You find typos, that is bonus for you (゚ε゚)
--00--
Krist adalah seseorang yang tidak bisa menahan emosinya, ia cenderung akan melampiaskan langsung kepada orang-orang terdekatnya saat ia badmood. Dan Singto sebagai salah satu orang terdekat dari pria manis itu selalu kena getahnya, hampir setiap hari Krist marah-marah kepadanya. Meskipun bukan Singto yang menjadi penyebab mood Krist buruk. Yah, itu berarti Singto selama ini ia menjadi sosok yang sangat sabar untuk kekasih manisnya itu.
Tapi, kadang Singto juga merasa lelah karena sikap Krist. Jika sudah seperti itu biasanya Singto hanya mendiamkan kekasihnya atau berbalik memarahi Krist. Dan berakhir Krist yang menjauhi Singto berhari-hari. Singto kadang berpikir ia seperti berkencan dengan anak SMA yang sangat labil. Dimana dia harus selalu mengalah dalam hubungan itu.
Singto pernah marah, bahkan sangat marah kepada Krist dan penyebabnya adalah sikap Krist. Waktu itu, Krist masih duduk di kelas 3 SMA yang beberapa bulan lagi akan menghadapi ujian kelulusan. Krist disibukkan dengan belajar dan tugas sekolahnya, dan Singto yang tidak mau mengganggu sang kekasih pun menyibukkan diri dengan kegiatan kampus. Tapi, pada dasarnya memang saat itu Singto sedang sibuk-sibuknya kuliah. Dan berakhir Krist yang mencurigai Singto berselingkuh.
Saat itu memang keduanya jarang bertemu hanya sebatas berkirim pesan. Dan semakin lama Singto menjadi jarang membalas pesan Krist atau telat membalasnya. Semakin membuat Krist meyakini kalau Singto berselingkuh. Dan dugaan pria manis itu semakin menjadi saat melihat Singto berjalan bersama seorang wanita di Siam Square. Wanita yang sampai saat ini masih dibenci Krist karena masih mencoba mendekati kekasihnya, wanita pertama dalam black list Krist. Wanita bernama Pin, senior Singto dan dirinya di kampus.
Krist berjalan cepat menghampiri dua sosok yang sedang asik mengobrol di salah satu meja restoran cepat saji. Kedatangan pria manis itu mengejutkan Singto dan Pin. Apalagi Krist langsung mencengkeram lengan Singto membuat kekasihnya berdiri dengan kernyitan dan makanannya terjatuh ke lantai sia-sia. Mereka pun menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya.
"Krist?" Singto memandang heran pria manisnya yang berdiri dengan wajah merah pedam bahkan kekasihnya itu masih mengenakan seragam sekolahnya. Krist hanya meliriknya tajam, lalu kembali menatap wanita didepannya yang juga menatapnya heran.
"Tidak bisakah phi menjauhi kekasihku. Masih banyak pria lain yang bisa kau goda, tapi jangan kekasihku!" ucap Krist dengan nada marahnya.
Pin membulatkan matanya, memandang pria berseragam didepannya dengan terkejut. Ia tidak menyangka kekasih dari Singto itu seorang laki-laki. Pin mengerjapkan matanya, mengalihkan pandangannya dari Krist. Ia merasa dipermalukan oleh anak SMA.
Singto yang mendengar ucapan kekasihnya juga terkejut. Ia tidak menyangka kekasih manisnya bisa berkata kasar pada wanita. Ia melepaskan cengkeraman Krist dilengannya dan berbalik mencengkeram lengan Krist, membuat pria itu menoleh padanya.
"Krist, apa yang kau ucapkan? Cepat minta maaf kepada p'Pin, kau sudah bersikap tidak sopan" Singto mencoba memperingati kekasih manisnya, dan dibalas dengusan Krist. Singto merasa emosinya mulai terpancing melihat itu.
"Maaf nong tapi phi tidak sedang menggoda kekasihmu, kami hanya berteman" ucapan Pin menarik perhatian Krist kembali. Pria manis itu hanya membalas dengan tawa sarkasme.
