Disclaimer ยฉTite kubo

(Saya hanya meminjam karakter di dalamnya sebagai karakter dalam fanfik saya, tanpa berniat mengambil keuntungan apa pun selain kesenangan pribadi)

.*.

Devil Beside Me

by

Ann

.*.

Peringatan: AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo(s),

tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'

Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca ...

selamat menikmati!

.*.

Masa lalu merupakan pengingat agar kau tak melakukan kesalahan yang sama di masa mendatang.

.*.

Bagian Empat

.*.

Rukia bangun saat matahari sudah tinggi, dan mendapati dirinya sendirian di kamar itu. Bergegas turun dari tempat tidur, ia berusaha mencari keberadaan Ichigo. Tapi di kamar itu tak ada orang lain. Ia ingin mencari Ichigo keluar, namun memutuskan untuk membersihkan diri terlebih dahulu.

Lima belas menit kemudian, ia keluar dari kamar mandi, memekik kaget menemukan Ichigo duduk di tempat tidur.

"Aku membawakan makanan untukmu," ujar pria itu menunjuk nampan yang diletakkan di meja tak jauh dari tempat Rukia berdiri.

Rukia menghampiri meja, lalu duduk di sofa empuk berwarna krem. Perutnya langsung bernyanyi melihat sepiring nasi, ikan bakar, semangkuk sayuran, sebutir apel, dan segelas air putih serta susu. "Susu?" Ia memandang ke arah Ichigo dengan bingung.

"Bagus untuk menguatkan tulang," sahut Ichigo asal-asalan.

Rukia menahan geli, lalu teringat pembicaraan terakhirnya dengan Ichigo semalam, sebelum akhirnya ia jatuh tertidur.

Aku ingin menjadi kuat bersamamu.

Ya. Itu yang Rukia butuhkan sekarang. Kekuatan. Ia tak mau lagi menjadi mahkluk lemah yang hanya bisa bersembunyi, lari, dan meringkuk ketakutan. Ia ingin menjadi manusia yang berdiri kokoh di atas kedua kakinya, dengan kepala terangkat penuh kebanggaan. Dan jika bersama Ichigo bisa memberinya kekuatan itu, Rukia akan melakukannya.

"Makanlah, kau pasti lapar." Ichigo tidak memerintah atau bersikap kasar padanya, malah pria itu memperlakukan Rukia dengan lembut. Perlakuan yang belum pernah Rukia terima seumur hidupnya. Tak pernah ada seorang pria pun di dalam kehidupan Rukia yang pernah memperlakukannya dengan lembut dan perhatian. Ia terbiasa diperlakukan dengan kasar bahkan brutal. Itulah sebabnya Rukia menjaga jarak dengan laki-laki.

Rukia mulai makan. Pertama mencubit sedikit ikan bakar dengan sumpit dan mengunyahnya pelan, walau tengah kelaparan Rukia masih ingat etiket makan yang diajarkan ibunya.

"Melihatmu sekarang, aku jadi bertanya-tanya dari mana asalmu?" Ichigo bersuara.

Mata Rukia terarah pada Ichigo, dan untuk sesaat napasnya tertahan. Di siang hari Ichigo terlihat berbeda. Dengan kaos hitam polos pas badan dan celana jeans biru pudar, pria itu terlihat normal, bahkan tampan. Sepertinya, menikah dengan pria ini bukan pilihan yang jelek. Pemikiran itu terlintas di kepala Rukia, dan membuatnya kesal sendiri. Jangan tertipu dengan penampilan fisik laki-laki.

"Aku berasal dari Rokungai," jawab Rukia, sama sekali tak menutupi jati dirinya. Jika ia dan Ichigo akan terlibat dalam sebuah hubungan setelah ini, ia ingin Ichigo tahu siapa dirinya begitupun sebaliknya.

Sorot mata Ichigo terlihat tertarik. "O ya? Melihat caramu makan, kau tidak terlihat berasal dari daerah kumuh itu."

Rukia mendesah. "Percaya atau tidak aku memang lahir dan dibesarkan di sana, dan tak mau kembali lagi ke sana."

Pernyataan terakhir Rukia menarik keingintahuan Ichigo. "Kenapa?"

