"Ai Krist, apa sepulang kuliah nanti kau ada acara?" Krist hanya menggeleng menjawab temannya. Pemuda manis itu masih sibuk dengan ponselnya.

Bright, pria tampan yang tadi bertanya tersenyum lebar. "Bagus!" serunya seraya memukulkan tangannya ke meja membuat yang lainnya memperhatikannya.

"Sudah kita putuskan setelah pulang kuliah nanti kita minum-minum" ujarnya semangat.

"Oi, apa yang kau maksud dengan kita itu dirimu sendiri, Ai Bright?" ucap Prem sarkas yang menghasilkan cengiran dari Bright.

"Sepertinya aku tidak bisa ikut" ucap Krist menatap teman-temannya.

"Oh tentu saja kau bisa" dan dengan seenaknya Bright membalas ucapan temannya itu.

Krist menatap Bright kesal. "Sudahlah Ai Krist, kau ikut saja. Anggap saja kita melepas penat atas kegiatan kita seminggu ini" pria berbadan gempal di samping Prem menyahuti.

"Kau bisa izin ke P'Sing dulu" Knott menyarankan yang langsung disetujui oleh teman-temannya

"Baiklah, aku ikut. Puas?" akhirnya Krist menyetujui ajakan teman-temannya.

"Krist tidakkah kau terlalu penurut menjadi kekasih?" ujar Prem mencoba memprovokasi.

"Apa maksudmu?" tanya Krist menatap temannya tidak mengerti.

"Kau sepertinya terlalu bergantung pada kekasihmu itu, Ai Krist. Atau kau takut dengan p'Singto? Apa dia galak?"

"Tentu saja tidak" Krist membalas cepat. Pipinya mulai memerah mengundang tawa dari teman-temannya.

"Hooi, apa yang sedang kau pikirkan hah? Sampai wajahmu memerah seperti itu?" Bright berseru menggoda temannya yang manis itu.

"Kau pasti berpikir jorok Krist" Toota menambahkan membuat Krist semakin memerah.

"Aku tidak! Kalian jangan berpikir macam-macam" Krist menatap teman-temannya dengan kesal.

"P'Singto tidak galak, hanya saja jika aku tidak menurutinya dia pasti akan menghukumku" ucap Krist dengan suara pelan.

"Hooo, ternyata p'Singto suka yang seperti itu" Prem berseru takjub seolah dia baru menemukan fakta yang mengejutkan.

"Tidak aku kira, p'Singto yang tampan dan ramah ternyata seperti itu. Ah, aku jadi ingin memiliki satu yang seperti itu" ujar Toota dengan nada merajuk.

Knott hanya tertawa melihat teman-teman gilanya menggoda Krist. Sampai wajah teman manisnya itu benar-benar merah. Bahkan mereka tidak peduli kalau sedari tadi mereka menjadi pusat perhatian di kantin.

"Ai Krist berapa kali kau dan p'Singto melakukan itu dalam seminggu?" pertanyaan dari Bright membuat wajah Krist bertambah merah. Bahkan pria manis itu menatap tajam temannya itu.

"Apa-apaan pertanyaanmu itu Bright?" ketusnya.

"Hoo sudah jawab saja Krist, aku juga ingin tahu apa p'Singto tangguh di ranjang?" Toota menambahkan.

Krist mau melarikan diri tetapi Prem menahannya. "Kalian ini mesum sekali. Tutup mulut kalian, ini memalukan" tukasnya yang sama sekali tidak didengarkan teman-temannya itu.

"Ayo jawab, jangan coba-coba mengelak" ucap Prem yang masih memegangi tangan Krist.

"Baiklah baiklah" Krist mengangkat tangannya, menyerah. Prem melepaskan tangan pria manis itu sambil menyeringai senang.

"Dua kali dalam seminggu" ucap Krist dengan wajah memerah sempurna bahkan sampai telinganya pun ikut memerah.

"Au, pasti p'Singto sangat ganas di ranjang" Toota menangkupkan kedua tangannya seraya menatap Krist penuh pemujaan. Krist hanya bergumam sebagai balasan.

"Kau pasti aktif di ranjang Krist" Ujar Bright yang kemudian mendapat pukulan dikepalanya oleh Krist.

"Aku bukan kau" ketus Krist tidak terima.

"Apa p'Singto good kisser?" Toota kembali membuka mulutnya untuk mengintrograsi temannya itu.

