Rahasia.
Sesuatu kebenaran atau bisa juga sebuah kebohongan yang di simpan rapat-rapat. Menyimpan partikel pembawa kabar baik atau bisa jadi kabar buruk.
Pertayaannya, apakah rahasia bisa menolong seseorang? Atau justru menambah sebuah kepedihan?
Tittle : Hurt
Cast : Kim Jongin, Do Kyungsoo (GS), Park Chayeol, Byun Baekhyun (GS), Kim Jongdae, Kim Minseok (GS), Wu Yifan, and other (akan bertambah sesuai alur).
Rate : M (?)
.
Happy Reading
.
"Halo Sehunah?" Jawab Yifan sesaat setelah menduduki jok mobilnya.
"Hyung, apa yang terjadi lagi dengan Kyungsoo?" Tanya Sehun dari balik ponsel.Yifan telah meninggalkan halaman parkir melaju santai menuju kantornya.
"Dia melakukannya lagi." Jawab Yifan seadanya. Seseorang pasti telah menyampaikan berita itu pada donsaengnya itu. Dan Yifan bisa menebak siapa orang yang di maksud.
"Apa alasannya kali ini, Hyung?" Tanya Sehun dengan nada marah yang tergambar jelas di pendengaran Yifan.
"Entahlah. Hanya, yang ia katakan malam itu, bahwa pria brengsek itu kembali." Ujar Yifan sambil menghela napas. Jika saja Kyungsoo mau mengatakan siapa pria itu, sudah pasti Yifan akan dengan senang hsti menginjakkan sol sepatunya pada leher pria itu.
"Apa Hyung? Siapa yang kembali?" Tanya Sehun dengan tidak sabaran.
"Pria brengsek itu. Dia kembali." Yifan bisa mendengar Sehun memaki marah dari balik panggilan.
"Sehun, katakan padaku siapa pria itu? Aku sudah bosan dengan semua ini." Ujar Yifan sama marahnya. Ia tidak habis pikir dengan kelakuan Baekhyun, Sehun maupun Luhan yang seakan serempak untuk tutup mulut dengan alasan menghargai keputusan Kyungsoo. Dan Yifan lebih tidak habis pikir, mengapa setelah sekian lama, Kyungsoo bahkan masih terlihat melindungi pria itu. Cinta seperti apa yang Kyungsoo miliki di dalam hatinya.
"Jika benar lelaki itu kembali, aku akan melihat apakah ia berani menemuiku. Dan jika hari itu tiba, aku tidak akan segan untuk memberitahukan padamu Hyung. Aku butuh orang lain untuk membuatnya membayar semuanya."
Yifan menghela napas dalam, kemudian mematikan panggilan.
"Aku tidak sabar untuk melihat siapa di balik rahasia yang kalian simpan rapat-rapat itu." Gumamnya kemudian.
.
Apa yang di butuhkan seseorang dalam menyembuhkan lukanya sendiri?
Waktu? Atau seseorang yang baru? Atau mungkin bukan keduanya. Karena baik Chanyeol maupun Baekhyun, tidak menemukam keduanya saat melihat luka yang coba disembuhkan Kyungsoo.
Wanita itu, terlihat hidup tapi ia telah lama mati, terlihat sembuh, namun pada kenyataannya lukanya bahkan tak kunjung mengering.
Luka yang dimiliki Kyungsoo, bagi Chanyeol dan Baekhyun, mungkin Kyungsoo sendirlah yang tidak pernah mencoba untuk menyembuhkan, melainkan ia rawat dengan hati yang tulus. Bagaiana bisa wanita itu bertahan merawat luka dengan harga diri yang nyaris berhamburan?
"Baek?"
Suara lembut Kyungsoo memanggil Baekhyun maupun Chanyeol kembali dari lamunan.
"Maafkan aku, ya?" Ucap Kyungsoo pelan.
"Aku hanya tidak mengira, bahwa aku belum cukup berarti di hidupmu, Kyung."
Kyungsoo menggeleng pelan karena merasa bersalah pada sahabatnya itu.
"Aku yang merasa tidak cukup pantas agar bisa kau terima. Maafkan aku. Mulai hari ini, aku akan lebih menghargai hidupku. Maafkan aku. Maafkan aku." Ujarnya semakin lirih, juga tetesan air mata mengalir jatuh di atas pipinya yang mulus.
Baekhyun tidak berkata apa-apa lagi, namun dengan kuat, ia memeluk sahabatnya itu, menangis bersama Kyungsoo.
Chanyeol yang melihat pemandangan itu tersenyum haru, Baekhyun bukan hanya seorang sahabat, namun menjelma penyelamat.