"Karena tempat itu begitu buruk, dan semakin buruk setelah ibuku meninggal." Rukia memulai ceritanya. "Aku kehilangan rumah kami, terusir dari sana karena pamanku menganggap aku tak memiliki hak atas rumah itu padahal ibuku yang membelinya dengan hasil keringatnya sendiri." Ia menarik napas dalam sebelum melanjutkan. "Lalu aku tinggal di sebuah apartemen kecil, hanya berupa sebuah kamar. Pergi bekerja untuk upah yang yang tak seberapa. Kukira aku bisa bertahan, tapi dengan pria-pria yang menggedor kamarku setiap malam, mucikari yang menawariku pekerjaan, danโ”€" Ia tak sanggup melanjutkan.

"Dan?" desak Rukia.

"Itu adalah puncaknya. Beberapa orang masuk ke kamarku, mencoba memerkosaku. Aku beruntung bisa kabur, dan keesokkan harinya aku langsung memutuskan untuk pergi."

Emosi di mata Ichigo tak dapat terbaca sehingga Rukia tak dapat menebak apa yang ada di pikiran pria itu sekarang. "Kenapa memilih Karakura?"

"Karena kota ini menjadi tujuan akhir kereta yang kunaiki." Rukia menjawab dengan jujur.

"Jadi, Karakura adalah pilihan spontan?"

Rukia mengedikkan bahu. "Satu-satunya pilihan karena aku tak punya uang lagi untuk membeli tiket."

"Pantas saja kau sangat marah," kata Ichigo. "Kau melewati banyak hal saat berusaha memulai kehidupan barumu, dan aku mengacaukannya."

"Bukan kau, tapi orang-orang yang salah paham terhadapmu," ralat Rukia. Ichigo menatapnya, masih dengan tatapan yang tak bisa Rukia pahami.

"Semalam kau lupa mengatakan sesuatu kepadaku," ujar Ichigo.

"Apa itu?"

"Kau belum mengatakan kau setuju menikah denganku."

Rukia meringis. Memercayai Ichigo adalah satu hal, tapi menikah dengan pria itu merupakan keputusan yang tak bisa diambil dengan begitu cepat. Menikah adalah keputusan yang besar, apalagi jika dilakukan dengan orang asing. "Bisakah kita melakukannya nanti, setidaknya setelah kita saling mengenal," pintanya. "Mungkin sebulan atau dua bulan lagi."

Ichigo tampak memikirkan perkataannya beberapa saat, kemudian pria itu mengangguk. "Tidak ada salahnya untuk menunggu."

"Terima kasih," ucap Rukia.

"Habiskan makananmu. Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat."

"Ke mana?"

"Kau ingin kita saling mengenal, bukan?"

Rukia mengangguk menanggapi.

"Aku sudah mendengar kisahmu, sekarang giliranku bercerita," ujar Ichigo.

.*.

Sama seperti Rukia, memercayai bagi Ichigo adalah sesuatu yang sulit. Ia tak bisa begitu saja menceritakan kisah hidupnya kepada seseorang. Namun, kepada Rukia ia begitu mudah membuka diri. Mereka asing, tapi terasa dekat. Begitu dekat seolah ada benang tak kasat mata yang menghubungkan mereka. Benang merah takdir yang mempertemukan dan mempersatukan mereka dengan cara yang aneh.

"Siap?"

Rukia mengangguk menjawab pertanyaan Ichigo.

Ferrari yang dikemudikan Ichigo melaju di atas jalanan beraspal. Dengan cepat gedung markas Black Sun mengabur, kemudian tak terlihat lagi.

"Ke mana kau akan membawaku?" tanya Rukia.

"Ke tempat semua ini bermula," jawab Ichigo. Setelahnya tak ada suara yang keluar dari mereka. Keheningan menemani perjalanan yang memakan waktu hampir satu jam itu.

Mereka berbelok ke jalam masuk menuju sebuah mansion. Pagar yang terbuka dan miring, jalanan bata yang rusak, sesemakan yang tak beraturan, pohon yang kering sewarna arang, lalu sisa-sisa bangunan yang menghitam, membuat Rukia bertanya-tanya tempat apa yang mereka tuju.

"Ini ...?"

"Mansion keluarga Shiba," jawab Ichigo dengan rahang terkatup, lalu ia turun dari mobil. Rukia mengikutinya, berdiri di sisi Ichigo memandang bangunan yang habis terlahap api. Kejadiannya sudah lama berlalu, tapi sang pemilik lebih memilih untuk pergi daripada membangun kembali mansion itu.

