Mungkin, semuanya telah benar-benar terlambat. Apa lagi yang bisa diperbaiki dari sebuah kerusakan yang telah patah segala sisinya? Dan keduanya tidak lagi menemukan jawaban dari sebuah pertanyaan, bagaimana menebus sebuah kesalahan?
HURT
Kim Jongin / Do Kyungsoo
(GS)
Happy Reading
Kyungsoo baru selesai menyiapkan sarapan. Hari ini adalah hari pertama ia melakukan aktivitas berat dengan tangannya pasca keluar dari rumah sakit dua minggu lalu. Lukanya masih diperban, tapi ia merasa tidak begitu sakit di tangannya.
"Kyung?" Baekhyun keluar dari kamarnya dengan wajah bangun tidur yang berantakkan. Ini sudah pukul 8 pagi dan ini adalah hari minggu dimana libur adalah hari terbaik dalam hidupnya.
"Kemarilah, Baek. Aku membuat sarapan. Maafkan jika aku merepotkanmu selama ini." Kyungsoo menyendokkan nasi goreng kimchi ke piring Baekhyun.
Baekhyun berdecak mendegar kalimat Kyungsoo kemudian mendekati meja dan duduk di kursi untuk sarapan.
"Berhenti mengatakan hal tidak masuk akal itu Kyung. Kita adalah keluarga, sudah sepantasnya. mengerti?"
Kyungsoo mengangguk kemudian makan dalam diam.
Sejujurnya, Kyungsoo ingin sekali bertanya pada Baekhyun soal di mana Kim Jongin berada. Kyungsoo tidak lagi melihat Jongin sejak hari dimana Jongin datang dan menangis saat Kyungsoo masih di rawat, dan ini sudah hampir sebulan Kyungsoo tidak mendengar kabar Jongin.
Sejak masih di rumah sakit, Kyungsoo memaksa Baekhyun, Sehun, dan Chanyeol untuk menceritakan apa yang terjadi, dan Chanyeol berbaik hati menceritakan segala cerita dari masa lalu Jongin. Saat pertama mendengar kebenaran itu, satu-satunya yang bisa dia temukan dari kalimat bibirnya adakah, "maafkan aku, Jongin".
Kyungsoo merasa sakit mengetui jika selama ini Jongin juga menyimpan luka yang sama seperti dirinya. Jika saja dulu Kyungsoo tidak menyimpan apapun dari Jongin, jika saja Kyungsoo bisa jujur dan bertanya soal taruhan itu, takdir mereka mungkin akan bahagia dan tidak semenyedihkan ini.
Kyungsoo berkali-kali menyalahkan dirinya, padahal baik dia dan Jongin, keduanya hanyalah korban dari keserakahan cinta seseorang.
"Kyung, kau oke?" Baekhyun bertanya saat matanya menangkap aliran tipis dipipi Kyungsoo.
Kyungsoo mengangkat wajah menghadap Baekhyun yang melihatnya khawatir. Bukannya menjawab pertanyaan Baekhyun, yang keluar dari mulutnya adalah,
"Aku ingin bertemu Jongin, Baekhyun-ah. Tolong, katakan di mana dia saat ini." Ucap Kyungsoo sangat pelan dan lemah.
Baekhyun menatap iba, karena sejujurnya diapun tidak tahu menahu perihal keberadaan Jongin. Seperti kehilangan jejak, Jongin bahkan tidak bisa ditemui dimanapun.
Melihat Baekhyun yang tak bergeming, Kyungsoo membereskan peralatan makannya, lalu mengunci diri di dalam kamar. Sesungguhnya, ia hanya ingin bertemu Jongin. Meminta maaf atas apapun yang telah menyakiti Jongin di masa lalu. Karena Kyungsoo merasa ini salahnya, Kyungsoo merasa kehampaan yang luar biasa karena rasa bersalah dan perginya Jongin yang tiba-tiba.
Baekhyun sedari tadi menatap khawatir pintu kamar Kyungsoo. Ia takut jika Kyungsoo akan berbuat hal yang tidak-tidak, tapi setidaknya ia masih mendengar suara menangis Kyungsoo samar-samar. Sesekali ia memanggil nama Kyungsoo, dan di jawab dengan kalimat -aku baik-baik saja- dari Kyungsoo.
