A/N: Allô! Lama gak update! Haha. Bukan berarti gak niat, Cuma yaaaa… ternyata jadi mahasiswa gak seenak yang Bieber kira. Susah cari waktu buat nulis. Sekalinya pengen nulis, eh tugas bejibun, sekalinya punya waktu luang, mood nulis lenyap gitu aja -_-
Terlebih desakan buat nge-fanart kayanya lebih mendominasi Bieber untuk beberapa waktu kebelakang #curcol
Well, Bieber sengaja bikin A/N duluan untuk menjawab beberapa pertanyaan yang mungkin perlu dijawab.
Pertama, harus digarisbawahi bahwa Boruto's Time Adventure ini memiliki timeline yang berbeda dari Anime/Manga/Movie original. Kenapa? Karena ff ini sendiri dibuat sebelum plot Boruto: Naruto The Movie keluar. Jadi harap maklum jika ada ketidaksamaan dalam fic ini dengan plot original Boruto.
Kedua, adakah hubungan antara nama Boruto dan nama Neji? Yup, ini jelas dibeberkan Masashi Kishimoto dalam interview 『BORUTO NARUTO THE MOVIE』 Special Showroom - ボルト‐ナルト・ザ・ムービー - pada tanggal… err.. Bieber lupa XD #Digavlok# Nama Boruto diadaptasi dari nama Neji yang berarti sekrup. Boruto sendiri dalam bahasa inggris bisa dieja Bolt (Baut) [ketika Boruto –chapter 700– pertama kali muncul di Weekly Shonen Jump versi inggris, namanya ditranslate menjadi Bolt, yang kemudian dikoreksi lagi menjadi Boruto saat volumenya rilis] P.S, Selain itu, Kishimoto-sensei juga terinspirasi dari pelari favoritenya, yaitu Usain Bolt.
Ketiga, Bieber mengambil referensi jutsu-jutsu Boruto untuk ff ini (pada pertarungan Boruto vs Tsurugi) dari Naruto Ultimate Ninja Strom 4 bukan dari game Road to Boruto. Di game Strom 4, Boruto jelas sekali menggunakan, Suiton, Fuuton dan Rasengan tanpa kote. Sedangkan menurut data karakter Boruto sendiri –baik di manga atau novel–, dia memiliki chakra elemen Fuuton juga Raiton, selain itu, di dalam movie/novel sendiri dikatakan bahwa Boruto-pun bisa menguasai Suiton (yang berarti segala hal yang ada dalam game sama sekali tidak salah). Kenapa Bieber mengambil referensi dari Naruto Ultimate Ninja Strom 4 dan bukan dari game Road to Boruto? Karena pada saat menulis chapter dimana Boruto melawan Tsurugi, Game Road to Boruto belum dirilis sama sekali.
Dan ya! Bagian terakhir di chapter kemarin itu Bieber ambil dari film Kuch Kuch Hotahai #lol# Film itu bermakna banget buat Bieber dari dulu bahkan sampai sekarang XD terus pas dipikir lagi, kayanya cocok gitu dimasukin ke bagian NejixBoruto hahahahaha.
Dan, dannnn… segala macam interaksi yang terjadi diantara Hinata dan Boruto disini memang sengaja Bieber buat begitu untuk kepentingan cerita mwehehehe. Jadi tolong tahan bapernya lol
Plot sudah mencapai akhir. Kalau tidak ada halangan melintang, ff ini akan tamat di chapter depan yeay! There's no epiloge or sequel 'kay?
Tidak lupa ucapan terima kasih Bieber untuk siapa saja yang sudah mendukung, menunggu, mereview, mem-follow, dan mem-favorite-kan ff ini. Kalau kata Mas Koudai Matsuoka, 'I love you more than you love me!' #hus#
Sepertinya ini jadi A/N terpanjang yang pernah Bieber buat. Maaf ya kebanyakan cuap-cuap sama curhat gak jelas hehe. Kalau ada yang mau ditanyakan seputar plot atau hal yang kurang dimengerti dipersilahkan lho.
