Disclaimer ©Tite kubo
(Saya hanya meminjam karakter di dalamnya sebagai karakter dalam fanfik saya, tanpa berniat mengambil keuntungan apa pun selain kesenangan pribadi)
.*.
Devil Beside Me
by
Ann
.*.
Peringatan: AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo(s),
tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'
Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca ...
selamat menikmati.
.*.
Kau adalah orang asing yang menjadi penting dalam kehidupanku.
.*.
Bagian Enam
.*.
Secepatnya dalam kamus Ichigo adalah segera, sehingga pria itu bergerak cepat melakukan persiapan. Keesokan harinya, Rukia menemukan dirinya dibawa ke sebuah butik yang menyediakan gaun pengantin. Puluhan gaun dibawa ke hadapannya, begitu banyak desain, warna, dan bahan, membuat Rukia pusing. Ia terbiasa memilih pakaian yang ekonomis dengan bahan yang awet dipakai, Rukia tak terlalu memusingkan mode ataupun tren fashion yang sedang digandrungi para wanita. Sekarang, saat harus membuat pilihan di antara sutra, satin, atau brokat, kepalanya langsung migren.
Seolah belum cukup menyiksanya dengan gaun-gaun berwarna putih, merah muda, dan emas, tiga wanita yang menemaninya; Nanao, Tatsuki, dan Rangiku, membawa Rukia ke toko bunga untuk menentukan buket seperti apa yang akan dibawanya di hari pernikahan. Saat Rukia mengatakan bahwa ia akan menerima buket apa pun yang tersedia, ketiga wanita itu mengomelinya sehingga Rukia dengan terpaksa menentukan pilihan. Hasilnya tidak terlalu buruk, Rukia nanti akan mendapatkan rangkaian bunga kapas dan baby breat yang diselipi ilalang sebagai hand bouquet, yang serasi dengan gaun brokat yang dipilihnya tadi, di hari pernikahannya nanti.
Dan omong-omong, Rukia sendiri belum tahu kapan hari pernikahannya akan berlangsung.
Seharian sibuk memilih gaun lalu bunga, kemudian menentukan kue pernikahan, namun Rukia masih tidak tahu hari dan tanggal pernikahannya sendiri. Sungguh lucu.
Ia sudah mencoba bertanya pada tiga pendampingnya, tapi tak satu pun memberinya informasi. Satu-satunya orang yang akan memberinya informasin adalah Ichigo. Sayang, pria itu belum muncul di hadapan Rukia hari ini. Terakhir kali Rukia melihat Ichigo adalah semalam, sewaktu Ichigo mengantar Rukia ke kamar. Setelah itu, bahkan suara Ichigo tak Rukia dengar.
Tentu saja, Rukia sama sekali tidak merindukan pria itu. Ia belum berada di tahap perasaan merindukan seseorang dengan ekstrem hanya karena belasan jam belum bertemu. Rukia hanya ingin segera bertemu Ichigo agar bisa memberondong pria itu dengan pertanyaan yang berkumpul di kepalanya.
"Jadi, kau suka yang mana, Rukia?"
Pertanyaan Nanao membawa Rukia keluar dari lamunannya.
"Bagaimana dengan yang ini?" tanya Rangiku sambil menunjuk gambar kue bertingkat tiga dengan hiasan dua pasang burung merak di atasnya. "Kelihatan indah dan unik."
"Yang ini juga bagus." Tatsuki memperlihatkan gambar kue pengantin berwarna gelap dengan hiasan bunga putih dan emas. "Terlihat elegan."
"Yang ini juga terlihat bagus." Cupcakes yang disusun sebanyak tujuh tingkat berbentuk kerucut menjadi pilihan Nanao.
"Hum, biar kulihat dulu," jawab Rukia sembari membuka halaman demi halaman yang memperlihatkan gambar bermacam kue pengantin. Gerakan Rukia tertahan saat ia mencapai halaman ke sembilan. Sebuah gambar kue tingkat tiga menarik perhatiannya. Kue pengantin salju dengan hiasan bunga mawar merah muda segar.
"Wow, aku suka itu!" Rangiku berdecak kagum.
"Yep. Elegan dan unik di saat bersamaan," kata Tatsuki.
"Sangat cantik," komentar Nanao. "Kau ambil yang ini, Rukia?"
Rukia mengangguk.
"Pilihan yang bagus," kata Rangiku. "Setelah ini kita akan ke─"
"Setelah ini aku ingin pulang," Rukia memotong kalimat Rangiku.
"Tapi─"
"Maaf, Rangiku-san. Tapi aku lelah. Aku ingin pulang dan beristirahat. Boleh, kan?" Entah karena Rukia memintanya dengan memelas atau karena Rangiku enggan menolak permintaan calon istri ketua, wanita itu mengatakan bahwa mereka akan segera kembali ke markas.