Ketika sedang bingung dengan keadaan Kyungsoo, tiba-tiba Baekhyun berdiri tergesa menuju kamar Kyungsoo. Setidaknya, cara yang ditemukannya ini bisa menjadi petunjuk satu-satunya.
tuk.tuk.tuk.
"Kyung?"
"Hmm"
"Mau ku antar ke rumah Jongin? Jika Chanyeol tidak bisa mendapat informasi apapun, bagaimana jika kau yang mencoba? Menayakan langsung kepada orang tua Jongin. Kau mau?"
Tidak terdapat suara apapun, tapi kemudian suara pintu terbuka membuat Baekhyun lega. Kyungsoo muncul dengann wajah sedikit cerah meski masih ada jejak air mata di wajahnya.
"Kau mau menemaniku?" Baaekhyun mengangguk.
"Terima kasih, Baek." Kyungsoo memeluk erat Baekhyun, yang hanya dibalas kekehan oleh wanita bermata sipit itu.
Dan disinilah mereka sekarang. Di depan pintu bercat putih gading yang kokoh. Menunggu seseorang membukakan pintu untuk keduanya.
"Maaf, nona. Apakah ada yang bisa saya bantu?" Seorang wanita tua menyambut kedatangan Baekhyun dan Kyungsoo.
"Apakah Tuan dan Nyona Kim ada? Kami ingin bertemu." Wanita tua tadi mempersilahkan keduanya masuk dan menunggu di ruang tamu, sembari ia memanggil Tuan Kim dan Nyonya Kim.
Setelah menunggu kurang dari sepuluh menit, akhirnya Kyungsoo dan Baekhyun mendengar langkah kaki menuju ke arah mereka. Dan begitu Kyungsoo melihat dua orang yang begitu dikenalnya dulu, ia langsung berdiri membungkuk sopan. Sedangkan kedua orang yang kebih dewasa di sana berdiri terpaku melihat siapa tamu mereka.
"Kyungsoo?" Kemudian suara perempuanlah yang lebih dulu melenyapkan keheningan di ruang tamu itu.
"Apa kabar, Eomma?" Begitu Kyungsoo selesai dengan kalimatnya, seseorang yang disebut eomma langsung mendekat secara tergesa ke arah Kyungsoo, dan memeluk Kyungsoo dengan erat. Pelukan kerinduan, pelukan permintaan maaf.
"Maafkan eomma, Kyung. Maafkan eomma." Kyungsoo menggeleng pelan masih dalam pelukan orang yang disebutnya eomma, yang tidak lain adalah eomma kandung dari Kim Jongin.
"Duduklah dulu Yuri-ah." Suara berat pria menginterupsi pelukan Kyungsoo dan Yuri eomma Jongin. Kyungsoo melihat ke arah pria paruh bayah yang berdiri lima langkah dari tempatnya.
"Appa... "
"Kemarilah anakku." Ucap Siwon, ayah dari Jongin, yang di panggil appa oleh Kyungsoo.
"Terima kasih telah kembali, Kyungsoo." Siwon berkata pelan ketika Kyungsoo telah masuk ke pelukannya. Ia menepuk punggung Kyungsoo lembut.
Setelah Siwon melepas pelukannya, mereka kembali duduk dengan Yuri yang duduk di sisi Kyungsoo, Siwon di sofa single di samping Kyungsoo, dan Baekhyun di sofa yang berhadapan dengan Kyungsoo dan Yuri.
"Eomma, appa, kenalkan, ini Baekhyun, dia yang selama ini bersamaku." Baekhyun memperkenalkan dirinya karena memang dia belum mengenal orang tua Jongin.
Yuri membelai lembut rambut Kyungsoo, menyalurkan kerinduannya. Air matanya sesekali menetes begitu matanya menangkap luka dipergelangan Kyungsoo. Karena Yuri telah mengetahui segala kebenaran dari masa lalu anaknya, karena anaknya sendiri yang telah jujur akan semua hal menyedihkan itu.
"Appa, maafkan aku baru bisa bertemu kalian saat ini. Aku tidak bisa menceritakan apapun pada kalian, tapi hari ini aku datang ingin meminta sesuatu."
