Chapter 3
Kedua gelas beling berdenting halus sebelum kedua orang itu menenggaknya secara bersamaan. Iwasawa mengerang pelan ketika cairan miras itu berjalan menelusuri tubuhnya.
"Bukankah kau sudah minum terlalu banyak?" Komentar laki-laki yang duduk di depannya.
Iwasawa meliriknya dengan sekilas kemudian mengayunkan tangannya dengan lemas, "Jangan khawatir."
Laki-laki itu memangku dagunya kemudian bertanya, "Jadi, ada hal baru hari ini?"
Si gadis berambut merah bersandar di kursinya sembari memainkan gelas kecil yang ia pakai minum tadi, "Tidak tahu," jawabnya tidak jelas sambil mendengus, "kau tidak akan tahu betapa malunya aku ketika sampai di halte itu, jadi aku langsung pergi ke sini dan menghubungimu," jelasnya.
"Oh?" lawan bicaranya tertarik, "ada orang lain, kah?"
"Ya…" jawab Iwasawa menatap langit-langit cokelat dalam bar ini, "sepertinya laki-laki, rambutnya biru, wajahnya konyol, dan…" dia berhenti sejenak, "seperti teman dekat," lanjutnya.
"Kau tahu siapa namanya? Apakah dia melakukan hal mesra kepada Hisako? Atau…"
"Dengar, Otonashi," Iwasawa menajamkan tatapannya kepada lawan bicaranya, "kau sahabatku, bukan seorang polisi yang sedang menginterogasi."
Otonashi tertawa halus, "Maaf," katanya sebelum beranjak berdiri dan memakai jaketnya. "Aku mau pulang. Dan kau juga harus pulang."
"Ya, pergilah. Aku bisa pulang sendiri." Iwasawa membalas sambil mengambil sepuntung rokok dan menyalakannya dengan korek.
Otonashi menepuk bahu gadis itu sebagai ucapan selamat tinggal sebelum keluar dari bar dan berjalan menuju apartemennya.
Iwasawa menatap kawannya menghilang di kejauhan dan tiba-tiba menyadari bahwa hari sudah semakin gelap dan bar yang dikunjunginya sudah sepi. Meskipun musik samar dimainkan di radio dan mengisi suara di ruangan ini, suasananya tetap sunyi.
.
.
.
.
.
"Apa yang diinginkan perempuan itu?" Hisako berkata dalam hati sambil menyisir rambutnya di depan cermin keesokan paginya sebelum berangkat ke kampus. Gerak-gerik perempuan asing itu sungguh tidak terbaca, ada sesuatu dalam tatapannya yang membuat Hisako semakin penasaran. Ia tidak bisa pulang jika ia tidak ke halte itu, naik taksi terlalu mahal dan halte berikutnya terlalu jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki.
"Tapi sepertinya dia menghindar ketika melihat Hinata di sampingku," ucapnya lagi. Kemudian dia tahu rencananya. Ia akan mengajak Hinata pulang bersama dan membuat perempuan itu menjauh, diam-diam memberi isyarat bahwa Hisako telah memiliki teman – atau dimiliki seseorang.
Setelah keluar dari kelas sesudah sesi pelajaran, Hisako berniat menemui Hinata yang ternyata sedang duduk berkelompok dengan teman-temannya. Dengan canggung, Hisako mendekat dan memasang senyum yang dipaksakan ketika teman-teman Hinata menoleh kepadanya.
Hinata melihat Hisako kemudian memperkenalkan teman-teman satu jurusannya, "Hai, Hisako. Kenalkan, ini Yuri, Naoi, dan Takamatsu." Masing-masing mereka yang disebutkan namanya melambaikan tangannya dan menyapa, "Halo…"
Hisako tersenyum pahit, membalas sapaan mereka dengan sangat singkat, tapi ia sungguh tidak ada niat untuk berkenalan, "Hai, semuanya, aku Hisako," katanya sedikit malu-malu. "Hinata, bisa kita berbicara sebentar?"
Laki-laki itu melirik teman sekelompoknya, kemudian berdiri. "Uh, ya, tentu."
Keduanya mulai berjalan menjauhi tiga orang yang duduk menunggu, raut wajah mereka penasaran ketika mereka berdua berbicara sedikit berbisik.
"Bisakah kau pulang bersamaku?" Tanya Hisako langsung pada intinya.
Ekspresi Hinata berubah menjadi sesuatu yang memancarkan iba, "Maaf sekali, tapi aku adalah salah satu pengurus festival musik yang akan diadakan kampus ini minggu depan," balasan Hinata membuat Hisako cemberut. "Dan… kau tahu, aku dan kelompokku sedang mengerjakan proyek yang penting…"
Hisako tidak membiarkan Hinata menyelesaikan penjelasannya, "Oh, ya, festival musik itu. Aku mengerti," jawabnya sambil mengangguk-angguk beberapa kali dan meremas-remas jemarinya, entah mengapa dirinya merasa gugup.
