Disclaimer ©Tite kubo

(Saya hanya meminjam karakter di dalamnya sebagai karakter dalam fanfik saya, tanpa berniat mengambil keuntungan apa pun selain kesenangan pribadi)

.*.

Devil Beside Me

by

Ann

.*.

Peringatan: AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo(s),

tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'

Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca ...

selamat menikmati!

.*.

Karena aku ingin menjadi kuat bersamamu.

.*.

Bagian Tiga

.*.

Biasanya, seorang gadis akan merasa tersanjung ketika dilamar. Namun, apa yang Rukia rasakan sekarang jauh dari itu. Bukannya tersanjung atau merasa senang, ia malah kebingungan. Dan akhirnya ia menendang pria yang melamarnya keluar kamar.

"Kau punya waktu sampai besok pagi untuk memikirkannya, Rukia." Rukia masih mendengar suara Ichigo dari balik pintu yang tertutup. "Dan satu hal, Rukia. Aku serius dengan setiap perkataanku." Itu suara terakhir dari Ichigo yang Rukia dengar sebelum suara langkah kaki yang terus menjauh.

Rukia terduduk di tempat tidur. Pikirannya masih mencerna lamaran serius yang tak terasa serius baginya. Benaknya terus-menerus menggaungkan pertanyaan: Bagaimana bisa seorang pria yang baru ia kenal dalam waktu singkat memintanya menjadi istri pria itu? Dan ia tak bisa menemukan satu pun jawaban atas pertanyaan itu.

Rukia memandangi refleksi dirinya yang terpantul di kaca lemari pakaian. Kemudian menghela napas. Lagi-lagi parasnya yang cantik membawa masalah. Di Rukongai, dirinya tak bisa merasa aman karena banyak pria yang mencoba mendekati, membeli, bahkan memerkosanya karena tertarik dengan wajah cantiknya. Lalu sekarang wajah ini juga memikat seorang ketua gangster. Rukia mengira hidupnya di Rukongai sudah buruk, ternyata datang ke Karakura membuat kehidupannya tujuh kali lipat lebih parah dari sebelumnya. Jika dulu ia bisa menyelamatkan diri dengan pindah ke kota lain, sekarang apa yang bisa ia lakukan? Melarikan diri jelas bukan opsi yang bisa ia pilih. Seluruh kota bisa dikatakan milik Ichigo, melarikan diri dari pria itu sama saja dengan cari mati. Namun, menerima lamarannya pun bukan pilihan yang bisa Rukia ambil. Ia tak bisa menikah dengan pria yang baru dikenalnya beberapa saat, meski Rukia sudah membagi hal yang tak pernah ia bagi dengan orang lain.

Ichigo sama sepertinya, memiliki kisah yang serupa walau tak sama. Ichigo pernah merasakah kesendirian, ketakutan, dan ketidakberdayaan, seperti yang Rukia rasa. Namun hal itu tak cukup untuk membuat Rukia membuka hati bagi pria itu. Ia tak memiliki cukup keberanian untuk mencintai. Karena ketika mencintai, manusia harus berhadapan dengan kemungkinan kehilangan. Dan Rukia tak ingin kehilangan lagi.

Rukia menghela napas kemudian memunguti bantal dan guling serta selimut yang dileparkannya tadi. Merapikan semua di atas tempat tidur yang baru ia sadari berukuran besar. Setelah melakukan semua itu, ia duduk bersandar di kepala tempat tidur. Rukia mencoba merangkai kembali pertemuan-pertemuannya dengan Ichigo. Seingat Rukia pertemuan pertama mereka di kedai makan tempatnya bekerja. Tapi, Rukia merasa sebelum itu pernah bertemu dengan Ichigo. Hanya saja ia lupa kapan dan di mana. Lalu ia teringat pengakuan lucu Ichigo tentang ramen yang selalu pria itu pesan. Jika mengingat hal itu dan bagaimana Ichigo mengatakannya, pria itu sama sekali tidak terlihat seperti seorang pimpinan geng, bahkan bisa dikatakan Ichigo terlihat manis. Sama manisnya dengan pria yang Rukia dapati bersembunyi di dalam bak sampah. Tunggu! Bukankah mereka adalah pria yang sama. Ichigo adalah pria yang ditolongnya waktu itu, pria bak sampah yang mengomel setelah Rukia tolong.

"Jadi dia pria menyebalkan itu." Rukia menggeleng pelan, tak menyangka jika Sang Pengatur takdir bisa begitu baik mempertemukannya lagi dengan pria bak sampah itu, "Pria manis yang menyebalkan."

.*.

