"baek, lihat ini gilirannya!" luhan memekik menunjuk mc yang memanggil nama yang sedari tadi ia tunggu.

"tiba saatnya yang kalian tunggu tunggu, sang juara bertahan kali ini akan melawan juara kita dari SMA STOVIA, Wu Yifan. Apa kalian siap dengan pertarungan panas ini?" pembawa acara bertanya yang dibalas dengan sorakan penuh semangat dari penonton.

"yang mari kita panggilkan, sang juara bertahan, LOEY!"

Seseorang dari sebelah belakang kanan panggung berjalan dengan jaket merah, kepalanya agak tertunduk membuat rambut hitam legam miliknya menutupi mata yang sedang menatap lawannya nyalang. Ia sampai di ujung sisi merah sedangkan wu yfan telah sampai di sisi biru.

ia melepaskan jaket merah miliknya dan membuang asal keluar panggung, rambut hitamnya masih menutupi matanya hingga membuat baekhyun tak dapat dengn jelas menangkap siapa seorang LOEY itu.

Higga si sisi merah mengangkat kepalanya, membuat mata baekhyun hampir keluar...

"BAGAIMANA MUNGKIN!?"

A HERO (3)

Baekhyun mengerjapkan matanya berulang kali, ia memastikan apa yang ia lihat tidak salah. Di depan sana berdiri seorang yang ia nantikan sedari tadi, tapi ada apa dengan topeng hitam di kepalanya?!

"hei ada apa dengan topeng itu!?" baekhyun bertanya dengan alis bertaut, kesal yang ia rasakan bukan main, pasalnya ia telah menunggu dari tadi sampai ia tak bisa merasakan lagi pantatnya dan lihat apa yang ia dapatkan, wajah yang tertutup topeng. Ingatkan baekhyun untuk menghabisi loey nanti di ring.

"wah sepertinya dia tau kau akan datang baek" luhan tertawa melihat wajah baekhyun yang memerah menahan kesal.

"tenanglah kita tunggu sampai selesai, kita harus membuatnya membuka topeng itu"kyungsoo angkat bicara untuk menenangkan baekhyun yang sudah siap melemparkan pukulannya ke wajah cantik milik luhan.

"sudah terlalu lama soo!" baekhyun meggeram, pantat montoknya sudah tidak sanggup untuk bersabar lagi, ia sudah bersiap untuk melangkah menuju ring tinju, hingga langkah nya terhenti dengan ucapan mc di pengeras suara dan matanya terarah ke ring tinju dimana perwakilan dari SMA Stovia telah tersungkur sedangkan mc mengangkat tangan 'Loey' sebagai penanda juara.

"pertandingan ini kembali di menangkan oleh sang juara bertahan! Kini giliran pertandingan random dari para penonton dari tempat ini, adakah seorang penantang?" mc bertanya sambil memperhatikan ke arah bangku penonton.

Baekhyun mengangkat tangannya tinggi tinggi sambil melangkah berjalan mendekati ring tinju, luhan dan kyungsoo yang berada di belakangnya membulatkan matanya dan berlari mendekati baekhyun untuk menahannya, namun terlambat baekhyun sudah berada di depan ring tinju di depan MC.

"aku, aku akan melawannya" ucap baekhyun penuh semangat dengan mata yang mendelik tajam ke arah loey yang menatapnya dengan datar.

"adik, kembalilah ke tempatmu, ini bukan tempat bermain anak SMP" MC berkata sambil menjauhkan sedikit mic nya dari mulut agar tidak terdengar ke seluruh pengeras suara.

"Yak! Aku anak SMA bodoh!" baekhyun menggerutu, ia sudah sangat sering mendapat perkataan yang mengatakannya dirinya anak SMP karna badannya yang kecil.

"baek sudah lah ayo kita kembali!" luhan menarik baekhyun menjauh dari ring, setelah ia berusaha menerobos desakan penonton.

Baekhyun menghentakkan tangan luhan, ia bersikeras untuk melawan loey agar ia membuka topengnya. "biarkan aku melawannya bodoh!" baekhyun berteriak.

"biarkan ia melawanku"

Semua yang ada disana terdiam, penonton yang tampak riuh sebelumnya terdiam begitu juga MC yang sekarang sudah menoleh kearah orang yang berbicara. Luhan membulatkan matanya dan kyungsoo hanya bisa mengehembuskan nafasnya berat.

