A HERO (2)


Baekhyun yang diam di belakang tengah sibuk memainkan ponselnya. Sedetik kemudian ia menyadari betapa lama kedua sahabatnya di depan, ia mencoba mengikuti mereka, namun baru selangkah ia menghentakkan kakinya ia terkejut dengan seseorang yang meneriaki namanya dari arah belakang.

"DIMANA BYUN BAEKHYUN!"

e)(o

baekhyun yang merasa namanya disebut menatap perempuan yang tengah menatap seluruh siswa dengan amarah dan nafas terengah engah. Tangannya terkepal, ia melangkah mendekati kerumunan siswa yang berdiri tidak terlalu jauh dari papan pengumuman.

"hei, dimana byun baekhyun?!" ia bertanya dengan sedikit berteriak. Sedangkan yang di tanya hanya dapat menggelengkan kepala dengan cepat karna ketakutan. Ia meninju siswa di depannya dan berjalan mendeketi kerumunan dekat baekhyun.

Baekhyun yang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi hanya dapat menatap gadis yang tengah berjalan mendekatinya dengan tatapan bingung.

"dimana byun baekhyun keparat itu hah?!" gadis itu tetap berteriak seperti orang kesetanan. Baekhyun mencoba melangkah maju untuk menunjukkan dirinya namun Luhan dengan sigap menarik lengannya untuk mencegah baekhyun melangkah.

"jangan mencari mati baek! Kau tau dia siapa bukan?" baekhyun mengangguk dan mencoba melepaskan cekalan luhan, ia tak takut dengan perempuan yang tengah kesetanan di depan sana, lagipula ia tak memiliki kesalahan apapun.

"oh ayolah baek, jangan mencari masalah dengan soo young jalang itu lagi" kyungsoo ikut menahan baekhyun dengan tatapan memohon andalannya. Namun baekhyun dengan keras kepalanya tetap melangkah maju menghampiri soo young.

"aku disini, ada apa?" baekhyun dengan tatapan datarnya menghampiri soo young atau yang lebih sering di sapa joy, si jalang joy.

'plak'

Satu tamparan berhasil mengenai pipi baekhyun yang putih dan mulus meninggalkan bekas kemerahan disana. Siswa siswi yang menyaksikan kejadian itu hanya dapat terbelalak kaget melihat perlakuan joy. Ia baru saja menampar seorang baekhyun. siswa dengan prestasi nomor 1 di sekolahnya.

"siapa kau berani menganggu milikku hah?!" joy menatapnya dengan kilatan amarah.

"aku tidak mengerti maksudmu sooyoung!" baekhyun mengusap pipinya pelan. Mengabaikan gadis didepannya yang menatapnya penuh benci.

"beraninya kau!" joy berteriak marah.

Seseorang dengan kedua tangan di kantung celananya memperhatikan kejadian dramatis di depannya dengan seringaian. Ia mencoba menebak nebak bagaimana orang yang terihat sangat peduli dengan santapannya semalam akan bertahan dengan permainannya.

'ini akan menarik' batinnya

Ia melangkah pergi dari tempat terjadinya drama tadi menuju ruang ekstrakurikuler.

Sedangkan baekhyun masih berdiri di depan soo young dengan wajah bingung. Bagaimana tidak perempuan yang paling di kagumi satu sekolah karena kecantikannya datang tiba tiba menamparnya dan mengatakan ia telah mengganggu miliknya.

Luhan menarik sedikit lengan baekhyun untuk berbisik,"kau ditandai baek" luhan memasang wajah sedih terhadap baekhyun sedangkan baekhyun masih terdiam mencerna kata kata luhan.

"hah?! Jadi masih ada hal seperti itu di sekolah ini?" baekhyun bertanya dan dijawab anggukan oleh luhan.

"ada apa nona byun?" soo young menyeringai. Sedangkan baekhyun hanya dapat mendelik kesal.

"seharusnya aku yang bertanya tuan joy, ada apa denganmu?" baekhyun mendelik tidak suka dengan panggilan joy yang ia lontarkan, nona? Bahkan baekhun masih memiliki benda yang dapat menusuk milik joy sekarang juga.

"hya! Apa yang kau katakan?!" joy memerah, amarah yang sudah mereda dibangkitkan kembali oleh baekhyun hingga ia melangkah maju mendekati baekhyun. namun dengan cepat luhan menarik baekhyun dan kyugsoo untuk menjauhi joy yang tengah menggila.

"YAK! JANGAN KABUR!"

e)(o

"kau gila baek!" luhan berteriak kepada baekhyun yang baru saja ia tarik dari adegan dramanya dengan joy. Baekhyun hanya mendengus mendengarnya, sedangkan kyungsoo hanya dapat menunjukkan wajah khawatirnya terhadap baekhyun.

