Semuanya putih, bersih, sejuk, dingin, sayup-sayup terdengar bunyi seperti berasal dari apat musik piano. Kyungsoo mendapati dirinya seperti berada dalam sebuah monokrom. Tidak ada pemandandangan lain selain putih, tapi saat ia menegadahkan wajah, terpaan angin lembut yang entah berasal dari mana meniup lembut anak anak-anak rambutnya.
'Ini di mana?' Kyungsoo membuka suaranya, tapi entah mengapa ia tidak bisa mendengar suaranya sendiri. Kemudian, sesesuatu yang hangat menyentuh telapak tangannya, namun tak di temukan apapum saat ia melihat ke arah telapak tangannya itu.
Kyungsoo memerhatikan sekitar, hanya putih sejauh mata memandang, kemudian telinganya kembali menangkap denting piano yang mengalun ringan, membuat irama menenangkan, seperti memaksanya untuk segera terlelap, kemudian semuanya gelap.
Tittle : Hurt
Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo (GS), Park Chayeol, Byun Baekhyun (GS), Kim Jongdae, Kim Minseok (GS), Wu Yifan, and other (akan bertambah sesuai alur).
Rate : M (?)
.
Happy Reading
.
"Kyungsoo!!!??"
"Kyungsoo!!!???"
Kyungsoo merasa seseorang memangg namanya, dengan sekuat tenaga, ia memaksa membuka kelopak matanya yang berat. Pandangannya pudar, matanya menyipit membiasakan cahaya yang tertangkap retinanya. Kemudian, ia dapat melihat jelas siapa kiranya yang berdiri menjulang di hadapannya.
"Kyungsoo?" Kyungsoo melihat ke arah kanannya, berdiri dokter beserta beberapa perawat yang telah dikenalnya. Ia mencoba tersenyum untuk menyapa.
"Kau mendengarku?" Kyungsoo mengangguk, "Aku akan melakukan beberapa pemeriksaan." Ujar dokter itu lagi dan Kyungsoo kembali mengangguk.
Dokter Lee melakukan beberapa pemeriksaan pasca operasi yang di lakukannya, setelahnya ia menyuruh salah satu perawat untuk menyutikkan obat penghilang rasa sakit.
"Kau melakukannya lagi, eh?" Ujar dokter Lee, "Apalagi kali ini?" Tanyanya.
"Ma-maaf." Jawab Kyungsoo pelan, sedikit terbata.
"Kau tidak kasihan sama teman-temanmu?" dokter Lee melihat ke arah Baekhyun, Chanyeol, juga Yifan yang berdiri tidak jauh dari sisi tempat tidur Kyungsoo, "Mereka juga punya banyak kerjaan, tapi harus terbengkalai karena mengkhawatirkanmu." Doktet Lee bukannya marah, ia hanya tidak ingin melihat wanita yang sudah ia kenal baik itu harus melakukan tindakan bodoh berulang kali.
"Kyungsoo, jika setelah ini kau kembali melakukan tindakan bodoh itu, aku sendiri yang aku mengantarmu ke rumah sakit jiwa. Mengerti?!" Kyungsoo mengangguk sembari tersenyum jenaka.
"Kau ini ..." Dokter Lee mengusap pelan pucuk kepala Kyungsoo.
"Pindahkan dia keruangan." Dokter Lee berbicara pada salah satu perawatnya.
"Aku pergi dulu, aku akan menyuruh Baekhyun memantaumu setelah ini." Kyungsoo mengangguk berterima kasih.
"Kalian bertiga ku perbolehkan untuk memarahinya." Ujar dokter Lee pada ketiga teman Kyungsoo yang balas tawa oleh ke tiganya.
"Terima kasih, hyung." Yifan membungkuk sopan kemudian Dokter Lee beranjak meninggalkan mereka bertiga.
.
"Kyung, aku yang akan mati jika kau melakukannya lagi di hadapanku." Baekhyun duduk di sisi Kyungsoo, menggenggam jemari wanita itu. Mereka kini telah berada di salah satu ruangan VIP di rumah sakit tempat Baekhyun bekerja itu.
"Maafkan aku, Baek, Chanyeollie, Yifan Oppa." Kyungsoo menatap ketiganya dengan raut menyesal. Ia telah sering membuat orang-orang terdekatnya khawatir.
"Jangan meminta maaf. Sembuhlah secepatnya. Setelah itu jangan lagi berbuat seperti ini." Yifan berbicara sambil berjalan mendekat ke sisi tempat tidur Kyungsoo.
"Kau tahu, kau memang masih hidup, Kyung," Yifan menatap lekat manik hitam wanita yang telah di anggap adiknya itu, "Tapi, kau telah lama mati di sini." Yifan menunjuk tepat di mana jantung Kyungsoo berada.