Akhir kata, Selamat membaca! ^^
Boruto's Time Adventure
.
Naruto © Masashi Kishimoto
~Story belongs to Bieber's Wife~
Warn: Gaje, Miss-Typo, Dll
.
~Don't like Don't read~
Happy Reading, Minna-san
Boruto tidak pernah tahu betapa mengerikannya sebuah pertempuran yang sebenarnya. Ini semua karena ia hidup dimana dunia sudah memasuki masa damai. Ia hidup di zaman dimana perang bukan lagi sebuah ancaman. Orang-orang di era lama terus bekerja keras memertahankan kedamaian yang ada, sebisa mungkin mencegah ancaman-ancaman yang membuat generasi baru merasakan kepahitan yang dirasakan akibat perang. Semua berkat kegigihan orang-orang di era Uzumaki Naruto.
Namun, ia melihatnya hari ini. Invasi besar-besaran tengah terjadi di Konoha. Di zaman yang sebenarnya bukan tempat dimana ia harus berada, ia menyaksikannya secara langsung dengan mata kepalanya sendiri.
Semua dimulai begitu ia dan Neji keluar dari ruang rawat. Seorang gadis bercepol dengan tergesa menghampinya, berteriak dengan napas tersenggal bahwa Konoha tengah diserang. Tanpa aba-aba, Boruto berlari kearah stadion utama, tempat dimana ujian chunnin tengah berlangsung. Uzumaki Boruto tidak memercayai dirinya yang lengah seperti ini. Tapi sungguh, siapa yang menyangka penyerangan akan terjadi ketika ujian chuunin berlangsung. Dan lagi, ada apa dengan keamanan di zaman ini? Apa gunanya para shinobi hebat yang selalu dibanggakan itu?
Apapun itu, ia harus memastikan keselamatan ibunya. Hinata yang terluka sama sekali bukan hal yang ingin dilihatnya untuk kedua kali. Dentingan kunai yang saling beradu memekakan telinganya. Hyuuga Neji yang sedari tadi mengekor dibelakangnya menahan pergelangan si sulung Uzumaki. Byakugan yang tertanam diceruk mata milik Neji aktif sempurna. Ia tidak bermaksud untuk mensyukuri atau apapun itu, tapi beruntung baginya terjebak didalam kondisi seperti ini bersama seorang jenius macam Neji. Setidaknya pamannya bisa berpikiran jernih bahkan dalam kondisi yang paling tidak memungkinkan sekalipun.
Pamannya dengan tenang menjelaskan kondisi diluar sana. Dimana shinobi Konoha tengah berperang dengan Ninja desa Sunagakure, selain itu ninja Oto yang berkomplot dengan Suna membuat keadaannya makin rumit.
Boruto menggeram. Yang menjadi prioritasnya sekarang ini adalah Hinata. Tapi yang dikatakan Neji benar adanya. Ia tidak boleh bertindak gegabah. Jika ia langsung terjun dan muncul dengan mencolok seperti yang selalu dilakukan ayahnya yang bodoh, itu sama saja dengan bunuh diri.
Tertua klan Hyuuga yang terkapar dilantai adalah hal pertama yang dilihatnya begitu Boruto dan Neji mencapai mulut stadion. Inuzuka Kiba juga terkapar tepat disampingnya. Menurut informasi yang didapatnya dari Kiba dan tertua klan Hyuuga, Hinata telah diculik.
Manik Boruto bergerak menjelajah keseluruh bagian stadion. Seluruh penonton terkena Genjutsu, mustahil salah satu dari mereka yang menyaksikan kemana ibunya dibawa pergi.
Sebuah tim dadakan yang terdiri atas Uzumaki Boruto, Hyuuga Neji, Inuzuka Kiba dan gadis bercepol yang teryata adalah Tenten akhirnya dibuat demi menyelamatkan Hinata dan kekuatan kekkei genkai Byakugan.