"kau tau kan siapa dan bagaimana seorang joy?" baekhyun hanya menjawab dengan sebuah anggukan.

Tentu saja ia kenal bagaimana seorang joy. Gadis yang memegang julukan miss beauty of highschool. Gadis yang bahkan mampu menghancurkan gadis manapun yang melebihi kecantikannya. Gadis yang bahkan dapat membuat bayak pria bertekuk lutut, namun tidak untuknya, karena ya, baekhyun tidak tertarik dengan gadis.

"lalu apa yang kau lakukan tadi baek? Kau mau kami mati terbunuh ha?!" luhan kembali menyudutkan baekhyun, tetapi baekhyun bahkan tak sekalipun tersudut.

"tenang lu" kyungsoo mencoba menenangkan luhan yang emosinya tengah meluap luap.

Luhan menarik nafas dan menghembuskannya kasar. Baekhyun yang merasa dirinya telah membuat sahabat yang paling peduli dengannya marah menyentuh pundak luhan lalu mengelus lembut sembari tersenyum simpul. Luhan yang melihatnya merasa luluh dan rasa amarahnya dengan cepat menghilang.

"maaf rusa cina terimut ku" baekhyun menunjukkan egyonya kepada luhan. Namun luhan mengabaikannya. Ia tak akan termakan aegyo murah baekhyun.

"tidak"

"boneka rusa jumbo akan menjadi milikmu" baekhyun berusaha menawarkan barang, namun luhan tetap dengan pendiriannya.

"tidak mempan"

"sekumpulan foto kecil milik pacarmu?"

"aku sudah memilikinya baek"

"tapi tidak dengan foto toplesnya bukan?" baekhyun menaik turunkan sebelah alisnya mencoba menggoda luhan.

Luhan merasa pipinya memanas, ia memiliki banyak foto lucu masa kecil pacarnya namun tidak dengan foto toplesnya. Ia membayangkan bagaimana milik pacarnya sewaktu kecil, apakah memang sudah bsebesar sekarang.

"maaf mu ku terima. Berikan padaku sekarang!"

e)(o

Baekhyun melangkah kan kakinya menyusuri lorong sekolah yang sepi. Ia sempat kebingungan dengan kondisi sekolah yang sepi padahal jam sudah menunjukkan pukul 06.53 dan bel sekolah akan berbunyi 7 menit lagi. Ia mencoba tidak peduli pada awalnya, mungkin orang orang lebih memilih untuk tidur di balik selimut mereka daripada berangkat menuju sekolah, pikirnya. Namun pikirannya salah setelah ia membuka lokernya, rak buku yang seharusnya terdapat buku pelajaran sekolah malah terisi dengan majalah dewasa, baju olahraga miliknya yang tergantung pun hilang dan berganti dengan pakaian wanita yang sangat terbuka.

Ia mengepalkan tangannya kesal, siapa yang berani melakukan ini kepada dirinya. Segera ia membuang semua majalah dewasa dan pakaian wanita yang bukan miliknya ke tempat sampah terdekat. Ia kembali ke lokernya dan menaruh beberapa buku yang ia bawa dari rumah dan memasukkan yang ia perlukan ke dalam tas seperlunya.

"brengsek" baekhyun mengumpat setelah melihat surat yang tertempel di dalam pintu lokernya.

'ini akibat mengambil mangsaku, byun

-loey '

Baekhyun dengan segera meremas kertas kecil itu dan melemparnya kebawah untuk ia injak injak kemudian. Baekhyun melangkah pergi menuju kelas melupakan masalahnhya hari ini.

Niat awal baekhyun untuk bercerita tentang masalah yang ia alami pagi ini kepada dua sahabatnya harus tertunda dengan mejanya yang terletak di depan ruang kelasnya dengan pakaian dan kosmetik wanita yang sudah hancur. Baekhyun mengangkat tangannya untuk membersihkan 'sampah' diatas mejanya. Ia mengeluarkan tisu untuk mengelap tulisan dengan lipstik diatas mejanya. Barulah setelah semua ia bersihkan ia mengangat mejanya lalu membuka pintu kelas perlahan.

Suasana kelas yang tadinya ricuh mendadak senyap saat baekhyun memasuki kelas. Pandangan seisi kelas tertuju pandangannya. Pandangan kasihan dan kesal mendominasi, kasihan karena baekhyun harus merasakan bullying bulanan sekolah, kesal karena baekhyun membuat kelas mereka diisi oleh korban bully yang mana biasanya hanya diperuntukkan untuk kalangan kelas bawah.

Baekhyun menaruh mejanya di tempat seharusnya dan duduk mencoba mengabaikan tatapan dari teman temannya. Disaat bersamaan seorang guru masuk untuk memulai pelajaran, seketika itu pula fokus teman teman teralih kepada guru di depannya.