"Kau sudah mati, Kyung, dari awal aku mengenalmu, kau sudah mati!" Yifan berbicara dengan nada sedikit marah, meskipun begitu, semua yang ada di sna membenarkan perkataan Yifan.
Baekhyun, Chanyeol, Yifan, mereka adalah orang-orang yang hadir setelah Kyungsoo berjalan dalam kelumpuhan hidupnya. Mereka tidak tahu seperti apa jati diri Kyungsoo sebenarnya, namun, dari cerita yang mereka dengar dari Sehun dan Luhan, sahabat Kyungsoo, mereka paham, Kyungsoo berubah terlalu banyak.
"Ini hidupmu," Ujar Yifan lagi, suasana masih hening, Chanyeol dan Baekhyun bahkan tidak ingin menyela, "Bagaimana bisa kamu membuat seseorang yang brengsek itu menghancurkanmu lebih banyak. Bagaimana bisa kau ingin mati hanya karena dia? Bagaimana bisa kau bahkan masih tetap melindunginya, hingga saat ini..." Yifan tahu suaranya serak di akhir. Baru kali ini ia merasa sangat marah pada Kyungsoo, mungkin ia mulai terbiasa karena sudah lama sejak terakhir kali Kyungsoo melakukan percobaan bunuh diri.
"Oppa... " Panggil Kyungsoo lemah.
Yifan mengambil duduk di sisi Kyungsoo, menatap wanita itu lembut.
"Aku ingin kau hidup, Kyung. Mengapa kau harus takut jika lelaki itu kembali? Bukankah kau memiliki banyak orang yang melindungimu saat ini? Berjanjilah kau tidak akan pernah lagi melakukan hal seperti ini, ya?"
Melihat Yifan yang sangat peduli padanya, Kyungsoo tidak lagi bisa menahan air matanya. Ia tidak pernah menyangka pertemuan yang salah antara ia dan lelaki itu akan membawanya pada pertemanan yang sangat tulus.
Kyungsoo merentangkan tangannya, mengundang Yifan untuk memeluknya, "Aku janji, Oppa, mulai saat ini aku akan hidup." Ujar Kyungsoo ketika Yifan telah memeluknya.
"Lagian, kau harus segera bangun dari tempat tidur itu jika kau ingin melihatku menikah." Yifan berbicara setelah melepas peluk, dan kalimat yang ia ucapkan membuat Kyungsoo, Baekhyun, dan Chanyeol menatap kaget padanya.
"Zitao menerimamu?" Baekhyun berteriak histeris.
"Aku butuh kalian semua untuk hari bahagiaku." Dan Kyungsoo maupun Baekhyun menangis haru, karena pada akhirnya lelaki yang telah mereka anggap kakak itu akan segera menjadi lelaki sentuhnya.
"Selamat, Hyung." Chanyeol memberi pelukan selamat pada Yifan yang di balas oleh lelaki itu.
"Aku harus pergi, aku akan kembali bersama Zitao sore nanti." Dan setelahnya Yifan berlalu meninggalkan ruangan Kyungsoo menyisakan Baekhyun dan Chanyeol.
.
Yifan berjalan pelan sepanjang koridor rumah sakit. Ia telah berhasil mengatakan apapun yang harus ia katakan sejak dulu, sejak pertama kali ia menemukan wanita itu mencoba bunuh diri, pertemuan pertama mereka. Yifan memutar ingatan mundur jauh kebelakang.
Tujuh tahun lalu, saat itu sudah hampir tengah malam, Yifan melajukan mobilnya menuju apartemen sepulang menemani ayahnya dalam meeting bersama beberapa klien. Jalanan sangat legang, beberapa meter kemudian, jalanan di depannya terjadi kericuhan. Beberapa kendaraan yang melintas berhenti, mencipta kemacetan, bahkan ada yang telah keluar dari mobil mereka. Karena penasaran, Yifan memarkir mobilnya di bahu jalan, kemudian membelah keramaian. Begitu telah sampai pada titik kericuhan, ia bisa melihat seorang gadis muda mungkin tiga tahun di bawahnya sedang berdiri tepat di tengah-tengah jalanan. Beberapa orang berkumpul di sekitar gadis itu untuk membawanya menyingkir karena akan berbahaya jika ia berdiri di tengtengah jalan seperti itu, namun dilihatnya sang gadis tidak bergeming di tempatnya. Ia hanya menatap lurus ke arah flat shoesnya.
"Ada apa, ya?" tanda Yifan pada seseorang anak muda di sampingnya.