Tidak sulit untuk melacak musuh karena ada Kiba di dalam tim. Hidungnya sangat bermanfaat, bahkan menurut si bocah Uzumaki, hidung bocah anjing itu bahkan lebih berguna daripada otaknya yang kecil dan mulut besarnya.
Tepat diperbatasan Ta no Kuni, musuh menghentikan pergerakannya. Neji memilih untuk bertindak sendiri dan menyerang musuh tanpa meminta pendapatnya. Uzumaki Boruto merasa tersinggung dengan hal itu. Bisa-bisanya Hyuuga Neji tidak menganggap keberadaannya. Bocah dengan ahoge itu memilih untuk ikut dalam pertempuran pamannya. Bagaimanapun, ini bukanlah pertempuran skala besar. Jika hanya sekedar melawan satu atau dua orang chunnin, ia sendiri sudah lebih dari mampu untuk mengalahkannya.
Pada akhirnya, Hyuuga Hiashi meninggalkan peperangan di dalam desa dan memilih untuk membantu cucu dan putra Hizashi dan merebut kembali putrinya yang berharga.
Semuanya berjalan lancar. Kabar baik untuknya mengetahui bahwa Hinata sama sekali tidak terluka. Hiashipun berkata bahwa ninja Kumo yang menculik ibunya ternyata tidak terlibat dalam peperangan secara langsung. Menjadikan kasus ini bukan insiden Negara yang perlu dibesar-besarkan.
Ya. Semuanya baik-baik saja.
Setidaknya itulah yang dipikirkannya. Ia terlampau percaya bahwa shinobi Konoha mampu menanggulangi keributan yang ada di dalam desa. Boruto juga merasa bahwa ia tidak perlu mengkhawatirkan ayahnya. Meskipun bodoh dan tidak bisa diandalkan, Naruto selalu bisa menyelamatkan dirinya dari bahaya dengan caranya sendiri. Karena itu, jika kau bertanya pada Boruto apakah ia khawatir kepada ayahnya, sudah jelas ia akan menjawab tidak. Masih banyak hal yang lebih penting untuk dikhawatirkannya ketimbang Naruto.
.
Hanya butuh waktu beberapa jam untuk mematahkan kepercayaan yang dibangun Boruto. Pertempuran antar desa Oto, Suna dan Konoha memang telah usai. Namun kesedihan masih menyelimuti Konoha.
Awan hitam yang menggantung di langit menyadarkan Boruto bahwa Konoha sama sekali tidak berada dalam keadaan yang baik-baik saja. Air wajah warga Konoha yang berkumpul diatas bangunan hokage ini nampak murung. Boruto bertanya-tanya, inikah efek dari perang itu?
Jangan menyalahkannya. Di zamannya, upacara macam ini jarang diadakan. Zamannya terlalu damai. Boruto tentu saja tidak mengerti rasanya kehilangan karena semua orang selalu bersedia untuk berada disampingnya. Tidak ada seorangpun yang meninggalkannya. Tidak ada seorangpun kecuali ayahnya.
Sekonyong-konyong setetes air jatuh mengenai pipi kanannya. Boruto masih menatap langit dengan tatapan datar. Pikirannya melayang entah kemana. Ia tetap memandang awan gelap diatas sana sekalipun kini rintik air itu berangsur-angsur bertambah jumlahnya. Boruto membiarkan tubuhnya basah kuyup dengan cepat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia merasa tidak harus peduli dengan penampilannya.
Manik birunya bergulir. Ia menatap orang-orang yang berjejer rapi, silih berganti meletakan bunga berwarna putih didepan sebuah bingkai foto.
"Kenapa-dattebasa.." akhirnya Boruto menemukan kembali suaranya setelah sekian lama diam.
"Kenapa sandaime-no-jiichan harus mati?" ia bergumam lirih disamping Hatake Kakashi.
Disaat seperti ini, terkadang ia bisa kembali mengingat masa lalu. Kini ingatan yang muncul dikepalanya adalah saat ketika ia masih berada di akademi. Saat dimana Shino-sensei memberitahukannya perihal aturan dunia Shinobi nomor 25.
