reaksi yang negatif. Sayangnya aku memang tahu segalanya-ttebasa."

Manik lavender Neji menatap birunya mata Boruto lekat. "Apa maksudmu?"

Boruto mendudukan dirinya di atas kasur. Tepat di sebelah Neji. "Sudah kukatakan aku tahu semuanya. Souke dan bunke. Kau dan takdir ayahmu."

"..."

"…"

Lengang.

"Aku memang mengutuk takdirku sebagai seorang Hyuuga." Suara Neji memecahkan keheningan. Mata Lavender Neji menatap ujung sepatunya lamat-lamat. "Tapi setelah bertarung dengannya aku…"

Boruto adalah jenius. Ia tentu saja mengerti maksud 'nya' yang disebutkan Neji. Tentu saja. Tidak lain tidak bukan adalah ayahnya. Uzumaki Naruto.

Manik Neji tertutup. Ia menarik napasnya. "Uzumaki Naruto. Orang itu seolah mengajarkan padaku. Bahkan seekor burung dalam sangkar, jika cukup pintar, dia akan menggunakan paruhnya untuk membuka gerendel pintu. Karena ia ingin terbang bebas di langit. Walaupun mungkin nantinya akan berakhir di tempat yang sama."

Sadar atau tidak, Boruto mampu menangkap pandangan Neji yang melembut selama beberapa detik. Manik Lavender yang identik dengan milik ibunya itu bergerak menatapnya yakin. "Uzumaki Naruto mengajarkan padaku lewat pertarunganku dengannya tadi bahwa saat seseorang memiliki pilihan, mereka bisa berusaha keras menuju tujuan mereka dalam kehidupan. Dan saat ini aku hanya memiliki satu tujuan. Yaitu untuk menjadi lebih kuat hingga tidak ada yang bisa mengalahkanku."

Manik Boruto berkilat menatap pamannya. Pipinya terasa panas. Ia tidak punya pilihan lain selain membuang wajahnya kearah lain sekalipun Neji kini menatapnya heran.

"Hey, Neji. ada yang ingin kutanyakan padamu." Tanya Boruto mendadak. Suaranya sedikit bergetar namun bocah dari masa depan itu dengan cerdas berhasil menutupinya sehingga Neji tidak menyadarinya.

"Apa itu?"

"Kenapa kau bernama Neji?"

Neji mengerjap bingung. Kenapa bocah yang mirip dengan Naruto ini mendadak bertanya pertanyaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan topik yang mereka bicarakan sebelumnya?

Hyuuga Neji bisa saja mengabaikannya. Tapi sesuatu dalam dirinya menolak untuk mengacuhkan bocah yang mirip dengan Uzumaki Naruto itu.

Neji menggaruk pipinya. Kemudian berpikir untuk menjawab dengan cerdas pertanyaan yang dilontarkan Boruto adanya. "Coba kupikir. Mungkin karena orang tuaku menyukai nama itu." Jawab Neji sekenanya.

Uzumaki Boruto mengangguk pelan. Neji memerhatikan sosok bocah disampingnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Kemudian ia memutuskan untuk balas bertanya, "Bagaimana denganmu? Kenapa kau bernama… ehem.. maaf?"

Dengusan kecil terdengar. Boruto menahan tawanya. "Boruto. Namaku Boruto."

"Bahkan namamu mirip dengan Uzumaki Naruto."

"Kau tidak akan percaya jika kukatakan bahwa margaku juga sama dengannya-ttebasa."

Mata Hyuuga Neji membulat. "Sungguh?"

Boruto mengangguk semangat kemudian tertawa lebar. Saat itu juga, Neji percaya bahwa tawa memang menular, karena sedetik kemudian ia juga ikut tertawa –walau samar.

"Baiklah. Kalau begitu ulangi. Bagaimana denganmu? Kenapa kau bernama Boruto?"

Seulas senyum tulus terpampang apik di wajah Boruto. Manik biru milik si pirang Uzumaki mengunci lavender Neji. "Mungkin karena orang tuaku menyukaimu."

~À Suivre~


A/N: Hallo semua! Akhirnya ff ini bisa update. Tahu kenapa lama banget? Pertarungan Neji vs Naruto ini susah banget di eksekusi. Drafnya udah ada. Bieber sudah research Databook, Manga, Anime dll tapi tetap susah. Huhu. Maaf ya kalau hasilnya gak begitu memuaskan. btw ff ini sudah menginjak plot akhir yang berarti sebentar lagi ff ini selesai! Yeay!

Terima kasih kepada kalian semua yang sudah bersabar dengan Bieber dan terus menunggu ff ini. Bieber sadar kok lamanya kebangetan. Apalagi sekarang Bieber lagi asyik sama dunia per-fanartan XD #Digavlok#

Rencananya Bieber bakalan tamatin Boruto's Time Adventure disini. Kemudian setelah selesai, Bieber bakal upload ulang di Wattpad dengan ilustrasi gambar yang Bieber bikin sendiri! Yeah! XD

Terima kasih kepada siapa saja yang sudah review/fav/follow ff ini ^^ percaya deh, Bieber baca semua review kalian satu-satu. Cuma gak sempet balas aja hehe. Oh, sekalian promosi, Wattpad Bieber Uzumakiani_

Akhir kata,

Mind to Review?