"Phi pikir aku buta atau bodoh? Kau orang yang minggu lalu menghubungi p'Singto malam-malam untuk hal tidak penting. Kau juga mencoba memonopoli kekasihku dengan selalu meminta bantuannya. Kau mungkin salah paham dengan sikap baik p'Singto tapi yang jelas dia tidak menyukaimu!" Krist menekankan setiap kata yang dia ucapkan.
Melihat situasi semakin tidak terkendali juga wajah Pin yang sudah merah pedam, Singto mencoba menghentikan kekasihnya itu. "Kita pulang" tapi sepertinya Krist belum puas melampiaskan amarahnya.
"Kau jangan lagi mendekati p'Singto karena dia hanya mencintaiku!" dan dengan kekanakannya Krist mengatakan hal itu sebelum dirinya diseret Singto pergi. Pin memejamkan matanya menahan amarahnya.
Singto baru melepaskan cengkeramannya saat sudah sampai di samping mobilnya. Ia menatap tajam Krist yang sedang mengusap lengannya yang memerah, bahkan ada luka disana menunjukkan betapa eratnya cengkeraman Singto.
"Ada apa dengan sikapmu itu Krist? Kau tidak sadar sikapmu tadi sangat memalukan!" Krist menatap terkejut saat mendengar bentakan Singto. Ini kali pertama Singto membentaknya seperti itu.
"Kenapa phi marah?! Seharusnya aku yang marah di sini! Kau sudah mengabaikanku hanya untuk wanita itu!" Krist balas berteriak, kembali memancing perhatian orang yang lewat di sana.
Singto menghembuskan nafas keras, mencoba menahan emosinya. Ia menatap Krist dan mencoba meraih tangan kekasihnya tapi Krist menyentak tangannya kasar.
"Ayo kita pulang" Singto masih mencoba berucap dengan tenang.
"Kenapa? Phi sama sekali tidak menyangkalnya. Kau benar-benar berselingkuh dengan wanita itu!" ucap Krist semakin emosi.
"Aku tidak perlu menyangkalnya karena ucapanmu itu sama sekali tidak benar. Kau hanya cemburu tidak jelas Krist. Aku dan p'Pin hanya berteman, seperti yang sudah dia ucapkan" balas Singto.
"Tapi dia jelas menyukai phi!"
"Dan apa masalahnya? Aku tidak menyukainya!"
"Phi bersikap baik padanya, bahkan sampai membuatmu mengabaikanku! Aku benci saat ada orang lain yang merebut perhatianmu dariku!"
"Kau harus belajar untuk persiapan ujianmu. Dan aku juga mempunyai kesibukanku sendiri. Seharusnya kau mengerti Krist"
"Ya. Kau sibuk bersama dengan wanita itu! Seharusnya phi tahu di waktu seperti ini aku lebih membutuhkanmu! Tapi phi lebih memilih bermesraan dengannya!"
Singto kembali menghembuskan nafas keras, sangat melelahkan berdebat dengan Krist yang sudah cemburu seperti ini.
"Baiklah maafkan phi, sekarang kita pulang saja" ucapnya mengalah kembali meraih tangan Krist dan kembali ditolak sang kekasih. Kali ini Singto benar-benar sudah mencapai batas kesabarannya. Ia menatap dingin Krist.
"Sikapmu itu sungguh melelahkan Krist. Sekarang terserah kau saja" ucap pria tampan itu datar. Ia melangkah hendak meninggalkan Krist, tapi langkahnya terhenti saat mendengarkan teriakan kekasihnya itu.
"Oh aku mengerti, sebenarnya phi ingin putus dariku kan? Agar phi bisa bersama wanita jalang itu!"
Plak
Wajah Krist menoleh ke kanan, saat pipi kirinya baru saja mendapatkan tamparan keras -sangat keras- dari Singto yang berdiri dihadapannya dengan mata menyala menatapnya.
"Coba kau ulangi ucapanmu" datar, suara Singto sangat datar menunjukkan bahwa ia sangat marah.
Krist diam, dengan cepat air matanya menetes melewati pipinya bersamaan dengan darahnya yang mengalir perlahan disudut bibirnya.