Shinobi dalam apapun situasinya mereka tidak boleh menunjukan emosinya. Kau harus selalu memprioritaskan misimu dan tidak boleh meneteskan air mata dalam situasi apapun.
Jadi inilah yang disebut shinobi? Bagaimanapun semua ini telalu menyakitkan.
Uzumaki Boruto menoleh kearah Hatake Kakashi, menatap pemuda mantan anbu itu dengan tatapan kosong, "Kenapa seseorang memertaruhkan nyawanya untuk orang lain?"
Kakashi menatap Boruto beberapa detik, lantas melarikan matanya menatap Uzumaki Naruto yang tengah meletakan bunganya di pusara Sandaime Hokage. "Ketika seseorang mati… kehidupan masa lalu, kehidupan mereka saat ini, dan masa depan mereka hilang bersamanya. Hokage ketiga adalah salah satunya.
"Mereka yang mati memang memiliki mimpi dan ambisi. Tapi semua orang memiliki sesuatu yang lain, yang sama pentingnya. Orang tua, saudara, teman… orang-orang yang berharga baginya," Kakashi menggantungkan perkataannya. Ia membenarkan letak masker hitamnya, "Mereka saling percaya dan saling mencintai satu sama lain. Ikatan itulah yang membuat seseorang rela melindungi dan memercayakan masa depan kepada orang lain. Ini adalah hal yang tidak bisa dijelaskan oleh logika, maka jika kau bertanya padaku sebaiknya lupakan saja."
Wajah Kakashi terlihat buram dimata birunya yang terhalang air hujan. Tangan milik Uzumaki Boruto naik. Menyentuh headbandnya kemudian mengalungkannya di leher. Pada akhirnya tidak ada yang bisa dilakukannya selain ini untuk menunjukan bela sungkawanya atas kematian Sandaime Hokage. Ia tidak bisa menangis. Ia beranggapan bahwa air mata hanya akan menodai perjuangan Sandaime diakhir hayatnya.
"Kenapa tidak kau letakan bungamu untuk Sandaime-sama, Boruto?"
Boruto menggeleng. "Kupikir itu bukan hakku untuk melakukannya-ttebasa."
Uzumaki Boruto merasakan sebuah tangan besar menyentuh puncak kepalanya. Tanpa perlu menolehpun ia tahu Kakashi-lah yang melakukannya. "Kau tidak perlu menampung duka. Matamu tidak selaut itu."
"Beginilah caraku meresapi kesedihan. Sebagai seorang Jounin, seharusnya kau tahu bahwa kesedihan tak selalu berwujud tangisan-dattebasa."
"Sepertinya aku lupa dengan siapa aku bicara." Balas Kakashi sembari mengacak-acak helaian cerah milik si bocah Uzumaki.
Boruto tersenyum kecil. Ia menepis tangan besar Kakashi di kepalanya kemudian kembali memasukan kedua tangannya ke saku celana.
Hokage ya? Hokage adalah seorang shinobi terkuat yang diakui di desanya. Namun kenyataannya menjadi seorang Hokage tidak menjamin bahwa ia akan terhindar dari kematian. Bahkan seorang Sandaime Hokage yang dikenal super kuat sama sekali tak berkutik dibuatnya. Apa mungkin suatu saat Naruto juga akan…
Boruto berdecih pelan ketika gagasan itu melintasi kepalanya. Suatu saat jika hari itu benar-benar datang apa yang akan dilakukannya?
"Hey, Boruto." Panggil Kakashi dibalik topengnya.
"Hng?"
"Jangan khawatirkan apapun. Sekalipun Sandaime telah tiada, kau masih bisa pulang. Bagaimanapun akulah yang sebagian besar mengambil peran dalam eksperimen kepulanganmu. Sandaime menitipkanmu padaku, apapun yang terjadi kupastikan kau akan pulang dengan selamat."
Ah, benar. Bagaimana bisa ia melupakan hal penting menyangkut kepulangannya? Uzumaki Boruto mengangguk, "Ya. Terima kasih."