"kau tidak apa?" luhan yang terduduk di depannya mengabaikan guru yang sedang menjelaskan reaksi kimia senyawa senyawa yang bagaikan lullaby tidur bagai luhan. Ia lebih memilih membalikkan tubuhnya dan menatap baekhyuk khawatir.

"aku hanya tinggal mencari akarnya, lalu kucabut. Itu mudah" baekhyun mengangguk kearah luhan.

"tidak, kau tidak. Dia bukan sesuatu yang bisa kau cabut begitu saja" luhan menggeleng setengah berbisik agar guru tidak menyadari kegiatannya.

"kau mengetahui dia?" baekhyun bertanya dengan sedikit tekanan. Luhan mengetahui siapa pembully dirinya namun hanya diam?. Baekhyun akan mematahkan leher temannya saat istirahat, ingatkan dirinya saat bel berbunyi nanti.

"tentu, loey, semua tau baek" luhan memutar matanya, seharusnya baekhyun tau seorang loey ini, mungkin baekhyun hanya lupa, pikirnya. Ia mengubah arah tubuhnya menjadi menatap guru di depan kelasnya. Mengabaikan baekhyun dengan alis yang tertaut mencoba mengingat loey ini.

"hei, lu, siapa dia?" luhan tidak mengubrisnya dan lebih memilih untuk mencatat pelajaran hari ini. "luhan, xi luhan!" baekhyun agak mengeraskan suaranya sedikit. Namun luhan tetap mengabaikan dirinya.

"LUHAN!" kesabaran baekhyun habis, ia berteriak menyebabkan seisi kelas menatapnya dan guru kimia gendut dengan kacamata di hidungnya menatapnya dengan marah. Baekhyun meringis pelan mendapati guru kimia yang sudah penuh dengan amarah saat ini.

"byun baekhyun, xi luhan, silahkan angkat kaki kalian dari pelajaran saya" luhan dan baekhyun menatap guru itu dengan ketakutan namun tidak beranjak untuk bangkit. sampai guru itu berteriak, "SEKARANG!" akhirnya luhan dan baekhyun hanya menghela nafas pasrah dan bangkit keluar kelas.

"kau harus membayarnya baek! Aku ketinggalan pelajaran hari ini" luhan mengerucutkan bibirnya sebal. Kedua tangannya menyilang di depan dada.

"kau cukup pintar untuk ketinggalan pelajaran, nah sekarang beritahu aku siapa loey?" baekhyun menatap luhan penuh harap .

"oh benarkah kau tidak mengetahuinya baek?" luhan bertanya, baek mengangguk membalas pertanyaan luhan. "kau benar juara tinju bukan?" luhan meragukan gelar juara yang baekhyun dapatkan.

"tentu saja! Memangnya kenapa?" baekhyun merenggut kesal karena luhan meragukannya. Ia memang lebih terkenal dengan pianis muda dibanding gelar juara tinju, karena hanya orang orang terdekatnya yang mengetahui gelar miliknya, dan luhan salah satunya.

"gelar juara bertahan campuran" hanya 1 kalimat yang luhan ucapkan dapat membuat baekhyun terdiam karenanya. Sungguh ia sangat mengetahui siapa orang yang luhan baru saja sebut. Musuhnya, ia tak pernah berhasil melawannya karena beda aliran tinju yang mereka jalani. Namun ia sering mendengar beberapa orang menginginkan dirinya melawan juara bertaham itu.

"dia siswa disini?" baekhyun bertanya dengan suara rendahnya. Luhan mengangguk mengiyakan pertanyaan baekhyun. "ada masalah apa orang itu denganku?!" baekhyun menggeram.

"entahlah baek, aku baru ingin bertanya denganmu" luhan mengerucutkan bibirnya saat tau baekhyun bahkan tak mengetahui kesalahannya.

"ah kurasa kyungsoo tau apa yang harus kita lakukan" luhan menyerukan idenya.

"kau ingin mencari ke kelasnya dan mengajaknya membolos?" baekhyun bertanya seakan tau apa yang akan Luhan lakukan. Teman rusanya punya pemikiran yang selalu di luar dugaan. Namun baekhyun tetap dapat menerka apa yang sekiranya akan ia lakukan.

"bukan aku, tapi kau baek! Ini masalahmu dan lagipula kau yang menyebabkan aku membolos" luhan berkata enteng lalu menarik tangan baekhyun menuju kelas kyungsoo.

Kelas milik kyungsoo terletak di lantai 2 gedung utama. Kelas dengan fasilitas ruang ber-ac dan komputer di setiap bangku setiap siswanya. Kelas unggulan dengan 20 murid dalam satu angkatan yang dapat memasuki kelas yang hanya tersedia 3, satu untuk setiap tingkat. Kelas dimana orang orang terbaik dari yang terbaik. Hanya 1 kali kesempatanmu duduk disana.