"Gadis itu hampir tertabrak mobil truk yang di sana," Anak muda itu menunjuk sebuah truk yang terparkir acak di tengah jalanan, "Mereka mencoba membuat gadis itu menyingkir, tapi gadis itu hanya berkata, 'tolong bunuh aku, aku ingin mati' begitu." Jelas anak muda itu lagi.
Yifan terkejut karena baru kali ini ia menemukan orang gila di sepanjang hidupnya. Ya manusia mana yang menyuruh orang lain. untuk membunuhnya tanpa alasan jelas begitu coba.
Yifan masih saja memerhatikan beberapa orang yang terus berusaha untuk membujuk gadis itu, namun hasilnya sia-sia, dan kemudian seorang lelaki tua meneriaki gadis itu kasar, mungkin karena telah habis kesabaran, sehingga membuat gadis itu menengadahkan wajahnya, dan Yifan terpana saat matanya menangkap jelas pancaran dari mata gadis itu.
'Bagaimana bisa ia mencoba bunuh diri bahkan saat ia telah mati.' Gumam Yifan pelan. Dan entah siapa yang mendorongnya, tiba-tiba saja ia berjalan mantap dan saat sadar dirinya telah berada tepat di hadapan gadis itu. Beberapa pasang mata menatapnya bingung.
"Kau ingin mati?" Tanya Yifan pada gadis itu tiba-tiba, dan Yifan bisa melihat mata itu sedikit terkejut.
"Ya, aku ingin mati." Jawab gadis itu pelan, nyaris tak terdengar jika Yifan tidak mencoba mencondongkan dirinya sedikit lebih dekat.
"Mau mati bersamaku?" Tanya Yifan lagi.
"Hah?" Gadis di hadapannya benar-benar menampilkan raut terkejut.
"Ikut denganku. Akan ku tunjukan bagaimana mati itu." Yifan juga tidak mengerti mengapa ia berbicara seperti itu pada seseorang yang bahkan tidak di kenalnya, dan ia juga sama terkejutnya saat dengan gerakan reflek tangannya ia arahkan ke arah gadis itu, berharap gadis itu menyambut uluran tangannya.
"Tolong buat aku mati." Dengan begitu, gadis itu menerima begitu saja uluran tangan Yifan, dan Yifan segera membungkuk meminta maaf pada beberapa orang di sekitar mereka, kemudian ia membawa gadis itu menuju mobilnya.
"Namamu?" Tanyanya saat mereka telah berada dalam mobil yang di kemudi Yifan.
"Kyungsoo." Jawab gadis yang bernama Kyungsoo itu.
"Kau punya keluarga?" Tanya Yifan lagi sambil terus melihat arah jalan yang ia lewati.
"Ibuku meninggal hari ini." Jawab Kyungsoo lagi dan Yifan terkejut saat Kyungsoo tidak mencoba mengelak dari pertanyaan yang Yifan ajukan.
"Kau tinggal sendirian mulai saat ini?" Yifan melirik sekilas ke arah Kyungsoo.
"Seseorang bersamaku tapi itu tidak membuatku merasa sendirian."
Yifan berpikir apakah gadis ini adalah seseorang yang ditelantarkan. Ia memutuskan untuk tetap bertanya apapun, siapa tahu itu bisa mengalihkan perhatian gadis itu dari usaha bunuh dirinya.
"Di mana kau tinggal?"
Yifan bisa melihat Kyungsoo mengeryitkan alisnya.
"Tolong buat aku mati."
Ah, gadis ini rupanya tidak bisa di manipulasi, Yifan terkekeh dalam hati. Kalau ia perhatikan, Kyungsoo adalah gadis yang sangat cantik, matanya akan membulat seperti bulan penuh jika terkejut, dan Yifan bertanya-tanya akan membentuk seperti apa mata itu jika tersenyum.
"Kenapa kau ingin mati?" Tanya Yifan pada akhirnya, sedari tadi ia cukup penasaran.
"Aku kotor." Dan dua kata itu membuat Yifan berada di antara rasa terkejut juga penasaran.
"Kau ingin ke rumahku?" Hanya kalimat itu yang bisa ia katakan.
"Di manapun agar aku bisa mati." Yifan mengangguk mengerti, kembali memacu mobilnya menuju di mana apartemennya berada, dan sepamjang jalan, mereka berakhir dengan diam, Kyungsoo dengan pandangannya yang berkabut redup, Yifan dengan pikirannya yang bingung.
"Jangan sungkan, aku tinggal sendirian." Yifan berjalan memasuki apartemennya, di belakangnya Kyungsoo mengekor lambat.
"Duduklah dulu." Tunjuknya pada sebuah sofa berwarna hitam pudar. Kyungsoo tidak mengangguk tapi ia membawa langkahnya ke arah sofa yang di tunjuk Yifan.
