Bagaimana jika kehidupan memberimu satu kali lagi kesempatan? Apakah kau meraihnya? Atau berakhir dengan merasa bersalah lalu menyerah?
Hurt
Kim Jongin / Do Kyungsoo
Other
Happy Reading
"Kau yakin tidak perlu ku temani?" Baekhyun bertanya khawatir pada seseorang yang yang berada di depan pintu keberangkatan bandara.
"Aku akan baik-baik saja, Baek. Aku akan kembali besok. Percayalah." Kyungsoo merentangkan tangannya untuk memeluk perempuan paling berarti dalam hidupnya itu.
Baekhyun membalas pelukan,
"Berjanjilah kau tidak akan melakukan hal bodoh apapun. Aku bisa mati jika kau melakukan hal konyol lagi, Kyung." Baekhyun berujar nyaris menangis. Biar bagaimanapun, Baekhyun sangat khawatir. Ini kali pertama ia membiarkan Kyungsoo menemui Jongin secara sedirian. Meskipun kenyataan telah terbuka, namun ia tahu sifat Kyungsoo yang terlalu suka menyalahkan diri sediri. Pikiran negatif tidak berhenti melintas dibenaknya.
"Aku pergi, Oke?"
Baekhyun mengangguk, di balas senyum oleh Kyungsoo yang pelan-pelan menjauh. Baekhyun melepas Kyungsoo dengan berat hati. Entah mengapa, sesuatu seperti mengganjal dalam pikirannya. Seperti akan ada hal buruk lagi yang akan terjadi.
Terlalu asik dengan pemikirannya, Baekhyun di kagetkan dengan seseorang yang menepuk pundaknya. Ia menoleh dan melihat Chanyeol di sana.
"Dia pergi?" Tanya Chanyeol. Dia terlambat karena terjebak macet.
"Ya." Jawab Baekhyun singkat.
"Jangan khawatir. Dia akan baik-baik saja." Baekhyun menatap Chanyeol, "Percaya padaku, oke?" Pada akhirnya Baekhyun mengangguk, mencoba menghilangkan segala pemikiran buruknya itu.
"Akan ku antar kau ke rumah sakit." Setelahnya, Chanyeol mengenggam jemari Baekhyun, menuju mobil. Baekhyun dan Kyungsoo sengaja naik taxi ke bandara karena Chanyeol berjanji akan ikut dan mengantar Baekhyun.
"Aku harap semuanya akan segera membaik, Yeollie." Ujar Baekhyun saat kedua telah meninggalkan areal parkiran bandara.
.
.
.
Kyungsoo telah berada di dalam taksi yang akan membawanya kepada Jongin. Ya, saat ini Kyungsoo telah berada di Hongkong berkat paksaannya kepada Siwon dan Yuri untuk memberitahukan di mana Jongin berada.
Kyungsoo memikirkan banyak hal di kepalanya. Reaksi Jongin bertemu dengannya, atau bagaimana cara ia akan menyapa Jongin nantinya. Bagaimana cara dia mengucap maaf, atau apakah Jongin akan memaafkannya.
Kyungsoo mengingat-ngingat hal indah dulu saat mereka masih sangat baik-baik saja. Senyum Jongin, Kyungsoo nyaris lupa dengan lengkung senyum milik lelaki itu, dan untuk terakhir kalianya, setidaknya, dia berharap agar Jongin mau memperlihatkan senyum itu padanya.
Kyungsoo hampir menangis mengingat hal-hal indah saat bersama Jongin dulu. Seharusnya, Kyungsoo jauh lebih tahu bagaimana peduli Jongin padanya dulu. Seharusnya, Kyungsoo bisa lebih bisa melihat luka di mata Jongin saat pertama kali mereka bertemu di hotel tempo lalu. Apakah selama ini Jongin hidup dengan membencinya? Setidaknya itu lebih baik, karena ia sendiri tidak bisa memaafkan dirinya karena telah salah menuduh padahal Jongin jelas tersakiti karenanya.
"Nona, anda telah sampai." Supir taxi membuyarkan pemikiran Kyungsoo. Ia keluar taxi dan membiarkan supir taxi mengeluarkan koper kecilnya dari bagasi.
Kyungsoo menatap bangunan di hadapannya. Seketika ia mendadak gugup. Bagaimana jika Jongin menolaknya? Bagaimana jika Jongin membencinya?