Baekhyun pernah duduk di kelas itu namun hanya 1 bulan karena lompa piano nasional yang harus membuat ia home schooling.

Luhan melangkah untuk membuka pintu belakang kelas. Ia memanggil kyungsoo yang tengah asik mendengar guru menjelaskan di depan sambil mencatat garis besar di buku tersayangnya.

"pstt..Kyungsoo-ya" luhan memanggil kyungsoo setengah berbisik. Kyungsoo menoleh dan terkejut mendapati kepala luhan dan baekhyun yang menyembul dari pintu belakang kelasnya.

"apa yang kau lakukan?" kyungsoo menggerakkan bibirnya tanpa suara, takut guru dan teman sekelasnya terganggu. Bersyukur tempat duduknya berada di paling belakang kelas.

"kemarilah" baekhyun menggerakkan tangannya membuat isyarat agar Kyungsoo mendatanginya. Namun kyungsoo menggeleng dan menunjuk guru di depannya lalu mengarahkan telunjuk nya ke leher membentuk gerak memotong leher yang menandakan 'aku akan habis jika guru mengetahuinya'

"cepat kemarilah" baekhyun agak mengeraskan suaranya. Kyungsoo tetap dengan pendiriannya dengan gelengan.

"ayolah kyungsoo-ya" baekhyun membuat nada merajuk.

"haish tidak baek!" kyungsoo tanpa sadar mengeraskan suaranya namun tetap dalam sikap berbisik.

Hingga baekhyun dan luhan tiba tiba terjatuh kedepan karena dorongan dari seseorang dari belakang tubuhnya. Baru saja baekhyun ingin mengumpati orang itu, bibirnya seakan bungkam, sedangkan luhan mengulas cengiran kecil. Di depannya guru yang sedang mengajar kyungsoo berdiri di depannya.

"apa yang kalian lakukan?" guru muda itu bertanya dengan nada tegas.

"ka..kami..." baekhyun merasa tenggorokannya tercekat, ia bingung apa yang harus ia katakan. Jika tadi di kelas ia dapat tenang tenang saja, namun sekarang tidak karna guru didepannya adalah kakak sepupunya yang diutus oleh ayah dan ibunya untuk mengawasinya ketika di sekolah.

"apa yang kau lakukan baekhyun haksaeng?"ia bertanya lagi dengan nada yang menekan.

"ki..kim seonsaengnim..aku.."

'tring! Tring!tring!'

Entah baekhyun harus berterima kasih atau bagaimana, bel berbunyi 3 kali, dan itu artinya bel istirahat berbunyi. Ia menghela nafas pelan.

"kami ingin mencari kyungsoo untuk istirahat bersama seongsaengnim!" luhan segera menjawa pertanyaan yang terlontar tadi, dan bangkit untuk menarik baekhyun serta kyungsoo keluar dari neraka kecil sekolahnya.

Sesampainya luhan di bangku kantin barulah ia bernafas lega karena terselamatkan dari jerat guru kim yang sangat menyeramkan. Luhan dengan segera memukul lengan baekhyun dengan keras melampiaskan rasa kesalnya.

"yak! Sakit bodoh!" baekhyun mengelus pelan lengannya yang baru saja luhan pukul.

"ini semua karena mu baek!" luhan mendengus sebal.

"haish hentikan! Ada apa sebenarnya?!" kyungsoo yang baru saja datang dari acara membeli minumnya merengut kesal melihat kedua sahabatnya yang tidak berhenti bertengkar sejak kepergian dari kelas miliknya.

"kau tau dia menjadi terget bullyan bulan ini kyung? Dia bahkan tidak tau siapa itu loey, aku meragukan gelar juaranya sekarang!" luhan mengambil minuman yang baru saja kyungsoo letakkan dan menelan habis sampai tak tersisa, berlari dari lantai 2 gedung utama sampai kekantin cukup melelahkan baginya.

"benarkah? Kalau begitu aku sependapat denganmu lu" kyungsoo mengangguk membenarkan ucapan luhan.

"yak! Kalian!" baekhyun beralih memukul kepala luhan. "aku tidak tau benar bahwa namanya loey"

"yah nama aslinya juga bukan itu" kyungsoo menimpali dan dihadiahkan tatapan penuh tanya dari luhan dan baekhyun.

"kau mengetahui sedikit tentangnya?" luhan bertanya dengan alis sebelah di naikkan.

"dia sahabat kai dan sehun lu" kyungsoo menatap luhan mengernyit. Luhan tidak mungkin tidak mengetahuinya.

"sahabat sehunnie?" kyungsoo mengangguk menjawab pertanyaan luhan.

