Disclaimer ©Tite kubo
(Saya hanya meminjam karakter di dalamnya sebagai karakter dalam fanfik saya, tanpa berniat mengambil keuntungan apa pun selain kesenangan pribadi)
.*.
Devil Beside Me
by
Ann
.*.
Peringatan: AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo(s),
tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'
Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca ...
selamat menikmati!
.*.
Nasib kita serupa tapi tak sama.
.*.
Bagian Dua
.*.
Rukia sudah menggunakan seluruh tenaganya. Berteriak, memukul, menendang, bahkan menggigit, semua telah dilakukan. Namun, tak satu pun mampu membuat pria itu bergeming. Memang ada sekali-dua, pria itu menyumpah karena serangannya. Tapi sama sekali tidak membuat pria oranye itu menurunkannya. Pria itu memikulnya di bahu dengan enteng, seolah ia hanya karung beras seberat lima kilo.
Ia menjerit panik ketika dibawa memasuki sebuah kamar lalu dilemparkan ke atas tempat tidur. Rukia menatap ngeri sosok menjulang di depannya. Rasa takut dengan segera menjalari diri Rukia, namun ia tak semudah itu menyerah. Diraihnya benda terdekat yang bisa ia temukan, kemudian ia lempar ke arah si pria besar. Lemparan pertama tepat mengenai wajah pria itu, tapi yang ia lempar hanya berupa bantal. Sama sekali tidak ada efeknya. Lemparan kedua meleset. Ketiga pun sama. Meski tepat sasaran pun tak akan berguna, karena yang Rukia lempar masih benda-benda yang ia temukan di atas tempat tidur. Kemudian ia turun dari kasur, meraih lampu tidur dengan kedua tangannya. Rukia sudah mengambil ancang-ancang untuk melempar, ketika suara penuh kemarahan memenuhi kamar.
"Berhenti melempariku!"
"Lepaskan aku!" balas Rukia.
"Aku tidak menangkapmu," sahut pria oranye.
"O ya? Lalu ini apa? Kau membawaku ke kamarmu dan mengunci pintu."
"Pintunya sama sekali tidak dikunci." Seolah untuk membuktikan ucapan pria itu, dua orang masuk ke dalam kamar. Masing-masing membawa tas Rukia.
"Semua baik-baik saja, Kaichou?" Pria berambut hitam dengan tato 69 di wajah bertanya.
"Situasi terkendali."
"Lalu apa yang akan kau─"
"Waktunya pergi, Shuhei. Biarkan Kaichou menikmati malamnya." Seorang pria lain berambut merah yang tampak seperti nanas menyeret temannya pergi. Sebelum menutup pintu ia sempat mengedip pada Rukia. dan mengatakan, "Selamat bersenang-senang."
"Dasar otak mesum." Si pria besar menggerutu.
"Kau pun sama," hardik Rukia.
Pria itu mengernyit. "Ke─"
"Kau pria mesum. Tak kusangka begini kelakuan seorang Ketua Black Sun yang terkenal. Memanfaatkan gadis lemah sepertiku untuk memenuhi keinginanmu. Kau benar-benar pria brengsek!"
Bukannya marah, pria itu malah tertawa mendengar makian Rukia. "Ternyata sekarang kau sudah tahu siapa aku. Itu bagus, tapi kau harus banyak belajar kata-kata kasar, Rukia."
Rukia memelototi pria itu. Isi kepala yang ditumbuhi rambut berwarna jingga itu pasti sudah korslet. Benar, pasti begitu. Karena tidak ada orang waras yang akan tertawa setelah dimaki, bahkan menyuruh orang yang memakinya belajar lagi.
"Dari mana kau tahu namaku?"
"Tentu saja aku tahu nama gadis yang kusukai, ya kan?"
Kali ini ucapan pria itu membuat Rukia terperangah. Dengan gamblang, pria itu mengatakan suka setelah semua yang diperbuat padanya. Pria itu, si ketua Black Sun yang katanya sangar itu, pastinya sudah kurang waras. Gila.
.*.
Gadis itu terdiam seketika. Jelas karena terkejut akan ucapan Ichigo. Sama halnya dengan Ichigo sendiri. Kalimat itu benar-benar mengejutkan. Terlontar begitu saja dari mulut tanpa ia sadari. Tapi tidak ia sesali. Bukankah kata itu yang memang ingin ia ucapkan selama ini. Sejak berminggu-minggu lalu, kala pertama kali ia melihat gadis itu di Karakura. Tentunya, Rukia tak mengingat hari pertemuan itu. Tak seperti dirinya, yang masih menyimpan setiap detail peristiwa di senja gerimis itu.