Yifan menatap Kyungsoo sekilas, kemudian meninggalkan gadis itu untuk berganti pakaian. Beberapa menit kemudian ia bergabung duduk di salah satu sofa yang menghadap Kyungsoo.
Yifan kembali menatap dalam Kyungsoo yang menunduk, kemudian ia menghela napas.
"Jadi, Kyungsoo," Panggilnya menarik atensi gadis itu, "Bagaimana caranya agar kau bisa mati, ya?" Entah itu pertanyaan atau bukan, namun kalimat itu terasa janggal di pendengaran gadis bermata bulan purnama itu, hal itu sesuai dengan wajahnya yang menatap Yifan tidak mengerti.
"Bagaimana jika aku ganti pertanyaannya," Ujar Yifan lagi, :Hal kotor apa yang membuatmu untuk bunuh diri?" Lanjutnya.
"Tidak ada lagi yang berharga di diriku, juga hidupku." Yifan terkejut saat Kyungsoo membuka suaranya. Ia tidak mengira gadis itu akan rela bercerita.
"Aku tidak berasal dari keluarga kaya, Ibuku yang sakit-sakitan pun kini telah tiada. Aku bersyukur ia tidak lagi harus menderita." Kyungsoo menatap ke arah Yifan yang dia mendengarkan, Kyungsoo berpikir untuk meceritakan semua pada lelaki itu, toh lelaki itu akan membantunya untuk mati.
"Kau tahu, meskipun aku tidak kaya raya, aku pernah memiliki seseorang yang kaya raya di hidupku dulu. Dia orang pertama untuk segala dalam hidupku." Yifan paham apa yang coba gadis itu sampaikan.
"Karena dia, aku tidak tahu bagaimana caranya untuk mencintai seseorang selain dirinya. Meskipun kaya raya, ia memperlakukanku dengan sangat baik, ia menghormati ibuku yang sakit-sakitan, dan ia juga membawaku ke dalam keluarganya. Kemudian aku mengerti dari mana datangnya sikapnya yang rendah hati. Aku kira, keluarganya akan menolakku, tapi mereka dengan rendah hati menerimaku, menganggapku sebagai anak sendiri. Masa-masa itu adalah paling tak ternilai dalam hidupku." Yifan melihay segaris lengkung di binir itu, apakah gadis itu tersenyum?
"Lalu, apa hubungannya dengan dirimu yang kotor?"
"Aku akan sangat naif jika menganggap semua orang adalah orang yang baik." Yifan mengerutkan dahi, tidak mengerti.
"Karena, yang aku pikir adalah sebuah akhir nyatanya memberikanku sebuah awal yang baru." Yifan semakin tidak mengerti.
"Aku tidak paham apa yang coba kau katakan."
"Kau tahu, saat aku pertama kali menyerahkan tubuhku pada orang yang ku cintai, aku saat itu sangat naif, karena mengira bahwa dia adalah orang yang sama yang akan ku nikahi."
"Itu sangat kuno." Celetuk Yifan.
'Aku tahu," Balas Kyungsoo, "Tapi akan beda jika kemudian orang yang kau cintai menyerahkan dirimu untuk di setubuhi orang lain."
"Hah?" Yifan terkejut, maksudnya itu apa?
"Kau mau mendengarkan kisahku sebelum aku mati?" Tanya Kyungsoo pada Yifan.
"Aku akan mengabulkan permintaan seorang yang sekarat."
"Ini terjadi dua bulan yang lalu," Buka Kyungsoo, "Saat seseorang mengirimkan padaku sebuah voice record. Tidak ada nama pengirim, tapi karena penasaran aku mendengarkan rekaman itu. Awalnya sangat bising, terdengar teriakan juga suara berisik entah yang berasal dari mana, tapi kemudian terdengar percakapan. Aku sangat hapal dengan suara kekasihku, bahkan suara berisikpun tidak akan membuatku salah menebak. Dan aku yakin, itu adalah percakapan kekasihku dengan seorang lelaki." Yifan dapat melihat jemari Kyungsoo sedikit bergetar.
"Apa isinya, rekaman itu apa isinya?" Tanya Yifan kemudian.
"Sebuah percakapan. Sebuah pertaruhan," Kyungsoo menjeda, seperti menenangkan perasaannya sendiri.
"Taruhan?"
"Ya taruhan. Dengan aku sebagai imbalannya."
