Jika waktu bisa di putar ke kiri sekali lagi, mungkin, semua yang di dunia tidak akan merasakan apa yang disebut penyesalan.
Langkah kakinya pelan, namun berat, matanya jatuh dalam pusaran emosi yang memporak-porandakan hidupnya. Bunyi langkah kakinya yang seringan kapas, nyatanya seperti alarm ketakutan atas apa yang ia sesalkan.
Jongin nyaris limbung saat kakinya hampir mendekati ranjang rumah sakit Kyungsoo, ia berpegangan erat pada pembatas tempat tidur milik wanita yang saat ini terbaring dalam damainya. Betapa penyesalan membawa Jongin pada ingatan-ingatan membahagikan, saat senyum Kyungsoo adalah vitamin yang menambah energinya, atau saat peluk hangat wanita itu yang dulu selalu bisa mengusir gundahnya. Memoar yang pada akhirnya berperan sebagai pengejek atas sikapnya yang brengsek.
Jongin menata langkahnya menuju sisi tepat di samping Kyungsoo yang masih tertidur. Alat bantu pernapasan tidak bisa menutupi wajahnya yang tanpa cela. Tangannya hendak menyapu lembut rambut wanita itu, namun entah mengapa, ia tidak mampu membiarkan dirinya bersentuhan dengan Kyungsoo. Bukan karena ia merasa Kyungsoo adalah wanita yang kotor, namun karena ia merasa jika tangannya menyentuh Kyungsoo, wanita itu akan semakin terluka, akan kesakitan, dan Jongin tidak berhak untuk menambah rasa sakit yang di derita wanita itu.
Jongin berlutut tepat di sisi ranjang Kyungsoo, dengan berbagai rasa penyesalan mendalam, ia pada akhirnya berani menyentuh jari-jemari wanita itu, membawa telapak tangan Kyungsoo yang dingin ke dalam telapak tangannya yang hangat. Jongin memandangi wajah bersih wanita yang paling di cintainya itu, dari dulu, hingga kini, Kyungsoo adalah yang mengisi sesuatu di dalam rongga tubuhnya yang kosong. Kyungsoo bukan lagi yang mengisi kekosongan hati Jongin. Lebih dari itu, bagi Jongin, kyungsoo adalah segala bagian dari kekosongan yang ada dalan tubuhnnya, entah itu yang ada di antara jantung dan paru-paru, di antara jantung dan tulang rusuk, atau di antara otak kiri maupun otak kanannya. Kyungsoo adalah isi dari setiap kekosongan di dalam tubuh Jongin, menjelma bagian yang membentuk hidupnya. Harusnya, jika saja ia bisa mengendalikan beberapa amarahnya di masa lalu, mungkin saja, segala hal buruk tidak akan beruntun menabrak sisi rapuh Kyungsoo, -Kyungsoonya.
Tittle : Hurt
Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo (GS), Park Chayeol, Byun Baekhyun (GS), Kim Jongdae, Kim Minseok (GS), Wu Yifan, and other (akan bertambah sesuai alur).
Rate : M (?)
Happy Reading
Siapa yang bisa mengembalikan masa lalu? Apakah benar penemuan kristal waktu oleh orang-orang pintar di negeri seberang? Jika benar, jika memang ada hal seperti itu, siapapun, akan ingin kembali ke masa lalu, atau paling tidak, mengirim beberapa surat untuk diri di masa lalu agar tidak senantiasa mengambil sebuah keputusan yang salah, yang tidak pada arahnya.
"Tapi, semua orang akan selalu melakukan kesalahan." Ujar Baekhyun pelan, ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya berhasil memecah hening antara dirinya dan Chanyeol.
Baekhyun dan Chanyeol saat ini masih duduk diam memandangi pintu kaca transparan, memerhatikan Jongin yang sedang berlutut tepat di sisi Kyungsoo. Dan kalau tidak salah, Baekhyun bisa melihat aliran air membentuk disepanjan pipi Jongin. Baekhyun tersenyum dalam hati, sedikit tidak rela, tapi juga sedikit bersyukur.
"Tapi tindakan Jongin adalah yang paling buruk." Suara rendah Chanyeol membawa getaran sendiri di telinga Baekhyun, terdengar seperti menahan amarah, sepertinya, pukulan dan tinjunya pada Jongin beberapa menit yang lalu belum bisa meredam amarahnya.
"Kau hampir membunuhnya tadi."