Kala itu senja perlahan turun. Warna jingga menghiasi langit barat, bersamaan dengan rinai hujan pertama menyapa. Namun, Ichigo tak sempat mengagumi semua keindahan itu. Ichigo berlari dan berlari. Menghindar dari gerombolan yang tengah mengejarnya. Satu lawan sepuluh orang dengan senjata tajam, jelas itu bukan perkelahian seimbang. Apalagi keadaan Ichigo sekarang tak memungkinkan untuk bertarung. Ia baru keluar dari rumah sakit dua hari yang lalu. Cidera akibat kecelakaan motor─diduga sabotase dari pihak lawan─yang ia alami sebelumnya masih belum pulih benar, dan hal itu menyebabkan dirinya menjadi sasaran empuk saat ini. Gerombolan di belakangnya adalah anak buah Bat Knight. Sebuah geng dari HM─Huceo Mundo, yang sejak lama ingin melebarkan wilayah kekuasaan ke Karakura.
Ichigo menyeret langkah dengan tertatih sembari merutuk kepada diri sendiri karena pergi tanpa memberitahu seorang pun. Tadinya, Ichigo merasa itu keputusan yang benar sebab sudah beberapa hari ini ia tak pernah sendirian. Ternyata keputusan merenggangkan kaki di wilayah sendiri menjadi bumerang.
Pelariannya membawa Ichigo ke gedung apartemen sederhana berlantai 3. Ia memasuki gedung, berniat meminjam telepon untuk meminta bantuan ke markas. Tak menemukan siapa pun di pos jaga yang terkunci, Ichigo berusaha mencari pintu apartemen yang terbuka. Nihil. Semua pintu terkuncing rapat seolah semua orang tak ada yang ingin terlibat dengan perkelahian antar geng. Tentu saja tak ada orang awam yang mau mempertaruhkan keselamatan untuk menolong seseorang sepertinya.
Kini Ichigo berada di belakang gedung. Pengejarnya belum tampak. Tapi ia mendengar keributan dari dalam gedung. Ia terus berlari, namun jalan di depannya buntu. Berpagar kawat setinggi dua meter lebih. Dalam keadaan normal Ichigo tentu dapat melewati pagar itu dengan mudah. Tapi kakinya tak bisa dipakai memanjat sekarang, bahkan ia baru menyadari jika darah merembes di bahu pakaian. Sepertinya luka sobek di bahu akibat kecelakan kembali terbuka. Dengan terpaksa Ichigo menyembunyikan diri di dalam bak sampah.
Langkah-langkah terdengar satu menit kemudian. Seseorang mendekat diikuti beberapa orang di belakang. Tutup bak sampah terbuka, membuat cahaya matahari sore mengarah tepat ke mata Ichigo sehingga tak dapat melihat siapa yang membuka tutup bak. Ketika matanya sudah bisa menyesuaikan diri dengan cahaya, semua kembali gelap.
"Hei, apa kau melihat seseorang berlari ke arah sini?"
Bersamaan suara itu, sebuah kantong plastik menjadi kawan baru Ichigo. Jatuh tepat mengenai wajahnya. Hampir saja ia menyumpah. tutup bak sampah kembali merapat.
"Tak ada seorang pun yang datang. Aku sendirian."
Suara yang menyahut itu terdengar tenang, dan terdengar seperti suara perempuan.
"Cari ke sebelah sana!"
Langkah-langkah terdengar menjauh. Semenit kemudian tutup bak kembali terbuka. "Mereka sudah pergi, kau bisa keluar."
Ichigo segera melompat keluar. Saat kakinya berhasil menginjak tanah dengan rasa sakit yang teramat sangat, si penolong sudah menjauh. Benar dugaannya, si penolong adalah seorang perempuan.
"Hei, kau seharusnya tidak meletakkan plastik itu tepat di wajahku." Kata-kata itulah yang pertama keluar dari mulut Ichigo, alih-alih terima kasih.
Si penolong menghentikan langkah, kemudian berbalik ke arahnya. "Maaf, aku tidak sengaja," ucap gadis itu dengan sangat sopan. "Karena tidak setiap hari aku menemukan ada orang bersembunyi di bak sampah. Lain kali aku akan lebih berhati-hati." Setelah mengatakan itu, si gadis kembali melanjutkan langkah.
Ichigo terdiam. Ia merasa bersalah telah memarahi orang yang menolongnya. Dengan langkah tertatih, ia berusaha menjajari langkah si penolong. Namun, kakinya masih terasa sangat sakit sehingga terhenti sesaat. "Terima kasih atas bantuanmu." Ia hanya bisa meneriakkan kata itu.