"Apa yang terjadi?" tanya Rukia karena Ichigo tak kunjung buka suara.

"Aku membakar mansion ini," jawab Ichigo.

Mata Rukia membelalak. "Kau? Kenapa?"

"Karena aku membenci pemilik tempat ini," jawab Ichigo tanpa rasa bersalah. Ah, ia memang tak merasa bersalah sama sekali. Itu sepadan dengan apa yang telah pria itu lakukan kepada ibunya. "Padahal aku seharusnya memanggilnya ayah," ia menambahkan.

"A-ayahmu?" tanya Rukia hati-hati.

"Shiba Isshin adalah ayahku. Kenyataannya adalah seperti itu, tapi baginya aku tak pernah ada. Aku hanya sebuah kesalahan yang seharusnya tak pernah muncul lagi ke permukaan." Ichigo bersidekap, memandang sisa-sisa bangunan yang telah menjadi arang. Namun, ia masih bisa melihat bangunan itu seperti ketika masih berdiri utuh. "Kelahiranku tak diinginkan oleh sebagian orang, tapi ibuku mencintaiku hingga rela menanggung semua penghinaan demi melahirkanku ke dunia. Ibu menjalani kehidupan yang sulit sewaktu membesarkanku, dia dikucilkan dari masyarakat, dari keluarga, hanya beberapa orang yang mau berbaik hati membantu kehidupan kami yang sulit."

Ichigo menghentikan kata-katanya sesaat. "Aku baru mengetahui siapa ayahku di usia tujuh tahun, dan seperti anak tujuh tahun lainnya, aku sangat ingin punya ayah. Aku mendatangi tempat ini. Karena penjaga gerbang tak mengizinkanku masuk, aku hanya bisa memandang rumah besar ini dari luar gerbang sambil bertanya-tanya bagaimana rasanya tinggal di tempat ini." Ia mendengus. "Waktu itu aku sangat naif. Aku berpikir jika ayahku tahu tentang keberadaanku, dia akan senang, lalu membawaku dan ibu ke rumah ini." Ia menghentikan kisahnya.

"Tapi dia tak menginginkanmu, ya, kan?" ujar Rukia.

Tak berani memperlihatkan emosi yang tengah bergejolak dalam dirinya, Ichigo tak menoleh pada Rukia, hanya menjawan dengan pelan. "Ya, aku tak diinginkan."

"Karena itu kau dendam padanya?"

Ichigo menghela napas. "Tak pernah ada dendam, hanya kecewa dan sakit hati." Ia menertawakan diri sendiri. "Aku dulu anak yang polos dan naif, selalu menganggap apa yang dikatakan ibuku adalah kebenaran. Ibuku tidak pernah menjelek-jelekkan orang itu, malah mengajarkanku untuk menghormatinya. Dia wanita yang berhati lembut dan penyayang." Nada suaranya melembut sewaktu menceritakan tentang ibunya.

"Sepertinya, dari semua kesialan yang kita dapatkan, kita beruntung memiliki seorang ibu berhati lembut dan penyayang."

"Kau benar," bisik Ichigo.

"Maukah kau melanjutkan ceritamu," pinta Rukia.

"Hari itu ulang tahunku yang ke delapan. Aku datang ke tempat ini hanya untuk melihat ayahku. Aku berdiri tepat di sini setelah berhasil memanjat tembok di sebelah sana." Ichigo menunjuk bagian tembok yang dipenuhi sesemakan. Tembok itu setinggi dua meter, tentunya akan sulit bagi anak berumur delapan tahun memanjatnya. Tapi hari itu, Ichigo dengan nekad memanjat hingga lutut dan tangannya lecet dan berdarah. "Siku dan lututku terasa sakit, tapi aku tetap berdiri dan menunggu. Orang itu keluar, matanya langsung mengarah kepadaku. Dia membelalak ngeri, dan setelah itu aku dilempar keluar oleh dua penjaga." Ia menghela napas berat. "Ibu yang memang mencariku melihat kejadian itu. Ibu marah karena aku diperlakukan seperti itu. Ibu menerobos masuk dan menantang Shiba Isshin. Mereka terlibat perang mulut, dua penjaga menangkap ibu. Salah satunya menampar ibu karena ibu memberontak. Lalu aku mengamuk, menghajar dua penjaga itu sampai pingsan, dan mengejar pria itu ingin membuat perhitungan atas apa yang diperbuatnya. Karena tak menemukannya di dalam rumah, aku mengamuk, melempar barang, semua orang lari menjauh. Bahkan koki yang tengah memasak meninggalkan kompor yang masih menyala. Api melalap dengan cepat menghanguskan seluruh rumah."

