Disclaimer ©Tite kubo
(Saya hanya meminjam karakter di dalamnya sebagai karakter dalam fanfik saya, tanpa berniat mengambil keuntungan apa pun selain kesenangan pribadi)
.*.
Devil Beside Me
by
Ann
.*.
Peringatan: AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo(s),
tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'
Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca ...
selamat menikmati!
.*.
Ketika kau jatuh cinta, kau tak hanya mencintai kelebihannya, tapi juga semua kekurangan yang ada pada dirinya.
.*.
Bagian Lima
.*.
"Tetaplah di dalam mobil."
Perintah Ichigo membuat Rukia ngeri. "Kau mau ke mana?"
"Menjalankan prosesi penyambutan," Ichigo menjawab dengan santai. Sementara bulu kuduk Rukia berdiri karena pintu-pintu mobil yang mengelilingi mereka mulai terbuka, dan pria-pria turun dari masing-masing mobil. Hampir semua dari mereka memegang senjata, entah itu tongkat bisbol, rantai, stick golf, dan berbagai senjata lain yang tak dapat Rukia sebutkan namanya.
"Prosesi penyambutan apa? Mereka jelas-jelas bukan dari Black Sun," ujar Rukia panik.
"Anggap saja begitu, oke?"
"Ini tidak oke sama sekali, Ichigo," sahut Rukia tak setuju. "Lebih baik kita pergi dari sini."
"Caranya?"
Walaupun ngeri karena dikelilingi banyak pria bersenjata, Rukia memberanikan diri melihat keluar. Ada celah di antara dua mobil sedan yang menurut Rukia bisa dilewati mobil mereka. "Ada celah di antara dua mobil itu," Rukia menunjuk celah tersebut. Ichigo mengikuti arah pandangannya kemudian mengernyit.
"Celah itu hanya cukup untuk motor," ujar Ichigo.
"Tapi─"
"Ini bukan keadaan yang kuharapkan di kencan pertama kita, tapi keadaannya sudah begini."
"Kencan?" Mata Rukia membelalak tak percaya. "Memangnya tadi kita pergi berkencan?"
"Menurutku begitu, memangnya kau tidak berpikir begitu?" Rukia tak bisa menjawab. "Kalau bukan kencan, kau sebut apa yang tadi itu?"
"Entahlah," jawab Rukia jujur. "Tapi sekarang bukan saatnya membahas hal itu, kan?"
"Kau benar." Ichigo melirik ke belakang. "Kita bisa membahas ini nanti. Sekarang dengarkan aku. Aku tidak ingin menakut-nakutimu, tapi kau harus tahu situasi ini buruk. Ada terlalu banyak lawan, aku sudah meminta bantuan, tapi akan butuh waktu sampai bantuan datang. Aku akan mencoba menahan mereka, sementara itu kau tetap di mobil dan tutup matamu. Mengerti?"
Rukia ingin menjawab tidak, tapi melihat keseriusan di mata Ichigo ia mengangguk.
"Tidak akan ada yang menyakitimu. Aku janji," ucap Ichigo.
"Tapi mereka akan menyakitimu," kata Rukia.
"Aku bisa menahannya. Aku kan kuat." Ichigo masih sempat berkelakar di situasi segenting ini, membuat Rukia merasa situasi mereka sekarang tak terlalu berbahaya.
"Jangan sampai terluka terlalu parah, aku tidak mau repot-repot menjahit lukamu nanti," ujar Rukia.
Ichigo tertawa. "Memangnya kau bisa menjahit luka?"
"Bisa. Jika harus," jawab Rukia.
"Kalau begitu, tak akan sulit bagimu untuk tinggal di mobil dan menutup mata." Rukia mengangguk. "Gadis pintar." Setelah mengatakan itu Ichigo membuka pintu mobil dan turun. Rukia menurut untuk tinggal di mobil, tapi ia tak menutup mata. Walau tak ikut bertarung, ia akan melihat pertarungan itu sampai selesai sembari berdoa agar Ichigo memenangkannya.
"Hanya pengecut yang main keroyokan." Suara Ichigo nyaring menyapu keheningan malam.
"Hanya orang bodoh yang berani melawanmu sendirian." Salah seorang dari lawan Ichigo menjawab. Rukia tak bisa melihat wajah pria itu karena ditutupi masker. Rupanya selain tak punya nyali untuk menghadapi Ichigi satu lawan satu, pria itu juga tak memiliki keberanian untuk menampakkan wajahnya.