Kyungsoo menggeleng pelan lalu menarik kopernya untuk masuk ke dalam apartmen mewah itu. Menuju lobi, memasuki lift, dan menekan lantai 9.
Kyungsoo menatap pintu kayu coklat di hadapannya. Apakah ia harus menekan bel? Atau ia hanya perlu menunggu Jongin keluar dari rumah? Ini hari minggu dan masih pukul 11 siang.
Setelah bergelut dengan pilihannya, akhirnya Kyungsoo memutuskan untuk menekan bel. Namun dia memilih menjauh dari intercom. Setidaknya, Jongin tidak akan langsung menolaknya.
"Siapa?" Bunyi dari intercom mengagetkan Kyungsoo. Suara Jongin menyapa dari dalam.
Lalu detik berikutnya, suara bunyi klik pintu terbuka, Kyungsoo buru-buru berdiri di hadapan pintu.
"Hai, Jongin-ah!!!" Kyungsoo memilih untuk menyapa riang, dan menemukan wajah Jongin yang terlalu terkejut untuk mendapatinya di hadapan.
Jongin terkejut, dari sekian banyak orang di muka bumi, dia tidak mengira bahwa Kyungsoo lah yang akan menganggu tidur siangnya. Bagaimana bisa wanita itu berada di depan pintu apartemennya saat Jongin sudah terlalu lelah untuk mencoba melupakan Kyungsoo, dan menahan keinginannya untuk menemui wanita yang terlalu dirindukannya itu.
"Jongin?" Jongin tersadar saat Kyungsoo kembali menyebut namanya. Dengan tergesa, Jongin menutup pintu apartemen, tanpa merasa perlu untuk mengajak Kyungsoo memasuki area hidupnya kurang dari tiga minggu ini.
Piiip. Piip.
"Jongin, buka pintunya!!" Jongin bisa mendengar suara Kyungsoo dari dalam ruangan.Jongin ingin sekali membawa Kyungsoo masuk, ingin sekali memeluknya, namun dia tidak bisa melihat wanita itu terlalu lama, rasa bersalahnya menyeruak membuat sesak di dadanya.
"Kembalilah, Kyungsoo. Jangan datang lagi. Aku sudah bilang padamu untuk tidak mencariku apapun yang mereka coba katakan padamu."
Suara Jongin pelan, namun bisa di dengar jelas oleh Kyungsoo. Wanita itu menggeleng meskipun Jongin tidak bisa melihatnya. Dia tidak boleh kembali, setidaknya, beri ia kesempatan terakhir untuk memiliki lelaki itu, hanya untuk yang terakhir.
"Aku ingin bicara, Jongin. Kita harus bicara. Kita tidak boleh hidup seperti kita di hari kemarin, Jongin, kau dengar aku? Jongin, buka pintunya. Aku akan menangis jika kau tidak membuka pintu ini. Kau bilang, air mataku yang tidak pernah kau ingin lihat, tapi kau berbohong! Kau sangat suka melihat aku menangis, selama ini kau membuat aku menangis, apakah sekarang kau akan membuat aku menangis lagi?"
Jongin tidak menjawab, samar samar ia mendengar Kyungsoo terisak pelan.
"Jongin, aku sudah menangis. Aku jelek sekarang. Katamu, aku jelek kalau menangis. Aku tidak mau menjadi jelek, jadi aku akan menahan air mataku. Tapi, bisakah kau membuka pintu sialan ini untukku? Jongin?"
Suara Kyungsoo melemah di akhir. Kyungsoo mencoba menahan air matanya, sedang Jongin mencoba untuk menahan keinginannya untuk melihat Kyungsoo. Jongin ingin sekali memeluk wanita itu, tapi di sisi lain, Jongin ingin Kyungsoo kembali ke Korea, lalu hidup baik-baik dan melupakan segala kenangan buruknya bersama Jongin. Dengan begitu, Jongin akan mampu meaafkan dirinya, setidaknya Kyungsoo harus bahagia, dan terlepas dari orang brengsek seperti dirinya.
Kyungsoo masih terisak, Jongin masih mendegarkan tak berniat meninggalkan pintu. Setidaknya, dia harus memastikan Kyungsoo benar-benar pergi.
Tapi, pada akhirnya, Jongin kalah terhadap keputusannya, karena ucapan samar Kyungsoo yang terdengar olehnya,
"Aku rindu Jongin."