Singto menatap terkejut saat melihat itu, ia tidak menyangka akan melukai kekasihnya seperti itu.
"Baby" Singto melangkah maju mencoba mendekati Krist tapi kekasih manisnya itu langsung menghindar.
Krist kembali menatap Singto dengan mencoba menahan air matanya. Kedua matanya memerah berkaca-kaca, ia merasa pipinya sakit karena tamparan tadi. Tapi itu tidak sebanding dengan rasa sakit dihatinya yang terasa dicubit berulang kali.
"Pada akhirnya phi juga menyakitiku" lirihnya dan berlalu meninggalkan Singto yang berdiri mematung dibelakangnya.
"Cinta macam apa ini, menyedihkan. Bahkan aku tetap mencintainya walaupun dia sudah menyakitiku seperti ini." Krist tersenyum sendu saat menyadari betapa menyedihkannya dirinya itu. Dengan tangan sibuk menghalau air mata yang sudah mengalir dipipinya.
Dan karena kejadian itu Singto tidak bisa berbicara dengan Krist sebulan penuh. Krist selalu saja menghindar dari Singto, atau kadang bersikap Singto tidak ada. Itu juga menjadi pukulan keras bagi Singto, pria tampan itu sadar ia juga bersalah atas pertengkaran mereka.
--00--
Ddrrtt drrtt
Ponsel Singto yang di atas meja bergetar, melihat nama sang kekasih di layar pria tampan itu langsung menjawab panggilan dari Krist.
"Halo Krist" sapanya kepada sang kekasih.
"Halo, P'Sing ada dimana? Kenapa sangat berisik?"
"Phi sedang di klub bersama teman"
"Oh" hanya itu balasan Krist sebelum memutuskan sambungan telepon.
Singto hanya menggeleng saat kekasihnya bertingkah seperti itu. Pasti Krist marah, dan ia tahu itu.
"Apa itu nong Krist?" tanya salah satu teman Singto.
Singto menangguk, "Iya phi"
"Hoo ternyata kalian bisa bertahan selama ini" komentar yang lain
"Dan sepertinya Pin tidak mempunyai kesempatan untuk menggantikan nong Krist" Pin hanya tertawa mendengar ucapan temannya itu begitu pula Singto.
Yah, saat ini Singto sedang berkumpul dengan para seniornya yang sudah bekerja termasuk Pin. Walaupun Pin bukan anggota head hazer tapi dia cukup populer saat masih menjadi mahasiswa dulu juga mereka memang cukup dekat. Disana juga ada Wad dan Tiw yang juga ikut bergabung sedangkan Em dan yang lainnya tidak ikut.
Sedangkan di lain tempat, Krist sedang menggerutu kesal saat tahu kekasihnya berada di klub malam. Padahal pria manis itu tadi mau minta dijemput karena saat ini ia sedang berada di dorm Knott.
"Ayo kita ke klub" ajak Krist yang dibalas dengan tatapan heran teman-temannya. Mereka tahu Krist bukan tipe yang suka clubbing.
"Au, kau tidak jadi pulang?" Knott balik bertanya.
"Tidak. Aku ingin ke klub" jawab Krist. "Ai Prem bisa kau tanya ke kekasihmu itu dimana mereka sekarang"
Walaupun masih heran Prem tetap mengubungi Wad menanyakan keberadaan sang kekasih.
"Ai Krist dia ada di klub dekat kampus" Prem memberitahu. Krist mengangguk lalu merapikan barangnya ke tas.
"Kau sungguh mau ke klub?" tanya Knott yang selesai dengan merapikan meja belajarnya.
"Hm. Kau dan Prem harus ikut denganku" dan dengan seenaknya Krist memerintah kedua temannya ikut. Yah hanya tersisa Prem dan Knott karena yang lain sudah pulang duluan.
"Tapi kau yang traktir" Prem mengajukan syarat karena sebenarnya ia berencana segera pulang ke dorm miliknya.
"Tidak masalah" balas Krist setuju.