"Itu menunjukkan betapa pengecutnya kalian," sahut Ichigo. "Kalian tahu bahwa kekuatan kalian tidak sebanding denganku, dan memilih bermain keroyokan. Inikah yang diajarkan ketua kalian."
"Jangan berani menyebut ketua kami dengan mulut kotormu!"
"Kau tak berhak meremehkan ketua kami!"
"Kau tak ada apa-apanya dibanding ketua kami!"
Orang-orang itu begitu nyaring menyuarakan pembelaan pada ketua mereka, yang membuat Rukia penasaran siapa orang yang berada di balik semua ini.
"Aku bahkan berani menyebut ketua kalian pengecut karena hanya mengirimkan kroco-kroco seperti kalian untuk menghadapiku. Apa dia sebegitu lemah hingga tak berani muncul untuk melawanku?"
Rukia mengerti strategi yang tengah dimainkan Ichigo. Pria itu sedang mengulur waktu sepanjang mungkin sementara menunggu bantuan datang. Meskipun Ichigo terlihat yakin bisa menghadapi semua lawannya, pria itu masih memiliki akal sehat untuk meminta bantuan. Setidaknya, Ichigo bukan pria bodoh yang bertarung untuk mati, tapi pria yang berjuang untuk hidup. Satu hal lagi yang membuat penilaian Ichigo naik di mata Rukia.
"Dia sengaja mengulur waktu." Seseorang menyadari siasat Ichigo. "Dia pasti sudah meminta bantuan, dan sengaja mengajak kita bicara untuk mengulur waktu sampai orang-orangnya datang."
"Jangan menganggap tinggi diri kalian," ujar Ichigo. "Aku bahkan bisa menjatuhkan kalian berdua puluh sebelum teman-temanku datang."
"Cih! Sombong sekali kau!" Satu orang maju untuk menyerang Ichigo. Mengayunkan tongkat bisbol, mengincar kepala Ichigo. Dengan lincah Ichigo mengelak sembari melesatkan tendangan yang mengenai perut si penyerang dengan telak. Ichigo merebut tongkat si penyerang dan menjadikan benda itu sebagai senjatanya.
Mata Rukia membelalak ngeri melihat Ichigo menghajar pria-pria itu dengan buas.
Ichigo memukul penyerang lain yang menghampirinya dengan tongkat bisbol, pukulannya tepat mengenai kepala lawannya. Tanpa ampun Ichigo memukulkan tongkat ke tangan salah satu musuhnya, meremukkan tulang itu dengan mudah. Kemudian menyambar lengan seseorang di dekatnya, merebut rantai dari tangan pria berbandana itu dan melilitkan rantai di seputaran leher pria bandana itu. Ichigo memungut tongkat bisbol lagi, lalu berputar dan mengarahkan pemukul itu ke kepala seseorang yang mencoba menyerangnya dari belakang, membuat orang itu jatuh tersungkur seketika.
Sebuah belati tajam sempat menggores pipi Ichigo, membuat kemarahan ketua Black Sun itu semakin tak terkendali. Ichigo menghantamkan lututnya ke ulu hati sang penyerang, membuat pria berambut gondrong itu terkapar. Setelahnya, Ichigo kembali mengayunkan tongkat bisbolnya, memberi pukulan-pukulan mematikan kepada lawan-lawannya.
Dan di situlah Rukia melihat Ichigo, di antara percikan darah dan tubuh-tubuh berserakan di kakinya. Seketika Rukia mengerti mengapa orang-orang menyebut Ichigo monster, karena saat ini ia pun melihat betapa brutalnya Ichigo dalam perkelahian. Namun, tidak ada rasa takut terhadap Ichigo dalam diri Rukia. Memang ada rasa ngeri, tapi perasaan itu tak cukup untuk membuat ia mengendap-endap untuk melarikan diri.
.*.