"Aku tidak tahu apa yang akan mereka lakukan, karena satu-satunya yang aku pikirkan saat itu adalah bagaimana bisa kekasihku yang baik hati itu membiarkan seseorang menajadikanku sebuah taruhan. Aku masih mendengarkan rekaman itu dengan rasa khawatir, kemudian aku tahu jika mereka sedang terlibat sebuah balapan. Aku bahkan tidak tahu sejak kapan kekasihku mengikuti balapan seperti itu. Hingga, sebuah hasil yang ku dengar membuat jantungku sesak, di tambah suara kekasihku yang terdengar di sana. Seseorang berkata bahwa kekasihku kalah, dan kekasihku harus menepati janjinya memberikan tubuhku. Aku shock mendengar taruhan menjijikan itu, tapi lebih shock saat kekasihku mengatakan dengan enteng jika ia tidak keberatan. Kau bisa membayangkan bagaimana perasaanku saat itu?"
Kyungsoo melihat ke arah Yifan yang jelas menampilkan raut tidak percaya.
'Rupanya ada yang lebih kotor dariku', batin Yifan meringis. Yifan membalas tatapan Kyungsoo, bagaimana bisa lelaki yang gila itu menyerahkan seseorang berwajah malaikat seperti Kyungsoo.
"Lalu apa yang terjadi setelah kau mendengar rekaman itu?" Yifan mengeluarkan pertanyaan setelah terlepas dari rasa terkejutnya.
"Aku menemukan sebuah pesan. Seseorang menyuruhku untuk menemuinya. Dan rupanya ia juga berasal dari kampus yang sama denganku."
"Kau menemuinya?"
'Ya, aku menemuinya. Aku bertanya hal sialan tersebut, dan mengatakan jika aku tidak setuju. Dia memberiku pilihan, dia akan melepaskanku jika aku memberinya uang sebanyak lima juta won.'
"Lalu apa yang kau pilih?"
"Apa yang bisa kau harapkan dari gadis miskin yang memiliki seorang ibu yang penyakitan sepertiku, lima juta won adalah jumlah yang banyak."
"Kau menyerah begitu saja?"
"Tidak. Aku berkata jika akan memberinya uang sebanyak itu dengan jangka waktu dua hari."
"Kekasihmu bagaimana?"
"Ah kekasihku? Dia memperlakukanku seperti biasa, Aku bahkan bingung apakah ia orang yang sama dalam rekaman taruhan itu."
"Kau memberitahunya soal uang tebusan itu?" Tanya Yifan dengan tidak sabaran.
"Tidak. Saat itu aku merasa hubungan kami baik-baik saja dan aku masih bisa memperbaikinya," Kyungsoo menelan ludah pahit, sebelum melanjutkan kalimat berikutnya, "Lalu hari itu tiba, hari yang mengubah hidupku selamanya."
Yifan menunggu, tidak merasa perlu bertaya untuk memastikan apakah gadis itu akan terus melanjutkan untuk bercerita.
"Hari itu, aku kembali bertemu dengan lelaki itu di salah satu ruangan di kampus, aku membawa uang sebanyak yang dia minta. Untuk menghasilkan uang itu, aku harus mengambil tabunganku dan menggadaikan rumahku, ibuku bahkan tidak tahu memahu soal itu." Kyungsoo menjeda, "Tapi lelaki itu seperti ingin mengulur waktu, aku tidak begitu curiga saat ia menyerahkan kembali uang itu padaku dan mengatakan bahwa ia akan menerimanya jika aku mengantarnya langsung di apartemennya."
"Kau pergi?"
"Ya. Dengan sangat bodoh. Aku, bahkan untuk pertama kalinya berbohong pada kekasihku dan mengatakan jika aku berada di rumah saat ia menghubungiku malam itu. Seandainya, jika, seandainya saja aku mengatakan keadaan sebenarnya, mungkin aku masih akan baik-baik saja." Yifan sadar suara gadis di depannya telah berubah serak.
"Apa yang terjadi?" Tanya Yifan hati-hati, ia sudah menduga sesuatu di dalam kepalanya.
"Mual rasanya jika harus mengingat hal itu. Tapi aku perlu mengatakannya pada seseorang sebelum aku mati." Yifan tersenyum pahit mendengar kalimat itu.
"Aku tidak keberatan jika kau ingin berhenti."
Dan untuk pertama kalinya Yifan terperangah saat melihat mata bulan penuh itu melengkung menyipit membentuk bulan sabit yang indah. Yifan mengedipkan matanyanya sekali, dan senyum itu masih tercipta di bibir gadis itu.
"Aku akan melanjutkannya, jangan khawatir." Suara lembut Kyungsoo menyadarkan Yifan dari rasa terperangahnya tadi. Ia mengangguk kaku.
"Hal yang pertama ku temui saat lelaki itu membuka pintu apartemennya adalah, ia menarikku kasar, dan menciumku sama kasarnya. Lalu, aku merasakan sesuatu memaksa masuk di tenggorokkanku, seperti pil atau tablet, yang kemudian aku tahu sesudahnya bahwa itu adalah sebuah obat perangsang. Kau bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya." Dan Yifan benar-benar tekejut bagaimana bisa seseorang melakukan hal keji itu pada gadis seperti Kyungsoo.