--00--
Aku mengernyitkan dahiku saat memasuki sebuah klub, benar-benar berisik dan mengganggu. Jika bukan untuk melihat kekasihku, aku tidak akan mau ke tempat ini. Semakin aku masuk ke dalam semikin keras pula musik yang terdengar.
Aku mengedarkan pandanganku, mencari keberadaan p'Singto. Saat merasakan tepukan dari belakangku, saat aku menoleh wajah tersenyum p'Tiw menyambutku. Aku memberikan wai pada seniorku ini.
"Apa kau mencari Singto nong?" tanyanya yang aku balas anggukan.
P'Tiw menunjukan kursi yang berada disudut ruangan dan benar disana ada p'Singto sedang merokok dengan seorang wanita disampingnya. Melihat itu dadaku seperti mendapat pukulan keras, menyakitkan.
Mungkin melihat raut wajahku, p'Tiw mengusap pundakku. Aku hanya tersenyum.
"Tadi kami bersamanya, mungkin yang lain di lantai dansa" ucap p'Tiw menjelaskan, aku mengangguk lalu mengajak kekasih temanku ini menghampiri Prem dan Knott yang sudah duduk di kursi bar.
Aku menenggak minuman yang dipesankan Prem yang tidak aku tahu namanya, rasanya aneh antara lemon dan sedikit pahit tapi cukup enak.
"Apa kau mau ikut ke dance floor, Krist?" tawar Prem. Aku mengangguk lalu berjalan mengikuti temanku yang sepertinya sangat senang. Meninggalkan Knott dan p'Tiw yang sedang mengobrol.
Aku sengaja mengiyakan untuk ke dance floor, alasannya tentu saja untuk melihat p'Singto lebih dekat. Aku penasaran dengan wanita yang duduk disampingnya. Dan ternyata wanita itu adalah p'Pin, wanita yang pernah membuatku sangat benci dengan p'Singto. Melihat kenyataan itu membuatku marah dan lebih sakit hati. Kenapa p'Singto bersama wanita itu? Walaupun aku tahu mereka ke tempat ini bukan berdua tetapi tetap saja saat ini kekasihku sedang bersama wanita yang menyukainya. Apalagi aku sangat tidak suka saat melihat p'Singto yang merokok, dia sudah berjanji untuk berhenti melakukan itu. Tapi malam ini dia melakukan dua hal yang paling aku benci dari dirinya sekaligus.
Aku melepaskan hoodie'ku dan menyisahkan kaos tanpa lengan yang biasa aku pakai di dorm. Aku menghiraukan sorakan dari sekelilingku, aku hanya menari mengikuti musik dj yang semakin meriah. Aku bahkan tidak peduli saat badanku bergesekan dengan yang lain. Ini memang bukan pertama kalinya aku menari di lantai dansa seperti ini tapi aku baru tahu kenapa orang-orang sangat suka melakukan ini, menari seperti orang gila. Untuk melupakan masalah walaupun hanya sejenak.
"Hai, mau menari bersama?" seorang pria tiba-tiba berada didepanku dengan senyum lima jarinya.
Aku menaikkan alisku heran, lalu mengangkat bahuku acuh. Pria didepanku tertawa lalu membawa diriku menari bersamanya.
"Siapa namamu?" tanya pria yang sedikit lebih tinggi dariku tapi wajahnya sangat manis.
"Krist. Kau?" balasku yang balik bertanya namanya.
"Oh jadi kau Krist, aku Bas" jawab pria yang mengaku dirinya bernama Bas. Aku hanya mengangguk lalu kami kembali terhanyut dengan hentakan musik.
"Apa kau kesini dengan pacarmu Krist?" Bas bertanya dengan mengeraskan suaranya. Aku heran dari mana dia tahu aku sudah punya pacar, tapi aku hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaannya.
"Kau kelas berapa?" tanyaku
"Mahasiswa tahun pertama sepertimu, tapi aku dari fakultas sains" jawab Bas tersenyum. Sungguh dia sangat menggemaskan, wajahnya seperti anak kecil.
"Kau satu kampus denganku?" tanyaku menatapny penasaran. Bas mengangguk.