Sesampainya di markas Black Sun, Rukia segera memisahkan diri dari Rangiku dan yang lainnya dengan alasan ingin beristirahat, padahal ia menyusuri lantai dua untuk mencari Ichigo atau salah satu dari tiga orang kepercayaan Ichigo.
Rukia sudah menyusuri setiap ruangan di lantai dua bangunan, yang sebenarnya kantor tapi dialihfungsikan sebagai tempat tinggal, pun lantai satu, tapi tak menemukan Ichigo maupun teman-teman pria itu. Ia hanya menemukan beberapa orang yang berjaga, tapi menanyai mereka tidak ada gunanya karena mereka pun tidak tahu ke mana sang kaichou pergi. Rukia ingin menghubungi Ichigo, tapi bodohnya, ia tak memiliki nomor telepon pria itu. Inilah potret calon mempelai masa kini, begitu asing satu sama lain hingga nomor ponsel pun tak sempat bertukar.
Hampir menyerah, Rukia memutuskan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Ia baru menaiki beberapa anak tangga saat seorang gadis muncul di puncak tangga. Gadis itu cantik dengan rambut karamel sepunggung dan gaun terusan berwarna biru pucat.
"Akhirnya kita bertemu," ujar wanita itu dengan ceria.
"Siapa?" Tanpa sadar Rukia menyuarakan pertanyaan yang diniatkan diucapkan dalam hati saja.
Gadis itu menuruni tangga dengan cepat, kini hanya berdiri dua tangga di atas Rukia. "Aku Inoue Orihime."
Rukia yang memang kalah tinggi dari Orihime terlihat begitu kecil di posisi seperti itu. Ia harus mendongak agar dapat menatap mata lawan bicaranya. "Kuchiki Rukia."
"Aku sudah tahu," ujar Orihime. "Semua orang tahu tentangmu."
"Ya, sepertinya begitu," gumam Rukia. "Jadi, kau siapa─maksudku apa hubunganmu dengan Ichigo?"
"Ah, aku ... temannya Kurosaki-kun."
Dari jeda dan cara Orihime mengatakan kata teman, Rukia merasa bukan kata itu yang hendak gadis itu katakan. Mengabaikan perasaan itu, Rukia bertanya, "Apa kau tahu di mana Ichigo?"
"Kau tidak tahu?" Orihime balas bertanya.
"Jika aku tahu, aku tidak akan bertanya."
"Ah, maaf," ucap Orihime, "kupikir, karena kalian akan segera menikah kau tahu segalanya tentang Kurosaki-kun."
Rukia mendengus. Sesuatu yang jarang ia lakukan di depan orang yang baru ia kenal. Tapi hari ini merupakan yang melelahkan juga menyebalkan bagi Rukia, jadi mood-nya sekarang sedang tidak baik. "Aku ini calon istrinya, bukan cacing di perutnya."
"Oh." Rahang Orihime mengeras. Dari raut wajahnya, Rukia bisa menduga apa yang disimpulkan gadis itu tentang kepribadian Rukia di awal perkenalan mereka. Ia tak berniat meralat, walaupun Orihime sepertinya mengira Rukia adalah gadis kasar yang tidak pedulian.
"Sepertinya lebih baik aku kembali─"
"Di sini kau rupanya."
Seseorang menyela kalimat Rukia. Ia dan Orihime mengarahkan mata pada orang tersebut, yang ternyata Tatsuki.
"Hime, kau di sini?"
"Ya, aku di sini." Orihime tersenyum. "Sepertinya, bukan aku orang yang kau cari tapi Kuchiki," ia menambahkan.
"Kapan kau kembali, aku sama sekali tidak tahu," ujar Tatsuki.
Rukia memerhatikan bahwa Tatsuki terlihat gugup. Lalu melihat Orihime yang memperlihatkan ekspresi tenang yang dingin, membuatnya menduga ada sesuatu yang terjadi di atara mereka berdua, atau antara Orihime dan ketiga wanita yang menemani Rukia tadi, karena saat Rangiku dan Nanao datang keduanya memperlihatkan ekspresi yang hampir sama dengan Tatsuki.
"Hime, kapan kau pulang?" Rangiku berusaha terdengar ceria.
"Tadi pagi, pengambilan gambar selesai lebih cepat, jadi aku bisa pulang lebih awal," jawab Orihime seraya menuruni sisa anak tangga dan menghampiri Tatsuki. "Kalian terlihat tidak terlalu senang aku pulang lebih awal."
"Kenapa kau berpikiran begitu, tentu saja kami senang," kata Rangiku.