"Aku memang ingin membunuhnya jika tidak ingat kalau dia adalah sepupuku." Chanyeol menyenderkan punggungnya secara kasar, ia mengalih tatap dari pintu ICU ke wajah Baekhyun.
"Ada apa? Kau seperti penasaran akan sesuatu?" Tanya Chanyeol, nada suaranya lebih lembut dari sebelumnya.
Baekhyun mengedikkan bahunya, kemudian menjawab, "Aku rasa, kau terlihat sangat menyayangi Kyungsoo."
"Aku menyayanginya, sangat, dia sudah seperti adikku, aku pernah menemukannya melakukan percobaan bunuh diri konyolnya itu," Chanyeol mendengus mengingat saat Kyungsoo melakukan aksi bunuh diri dengan ingin melompat dari gedung, tapi anehnya gedung itu adalah rooftop dari perusahaan milik Chanyeol, dan wanita itu masih sempat-sempatnya berkirim pesan pada Chanyeol yang berakhir dengan mereka berdua yang nyaris jatuh dari kentinggian ratusan meter. 'Kyung, kalau mau bunuh diri, jangan ngajak dong.' Chanyeol tersenyum mengingat saat itu.
"Aku melakukan banyak hal bersamanya," Chanyeol melihat Baekhyun tersenyum memahami, " Sudah sewajarnya aku khawatir atas apa yang terjadi padanya. Tapi -"
"Tapi?"
"-Jangan khawatir, karena aku menyayangi Kyungsoo hanya sebagai adik, sedangkan aku mencintaimu tulus seperti laki-laki kepada perempuan." Senyum cerah Chanyeol di tambah dengan sorot matanyanya yang meyakinkan membuat Baekhyun sedikit melongo kemudian saat dia tersadar. ia merasa area sekitar pipinya memerah, ohh, apa ia baru saja termakan rayuan Chanyeol? Baekhyun memaki dirinya dalam hati.
"Ehem," Baekhyun berdehem mengusir panas di pipinya yang hanya membuat Chanyeol semakin tersenyum lebar layaknya idot.
"Dari pada itu, lebih baik kau katakan sajalah cerita yang ada di masa lalu mereka, dengan berdasar pada cerita adik sepupumu itu." Baekhyun merasa, ia juga perlu tahu segala yang terhubung di antara Jongin dan Kyungsoo. Sesungguhnya, kesalahpahaman ini sedikit membuatnya pusing.
"Oh itu, jadi begini..." Chanyeol kembali mengarahkan padangannya pada Jongin yang masih memandang Kyungsoo dengan penyesalan, ia menghela napas pelan, kemudian kembali melihat ke arah perempuan cantik di sisinya.
"Hari itu, aku pergi menjemput Jongin di bandara, dan aku terkejut saat menemukan dirinya penuh akan lebam di pipi dan beberapa bagian tubuhnya. Aku tidak bertanya apapun, hanya yang ku ketahui, Jongin akan tinggal bersamaku di Jepang selama dia melanjutkan kuliahnya," Chanyeol melirik Baekhyun yang diam mendengarkan,
"Dia tidak banyak bicara, dia pergi kuliah seperti seharusnya, di rumahpun dia banyak diam, dan dia terlalu sering menerima telepon dari seseorang yang entah siapa, saat menerima panggilan itu, dia terlihat sangat marah, itu berlangsung dalam kurun waktu dua bulanan, kemudian aku memutuskan bertanya-"
"Jongin, apa yang terjadi dengan dirimu? kau seperti bukan dirimu saja." Jongin melihat ke arah Chanyeol yang duduk diam di depan televisi, kemudian dengan pelan ia melangkah mendekati Chanyeol dan duduk di sisi sepupunya itu.
Jongin masih diam, matanya seperti jatuh pada dimensi lain, dahinya sesekali mengerut, matanya berubah memicing tajam, tangannya mengepal, ia menggelengkan kepalanya kuat, kemudian melihat ke arah Chayeol.
"Aku hampir membunuh seseorang." Jongin membuka suara dengan pelan, namun sarat akan dendam yang tertangkap secara jelas di telinga Chanyeol, "Seharusnya, aku bisa membunuhnya."
Chanyeol sedikit terperangah mendengar kalimat yang Jongin katakan, ia tidak mengira situasi Jongin sangatlah sulit.