"Aku tahu karena wajah menawanku ini kau pasti berpikir aku masih siswa SMA" dan kepercayaan dirinya itu membuatku ingin muntah.
Melihat ekspresiku Bas tertawa, lalu raut wajahnya berubah tegang entah melihat apa. "Sialan, bagaimana mungkin dia tahu aku di sini" aku menatapnya heran saat mendengarnya mengumpat lalu bertingkah seperti orang sedang bersembunyi.
"Kau kenapa?" tanyaku bingung.
"Aku pergi dulu. Bye Krist" dan dengan cepat pria itu meninggalkanku begitu saja. Aku hanya mengedikkan bahuku lalu kembali menari. Atmosfer di sini semakin panas, keringat sudah membasahi tubuhku dan orang-orang yang sedang menari dengan semangat.
Sesaat kemudian tubuhku tersentak saat sebuah tangan membalikku dengan kasar, dan pria tinggi menjulang menatapku marah. Aku menyentakkan cengkeraman p'Singto dilenganku, kembali menggerakkan tubuku mengabaikan pria dibelakangku.
Sudah terlambat kalau kau baru menyadari kehadiranku! Aku sudah melihat semuanya.
Lagi, p'Singto mencengkeram lenganku dan menyeretku keluar dari klub. Aku diam saja saat p'Singto membawaku ke parkiran mobilnya, tapi tetap saja ini rasanya sangat sakit.
"Masuk!" p'Singto membuka pintu mobilnya, menyuruhku masuk dengan nada dinginnya.
Aku kembali menyentakkan tangannya dengan kasar, mengabaikan raut wajah p'Singto semakin keras. Akhirnya dengan paksa p'Singto mendorongku masuk ke mobil saat sebelumnya aku hendak pergi darinya.
Blam
P'Singto menuntup pintu kemudi dengan keras.
Aku mengeluarkan ponselku dan memainkannya. Berusaha agar menghiraukan pria disampingku ini.
"Kenapa kau di sana? Bukankah kau bilang kau akan belajar bersama teman-temanmu?" tanya p'Singto. Dan aku hanya diam.
"Krist!"
Aku membuka chat room lineku dengan Knott, mengirimnya pesan untuk membawakan tasku besok.
"Krist!" mungkin melihatku yang mengabaikannya, p'Singto mengambil ponselku begitu saja. Aku menoleh padanya dengan menatapnya kesal.
"Kembalikan!" aku mencoba merebut ponselku tapi p'Singto melempar ponselku ke kursi belakang membuatku mengumpatinya.
"Sialan kau phi!" aku membalikkan tubuhku untuk mengambil ponselku, tapi tiba-tiba sebuah benda kenyal menempel dibibirku lalu menggigit bibirku keras sampai aku berteriak kesakitan.
Aku mencoba melepaskan ciuman dari p'Singto tapi pria itu memegang kepalaku erat agar tidak bisa berpaling darinya.
"mmmphh" sekali lagi aku menjerit sakit saat bibirku yang terluka dihisap kuat p'Singto. Ini sangat perih asal kalian tahu saja.
Lidah p'Singto memasuki mulutku, dan membelit lidahku memainkannya kemudian menghisapnya. Aku mencoba mendorong dada p'Singto agar menjauh tetapi tangannya berpindah memegangi tanganku.
Aku tidak suka saat p'Singto menciumku seperti ini. Ditambah mulutnya masih terasa bekas merokok dan alkohol. Aku ingin melepaskan diri darinya.
Entah pada menit ke berapa akhirnya p'Singto melepaskan ciumannya. Dia masih menatapku tajam tapi aku memalingkan wajahku saat aku merasakan air mataku jatuh menetes.
"Aku membencimu!" ucapku.
"Jangan pernah menciumku lagi saat kau habis merokok! Jangan pedulikan aku. Dan urusi saja p'Pinmu itu!"
P'Singto tidak membalas ucapanku, dia menyalakan mesin mobil dan berlalu dari sana. Sedangkan aku lebih memilih menatap ke luar jendela dan menangis dalam diam.
--00--