"Hanya percaya pada kami, Kyung. Sudah ku katakan, meskipun dia kembali padamu, kita tidak akan pernah membuat ia menyakitimu. Pria itu yang harus menderita, membayar semuanya." Ucapan Chanyeol membuat kedua wanita yang berpelukan itu saling melepas kemudian melihat ke arah Chanyeol. Baekhyun tersenyum membenarkan sedang Kyungsoo menggeleng pelan.
"Tidak, Chan," Chanyeol mengernyit, "Aku harus hidup, dan hal pertama yang harus ku lakukan adalah memaafkan masa lalu. Dia telah ku maafkan, beserta seluruh yang ia lakukan padaku dulu." Kyungsoo tersenyum tulus di ujung kalimat, sedang Chanyeol dan Baekhyun terperangah mendengar kalimat Kyungsoo. Wanita itu, apa saja komposisi hatinya?
"Kyungsoo," Chanyeol tidak terima. Meskipun Jongin adalah adik sepupunya, meskipun Jongin juga hanyalah korban keserakahan seseorang, namun derita yang di alami Kyungsoo oleh sebab pria itu, Chanyeol tahu seberapa sakitnya itu.
"Aku harus memaafkan diriku juga masa laluku, Chan, dengan begitu aku bisa melanjutkan hidup tanpa merasa takut." Kukuh Kyungsoo saat melihat mata Chanyeol menyiratkan penolakan.
"Kyungsoo!!"
"Ini keputusanku, Chan!"
"Kim Jongin sialan itu..." Desis Chanyeol penuh amarah.
"Apa?" Kyungsoo melirik cepat saat mendengar Chanyeol menyebut-nyebut naman Jongin.
"Itu Jongin, bukan? Pria brengsek itu." Kyungsoo menoleh ke arah Baekhyun, ia mengira wanita itu yang membocorkannya.
"Baek, kau mengatakannya pada Chanyeol?" Tanya Kyungsoo sembari menahan amarahnya.
Baru saja Baekhyun akan menyela, namun derit pintu yang bergeser menyita atensi ketiganya.
Dan alangkah terkejutnya Kyungsoo saat melihat siapa gerangan yang berdiri hanya terpaut tiga meter dari posisinya yang duduk.
"Cih." Chanyeol berdercih, meskipun tahu keadaan sesungguhnya, ia masih tidak bisa terima saat mengingat kembali Kyungsoo yang akan memaafkan Jongin. Menurut Chanyeol, paling tidak, Kyungsoo harus menyuruh Chanyeol atau siapapun memukuli Jongin hingga lelaki itu terbaring lemah selama seminggu di rumah sakit, dengan tulang patah dibeberapa bagian tubuh.
"Bukan Baekhyun yang memberitahu Chanyeol hyung, tapi aku sendiri." Jongin berbicara memecah hening di antara mereka.
Baekhyun menghepa napas merasakan ketegangan yang ada, ia kemudian berdiri, menarik Chanyeol pergi sebelum lelaki tiang itu lepas kendali.
"Ba-baek, kau mau kemana?" Nyatanya, suaranya bergetar, Kyungsoo masih belum mampu memaafkan masalalunya.
Baekhyun kembali berjalan menuju sisi Kyungsoo, memeluk lembut wanita itu, berbisik, "Kau harus menyelesaikannya hari ini. Chanyeol akan menceritakan sesuatu padamu jika kau benar-benar telah berhasil melalui ini." Melepas peluk, Baekhyun berjalan meninggalkan Kyungsoo, ia bertukar pandang dengan Jongin, dan menepuk pundak lelaki itu sekilas. Kyungsoo sedikit tidak percaya melihat Baekhyun yang terlihat menerima keberadaan Jongin. Biasanya kan ia akan menampar saat itu juga.
"Baekhyun-sii, Chanyeol hyung," Baekhyun dan Chanyeol berhenti tepat di tepi pintu, "Terima kasih." Baekhyun mengangguk, sedang Chanyeol mendengus sambil lalu.
Setelah pintu di tutup, baik Jongin maupun Kyungsoo tidak berbicara apapun. Kyungsoo, wanita itu, Jongin bisa melihat jelas tubuhnya sedikit bergetar.
"Apa kau takut padaku?" Tanya Jongin begitu saja. Kyungsoo yang sedari tadi hanya memandang ke ujung jari kakinya yang mencuat dari balik selimut, akhirnya berani melihat ke arah asal suara lelaki yang menariknya untuk balas menatap.
"Kau takut padaku?" Ulang Jongin sambil mengambil langkah lebih dekat.