Baekhyun yang tidak mengerti apa yang kedua temannya bicarakan hanya dapat berpangku tangan menatap keduanya, ia hendak bertanya agar mereka dapat berkata jelas namun baru saja ia ingin mengeluarkan suaranya tiba tiba segerombolan siswa datang ke kantin dengan bising.

"ada apa?" kyungsoo bertanya yang dijawab gidikan bahu oleh luhan. Luhan masih terlarut dengan pikiran sahabat sehun yaitu loey, seingatnya hanya 2 sahabt sehun. Ia memikirkannya lebih teliti. Hingga otak cerdasnya mendapat pencerahan.

"ah baek aku.." luhan tidak melanjutkan perkataannya karena di layar televisi kantin yang seharusnya menampilkan menu makanan serta berita haria korean berubah menjadi adegan baekhyun yang ditampar oleh joy kemari.

Baekhyun menggeram ia mengepalkan tangannya menahan amarah. Ia tak masalah kemarin jika joy menamparnya di depan umum mengingat waktu itu jumlah siswa disana tak terlalu banyak. Namun kini di kantin, oh tuhan bahkan 98% penghuni sekolah sedang berada disini sekarang.

Kyungsoo yang melihatnya hanya dapat membulatkan matanya yang membuatnyanyaris keluar. Ia menghadap kearah baekhyun yang bangkit dari bangku meja makannya. Ia menyadarkan luhan yang masih terpaku dengan layar tv kantinnya.

"sadarlah luhan bodoh! Baekhyun pergi!" luhan yang baru saja tersadar dari lamunan masih belum menyadari perginya baekhyun. dengan segera kyungsoo menarik tangannya untuk mengejar baekhyunn.

Baekhyun tau kemana ia melangkah, ruang yang selalu luhan ceritakan ketika bervideo call ria bersamanya saat di jepang, tempat sehun sering bersama sahabatnya. Kesabarannya sudah di ujung tanduk. Ia harus menuntaskan masalahnya dengan loey ini. Jika mencari tau sendiri memakan waktu yang cukup banyak. Maka bertanya dengan sehun adalah jalan pintasnya.

Ia telah sampai di depan pintu dengan stiker police line yang menghiasinya. Tulisan dilarang masuk dengan cat warna merah pun sudah memperingatinya untuk tidak melangkah memasuki nerakanya. Namun baekhyun tetaplah baekhyun. ia tetap dengan pendiriannya untuk bertanya kepada sehun.

Baekhyun mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu itu, namun dengan cepat ia urungkan, rasanya tidak perlu sopan santun lagi untuk menghadapi orang seperti 'loey' ini.

Dengan kasar baekhyun membuka pintu itu hingga menghasilkan bunyi yang menggema ketik bagian belakang pintu bertemu dengan kerasnya tembok.

"wow wow siapa yang datang bertamu kali ini" pria yang berkulit tan menyapanya dengan tepuk tangan melihat pintu ruangannya yang hampir rusak. Baru saja ia ingin bangun untuk menghajar orang yang hampir merusak pintunya, namun ia urungkan setelah melihat bahwa si manis byun yang berdiri sampil memegang gagang pintu dengan kilatan amarah.

"hya, bukankah kau byun baekhyun?" kai menunjuk baekhyun. sehun yang sedang asik memainkan smartphone nya seketika menoleh saat jongin menyebutkan nama yang tak asing baginya. Ia mengernyit mendapati baekhyun dengan nafas memburu melangkah ke arahnya tanpe mempedulikan kai yang mengernyit bingung.

"ada apa ba... hya!" sehun merasa perih di sekitar bibirnya saat menerima pukulan mendadak dari baekhyun.

"dimana loey?" baekhyun menahan amarah yang meluap luap di dalam dirinya agar tidak terlampiaskan keada sehun melainkan kepada loey

"mana ku tahu! Kau kira aku anjingnya mengikuti kemanapun ia pergi?" sehun mendengus sebal ia memegang ujung bibirnya yang mengeluarkan darah tanpa henti.

baekhyun menaikkan sebelah alisnya. Bukankah sehun baru saja tanpa sadar memberikan fakta bahwa ia mengenal loey bukan.

"berarti kau mengenalnya dengan baik bukan?"

"em..baek..a..akuu" sehun gugup bukan main. Pasalnya ia baru hampir saja memberitahu rahasia penting kepada baekhyun.

"BAEKHYUN JAUHKAN DIRIMU DARI MILIKKU" suara nyaring yang berasal dari pintu menyadarkan baekhyun dengan posisinya diatas sehun yang setengah tertidur dengan kerah baju yang ia tarik. Baekhyun menelan ludahnya, temannya yang satu ini kalau cemburu dan marah akan sangat menyeramkan.