Siwon dan Yuri menatap Kyungsoo, mereka jelas tahu apa yang ingin dimintai oleh Kyungsoo. Bagi siwon dan yuri, Kyungsoo sudah seperti anak kandung mereka sejak pertama kali Jongin mengenalkan wanita itu sebagai kekasihnya bertahun-tahun lalu. Siwon dan Yuri pun tahu jika Kyungsoo telah putus dengan Jongin namun pada saat itu keduanya tidak mengetahui alasan seperti apa yang terjadi dibalik itu. Kyungsoo tiba-tiba menghilang, dan Jongin terlibat sebuah perkelahian yang fatal. Namun, keduanya kini mengetahui segalanya karena Jongin telah mengatakan semuanya sejak tiga minggu lalu.
.
.
.
"Astaga?!! Apa yang terjadi padamu, Jongin??!!" Yuri buru-buru ikut memapah Jongin bersama Sehun, lalu di duduk-an di sofa yang ada di ruang keluarga.
"Kau terlibat perkelahian?" Tanya Yuri lagi begitu anaknya telah duduk.
"Ada yang harus ku katakan kepada eomma dan appa." Jawab Jongin pelan. Sehun menatap Jongin ragu. Sehun takutnya Jongin hanya akan memperparah lebam di wajahnya.
"Appa belum pulang kantor. Cerita ke eomma saja dulu. Kenapa kau terlibat perkelahian?" Paksa Yuri tegas, namun tidak mendapat respon dari Jongin. Yuri menatap Sehun dan dia baru tersadar ini adalah kali pertama selang kurun waktu tujuh tahun ia melihat Sehun berkunjung ke rumah mereka.
"Sehun, kau tahu sesuatu?"
"Aku akan menjelaskan jika appa telah kembali, eomma." Jongin berbicara ketika Sehun baru akan membuka suara.
Yuri ingin bertanya lagi, namun suara lain menginterupsinya.
"Apa yang akan kau katakan jika appa telah kembali?" Siwon muncul dengan pakaian kerja yang masih lengkap.
Sehun, Yuri, dan Jongin menatap ke arah Siwon yang duduk di tempat sehun.
"Apa yang ingin kau katakan, Jongin?" Tanya Siwon lagi.
Jongin menatap Sehun yang juga menatapnya. Sehun mengangguk seakan memberi kekuatan. Sehun kemudian mengambil ponselnya lalu mengetikkan sesuatu di sana. Karena saat ini dia tidak akan bisa menolong Jongin. Hanya orang itu yang bisa.
"Appa, eomma, pertama, aku ingin membatalkan pernikahanku dengan Kristal. aku tidak akan meminta maaf atas keputusanku." Jongin menatap Siwon dan Yuri yang terlihat kaget secara bergantian.
"Jangan seperti anak kecil, Jongin!!" Siwon berucap dengan sedikit penekanan. .
"Aku punya alasan." Jongin sama sekali tidak menambah volume suaranya.
Siwon menghela napas, lalu menghembuskan secara perlahan.
"Appa harap alasanmu masuk akal untuk membatalkan pernikahanmu yang kurang dua bulan lagi!"
"Ini lebih dari cukup, appa." Ujar Jongin pelan.
Siwon mengangguk, Yuri hanya mengenggam jemari anaknya. Biar bagaimanapun ia masih khawatir dengan lebam di tubuh anaknya itu.
"Aku bertemu Kyungsoo."
Siwon dan Yuri sangat terkejut, nama itu sudah terlalu lama hilang dari kehidupan mereka.
"Nak, kau tahu betul, appa dan eomma menyayangi Kyungsoo sama halnya anak kami sendiri. Tapi, bertemu Kyungsoo saat sekarang tidak cukup untuk menjadikan alasan batalnya pernikahanmu. Kau sendiri yang bilang bahwa Kyungsoo sudah kau hapus dari hidupmu." Yuri berucap perlahan, mencoba mengerti anaknya.
"Kyungsoo bukanlah alasannya. Aku baru akan menjelaskan alasanku yang sebenarnya." Siwon mengernyit. Jika bukam Kyungsoo, lalu apa? Firasatnya sesuatu yang buruk telah terjadi.