"Ya." Pada akhirnya, Kyungsoo menjawab pelan, sejujurnya, dari pada takut karena perbuatan Jongin di masa lalu, ia lebih takut akan perasaannya sendiri. Bukankah sudah seharusnya ia memaafkan masa lalunya? Sudah seharusnya ia bisa membiarkan Jongin berlalu lalang secara bebas di mana saja tak terkecuali teritori hatinya.
"Kyungsoo," Panggil Jongin lembut, membawa Kyungsoo pada masa di mana Jongin menunggunya saat latihan musik, atau saat Jongin merajuk karena Kyungsoo terlalu sibuk dengan buku di perpustakaan.
"Kyungsoo," Panggil Jongin lagi, dan Kyungsoo tahu jika jaraknya dan Jongin terlampau dekat, Jongin tepat berada di hadapannya, memandangnya dengan raut wajah yang tak mau Kyungsoo lihat. Jongin tidak cocok dengan raut wajah itu, raut wajah yang penuh kekecewaan, penyesalan, dan kesedihan terdalam.
"Kyungsoo," Kyungsoo terkejut saat tiba-tiba Jongin membawanya dalam pelukan, ia ingin melepas peluk, namun Jongin kembali menyebut namanya, dengan nada paling putus asa yang pernah wanita itu dengar.
"Kyungsoo ... Kyungsoo... " Jongin menyebut nama Kyungsoo berulang-ulang, seperti mantra yang mungkin saja bisa membawanya kembali pada masa lalu, atau bisa menyembuhkan segela kepedihan yang Kyungsoo alami karenanya. Jongin, memang belum mendengar cerita apa yang di alami oleh Kyungsoo di masa lalu, namun, setelah segala kejadian yang ia lihat dengan matanya, ia bahkan tidak sanggup mengeluarkan kata maaf, ia tidak mampu meminta Kyungsoo untuk memaafkan dirinya.
"Jongin," Lirih Kyungsoo dalam pelukan lelaki itu, ia ingin meminta Jongin melepas pelukannya, namun seketika ia terkejut saat tangannya basah oleh air mata milik Jongin.
"Jo-jongin, kau menangis, kena-"
"Kyungsoo," Potong Jongin sebelum wanita itu selesai dengan kalimatnya, "Dengarkan aku." Kyungsoo tidak menjawab, ia kembali terkejut karena air mata pria itu seperti berlomba membasahi tangannya. Dan Kyungsoo sadar, jika ia tidak lagi bergetar dalam pelukan lelaki itu.
"Jika nanti kau mendengar sebuah cerita dari Chanyeol hyung atau siapapun tentang aku, tolong, tolong, jangan percaya apapun. Tolong jangan pernah maafkan aku." Ujar Jongin dalam satu tarikan napas berat. Kyungsoo masih memproses kalimat Jongin barusan, namun kemudian lelaki itu melepas peluknya, memegang erat pundak Kyungsoo, mata keduanya saling menatap dalam, mencoba selamat dari apa yang dipendam ke duanya. Lalu, Kyungsoo tersadar saat bibir Jongin menyentuh keningnya, kecupan itu lama dan dalam, sekali lagi air mata Jongin jatuh membasahi pipi Kyungsoo.
Jongin melepas tangannya dari bahu wanita itu, mengacak pelan rambut Kyungsoo, dan berujar sangat pelan, "Cepatlah sembuh."
Kyungsoo terperangah, ingin memanggil kembali Jongin, namun yang ia bisa hanyalah memandang kepergian lelaki itu dalam diam. Lalu, saat Jongin benar-benar hilang dari pandangan, Kyungsoo menemukan air matanya luruh, sesuatu dalam tubuhnya semakin merasa kekosongan dan kehampaan yang luar biasa.
"Apa ini?" Gumamnya sembari menekan kuat ke arah dadanya yang berdenyut.
"Kenapa?" Tanyanya lagi pada diri sendiri, ia memukul keras dadanya yang seperti sesak.
Jongin, Kyungsoo harus bicara dengan lelaki itu. Ia nyaris melepas jarum infus di punggung tangan jika saja Baekhyun tidak segera memergokinya.
"Mana Jongin, Baek!?" Tanya Kyungsoo sedikit berteriak. Entah mengapa, Kyungsoo merasa ada sesuatu yang lebih sakit menerpa tubuhnya, senyum Jongin sebelum pergi, menggores luka baru, dan hal yang terpikir olehnya adalah, ia tidak ingin kehilangan. Entah itu Jongin saat ini, maupun Jongin di dalam kenangan indahnya.
"Baek!!!" Teriak Kyungsoo sedikit frustasi.
"Dia pergi bersama Chanyeol. Dia harus menemui seseorang."