Jongin buru-buru membuka pintu dan mendapati Kyungsoo tengah berjongkok dan menutupi wajahnya di lipatan tangan. Jongin ikut berjongkok, mengambil wajah Kyungsoo, dan dapat di lihatnya wajah itu basah oleh air mata.
Jongin langsung membawa Kyungsoo ke dalan pelukannya, memeluk erat wanita itu, seakan mencoba meluruhkan segala kerinduannya terhadap wanita itu. Kyungsoo melakukan hal yang sama, membalas pelukan Jongin tak kalah erat, laku bergumam pelan,
"Maafkan aku, Jongin-ah. Maafkan aku." ujarnya berulang-ulang. Membuat Jongin semakin merasa bersalah. Kyungsoo adalah seorang malaikat yang jalannya telah di kotori oleh Jongin sendiri.
Setelah diam-diaman lebih dari lima menit, Jongin mencoba untuk melepaskan pelukan Kyungsoo namun wanita itu semakin mengeratkan pelukannya. Jongin tersenyum diam-diam.
"Lepaskan dulu. Ayo kita masuk dan bicara di dalam."
Kyungsoo menggeleng masih memeluk erat Jongin,
"Aku tidak mau. Kau akan menipuku lalu meninggalkanku di sini lagi. Aku tidak mau!"
Jongin terkekeh pelan, lalu dia mengangkat tubuh Kyungsoo dalam pelukannya, mengambil koper Kyungsoo, dan membawanya masuk ke dalam apartment. Kyungsoo sedikit terkejut, tapi dia memilih untuk semakin mengeratkan pelukan, daripada dia jatuh nantinya.
Jongin mendudukan Kyungsoo di sofa, lalu memilih duduk di sisi wanita itu. Lalu keduanya larut dalam diam.
Jongin memandang kurus ke arah layar datar di hadapan, pikirannya sibuk memikirkan banyak hal salah satunya bagaimana Kyungsoo bisa mengetahui keberadaanya. Apakah ayah dan Ibunya yang berbaik hati memberitahukannya?
Sedang Kyungsoo sibuk memerhatikan seisi apartment Jongin. Apartment jongin tidak begitu besar. Hanya ada satu kamar, ruang televisi yang berbatasan dengan kitchen minimalis, antara ruang televisi dan dapur di batasi dengan meja konter panjang yang bisa di gunakan sebagai meja makan.
Kyungsoo kemudian menatap lelaki di sisinya. Kyungsoo bisa melihat tulang pipi Jongin dari samping. Jongin terlihat kurus dari yang terakhir ia lihat. Rambut Jongin masih berwarna hitam tapi terlihat berantakkan. Apakah selama ini Jongin hidup tidak teratur. Kyungsoo menoleh kembali ke dapur lalu mencari-cari tempat sampah. Dan benar saja, tumpukkan cup ramen instan bersarang di sana.
Kyungsoo kemudian berdiri, lalu menanggalkan coat coklatanya, menyisakan kemeja putih kebesaran berlengan pendek yang di padukan dengan ripped jeans warna navy.
Jongin tersadar dengan pergerakan Kyungsoo yang telah berdiri dari duduknya.
"Mau kemana?" Tanya Jongin saat Kyungsoo mulai melangkah ke arah dapur.
"Melihat apakah ada yang bisa mengisi perut kite berdua di sini." Kyungsoo membuka pintu lemari pendingin. Setidaknya, isi lemari pendinginnya masih banyak. Ada se-pack ayam beberapa telur, dan beberapa sayuran.
Jongin mendekati Kyungsoo yang kini tengah mengeluarkan bahan makanan.
"Kau lapar? Aku akan memesan makanan. Tidak usah repot." Jongin berdiri di sisi Kyungsoo, dan Kyungsoo melihat ke arah Jongin.
"Kenapa tidak mengurus dirimu? Kau terlihat sangat berantakkan," Kyungsoo menyentuh rambut Jongin dan merapikan rambut Jongin yang terlihat berantakkan itu, "begini jauh lebih baik." Ujar Kyungsoo setelah selesai merapikan rambut Jongin.
Jongin sejujurnya terkejut saat Kyungsoo menyentuhkan jemarinya di rambut Jongin. Dan pada saat Kyungsoo hendak menarik tangan dari kepalanya, Jongin sontak mengambil jemari wanita itu.