"Sudah! Aku mau kembali ke kelas. Otak kalian semakin tidak waras" Krist menggerutu lalu berdiri dari duduknya. Saat pria manis itu berbalik seseorang menghalangi pandangannya.

Dengan perlahan Krist mengangkat wajahnya, seketika kedua matanya membulat saat menemukan wajah sang kekasih yang sedang menyunggingkan senyumannya. Dia berdiri mematung.

"Halo N'Krist" sapa Singto seraya menundukkan wajahnya mendekati wajah Krist.

Krist mengerjapkan kedua matanya, "Hm. Halo phi" balasnya berupa gumaman. Kedua matanya mencoba tidak menatap kekasihnya itu.

Singto hanya tersenyum mendapati tingkah menggemaskan kekasihnya itu. Ia menarik diri dan menatap teman-teman Krist yang langsung memberikan wai kepadanya dan teman-temannya.

"Hm oke, aku mau kembali ke kelas dulu phi" ucap Krist dengan maksud agar tubuh kekasihnya itu menyingkir.

"Oke" jawab Singto tapi dia tidak bergeser seinchi pun, ia malah dengan santai duduk di samping Krist.

"Bisakah phi minggir, aku mau lewat" pinta Krist, ia menatap kekasihnya dengan tatapan kesal. Krist merasa dipermainkan. Apalagi teman-teman Singto -yang duduk di meja sebelah-menertawakannya.

"Hm" balas Singto seadanya, ia beralih sibuk meminum es pinkmilk milik Krist.

Krist mendengus kesal. "Sialan" ia mengumpat dengan suara pelan yang sayangnya masih bisa didengar sang kekasih.

Singto mengalihkan wajahnya untuk menatap Krist. "Apa tadi kau baru mengumpatiku nong?"

"Iya. Kau Singto Prachaya sangat menyebalkan. Kau tahu itu!" balas Krist yang dihadiahi sorakan dari yang lain. Krist benar-benar berani atau lebih tepatnya nekat menentang sang head hazer, pikir mereka.

Pertikaian senior dan junior itu pun menarik perhatian hampir seluruh pengunjung kantin. Apalagi mereka tahu kedua orang itu merupakan sepasang kekasih. Mereka penasaran apa Singto akan menghukum kekasihnya -lagi.

Singto bangkit dari duduknya, ia berdiri menghadap sang kekasih.

"N'Krist sepertinya kau benar-benar senang dihukum" ucapnya dengan bibir tersenyum -menyeringai.

Krist balas menatap kekasihnya dengan berani bahkan ia memajukan wajahnya membuat Singto menaikkan alisnya heran.

"Ya, karena kekasihku selalu menghukumku" balas Krist dengan menekankan kata kekasih dan menghukum.

Singto melebarkan matanya lalu mengalihkan wajahnya yang sedikit merona. Sial, Krist terang-terangan sedang menggoda pria tampan itu. Bahkan mahasiswa yang menyasikan mereka tersedak saat mendengar ucapan ambigu Krist.

Singto berdehem lalu kembali menatap Krist datar. Ia dengan jari telunjuknya mendorong kepala pria manis itu menjauh. Krist spontan mengerucutkan bibirnya seraya mengusap dahinya. Reaksinya ini mengundang tatapan gemas dari para mahasiswi. Mereka menganggap Krist sangat manis. Bahkan Singto menahan diri agar tidak mencium sang kekasih saat itu juga.

"Kau memang pantas dihukum karena kau nakal nong" ujar Singto.

"Aku tidak nakal! Kau pikir aku anak kecil? Kau yang menyebalkan, semua orang tahu itu!" balas Krist tidak terima, dia berujar dengan nada tinggi tapi bukannya menakutkan malah terkesan pria manis itu sedang merajuk. Dan yang perlu digaris bawahi adalah menurut semua orang di kampus yang mengenal Singto, dari pada menyebalkan Singto lebih dikenal dengan sikap sopan dan ramahnya.

Mereka tahu Singto itu sosok yang pendiam, tidak suka menyulitkan orang lain sehingga ia selalu menyulitkan diri sendiri, pintar sehingga menjadi mahasiswa favorit profesor, dan segala sikap baik yang melekat pada dirinya. Intinya, hanya saat bersama Krist mereka melihat sisi lain dari Singto. Ternyata senior yang mereka kagumi itu sangat suka menjahili kekasihnya sendiri.

