Chapter 2


Hisako dan Hinata bertemu di bangku taman kampus yang sudah dijanjikan sebelum istirahat makan siang tiba. Mereka memilih untuk tidak makan di kantin sekarang karena kafeteria masih terlalu ramai untuk dikunjungi.

Hinata menghempaskan tubuhnya di atas bangku kemudian menyandarkan lengannya di senderan punggung sambil menghela napas panjang. Hisako ikut duduk di sampingnya perlahan. Keduanya membisu sambil menatap mahasiswa-mahasiswa sekitar lahan rumput ini yang sedang melakukan berbagai macam kegiatan: ada yang mengobrol bersama, mendiskusikan tugas, makan bersama, dan lain-lain. Sedangkan mereka berdua hanya terdiam. Bukan situasi yang canggung, hanya saja Hinata mengetahui bahwa Hisako bukan tipe perempuan yang banyak bicara.

"Jadi…" Hinata membuka mulut, "bagaimana tugasnya?"

Hisako menjawab tanpa menoleh, matanya kosong menatap ke depan. "Tugas yang mana?"

Di sisi lain Hinata hanya melemas dan mendesah malas.

Butuh beberapa detik untuk akhirnya Hisako sadar apa yang sedang dibicarakan Hinata. "Oh, oh. Tugas yang itu. Hmhm, baik-baik saja."

"Foto mana yang disukai dosen?" Hinata bertanya lagi.

Hisako bergumam sebentar sambil berpikir sesuatu. Ia terlalu malas untuk menjelaskan semua hal, jadi ia langsung mengambil kamera dari tasnya dan menunjukkan foto jembatan warna-warni yang semalam ia ambil.

Hinata mengambil kamera itu dari tangannya, "Wah, cantik sekali," komentarnya.

Setelah tahu pujiannya tidak dihiraukan oleh Hisako, Hinata dengan iseng memencet tombol panah pada kamera dan menunjukkan foto selanjutnya. Tiba-tiba dia bersiul, "Siapa ini?"

Dengan kaget Hisako menyambar kembali kameranya, "Hei, siapa suruh kau lihat-lihat?"

Hinata mengangkat tangannya, menunjukkan kalau dia menyerah, "Maaf. Kukira kau tidak akan semarah itu." Kesunyian tercipta di antara mereka sebelum akhirnya Hinata berbicara lagi. "Aku hanya ingin tahu… kenapa kau memotretnya?" tanyanya sambil membungkukkan badan dan menopang lengannya di kedua pahanya.

"Bukan urusanmu," jawab Hisako dengan cepat, tetap tidak menoleh kepada lawan bicaranya.

"Ayolah, itu pertanyaan sederhana," bujuknya.

Hisako menghela napas sebelum menatap wajah Hinata sekilas, "Entah, itu tiba-tiba terjadi," jawabnya sambil mengangkat bahu, "mungkin karena dia-" napasnya tercekat dalam tenggorokan sebelum menyelesaikan kalimatnya.
"…cantik?" katanya dalam hati.

Hisako tidak menyelesaikan kalimatnya, tapi Hinata tidak meminta. Laki-laki itu justru mendengus diselingi tawa kecil. Senyuman miring terukir di wajahnya sambil kembali merilekskan badan dan bersandar ke belakang. "Baiklah, simpan rahasianya. Aku menghormatimu," ujarnya sebelum bangkit berdiri. "Kau tidak lapar?" Hinata bertanya sambil mengulurkan tangannya, mempersilahkan Hisako menyambarnya kemudian mereka pergi ke kantin bersama.

.

.

.

.

.

Sore harinya, Hisako memutuskan untuk pulang naik bus bersama Hinata, berharap keras jika bertemu dengan wanita itu lagi, Hisako akan mengaku sudah mempunyai pacar. Walaupun bukan hal enak untuk dilakukan, setidaknya bisa digunakan untuk menghindar dari wanita itu.

"Ini tempatnya, kan?" Hinata bertanya tiba-tiba.

Hisako menoleh bingung, "Tempat apa?"

"Tempat perempuan yang kau foto di kameramu," tegasnya, "ya, kan?"

Gadis itu memutar bola matanya dengan jengkel sambil menghela napas, "Sudah kubilang, bukan urusanmu."

"Apa kau memotretnya kemarin malam?" Hinata bertanya lagi, mengabaikan kata-kata yang baru saja diucapkan temannya.

Hisako tidak menjawab; ia pura-pura tidak dengar.

"Kuanggap kebisuanmu sebagai 'ya'," katanya lagi.

"Heh, terserah saja," jawab Hisako cuek.

Menit demi menit berlalu, namun sedari tadi tidak ada bus yang berhenti di depan mereka. Justru Hisako teralihkan pandangannya pada sosok wanita bertudung sambil mengisap rokok di trotoar seberang jalan.

"Itu perempuan yang kemarin," komentar Hisako dalam hati. Ia sangat mengenali sepatu bot cokelat muda bertali yang dikenakan wanita itu. Kali ini ia memakai kaus hitam lengan panjang dipadu dengan rompi abu-abu bertudung yang kelihatan sudah kekecilan bagi ukuran tubuhnya. Celana jeans biru muda ketat yang memperlihatkan kaki jenjangnya terlihat menyala di bawah langit sore yang kian lama kian menggelap.
"Untuk orang sepertinya… sebetulnya selera berpakaiannya cukup bagus, meskipun ketat-ketat," komentar Hisako dalam hati lagi. Ia melirik Hinata di sampingnya yang sepertinya masih sibuk bermain game di ponselnya.

Hisako tetap tidak mengatakan apa-apa ketika perempuan itu sampai di halte dan membuka tudungnya. Tak sadar Hisako menatapnya terus dan wanita itu balas menatap. Si rambut merah muda mengembuskan asap rokoknya ke samping kemudian tersenyum. Setelah itu, ia berjalan ke bagian belakang halte, meninggalkan mereka, dan melanjutkan perjalanannya entah kemanapun itu.

Secara refleks, Hisako menengok ke belakang, melihat perempuan itu berjalan semakin jauh kemudian menghilang di belokan jalan.

"Kau mengenalnya?" Hinata tiba-tiba bertanya, tidak melepaskan pandangannya dari game di ponselnya.

"Hm? Tidak, aku tidak mengenalnya," jawab Hisako secepat mungkin, tetap berusaha menyembunyikan keterkejutannya.

"Benarkah?" Tanya Hinata sekali lagi, "dari senyuman perempuan itu dan tatapanmu kepadanya tampaknya kalian saling kenal," ucapnya kali ini sambil memiringkan ponselnya ke kiri dan ke kanan, ponselnya tak henti mengeluarkan bunyi-bunyi bising yang aneh.

Hisako mendesah dengan maksud menyerah, "Baiklah, dia perempuan yang kau lihat di kameraku tadi siang," jelasnya.

Dengan cepat Hinata menekan tombol pause di layar ponselnya dan menatap Hisako dengan nanar, "Akhirnya, kau berbicara juga," ia tersenyum. "Jadi, sudah berapa lama kalian berkenalan?"

"Oh, lihat, busnya sudah datang," jawab Hisako mengalihkan pembicaraan. Dengan otomatis Hinata ikut menoleh dimana tatapan Hisako tertuju. Akhirnya bus yang ditunggu-tunggu datang juga, dan sepertinya agak ramai. Supir bus membuka pintunya dan mereka berdua naik ke dalam kendaraan.

TBC


Oh tydaack hinata udah tau :0 sori ya kalo ooc :v

see ya in next chapter

Thanks for reading!