"Jangan begini, Kyungsoo." Ujar Jongin pelan, dia melihat ke dalam mata wanita yang kini terkejut karena Jongin mengambil jemarinya.
Jongin bisa melihat Kyungsoo tersenyum, sangat lembut dan tulus. Seperti senyum Kyungsoo bertahun-tahun lalu. Senyum yang dulu selalu menjadi miliknya. Kyungsoo lalu balas menggenggam tangan Jongin dengan kedua tangannya, menepuk pelan, lalu menarik pelan Jongin, membawanya duduk di kursi yang ada di meja konter.
"Tunggu di sini dan jangan ganggu aku. Kemampuan memasakku masih belum berubah." Jongin hanya mengangguk dan membiarkan Kyungsoo sibuk dengan dunianya.
Jongin tidak mengerti, mengapa Kyungsoo bersikap seperti tidak terjadi apapun di antara ke duanya. Apakah Kyungsoo telah mendengar sesuatu dari Chanyeol dan Baekhyun? Jongin tidak bisa melihat Kyungsoo yang memaafkannya seperti ini, Jongin ingin Kyungsoo menamparnya, memukulnya, atau bahkan Jongin sangat ikhlas jika Kyungsoo membunuhnya saja. Karena dengan begitu, Jongin tidak merasa semakin bersalah.
Jongin melihat ke arah pergelangan tangan Kyungsoo yang diplester dengan plester perban. Hatinya remuk saat mengetahui bahwa hal itu karena dirinya. Dan cara Kyungsoo menjalani hidupnya selama ini, Jongin hanya bisa mengutuk dirinya karena itu.
Jongin melihat Kyungsoo yang membelakanginya. Dan satu-satunya yang ia inginkan saat ini adalah merengkuh tubuh kecil wanita itu. Dengan pelan, ia berdiri mendekati Kyungsoo.
Kyungsoo sedang mengaduk sup ayamnya, namun pergerakkanya terhenti saat ia merasakan lengan seseorang melingkari perutnya dan dagu orang tersebut bertumpu di antara ceruk leher dan pundaknya.
"Maaf lancang memelukmu." Jongin berkata pelan, Kyungsoo hanya diam, lalu kembali melanjutkan kegiatannya mengaduk sup. membiarkan Jongin masih memeluknya dari belakang.
Selang beberapa menit, Kyungsoo merasakan basah di pundaknya. Dengan cepat ia mematikan api kompor, lalu berbalik tanpa melepas tangan Jongin yang masih memeluknya.
"Kenapa menangis?" Kyungsoo bertanya sembari menghapus air mata di pipi Jongin, lalu menatap mata Jongin yang kini juga menatapnya.
"Jangan menghukumku dengan cara ini Kyungsoo. Aku akan lebih senang jika kau memukulku atau memakiku, tapi jangan seperti ini. Terlalu menyakitkan melihat kau yang masih berbaik hati kepada orang brengsek sepertiku."
Kyungsoo menggeleng tidak setuju dengan Jongin. Bagi Kyungsoo, semua yang terjadi adalah kesalahanya.
"Kau tidak bersalah Jongin-ah. Kau sama sekali tidak tahu apa-apa. Jika ada yang harus meminta maaf, sudah pasti itu adalah aku. Maafkan aku Jongin. Jika saja, dulu aku bisa jujur apapun padamu, jika saja dulu aku tidak berbohong saat pergi ke tem-"
Kyungsoo tidak melanjutkan perkataannya karena Jongin dengan cepat membawa Kyungsoo masuk dalam pelukannya.
"Jangan ingat itu, Kyung. Kau tidak perlu mengingat hal buruk yang sudah ku lakukan untukmu dulu."
Kyungsoo terisak pelan dalan pelukan Jongin, dan Jongin kembali menjatuhkan air matanya.
"Maafkan aku Jongin, maafkan aku."
"Dengar Kyungsoo," Jongin melonggarkan pelukan lalu menatap Kyungsoo yang di balas tatap oleh wanita itu, "Berhenti meminta maaf karena ini bukan salahmu. Satu-satunya yang salah. adalah aku. Aku yang bodoh yang bahkan meragukanmu dulu. Yang terlalu gampang di manipulasi oleh wanita ular seperti Kristal, bahkan menolak percaya pada sahabatku sendiri. Aku yang bersalah karena membuatmu berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri tanpa tahu apapun, dan malah kembali menyakitimu. Aku ingin sekali meminta maaf padamu, berlutut di kakimu bahkan menciumnya, tapi semua hal yang ingin ku lakukan, aku merasa kesalahanku tidak termaafkan, bahkan oleh diriku sendiri."