"ta..tapi"

"biarkan saja" loey memotong ucapan MC yang menurutnya hayaakan menghalangi baekhyun untuk melawan nya.

"baiklah"

Baekhyun naik keatas ring tinju dengan lincah, ia melemparkan tas sekolahnya kearah luhan. Wasit melangkah menuju keduanya di tengah ring, ia mempersiapkan keduanya untuk mulai bertinju hingga lonceng tanda mulai berbunyi.

Baekhyun melangkah mendekati lawannya, ia berfikir bagaimana cara agar topeng itu terlepas dari pemiliknya.

"baik, aku tidak akan melayangkan pukulan, hanya lepaskan topengmu maka semuanya selesai" baekhyun mengangkat suara, mencoba untuk memulai kesepakatan dengan lawan di depannya. Sedangkan yang di tawari hanya menaikkan sedikit sudut bibirnya. Ia masih diam di tempat menunggu perlawanan dari baekhyun.

"oke, itu aku anggap penolakan, jadi kita mulai?" baekhyun menaikkan satu alisnya.

Baekhyun memasang kuda kuda lalu mengarahkan tendangannya kearah kanan kepala lawannya, namun dengan cepat di hindari.

"wow, kau dapat menghindarinya dengan mudah, baiklah ayo kita lebih serius" baekhyun melakukan pertandingan penuh dengan candaan dan komentar setiap ia melemparkan pukulan atau tendangan sedangkan lawannya hanya bertahan, menangkis dan menghindar tanpa membalas pukulan dari baekhyun.

"hei coba keluarkan pukulanmu brengsek!" baekhyun berteriak, ia lelas harus selalu memukul sedangkan lawannya hanya menghindar.

'berisik sekali' lawannya membatin memperhatikan baekhyun yang tak henti hentinya berbicara.

"hei ayo pukul aku!" baekhyun masih menatap lawannya, namun yang diajak bicara hanya menatapnya datar.

Ia memberanikan diri melangkah mendekat, lalu mengangkat topeng lawannya sedangkan lawannya masih dalam keterdiamannya. Hingga baekhyun berhasil membuka topeng lawannya dan..

"oh tidak"

e)(o

Baekhyun melangkahkan kakinya menuju ruang bilas di dekat kolam renang sekolahnya. Ia harus membilas tubuhnya yang baru saja terkena tumpahan tepung saat membuka pintu ruang musik untuk berlatih piano. Pembullyan akan dirinya tak berhenti setelah 1 minggu bahkan saat ia sudah tau siapa loey dan antek anteknya. Park chanyeol, orang yang keberadaannya selalu baekhyun cari selama semingg. Sejak terakhir kali ia bertemu dengan chanyeol di ring ia tak melihat batang hidungnya selama seminggu disekolah, bahkan saat ada quis serentak untuk semua kelas ia juga tak menemukan manusia kelebihan kalsium itu.

Baekhyun mendengus, ia sudah lelah berhadapan dengan bullyan yang tidak henti hentinya terjadi setiap hari, malah semakin hari semakin parah, sampai sampai ia harus mengambil izin kemarin karena pakaiannya yang ia temukan di tempat sampah penuh dengan bolong bolong, alhasil ia izin satu hari dengan alasan tidak enak badan. Ibunya memaklumi dan percaya kebohongan yang baekhyun buat. Baekhyun sudah bertanya dengan semua teman sekelasnya bahkan kyungsoo dan luhan sudah ia suruh untuk bertanya kepada 2 sahabat dekat chanyeol yang hanya akan mendapat jawaban yang sama yaitu, sedang dalam pertandingan di luar kota. Tapi bahkan mereka tidak menjelaskan dikota mana itu tepatnya.

Baekhyun mengambil pakaian cadangannya yang sudah ia siapakan takut takut hal seperti ini terjadi dengannya. Ia melangkahkan kakinya menuju bilik shower dan membuka semua pakaiannya hingga ia sepenuhnya bertelanjang. Mulai membilas baju dan celananya agar sisa tepungnya hilang dan tidak berbekas.

Ia membilas badannya, membilas wajahnya dan keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya untuk melangkah menuju bilik ganti.

