Iwasawa mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja kayu yang dimiliki bar itu. Sebotol miras dan gelas kecil di sampingnya tidak tersentuh semenjak dari tadi ia datang.

Pintu bar terbuka kasar dan seorang lelaki berambut jingga masuk. Ia memberi salam pada bartender kemudian berjalan menuju meja yang ditempati Iwasawa.

"Hei, ada apa?" Tanya lelaki itu seraya menuangkan sedikit cairan alkohol ke gelas minum, duduk di depan Iwasawa kemudian menenggaknya dengan cepat.

Meskipun Iwasawa membelinya dengan uang sendiri dan beberapa mili baru ditenggak oleh orang lain, ia sungguh tidak punya waktu untuk protes. "Aku… aku melakukan kesalahan besar."

"Hm? Apa maksudnya?" Otonashi bersandar santai sambil melipat tangan di depan dada.

"Kemarin aku menyebut namanya," jelas Iwasawa.

Otonashi memalingkan wajah ke samping sambil menyengir, "Kalau begitu, tamatlah sudah," katanya santai kemudian beranjak berdiri. Tangannya dengan cepat digenggam Iwasawa, dan Otonashi selalu meringis setiap kali menyadari gadis ini mempunyai genggaman yang sangat erat yang pernah dia rasakan.

"Tolonglah, kau sudah berjanji akan membantuku dengan ini," gadis itu memohon.

Dengan kasar Otonashi melepaskan pergelangan tangannya dari cengkeraman Iwasawa. "Ya, tapi sebelum kau mengacaukan semuanya," jawab lelaki itu agak membentak.

Iwasawa mendesah pasrah.

Tiba-tiba Otonashi kembali duduk dan tertawa, "Hehe, bercanda," katanya.

Gadis berambut merah itu kemudian tersenyum malu-malu. Meninju pelan pundak temannya sambil bergumam, "Sialan kau."

"Kau tahu kelemahanmu, Iwasawa?" Tanya Otonashi sembari menuangkan miras itu ke gelas kecil dan meminumnya untuk kedua kalinya. "Kau terlalu cepat menyerah."

.

.

.

.

.

Keesokan paginya di kampus, ketika Hisako sedang menonton para mahasiswa menyiapkan panggung untuk festival musik yang akan diadakan lima hari lagi, tiba-tiba matanya tertuju kepada Hinata yang sedang berbincang-bincang dengan orang. Nampaknya seperti orang asing, karena Hisako belum pernah melihat wajahnya di sekitar kampus.

Hisako mendekati mereka, kemudian Hinata memanggilnya dari jauh untuk segera bergabung dan berkenalan.

"Hei, Hisako! Kenalkan, ini Otonashi. Dia akan menjadi teman fotografermu untuk festival musiknya, nanti," kata Hinata girang.

Hisako menjabat tangan pria itu. "Halo, aku Hisako."

Otonashi tersenyum, nampaknya mereka seumuran. "Halo juga, senang bertemu denganmu."

Hinata menepuk tangannya, "Nah, karena aku masih ada kerjaan, aku tinggalkan kalian untuk berbincang sesama fotografer ya? Dah!" si rambut biru melambaikan tangannya dan pergi.

"Apa kau dari universitas lain?" kata Hisako membuka pembicaraan, "Aku belum pernah melihat wajahmu di sekitar sini."

"Oh, ya, aku dari luar kota," balas Otonashi, gestur tubuhnya ramah dan sopan, membuat Hisako nyaman. "baru saja minggu lalu aku sampai disini. Sedang jalan-jalan."

Hisako mengangguk tanda mengerti, "Kau suka disini?"

"Ya, tentu saja." Otonashi tersenyum lebar. "Menurutku apartemennya lebih murah."

Kemudian mereka tertawa. Sambil berjalan, mereka berbincang.

"Kapan kau akan kembali?" Tanya Hisako.

Pria berambut jingga itu menoleh-noleh sekitar sebelum menjawab pertanyaan Hisako. Ia mengagumi suasana asri di taman kampusnya. "Rencananya sih, setelah festival ini selesai. Aku kesini karena sudah lama tidak memotret dan menyalurkan hobi. Sekaligus mencari suasana baru."