"Siapa?" Tanyanya cepat.
"Seseorang yang akan menunjukkan kegelapan pada waktu yang ia tinggalkan."
Dengan begitu, Kyungsoo terdiam, tidak menjawab. Ia tahu siapa yang di maksud Baekhyun.
Dan Baekhyun nyaris menangis saat Kyungsoo berkata padanya, "Baek, tolong katakan pada mereka untuk tidak menyakiti Jongin."
Kyungsoo, sebenarnya, kau itu manusia atau bukan? Bagaimana bisa kau mampu mengasihi saat kau yang lebih butuh hal itu? Bagaimana bisa cintamu mengalahkan segala bentuk perasaan jahat di dunia? Kyungsoo, aku harap, kau akan segera terlepas dari jalan gelap dan kotor ini. Aku harap kau akan benar-benar bahagia.
Baekhyun mengucap doa dalam hati, dengan lantang ia menantang Tuhan untuk mengabulkan doanya.
.
Persahabatan di bangun atas dasar percaya juga kepedulian yang tinggi. Persahabatan telah lulus uji jika yang saling bersahabat sudah pernah merasakan hinaan, makian, bahkan pukulan yang berasal dari sahabat itu sendiri.
Tapi, persahabatan akan lemah, jika salah satu dari mereka telah berhenti untuk percaya karena merasa terluka harga dirinya.
Sudah tujuh tahun sejak pertengkaran itu berlalu, dan hari ini ia menemukan pesan masuk di ponselnya, yang berasal dari sahabat yang selalu iabdoakan mati itu.
"Kau yakin, Hun-ah?" Tanya Luhan, wanita cantik yang telah berstatus sebagai istri dari seorang Oh Sehun.
"Aku telah menunggu hari ini bertahun-tahun lamamya, Hann-ie. Kau jelas tahu itu." Jawab Sehun mantap. Mereka berdua saat ini telah berada di dalam mobil yang akan mengantar keduanya ke dua tujuan yang berbeda. Luhan akan pergi ke rumah sakit menengok Kyungsoo karena wanita itu belum sempat melihat keadaan Kyungsoo karena ia juga baru tiba dari China. Sedang Sehun akan menuju ke Victory Bar, bar milik Yifan hyung.
"Jangan sampai terjadi pertumpahan darah, Hunnah." Ujar Luhan sedikit khawatir pada keadaan Jongin.
Sehun tertawa pelan mendengar kekhawatiran Luhan, "Tidak akan, sayang. Jongin masihlah sahabatku. Tidak akan berubah oleh apapun." Dengan begitu, Luhan merasa lega, ia berjalan meninggalkan mobil Sehun yang juga telah kembali membelah jalanan.
Victory Bar hari ini sengaja di liburkan, Yifan juga tidak mengerti mengapa Sehun meminta mereka untuk bertemu secara tiba-tiba.
"Jadi Sehun, bisa kau jelaskan alasan yang membuatku harus menutup barku seperti ini?" Tanya Yifan pada Sehun yang duduk tenang di hadapannya. Terlihat Jondae yang juga mengangguk membenarkan pertanyaan Yifan.
"Kau tidak akan jatuh miskin hanya karena Bar ini tutup sehari, Hyung." Jawab sehun santai, ia mengitung pelan detik yang berlalu.
"jangan berbelit-belit, Sehun."
"Cks. Jadi alasan aku mengajak kalian bertemu adalah-"
Suara langkah memutus kalimat Sehun, dan Sehun menyeringai sesaat.'Oh, aku sangat tidak sabar.' Batin Sehun semangat.
"Chanyeol hyung," Sapa Sehun kelewat semangat, Yifan dan Jongdae memandang aneh Sehun karena anak itu tidak biasanya berekspresi banyak,
"Dan, Lama tidak berjumpa, Kim. Jongin." Dan Yifan maupun Jongdae baru menyadari jika Chanyeol tidaklah sendirian.
"Sehun." Sapa Jongin datar, namun matanya memindai perawakan Sehun yang tidak banyak berubah. Masih sama seperti tarakhir yang ia lihat.
"Sebenarnya ada apa, Sehun? Mengapa kau menyuruh kita berkumpul?" Tanya Jongdae saat mereka telah menempati dudukmya masing masing. Sehun duduk bersebelahan dengan Chanyeol yang sudah jelas mengerti rencana Sehun, Yifan duduk bersisian dengan Jongdae sedang Jongin duduk di hadapan Yifan dan Jongdae. Terlihat seperti tersangka.
"Hyung-hyungku tersayang, kalian ingat saat aku mengatakan akan segera memanggil kalian jika pria itu menunjukkan wajahnya padaku, bukan?"