Boruto tidak bisa mendustai dirinya lagi. Bersedia atau tidak ia akan segera pulang. Ia bisa merasakannya dari udara yang dihirupnya. Ia bisa membauinya. Bahwa tiba saatnya untuk kembali. Ketempat dimana seharusnya ia berada.
.
Langit begitu terang tanpa awan siang ini. Latar belakang yang sama sekali tidak sesuai dengan suasana hati Uzumaki Boruto.
Tidak seperti biasanya, Hyuuga Hinata pergi menjalankan misi remeh sejak pagi menjelang. Alhasil Boruto harus puas dengan melewati sarapan dengan sang kakek, Hyuuga Hiashi. Mata biru milik Boruto memandang sekeliling dengan malas. Pada awalnya ia hanya berencana untuk mencari udara segar ataupun menyapa beberapa orang yang dikenal maupun mengenalnya. Namun lagi-lagi rencana hanya tinggal rencana. Semua orang yang dikenalnya tengah sibuk dengan urusannya masing-masing. Bahkan Uzumaki Naruto yang notabenenya adalah pecundang di zaman ini-pun semakin sibuk dengan misi yang sama remehnya dengan milik Hinata.
Boruto tidak menahan dirinya untuk menghela napas gusar. Ayolah, ia sedang berusaha menikmati waktunya yang tersisa di zaman ini dengan orang-orang yang dianggapnya penting. Lantas kenapa disaat seperti ini justru orang-orang yang dimaksudnya kian hari semakin sibuk?
Boruto menatap langit dengan mata yang menggelap. Ia berusaha menggali ingatannya, mengingat seperti apa persisnya perkataan Hatake Kakashi saat itu.
Benar. Waktunya tidak banyak. Sebisa mungkin ia harus menikmati sisa waktunya yang tinggal sedikit.
"Ah, Boruto?"
Suara khas anak perempuan membawa kembali Boruto dari lamunannya. Boruto mengerjapkan matanya lantas tersenyum cerah begitu menyadari sosok siapa yang baru saja menyapanya, "Hinata!"
Hyuuga Hinata tersenyum hangat. Gadis kecil itu memegang sebuah gelas berukuran sedang didepan tubuhnya. Disebelahnya, Yamanaka Ino melambaikan tangan dan menyapanya ceria, "Borutooo!"
Langkah kakinya membawanya mendekat kearah kedua gadis dengan warna surai yang terlihat kontras itu.
"Yo! Lama tidak bertemu, Ino!"
"Ah, senang rasanya mengetahui fakta bahwa kau masih mengingat namaku dengan baik," Jawab Ino sembari mendekatkan tubuhnya kearah sang sulung Uzumaki. Boruto membalasnya dengan sebuah senyum canggung.
"Omong-omong, apa yang sedang kau lakukan disini, Hinata?" Tanyanya kepada sosok masa lalu ibunya.
Hinata melirik Yamanaka Ino sambil tersenyum, "Aku baru saja membeli bunga. Ino-san selalu punya bunga-bunga yang indah setiap bulannya. Aku sudah meminta Kou meletakan beberapa di rumah dan kini Ino-san menawarkanku teh buatannya."
Sungguh kejutan menyenangkan bagi Boruto untuk mengawali siang dengan senyuman lembut milik Hinata. Satu lagi fakta yang tidak mengherankan bahwa senyum milik si gadis Hyuuga itu memang sangat bagus untuknya.
"Apa masih ada bunga yang tersisa? Aku dengan senang hati akan membantumu-ttebasa."
Hinata menggeleng pelan, "Tidak perlu. Hal se-sepele itu bisa kulakukan sendiri."
"Tidak perlu sungkan."
"Aku baik-baik saja. Jangan terlalu memanjakanku." Hinata tertawa manis. Tawa yang tak urung membuat senyumnya makin melebar. Ah, bagaimana mungkin sebuah tawa dengan ajaibnya membuat Boruto merasa bahwa ia mungkin bisa melakukan apa saja agar tawa itu bisa tetap melekat di wajah seorang Hyuuga Hinata.