Ichigo melangkahkan kaki di antara kekacauan yang disebabkan olehnya. Beberapa bangku dan meja terbalik, botol-botol minuman berserakan, banyak di antaranya yang pecah dan sisanya berguling sambil mengeluarkan cairan yang membasahi lantai. Musik nyaring dengan irama mengentak masih terdengar mengisi ruangan, ditinggal begitu saja oleh sang DJ yang langsung kabur ketika menyadari adanya kekacauan. Begitupun tamu yang semula memadati klub, mereka segera mencari jalan keluar setelah seorang pria terlempar ke tengah lantai dansa. Mulanya, penjaga keamanan hendak melerai perkelahian tak seimbang; satu lawan enam orang itu, tapi mereka mundur teratur setelah mengetahui siapa penyebab keributan itu.

Pecahan kaca di lantai berderak, ketika Ichigo menginjak benda itu dengan sepatu botnya. Empat dari enam lawannya sudah tak sadarkan diri, ada yang terkapar di lantai, ada pula yang berakhir di belakang meja bar. Tinggal dua lagi, yang kini menatapnya dengan sorot penuh ketakutan dari pinggir ruangan.

"Tolong ampuni kami." Permohonan yang dilantunkan dengan nada menyayat hati itu sama sekali tak membuat Ichigo bergeming. Wajahnya dingin dan keras, tanpa sedikit pun belas kasih yang terlintas. Langkahnya lambat ketika mendekati satu lawan yang tersisa, setelah menjatuhkan satu lainnya dengan satu tendangan di perut, seolah tengah memikirkan pukulan atau tendangan apa yang akan diberikan pada lawan terakhir.

Pria berpakaian hippie itu mengeluarkan pistol dari belakang celananya dengan tangan gemetar. "Jika kau mendekat aku akan membunuhmu!" ancamnya.

"Apa itu pistol yang sama dengan yang kaugunakan untuk membunuh Masao?" Pistol itu sama sekali tidak membuat langkah Ichigo terhenti. Ia terus melangkah seolah yang ditodongkan padanya hanyalah sebuah pistol mainan.

"Jika bos kami tahu apa yang kaulakukan, dia tidak akan tinggal diam. Dia akan─"

"Telepon dia. Suruh dia datang sekarang, biar sekalian aku melenyapkannya."

Lawannya menelan ludah dengan susah payah. Kengerian jelas tergambar di mata pria itu. "Ka-kau tak akan bisa melenyapkannya. B-bosku sangat tangguh."

"Kalau begitu panggil dia, aku butuh lawan tangguh sekarang."

Mata pria itu membelalak ngeri akibat tantangan Ichigo. Tentu saja dirinya tak memiliki kemampuan untuk memanggil bos besar turun untuk membantunya sekarang. Bosnya tidak akan mau merepotkan diri untuk membantu anak buah sepertinya. Tak seperti Kurosaki Ichigo yang langsung tangan setelah mendengar kabar tewasnya seorang anggota Black Sun. Seorang anggota yang bahkan baru bergabung seminggu yang lalu.

Ichigo menghentikan langkah tepat di depan moncong pistol yang mengarah ke kepalanya. "Panggil dia, atau aku yang harus memanggilnya?" Ichigo mengambil ponselnya, bersamaan dengan bunyi letusan pistol. Rasa panas tajam menyabet bahu kiri Ichigo, namun peluru itu bukan berasal dari pistol di depannya. Dengan segera Ichigo merebut pistol dari pria di depannya, menyarangkan satu peluru di bahu pria itu, kemudian berbalik untuk menembakkan satu lagi pada pria yang menembaknya dari arah belakang. Pria kedua langsung tertelungkup di lantai dengan darah segar mengalir keluar dari dadanya.

"Ini peringatan untuk kalian. Jika berani mengusik Black Sun lagi, kalian akan berhadapan denganku," kata Ichigo dingin. "Nanti bukan hanya bahumu, tapi peluruku akan bersarang tepat di dadamu." Usai mengatakan itu, Ichigo menjauh mengarah ke pintu keluar, melewati korbannya tanpa sedikit pun rasa iba.

"KAICHOU!"

Ishida, Renji, dan Shuhei yang baru turun dari mobil berlari menghampiri Ichigo.

"Apa yang terjadi?" tanya Renji.

"Urus yang di dalam sana," ujar Ichigo tanpa menjawab pertanyaan Renji.

"Memangnya apa yang sudah kaulakukan di dalam tadi?" tanya Ishida.

"Pembalasan," jawab Ichigo singkat.