Rukia tak mengikuti perintahnya. Gadis itu memang tetap tinggal di mobil, tapi tidak menutup mata. Rukia melihat semuanya. Semua pukulan, tendangan, setiap detail pertarungan ini terekam dalam memori Rukia. Jika setelah ini Rukia membencinya, Ichigo tak akan merasa aneh. Sisi dirinya yang sekarang ini memanglah bagian yang paling mengerikan. Tapi ini bahkan tak lebih mengerikan dari apa yang dilakukannya puluhan tahun silam. Ketika dirinya yang masih seorang bocah memukuli dua pria dewasa dalam kemarahan. Ichigo juga tak mengerti bagaimana bisa dirinya begitu kuat, sepertinya ia mendapat energi melimpah ketika sedang marah, dan amukannya menjadi begitu mengerikan.
Tatapan Ichigo sempat bertemu dengan Rukia. Ia bisa merakan kengerian yang Rukia rasakan selama beberapa detik tatapan itu. Rukia kembali takut kepadanya. Itu sudah pasti. Dan setelah ini, mungkin gadis itu akan memutuskan untuk pergi.
Aku ingin menjadi kuat bersamamu.
Ucapan itu tak akan ada artinya lagi. Rukia akan segera berkemas dan hengkang dari kehidupan Ichigo. Lalu apa? Kepergian Rukia memang bukan akhir segalanya. Ichigo tak lantas bunuh diri karena ditinggalkan gadis itu. Hanya saja, sesuatu akan terjadi pada hatinya. Hati yang sudah memberi tempat kepada gadis itu akan kembali kosong. Lalu perlahan akan diisi kembali oleh kegelapan, yang bahkan lebih pekat dari sebelumnya.
Memikirkan hal itu, Ichigo bertambah beringas. Ia memukul, menendang, bahkan mencekik seorang lawan sampai hampir kehabisan napas, lalu melemparkannya seolah pria itu hanya selembar kain rombeng. Hatinya diisi kemarahan, kekecewaan, dan rasa hampa, yang ia lampiaskan secara brutal kepada lawannya. Ia tak berani menatap kembali ke mobilnya, takut tak menemukan Rukia di sana. Mungkin saja gadis itu sudah mencuri kesempatan untuk kabur darinya. Di saat seperti ini, lari satu-satunya yang mungkin terpikir dalam kepala Rukia.
Seorang lawan bernyali kecil memutuskan untuk melarikan diri. Satu lari, yang lain mengikuti, yang tertinggal hanya mereka yang tak lagi memiliki kekuatan untuk pergi. Ichigo melempar tongkat bisbol, membiarkan benda itu berguling mendekati mobilnya. Ia masih tak berani menatap ke mobil, belum bisa menghadapi jika apa yang ia pikirkan menjadi kenyataan. Namun, ia pun tak lagi ingin bertarung. Sudah jelas siapa pemenang pertarungan ini. Terlihat dari siapa yang tetap berdiri dan siapa yang terkapar tak berdaya.
Mobil-mobil berdatangan. Ichigo mengenali mobil-mobil itu. Bantuan sudah datang, tapi sedikit terlambat karena ia sudah membereskan semuanya. Ah, sepertinya belum semuanya karena Renji berteriak nyaring sambil turun dari mobil dengan cepat, pun Shuhei.
"Ichigo, di belakangmu!"
"Kaichou, awas!"
Ichigo memutar tubuh ke belakang, tapi sudah sangat terlambat untuk bereaksi. Pria bermasker siap menyerang Ichigo. Mengincar perut Ichigo dengan katananya. Ichigo mungkin bisa mengurangi dampak serangan dengan menghindar, tapi tetap saja ia akan terluka cukup parah. Namun, yang ia duga tidak terjadi sama sekali.
Ia menatap tak percaya saat katana di tangan penyerangnya terlepas, disusul ambruknya tubuh pria bermasker itu. Di belakang pria itu, Rukia berdiri dengan tongkat bisbol di tangan.
"Aku tidak membunuhnya, kan?"
Jika sebelumnya Ichigo sempat sangsi apakah Rukia yang memukul pria itu atau bukan, pertanyaan gadis itu melunturkan keraguannya. Rukia memang memukul pria itu demi menyelamatkan dirinya.
.*.
Terakhir kali Rukia memukul orang menggunakan tongkat bisbol beberapa bulan lalu, di hari terakhirnya berada di Rukongai, dan pukulannya tak langsung membuat lawannya jatuh. Waktu itu, pria yang ia pukul masih sempat menggeram marah kepadanya, bahkan hampir menangkapnya sehingga ia terpaksa lari dari rumahnya sendiri. Jadi, kali ini Rukia menggunakan segenap kekuatannya dalam satu pukulan. Tapi ia memukul terlalu kuat sehingga pria yang dipukulnya langsung tersungkur di atas aspal.