"Ya, kami senang kau pulang," Tatsuki menambahi.
"Senang melihatmu, Inoue," ujar Nanao. "Rukia, bisakah kau ikut denganku sebentar, ada hal yang harus kubicarakan denganmu."
Rukia mengangguk. Ia memang ingin segera beranjak dari tempat ini karena suasananya terasa semakin tidak nyaman.
"Aku ikut!" kata Orihime tiba-tiba.
Semua mata mengarah kepada Orihime. "Kenapa? Aku tidak boleh ikut?" tanyanya. "Bukankah kalian sedang merencanakan pernikahan Kurosaki dan Kuchiki. Sebagai teman aku juga ingin membantu."
"Tapi ..." Tatsuki melirik Rangiku meminta bantuan.
"Hime, sebaiknya kita bicara dulu," kata Rangiku.
Memandangi ekspresi setiap orang, Rukia menduga Orihime memiliki sebuah hubungan di masa lalu sehingga semua orang terlihat tidak ingin dia ikut terlibat dalam perencanaan pernikahan ini.
"Aku tidak ingin bicara, aku ingin membantu," ujar Orihime riang. "Bolehkah aku membantu, Kuchiki?"
"Untuk sekarang, tak ada yang bisa kau lakukan untukku, Inoue. Begitupun kalian semua," jawab Rukia. "Aku ingin kembali ke kamarku dan beristirahat." Ia berpaling pada Nanao. "Apa pun yang ingin kau bicarakan kepadaku, harus menunggu sampai besok. Permisi, semuanya. Semoga hari kalian menyenangkan." Ia menaiki tangga dengan cepat tanpa menoleh ke belakang lagi.
Masalah apa pun yang terjadi, biarlah keempat orang itu yang membereskannya, Rukia memiliki masalah sendiri untuk diselesaikan.
.*.
"Berapa banyak sih anggota yang mereka punya sampai bisa mengirimnya lagi dan lagi?" gerutu Renji sambil menyapu darah dari sudut mulutnya.
"Berapa banyak pun kita akan mengalahkannya lagi dan lagi," sahut Hisagi sembari mengambil pemukul dan bersiap mengadang serangan berikutnya.
"Tapi ini membuang waktu," ujar Uryuu. "Akan lebih baik menghabisi pemimpinnya, jadi kita tak perlu menghadapi kronco-kronco seperti ini lagi dan lagi. Rasanya tidak tenang, setiap kali keluar kita dihadang seperti ini."
"Apa menurutmu kita harus menyerang markas Bat Knight?" tanya Renji.
"Menurutmu, Ichigo?" Uryuu bertanya pada Ichigo.
"Kita hadapi ini dulu baru bicarakan hal itu," jawab Ichigo. "Di mana sih bantuan kita, kenapa mereka belum datang juga? Aku ingin ini cepat selesai." Ichigo terlihat tak senang. Tentu saja seperti itu, tadi pagi ia keluar untuk meninjau salah satu pabrik minuman soda yang dijalankan Black Sun.
Black Sun bukan hanya sekadar gang anak jalanan, tapi sebuah usaha berjalan yang dapat memberikan penghasilan bagi anggotanya. Selain menjalankan beberapa klub malam dan tempat minum serta restoran dan kafe, Black Sun juga memiliki beberapa pabrik dan usaha pinjaman yang memberikan kredit lunak bagi anggota yang ingin membuka usaha. Omset usaha yang begitu besar itulah yang membuat Black Sun seringkali menjadi incaran gang lain.
Serangan berikutnya datang. Berempat mereka mengadang puluhan pria bersenjata itu. Tak berapa lama bantuan datang, seketika penyerang mereka berjatuhan tak berdaya.
"Kali ini, kau mau mengembalikan mereka lagi ke tuannya?" tanya Renji.
Ichigo memandangi puluhan manusia yang terbaring di atas jalanan semen. "Biarkan saja mereka. Tak perlu membuang waktu untuk hal yang tidak penting," sahut Ichigo seraya melangkah di antara tubuh-tubuh yang mengerang kesakitan.
"Bagaimana dengan yang tadi?" tanya Uryuu, yang menjajari langkahnya.
"Kumpulkan orang-orang kita malam ini, kita akan merencanakannya. Aku tak mau membuang waktu lagi," sahut Ichigo.
"Akan kulakukan." Uryuu bergegas menuju mobilnya.
Ichigo menghampiri mobilnya sendiri, berniat segera pergi dari tempat itu. Markas Black Sun menjadi tujuannya kini, karena ada seseorang di sana yang sangat ingin ia temui.
"Ichigo."
Renji menghentikan Ichigo yang sudah membuka pintu mobil. Tak terlalu senang dengan interupsi itu, Ichigo mengerutkan dahi. "Ada apa?"