Renji dan Shuhei segera masuk ke klub malam yang sepi penghuni padahal waktu baru menunjukkan jam setengah dua dini hari.

"Pemilik tempat ini meneleponku. Dia sangat takut kau akan membakar tempat ini," ujar Ishida.

"Sudah sangat lama sejak terakhir kali aku membakar sesuatu," sahut Ichigo datar.

Ishida hanya mengangkat bahu. "Meski sudah lama mereka masih mengingatnya. Kejadian itu seperti dongeng pengantar tidur yang terus diulang setiap malam."

"Dan mereka tak pernah bosan mendengarnya," kata Ichigo seraya berlalu.

"Hei, kurasa kau perlu tindakan medis." Ishida berusaha menahan langkah Ichigo.

"Tak perlu, aku baik-baik saja," sahut Ichigo sambil mengeluarkan kunci dari kantong dan membuka pengunci otomatis mobilnya. "Pastikan kau mengurusnya dengan benar, aku meninggalkan satu mayat di dalam sana." Itu kata-kata terakhir Ichigo sebelum menyelipkan diri di belakang kemudi.

.*.

Suara derit pintu membangunkan Rukia dari lelap yang baru saja menghampiri. Rukia langsung bersiaga menggenggam pisau yang memang selalu ia selipkan di bawah bantal ketika hendak tidur. Ketika langkah kaki itu semakin mendekat, Rukia menarik pisau keluar dari bantal. Kemudian dengan gerakan cepat yang sudah ia latih, Rukia menyabetkan pisau ke orang yang masuk ke kamarnya tanpa izin itu.

"Gerakan yang bagus," puji si penyelinap yang berhasil dengan mudah menghindari serangan Rukia dan kini menggenggam lengan Rukia. "Tapi gerakanmu kurang terarah dan tenagamu kurang besar. Kau harus menumpukan kekuatan pada sabetanmu sehingga daya serangmu semakin tinggi dan kemungkinan miss semakin kecil."

Rukia menarik tangan hingga terlepas dari genggaman si penyelinap yang ternyata adalah Ichigo.

"Kau harus melatih gerakanmu, dan kusarankan kau mengganti pisaumu. Yang itu," Ichigo menunjuk pisau di tangan Rukia dengan dagunya, "tidak terlalu tajam, Tidak akan memberi luka berarti pada lawanmu."

Rukia hanya bisa melongo karena Ichigo sama sekali tidak marah dengan yang ia lakukan, malah memberinya saran padanya.

"Aku punya yang cocok untukmu." Ichigo mengeluarkan sesuatu dari saku celana. Sebuah pisau lipat seukuran genggaman. Ichigo mendemonstrasikan cara penggunaan pisau yang ukurannya tak lebih dari lima belas senti itu. "Pisau ini ringan tapi tajam. Desainnya ramping jadi mudah untuk disimpan di dalam kantong atau dibawa bepergian. Terbuat dari material kualitas bagus, bahanya stainless steel yang sangat kuat sehingga bisa digunakan dalam jangka waktu panjang dan tidak mudah rusak."

"Dan harganya?"

"Hei, kau kira aku sedang jualan."

Rukia terkikik. "Habisnya kau menjelaskannya seperti sales yang sedang menawarkan produk. Seperti yang di stasiun TV itu loh."

Ichigo memberengut. "Aku serius dan kau malah bercanda. Kemarikan tanganmu."

Refleks Rukia menyembunyikan tangan ke balik punggung. "Tidak mau. Tanganku tidak bisa dijadikan alat uji coba."

Ichigo memutar mata. "Siapa bilang─" Ichigo memutus jarak di antara mereka, menarik paksa tangan Rukia, kemudian mengambil pisau yang masih digenggam Rukia dan menggantinya dengan pisau lipat hitam. "Simpanlah."

Mata Rukia mengarah pada pisau lipat yang terasa hangat di telapak tangannya, kemudian menatap Ichigo. "Kau sama sekali tidak romantis," keluhnya, "Tak sampai dua jam yang lalu kau melamarku, sekarang malah memberiku pisau. Seharusnya, kau datang dengan cincin berlian bukannya pisau tajam berbahan besi tahan karat."

Kali ini Ichigo yang melongo, sementara Rukia tertawa melihat muka bodoh Ichigo. "Tapi tak apa, aku lebih butuh pisau daripada berlian," ujar Rukia sembari mencoba pisau di tangannya. "Kau benar, pisau ini lebih ringan, tajam, dengan desain simpel yang bisa kubawa ke mana saja." Rukia menyunggingkan senyum diikuti ucapan, "terima kasih."