"Ehem." Deheman Ino mengintrupeksinya. "Apakah sekarang ini aku baru saja menjelma menjadi Ino –The Invisible Girl?" Tanya si gadis pirang kesal.
Hinata tersenyum meminta maaf. Namun Ino tidak mengindahkannya. Gadis pirang itu menatap curiga kearah Boruto dengan mata yang segaja disipitkan, "Sungguh mengejutkan melihatmu bisa seakrab itu dengan Hinata. Dan lagi," Ino berpaling dan menatap Hinata dengan pandangan yang sama, "Bagaimana mungkin kau tidak gugup ataupun malu ketika berhadapan dengannya? Jelas-jelas wajahnya mirip dengan Naruto!"
Uzumaki Boruto menelan salivanya sendiri. Ia mulai antipati mendengar seseorang melibatkan segala sesuatu yang dilakukannya dengan ayahnya, Uzumaki Naruto.
Hinata terlihat salah tingkah, namun gadis itu masih berusaha meluruskan, "B-Beberapa hal terjadi dan…"
"Aku paham," sahut Ino, walau ekspresinya justru mengatakan hal yang berkebalikan dengan apa yang diucapkannya. Boruto berdecih dalam hati. Para perempuan dan segala hal yang besangkutan dengannya sama sekali bukan bagian dari hidup maupun jalan ninjanya. Ia tidak akan pernah mengerti dan tidak berminat untuk mengerti.
"Oh, Apa kami terlalu banyak menyita waktumu disini? Apa kau akan pergi ke suatu tempat?" Suara Hinata yang manis kembali mengalun dengan merdu di telinganya.
Bibir milik Boruto yang semula terkatup melengkung dengan kejahilan yang tidak ia tutupi sama sekali. Ah, ia memiliki sebuah ide brilian.
Boruto mengangguk pelan, "Ya, sebenarnya aku berencana untuk mengunjungi suatu tempat-ttebasa."
Ino dan Hinata bersitatap untuk beberapa detik. Kedua manik jernih Hinata menatapnya dengan perasaan bersalah. "Maafkan aku."
Gotcha! Ini dia!
"Aku menerima ucapan maafmu dengan gembira, Hinata. Terutama kalau kau mau menemaniku menghabiskan sisa hari ini sebagai ganti dari membuat bagian pergelangan jaketku basah."
Ino maju selangkah dengan wajah memberengut. "Hey! Hinata tidak membasahi pergelangan jaketmu!"
Boruto menyeringai. Ia menyambar gelas di tangan Hinata dan menumpahkan sedikit teh di pergelangan jaketnya.
"Sekarang iya."
"Hey!"
Tanpa aba-aba Uzumaki Boruto menarik Hinata untuk berlari bersamanya. Meninggalkan Yamanaka Ino yang tengah berteriak tidak terima karena merasa di abaikan.
Hinata menoleh kebelakang, menyunggingkan sebuah senyum sebagai permohonan maaf kepada Ino. Manik lavendernya kemudian bergulir menatap Boruto, "I-Itu tadi sangat tidak sopan."
Boruto terkekeh, "Tidak bisakah kau menomorduakan kesopansantunan itu untuk kali ini saja? Lagipula, aku sungguh ingin menghabiskan waktu bersamamu, dan hanya cara ini yang terpikirkan olehku untuk merampasmu dari Ino-ttebasa."
'Merampas katanya,' Hyuuga Hinata merasakan pipinya kembali menghangat. "K-Kau hanya mencari-cari alasan."
"Oh, manisnya. Kau memang mengenalku dengan sangat baik." Boruto meremas tangan Hinata yang di genggamnya. Ia menoleh kearah si gadis, melemparkan sebuah senyum, dan menatapnya penuh arti. Melihatnya, Hinata sama sekali tidak menahan dirinya untuk tidak terpesona.
.
