Rating: M (Yuri) Iwasawa x Hisako.
P.S: Author hanya membuat cerita Angel Beats AU untuk menyalurkan kreativitas semata. Author tidak memiliki hak cipta terhadap Angel Beats dan tokoh-tokohnya. Jika ada kesamaan plot/konsep/ide mohon dimaafkan.
Happy reading!
Dosen sudah melarang muridnya berpasangan dalam mengerjakan tugas ini. Tapi, masa bodoh, untuk apa memiliki satu-satunya teman tapi menolak untuk jalan berdua saja?
"Hei, Hisako. Menurutku taman itu cantik," kata Hinata sambil menunjuk ke arah taman yang ia maksud. Jarak mereka dari taman itu tidak terlalu jauh. Lalu gadis itu langsung mengambil kamera dan mengambil foto.
"Ckrek!" suara mesin lensa kameranya saat menekan tombol untuk mengambil gambar.
Kemudian Hinata mendesah, "Hisako, kita sudah jalan kemana-mana, dan kau sudah mengambil banyak foto. Foto mana yang akan kau berikan ke dosenmu?"
Gadis yang di sampingnya hanya mengangkat bahu, "Nanti kupikirkan di rumah."
"Mau ke café?" tawar Hinata sambil tersenyum.
Hisako membalas senyumannya, "Yap, tentu." Kemudian memasukkan kameranya ke dalam tas selempang. Hari sudah mulai sore, dan kaki mereka terasa lelah setelah berjalan kesana-kemari.
Mereka memang berbeda jurusan, tapi karena Hinata-lah satu-satunya teman yang Hisako miliki semenjak satu minggu berada di kampus, dia sangat ingin membantu menyelesaikan tugas ini. Tugas mahasiswa baru… mungkin tidak terlalu sulit, tapi apa yang dikatakan dosen cukup membingungkan.
"Ambil foto-foto yang cantik," begitu katanya. Cantik dalam bentuk apa? Manusia? Hewan? Tumbuhan? Tentu saja cantik itu bersifat subjektif dan tak semua orang memiliki selera yang sama. Jadi, Hisako hanya menyimpulkan bahwa maksudnya adalah ambil foto-foto yang menurutnya cantik. Dan tentunya mereka juga penasaran dengan hasil foto-foto teman sekelas yang lain.
Hisako memang memilih jurusan fotografi karena pilihan sendiri. Dia selalu terkesima setiap kali melihat foto-foto model dan pemandangan yang sering dilihatnya di majalah-majalah. Sekarang, setelah mendapatkan jurusan yang ia inginkan dan berhasil membeli kamera DSLR yang berkualitas tinggi, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menjadi fotografer.
"Jadi, Hisako," suara Hinata menyadarkan Hisako dari lamunan. "Kau mau pesan apa?"
"Uhm…" Dia bergumam sebentar sambil melirik ke arah Hinata dan seorang pelayan laki-laki yang tersenyum ramah sambil memegang sebuah notebook kecil dengan pulpen. "Es cappuccino," ujarnya tanpa melihat ke daftar menu karena sudah sering ia dengan Hinata pergi bersantai disini dan secara tidak langsung sudah hafal dengan menunya.
Pelayan laki-laki itu tersenyum sebelum mengatakan dalam sepuluh menit pesanan mereka akan datang, lalu pergi meninggalkan meja mereka.
Sambil menunggu, Hisako secara tidak sadar mengambil lagi kameranya dari dalam tas dan menelusuri foto-foto yang sejak siang sudah ia ambil. Semenjak ia mendapatkan kamera DSLR pertamanya, Hisako tidak bisa lepas dari benda itu, seakan-akan itulah yang memberinya kehidupan.
Selama beberapa menit, ia mengagumi foto-foto yang baru saja dia ambil. Hisako bahkan tidak peduli jika dosen menganggap fotonya tidak secantik yang dikiranya, ia melakukan ini delapan puluh persen untuk hobinya.
Sejauh ini dia belum berhasil mengambil foto yang memfokuskan makhluk hidup seperti tumbuhan dan hewan atau serangga, kebanyakan yang difotonya adalah pemandangan dari jarak jauh.
"Sepertinya aku harus memilih satu objek dan mengambil fotonya dari jarak dekat," usul Hisako kepada Hinata. Tapi lelaki berambut biru itu mendesah lagi.
"Ayolah, Hisako. Besok kau bisa melakukannya. Kau tidak lelah?" katanya sambil memangku dagu.
Hisako menggeleng pelan, "Kau tidak akan lelah jika melakukan hal yang kau sukai."
"Hm, kau benar juga," balasnya sambil tersenyum. "Tapi, sungguh, aku sudah lelah. Aku akan pulang setelah dari café ini. Mau pulang bersama?"
Hisako menahan jawabannya ketika pelayan yang sebelumnya datang dengan nampan dipenuhi gelas-gelas pesanan kostumer. Setelah mengucapkan terima kasih dan pelayan itu pergi, mereka melanjutkan percakapannya. "Hm, kau pulang duluan saja."
Hinata mengangkat sebelah alisnya, "Terserahlah. Tapi jangan sampai pulang terlalu malam," ujarnya sambil menyedot es lychee kesukaannya.
Gadis itu hanya mendengus, tak menggubris perkataan temannya. Bukannya ia tak peduli, tapi ia tak perlu Hinata menjadi ibu keduanya.
Setelah sekian lama berbincang-bincang, matahari sudah mulai terbenam dan hari sudah semakin gelap. Hinata mengucapkan sampai jumpa kepada Hisako sebelum pergi ke luar café dan memanggil taksi.