"tidak, aku tidak, aku bisa jelaskan lu" baekhyun melepaskan cengkramannya dan menatap luhan memohon. Luhan hanya merengut kesal dan pergi dari ruangan itu dengan kaki terhentak hentak. Baekhyun yang melihatnya memilih untuk mengejar luhan.

Sedangkan kyungsoo hanya dapat berdiri dengan kepala tertunduk menahan gugup saat berhadapan dengan kai.

"hh..hai" kyungsoo mencoba memberanikan diri untuk menyapa kai lebih dulu. Sedangkan kai terkekeh melihat kyungsoo yang masih malu dengannya.

"hai, ada apa dengan kalian" kai langsung melontarkan pertanyaan yang ada di kepalanya. s

Kyungsoo menggidikkan bahunya,"loey menjadikan baekhyun target bulan ini"

"ah begitu"Kai mengangguk anggukkan kepalanya seolah tidak ad yang bermasalah namun saat ia tersedar ia memekik kaget,"hah! Apa katamu?!"

"loey menjadikan baekhyun terget bulan ini, ada apa dengan telingamu?"kyungso mendelik sebal.

"tapi bagaimana bisa?" kai makin mengernyitkan alisnya tidak mengerti dengan situasinya saat ini.

"bukankah seharusnya aku yang bertanya? Kukira kau sahabatnya" kyungsoo memutar bola matanya.

"bukan berarti aku mengetahui tentang segalanya, sayang" kyungsoo menunduk menyembunyikan rona dipipinya. Sedangkan kai hanya terkekeh melihat kyungsoo yang selalu merona saat ia goda.

"yah aku kurang mengetahuinya, tapi jika dak salah baekhyun mencuri sesuatu atau menganggunya entahlah seperti itu" kai menjelaskan sambil mencoba mengingat cerita sehun yang tidak jelas kemarin.

"sebaiknya aku bertanya dengan baekhyun juga, selamat tinggal" kyungsoo melangkah sambil melambaikan tangannya kepada kai.

.

e)(o

baekhyun mengejar luhan yang berlari menjauhinya, lari luhan tidak dapat ia sejajarkan mengingat hobi setiap minggu paginya berlari mengelilingi kompleks rumahnya, aku harus menjaga pahaku agar tidak berlemak, begitu jelasnya. Sedangkan baekhyun yang minggu pagi ia habiskan dengan bermain piano berlari dengan nafas tersengal sengal. Tanpa sadar luhan memperlambat laju larinya hingga baekhyun dapat meraih lengannya sambil menstabilkan nafasnya.

"tung..tunggu..berikan..hah..aku..waktu..hosh..hosh..untuk...mengambil...hah...nafas" baekhyun berucap sambil nafasnya tersengal sengal.

"kenapa kau mengejarku bodoh, sudah tau kau tak akan bisa menyamakan laju lariku" luhan menatap baekhyun yang sedang tersengal sengan dengan kepala menggeleng.

Baekhyun terdiam sejenak meraup udara sebanyak banyaknya kedalam paru paru, setelah dirasa paru parunya terisi udara barulah ia mengakkan tubuhnya dan menatap luhan yang dari tadi memperhatikannya,"aku tak akan membiarkanmu marah denganku walau hanya sedetik"

"kau tau aku tak bisa marah denganmu bodoh" baekhyun membalasnya dengan cengiran. Luhan menggeleng melihat baekhyun yang tersenyum membuat dirinya ikut tersenyum pula.

"kalian sudah berbaikan?" kyungsoo datang dari arah belakang baekhyun datang dengan membawa tas kedua temannya yang dihadiahi kernyitan oleh keduanya.

"aku bertanya"

"sudah, untuk apa tas itu semua?" baekhyun bertanya sambil mengambil tas miliknya dan luhan.

"kurasa kalian tidak mendengar berita, kelas di bubarkan lebih awal karena pertarungan tinju antar SMA sedang berlangsung sekarang, kau tak akan melewatkannya bukan baek?" baekhyun yang teringat akan jadwal pertandingan yang ia tunggu terlonjak dan segera menarik tangan kedua temannya untuk melangkah keluar sekolah.

"aw..pelan pelan bodoh, seakan kau yang berlomba" luhan mendengus menahan rasa sakit ti pergelangan tangannya. Saat mereka memasuki taksi yang baru saja baekhyun hentikan.

"hehe..aku hanya terlalu bersemangat" ujar baekhyun. sedangkan luhan hanya mendelik sebal dan membuang pandangannya keluar jendela sambil bersandar pada jok mobil.

"yah mungkin ia terlalu bersemangat untuk bertemu musuh yang tak pernah mendapat bertarung dengannya" kyungsoo yang duduk di sebelah pengumdi hanya terkekeh. Sedangkan baekhyun dan luhan saling bertatapan dan mengalihkan pandangan nya bersama menatap kyungsoo.