"Kau mungkin akan menertawakanku atas alasanku ingin membunuh," terdengar suara tawa kecil yang janggal di ujung kalimatnya, Chanyeol masih menunggu, "Aku mendapati kekasihku tidur dengan lelaki lain." Tutupnya.
Chanyeol mengangguk paham, dia tahu soal kekasih Jongin yang sudah bersama dari awal masuk senior high school, Jongin sering bercerita padanya tentang gadis itu, tapi Chanyeol tidak pernah bertanya siapa namanya.
"Kau yakin kalau itu kekasihmu?" Tanya Chanyeol hati-hati, pasalnya, menengok dari cerita-cerita manis yang Chanyeol dengar selama ini, kekasih Jongin adalah pribadi yang manis, ramah, sopan, dan sangat perhatian dengan hal terkecil dalam hidup Jongin.
"Aku melihat dia menerima setumpuk uang saat tidak sengaja melewati salah satu ruangan di kampus. Aku mendengar tentang bertemu di suatu tempat, dia tidak mengatakan apapun meskipun aku sudah bertanya apakah ada yang disembunyikannya. Dia hanya tersenyum padaku, menciumku, mengatakan bahwa tidak ada hal yang perlu di khawatirkan. Malamnya aku tahu, itu hanya kedok agar ia bisa berselingkuh dengan laki-laki lain."
"Bagaimana bisa kau tahu?"
Chanyeol melihat Jongin menelan ludah dengan susah payah, mungkin, kalimat berikutnya bukan hal yang baik untuk di ingat oleh sepupunya itu.
"Aku mengikutinya. Ia bahkan tidak memberitahukan padaku jika ingin pergi, aku meneleponya, tapi katanya ia berada di rumah. Padahal, jika ia tidak tergesa-gesa untuk bertemu lelaki itu, ia bisa melihatku tepat berada di balik punggungnya, tanpa pembatas apapun-" Jongin mengambil napas, "Ia kemudian menaiki lift, aku tidak tahu jika ia memiliki teman di lokasi apartemen itu, kemudian aku melihat seorang lelaki membukakan pintu, lelaki itu adalah lelaki yang sama dengan yang di temuinya di kampus, aku mencoba sedikit mendekat ke arah pintu yang di masuki kekasihku, dan hal yang ku lihat adalah, mereka terlibat ciuman panas yang sangat kasar, aku sangat marah, tapi entah kenapa kakiku tidak mampu bergerak hingga pintu itu tertutup, dan hal terakhir yang bisa ku tangkap adalah seringaian dari lelaki selingkuhan kekasihku."
Chanyeol tidak bergeming, ia masih diam mendengarkan. Jongin seperti masih memiliki cerita yang lebih menyakitkan.
"Besoknya, aku menemukan sebuah lampiran video di emailku. Kau tahu apa isinya?" Tanya Jongin dengan nada sarkas, dendamnya masih membara dari balik suaranya, "Aku menemukan video yang mempertontonkan kekasihku bercinta dengan lelaki lain. Aku ingin tertawa saat menontonnya, wajah kekasihku yang terpampang adalah wajah yang sama dengan saat ia bercinta bersamaku. Hal yang ku pikirkan adalah, 'ah, dia menikmatinya', setelahnya aku benar-benar tertawa."
Chanyeol benar-benar terperangah mendengar penuturan Jongin. Ia tidak mengira ada perempuan yang seperti itu.
"Lalu, mengapa kau berakhir dengan babak belur?" tanya Chanyeol setelah keluar dari rasa terkejutnya.
"Aku harap hyung masih akan mendengar ceritaku. Ada banyak yang terjadi sebelum aku berakhir dengan duduk di penerbangan menuju Jepang."
Chanyeol mengangguk, ia memiliki banyak waktu untuk itu. "Aku hyungmu, katakan padaku."
"Setelah malam itu, yang tidak di ketahuinya bahwa aku telah mengetahui kebusukkannya, aku tidak bertemu dengannya selama dua hari, ia bahkan tidak memberiku kabar apapun, aku bahkan mencari ia di rumahnya, tapi ia sama sekali tidak terlihat." Chanyeol lebih terkejut mengetahui Jongin masih berbesar hati menemui kekasihnya yang telah tidur bersama lelaki lain dengan mencari langsung ke rumah. Kalau hal itu terjadi pada Chanyeol, mungkin ia sudah merasa muak untuk melihat wajah perempuan itu.