"Esoknya aku sadar, menemukan diriku sangat kacau juga lengan seseorang yang menempel di sekujur tubuhku. Aku ketakutan, badanku gemetar bahkan saat aku mencoba membersihkan tubuhku. Saat aku hendak pergi, lelaki itu mengatakan bahwa ia tidak akan meminta karena telah mendapat persetujuan dari kekasihku. Aku merasakan pening saat itu juga. Bagaimana bisa hidupku di jadikan taruhan oleh orang lain?' Kyungsoo menarik napas dalam, 'Hari itu, rupanya kesialan tidak henti-hentinya mempermaimkanku, aku mendapatkan kabar jika nenekku di Busan meninggal dunia, dan aku langsung saja menjemput Ibuku dan pergi bersamanya ke Busan. Aku sangat stress sejujurnya, tapi biar bagaimanapun, aku tidak harus memberikan beban pada ibuku lagi. Aku kembali dua hari berikutnya, dan ibuku mmemutuskan untuk menetap di rumah menekku. Aku ingin bilang pada Ibuku bahwa aku membutuhkannya, tapi ibuku berkata bahwa ia ingin menghabiskan sisa hidupnya di tempat yang lebih tenang, dan aku menyetujuinya dengan berat hati."
"Lalu, apakah kekasihmu soal kau yang-"Yifan tidak melanjutkan kalimatnya, lidahnya rasanya kelu, sebejat-bejatnya ia sebagai lelaki, ia tidak akan mau merusak seseorang yang baik seperti Kyungsoo ini.
"Aku tidak tahu apakah kekasihku itu tahu atau tidak. Ia bersikap biasa saja, meskipun sedikit berubah. Dan ia menjadi dekat dengan seorang gadis. Aku pikir itu hal yang wajar mengingat mereka adalah teman masa kecil, tapi sekali lagi aku adalah hanya gadis yang sangat naif."
"Kau tidak marah pada kekasihmu? Soal taruhan itu?" Yifan bertanya soal sesuatu yang ia hampir lewati sedari tadi.
"Aku tidak bisa marah,"Jawab Kyungsoo pelan.
"Kenapa?"
"Entahlah, jika aku harus marah, mungkin itu kepada diriku sendiri."
Dan jawaban Kyungsoo membuat Yifan tidak habis pikir. Bagaimana bisa perempuan rapuh seperti Kyungsoo memiliki hati sekuat itu.
"Aku benar-benar gadis yang sangat naif, kau tahu. Saat kekasihku semakin menjauhiku, aku masih percaya bahwa ia masihlah sama. Aku tidak tahu apa yang membuatnya berubah, hanya saja aku mendengar gosip bahwa kekasihku telah resmi berpacaran dengan gadis teman masa kecilnya itu. Aku mencoba bertanya padanya, tapi ia membentakku dan mengatakan muak melihat wajahku. Aku bingung apa salahku? Dan hari itu adalah hari terakhir aku berbicara padanya. Aku masih mencoba untuk memperbaiki hubungan kami, atau setidaknya ingin mencari sebuah kejelasan, karena aku dan dia sudah hampir sebulan tidak saling berbicara. Dan aku memutuskan, malam itu untuk menemuinya, tapi saat aku keluar rumah seseorang membekap mulutku, dan ketika aku sadar, aku kembali berada di ruangan yang sama bersama seseorang yang lelaki yang sama yang pernah memperkosaku."
Yifan tidak henti-hentinya terkejut.
"Hal terakhir yang aku ingat adalah, beberapa pasang tangan menggerayangi tubuhku, rasa sakit di seluru tubuh menyatu hingga ke dalam hatiku, dan saat aku membuka mata, aku menemukan diriku tergeletak menyedihkan di sebuah lorong gelap berbau busuk bersama potongan baju juga isi tas yang berserakan. Aku ingin berteriak meminta tolong, tapi bahkan suaraku nyaris tidak terdengar. Malam itu, aku menutup mata karena mataku perih oleh air mata, lalu seseorang menyentuh pundakku, dan aku bersyukur -atau tidak- karena perempuan itu menemukanku," Tutup Kyungsoo lirih. " Ah, dan aku menemukan sebuah pesan dari kekasihku yang mengatakan 'silahkan bersenang-senang, aku tidak peduli." Lanjutnya.
Yifan memijat pangkal hidungnya,
"Aku tidak tahu harus berekasi bagaimana. Aku mungkin bukan laki-laki yang baik, tapi aku tidak sebejat itu untuk menjadi seperti kekasihmu."