Gadis itu memandangnya dari balik bahu. Ichigo merekam momen itu. Ketika cahaya jingga menyentuh lembut rambut sehitam arang, hujan yang perlahan membasahi, dan suara tenang nan anggun dari mulut sang gadis. "Kecilkan suaramu, orang-orang itu bisa saja mendengarmu dan kembali, lalu menangkapmu."
Tak ada balasan atas ucapan terima kasihnya, atau pun senyum yang menyertai. Tapi tetap saja jantung Ichigo berdebar cepat. Itu bukan debaran yang disebabkan pengejaran tadi. Namun, jenis debaran lain yang sebelum ini tak pernah Ichigo rasakan.
Akhirnya, setelah berminggu-minggu memendam rasa. Kata itu akhirnya terucap. Terbebas dengan lancar dari mulut Ichigo. Sekarang, hanya menunggu reaksi dari sang gadis.
.*.
"Gila!"
Akhirnya kata itu terlontar juga dari mulut Rukia.
"Sepertinya memang begitu." Pria itu menyahut dengan enteng. Lagi. Rukia hanya bisa menatap tak percaya lelaki di depannya. "Kuakui perasaan aneh untukmu ini memang mengganggu kewarasanku. Bayangkan saja, aku rela duduk di kedai makan dengan makanan yang tak kusukai di depanku satu jam setiap malam sebulan penuh. Orang waras tidak akan melakukan hal itu, kan?"
Mau tak mau Rukia sependapat. Tapi adakah orang tak waras yang mengakui ketidakwarasannya? Baru kali ini Rukia menemui orang seperti itu. "Sebenarnya, kau bisa memesan yang lain," ujar Rukia. Sekarang obrolan mereka terdengar normal. Seperti dua orang yang baru berkenalan dan berbasa-basi membicarakan cuaca.
"Ya, aku bisa saja memesan yang lain. Tapi karena makanan itu yang pertama kali kautawarkan, hanya itu yang terpikirkan olehku."
"Kau─" Bola mata Rukia melebar tak percaya. Entah pria itu polos atau bodoh. Sejak tadi jawaban yang keluar dari mulut pria itu benar-benar tak Rukia sangka. Rukia merasa seperti berbicara dengan anak kecil yang perkataannya seringkali ajaib. Ia meletakkan kembali lampu ke nakas, lalu mendudukan diri di pinggir tempat tidur. Entah mengapa kini tak lagi merasakan ancaman dari sosok menjulang di depannya. Malah, ia ingin tertawa. Mungkin, ia sudah tertular kegilaan ketua Black Sun itu.
"Kalau semua yang kaukatakan benar, maksudku tentang perasaanmu itu. Mengapa kau melakukan semua ini padaku? Kau membuatku kehilangan pekerjaan. Diusir dari rumah, bahkan dari kota. Kau menghancurkan kehidupan baruku."
"Aku minta maaf."
Ucapan itu sukses membuat Rukia kembali terheran-heran. Di depannya berdiri ketua geng yang konon menakutkan, alih-alih Rukia seperti berhadapan dengan pemuda tanggung yang tengah mencoba meminta maaf atas kesalahannya.
"Tak ada niat melakukan itu. Aku tak ingin kau dipecat apalagi diusir dari kota ini. Aku tak melakukan apa pun, bahkan tak mengatakan apa pun. Orang-orang yang melakukan tindakan dengan sendirinya."
Rukia hanya diam mendengar penjelasan Ichigo.
"Mereka melakukan tindakan yang mereka pikir dapat menyenangkanku. Orang-orang terlalu takut padaku."
Rukia mendengar ketidakberdayaan dalam kata-kata itu. "Mengingat posisimu, memang layak orang-orang takut padamu," sahutnya.
"Begitu juga kau." Tatapan yang mengarah pada Rukia tajam, mengintimidasi, seolah ingin membuktikan perkataan pria itu. Namun, Rukia tak lagi merasa takut. Dengan cara misterius, pertemuannya dengan Ichigo malam ini mengubah sudut pandang terhadap pria itu.
"Aku monster. Orang-orang memanggilku setan." Pria itu sengaja menakut-nakuti.
Sepasang violet Rukia mengarah pada Ichigo. Mendengar perkataan pria itu, caranya berucap, kemudian melihatnya. Rukia merasa seperti tengah melihat diri sendiri. Mereka sama dengan cara yang berbeda. Sendirian dan terkucilkan.