Kyungsoo yang melihatnya terheran,"oh tidak, jangan bilang kalian tidak mengetahui nya" kyungsso memberikan tatapan menyelidik kepada kedua sahabatnya. Sedangkan keduanya masih dengan tatapan meminta kepastian apa yang kyungsoo ucapkan itu benar atau tidak

"oh tuhan, aku benar benar meragukan gelar juaramu baek" kyungsoo mengalihkan pandangan matanya yang semula menatap keduaya melalui kaca spion menjadi ke arah jalanan.

"yak..kau menyebal.."

"kita sudah sampai, simpan umpatanmu dan ayo kita keluar" ucap kyungsoo sambil memberi beberapa lembar uang kepada sopir taksi dan menunduk hormat

Baekhyun, luhan, dan kyungsoo melangkah menuju gedung olahraga daerah seoul yang biasa di gunakan untuk pertarungan karate, muay thai, dan sebagainya. Sebenarnya luhan dan kyungsoo bukanlah penikmat adu kekerasan seperti halnya baekhyun namun malam saat baekhyun oertama kali melakukan kejuaraan luhan dan kyungsoo datang dan bersorak paling keras di antara yang lain, err sebenarnya luhan kyungsoo hanya menyemangatinya dengan menunjukkan jempolnya waktu itu.

Luhan bilang"keahlian tinjumu luar biasa baek, aku akan menjadi penggemar tinju mulai sekarang dan penggemarmu juga" begitu lah bagaimana luhan menjadi menyukai adu kekerasan ini. Dan kyungsoo hanya tersenyum melihat kedua temannya, ia cukup terhibur sebenarnya jadi ia tak akan menolak jika di ajak kd adu tinju tahunan antar SMA.

"wah seandainya kau bisa beradu disana tanpa sembunyi sembunyi baek" mata luhan berbinar binar menatap ring tinju yang masih kosong berharap dapat melihat baekhyun di atas panggung sana.

" jikakau berani berbicara dengan nyonya byun" luhan menatap baekhyun seram, apa yang baru baekhyun katakan sangat menyeramkan jika di bayangkan.

Nyonya byun, byun jinha, ibu baekhyun yang bahkan sebenarnya ta dapat luhan katakan sebagai ibu mengingat bagaimana siksaan baekhyun yang ia dapat dari ibunya.

"maka aku akan mati berdiri di depan nyonya byun" luhan bergidik membayangkannya. Sedangakan baekhyun terkekeh.

"hei mereka akan mulai!" kyungsoo menyadarkan kedua temannya utuk fokus ke arah pembawa acara kejuaraan kali ini.

"Selamat sore semuanya, hari yang cerah untuk datang dan menyaksikan kejuaraan kali ini bukan? Kurasa Tuhan meberkati kita untuk menonton sang juara bertahan bertanding hari ini" pembawa acara sibuk dengan salam dan membacakan daftar nama nama yang bertanding hari ini. Sebagin besar dari nama yang disebutkan merumakan nama samaran atau nama panggilan yang bisa di bilang aneh dari masing asing peserta.

Baekhyun awalnya tak acuh dengan nama nama peserta hingga telinganya menangkap satu nama yang ta asing baginya, 'loey' kepala yang awalnya menunduk menatap layar ponselnya beralih menatap pembawa acara dan layar LCD besar yang menuliskan nama loey. 'good aku bisa mengetahui dia dengan mudah'baekhyun membatin.

Tak terasa sudah dua jam lebih baekhyun duduk menyaksikan pertandingan di depannya dengan 2 botol minuman ber-ion yang sudah habis ia minum namun seseorang yang ia tunggu wajahnya belum juga di panggil untuk bertanding.

"brengsek, sebenarnya seberapa banyak yang ikut bertanding" baekhyun menggerutu dengan kaki yang menghentak dirinya sudah tidak sabar menunggu orang bernama loey itu.

"tidak baek, bukan seberapa banyak" luhan mengangkat bicara meralat ucapan temannya.

"benar bukan berapa banyak, namun seberapa hebat dia" kyungsoo ikut meralat ucapan baekhyun.

"maksud kalian?" alisnya bertaut bingung menatap kedua temannya.

"apa kau tidak sadar?" luhan bertanya yang dijawab gelengan dan tatapan bingung milik sahabat puppynya.

Kyungsoo mengangkat tangannya mengarahkan kepala baekhyun menuju ring tinju di depan sana yang memperlihatkan 2 orang dari tim merah dan biru yang sedang bertarung sengit. Baekhyun mengernyit bingung.

"lihat dari sisi biru disana, dia sudah naik ke ring sebanyak 3 kali, dan tidak kah kau sadar? " kyungsoo bertanya memastikan yang masih di hadiahi gelengan oleh baekhyun.