"Maaf sekali lagi," lanjut Hinata. Nadanya dan tatapan matanya yang tulus membuat Hisako tahu bahwa kawannya benar-benar menyesal tidak bisa menemaninya pulang.
"Tak apa, kau tidak harus meminta maaf," ujar Hisako sambil pelan-pelan melangkah mundur. "Baiklah, aku pulang sendiri. Semoga sukses acaranya."
"Terima kasih," balas Hinata. Melambaikan tangannya kepada Hisako yang berlari kecil menjauhinya. Hinata kembali dalam kelompoknya dan melanjutkan urusannya.
.
.
.
.
.
Hisako mempercepat langkahnya ketika berjalan keluar dari gerbang kampus. "Bodoh, bodoh, bodoh," makinya dalam hati. "Hinata juga punya kehidupan, kenapa aku seakan berharap dia selalu ada di sampingku?"
Dia duduk dengan kasar di bangku halte bus. Kali ini, si gadis rambut merah bahkan tidak menyebrang, ia sudah bersandar di tiang halte, seolah-olah menunggu kedatangan Hisako sedari tadi. Kedua tangannya diselipkan dalam saku jaket biru onyx berkain katun. Terdapat robekan rapi di bagian paha dan lutut dari celana jeans abu-abu yang dikenakannya. Sepatu bot cokelatnya tetap sama. Hisako mendesah pasrah ketika melihat sosoknya.
"Tidak ada teman?" Tanya perempuan itu.
Hisako terdiam, mengedikkan bahunya.
"Dengar, aku…" perempuan itu melanjutkan, memendekkan jaraknya antara Hisako. "Aku perlu berbicara sebentar kepadamu."
Kali ini Hisako merasa tegang, bahkan ia bisa merasakan lehernya berkeringat dan suasana semakin gerah meskipun sore hari ini sejuk dan angin sepoi-sepoi menemaninya. Dirinya merasa terancam.
"Aku… aku tidak akan menyakitimu, aku hanya…" perempuan itu berhenti sejenak ketika berjalan perlahan dan duduk di samping Hisako. "Namaku Masami. Iwasawa Masami," katanya. Tidak mengulurkan tangan, jadi Hisako diam saja.
Tangan Hisako tetap diam di pahanya, telapak tangannya berkeringat. "Oke, apakah aku harus…" ucapnya perlahan sambil ragu-ragu menatap wajah Iwasawa, "harus mengenalmu?"
"Tidak," jawab perempuan itu mantap. "Tapi… tapi aku," lanjutnya. "Aku mengenalmu."
Hisako berusaha menyembunyikan kekagetannya dengan memalingkan wajah ke bawah.
"Aku mengenalmu. Aku harus menjelaskan sesuatu kepadamu, tapi tidak disini. Kau harus ikut denganku." Iwasawa berdiri dan mengulurkan tangannya, berharap Hisako akan menyambarnya. Tapi yang dilakukan Hisako malah bergeser tidak nyaman di tempat duduknya, menggenggam tasnya erat, kemudian melesat pergi. Berlari secepat yang ia bisa.
Hisako bahkan tidak tahu kemana ia akan pergi, jalan apa yang sedari tadi ditelusurinya, tapi ia hanya ingin menjauh dari perempuan itu. Dibalik keramaian orang dan kendaraan yang berlalu lalang di sekitarnya, ia bisa merasakan perempuan itu mendekat menggunakan motor skuter kecil.
Dari skuternya, Iwasawa mengulurkan tangan dan berhasil menangkap lengan Hisako. "Hisako, tolonglah, aku-"
Mendengar namanya disebut oleh orang asing, Hisako menjadi takut. Ia berusaha melepaskan genggamannya, tapi cengkeraman Iwasawa semakin kuat semakin Hisako memberontak. "Lepaskan!" Bentaknya. Beberapa orang di trotoar meliriknya heran.
Sebelum Iwasawa dapat berbicara lagi, Hisako berhasil melepaskan cengkeramannya dan berlari menjauh lagi. Kali ini Iwasawa tidak coba mengejar ketika melihat Hisako menyebrang jalan dan melesat pergi setelah masuk ke dalam mobil taksi.
tbc
Serem kali ya ketemu orang kaya gitu :0
Note: author membuat karakter-karakter disini beberapa tahun lebih tua dari animenya jadi anggap bukan anak-anak sekolahan lagi :v
see ya in next chapter
Thanks for reading!