Ichigo akhirnya memberanikan diri menoleh pada Rukia, ingin melihat reaksinya. "Aku membakar rumah ini diusia delapan tahun."

Ia mengira Rukia akan melangkah mundur karena takut. Tapi gadis itu masih berdiri di sana dan menyahut dengan tenang, "Bukan kau yang membakar rumah ini, itu kecelakaan."

"Secara tidak langsung aku yang menyebabkannya," kata Ichigo.

Rukia menoleh padanya, menautkan pandangan mereka. "Memang. Tapi kau tidak secara langsung menyulut api dan membakar seisi rumah. Itu dua hal yang berbeda."

"Aku mengamuk dan menghajar dua pria dewasa sampai pingsan, serta berniat memukuli ayahku sendiri," kata Ichigo.

Rukia memiringkan kepala. "Apa kau sengaja ingin membuatku takut?"

"Aku ingin kau tahu siapa diriku. Inilah aku. Aku bukan pria baik. Aku pemarah, tidak sabaran, berkelahi dan memukul orang adalah rutinitas harianku."

"Tapi kau juga memiliki hati yang lembut di dalam sana," sambung Rukia.

Ichigo mendengus. "Aku tak tahu tentang itu."

"Kau tahu, hanya saja sengaja tak memperlihatkannya. Orang-orang di sekitarmu sudah terlanjur melabelimu sebagai monster, dan kau tak bisa melakukan apa-apa tentang hal itu, selain menerimanya. Lagi pula, percuma saja mencoba mengubah pendapat orang. Mereka memakai kacamata yang sama, menilai orang lain dari apa yang dikatakan orang lainnya, tanpa mencoba mengenal lebih dahulu."

Ichigo memang tak pernah bisa memahami wanita. Kaum feminin itu memiliki cara berpikir sendiri, terutama gadis yang berdiri di sebelahnya sekarang. Gadis itu berbeda, sangat berbeda dari wanita-wanita yang pernah Ichigo temui sebelum ini.

"Sekarang, bisakah kita pergi dari sini?"

Ichigo menuruti permintaan Rukia. Mereka masuk ke mobil, kemudian Ichigo melajukannya menjauhi mansion yang ditinggalkan itu. Rukia tak bertanya apa yang terjadi selanjutnya pada keluarga Shiba, dan Ichigo pun tak ingin memulai bercerita tentang hal itu. Lagi pula, hal tersebut sama sekali tidak penting, sebab Shiba Isshin tak akan pernah menjadi bagian dari kehidupan mereka.

.*.

Senja turun perlahan, ketika mobil yang dikemudikan Ichigo berhenti di ujung jalan beraspal. Di depan mereka terhampar pantai dengan pasir yang kecokelatan. Tak berapa jauh dari tempat mereka berhenti terdapat sebuah rumah makan. Ichigo menjanjikan makan malam yang enak untuk Rukia, tapi ia tak menyangka akan dibawa ke tempat yang begitu indah.

"Aku belum pernah ke tempat seperti ini," ujar Rukia sambil memandang kagum matahari yang separuh terbenam di tengah lautan. "Aku bahkan tak tahu Karakura punya pantai."

"Ini daerah perbatasan. Kawasan tenang, jadi kita akan aman di sini," kata Ichigo.

"Kau merusak suasana dengan mengingatkanku bahwa kau seorang kaichou," sahut Rukia.

"Itu adalah bagian diriku. Ayo." Ichigo mengajak Rukia turun. "Semoga saja pemilik kedai punya persediaan kerang."

Rukia mengikuti langkah lebar Ichigo menuju kedai dengan langkah lamban, ia ingin menyerap semua keindahan ini dan merekamnya dalam ingatan. Jarang sekali Rukia mendapat kesempatan pergi ke tempat seperti ini, bahkan terakhir kali ia melihat pantai adalah saat studi tur di kelas dua SMA.

"Hei, kau berjalan seperti keong," protes Ichigo yang kembali ke sisinya.

"Dan kau berjalan seperti Citah," sahut Rukia, sebal karena diganggu.