"sudah kukatakan kyung, aku meragukan gelar juaranya" luhan mendengus meperhatikan temannya yang masih belum menyadari situasinya.

"yak! Kenapa kau membahas gelar juaraku lagi!" baekhyun memukul bagian belakang leher luhan yang membuat luhan meringis sambil mengusap bagian yang terpukul.

"kau belum sadar apa artinya jika seorang petinju di panggil untuk bertanding di akhir pertandingan tanpa perlu melawan seperti si sisi biru disana?" kyungsoo berucap dengan santai lalu mengambil minuman yang dibawa penjual keliling untuk di minum sendiri.

"itu artinya..." baekhyun menggantung ucapannya sambil berfikir sistem pertandingan yang sedang terjadi "ia sang juara tahun lalu?" baekhyun bertanya memastikan.

"yah selain itu pula jika lawannya tidak mampu mengambil gelar juara akan di adakan pertandingan random. Kau pernah hampir melaksanakannya waktu itu namun karena tak seorang pun berani jadi itu tidak terjadi" luhan membenarkan dan menjelaskan pertandingan terakhir milik baekhyun.

"ah kalau begitu..." baekhyun menyeringai memikirkan ide yang baru saja terlintas di otaknya.

Kyungsoo mengernyit baekhyun yang menyeringai, kyungsoo yang sangat mengerti dengan jalur pikiran baekhyun langsung menggeleng, "tidak, kau tidak akan, oh ayolah baek"

"yah kau tau aku tidak akan pernah bisa satu ring jika mengikuti peraturan bodoh itu" baekhyun menggidikkan bahunya cuek akan peringatan kyungsoo. Baekhyun sudah lama tidak mengikuti adu tinju lagi, bermain dengan tuts piano selama 2 semester pastinya membuat baekhyun lupa dengan banyak hal tentang tinju.

Luhan yang awalnya tidak mengerti hanya dapat memiringkan kepalanya berpikir keras apa yang akan seorang byun baekhyun lakukan higga kepalanya memikirkan hal yang sama dengn kedua temannya, "oh tidak baek, eomma mu dirumah jika kau pulang babak belur apa yang harus kami katakan?" luhan menggeleng keras.

"ah sial, kau benar" baekhyun mendengus mengingat ibunya yang sangat overprotektif terhadap dirinya.

"kau bisa melakukannya lain kali baek" kyungsoo mengangkat bicara. Baekhyun menatap kyungsoo bingung pada awalnya hingga, "yah, dengan taruhan mungkin" baekhyun yang masih mencerna maksud dari perkataan kyungsoo terdiam.

"dasar idiot maksudnya adalah, taruhan agar kau tidak diganggu lagi dan mungkin dengan sesuatu yang dapat merendahkannya" luhan berucap dengan seringaian jahat buatannya.

"ide bagus" baekhyun memikirkan taruhan apa yang nantinya akan ia ajukan. Namun ia harus memperhatikan lawannya terdahulu bukan?

"baek, lihat ini gilirannya!" luhan memekik menunjuk mc yang memanggil nama yang sedari tadi ia tunggu.

"tiba saatnya yang kalian tunggu tunggu, sang juara bertahan kali ini akan melawan juara kita dari SMA STOVIA, Wu Yifan. Apa kalian siap dengan pertarungan panas ini?" pembawa acara bertanya yang dibalas dengan sorakan penuh semangat dari penonton.

"yang mari kita panggilkan, sang juara bertahan, LOEY!"

Seseorang dari sebelah belakang kanan panggung berjalan dengan jaket merah, kepalanya agak tertunduk membuat rambut hitam legam miliknya menutupi mata yang sedang menatap lawannya nyalang. Ia sampai di ujung sisi merah sedangkan wu yfan telah sampai di sisi biru.

ia melepaskan jaket merah miliknya dan membuang asal keluar panggung, rambut hitamnya masih menutupi matanya hingga membuat baekhyun tak dapat dengn jelas menangkap siapa seorang LOEY itu.

Higga si sisi merah mengangkat kepalanya, membuat mata baekhyun hampir keluar...

"BAGAIMANA MUNGKIN!?"


TBC/END?


Jangan lupa review ya gais

Ini fanfiction pertama saya jadi maaf kalau kurang ngena.

Dan adegan chanbaeknya? Sabar ya chapter depan sudah mulai ada kok

Tambah ke favorit dan following story jangan lupa

Bantu share juga

Dan kemungkinan beberapa minggu kedepan agak telat untuk update STRONGER dikarenakan aku yang sedang di kelas akhir menengah dan dihadapi beberapa ujian.

Tolong sabar dan jangan bosan yak

SALAM CHANBAEK IS REAL