"Bukan masalah," sahut Ichigo seraya mendudukkan diri di tempat tidur.

Rukia membelalak. "Hei, apa yang kaulakukan?"

"Aku lelah sekali." Ichigo merebahkan tubuh di tempat tidur dan memejamkan mata.

"Kalau kau tidur di situ, aku tidur di mana?" protes Rukia sambil menarik tangan Ichigo untuk memaksanya bangun. Saat itulah ia menyadari warna merah yang sebelumnya tak ada menghiasi sprei tempat tidur. "Kau terluka?" Ia langsung naik ke tempat tidur, memeriksa bekas sobekan di bahu kiri kaus Ichigo yang menampakkan luka gores yang masih mengeluarkan darah.

"Biarkan saja, hanya luka kecil. Nanti sembuh sendiri." Ichigo menanggapi dengan tak acuh.

"Tidak. Ini harus diobati. Kau bisa merusak sprei mahal ini jika membiarkan lukamu terus mengeluarkan darah," ujar Rukia.

Ichigo langsung bangun dan menatap Rukia tak percaya. "Kau mengkhawatirkan spreinya?"

"Ya, aku lebih khawatir pada spreinya. Dasar bodoh!" sahut Rukia. "Cepat bangun!" perintahnya seraya turun dari tempat tidur. "Kau menyimpan kotak obat?"

"Laci kedua yang paling kanan." Ichigo menunjuk lemari di pojok ruangan. Rukia bergegas mendekati meja, lalu mengeluarkan kotak putih berisi peralatan P3K dan membawanya ke sisi Ichigo. Ketika membuka kotak, Rukia menyadari bahwa obat-obatan dan perban yang ada di dalam kotak itu belum tersentuh sama sekali. Semuanya baru.

"Buka pakaianmu, kalau tidak aku akan mengguntingnya," perintah Rukia sambil mempersiapkan cairan pembersih luka dan perban.

.*.

Gadis itu mengobati lukanya sambil terus mengomel, sementara Ichigo hanya diam mendengarkan. Bukannya kesal dengan semua kecerewetan itu, ia malah merasa senang. Ada perasaan hangat yang menyusup di dadanya, ketika Rukia memberikan perhatian pada luka yang sebenarnya tidak seberapa.

"Selesai," kata Rukia setelah membungkus luka Ichigo dengan perban. Ichigo menatap hasil kerja Rukia, sedikit geli karena merasa perban itu terlalu berlebihan untuk luka yang menurutnya bisa ditutup dengan plester luka atau dibiarkan saja.

"Lain kali, kau harus lebih berhati-hati. Kau harus bisa menjaga diri. Hindari perkelahian."

"Aku ini gengster, pekerjaanku berkelahi sepanjang waktu," sahutannya membuat Ichigo mendapat hadiah pelototan.

"Kalau begitu, pastikan saat berkelahi kau tidak terluka, Kaichou." Rukia kembali mengeluarkan omelan. "Tapi lebih baik lagi kalau kau mengurangi berkelahi. Jangan gunakan kekerasan jika kau masih bisa menggunakan cara lain. Pakai otak, jangan pakai otot. Aku tidak ingin melihatmu pulang dengan keadaan seperti ini. Aku tidak mau setiap hari harus jadi perawat dadakan untuk luka-lukamu. Maaf saja, aku tidak terlalu ahli dalam mengobati luka. Aku─"

"Rukia." Ichigo memotong aliran kata-kata Rukia.

Rukia menghentikan pekerjaan merapikan kotak P3K dan menatap Ichigo. Dan untuk beberapa saat Ichigo lupa apa yang hendak dikatakannya pada gadis itu. Violet itu membius, membuatnya lupa akan segalanya.

"Apa?" Pertanyaan tak sabar dari Rukia menyadarkan Ichigo.

Ichigo berdeham, mencoba menyusun kembali pertanyaan yang ingin diajukan. "A-aku ..." Rasanya begitu sulit bagi Ichigo untuk membuka mulut, mengeluarkan tanya yang ingin segera ia ketahui jawabnya. Ichigo meragu, takut jika jawaban yang ia dapat tak seperti yang diharapkan. Lalu, jika benar hal itu yang terjadi, Ichigo tak tahu bagaimana cara menghadapi penolakan.

"Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan," ujar Rukia.

"Kau tahu?" Pertanyaan Ichigo dijawab dengan anggukan oleh Rukia.

"Kau ingin tahu jawabanku, kan?" Kali ini Ichigo yang mengangguk.