Alis Yifan tertarik ke atas, "Lalu? Kau berhasil bertemu dengannya?" Tanya Yifan sedikit malas, ia tidak yakin Sehun akan jujur saat ini.
"Kau terlihat tidak tertarik, Hyung."
"Aku akan lebih tertarik jika kau membawamya ke hadapanku. Sekarang." Ujar Yifan dingin.
"Sehun," potong Chanyeol, Sehun melirik dengan pandangan bertanya.
"Kyungsoo menghubungiku. Katanya, jangan menyakitinya." Mendengar Chanyeol menyebut nama Kyungsoo membuat Yifan, Jongdae, bahlan Jongin terlihat penasaran.
"Kyungsoo benar-benar, " Sehun mendesah, "Bagaimana bisa ia selalu memaafkanmu, Kim Jongin?"
Sontak semuanya memandang ke arah Jongin yang duduk tenang.
"Apa maksudmu, Sehun?" Yifan bertanya tidak sabaran.
"Seperti katamu, aku membuatnya lebih menarik. Aku membawa pria brengsek itu sekarang, dia duduk tepat di depanmu." Dan alangkah terkehutnya Yifan dan Jondae saat mengetahui kebenaran yang Sehun katakan.
"Jongin," Ancaman terdengar jelas dalam nada bicaranya, "Kau benar-benar orang itu?" tanya Yifan dengan menatap tajam lelaki itu.
Jongin tidak menjawab, tapi kemudian ia mengangguk. Yifan maupun Jongdae terkejut bukan main. Selama ini mereka mencari seseorang yang paling dekat dengan mereka, begitu?
Tapi, kenapa harus Jongin.
Baru saja Yifan ingin membuka suara, namun matanya telah menangkap pergerakan Jongdae yang menuju ke arah Jongin dengan cepat, dan
Bugh!!!!
Sebuah pukulan keras mendarat tepat di rahang lelaki berkulit tan itu.
Jongin terpelanting pada sandaran sofa. Ia sedikit meringis meskipun pukulan tersebut sudah lebih dulu di antisipasinya. Jongdae kembali menarik kasar kerah kemeja Jongin, memaksa Jongin untuk berdiri menatap wajah penuh amarah Jongin.
"Bagaimana bisa kau bahkan tidak tahu malu untuk menemui Kyungsoo, Jongin?" Desis Jongdae penuh amarah, kemudian ia melayangkan lututnya ke arah perut Jongin.
Bugh!!!
"Kkhhh." Jongin mengerang merasakan sakit yang kuat di area perutnya. Tidak mengira pukulan Jongdae sama sekali menyakitkan.
"Jongdae hyung," Panggil Sehun menginterupsi, Jongdae yang baru akan kembali menarik Jongin, terpaksa menghentikan pergerakannya, "Kyungsoo tidak ingin kita menyakiti Jongin, loh."
"Cih. Anak itu bahkan masih mau melindungi bajingan brengsek seperti ini." Jongdae kembali menuju sofa setelah sebelumnya memberi tendangan di area kaki Jongin.
"Kau tidak ingin memukulnya juga, hyung?" Tanya Sehun pada Yifan yang masih duduk tenang di sofanya.
Yifan melihat Jongin yang berusaha berdiri kembali akibat pukulan Jongdae. Yifan sejujurnya bukan hanya ingin memukuli Jongin, namun juga ingin mencekik leher lelaki yang lebih muda darinya itu. Namun, sebagai yang lebih dewasa, ia tentu bisa melihat jauh lebih dalam ke mata lelaki itu. Jonginpun terlihat tidak melawan saat Jongdae memukulinya, itu berarti Jongin dengan sengaja menemui mereka dengan suatu kepentingan. Dan juga, Yifan hanya mengikuti kemauan Kyungsoo, untuk tidak melukai Jongin atau hanya sekedar menunda.
"Apa yang kau inginkan, Jonginah?" Tanya Yifan saat Jongin berhasil berdiri dari duduknya, "Duduklah dulu."
Jongdae, Sehun, dan Chanyeol tidak mengira Yifan akan berbaik hati begitu, karena mereka tahu. bahwa Yifan adalah tempat Kyungsoo bergantung lebih banyak selama ini.
"Aku. .. Ingin mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi pada Kyungsoo yang tidak aku ketahui. Aku, benar-benar tersiksa dengan ketidak tahuanku pada penderitaannya selama ini."
Yifan menyandarkan tubuhnya setelah mendengar permintaan Jongin. 'Jadi begitu, ya?' guman Yifan dalam hati.