Jongin meghembuskan nafasnya pelan, mengambil beberapa kekuatan untuk menceritakan kisah menyedihkan itu.
Setelahnya, Jongin mulai menjelaskan kejadian sebenarnya dari kisah tujuh tahun lalu, tentang Kristal, tentang kebodohan Jongin, tentang bunuh diri Kyungsoo, segala cerita yang seperti sembilu di dalam hati Jongin sendiri. Tiada satupun yang ia lewatkan. Semuanya dikatakannya, beserta kebodohannya selama ini.
Jongin mengakhiri ceritanya dengan napas yang tersengal. Ada sesuatu yang menyepit di dalam paru-parunya. Kenyataan hidup Kyungsoo selama ini menjelma apapun yang menghujamkan kesakitan di tubuhnya.
Jongin menatap wajah Siwon yang memerah menahan amarah, dan Yuri yang telah menutup mulutnya terkejut. Kenyataan yang sama sekali tidak pernah diketahui oleh keduanya. Yuri berulang-ulang menyebut nama Kyungsoo dalam tangisnya.
Siwon mengambil ponselnya lalu menelpon seseorang.
"Batalkan pernikahan Jongin dan Kristal. Dan Tuan Jung, kita akan bertemu di pengadilan."
Setelahnya Siwon melempar ponselnya ke atas meja. Lalu menatap Jongin tajam.
"Jongin," Panggil Siwon dengan nada mengerikan yang pernah Jongin maupun Sehun dengar, "Appa tidak tahu jika anak appa sangat menjijikkan seperti dirimu." Siwon melangkah ke arah Jongin lalu menarik kerah kemeja Jongin kasar.
"Kau diam di tempat, Sehun!!" Sehun sudah mengira hal ini.
Bugh. Bugh. Bugh.
Pukulan itu dilayangkan ke seluruh tubuh Jongin. Dari wajah, perut, tendangan di kaki, pukulan di wajah lagi, hingga Jongin tersungkur, dan Yuri memekik dan menangis. Sehun cepat-cepat menenangkan Yuri. Mereka berdua tahu, mereka tidak bisa melakukan apapun.
"Berdiri, Jongin. Jika Kyungsoo nyaris mati berkali-kali, maka kau harus merasakan hal yang sama!!!" Siwon menarik Jongin yang jelas sudah tidak bertenaga. Pukulan dari hyung-hyungnya saja masih terasa di tambah pukulan dari appanya.
Bugh. Bugh.
Suara pukulan masih beradu, Jongin sudah terkapar di lantai rumahnya sendiri.
Bugh.
Tendangan di perut mengeluarkan suara erangan pelan dari Jongin.
Siwon baru akan menarik Jongin lagi namun seseorang menahan pergerakannya.
"Paman, berhenti. Jongin hampir mati!!" Chanyeol menahan Siwon dan menarik Siwon menjauh dari Jongin. Chanyeol menatap Sehun dan memberi kode untuk membantu Jongin duduk.
"Lepaskan, Chan! Bajingan itu harus diberi pelajaran!!!"
"Tenanglah dulu paman. Bicarakan baik-baik. Jongin menyadari kesalahannya, bukankah itu bisa sedikit termaafkan?"
Merasa Siwon sudah tenang, Chanyeol melepaskan tangannya dari Siwon. Siwon langsung duduk dan memijat kepalanya pening. Chanyeol langsung saja duduk di sisi Siwon.
"Bagaimana keadaan Kyungsoo?" Tanya Siwon pada akhirnya. Sejujurnya, ia baru tahu Jika Chanyeol ternyata gahu menahu dengan gadis yang dulu di carinya setengah mati.
"Dia semakin membaik, namun masih perlu waktu buat recovery tendonnya yang nyaris putus. Hanya butuh berapa minggu untuk keluar dari rumah sakit."
Siwon mengangguk, lalu menatap wajah anaknya yang terlihat kesakitan. Siwon akui, Jongin bahkan menerima semua pukulannya, menandakan Jongin telah mengakui segala kesalahannya.
"Chanyeol, Sehun, pulanglah. Ada hal yang harus paman bicarakan dengan Jongin."