Kyungsoo semakin menangis mendengar kalimat Jongin. Tidakkan ini terlalu menyakitkan bagi keduanya? Tidakkah seharusnya kini, untuk sekali dan terakhir, mereka berdua harus bahagia? Bukankah kesedihan yang bertahun-tahun ini, sudah saatnya menukarnya dengan kebahagiaan?
Kyungsoo meletakkan kedua telapak tangan di pipi Jongin. Lalu mengusap pelan air mata yang bahkan masih jatuh menetes.
"Kim Jongin," Kyungsoo memanggil Jongin pelan, lalu tersenyum,
"Bagaimana jika kita saling memaafkan lalu saling mencintai saja?"
Jongin menatap jauh ke dalam mata Kyungsoo. Semua ketulusan bersarang di sana, tapi entah mengapa Jongin merasa gelisah. Jongin yakin Kyungsoo telah memaafkannya, tapi saat Jongin masuk lebih jauh ke dalam mata itu, jongin menemukan perasaan takut, takut kehilangan yang lebih jauh lagi.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi,apapun yang terjadi." Ujar Jongin setelah mengesampingkan rasa gelisahnya. Ia menatap Kyungsoo dengan lembut, lalu tersenyum tulus. Senyum yang paling ingin Kyungsoo lihat.
"Aku mencintaimu Kyungsoo. Dari dulu, saat ini, nanti. Apapun yang ada pada dirimu, aku akan selalu menemukan diriku jatuh cinta padamu."
Jongin kemudian mengecup lama dan lembut dahi Kyungsoo. Menyalurkan segala perasaan yang telah bertahun-tahun menyiksanya. Tentang cintanya, kerinduannya, rasa bersalahnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi, bagaimanapun caranya." Batin Jongin.
"Terima kasih, Jongin. Dengan begini. aku akan lebih mudah pergi." Batin Kyungsoo.
.
.
.
"Jadi, kau bertemu appa dan eomma lalu memaksa mereka memberitahu tempatku?" Jongin bertanya saat mereka telah selesai makan dan kini duduk bersisian menonton tivi.
Jongin duduk bersila di atas sofa, sedang Kyungsoo di sisinya dengan tangan Jongin yang melingkari bahu Kyungsoo.
"Aku harus memohon kepada mereka. Appa sampai memintaku untuk melupakanmu."
Jongin terkekeh dengan jawaban Kyungsoo. Appanya benar-benar memberinya hukuman.
"Harusnya kalau pergi, pamitlah dulu. Aku hampir mati menunggumu mengunjungiku. Aku menanyai semua orang, tapi mereka tidak tahu dimana keberadaanmu."
"Kan sekarang sudah ketemu. Tidak lagi merasa ingin mati, kan?" Jongin bertanya lalu melihat ke arah Kyungsoo yang menagngguk.
"Jangan berpikir ingin mati lagi, Kyung. Berpikirlah ingin hidup bersamaku mulai sekarang."
"Kau ingin hidup denganku?"
"Tentu saja. Kau pikir, selama ini aku tidak menikah karena siapa?"
Kyungsoo tidak menjawab, dia hanya memeluk Jongin dari samping, yang kemudian menerbitkan kekehan dari mulut Jongin.
Sudah sangat lama sejak terakhir ia bisa merasakan Kyungsoo berlaku manja padanya. Jongin merasa kebahagiaannya baru akan di mulai.
"Aku akan kembali besok." Kyungsoo berbicara dengan masih memeluk Jongin.
"Kok cepat? Apa appa melarangmu berlama-lama denganku?"
"Tidak. Aku akan kembali besok tapi bersamamu."
"Bersamaku?" Kyungsoo melepaskan pelukan laku mengangguk melihat Jongin.
"Cabang perusahaan di Swedia telah di merger dengan cabang Hongkong. Appa ingin kau kembali dan mengambil alih cabang yang ada di Pulau Jeju."
"Lalu yang di Hongkong?"
"Suho oppa yang akan megambil alihnya."
"Appa menyuruhku kembali? Ku kira dia membuangku."
"Makanya beterima kasihlah kepadaku, karena berkatku kau tidak jadi di buang appa."