"Aku juga tidak mengira seseorang bisa berubah terlalu banyak."
"Lalu, dimana kekasihmu saat ini?"
"Aku tidak peduli."
"Kau membencinya?"
"Aku ingin mati karena membencinya."
Yifan diam tidak tahu harus berbicara seperti apalagi, Kyungsoo pun diam, hanya menatap ke arah meja di depannya.
Sejujurnya, Yifan masih tidak percaya akan peristiwa menyedihkan yang di alami Kyungsoo, tapi melihat bagaimana gadis itu bersikukuh memilih mati, telah menjelaskan bagaimana menderitanya gadis itu. Darilada itu, bagaimana cara Yifan untuk menolong gadis itu?
Menolong? Yifan tertawa dalam hati, bagaimana bisa ia menemukan kata itu dalam kamus hidupnya? Apalagi untuk seseorang yang tidak dikenalnya.
"Jadi," Suara Kyungsoo membuat Yifan tersadar, "Sudah waktunnya membuatku mati." Ujar Kyungsoo yakin.
Yifan menatap dalam gadis itu, matanya, bibirnya, rambutnya, kulitnya, tubuhnya, semua lelaki akan mau berlutut untuk bisa bersama gadis seperti Kyungsoo.
"Kyungsoo," Ucap Yifan dengan suara yang dalam, ia berdiri pelan, langkah kakinya menuju di mana Kyungsoo duduk memerhatikannya.
Yifan duduk tepat di sisi Kyungsoo dengan spasi yang terbilang sempit.
"Bagaimana jika kita mati bersama-sama?" Ujar Yifan memandanga dalam ke mata kelam gadis itu.
Yifan menemukan tangannya bergerak menyentuh kedua pundak gadis itu, dan entah apa yang merasukinya, sehingga bibirnya berkata,
"Izikan aku menghapus seluruh bekas kotor dalam tubuhmu, izinkan aku menyentuhmu." Yifan berbicara dengan suara serak yang dalam, ia mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu, sedikit terlihat ketakutan di sana.
"Kau takut?" Tanya Yifan, tanpa melepas pandang.
Kyungsoo tidak mengangguk, namun kemudia ia berkata pelan, "Kau bisa merasakan tubuhku bergetar. Aku takut."
"Tutup matamu." Yifan memerintah, dan ia terkejut saat Kyungsoo menurutinya.
Yifan menyentuh pipi mulus Kyungsoo, sedikit membuat gadis itu tersentak kaget.
"Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu." Bisiknya tepat di sisi telinga gadis itu. Setelahnya, dengan lembut, Yifan menyentuhkan bibirnya pada bibir kering Kyungsoo, Kyungsoo terkejut, berusaha melepas pelukan Yifan di tubuhnya,
"Jangan takut," Bisik Yifan tepat di hadapan gadis itu, "Aku tidak akan menyakitimu. Kita akan mati bersama-sama." Kyungsoo berhenti memberontak, ia melihat tepat ke dalam mata Yifan, bahkan saat Yifan kembali mencium bibirnya, hingga melumatnya sedikit kasar, Kyungsoo maupun Yifan masih saling berpandangan, kemudian air mata Kyungsoo jatuh, Yifan sontak saja melepas ciumannya, namun gerakan tangan Kyungsoo yang menahan tengkuknya, juga bibir Kyungsoo yang mencoba melumat bibirnya membuat ia bingung.
"Lakukan. Ayo kita mati bersama-sama." Dengan begitu, tiada keraguan dalam diri Yifan. Malam itu, berkali-kali Yifan membunuh Kyungsoo seperti janjinya, membunuh segala ingatan Kyungsoo pada hal menjijikan di tubuhnya.
Paginya, Kyungsoo terbangun dengan tubuh telanjang yang di tutupi selimut berwarna abu-abu, ia mencoba melihat sekitar dan tidak menemukan tanda-tanda keberadaan orang lain selain dirinya. Ia melirik ke arah nakas, terdapat sebuah sticky note berwarna kuning yang sisip di bawah segelas susu hangat.
"Aku harus bekerja dan pulang saat makan siang. Minum susumu, dan lihat sesuatu di kemari pendingin jika ingin makan. Jangan kabur. Kita masih perlu bicara."
Kyungsoo tertawa membaca note yang di tinggalkan entah siapa, ah, bahkan ia tidak mengenal nama lelaki ini.
Meneguk susu hingga habis, Kyungsoo segera membersihkan diri kemudian mengambil acak kaus kebesaran milik Yifan. Ia tidak memakai apapun selain celana dalam pada bawahan karena pada dasarnya kaus milik Yifan nyaris menutupi seluruh pahanya.