"Dan orang-orang memanggilku pembawa sial," ujarnya.
Ichigo terdiam memandanginya.
"Kisah kita serupa tapi tak sama." Rukia melanjutkan. "Setidaknya, kau memiliki pencapaian sedang aku ...," ia menghela napas, "aku gagal dipermulaan."
"Kau bisa memulainya lagi dari awal," ujar Ichigo.
Rukia mengedikkan bahu. "Sulit, tapi akan kucoba." Ia memandang jam yang tergantung di dinding kamar bercat merah. Pukul dua belas lewat. "Sepertinya, aku baru bisa memulainya besok. Kereta terakhir hari ini sudah berangkat."
"Mungkin itu pertanda agar kau memulai awal barumu di sini."
Ucapan itu membuat tatapan Rukia kembali pada Ichigo. "Di sini? Setelah semua yang terjadi?"
"Aku bisa memperbaiki semuanya untukmu," tawar Ichigo.
Seketika ada secercah harapan bagi Rukia. Karakura mungkin bukanlah tempat yang sempurna, tapi tempat ini jauh lebih baik dari tempat asal Rukia. Setidaknya, sebelum malam ini. "Kau akan mengembalikan pekerjaan dan tempat tinggalku?"
"Tidak."
Bagai balon yang meletup, harapan Rukia lenyap seketika. "Tapi semua ini terjadi karenamu. Kau harus bertanggung jawab."
"Aku akan bertanggung jawab," sahut Ichigo.
"Tapi kaubilang tidak akan mengembalikan pekerjaan dan tempat tinggalku?" Rukia kebingungan.
"Memang. Karena itu. aku punya penawaran lain untukmu."
Violet Rukia menyipit. Ia menanti dengan antisipasi lanjutan perkataan dari Ichigo.
"Aku akan memberikan pekerjaan dan tempat tinggal baru untukmu, berikut status."
"Status?"
"Ya. Status sebagai istri."
Detik pertama Rukia hanya bisa melongo. Kemudian dengan terbata ia bertanya, "I-is ... tri siapa?"
"Istriku."
"EKH?!"
.*.
Ichigo tak berpengalaman melamar seorang gadis. Jangankan melamar, menyatakan cinta saja tak pernah ia lakukan. Bukan karena ketiadaan keberanian, tapi sebab tak ada gadis yang mampu memikat hati. Bukan perkara sulit menemukan gadis cantik bagi Ichigo. Di sekitarnya selalu ada wanita yang bersedia menghabiskan waktu dengannya. Tinggal tunjuk, dan mereka akan datang padanya. Hanya saja, Ichigo tak berminat. Tak ada keinginan berdekatan dengan kaum hawa, sehingga tak jarang orang terdekat mempertanyakan orientasi seksualnya. Sesuatu yang mulanya membuat Ichigo marah, tapi pada akhirnya hanya ia tertawakan.
Ia normal. Tak ada yang salah dengan dirinya. Gadis-gadis cantik nan seksi masih menjadi pemandangan yang menyegarkan mata bagi Ichigo. Namun, ia perlu berpikir ribuan kali untuk menghabiskan waktu bersama mereka. Bisa dibilang, ia berhati-hati. Tak ingin menjalin hubungan, jika bukan dengan gadis yang ia sukai. Hal ini bukan tanpa alasan. Ibunya yang menanamkan prinsip itu dalam pikirannya.
Masaki melahirkan dan membesarkan Ichigo sendirian, tanpa ada sosok suami di sisinya. Ichigo terlahir dari sebuah hubungan yang dikatakan orang sebagai hubungan gelap. Ibunya bukanlah seorang istri, tak jua seorang kekasih. Masaki hanyalah wanita yang dikencani ayahnya sambil lalu. Seseorang yang ceroboh memberikan kesucian juga hatinya kepada seorang don juan.
"Berhati-hatilah, Nak. Jangan membuat seorang anak bernasib sepertimu atau seorang wanita hidup seperti ibumu ini."
Satu kalimat dari ibunya yang tak pernah Ichigo langgar. Ia tak pernah berhubungan dengan lawan jenis di luar batas. Kalaupun ingin bersama seorang gadis, ia akan melakukannya dengan benar. Karena itu, bukan pernyataan cinta yang ia lafalkan melainkan sebuah lamaran. Meski lamaran itu dianggap main-main dan diucapkan setengah hati oleh di gadis, dan membuat Ichigo ditendang keluar dari kamarnya sendiri oleh gadis mungil yang ingin ia jadikan istri.