"tubuh yang mulus untuk seorang pria" seseorang dari belakang baekhyun mengangkat bicara saat baekhyun sudah keluar dengan seragamnya yang sudah bersih. baekhyun menoleh seketika pandangannya terkejut dengan kehadiran orang yang selama ini ia cari kehadirannya.

"kau!" baekhyun menggeram tangannya terkepal menahan amarah.

"aku kenapa?" ia menaikkan alisnya dan menyeringai menatap baekhyun di depannya.

"kau! Kau harus bertanggung jawab brengsek! Ada apa denganmu?! Aku hanya menyelamatkan gadis yang hampir kau perkosa paksa tuan park brengsek" baekhyun marah sambil mengangkat jari telunjuknya menunjuk tepat di depan wajah chanyeol.

"bertanggung jawab apa? Kau tidak sedang hamil anakku bukan?" chanyeol manatap baekhyun didepannya datar sambil menurunkan jari telunjuk baekhyun.

Baekhyun mencebikkan bibirnya, "yak! Yang ku maksud adalah tentang bully yang kau lakukan!"

"aku tidak baek, mereka yang melakukannya" chanyeol menggidikkan bahunya santai sambil berjalan menuju pintu keluar ruang ganti.

"atas suruhannmu bukan?!" baekhyun berteriak mencoba menghentikan langkah chanyeol yang semakin mendekati pintu keluar. Namun chanyeol tetap melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan baekhyun yang sudah memerah menahan amarah.

"yak! Bagaimana tawaranku?!" baekhyun mencoba lagi sekali, menanyakan hal yang kemungkinan membuat chanyeol berhenti dan menghadap ke arahnya. Syukurnya hal itu berhasil, chanyeol mengehntikkan langkahnya dan menatap baekhyun.

Ketika chanyeol membalikkan tubuhnya, matanya tanpa sengaja bertemu dengan manik mata milik baekhyun, dalam beberapa saat chanyeol terdim menikmati bagaimana pancaran mata baekhyun begitu indah. Namun dengan cepat chanyeol mengalihkan pikirannya dan terfokus lagi pada pertanyaan baekhyun.

"baiklah" ucap chanyeol lalu melangkah pergi meninggalkan baekhyun yang masih sibuk dengan pikirannya.

Baekhyun yang masih sibuk dengan pikirannya tetap terdiam walaupun punggung chanyeol telah hilang daripandangannya. Ia masih bertarung dengan pikiran pikirannya yang berkecamuk. Chanyeol telah menyetujui tawarannya untuk bertarung sebagai penyelesaiannya, itu yang ia inginkan bukan. Namun ia tiba tiba merasa ragu. Lama tak terjun lagi dalam tinju ia merasa tak yakin bisa mengalahkan chanyeol. kalau begini mau tak mau ia harus kembali mengunjungi tempat latihannya bukan?

e)(o

BAEKHYUN

Aku melangkahkan kaki menuju bangunan dengan plang RYU GYM. Walau langit telah gelap dan pintu depan gym bertuliskan tutup, aku tetap melangkah masuk menuju tempat latihan tinjuku dahulu. Mataku menyusuri ruangan GYM yang tidak pernah berubah walau ku tinggal dalam waktu yang cukup lama.

'masih sama' batinku.

Kubawa kakiku menuju ruangan di lantai atas tempat biasa dia berlatih denganku, dulu. Aku yakin tempatnya masih sama, di lantai 2, di ruangan dengan pintu kayu bertuliskan 'jangan masuk'. Tanganku menggenggam gagang pintu dan menekannya turun untuk membuka pintu.

Aku melihatnya disana. Membelakangiku dengan headset ditelinganya seperti biasa sambil menggunakan headset ditelinganya sambil memukul bantal tinju tanpa henti. Masih sama seperti dulu. Aku berjalan mendekatinya untuk menyadarkannya.

'puk'

"hah! Yak!" aku berteriak kaget sambil memegang kepalan tangannya yang hampir mengenai wajahku.

"yak! Kau mengagetkanku!" ia berteriak sambil marah setelah melepaskan headset yang daritadi berada ditelinganya.

"siapa suruh kau menggunakan headset bodoh! Hilangkan kebiasaan burukmu dasar panda!" aku menurunkan tangannya sambil memutar bola mata kesal.