"Jongin," Panggil Sehun, "Dengarkan baik-baik dan gunakan otakmu itu untuk menggali semua ingatan yang mungkin kau nyaris lupa." Jongin mengangguk mengiyakan.
"Itu terjadi pada akhir oktober, setelah perayaan Halloween yang di adakan oleh kampus. Malam itu aku melihatmu pergi bersama Kristal dalam keadaan mabuk."
Jongin terlihat berpikir, menggali ingatan apapun yang mungkin bisa meningatkannya. Namun melihat dari reaksinya, semuanya tahu bahwa Jongin tidak bisa mengingat.
"Aku karena merasa sesuatu yang tidak mengenakkan akan terjadi, kemudian mengikutmu. Dan rupanya kalian masuk pada sebuah arena balap. Aku mencoba masuk, namun tidak di izinkan karena memerlukan ID." Lanjut Sehun.
"Balap?" Tanya Jongin yang di angguki Sehun.
"Kau ingat?" Tanya Sehun namun Jongin sama sekali tidak memiliki ingatan tersebut di kepalanya. Ia bahkan tidak tahu menahu soal dirinya yang mabuk.
"Besoknya, aku mencoba menemuimu untuk bertanya urusan apa yang kau lakukan di arena balap itu, namun Kristal, selalu saja menempel seolah mencoba menjauhkan aku darimu sehingga aku kesulitan mengajakmu bicara selama berhari-hari." Sehun melihat Jongin, kemudian bertanya, "Kau percaya pada Kristal?" Tanyanya.
Jongin bingung mengapa Sehun bertanya soal Kristal padanya. Jika di tanyai apakah ia percaya, sudah pasti ia percaya pada wanita teman masa kecilnya itu.
"Ya. Aku percaya padanya. Aku ingat saat di mana Kristal bersamaku, itu karena-"
Karena kau melihat Kyungsoo bersama lelaki lain, bukan?" Jongin mengangguk, tidak mengira Sehun juga mengetahui hal tersebut.
"Bagaimana bisa kau tahu?"
"Aku tahu apa yang bahkan tidak kau ketahui." Jawab Sehun, "Bagiamana jika aku katakan, bahwa pada hari itu Kyungsoo bukan menerima uang melainkan ia yang memberikan uang tersebut?" Lanjut Sehun.
Jongin sama sekali tidak mengerti apa yang coba di sampaikan Sehun padanya.
"Kau ingat pertengkaran kita? Saat itu aku ingin menjelaskan sesuatu padamu tentang Kyungsoo tapi kau berkata seakan tidak peduli. Aku masih bersikeras mencoba bicara baik-baik, tapi rupanya emosi menguasaimu." Jongin ingat saat itu dan juga kalimat 'kau akan menyesal, Jongin', Jongin masih mengingatnya dengan jelas. Pada hari itu emosinya terbakar karena melihat kekasihnya menerima uang dari orang lain dan dia juga mendengar beberapa rumor buruk tentang kekasihnya. Dan dengan bodohnya ia percaya karena sebuah perasaan paling lemah bernama cemburu.
"Jongin, jika saja pada saat itu kau tidak termakan cemburu, jika saja pada saat itu kau tidak mendengarkan bujuk rayu wanita ular itu, dan jika saja pada saat itu aku berhasil menemuimu, mungkin, semuanya tidak akan salah arahnya." Sehun sedikit terengah dengan kata-katanya. Sesungguhnya ia bukanlah seseorang yang suka berbicara banyak, namun sahabat yang dia doakan mati itu perlu di cerahkan ingatannya.
"Kyungsoo adalah korban dari keserakahan Kristal untuk memilikimu." Ujar Sehun oada akhirnya.
"Apa maksudnya Sehun?" Tanya Jongin belum juga mengerti.
"Alasan dari semua ingatan yang tidak bisa kau ingat itu adalah karena Kristal mencampurkan sesuatu ke dalam minumanmu sehingga kau terlihat sangat mabuk, namun meskipun mabuk, yang terpengaruh hanyalah bawah sadarmu sedang tabuhmu masih bisa melakukan apapun sendirian. Malam itu, selepas perayaan kampus, jika saja kau bisa menggali ingatanmu, maka kau akan menemukan dirimu yang melakukan balapan dengan sebuah taruhan," Sehun menjeda, "Taruhan yang melibatkan hidup Kyungsoo, taruhan yang sebenarnya adalah garis hidup yang kau tulis untuk wanita malang itu."
Jongin sedikit tidak percaya pada apa yang coba Sehun ungkap, namun mata itu bukanlah sebuah kebohongan.
Dengan perasaan takut, ia memutuskan bertanya,
"Taruhan seperti apa yang aku buat, Sehun?"