"Aku tidak membunuhnya, kan?"
Rukia akhirnya berhasil bersuara. Namun, Ichigo yang ditanyainya terlihat sama terkejutnya dengan dirinya sehingga tak dapat langsung menjawab. Malah pria itu membuatnya bingung dengan bertanya, "Kau tidak pergi?"
"Memangnya aku harus ke mana?" Ia balas bertanya, kemudian ia meringis teringat perintah Ichigo yang akhirnya ia langgar. "Kau menyuruhku tinggal di mobil. Tapi aku tak bisa tinggal di sana."
"Kau tidak mematuhi perintahku," kata Ichigo.
"Ya. Tapi itu karena aku melihat pria itu," Rukia menunjuk pria yang terbaring di antara dirinya dan Ichigo, "dia hendak menyerangmu dari belakang. Aku tidak punya banyak waktu untuk berpikir. Aku melihat tongkat ini dan mengambilnya, lalu kelanjutannya kau tahu sendiri." Ia menjelaskan. "Jadi, apa aku membunuhnya?" Rukia kembali ke pertanyaannya semula.
Ichigo berjongkok untuk memeriksa nadi di leher pria bermasker yang dipukul Rukia. "Ternyata pukulanmu tidak begitu keras," ujar Ichigo.
Rukia menghela napas lega. "Syukurlah dia tidak mati," ujarnya.
"Kau menyelamatkan nyawaku," kata Ichigo, "kenapa?"
Sebelah alis Rukia terangkat. "Kenapa menanyakan sesuatu yang jawabannya sudah jelas?" Namun, raut wajah Ichigo menunjukkan bahwa pria itu benar-benar tak tahu alasan Rukia menyelamatkannya. "Kau benar-benar tidak tahu?" tanya Rukia. Ichigo menggeleng.
Rukia memutar bola mata. "Kau melamarku, aku sudah bilang ya, meskipun aku minta waktu, akhirnya kita tetap akan menikah. Mana mungkin aku akan membiarkan calon suamiku mati di depanku tanpa melakukan apa pun. Memangnya aku tidak punya hati?"
Tak ada kata-kata romantis dalam kalimatnya, Rukia berpikir seperti itu. Tapi tetap saja kalimat panjang itu membuatnya berakhir dalam pelukan Ichigo. Pria itu memeluknya dengan erat sambil membisikkan sesuatu di telinganya. Dari semua kejutan yang pernah Rukia dapatkan dalam hidupnya, ucapan Ichigo kali ini menjadi yang termanis. Bukan kata cinta maupun rindu, melainkan sebuah ucapan 'Terima kasih'.
.*.
Rukia terasa begitu tepat berada dalam pelukannya, seolah memang diciptakan untuk berada di sana. Begitu pas sehingga Ichigo tak ingin melepasnya. Ichigo terus memeluk Rukia sampai terdengar suara dehaman di dekat mereka. Ia menoleh dan memberengut pada Renji.
"Dasar perusak suasana," sungutnya seraya melonggarkan pelukan, tapi belum melepaskan Rukia. Rukia mendongak ke arahnya dan tersenyum. Tak perlu banyak kata, hanya sebuah senyuman, dan perasaan gadis itu tersampaikan.
"Kami tidak akan datang andai kau tidak menelepon dan meminta bantuan," kata Renji membela diri.
"Tapi nyatanya kau sama sekali tidak perlu bantuan kami," Shuhei menambahkan, mengernyit ketika pria di dekat kakinya mengerang kesakitan. "Kaichou, kau tadi mengamuk, ya?"
"Bantuan kita tak diperlukan karena dia punya penjaga baru, yang lebih hebat daripada kita bertiga dijadikan satu," timpal Uryuu.
Rukia menoleh ke arah tiga pria itu, lalu tersenyum, membuat ketiga pria itu tersipu. Ichigo ingin memukul mereka karena merona seperti orang bodoh. "Aku tidak lebih hebat dari kalian, kok. Malah aku payah, tadi saja aku hanya bersembunyi di dalam mobil," ujar Rukia.
Renji menyeringai. "Tak perlu merendah, kau melakukan kerja hebat malam ini," ujarnya.