"Dia muncul dua hari berikutnya, menghampiriku, meminta maaf karena katanya neneknya di Busan meninggal dunia dan ia terburu-buru hingga tidak membawa ponselnya. Aku bisa melihat ia terlihat sangat pucat, dan berantakkan. Aku ingin percaya, tapi video di memori ponselku menjelaskan semuanya." Jongin mengambil minum sebelum melanjutkan, tenggorokannya kering, sekering hatinya.
"Aku sangat marah, tapi aku tidak bisa marah di hadapannya. Aku tidak tahu kenapa. Dan pada akhirnya, aku memilih menjauhinya pelan-pelan, dan ia menyadarinya. Aku pernah sekali membentaknya, kemudian kami benar-benar semakin jauh. Hingga kurang lebih sebulan berlalu, aku dengan tidak sengaja bertemu dengan lelaki yang tidur dengan kekasihku di koridor kampus, satu kalimat yang lelaki itu bisikkan padaku, sangat membakar emosiku, tapi aku masih bisa mengendalikan diri."
"Apa katanya?" Tanya Chanyeol
"Yah, dia hanya berkata bahwa sesuatu yang aku nikmati selama ini sangatlah nikmat, dan ia akan lebih sering menikmatinya lagi. Kau pasti tahu maksudnya." Chanyeol mengangguk, ia jelas paham, dan juga ia paham bagaimana terlukanya Jongin bahkan saat lelaki itu bercerita.
"Malamnya, aku menemukan video baru di emailku. Dan email itu berasal dari kekasihku. Aku membalas pesan itu, mengatakan silahkan menikmatinya, aku tidak peduli."
Chanyeol bisa melihat sekelam apa wajah adik sepupunya saat ini.
"Tapi, Hyung," Jongin mengambil napas, "Setelah mengirim pesan itu, aku sesegera mungkin berlari ke arah mobilku, memacu dengan kecepatan tinggi, hanya untuk pergi ke apartemen di mana aku melihat pertama kali kekasihku selingkuh."
"Untuk apa?"
"Untuk memastikan, jika semuanya tidak benar. Bahwa kekasihku bukanlah perempuan dalam video itu." Chanyeol terbelalak, bagaimana mungkin Jongin masih menyempatkan percaya dengan bukti seakurat itu.
"Lalu, apa yang kau dapatkan?" Tanya Chanyeol sesegera mungkin.
"Sebuah kebenaran yang menjijikan." Jongin mendengus kasar, seperti kepalanya sedang memutar adegan malam itu.
Chanyeol diam, bagaimana bisa hal dramatis seperti itu terjadi. Jika ia adalah Jongin, sudah di pastikan ia akan segera meninggalkan perempuan itu sejak ia mengetahuinya sedari awal.
"Masih ada yang lucu, hyung," Suara Jongin menarik Chanyeol dari lamunan, ia memandang Jongin penuh minat, "Malam itu, aku kembali ke rumahku, namun 10 menit kemudian, dengan bodohnya aku kembali memacu laju mobilku menuju tempat menjijikan itu, entah kenapa, aku merasa ini tidak benar, entah mengapa, dalam hatiku, aku merasa, kesalahan kekasihku masih bisa termaafkan, dengan cepat, aku kembali ke ruangan busuk itu, dan tidak lagi menemukan kekasihku di sana. Aku bertanya kepada lelaki brengsek itu, dan ia hanya menyeringai ke arahku, aku bisa merasakan kepalaku pening, tapi saat melihat lelaki itu ingin membuka mulut busuknya, dengan gerakan refleks aku langsung meninjunya. Aku seperti kesetanan, pertahanan diriku hancur, aku memukuli lelaki itu dengan kuat, menendang wajahnya beberapa kali, menginjak-injak perutnya, hingga ia bahkan tidak bisa menggerakan jarinya untuk membalasku. Aku sudah mencekik lehernya, tapi kemudian beberapa orang menahanku, aku bisa melihat mereka segera menolong lelaki brengsek itu, aku berakhir di pukuli oleh ayahku, dan pada malam itu juga aku di terbangkan, dan berakhir bersamamu. Maafkan aku karena harus membuatmu repot, Hyung."
Jongin bisa melihat mata Chanyeol yang membola kaget. Reaksi itu adalah reaski yang wajar yang telah ia duga. Sedangkan Chanyeol, masih terperangah, karena masih memikirkan kalimat Jongin sebelumnya, bahwa Jongin masih bisa memaafkan kesalahan kekasihnya. Hei, cinta seperti apa yang menguasai hati Jongin? Jongin tidak pantas menerima kembali perempuan kotor seperti itu.