Dan raut wajah Sehun yang mengeras, semakin meresahkan pikiran Jongin.
"Kau menyerahkan tubuh Kyungsoo pada lawanmu." Ucap Sehun final, dan Jongin merasa sesuatu yang berat menimpa punggungnya.
"Ba-bagaimana bisa kau tahu jika Kristal ada di belakang ini semua?" Tanya Jongin lagi dengan sisa rasa percayanya.
"Aku mendengarnya, saat ia melakukan transaksi itu. Orang kaya sepertimu, bukankah akan lebih mudah menyingkirkan seseoranng. Bukan begitu, Kristal-ssi?"
Dan semua yang berada di bar tersebut langsung saja menoleh ke arah kanan, dari koridor yang menuju pintu belakang bar, seorang wanita cantik tengah di tahan kedua tangannya oleh beberapa penjaga.
Jongin tidak menyangka Sehun akan mendatangkan Kristal pada hari itu, karena ia mengira wanita itu masihlah berada di Jepang.
"Jadi, kau yang bertanggung jawab atas semua ini, Nona Jung?" Tanya Yifan penuh ancaman.
"Jangan dengarkan Oh Sehun brengsek itu, Jonginah. Aku tidak tahu apapun soal ini." Teriak Kristal dengan sedikit menyentak tangannya agar terlepas dari cengkeraman penjaga.
"Hoo, jadi begitu. Kau benar-benar berusaha hingga akhir, ya." Seringai di bibir Sehun membuat Kristal menutup mulutnya. Wanita itu terlihat panik saat Sehun memandanginya tepat di mata.
"Bagiaman jika aku memberikanmu hadiah, Kristal-ssi?" Suara Sehun menyimpan penuh misteri. Ia kemudian menepuk tangannya, dan seorang lelaki seumuran dengannya berjalan dari arah pintu masuk bar.
"K-kau??!!" Jongin berkata penuh amarah di wajahnya. Ia jelas kenal siapa lelaki itu, karena ia pernah nyaris menghilangkan nyawanya.
"Terima kasih telah bersedia datang Min Hyuk-ssi. Langsung saja, kau mengenal wanita itu?" Sehun menunjuk Kristal yang semakin terlihat panik. Dan semakin menjadi saat lelaki bernama Min Hyuk itu berkata,
"Ya. Kristal Jung adalah wanita yang dulu membayarku untuk merusak seseorang bernama Do Kyungsoo." Ujarnya tenang, namun matanya lurus melihat ke arah Kristal.
"Bohong!!!! Jangan percaya padanya Jongin. Ini semua akal-akalan Kyungsoo sialan itu!!" Kristal berbicara seperti kesetanan, membuat Jongin sadar akan betapa ia telah tertipu atas kebaikan wanita itu. Jongin berjalan tergesa ke arah Kristal yang langsung di sambut senyum oleh wanita ular itu.
Plakk!!!
Suara kulit beradu nyaring, Kristal menatap horor wajah Jongin yang sepertu ingin membunuhnya.
"Jo-jongin." Panggilnya terbata karena takut juga efek dari rasa sakit di pipinya.
"Jangan pernah kau sebut nama Kyungsoo dari mulut kotormu itu, sialan!!!!"
Tepat setelah kalimat Jongin selesai, Sehun langsung saja menyiratkan pegawainya untuk membawa Kristal pergi.
Sehun kembali menuju ke arah di mana Min Hyuk berdiri, ia menyuruh Min Hyuk untuk duduk, dan Jongin pun telah kembali pada tempatnya semula.
"Kau bisa mulai sekarang, Min Hyuk-ssi. Semuanya, tolong kau ceritakan pada kami."
Dengan begitu, Min Hyuk mengangguk, ia menceritakan dari awal rencana Kristal hingga akhir saat Jongin menemukannya kembali memperkosa Kyungsoo, juga saat di mana Jongin tidak menemukan Kyungsoo sehingga membuat lelaki itu hampir mati di pukuli oleh Jongin. Ia juga meminta maaf pada semuanya karena ia melakukannya dalam keadaan yang memaksanya untuk melakukan hal bejat itu.
"Terima kasih telah bersedia untuk jujur, Min Hyuk. Kau boleh kembali."
Setelahnya lelaki bernama Min Hyuk itu segera pergi. Meninggalkan kesunyian di antara ke lima lelaki di dalamnya.
Yifan memijat pening pangkal hidungnya begitupula Jongdae. Meskipun telah mengetahui kejadian tersebut dengan pasti, namun saat mendengar seseorang kembali menceritakannya, membuat kadua lelaki dewasa itu merasakan setitik emosi yang penuh amarah. Biar bagaimanapun, apa yang di alami Kyungsoo adalah sudah menjelma neraka dalam hidup wanita malang itu.