"Kau bintangnya hari ini," kata Shuhei.
"Siapa pun yang mampu menaklukkan hati Kurosaki menurutku hebat, bahkan sangat hebat," Uryuu mengakui.
"Begitukah?" Rukia menatap Ichigo meminta jawaban.
"Terserah kalian mau bilang apa, yang jelas aku masih perlu bantuan kalian sekarang," ujar Ichigo sama sekali tak menjawab pertanyaan Rukia. Namun, jika Rukia melihat baik-baik raut wajahnya, gadis itu akan mendapat jawaban yang diinginkan.
"Apa?" Ketiga temannya bertanya bersamaan.
"Urus mereka semua," Ichigo menunjuk korbannya, "kembalikan ke tuan mereka."
"Dikembalikan begitu saja?" Renji terlihat tak setuju.
"Kalau mau mengobati mereka dulu juga tidak apa-apa, sama sekali tidak masalah bagiku," jawab Ichigo. Ketiga temannya saling tatap, dan mengambil kesimpulan yang sama bahwa jatuh cinta bisa membuat orang jadi gila. "Kalau begitu, aku pergi sekarang. Urusan di sini kuserahkan pada kalian." Sambil menggandeng Rukia, Ichigo melangkah kembali ke mobilnya.
"Apa kita akan meninggalkan mereka?" tanya Rukia.
"Renji dan yang lain akan mengurus semua," jawab Ichigo.
"Yang kumaksud teman-temanmu," jelas Rukia, "Bisa saja penjahat yang kabur tadi kembali bersama bala bantuan."
"Renji dan yang lain bisa menghadapinya. Lagi pula, mereka membawa banyak orang," kata Ichigo.
Rukia menoleh ke belakang. Jumlah orang yang datang untuk membantu Ichigo dua kali lipat dibanding penyerangnya. Kalaupun akan terjadi serangan kedua, Rukia merasa Black Sun tidak akan kalah.
"Hei, kenapa kau membawa-bawa itu?" tanya Ichigo.
Rukia mengangkat tongkat bisbol di tangannya. Gadis itu menyengir. "Aku lupa masih memegangnya."
"Berikan benda itu padaku." Ichigo mengambil pemukul bisbol dari tangan Rukia. "Nanti aku akan mengajarimu cara memukul yang benar."
"Kalau begitu, kita harus menyimpan tongkat itu," usul Rukia.
Ichigo mengernyit memandangi tongkat yang sudah lusuh itu. "Aku bisa membelikanmu yang baru."
"Tidak!" Rukia merebut kembali tongkat dari tangan Ichigo. "Aku mau yang ini. Anggap saja souvenir."
"Ekh? Souvenir dari perkelahian?!"
Rukia mengangguk.
Ichigo hanya bisa menggeleng pelan. "Hanya kau yang berinisiatif mengambil souvenir dari sebuah perkelahian."
"Menurutku, itu tadi bukan perkelahian, lebih ke pembantaian."
Ichigo menghentikan langkah, pun Rukia. "Kau tidak takut padaku?" tanyanya hati-hati.
"Kenapa harus takut?" Rukia balas bertanya.
"Kali ini, jawab aku dengan jujur," pinta Ichigo. Menyadari nada mendesak dalam suara Ichigo, Rukia menatapnya dan menjawab dengan jujur.
"Semula aku merasa ngerti, dan berpikir sebutan monster memang pantas untukmu. Tapi aku juga pernah melihat sisi lembut dari sang monster, itulah yang membuat ketakutanku hilang. Aku tahu kau lebih sering menjadi manusia daripada monster." Rukia tersenyum. "Dan kalaupun nantinya kau berubah menjadi monster, aku ingin ada di sisimu."
"Aku mungkin akan mencelakaimu," kata Ichigo.
Rukia menggeleng. "Kau akan menjagaku."
Ichigo diam sesaat, memandangi Rukia dengan mata madunya. "Kurasa, aku harus menarik kata-kataku tadi pagi. Karena rasanya aku tidak bisa menunggu. Kita akan menikah secepatnya." Rukia terlihat akan membantah, tapi Ichigo membungkam gadis itu dengan sebuah ciuman.
.*.