Hisako membayar tagihannya kepada kasir, pergi keluar, dan bertanya-tanya sudah berapa jam ia berada di café ketika mendengar suara jangkrik yang begitu nyaring dan hari sudah lebih gelap dari yang dikiranya.
Tempat ini sudah menjadi sarang pelepas stress bersama Hinata karena relatif dekat dengan rumahnya dan tepat di sebelah kiri café terdapat sungai yang di atasnya berdiri jembatan yang dililit lampu berwarna-warni sehingga setiap malam sungai di bawahnya mencerminkan cahayanya yang indah.
Sekali lagi dia mengambil kameranya dan mengambil foto terakhir dalam harinya. Sepertinya foto sungai warna-warni itu adalah foto yang paling indah dalam sehari ini.
Dia menarik napas panjang dan menghelanya sebelum berjalan menuju halte bus terdekat. Halte bus yang biasa ia pakai selalu terang karena, entah mengapa, di sekitar sini lampu jalanan terlihat lebih terang dan berjumlah lebih banyak.
Hisako mengirim SMS kepada ibunya untuk tidak khawatir karena ia akan pulang malam. Ia duduk sendirian di halte bus sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang menggantung karena bangkunya terlalu tinggi. Sambil berpikir-pikir kenapa ia tidak ikut pulang saja bersama Hinata ketika ia melihat seseorang menyebrang dan mendekat menuju halte.
Hisako tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi yang jelas ia adalah wanita, dari bentuk pinggangnya yang melengkung karena jaket kulitnya yang ketat. Hisako memilih untuk mengalihkan pandangannya ketika wanita itu membalas tatapannya sambil menyalakan rokok dan berdiri agak jauh dari tempatnya duduk.
Kemudian wanita itu bersandar di sebuah tiang balok yang mendukung berdirinya atap halte bus ini. Hisako melihat rambut wanita itu yang pendek dan berwarna merah muda dibarengi dengan sedikit surai pirang. Ia masih bersandar disana, mengisap rokoknya dengan tenang sambil menatap ke langit malam. Lampu remang yang berada di atas kepalanya membuat sosoknya kontras sehingga Hisako sulit melihat wajahnya.
Tapi dalam sepersekian detik, Hisako meraih kameranya dan membidik wanita itu dengan lensanya. Kemudian, "ckrek!" suara itu membuat wanita berambut merah menoleh tajam.
Hisako tidak tahu ekspresi apa yang terpasang di wajah wanita itu, tapi dari caranya berjalan mendekat, ia tahu wanita itu sedang marah. Hisako terdiam seribu bahasa ketika si rambut merah berdiri di depannya. Kini wajahnya terpampang jelas.
"Hei, kau baru saja memotretku, ya?" katanya sambil menginjak puntung rokok di bawah sepatu botnya.
"Uhm…" Hisako memutar otaknya, berusaha untuk membuat wanita ini tidak semakin marah. "M-maaf…?"
Si rambut merah hanya mendengus, dengusannya terdengar kesal, namun tanpa berkata apa-apa, ia langsung duduk di samping Hisako dengan kaki kirinya terangkat, menopang lengan menggunakan lututnya. "Aku harap kau punya alasan spesifik untuk memotretku," katanya. Bau asap rokok masih tercium dan bau alkohol hinggap di jaket kulit yang dikenakannya. Suaranya yang agak berat tapi halus membuat Hisako agak berwaspada. Siapa sangka kalau wanita di sampingnya adalah buronan atau perampok atau anak geng yang berbahaya?
"Ya, uhm, ini hanya…" Hisako melakukan jeda setiap kali ia ingin membalas perkataannya, "hanya sekedar hobi."
"Oh?" wanita itu terdengar terkejut. Kemudian ia menurunkan kakinya. "Hobimu menarik," ia membungkukkan badannya dan menatap Hisako sambil tersenyum kecil. "Kau terlihat masih muda. Sekolah? Kuliah?"
Hisako tidak menjawab dan hanya menunduk, tak berani menatap wajah wanita itu. Ia tahu apa yang dilakukannya tidaklah ramah di depan orang asing, tapi senyuman wanita itu membuat Hisako heran. Wajahnya tidak mengerikan, senyumannya ramah, dan sesungguhnya sangat bertolak belakang dari apa yang ia pikirkan tentang wanita ini.
Kemudian dalam beberapa detik wajah wanita berambut merah itu berubah drastis. Pangkal alisnya menurun dan dahinya mengernyit, eskpresinya bingung. "Hei, wajahmu tidak asing."
"Huh?" Hisako menoleh dengan sebelah alis terangkat. "Yah, mungkin kau sering lihat aku berjalan lewat sini."
Hisako berdiri, ia sudah merasa terancam. Tapi wanita di sampingnya mengikuti gerakannya, kemudian menarik bahunya sehingga ia menatapnya lagi, kali ini lebih tajam. "Tidak, tidak. Aku…" tangannya bergerak ke atas dan berusaha menyentuh wajah Hisako dengan perlahan.
Hisako menghempaskan tangannya dan menyalak dengan kaget seiring dengan kendaraan bus mengerem di samping mereka. "Maaf, aku harus pergi."
"Hei, tunggu!" teriak si rambut merah ketika Hisako pergi menjauh dan menapakkan kaki di bus. Ia tidak menggubris, bahkan menoleh ke belakang sekali lagi setelah pintu bus tertutup dan duduk di salah satu kursi penumpang. Wanita itu bahkan tidak berusaha mengejar. Yang ada di dalam pikiran Hisako adalah semoga ia tak bertemu dengan wanita aneh itu lagi.
tbc
Henlo selamat datang dicerita kedua. Rate M nya buat penggunaan alkohol/narnarkobkob(?) dll dan (mungkin) ada lemon :v
Semoga suka dan enjoy.
Thanks for reading!