"Kau punya waktu sampai besok pagi untuk memikirkannya, Rukia." Ichigo berkata di depan pintu yang tertutup rapat. Di dalam sana, Ichigo yakin Rukia mendengar apa yang ia katakan. "Dan satu hal, Rukia. Aku serius dengan setiap perkataanku." Usai mengatakan itu, Ichigo beranjak. Meninggalkan pintu kamar yang seharusnya menjadi tempat merebahkan diri hari ini.
Besok. Ichigo tak sabar menunggu esok tiba. Menanti sebuah jawaban yang mungkin akan mengubah kehidupannya.
"KAICHOU!"
Shuhei tergopoh menghampirinya. Dengan napas tak beraturan pria itu memberinya kabar buruk. Tanpa menunggu, Ichigo berlari. Kelihatannya, malam ini akan berlalu dengan ketegangan. Bukan hanya karena ia menunggu jawaban Rukia, tapi juga ditambah serangan Bat Knight yang menyebabkan tiga anggota Black Sun masuk rumah sakit dan seorang lagi berada di kamar mayat.
Besok keadaan sudah pasti benar-benar akan berubah.
.*.
bersambung ...
.*.
Hola, ketemu saya lagi. Saya harap kalian nggak bosan. 😉
Akhirnya, fanfik ini apdet setelah sekian lama. Maaf untuk kalian yang sudah menunggu lama. *ojigi*
Sekarang saya mau balas review dulu ya. Semua saya balas di sini ya review-nya.
Ichiruki fans
Makasih dah RnR ya. Ini dah lanjut loh.
anyaaa
Makasih dah mampir, Anyaaa.
Karena saya emang nggak bisa bikin cerita yang ngejlimet makanya bikin yang sederhana saja. Asalnya pembaca bisa ngikutin ceritanya saya sudah senang.
Iya. Udah kelar sih novelnya, tapi masih butuh banyak tambalan dan perbaikan. Hehe ...
N
Wkwkwk ... maklumlah pikiran teman-temannya Ichigo kan emang rada-rada error gituh.
Makasih dah RnR ya.
Naruzhea AiChi
Maaf, harapanmu tak bisa terkabut. Nyatanya, fic ini emang baru bisa apdet setelah hampir dua bulan. Hehe ,,,
Diusahakan nggak hiatus kok, tapi semi-hiatus.
Guest
Sebenarnya, saya bingung mau balas gimana. Saya hanya bisa bilang terima kasih banyak. Yosh! Saya akan berusaha tetap nulis fanfik IR, meski nggak bisa sesering dulu publish maupun apdet.
Sekali lagi makasih buat doanya. Novelnya belum terbit, belum dilirik penerbit. Masih perlu banyak tambalan dan perbaikan lagi. Novel yang saya tulis tentang kisah cinta remaja, jadi bisa masuk teenlit. Hehe ...
Sho
Wkwkwk ... Kalo saya labil mulu ntar malah yang baca bosen liat saya publish fic mulu. Ntar nyepam di ffn saya.
Makasih dah RnR, juga buat semangatnya.
Balalala
Jangan wajib dums, sunnah aja ya. Wkwkwk ...
Allen Walker
Makasih dah mampir, Allen.
Udah apdet nih. Semoga masih inget sama ceritanya. Hehe ...
Stefymayu yeniferangelina
Makasih dah RnR, juga untuk semua doanya, Stefy.
Wkwkwk ... Ichigo emang cuma bisa lunak di depan Rukia. Sama yang lain nggak mungkin bisa. Amiinn ...
Love you too. 3
Lucya Namikaze
Saya juga kangen fandom ini rame lagi. Tapi ya gitu, banyak yang sudah kehilangan minat nulis fanfik IR.
Udah lanjut nih. Jangan lupa mampir lagi ya. Makasih dah RnR ya.
Damai
Hai, Damai. Makasih dah RnR. Gomen ne buat ps-nya. Hehe ...
Amin ... trims buat doanya. Udah kelar diketik kok, tinggal nyari penerbit yang berminat nerbitin. Hehe ...
Ruichi15
Makasih dah RnR ya. Udah saya lanjutin nih.
Kuchiki violet
Makasih dah RnR ya. Udah lanjut nih setelah sekian lama.
Zizah
Udah saya lanjutin kok. Makasih dah RnR ya.
winaagustina8f
Udah saya apdet kok. Baca lagi ya. Makasih dah mampir.
.*.
Akhir kata, terima kasih buat kalian yang sudah meluangkan waktu baca fanfik ini, dan maaf jika di dalamnya masih banyak kekurangan.
See ya.
Ann *-*