"Ya. Ya. Kau kan anak kesayangan mereka." Kyungsol tertawa melihat Jongin yang merajuk.
.
"Kau tidak ingin jalan-jalan?" Tanya Jongin saat melihat Kyungsoo menutup matanya di sofa. Jongin baru selesai mandi, dan Ini sudah pukul 7 malam
Kyungsoo menggeleng,
"Aku akan menghabiskan waktuku denganmu. Aku rindu Jongin."
Jongin mendekat ke arah Kyungsoo, lalu dengan cepat menggendong Kyungsoo ala bridal. Kyungsoo kaget lalu membuka matannya dan melihat Jongin yang membawanya ke dalam kamar.
Jongin membaringkan tubuh Kyungsoo di tempat tidur, lalu menyelimuti wanita itu.
"Tidurlah. Kau terlihat capek. Aku akan menyiapkan barang-barangku untuk keberangkatan besok."
"Aku akan membantumu," Kyungsoo hendak melepas selimut namun Jongin menahan gerakkannya.
"Beristirahatlah. Aku akan menyusulmu setelah selesai." Kyungsoo mengangguk dan menutup matanya, tapi kemudian dia kembali membuka matanya dan memperhatikan Jongin yang sibuk mengambil beberapa pakaian dari lemari.
Kyungsoo merekam wajah Jongin dalam ingatannya, hanya akan ada Jongin dalam sisa hidupnya.
Jongin selesai 30 menit kemudian dan mendapati Kyungsoo yang sedang memperhatikannya.
"Kenapa tidak tidur?"
"Aku ingin melihatmu."
"Kita masih punya banyak waktu untuk saling melihat."
Kyungsoo menepuk tempat di sisinya, Jongin mendekat lalu ikut berbaring di sisi Kyungsoo. Kyungsoo langsung memeluk Jongin, dan Jongin terkekeh. Ia lalu memakai selimut untuk keduanya, lalu ikut membalas pelukan Kyungsoo.
"Mengantuk?" Tanya Jongin, tangan kirinya membelai lembut rambut Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk.
"Tidurlah. Aku akan menjagamu."
"Kau tidak tidur?"
"Setelah kau tertidur."
Dengan begitu Kyungsoo menutup matanya, dan Jongin tidak melepas tatapannya dari wajah Kyungsoo yang damai.
Jongin masih menatap wajah Kyungsoo yang sudah tertidur pulas, jemarinya menelusuri pipi Kyungsoo, lalu mengecup dahi wanita itu. Menatap lagi, lalu mengecup lembut bibir Kyungsoo. Di lakukannya berulang-ulang sembari menggumam kalimat aku cinta kamu atau terima kasih, hingga ia merasa mengantuk dan tertidur menyusul Kyungsoo.
.
.
.
Dua minggu setelah kembali ke Korea, Jongin di sibukkan dengan berkas pemindahannya ke Pulau Jeju. Dia masih sering bertemu Kyungsoo, entah itu menjemput Kyungsoo dari restoran yang di kelola oleh Kyungsoo, atau berkunjung ke apartment Kyungsoo bersama Baekhyun.
Mereka kini terlibat dalam bertemanan yang hangat. Tidak mencoba membawa apapun cerita di masa lalu.
Dan karena besok adalah hari kepindahan Jongin, makanya mereka mengadakan sebuah pesta kecil di bar milik Yifan. Btw, Yifan telah menikah minggu lalu.
"Kenapa Kyungsoo belum datang?" Tanya Luhan yang tengah duduk di samping Sehun.
"Katanya di perjalanan." Jawab Baekhyun. Baekhyun telah lebih dulu tiba, karena ia di jemput Chanyeol dari rumah sakit dan belum pulang ke apartment.
Jongin terlihat khawatir, entah mengapa perasaan gelisah kembali menghantuinya.
"Tenanglah. Dia akan segera sampai." Yifan menepuk pundak Jongin lalu duduk di sisi istrinya.
"Itu dia." Chanyeol menunjuk Kyungsoo yang berlari kecil ke arah mereka.
Jongin menghampiri cepat lalu memeluk Kyungsoo.
"Aku kira kau hilang." Ucapnya pelan, tapi sarat akan kekhawatiran.
Kyungsoo terpaku mendengar kalimat Jongin, bahkan ia tidak sadar saat Jongin telah melepas pelukkannya dan kini sedang memanggil namanya.
"Kyung?"
"Kyung?"