Hisako mengeluarkan suara 'oh…' yang panjang. Berbicara dengan pria ini cukup mengasyikan, tidak canggung dan tidak aneh. Ditambah mereka memiliki hobi yang sama. Suatu waktu Otonashi bertanya tentang kamera Hisako yang tampaknya selalu dibawa kemanapun ia pergi. Kemudian pembicaraan mereka mengalir semakin jauh sampai kepada karir Otonashi.

Ia sanggup membeli kamera DSLR pertamanya setelah beberapa tahun menabung. Kuliah sambil bekerja menjadi pelayan restoran cepat saji. Gajinya bisa mendukung dirinya hidup, namun untuk kuliah ditambah menabung untuk membeli kamera, biayanya kurang cukup. Maka Otonashi memutuskan untuk tidak kuliah, dan hanya bekerja.

Hisako baru akan bertanya bagaimana dengan orang tuanya, tapi ia mengurungkan niat. Untungnya, Otonashi melanjutkan ceritanya.

"Tapi tak masalah, sekarang aku diterima sebagai OB di perusahaan majalah fashion pria. Tidak terlalu buruk," ia menjeda, tersenyum pada Hisako. "Semoga di hari-hari berikutnya aku bisa naik jabatan sampai menjadi fotografer model, hehehe…" lanjutnya, menyengir.

Hisako ikut tersenyum melihat sikapnya yang menghibur. Otonashi adalah orang yang menyenangkan. Dan dia merasa telah mendapatkan teman baru.

"Oh, ya, aku seharusnya bertemu di kafe dengan temanku. Kau mau ikut?" tawar Otonashi.

"Yang benar? Bukankah lebih baik kalau kau sendirian saja?"

"Sudahlah, jangan sunkan. Manusia adalah makhluk sosial, lebih banyak teman, lebih baik, ya kan?"

Hisako tersenyum sebelum menerima tawarannya.

Motor skuter kecil milik Otonashi yang digunakan untuk pergi ke kafe yang dituju memang tidak terlalu mengesankan, tapi setidaknya masih ada kendaraan untuknya bertransportasi.

Sesampainya di sana, mereka duduk di meja yang sudah ditempati oleh perempuan berambut pirang panjang. Kacamata hitamnya yang lebar menghiasi wajahnya yang tirus.

"Kenalkan, ini temanku, Eri," kata Otonashi. Si perempuan berambut pirang menyeruput kopinya sebentar sebelum tersenyum manis pada Hisako. Bibirnya mengilap karena lip gloss merah muda yang dipakainya.

"Salam kenal, aku Eri," ucapnya ramah. "Dan kamu?"

"Aku Hisako," jawabnya singkat.

"Ingin pesan sesuatu? Aku yang traktir, lho." Eri berkata, senyuman manisnya tetap terukir. Dia memangku lengan sambil menatap Hisako dibalik kacamata hitamnya. Hisako masih terdiam, menatap jam tangan yang dikenakan Eri, membuatnya terlihat seperti orang tajir. "Jadi, kamu pacar barunya Otonashi, ya?"

Hisako terkejut sesaat, "Eh, bukan. Kita baru saja bertemu."

"Oh, begitu." Eri tertawa pelan, "Jadi, mau pesan apa?"

"Ah… ehm…" Hisako mengetuk dagunya perlahan sembari berpikir. "Cappuccino panas saja untukku."

Eri mengangguk lembut sambil mengangkat tangannya dengan anggun. Jemarinya lentik dengan cincin perak di jari telunjuknya. Seketika Hisako berpikir ternyata Otonashi juga bisa berteman dengan orang-orang berkelas.

Tak lama kemudian seorang pelayan menghampiri meja mereka. Eri berbincang perlahan kepada sang pelayan sebelum pelayannya mengangguk dan pergi menuju dapur.

"Jadi, ada acara apa mengajak Hisako ke sini, Otonashi?" Eri membuka pembicaraan.

"Ya, mungkin kalian bisa saling berkenalan," jawab Otonashi. "Hisako akan menjadi teman sesame fotografer-ku di festival music universitasnya."

"Ah, ya. Otonashi adalah fotografer yang berbakat, kau pasti akan menyukainya, Hisako," puji Eri, menegakkan tubuhnya. Baju yang dikenakannya casual. Baju berlengan pendek warna biru laut yang menampilkan mulus lengan putihnya, dengan celana jeans selutut dipadu dengan flat-shoes hitam. Sederhana dan menarik.