"Hyung?" Jongin menepuk keras pundak Chanyeol, dan Chanyeol segera mengakhiri ketidakpercayaannnya.
"Ah maaf. Aku hanya tidak habis pikir."
"Aku pun juga. Bahkan sampai saat ini, aku masih mengutus seseorang untuk mencari keberadaan kekekasihku itu, tapi ia seperti hilang di telan bumi." Chanyeol tidak habis-habisnya terkejut dengan sikap Jongin. Bagaimana bisa cinta terlihat sangat buta? atau bodoh?
"Hey, bukankah itu bagus? Aku bahkan berharap ia pergi saja selamanya. Kau sudah cukup menderita, Jonginah" Chanyeol bisa melihat Jongin terkekeh pelan. Entah menertawakan apa yang lucu. Tapi, dari mata Jongin, Chanyeol paham bawa lelaki itu menertawakan dirinya sendiri.
"Aku tidak tahu, Hyung. Aku hanya tidak mengerti, bagaimana bisa seseorang mampu membawa separuh hidup kita, kemudian ia lukai sepenuh hati. Apakah ia tidak berpikir, jika aku bisa saja mati karena hal itu."
Chanyeol tidak menjawab saat di lihatnya Jongin menerima panggilan yang telah Chanyeol ketahui berasal dari seseorang di Korea yang Jongin perintahkan untuk mencari kekasihnya.
Chanyeol bisa melihat kemarahan berbayang jelas dari sosok yang membelakanginya, juga suara samar Jongin berpendar di telinga Chanyeol, mengatakan 'Kau boleh berhenti. Aku benar-benar akan berhenti peduli."
"Baek?"
"Baek?"
"Baekhyun!!!!"
Chanyeol setengah berteriak memanggil wanita di sisinya yang tak kunjung menjawab panggilannya.
Baekhyun tersadar dari pemikirannya atas cerita Chanyeol yang sangat di luar ekspektasinya. Bagaimana bisa sesuatu seperti itu terjadi? Bagaimana bisa kesalahpahaman yang tumpang tindih itu sangat menyakitkan bagi keduanya, Jongin maupun Kyungsoo.
"Kau tahu-" Baekhyun menatap Chanyeol menuggu kalimat selanjutnya,"Aku merasa berdosa saat mengetahui jika lelaki di balik cerita Kyungsoo adalah Jongin. Aku merasa bersalah, telah memandang Kyungsoo sebagai wanita kotor seperti kataku pada Jongin bertahun-tahun lalu. Aku bahkan tidak tahu harus melihat Kyungsoo dengan cara seperti apa." Binar mata Chanyeol meredup, dan Baekhyun tidak suka melihat hal itu. Ini bukan salah lelaki itu menurutnya. Tidak ada yang salah.
Baekhyun mengambil telapak tangak lelaki bertelinga lebar itu kedalam genggamannya.
"Jadilah Chanyeol seperti apa yang selama ini di lihat Kyungsoo. Kau tidak perlu merasa bersalah atas semua ini. Bukankah kita semua telah berada dalam kerumitan kisah kelam mereka? Jangan merasa bersalah, Yeol." Baekhyun Memberi Chanyeol sebuah senyum tulus, yang mampu mengusir keresahan hati Chanyeol, mereka berpandangan lama, kemudian berakhir dengan tawa samar.
"Bagaimana selanjutnya?"
"Apanya?"
"Mereka berdua." Baekhyun menunjuk Jongin yang masih duduk bersimpuh di sisi sahabatnya. Baekhun sedikit merasa bersalah pada Jongin karena telah menampar lelaki itu tanpa tahu pengorbanan seperti apa yang lelaki itu lakukan untuk bisa mencari Kyungsoo kembali.
"Aku tidak tahu. Jongin akan segera menikah."
"Hah?" Baekhyun memutar kepalanya cepat ke arah Chanyeol begitu mendengar kalimat mengejutkan lelaki itu.
"Ah aku lupa menceritakan satu hal," Baekhyun mengernyit.
"Soal apa?" Tanya wanita itu kemudian.