"Ayo!" Ichigo meraih tangannya dan menarik Rukia ke kedai. Rukia memandangi tangan besar yang menggenggam tangannya. Entah berapa banyak orang yang sudah dipukul dengan tangan itu. Sudah berapa banyak perkelahian yang Ichigo lewati? Berapa banyak orang yang dimasukkan Ichigo ke rumah sakit, atau bahkan keโ”€

Rukia menggeleng pelan. Menjauhkan semua pikiran negatif dari kepalanya.

"Kau kenapa?" tanya Ichigo.

"Jalanmu terlalu cepat," jawab Rukia. Kening Ichigo berkerut, sesaat Rukia mengira pria itu akan protes, tapi yang dilakukannya adalah memperlambat langkah.

"Apa kau sering kemari?" tanya Rukia.

"Ya. Aku menyukai tempat ini," jawab Ichigo.

"Siapa yang tidak," sahut Rukia. "Tempat ini indah. Siapa pun yang tinggal di sini sangat beruntung."

"Kau mau tinggal di sini?" tawar Ichigo. "Aku bisa membangun rumah untukmu di sini jika kau mau?"

"Kita akan tinggal di sini?" Rukia benar-benar tertarik dengan ide itu. Tapi ia teringat pada siapa Ichigo dan tanggung jawab yang diemban pria itu. Tinggal di pantai yang jauh bukanlah opsi yang tepat bagi Ichigo. Dan jika akhirnya mereka menikah, Rukia tidak ingin mempersulit Ichigo dengan meminta terlalu banyak. "Aku tidak mau," jawabnya, membuat sebelah alis Ichigo terangkat. "Tapi aku akan senang jika kita bisa sesekali mengunjungi tempat ini."

"Dan memakan cumi panggang," tambah Ichigo.

"Cumi panggang?" Rukia mulai membayangkan menyantap hidangan laut itu. "Aku mau!"

"Ayo!"

Mereka berjalan lebih cepat ke kedai. Setibanya di depan kedai, seorang pria bertopi, yang memperkenalkan diri sebagai Urahara, keluar untuk menyambut mereka.

Itu makan malam terlezat yang pernah Rukia nikmati. Cumi bakar, kerang, dan juga ikan menjadi menu yang disajikan. Rukia makan dengan lahap, pun Ichigo.

"Jadi, kau calon mempelai Kurosaki?" Pria bertopi bertanya pada Rukia. Saat itu Ichigo tengah pergi ke toilet.

"Berita sudah tersebar, ya?" Rukia balas bertanya.

"Semua orang membicarakanmu," ujar Urahara.

Rukia memerhatikan kedai yang tampak sepi, hanya ada beberapa pengunjung yang datang. "Apa biasanya memang sesepi ini?" tanyanya ingin tahu.

"Yep. Tak banyak pengunjung yang datang," jawab Urahara.

"Dengan pemandangan yang bagus dan makanan seenak ini," ujar Rukia. "Itu aneh."

"Tidak. Jika ini kawasan netral. Wilayah perbatasan antara dua kubu yang tengah bertikai. Kurosaki tidak mengatakannya padamu?"

Rukia menggeleng. "Dia bilang di sini aman."

"Memang."

"Lalu?"

"Tetap saja menakutkan bagi sebagian besar orang."

Rukia mengerti. Jika dalam kondisi normal Rukia mungkin juga akan menghindari tempat ini.

"Kau belum menjawab pertanyaanku, Nona."

"Yang mana?"

Pria bertopi itu tersenyum. "Apakah kau calon mempelai Kurosaki?"

Rukia menghela napas, melarikan pandangannya ke pantai yang terlihat gelap dan sedikit menyeramkan dengan ombak besar. "Sepertinya begitu," ia menjawab kemudian.

"Sepertinya?"

"Kami sepakat untuk saling mengenal terlebih dahulu," ujar Rukia.

"Hum, ide yang bagus," Urahara bergumam.

Tatapan Rukia kembali pada pria itu. "Apa menurutmu Ichigo melakukan kesalahan dengan memilihku?"

"Aku percaya pada intuisinya."

"Tapi kau tak percaya padaku," tembak Rukia.

Urahara tersenyum. "Kau gadis yang cerdas."

"Dan patut diwaspadai?"

Urahara menggeleng. "Senang bisa berbicara denganmu." Pria itu berdiri dan meninggalkan Rukia.

Tak berapa lama kemudian Ichigo muncul.