Seorang pria berkacamata dengan rambut merah muda melangkah tergesa di koridor yang sepi, menaiki tangga dengan cepat, kemudian mengarah ke kamar yang berada paling ujung. Setelah mengetuk pintu terlebih dahulu, pria itu masuk ke ruangan temaram yang didesain bergaya eropa, dengan jendela tinggi dan perapian. Ia berjalan ke dekat perapian yang menyala padahal udara begitu hangat. Seketika pria itu, Szayel, merasa tubuhnya dibasahi keringat.
"Kabar apa yang kau bawa, Szayel?" Suara bernada dingin itu berasal dari kursi beledu bersandaran tinggi di depan perapian.
Pertanyaan itu tak langsung dijawab sehingga orang itu kembali bersuara dengan nada yang sama. "Dari gelagatmu sepertinya kabar yang kau bawa bukan berita yang kuharapkan."
"Maaf, Tuan."
"Jika segala masalah bisa diselesaikan dengan kata maaf, polisi dan pengadilan tak akan diperlukan."
"Saya mengerti. Lain kali─"
"Tidak ada lain kali untukmu. Setelah ini, aku akan turun tangan sendiri mengurus semuanya."
"Anda tidak perlu merepotkan diri. Saya bisa─"
"Tak ada yang bisa kau lakukan. Kau sama sekali tak berguna."
Sesosok bayangan muncul dari kegelapan, menyergap tubuh Szayel, kemudian dengan sebuah pisau kecil dan tajam memutus nadi di leher Syazel. Tubuh Syazel jatuh ke lantai, darah menggenang di lantai ubin bermotif salju.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?"
Tanpa suara bayangan itu pergi, menghilang melalui pintu balkon yang terbuka ke dalam kegelapan malam.
Cahaya bulan yang masuk melalui pintu balkon yang terbuka menyapu perapian, mengenai separuh badan pria yang duduk di kursi beledu. Pria itu memakai jas putih yang serasi dengan celana panjangnya, gelas berisi anggur merah menggantung di antara jemarinya. Perlahan pria itu menganggat bibir gelas ke mulut, menyesap anggurnya dengan perlahan.
"Mari kita lihat, seberapa lama kau bisa bertahan Kurosaki Ichigo."
.*.
bersambung ...
.*.
Hola~ I'm coming! Kali ini lebih cepat dari sebelumnya. Mungkin saya lagi kena syndrom rajin, makanya chap 5 ini bisa selesai lebih cepat. Semoga chap depan juga bisa secepat ini. 😊
.*.
Review's Review:
Nad-Ru15
Terima kasih sudah mampir lagi.
Hum, kamu pernah dengan istilah tantrum pada anak? Kondisi di mana seorang anak mengalami kemarahan luar biasa serta merasakan frustrasi yang sangat besar. Biasanya dalam fase ini anak akan menangis, berteriak, mengamuk. Nah, kondisi ini yang terjadi pada Ichigo. Dia mengalami kemarahan luar biasa yang membuat amukannya dapat membuat orang dewasa yang mencoba menahannya sampai pingsan. Pada kenyataannya, memang pernah ada kejadian seperti itu, dan saya menyaksikannya sendiri.
Azura Kuchiki
Makasih dah RnR.
Mungkin karena memang sudah lama nggak diapdet makanya lupa sama ceritanya.
Eonnichee835
Makasih dah mampir.
Yep. Mungkin nanti bakal dirated ke M, beberapa chapter lagi kalau keadaan mengharuskan seperti itu.
Hazuna
Makasih dah RnR.
Hum, saya belum tahu akan selesai berapa chapter, karena fic ini dibikin tanpa outline. Hehe ... Tapi kalau saya sih nggak bakal bikin fanfik lebih dari 20 chapter.
Guest
Makasih dah RnR dan makasih semangatnya.
Rukichigo
Makasih dah RnR.
Sudah lanjut nih, tapi kalo soal panjang kayaknya per chapter akan berkisar antara 3-4k aja. Saya nggak mahir bikin chapter panjang.
Izumi Kagawa
Sudah lanjut nih, Izumi-san. Makasih dah mampir, ya.
wowwoh geegee
Ichigo sudah semangat tuh, bahkan jadi ngebet. Wkwkwk ... Makasih dah RnR.
yuliita
Udah lanjut nih. Makasih dah RnR.
.*.
Akhir kata, makasih dah mampir dan maaf apabila masih banyak kekurangan di dalamnya.
See ya,
Ann *-*