"Beberapa bulan setelah Jongin menceritakan hal menyedihkan itu, Jongin pada akhirnya bisa menjadi dirinya kembali meskipun tidak sepenuhnya. Ia mengenalkan seorang perempuan padaku, dan rupanya wanita itu yang kembali membawa Jongin seperti semula. Mereka sangat dekat, dan kedua orang tua merekapun sudah menjodohkan keduanya. Jongin kembali ke Korea karena berusaha menjauh dari wanita itu, tapi aku rasa wanita itu akan segera menyusulnya ke sini." Jelas Chanyeol panjang lebar.
"Siapa nama wanita itu?" Baekhyun merasakan sesuatu yang tidan enak mengganjal hatinya, dan benar saja, saat Chanyeol menyebut nama wanita itu, ia sudah siap menyuarakan sumpah serapahnya jika tidak ingat ia berada di depan ICU.
"Kristal. Nama wanita itu adalah Kristal." Chanyeol melihat perubahan ekspresi pada wajah cantik Baekhyun. "Ada apa?" Tanya Chanyeol kemudian.
"Wanita ular itu benar-benar sialan!!!" Desis Baekhyun dalam bisikan tajam. "Wanita itu, adalah wanita yang sama dari segala dalang kehidupan menyedihkan Kyungsoo."
"Kau bercanda?" Tanya Chanyeol dengan raut wajah terkejut.
"Aku akan tertawa oleh candaanku sendiri jika itu adalah sebuah candaan."
Chanyeol terdiam memikirkan fakta yang baru saja ia ketahui. Kristal itu, wanita itu terlihat sangat baik dan penuh kejujuran, bagaimana bisa? Dan Jongin benar-benar tertipu olehnya? Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
"Hyung." Chanyeol menghentikan lamunannya saat suara familiar Jongin memanggilnya. Ia bisa melihat lebam di pelipis lelaki itu, dan ia meringis sendiri. Tidak menyangka bahwa Jongin maupun Kyungsoo adalah korban dari keserakahan seseorang.
"Ada apa?" Chanyeol maupun Baekhyun menunggu Jongin membalas. Mereka berdua bisa melihat bahwa Jongin sangat kacau, dan titik air mata masih menempel di sudut matanya.
Menghela napas dalam, Jongin menjawab, "Tolong ceritakan padaku seperti apa penderitaan yang Kyungsoo alami karena kebodohanku?" Jawabnya tanpa memandang kedua pasang mata di hadapannya.
"Maafakan aku, Jongin." Itu suara Baekhyun yang menjawab. Jongin masih menanti jawaban wanita itu selanjutnya.
"Kau akan segera tahu jika "dia" telah kembali."
Jongin mengernyit, "Dia?" Tanyanya bingung.
"Sehun. Dia yang bisa menjelaskanmu bagaimana kepedihan Kyungsoo sebenarnya. Semuanya." Jawab Baekhyun.
"Sehun. Kapan dia kembali?" Jongin teringat sahabat sematinya dulu, jika ia mengingat, pertemuan terakhir mereka dalam sebuah adu mulut dan kalau tidal salah, hal itu menyangkut Kyungsoo.
"Dua hari ke depan. Tapi aku sarankan jangan pernah kau pergi sendirian saat menemuinya. Paling tidak, ajaklah Chanyeol." Chanyeol mengangguk membenarkan.
"Kenapa?" Tanya Jongin masih tergesa.
"Kau akan pulang dengan tidak bernyawa." Dan jawaban Baekhyun semakin membuat ia merasa bersalah dan menderita.
Jongin mengangguk mengerti, tanpa pamit ia berjalan pelan berlalu meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun yang menatapnya sendu.
Jongin pergi meninggalkan Kyungsoo yang belum sadarkan diri, sebab ia tidak ingin menyiksa Kyungsoo saat wanita itu membuka mata. Pukulan Chanyeol padanya sudah mampu mejelaskan bagaimana rasa sakit yang Kyungsoo pendam sendirian selama ini.
"Kyungsoo-yaa, maafkan aku karena memberi neraka dalam kehidupanmu." Gumam Jongim pelan.
TBC
Note :
Duh aku nulis apa ini ya ampyun. Jijik banget masa aku baca nya. Hahahah. Tapi ya sudahlah, mungkin ini juga udah gak ada yang nungguin. hahaha.
Maafkan aku karena lama kambeknya. ehe ehe. Intinya aku akan selalu berterima kasih pada kalian yang sudah berbaik hati membaca kisah murahan seperti ini.
Sampai ketemu di Chapter depan. Chapter tentang cerita dari sisi Kyungsoo.
bye bye.
sampai jumpa lagi.
salam sayang,
Anna.
mwah.