"Jadi, ini acara temu keluarga?" selidik Rukia.

Ichigo jadi salah tingkah. "Bukan seperti itu."

Rukia tersenyum lebar. "Aku jadi penasaran, besok kau akan mempertemukanku dengan siapa."

.*.

Ichigo tak mungkin menjawab bahwa besok ia berencana mempertemukan Rukia dengan ibunya, tapi ia tak mungkin mengatakan itu. Ia berjanji untuk memberi waktu untuk saling mengenal, jika ia mempertemukan Rukia dengan ibunya, gadis itu akan merasa didesak dan bisa saja melarikan diri. Walaupun tak mungkin bagi Rukia untuk melarikan diri darinya, bisa saja gadis itu memilih untuk menolak, dan jika hal itu yang terjadi Ichigo tak akan memaksa. Ia akan melepaskan Rukia jika gadis itu ingin pergi. Tak akan ada paksaan. Tidak akan pernah.

Kembali melajukan mobilnya menuju pusat kota, Ichigo mendapati Rukia terlelap di kursi sebelahnya. Gadis itu tampak begitu tenang sehingga Ichigo enggan membangunkannya. Mobil terus melaju, di kejauhan sudah mulai terlihat kerlap-kerlip lampu yang ramai, menandakan sebentar lagi mereka memasuki pusat kota.

Dua minivan muncul di kedua sisi, mengamit ferrari Ichigo. Ia mempercepat laju, meninggalkan dua minivan hanya untuk berhadapan dengan tiga mobil lain di depan. Ichigo membanting setir, terjebak di sisi jalan dengan lima mobil yang mengelilingi. Di sebelahnya Rukia terbangun setelah kening gadis itu terantuk sisi mobil.

"Apa yang terjadi?" Rukia bertanya.

"Beberapa orang memutuskan menyambut kedatangan kita," jawab Ichigo santai. Ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi sebuah nomor di panggilan cepat. "Aku butuh bantuan."

.*.

Bersambung ...

.*.

Hola~ Sudah lama banget nggak ngelanjutin fanfik ini, semoga saya nggak kehilangan taste-nya. Haha ...

Terima kasih untuk kalian yang sudah membaca fanfik ini, semoga terhibur. Dan maaf sudah membuat kalian menunggu lama apdetnya. *ojigi*

Review's review:

Nad-Ru15

Halo, makasih dah RnR.

Ichigo nggak punya cincin sih, yang ada pisau doang.

Memang kena kok, tapi cuma menyabet/menyerempet bahu Ichigo, jadi hanya meninggalkan luka sobek, pelurunya nggak tertanam di tubuhnya.

Sankyu!

Hazuna

Udah lanjut nih, Sayang. Jangan lupa mampir lagi, ya. Thanks.

Azura Kuchiki

Hola, Mou-chan. Makasih dah RnR.

Pernikahannya masih 2 atau 3 chapter lagi, sabar ya. ๐Ÿ˜‰

Nayasant japaneze

Udah lanjut nih. Thanks dah RnR.

Guestguest

Udah nih. Sankyu

stefymayu yeniferangelina

Hola, Stefy. Makasih banyak udah mampir lagi.

Iyup, ini dah lanjut kok. Tenang nanti bakal ditambahin bumbu romantisnya.

Luv you too. Muach!

R

Makasih dah RnR, ya.

Aerkei

Udah ada nih next chapternya. Makasih dah mampir. ๐Ÿ˜‰

rukichigo

Terima kasih dah RnR.

Bahkan saat marah pun tetap manis, ya. Hehe ...

Udah lanjut nih.

wowwoh geegee

Iyup. Akhirnya lamaran diterima. Tapi nikahnya nanti-nanti aja. *plak!*

Allen Walker

Yup. Rukia memang cewek kuat. Nggak ada bandingannya.

Udah lanjut nih. Makasih dah mampir.

Yuliita

Sudah dilanjutin nih. Thanks dah RnR.

Ukki-ukki chan

Semoga ketemu Ichi yang manis di dunia nyata, ya. Hehe ...

Udah apdet nih, tapi lama banget, ya.

.*.

Akhir kata, makasih dah mampir dan maaf apabila masih banyak kekurangan di dalamnya. O ya, gimana pendapat kalian kalo fic ini di rated ke M, soalnya bakal ada adegan perkelahian, minuman beralkohol, juga sedikit adegan seksi?

See ya,

Ann *-*