"Kyungsoo?!"
"Ah, ya. Apa kau bilang?"
"Kau sakit? Mukamu pucat."
Jongin kemudian membawa Kyungsoo mendekat ke teman-temannya lalu duduk bersama yang lainnya.
Kyungsoo tidak fokus, sesuatu nenganggu pikirannya. Ia terus memikirkan keputasannya, tapi di sisi lain dia menemukan jalan yang lain. Ia sesekali melihat ke arah Jongin yang sedang tertawa, semakin membuat dia tidak ingin menyakiti lelaki itu.
"Kau tak apa?" Baekhyun menyenggol lengannya.
"Sedikit pusing." Jawab Kyungsoo jujur. Ia pusing karena memikirkan keputusannya itu
"Kalian masih akan bertemu. LDR-an 7 tahun aja bisa, masa segini doang sedih sih, Kyung."
Sehun mengejek Kyungsoo karena dia pikir Kyungsoo merasa sedih karena Jongin akan menetap di Jeju.
"Sehun sialan.!!" Sehun tertawa di ikuti oleh semuanya.
"Aku akan segera membawanya tinggal denganku." Ucapan Jongin menyita perhatian yang lainnya.
Jongin yang duduk di sisi Kyungsoo kemudian mengeluarkan kotak beludru berwarna Navy dari kantung celananya.
"Kita harus menikah, bukan?" Tanya Jongin lagi entah pada siapa, tapi matanya lurus memandang mata Kyungsoo. Ia lalu membuka kotak beludru yang di dalamnya ada sepasang cincin berwarna perak.
Ia mangambil cincinnya sendiri lalu memasang sendiri ke jemarinya. Ia lalu mengambil jemari Kyungsoo,
"Kita pernah sepakat untuk hidup bersama selamanya, jadi saat ini tidak ada penolakan? oke?"
Kyungsoo terpaku. Sejak awal Jongin mengatakan kalimat lamaran itu, saat Jongin membuka kotak beludru, dan saat Jongin tersenyum tulus saat ia memasangkan cincin ke jari manis Kyungsoo.
"Aku telah menemukan keputusanku yang sebenarnya." Batin Kyungsoo.
Kyungsoo tersenyum haru, air matanya menetes pelan, lalu ia memeluk erat Jongin, bergumam -ini memalukan, Jonginah.
Teman-teman mereka bertepuk tangan juga terharu. Setidaknya, biarkan misah mereka berakhir indah.
.
.
.
"Kau yakin tidak ingin bersamaku?" Baekhyun bertanya sekali lagi saat telah duduk di dalam mobil Chanyeol.
"Aku akan berjalan-jalan sebentar bersama Jongin. Besok kami akan berpisah, kau tahu." Baekhyun memutar mata malas.
"Ya. ya. Hati-hati." Dengan begitu Baekhyun dan Chanyeol meninggalkan Kyungsoo di depan Vitory Bar. Kyungsoo menunggu Jongin yang masih berada di dalam bar.
"Mereka sudah kembali?" Jongin muncul beberapa menit kemudian.
"Ayo!!!"
Kyungsoo langsung menggandeng lengan Jongin lalu berjalan menelusuri toko-toko yang sejajar dengan Victory bar.
"Kita Mau kemana?" Tanya Jongin karena dia tidak tahu kemana mereka akan pergi.
"Jalan-jalan pokonya. Kemana aja."
Mereka berdua lalu memutuskan berjalan ke tempat yang masih ramai oleh pengunjung, masuk ke dalam toko barang-barang lucu, atau mencoba jajanan pinggir jalan.
"Aku akan mengantarmu." Jongin dan Kyungsoo kini berjalan di trotoar dengan jari saling mengenggam.
Mereka berhenti tidak jauh dari traffic light.
"Tidak perlu. Aku akan naik taksi. Penerbanganmu besok pagi-pagi sekali. Kau akan terlalu capek jika harus mengantarku. Ini sangat jauh dari lokasi apartment."
Kyungsoo kemudian memgambil ponsel lalu menelpon operator perusahaan taksi untuk memesan taksi.
"Kau yakin? Aku masih bisa mengantarmu. Ayo kembali ke Victory."
"Aku sudah memesan taksi. Kau kembalilah ke victory. Besok pagi, aku sendiri yang akan mengatarmu ke bandara."