Dan drama picisan mereka berakhir saat jam kelas selanjutnya di mulai.

"Belajar yang rajin, baby" ucap Singto lalu mengecup pipi Krist dan pergi bersama teman-temannya.

Wajah Krist kembali memerah, apalagi teman-temannya bersorak seperti orang gila. Krist ingin sekali menendang kekasih tampannya itu.

--00--

"Cheers" lima pemuda yang masih mengenakan seragam kuliah hitam putih sedang bersenag-senang. Mereka mencoba melampiaskan rasa lelah mereka dengan minum alkohol. Dengan sesekali menggerutu tentang sikap senior selama kegiatan hazing yang begitu menyiksa.

Krist yang masih merasa kesal karena lagi-lagi dia tetkena hukuman dari kekasih tercinta meneguk minumannya sekali teguk. Dan teman-temannya bersorak menyemangati. Memang selama seminggu kegiatan hazing pemuda manis itu tidak pernah absen dari hukuman.

"Ai Krist, apa kau sudah memberi kabar kepada kekasihmu itu?" tanya Knott yang duduk tepat di depan Krist. Pemuda kekar itu mengkhawatirkan temannya yang tak tahan minum alkohol.

Krist menggoyangkan tangannya tidak teratur, menunjukan bahwa dia sudah terpengaruh oleh alkohol. "Tidak perlu, aku sedang kesal padanya" ucapannya pun sudah seperti orang mabuk, yang mana membuat teman-temannya beralih mengerjainya dengan terus mengisi gelas Krist dengan alkohol.

"Ai Krist, apa kau menyukai p'Singto?" Bright mulai mengintrograsi temannya.

Krist mengangguk semangat. "Sangat sukaaa" ucapnya sambil tersenyum.

"Apa yang kau suka darinya?" kali ini giliran Prem yang bertanya.

Krist terdiam seraya memasang pose berpikir lalu dia tertawa cekikikan. Ia mengisyaratkan Prem untuk mendekat yang langsung dituruti oleh Prem.

"Aku, suka p'Singto karena dia sangaaaat perhatian padaku" bisik Krist yang mana masih bisa didengar oleh yang lainnya.

"Hoo, aku kira kau suka p'Singto karena dia punya penis besar untuk memuaskanmu" selorok Prem.

"Ahh itu, juga benar. P'Singto sangaaat, pintar di ranjang" Krist yang mabuk benar-benar menghibur teman-temannya. Mereka tahu Krist akan bertingkat diluar kebiasaannya yang menyebalkan.

"Kau mesum sekali Krist" ucap Toota. Krist berdiri dan menunjuk Bright yang duduk didepannya bersama Knott.

"Dia yang mesum" teriaknya yang membuat mereka jadi pusat perhatian pengunjung.

"Kalian tahu, aku, pernah memergoki Bright, sedang memasukkan penisnya ke p'Gun, dengan sangat bernafsu" sambung Krist lalu tertawa entah karena apa.

"Oiii Krist!!!" Bright yang merasa dipermalukan berteriak tidak terima. Jika tidak mengingat temannya itu sedang mabuk, ia mungkin akan memukul kepala Krist.

"Aku bukan kau dan p'Singto yang mesum itu" ucapnya tak terima.

"Sudahlah Bright, kalian memang sama saja. Mesum" Knott menengahi yang disetujui oleh Prem dan Toota.

Prem menarik tangan Krist agar duduk kembali. Ia akan melanjutkan interogasi.

"Ai Krist, apa p'Singto lembut saat kalian bercinta?"

Krist menggeleng dengan cemberut. "P'Sing sangaat, kasar saat kami, bercinta. Tapi, aku, sukaa" ucapnya yang dihadiahi sorakan dari teman-temannya.

"Hooo, kalian benar-benar mesum" ucap Prem.

"Aku tidak menyangka ternyata p'Singto sejantan itu" ucap Toota.

"Krist, kau sudah benar-benar mabuk" ucap Knott.

Krist yang mendengar ucapan teman-temannya hanya tertawa kecil. Ia menjatuhkan kepalanya di meja, sudah tidak sanggup lagi minum. Prem dan yang lainnya tertawa melihat itu. Kemudian Bright dan Knott terdiam, dengan tubuh membeku.

"Halo phi" mereka melakukan wai kepada orang yang berada dibelakang Prem, Krist, dan Toota.