Dan juga, kebenaran tentang seseorang yang mendalangi ini semua membuat Yifan sedikit merasa iba.
"Jongin," Panggil Yifan namun Jongin terlalu sibuk dengan pemikirannya.
"Kim Jongin!!!" Teriaknya membuat Jongin berjengit kaget.
Baik Yifan, Sehun, Jongdae, maupun Chanyeol bisa melihat jelas bagaimana sosok Jongin yang terlihat begitu kacau. Sebuah kebenaran menghancurkan dirinya lebih banyak, dan meskipun lelaki, pada akhirnya Jongin bisa juga terlihat rapuh.
"A-aku ..." Suaranya tercekat di ujung lidah, Jongin bahkan tidak bisa melanjutkan apa yang ingin di sampaikannya.
"Sehunah," Panggil Yifan pada Sehun, yang di balas sehun dengan pandangan -ada apa?-,
"Apakah Kyungsoo tahu soal Kristal adalah otak dari semua ini?" Tanya Yifan membuat Jongin menatap penuh rasa penasaran.
"Tidak."
"Kenapa tidak kau beritahu?"
"Karena pada saat itu aku tidak berhasil menemukan Kyungsoo selama empat bulan, dan saat aku kembali bertemu dengannya, aku merasa tidak perlu karena akan lebih baik jika Kyungsoo hidup dengan membenci lelaki ini." Tunjuk Sehun pada Jongin.
Jongdae menghembuskan napasnya dalam.
"Maafkan aku karena memukulimu, Jongin. Biar bagaimanapun, kau juga adalah korban di sini. Kau juga telah menderita sama banyaknya dari penuturan Chanyeol."
Jongin terkejut karena Jongdae memaafkan dirinya.
"Tidak, Hyung. Aku juga telah salah. Jika saja aku lebih dewasa atas perasaanku dulu, semuanya-"
Yifan berdiri tiba-tiba membuat Jongin tiidak berhasil melanjutkan kalimatnya.
"Tidak ada yang perlu di sesali," Yifan berjalan menuju Jongin, "Kyungsoo tidak akan merasa senang jika kau menyalahkan diri sendiri dan jika kita saling menyalahkan." Semuanya membenarkan perkataan Yifan.
"Namun, tanganku gatal ingin memukulmu. Kau mau menerima pukulanku?" Tanya Yifan saat telah berada di hadapan Jongin.
Jongin berdiri, menatap ke arah Yifan. "Akan lebih baik menerima banyak pukulan daripada tidak merasakan apa-apa."
Dan dengan begitu, suara pukulan dan tendangan terdengar beberapa kali, hingga membuat Jongin nyaris tidak mampu untuk menopang tubuhnya sendiri.
"Te- Khhh - terima ka-kasih Hyung." Ujar Jongin terbata sembari menopang tubuhnya pada Sehun dan Chanyeol.
"Setelah ini, lakukan apapun untuk membuat Kyungsoo hidup. Aku merasa nyawa kalian saling bergantung satu sama lain." Anggukan lemah menjadi jawaban Jongin atas perkataan Yifan, meskipun pada nyatanya ia tidak tahu apakah masih memiliki keberanian untuk melihat mata milik wanita itu atau tidak.
"Jika kau menyerah, aku akan benar-benar membunuhmu." Dan kalimat sederhana yang berasal dari seorang Kim Jongdae membuat Jongin membulatkan matanya tidak percaya.
'Ah, mereka benar-benar memberikanku sebuah harapan.' Batinnya.
"Cks, dari dulu kau selalu merepotkanku ya, Kim Jongin." Jongin menoleh ke sisi kirinya di mana Sehun berdiri menopang tubuhnya.
"Kita memang sahabat sehidup semati, Sehunah."
"Ya, aku hidup dan kau yang mati."
Bagi, Jongin , sahabat adalah yang tidak meninghalkanmu meskipun kau salah dan mencoba lari, sahabat adalah mereka yang menonjokmu kuat, namun dengan sabar menuntunmu untuk kembali.
.
TBC
.
Note :
Uh, aku mohon maaf jika Chapter ini sama sekali tidak bisa menciptakan feelnya sendiri, tapi aku harap kalian bisa sedikit menikmatinya.
Maaf sekali lagi. Sampai bertemu di chapter selanjutnya.
Ah iya, aku bingung nentuin endingnya. aku ingin sad ending tapi gak mau juga. hahaha. Ya sudah, nanti ku edit dulu endingnya yah.
sekali lagi maaf dan terima kasih
salam sayang,
anna
mwah.