"berhenti memanggilku panda!" ia mendengus kesal dengan panggilan yang selalu ku lontarkan untuknya.

"ya katakan itu dengan lingkaran hitam di sekitar matamu tao" aku melangkah menuju rak yang berisi dengan sarung tinju, bantal tinju dan lainnya.

"ini kudapatkan dari lahir, kau tau!" ia masih mencoba membela dirinya sedangkan aku hanya sibuk dengan peralatan tinju yang kusiapkan untuk diriku sendiri.

"apa yang kau lakukan disini byun?" ia bertanya setelah berjalan mendekatiku yang sedang menaruh tas di sofa dekat rak sambil memasang sarung tinju di tangan kananku.

"berlatih tentu saja, kau kira aku akan bermain piano dengan sarung ini? Bodoh" ucapku yang membuat kesalnya semakin menjadi jadi, sebenarnya itu sengaja kulakukan karna saat ia kesal ia berubah menjadi sangat lucu dengan wajah kesalnya.

"yak! Aku tau kau akan berlatih tapi untuk apa, kurasa kau tak akan menyentuh sesuatu tentang tinju lagi semenjak saat itu" ucapnya sambil duduk disofa memperhatikanku dari jauh.

Aku hanya bergidik membalas ucapannya, "yah ada sesuatu"

"hm? Sesuatu?" ia terlihat kebingungan dengan kepalanya yang dimiringkan seolah bertanya 'sesuatu apa?'

"hm, taruhan? Ah adu tinju? Kurasa sejenis itu" ucapku saat kedua sarung tinju telah melekat di kedua tanganku. Aku masih menyesuaikan tanganku didalam nya sambil mengangkat dan memukul mukul ke udara.

"ah apa ini tentang perempuan? Kau bertaruh tentang wanita bukan?" ucapnya menggoda dengan alis yang naik turun sambil menatapku.

"kau tau aku tak tertarik perempuan" ucapku sambil menatapnya malas.

"yah tapi aku bahkan tak melihatmu berkencan dengan laki laki baek" ucap nya sambil melangkah menuju ring tinju dengan aku mengekor di belakangnya.

"tak tertarik perempuan bukan berarti aku harus berkencan dengan laki laki" ucapku saat telah sampai di ring tinju dengan dia di hadapanku yang telah bersiap dengan bantal tinju di tangannya.

"yah baiklah, ayo kita mulai!"

e)(o

hari ini sama seperti hari hari sekolah lainnya baekhyun masuk lebih pagi dari biasanya. Langkah kakinya menapak malas lantai gedung kelasnya. Seharusnya ia akan memberitahukan kabar tentang taruhannya dengan chanyeol ke kedua sahabatnya namun semua batal karena kejadian dirumahnya pagi ini.

"apa? Kuliah dimana? Tidak eomma, aku akan menentukan pilihanku sendiri" baekhyun menghentakan kakinya kesal karena keputusan ibunya yang mendadak.

Bagaimana bisa ibunya meminta ia sekolah di universitas ekonomi sedangkan ia sedang mempersiapkan dirinya untuk masuk universitas seni.

"jangan seperti anak perempuan baek! Siapa yang akan meneruskan perusahaan ayahmu?!" ibunya menaikkan suaranya menahan kesal karena untuk pertama kali baekhyun menolak keinginan orang tuanya.

"apa tidak cukup dengan semua yang telah kulakukan? Kita masih memiliki baekbeom!" baekhyun benar benar kesal. Ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar menghindari paksaan dari ibunya.

Namun langkahnya terhenti, ibunya memegang lengannya hingga kuku panjangnya menekan kulit baekhyun menciptakan bekas kemerahan yang sebentar lagi akan mengeluarkan darah.

"bukankah harusnya kau berterimakasih?" ibunya bertanya dengan seringaian di bibirnya. ia melepaskan genggaman tangannya lalu menatap baekhyun dengan pandangan meremehkan "seharusnya kau bersyukur ku selamatkan dari jalang sialan itu"

Baekhyun membeku, pandangannya menatap lurus kedepan. Kenangan yang baekhyun kubur dalam dalam kembali dipaksa untuk keluar dan memenuhi kepalanya. tangannya gemetar mengingat trauma trauma yang telah dilakukan olehnya.