Rukia memasukkan botol berisi rivanol ke dalam kotak P3K, kemudian menutup kotak. Jemari gadis itu mencengkeram sisi-sisi kota, ketika kembali bersuara, "Aku baru mengenalmu dan aku tidak mencintaimu." Rasa sesak mengisi rongga dada Ichigo setelah kata-kata pembuka itu diucap. "Kau orang asing yang membuat kehidupan baruku kacau." Ichigo menghela napas. Ia menyadari jika yang dikatakan Rukia adalah kebenaran. "Seharusnya, aku menolakmu. Karena masa depan bersama seorang ketua gengster bukanlah apa yang kuinginkan." Ichigo menatap Rukia, perlahan harapannya tumbuh. "Tapi aku tak ingin lari lagi. Aku lelah menjadi seorang pengecut yang hanya lari. Jadi, aku ingin melawan, ingin menjadi kuat," ada jeda sebelum Rukia melanjutkan, "bersamamu."

.*.

bersambung ...

.*.

Hola, saya kembali dengan bagian 3. Semoga suka dengan apa yang saya tuliskan di sini. Terima kasih sudah mampir di fanfik ini, jangan lupa tinggalkan jejak ya.

See ya,

Ann *-*

.*.

Review's review:

Hazuna

Halo, makasih dah RnR ya. Ne udah lajut kok.

Chappyberry lover

Hahaha ... Ichigo dapat balasannya.

Yep. Anggap aja ini pengganti Home, karena fanfik yang satu itu nggak bisa saya lanjut lagi. :'(
Makasih dah RnR ya.

Azura Kuchiki

Udah diterima kok, Mou-chan. Wkwkwk ...

Makasih dah RnR ya.

Guest

Yep. Akhirnya apdet setelah sekian lama. Hehe ... Doain ya biar bisa apdet tiap bulan.

Di chap ini juga ada adegan dalam kamar loh. wkwkwk ...
Nanti pertanyaanmu bakal terjawab.

Jugram? Sayangnya bukan.

Udah diterima kok. Hehe ...

Amin ...

Makasih dah mampir ya.

HyperBlack Hole

Yuppy!

Makasih dah RnR

Vianna Cho

Makasih dah baca dan review.

Pertanyaanmu akan terjawab perlahan-lahan di chapter-chapter berikutnya.

Allen Walker

Hai, Allen. Makasih dah mampir ya.

Yep, lama banget baru bisa apdet nih.

Abaikan saja ending aslinya, bikin ending sendiri yang sesuai keinginan. wkwkwk ...

Yosha! Bakal tetap berusaha bikin fanfik IR, setidaknya nyelesein MC-MC yang belum kelar sampai sekarang.

Iya, nanti akan diceritakan, tapi belum tahu akan secara detail atau tidak.

Udah lanjut nih.

IchiRuki HF

Hahaha ... Ichigo emang nggak elit juga nggak romantis, tapi dia serius. Dan yang elit dan romantis bakal kalah sama yang serius. *apa ini?

Udah lanjut nih, makasih dah RnR ya.

Ruichi15

Nunggu dua bulan itu lama ya. Hehe ... gomen ne.

Okey, nih saya kasih chap 3-nya dalam waktu kurang dr 2 bulan. Hehe ...

Makasih dah mampir.

Rukichigo

Makasih dah RnR ya. Jangan lupa mampir lagi.

wowwoh geegee

Amin ... jawabannya baik-baik kok. Hehe ...

Makasih dah mampir.

winaagustina8f

Udah lanjut nih, walau nggak pake kilat.

Makasih dah RnR ya.

leinalvin775

Makasih dah RnR ya~

Takijawa

Neh dah apdet, tapi nggak pake kilat ya. :3

stefymayu yeniferangelina

Halo, Stefy. Jawaban Rukia dah ada tuh. Sekarang belum rusuh, nanti aja rusuhnya.

Sama-sama, Dek. Maafin juga kalo ada salah dan khilaf kata selama ini.

Luv U, 3

hida

Udah lanjut nih. Makasih dah RnR

Ichiruki 4vr

Hi, nice to meet you. Thanks for trying to use google translate to read my fanfiction. It's an honor for me. I also wrote a reply to this review by using GT, because my English language skills are minimal.

Hahaha ... Ichigo is a sweet gangster. And his relationship with Rukia begins in a unique way. They are similar but not the same. But eventually will stay together. They will find a way to be together despite TK did not approve.

Hendrik Widya w

Makasih.

Yup. Dah lanjut nih.

Eonnichee835

Udah, Sayang. Makasih dah RnR.

Ukki-ukki chan

Makasih dah mampir ya. Udah saya lanjutin nih, jangan lupa berkunjung lagi.