Jongin mengiyakan pada akhirnya. Seberanya, ia merasa kembali gelisah entah karena apa. Tapi lagi-lagi perasaan itu ditepisnya.
Ponsel Kyungsoo kembali berbunyi.
"Nona, aku berada di seberang jalan. Akan sangat susah untuk menyebarang, aku akan menjemputmu dengan berjalan kaki jika kau tidak keberatan."
"Tidak masalah pak. Aku akan ke sana sendirian."
pip.
"Lihat, taxi ku sudah sampai. Kau pulanglah. Beritahu aku kalau sudah di rumah."
Kyungsoo lalu mencium bibir Jongin sekilas.
Sejujurnya, hari ini Kyungsoo akan menjadikan hari ini adalah hari terakhirnya bersama Jongin. Dia telah memutuskan untuk pergi selama-lamanya dari kehidupan Jongin, karena rasa bersalah di hatinya tidak pernah memudar. Ia pun telah merasa menjadi perempuan paling kotor hingga merasa tidak pantas bersama Jongin.
Namun, pemikiran itu lenyap saat ia datang terlambat karena macet, dan jongin memeluknya dan mengira jika Kyungsoo hilang. Kekhawatiran Jongin menyadarkan Kyungsoo, bahwa Jongin adalah rumahnya, tempat ia kembali seburuk apapun keadaanya. Jongin adalah rumahnya, yang senantiasa tulus menerima keadaan dirinya, sekotor apapun ia. Jongin adalah rumahnya, yang akan kosong jika Kyungsoo memilih pergi. Senyum Jongin saat melamarnya, terlalu indah untuk ditukar dengan kesedihan. Karena Kyungsoo tahu, baik Jongin dan Kyungsoo, keduanya telah menjadi pusat dari kelemahan masing-masing.
"Sampai ketemu besok, Jongin-nie.."
Kyungsoo melambai pergi sambil senyum di balas hal yang sama oleh Jongin. Kyungsoo kemudian mengikuti kerumunan orang yang telah lebih dulu berjalan di zebra cross hingga ia tertinggal di belakang. Lagi pula itu tidak masalah karena pergantian lampu lalu lintasnya masih cukup lama.
Jongin masih berdiri melihat Kyungsoo yang berjalan menyebrangi jalan. Ia masih tersenyum karena sesekali Kyungsoo akan berbalik dan melambai semangat ke arahnya. Kekasihnya sangat lucu dan menggemaskan.
Namun, senyum Jongin hilang dan menjadi panik, karena dari arah utara sebuah truk box berlalu kencang dan tak menentu arah, menerobos lalu lintas.
Dengan penuh kekuatan dan kecepatan, Jongin berlari ke arah Kyungsoo karena pada akhirnya, kegelisahannya terbukti, truk box tersebut kini mengarah ke arah Kyungsoo yang terdiam karena panik melandanya.
Mata Kyungsoo silau karena cahaya lampu yang berasal dari truk box tersebut, menutup mata, Kyungsoo bisa mendengar teriakan panik beberapa orang, lalu bayangan Jongin yang tersenyum terlintas.
"Ah, pada akhirnya aku harus pergi. Maafkan aku, Jonginah."
Brugh!!!!!!!
Kyungsoo merasa tubuhnya terselimuti, sebelum akhirnya truk tersebut menghantamnya. Jauh terguling lalu menabrak trotoar.
Kyungsoo merasakan nyeri yang luar biasa di punggungnya, pelan-pelan ia mencoba membuka mata dan pemandangan yang ia lihat pertama kali adalah wajah Jongin yang tertutup matanya dan ada darah yang mulai mengalir dari kepalanya.
Kyungsoo ingin berteriak, namun kemudian semuanya gelap. Satu-satunya yang ia tahu adalah, Jongin memeluknya sesaat sebelum truk tersebut nyaris menyentuhnya.
"Aku tidak akan membuatmu pergi lagi, bagaimanapun caranya." Kim Jongin.
Note:
Hai hai. gimana gimana. Aku udah cocok nulis skenario sinet indo belum. wkwkwkw.
gak berasa feelnya. udah ku ulang ulang.
Jongin ku matiin gak papa kan? biar berasa feelnya gitu.
ehe.
Cape gak nunggu end? capek? duh. iya iya. chapter depan ku tamatin deh.
tapi Jongin mati. wkwkw.
sudah ah. sampai ketemu di chapter terakhir.
salam sayang,
anna.
mwah. *