"baekbeom seharusnya bisa tinggal dikorea pula jika ia tak datang menyelamatkanmu. Ia membiarkan dirinya terluka.."

"cukup!" baekhyun menghembuskan nafasnya berat mencoba mengatur emosi didalam dirinya. Ia rasa sudah tidak sanggup lagi untuk mendengar semua ucapan ibunya yang membangkitkan trauma masa lalunya.

"bagaimana?"

"baiklah"

"argh!" baekhyun meremas rambutnya berharap dengan cara itu kejadian pagi ini bisa keluar dari ingatannya.

Saat kakinya telah mencapai pintu depan kelasnya ia menghela nafas pelan mengatur kembali emosinya. Setelah baekhyun merasa tenang ia melangkahkan kakinya masuk kedalam kelas. Ia mengernyit melihat orang lain yang sudah berada di kelasnya. Jika orang lain masih waras, ini masih jam 06.13, terlalu awal untuk memulai pelajaran terlalu awal untuk siswa waras datang ke sekolah sepagi ini. Yah baekhyun mungkin pengecualian hari ini.

Namun dilihat dari manapun pria yang tertidur diatas meja bangkunya seperti telah menginap disini. Terlihat dari pakaian putihnya yang terlihat lecek dan bekas lipatan khas orang tidur menghiasi baju dan celananya.

"hei permisi" baekhyun mencoba mendekatinya. Semakin dekat dengan pria itu semakin baekhyun merasa familiar dengannya. Samar samar baekhyun mencium parfum yang sangat familiar.

"perm.."

"janng..an pergi...eomma.."

baekhyun mengernyit mendengar kata kata yang terucap dari bibirnya, suara bass yang cukup familiar ditelinganya mengingatkannya pada seseorang "hei sadarlah" baehyun mengguncang tubuhnya perlahan.

Masih belum menghasilkan apapun baekhyun mencoba membalikkan tubuhnya melihat siapa pria yang tengah mengigau hal yang sama sejak 5 menit yang lalu.

"hei sadar-yak! PARK CHANYEOL!" baekhyun terkejut saat ia berhasil membalikkan tubuh pria yang tertidur tadi.

Chanyeol mengerjapkan matanya perlahan akibat teriakan memekkakan telinga yang berasal dari pria di depannya yang tengah menatapnya dengan mata yang membulat sempurna.

"apa yang kau lakukan disini?!" chanyeol bertanya ketus dengan suara khas orang baru bangun pagi.

"harusnya aku yang bertanya padamu bodoh! Apa yang kau lakukan dengan tidur di sekolah?" baekhyun bertanya dengan alis menukik

"ah apa sudah waktunya sekolah" daripada menjawab pertanyaan baekhyun, chanyeol memilih untuk bangkit dan merapikan pakaiannya yang berantakan dan kusam.

"yak jangan mengalihkan pembicaraan" baekhyun merengut kesal karena chanyeol mengabaikan pertanyaannya.

Chanyeol menatap baekhyun dengan tatapan misterius, membuat baekhyun meneguk ludahnya kasar karena ditatap intens oleh chanyeol. demi dewa neptunus, tatapan intens chanyeol mampu membuatnya seperti di telanjangi. Chanyeol melangkah mendekat kearahnya, ia berusaha melangkah mundur tapi seakan kakinya telah kehilangan fungsi untuk berjalan. Baekhyun masih menatap chanyeol dengan gugup sedangkan chanyeol sudah selangkah di depannya.

Chanyeol menundukkan badannya menyamakan tinggi baekhyun. kepala chanyeol yang hanya berjarak beberapa senti di depan baekhyun membuat baekhyun kehilangan fungsi motoriknya. Ia masih tak habis pikir dengan kerja tubuhnya yang seakan tak mau bergerak dengan tatapan chanyeol yang insten.

Mata chayeol menelusuri tiap inci wajah baekhyun yang perlahan memerah seperti kepiting rebus. Chanyeol baru sadar baekhyun memiliki wajah manis mengalahkan wanita. Serigaian muncul di bibirnya setelah melihat bibir pink milik baekhyun yang seakan memintanya untuk dicium.