Semua berjalan begitu manis, hangat dan menyenangkan beberapa waktu lalu. Boruto mengajaknya berkeliling desa sembari bercerita panjang lebar. Boruto tertawa, Hinata tersenyum, mereka menyusuri jalanan Konoha dengan ceria. Lantas bagaimana bisa beberapa menit kemudian Uzumaki Boruto meraung frustasi di depan Hinata?
"Oh, demi Tuhan! Tidak bisakah kau sedikit lebih tegas sekali saja-dattebasa?"
"A-Aku tahu. Tetapi a-aku sungguh baik-baik saja!"
"Kau bilang baik-baik saja tetapi aku melihatnya menubrukmu dan nyaris membuatmu jatuh. Andai kau tidak menghentikanku, sudah pasti kupatahkan lehernya saat itu juga."
"Kau konyol, Boruto. Aku yakin paman yang menabrakku tidak bermaksud demikian. L-lagipula aku jatuh dengan kedua kakiku mendarat sempurna."
"Ya, karena aku memegangi tanganmu-ttebasa."
"Oh, Boruto." Keluh Hinata sembari menarik lengan si bocah pirang, membawanya pergi dari kerumunan orang yang terus menerus menatap keduanya dengan tatapan aneh.
Hyuuga Hinata menghela napasnya. Boruto terkadang bisa jadi sangat kekanak-kanakan. Seorang pria tidak sengaja menubruknya dan nyaris membuatnya jatuh terjerembab di tangga yang cukup tinggi andai Boruto tidak menangkapnya tepat waktu.
Kemudian, Bocah ber-ahoge itu mengomeli pria yang menubruknya panjang lebar, bocah itu bahkan mengamcam akan menghajar si pria kalau-kalau ia terluka.
"Kenapa kau tidak membiarkanku melakukan apa yang mesti kulakukan, Hinata? Kau tahu aku belum puas jika tinjuku tidak dilibatkan dalam hal ini. Demi Tuhan."
Hyuuga Hinata menyipitkan matanya sekilas, berpaling kearah Boruto sambil terus berusaha menariknya pergi, "Oh, kau sudah menyebut Tuhan dua kali. A-aku akan marah padamu jika kau mengulangnya sekali lagi."
"Kau membuatku frustasi-dattebasa. Dan aku akan mengulangnya untukmu detik ini juga. Demi. Tuhan!"
Gadis Hyuuga itu menggelengkan kepalanya, "Terkadang kau bisa jadi sangat keras kepala."
"Kupikir kau tidak perlu berharap terlalu banyak padaku seperti itu, Hinata." Sahut Boruto sembari mengerucutkan bibirnya.
Tautan tangan si gadis Hyuuga di lengannya terlepas. Untuk beberapa alasan, Boruto keberatan jika hangatnya tangan si gadis pergi begitu saja dari tangannya. Hinata berdiri di depannya, berjalan mundur, "Kau memilih untuk tetap mengomeliku? Aku mungkin menemukan cara untuk membuatmu bungkam." Hinata berseru lantas tersenyum dengan keindahan yang tidak tanggung-tanggung.
Boruto membuang wajahnya begitu ia merasa bahwa pipinya kembali merona, "M-Mungkin berhasil kali ini."
Tawa Hinata kembali terdengar. Boruto mengerjap beberapa kali, bertanya-tanya apakah ia baru saja mengatakan hal yang aneh.
"Oh, ayolah, Hinata!"
Hyuuga Hinata mengusap air matanya sekilas, ia kembali memertemukan maniknya dengan manik Boruto, "Lihat? S-siapa yang menyangka kau akan jadi semenggemaskan ini."
Batin Boruto memprotes kata menggemaskan yang ditujukan Hinata padanya. Shikadai dan yang lain mungkin akan tertawa terbahak-bahak jika mereka mendengar seseorang menyebutnya begitu. Tapi untuk kali ini adalah pengecualian. Tidak setiap hari ia bisa melihat seorang Hinata berusia 12 tahun tertawa begitu lebar. Jadi mungkin ini adalah balasan yang setimpal.