Kyungsoo terdiam di sofa tempatnya semalam bertukar cerita bersama lelaki pemilik apartemen. Pikirannya menerawang jauh ke seseorang lelaki yang entah di mana saat ini.
"Membenci dia?" Gumamnya, apakah ia membencinya? Sudah pasti. Saat mengingat lelaki itu, Kyungsoo bahkan merasakan ada tangan-tangan tersembunyi yang berusaha mencekik lehernya.
"Apakah aku setidak berharga itu baginya?" Gumamnya lagi. Kyungsoo ingin menangis, tapi entah mengapa ia tidak lagi menemukan air mata yang mengalir di pipinya.
"Apakah aku telah mati?" Monolognya lagi. Ia melihat pantulan dirinya di sebuah televisi besar yang berhadapan dengannya.
Triit tit.
Bunyi scanner password membuat Kyungsoo menatap heran ke arah pintu, dan menemukan sang pemilik apartemen berjalan masuk.
"Kau bilang akan kembali siang hari." Sambutnya
"Aku tidak bisa membiarkan seseorang yang berniat bunuh diri untuk tinggal sendirian. Bisa-bisa nanti ia bunuh diri di apartemenku."Canda Yifan.
"Cih." Kyungsoo mendengus mendengar jawaban lelaki itu.
"Oh, kau memiliki sisi seperti itu rupanya."
"Siapa namamu?" Tanya Kyungsoo.
"Ah iya. Aku sampai lupa. Hehe." Yifan tertawa garing, "Aku Wu Yifan, kau bisa memanggilku Yifan."
"Aku akan memanggilmu oppa."
"Hah?" Beo Yifan.
"Wajahmu itu sudah tua, tidak sopan jika harus memanggil namamu saja." Ejek Kyungsoo pura-pura.
"Yak, kau menyebutku apa?" Kata Yifan tidak terima atas ejekan Kyungsoo.
Sedang Kyungsoo hanya tertawa karena berhasil mempermainkan lelaki itu.
"Maafkan aku, Kyungsoo." Ujar Yifan tiba-tiba, "Soal semalam." Lanjutnya.
"Tidak. Tidak. Kau benar-benar membuatku mati." Balas Kyungsoo yang di tatap bingung lelaki itu.
"Kyungsoo sudah mati. Aku adalah Kyungsoo yang baru mulai hari ini." Katanya dengan nada riang.
"Hal pertama yang perlu ku lakukan dengan sosok baru ini adalah hidup, bukankah begitu, oppa?" Senyum Kyungsoo, entah mengapa sedikit menggores relung hati Yifan, namun yang bisa ia berikan sebagai jawaban adalah hanya sebuah anggukan.
Setelahnya, Kyungsoo meminjam ponselnya, menghubungi seseorang yang kemudian seorang perempuan datang 10 menit berikutnya dengan teriakan super menyakitkan telinga, memarahi Kyungsoo bahkan dirinya, namun Yifan tahu, perempuan yang bernama Baekhyun itu akan selamanya menjadi penyelamat bagi hidup Kyungsoo.
Kyungsoo pamit pulang bersama Baekhyun,lalu dua hari kemudian sebuah pesan masuk ke ponsel milik Yifan.
"Oppa, aku menjual tubuhku padamu. Lain kali, jika bercinta, tolong bayar aku, ya? Aku harus melanjutkan kuliah. Mwah."
Pesan itu bernada ringan, namun semuanya berawal dari pesan pendek itu. Semunya, hubungan kotor dan gelap itu.
Yifan pada akhrinya, dengan terpaksa karena gadis itu memaksa, memperkenalkan Kyungsoo pada lingkar pertemanannya, Jongdae, dan Chanyeol. Yang pada akhirnya juga menjadi tempat Kyungsoo mendapatkan uang secara instan.
Hanya satu yang tidak pernah Yifan pahami, bagaimana cara gadis itu kembali menghargai dirinya sendiri.
.
Dering ponsel mengaburkan ingatan Yifan dari hari di mana waktu membawa Kyungsoo padanya,
"Halo, Sehunah," Jawab Yifan setelah ia menduduki jok mobilnya.
.
TBC
.
Note :
Hai, aku update nih. Hew hew.
Di Chapter ini semoga bisa sedikit menjawab teka tekinya yah. Tapi masih ada penjelasan dari Sehun kok. Kan si Jongin harus ketemu si Sehun dulu biar babak belur lagi. Harus ketahuan Yifan sma Jondae juga biar tambah babak belur. wkwkwkw.
Semoga bisa memuaskan, kalo enggak ya maaf. sampai ketemu di chapter depan.
ai lafyu all.
Salam sayang,
anna.
mwah.