"yy..yak..menjauh" baekhyun yang mulai mendapatkan kesadarannya berusaha mendorong dada chanyeol menjauh dari hadapannya.

"ada apa dengan wajahmu?" chanyeol bertanya denga posisi tetap didepan wajah baekhyun yang memerah mengabaikan dorongan kecil tangan baekhyun di dadanya.

"me..memangnya..aa..ada apa" baekhyun berbicara dengan nada nada gugup didalamnya.

Chanyeol yang mendapat pertanyaan dari baekhyun memilih untuk mengabaikannya. Ia masih terfokus dengan bibir merah muda milik baekhyun yang seakan merayu untuk dicicipi. Ia memajukan wajahnya mendekati bibir baekhyun.

Sedangkan diameter bola mata baekhyun sudah mencapai batas maksimal ketika chanyeol memiringkan kepalanya dan bibirnya bertemu dengan bibir chanyeol. Otaknya berkata untuk mendorong chanyeol sedangkan tubuhnya malah menikmati sentuhan bibir chanyeol diatas bibirnya

"good morning every... ups!" luhan mebulatkan matanya sambil menutup mulutnya yang akan mengeluarkan teriakan saat melihat adegan di depannya.

Chanyeol segera menjauhkan bibirnya dari baekhyun dan melangkah keluar kelas tak peduli. Sedangkan baekhyun dengan segala keterkejutannya masih menatap kosong kedepan.

Ayolah pagi tadi pemaksaan sekolah di universitas ekonomi, dan sekarang? Ia dilihat sedang dicium oleh pria yang notabene musuhnya oleh sahabatnya yang super tidak bisa menyimpan gosip sedikit saja.

Luhan melangkah mendekati baekhyun."yak baek! Apa yang kau lakukan?" luhan menggoyangkan tubuh baekhyun mencoba membuyarkan lamunan baekhyun.

"em..itu" baekhyun yang tersadar mencoba menjawab pertanyaan luhan dengan gugup. Ia bingung, kenapa ia melakukannya? Ah tidak, kenapa dia menikmatinya?!

"oh tidak! Itu ciuman pertamamu bukan?!" luhan memekik di dalam kelas. Ia telah menaruh tasnya di bangku miliknya dan bersiap keluar kelas untuk menyebarkan berita hangat di seluruh penjuru sekolah.

"yak luhan!" baekhyun meneriakkan nama luhan namun luhan berlari dengan sangat kencang meninggalkan baekhyun yang mengacak acak rambutnya kesal.

"haish! Kesialan apalagi kali ini" baekhyun menggerutu.

Ia melangkahkan kakinya menuju kedalam kelas mencoba untuk tertidur sejenak dalam lipatan tangan diatas meja. Saat ia terlarut dengan ketenangan di dalam kelas. Samar samar rasa bibir chanyeol masih membekas diatas bibirnya. Rasanya begitu lembut seperti candu membuatnya ingin melakukan lagi lagi dan lagi.

Baekhyun menyentuh bibirnya mencoba merasakan bekas kecupan bibir chanyeol yang masih membekas diatas bibirnya.

"lembut"

e)(o

To be continue...

Haii semuaa ara is back^^

Sudah cukup lama dari terakhir aku update stronger.

Maaf karena aku yang duduk di tahun akhir penuh dengan ujian ujian yang membuat kepala cukup sakit membuat stronger tidak update sesuai jadwal.

Setelah penuh pertimbangan akhirnya niat awalku yang update setiap sabtu malam harus berubah menjadi setiap tanggal 14 dan 27. Mohon permaklumannya karena ujian ujianku tidak bisa dicuekkan sehari saja huhu...

Terimakasih untuk yang sudah review

Shindorogudick, guefujoshi13, chalienB04, ditamiemir, sehunshii94, dan guest lainnya.

Mohon reviewnya juseyo^^ jika ada dari kalian yang perlu beberapa penjelasan tentang bagian cerita yang kurang jelas silahkan ditanya di kolom review^^.

Ah sebagai permintaan maafku, aku membuat satu oneshoot dan satu cerita lagi yang bisa kalian cek di profilku silahkan dibaca dan review jangan lupa.

Untuk hal hal yang berkaitan dengan update story bisa kalian tanyakan ke instagram bmoonlight_92

Terima kasih!