"Biasa saja, aku yakin Hisako juga tak kalah hebat," jawab Otonashi merendah hati.

Selang beberapa menit, pesanan yang ditunggu datang juga. Pelayan menurunkan dua buah gelas dari nampannya. Secangkir kopi panas, dan, anehnya, segelas lebar minuman keras. Hisako tahu dari warna kuning keemasan yang sering ia lihat di film-film.

"Ah, kau baru tahu kafe ini menyediakan minuman keras?" ujar Eri setelah membaca raut wajah terkejut Hisako. "Hanya pesanan khusus, tidak diperbolehkan untuk semua pelanggan. Kau harus membayar ekstra untuk ini."

Hisako mengangguk mengerti, membisu saat menonton Eri menenggak mirasnya sampai hampir habis.

"Mau mencobanya?" Eri menyodorkan gelasnya kepada Hisako.

"Eh, tidak terima kasih." Hisako menolak sopan.

"Ah, hanya sedikit saja, kok." Tiba-tiba Otonashi menyambung.

Suasana menjadi hening ketika Hisako menatap gelas itu lekat-lekat. Ia menggenggam erat gelas itu sambil terus menatap. Selama ini ia belum pernah mencoba miras meskipun umurnya sudah cukup, dan dia penasaran. Apa rasanya?

Hisako menenggak sisa minuman itu dengan cepat, lalu menaruh lagi gelasnya ke meja. Rasanya panas. Menjalar ke tenggorokan hingga ke seluruh tubuh. Badannya merinding sesaat ketika merasakan sensasi aneh di lidahnya.

Otonashi tertawa, "Hangat, kan?"

Hisako mengangguk sambil tersenyum gugup. Sepertinya ia mulai menyukai apa yang baru saja dirasakannya. Baru kali ini ia mencoba miras, dan rasanya lebih baik dari yang selama ini ia kira.

"Baru pertama kali mencoba, ya?" Tanya Eri.

"Ya."

Tiba-tiba Eri menyengir. "Oh, pantas saja. Reaksimu lucu sekali," katanya, kemudian tertawa bersama Otonashi.

Selanjutnya mereka berbincang-bincang. Topiknya bermacam-macam, mereka tertawa-tawa sambil terus memesan minuman keras yang tadi. Tanpa disadari, Hisako sudah meminum hampir tiga gelas, dan kepalanya mulai terasa pusing, matanya sayu.

"Sepertinya Hisako sudah tidak kuat," komentar Otonashi. Keduanya tertawa sebentar sebelum Hisako akhirnya membenamkan wajahnya di meja, badannya lemas.

"Sial, dia pingsan," bisik Eri.

Otonashi mengangkat satu alis, "Lalu?"

Eri membuka kacamatanya karena tegang, "Ini tidak sesuai rencana!" ia membentak dengan suara berbisik.

"Kupikir ini lebih baik daripada rencana kita sebelumnya," ujar Otonashi, tersenyum miring. "Bawa dia pulang."

Lalu pria berambut jingga itu meninggalkan meja, pulang ke tempat tinggalnya. Eri mendesah pasrah, mengangkat tubuh Hisako dari tempat duduk dan menopang lengannya di pundaknya. Hisako bergumam tidak jelas ketika Eri sedang membayar tagihannya.

Eri membawanya keluar, berbicara singkat kepada pria besar berjaket kulit hitam. "Aku butuh jasamu," ucapnya singkat. Eri mengeluarkan segenggam uang kertas dan memperlihatkannya tepat di depan wajah si pria besar. Pria itu mengangguk dan berjalan menuju mobilnya.

Eri dan Hisako duduk di kursi belakang sementara pria besar itu menyetir mobil menuju apartemen Eri.

"Ada acara apa sampai kau mengenakan wig pirang itu?" Tanya si pria tiba-tiba.

"Sssst! Diam kau!" Bisik Eri.

Hisako tetap bergumam tidak jelas sampai akhirnya tertidur di paha Eri.


Aduh pasti udah pada tau deh itu siapa yang namanya Eri wkwkwkw... :v

See ya in next chapter!

Thanks for reading!