Uzumaki Boruto mengedarkan manik kebiruannya. Ia berkacak pinggang dan melirik Hinata dengan senyuman yang sudah pasti ia sunggingkan.
"Bisa kulihat bahwa kau membawaku ke tempat yang bagus, Hinata. Kau sedang tidak berusaha mengingatkanku akan kejadian dimana aku memukuli Naruto, bukan?"
Hinata tersentak kaget. Gadis itu mengayunkan kedua tangannya panik, "Eh?! Tidak. Sungguh. Aku tidak bermaksud demikian!"
Boruto terkekeh. Ia mengusap puncak kepala Hinata sekilas, lantas memosisikan dirinya untuk duduk di tanah. Hinata mengikuti dan duduk disebelahnya.
"I-ini kali pertama bagiku untuk melihatmu tersenyum se-sering ini setelah kematian Sandaime. S-syukurlah. Kurasa sekarang kau baik-baik saja." Seru Hinata tanpa melepaskan pandangannya dari sang bocah pirang ber-ahoge.
Uzumaki Boruto menoleh kearah sang hairess Hyuuga. ia tertawa parau, "Apa itu membuatmu khawatir? Aku sungguh merasa tersanjung-ttebasa."
"Itu tidak terdengar seperti permohonan maaf." Balas Hyuuga Hinata setengah tetawa. Tawa si gadis membuat senyum di wajah Boruto enggan hilang. Menghabiskan waktu dengan Hinata sepanjang hari terbukti efektif untuk jiwa dan raganya. Perasaannya terasa lebih tenang, dan gadis di depannya membuatnya bahagia dan merasa diinginkan.
Boruto tertawa tanpa suara. Ia mengalihkan pandangannya sesaat. Namun dengan sedikit ego dan keberaniannya, ia kembali untuk menatap mata Hinata yang sedari tadi menatapnya lekat. Mata seorang Hyuuga Hinata seolah membawanya pada dasar yang tidak berujung. Uzumaki Boruto mencoba menyelami manik si gadis dengan matanya, menjelajah dengan banyak cahaya disana, namun ia tidak mendapat apa-apa.
Seketika, hal itu membuatnya tersipu.
Mendadak udara naik di sekitar sang sulung Uzumaki. Ia tidak bisa mencegah tangannya untuk tidak naik dan menyentuh anak rambut Hinata yang membingkai wajah manisnya.
"Aku akan melakukan apapun untuk tahu apa yang sedang kau pikirkan-dattebasa." Bisik Boruto tanpa sadar. Tanpa ada niat untuk melepaskan matanya dari mata si gadis.
Hinata tersenyum kecil, "Sungguh?"
"Apapun untukmu, Hinata." Boruto menjawab sambil melepaskan helaian halus rambut Hinata diantara jemarinya.
Tatapan Hinata berubah skeptis untuk sesaat, namun kembali menghangat di detik selanjutnya. "Aku tidak yakin kau akan menyukai hal yang kini tengah kupikirkan."
"Tidak ada hal yang tidak kusukai jika itu tentangmu, Hinata." Balas Boruto sembari menarik senyum geli.
Ia menatap Hinata lama, membuat gadis itu mengalihkan padangannya sebentar dan tersipu.
Hinata kembali menatapnya teguh. "B-bisakah kau beri tahu aku siapa kau sebenarnya?"
Boruto berhenti bernapas untuk sejenak. Apa ia salah dengar?
Boruto kehilangan kata untuk merespon perkataan si gadis. Dan bagaimanapun juga, ia masih terfokus pada lavender Hinata yang mengesankan.
"Jika kukatakan… maka semuanya akan berbeda-ttebasa." Mendadak suaranya terdengar rendah.
"A-Aku tidak mengerti. Setidaknya beritahu aku siapa dirimu."
Ada jeda yang panjang sebelum Boruto bisa menemukan kembali suaranya.
"Aku… adalah…"
~À Suivre~