"Kalian mengeluh lelah karena banyak tugas tapi masih sempat mabuk-mabukkan" suara datar itu membuat Prem dan Toota menoleh. Mereka mendapati wajah sang head hazer beserta teman-temannya.

"Hanya untuk nenghilangkan stres phi" balas Bright.

Singto tersenyum menyeringai lalu ia dan teman-temannya ikut duduk bergabung dengan para junior mereka.

"Au, apa dia nong Krist?" tanya pria tampan yang juga merupakan anggota head hazer, Aim.

Singto hanya menggeleng melihat kekasihnya seperti itu. Ia menepuk pelan pipi Krist, mencoba membangunkannya.

"Krist"

"Ngghh~" dengan perlahan Krist mengangkat wajahnya. Ia mengerjapkan kedua matanya mencoba memperjelas pandangannya.

"Daddy?" ucapnya saat melihat Singto lalu tertawa pelan. Krist berdiri dan mendekati kekasihnya itu.

Dengan sigap Singto memegangi kekasihnya yang duduk disampingnya agar tidak terjatuh. Krist memeluk tubuh Singto erat, ia menyandarkan kepalanya ke dada sang kekasih. Singto hanya tersenyum menanggapi tingkah menggemaskan Krist.

"Hoo, ternyata nong Krist sangat manis saat mabuk seperti ini" ucap Tiw yang sedari tadi mengamati kekasih sahabatnya itu.

"Dia seperti kitten phi" Prem ikut menanggapi.

"Kalian sepertinya sengaja membuat kekasihku mabuk" Singto menatap para sahabat kekasih manisnya itu. Dan dibalas dengan cengiran dari juniornya.

"Phi tahu kan kalau Krist akan bertingkah sangat manis saat dia mabuk" Bright menimpali ucapan seniornya itu. Dan yang lainnya mengangguk membenarkan.

Para junior dan senior itu pun melanjutkan acara minum mereka, menghiraukan Krist yang masih memeluk Singto erat dengan sesekali bergumam tidak jelas. Aim terus saja menuangkan alkohol ke gelas Bright dan Prem, membuat juniornya yang cerewet itu mabuk -sangat mabuk. Sedangkan Knott menatap penuh arti kepada salah satu anggota head hazer, pria tampan yang sedari tadi menundukkan kepalanya.

Jam sudah menunjukan pukul 11 malam lebih, Singto pun menyuruh para juniornya pulang. Dimana Bright sudah hampir kehilangan kesadaran dirinya, dan begitu pula Prem yang dibantu Wad berjalan.

Singto berpamitan lebih dulu untuk membawa kekasihnya pulang. Singto menggendong Krist dipunggungnya menuju parkiran. Dia hanya menggeleng geli karena kepolosan Krist yang selalu terkena jebakan teman-temamnya. Yah, kejadian seperti ini bukan untuk pertama kali sudah berulang kali Krist dikerjai teman-temannya.

"Hmm~ p'Singto?" suara lembut Krist membuat Singto terkekeh geli, apalagi nafas Krist mengenai tengkuknya.

"Tidurlah baby" balas pria tampan itu sambil membenarkan gendongannya. Krist itu tidak ringan kalau kalian ingin tahu.

Krist semakin mengeratkan pelukannya, lalu ia menghujani leher Singto dengan kecupannya.

"Krist" Singto memberikan peringatan pertama. Tapi pria digendongannya itu semakin menjadi, menggigit leher Singto untuk meninggalkan kissmark.

Krist tertawa pelan saat melihat hasil karyanya di leher sang kekasih.

"Apa phi mencintaiku?" tanyanya seraya menyandarkan kepalanya di bahu Singto.

"Sangat" balas Singto meladeni ucapan kekasihnya.

"Hmm, seberapa besar?" tanya Krist lagi.

"Sangat besar" jawab Singto. Krist terkikik saat mendengar jawaban kekasihnya.

"Aku juga sangaaaat mencintai p'Singto" ucapan tulus Krist membuat Singto tersenyum.

"Ya baby, Phi juga sangat mencintaimu" balasnya.

Dan kembali terdengar dengkuran pelan Krist yang sudah terlelap. Singto tersenyum melanjutkan jalannya menuju parkiran dengan diiringi tatapan para pejalan kaki. Yah, setidaknya parkir jauh juga memberikan keuntungan. Pikir pria tampan itu.

--00--