"Paman tidak akan membuatnya mati, kan?" Tanya Chanyeol dan Sehun khawatir. Siwon tertawa pelan.
"Tenanglah. Anak itu akan segera mati dengan sendirinya. Pulanglah."
Dengan begitu, Chanyeol dan Sehun pamit dan berlalu dari kediaman Siwon.
"Jongin," Panggil Siwon saat hanya tinggal ia dan Yuri dan Jongin.
Jongin menatap ke arah Siwon perlahan. Rasanya matanya membengkak akibat pukulan dari ayahnya itu.
"Bereskan pakaianmu. Dan terbanglah ke Hongkong. Tinggalah disana sampai ayah menyuruhmu kembali."
Yuri dan Jongin menatap Siwon terkejut.
"Jongin baru saja kembali dan kau menyuruhnya pergi?" Tanya Yuri, ia masih khawatir dengan keadaan anaknya meskipun ia sama marahnya dengan Siwon.
"Dia harus merenungi kesalahannya Yuri-ah. Aku bahkan tidak bisa bertemu Kyungsoo karena perbuatannya."
Yuri terdiam. Ia juga tidak tahu harus bagaimana jika bertemu gadis itu.
"Aku akan pergi. Aku harus pergi." Jongin berbicara perlahan, tapi masih bisa di dengar oleh Siwon dan Yuri.
"Panggil dokter Choi, obati anak itu." Dengan begitu Siwon berlalu dari hadapan Jongin dan Yuri.
"Maafkan aku, eomma. Maafkan aku." Jongin menangis, dan Yuri langsung memeluk anaknya itu.
"Eomma yakin, Kyungsoo telah memaafkanmu, memaafkan kita, Jonginnah." Yuri bisa membayangkan senyum hangat anak gadisnya itu.
.
.
.
"Eomma, Appa. Katakan di mana Jongim berada. Aku ingin bertemu dengannya."
Suara Kyungsoo menyadarkan Siwon dan Yuri dari ingatan tiga minggu lalu.
Yuri menatap Siwon dibalas tatapan yang sama.
"Jongin pergi, Kyungie-yaa. Dia harus pergi." Yuri mengusap lembut rambut Kyungsoo.
"Aku ingin bertemu dengannya, eomma. Tolong." Kyungsoo menatap Yuri dengan tatapan memohon. Biar bagaimanapun dia harus bertemu Jongin.
"Kau tidak perlu bertemu lelaki bajingan seperti dia Kyungsoo-yaa." Siwon menatap Kyungsoo yang menggeleng.
"Tidak, appa. Aku harus bertemu Jongin. Aku harus meminta maaf padanya. Aku tidak bisa jika ia belum memaafkanku." Air mata Kyungsoo mengalir, Yuri dan Siwon merasakan nyeri di hati mereka. Kyungsoo, hatimu itu terbuat dari apa sesungguhnya?
"Appa, hmm? Tolong katakan dimana Jongin berada?" Siwon memijat kepalanya yang pening. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Kyungsoo terlalu jauh terlalu memiliki hati yang baik. Padahal kehidupan dan anaknya telah menorehkan tinta gelap di sana namun Kyungsoo bahkan merasa bersalah akan hal itu.
"Aku masih terlalu mencintai Jongin, eomma." Kyungsol menunduk, "Aku masih mencintai... Jongin... " Lirih Kyungsoo.
TBC.
Note :
Haiiiiii yorobun.. Anna's comeback.
ada yang nungguin? gak ada? udah tau emang gak ada. sok banget ngira bakal di tungguin.
tapi tapi tapi, gakpapah.
anna bakal kambek sekalipun gak ada yang nungguin. hehe.
chapter ini very very very membosankan. harap maklum. anna udah revisi berkali kali dan emang stuck di situ mulu. ini senenarnya udah bagian dari chapter terakhir tapi sengaja anna bagi biar makin lama Tamatnya. wkwkwk. g.
chapter selanjutnya anna bakal post jam 9 malam nanti. kalau telat, maafin. hehe.
udah ah. semoga suka. kalau gak, ya suka in aja biar anna senengan dikit. hehe.
bacot banget ya, hehe.
bye bye.
siyunexcapter babe.
Salam rindu,
anna *