"Aku mendapat kabar dari Tatsuki bahwa Inoue pulang lebih awal," jawab Renji.
"Oh." Ichigo menanggapi seadanya karena baginya informasi itu sama sekali tidak penting. "Lalu?" tanyanya tak sabar karena ingin segera melompat ke dalam mobil dan pergi.
"Dia menemui calon pengantinmu."
Ichigo mengernyit. Informasi yang tadinya tidak penting sekarang mengganggunya.
"Tatsuki tidak tahu apa yang mereka bicarakan," Renji menambahkan. "Tapi kau harus bersiap dengan kemungkinan terburuk. Kita tidak bisa menduga apa yang sanggup seorang wanita lakukan, apalagi wanita yang sakit hati dan marah."
Tanpa menjawab, Ichigo masuk ke dalam mobil, memundurkan mobil dengan cepat, kemudian menghilang sama cepatnya, bahkan mendahului Uryuu yang lebih awal berniat pergi.
"Apa yang terjadi?" tanya Hisagi yang muncul di sisi Renji.
"Inoue kembali dan menemui Rukia," jawab Renji seraya masuk ke dalam mobilnya.
"Wah, kedengarannya tidak bagus." Hisagi mengikuti Renji masuk ke sisi penumpang. "Kenapa dia datang sekarang? Bukannya masih seminggu atau dua minggu lagi?"
"Entahlah, yang jelas kita harus mengawasinya agar tidak membuat kekacauan," ujar Renji sembari memundurkan mobil.
"Apa menurutmu dia akan membuat masalah?"
"Bisa jadi," jawab Renji.
Hisagi mengenyakkan tubuhnya di jok. "Kita sudah punya banyak masalah, kenapa pula harus ditambah mengurusi seorang wanita?" keluhnya.
Renji tertawa. "Karena bos kita akan menikah, dan wanita yang pernah ditolaknya mungkin melakukan sesuatu untuk mengacaukan pernikahannya."
"Aku suka bagian menikahnya, tapi sisanya tidak," sahut Hisagi.
Kemudian Renji melajukan mobil mengikuti arah yang diambil Ichigo sebelumnya.
Senja sudah turun, ketika Ichigo mencapai markas. Setelah menerima laporan singkat dari salah satu anggota yang ia beri tanggung jawab untuk mengepalai penjagaan markas, Ichigo menaiki anak tangga dengan cepat. Di puncak tangga ia sempat berhenti sebentar karena mendengar seseorang memanggil namanya, namun ia tak menoleh dan berpura-pura tak mendengar bahkan saat gadis itu meneriakkan namanya. Ichigo tak punya waktu mengurusi gadis itu. Lagi pula, baginya urusan dengan gadis itu sudah selesai saat ia mengatakan, "Aku tidak bisa bersamamu," pada gadis itu hampir tiga bulan yang lalu.
Sebenarnya, tak pernah ada hubungan yang terjalin di antara dirinya dan Orihime Inoue, selain pertemanan. Sejak dulu Ichigo tak pernah menganggap Orihime lebih daripada seorang teman yang ia kenal di SMA. Ia sama sekali tidak tahu bahwa gadis itu memiliki perasaan kepadanya sampai Orihime menyatakan cinta sehari setelah Ichigo keluar dari rumah sakit. Bahkan sebelum bertemu Rukia, Ichigo sudah menyatakan bahwa dirinya tak bisa bersama Inoue apalagi pergi dengan gadis itu ke Eropa.
Ichigo mengira masalah itu sudah selesai, tapi dengan kedatangan Orihime─apalagi gadis itu sampai menemui Rukia─hari ini, ia tak tahu apa yang mungkin terjadi. Seperti kata ibunya, "Hati wanita tidak dapat ditebak", Ichigo tak tahu apa yang akan Orihime katakan. Namun satu hal yang ia tahu, ia harus memberitahu Rukia.
Sesampainya di depan kamar yang ditempati Rukia, Ichigo mengetuk pintu. Tak mendapat jawaban, ia memutar handle pintu dan mendapati pintu itu terkunci. Rukia dan kebiasaannya mengunci pintu. Ichigo tak akan memprotes hal itu, karena tahu alasan di baliknya. Ia hanya harus membuat Rukia terbiasa merasa aman di dalam perlindungannya.
Merogoh kantong celana jeansnya, Ichigo menemukan kunci yang dicari. Beberapa detik kemudian, Ichigo berada di dalam kamar temaram karena semua gorden ditutup dan tak ada satu lampu pun yang dinyalakan. Kamar itu begitu tenang sehingga Ichigo mungkin saja berpikir tak ada seorang pun di sana. Namun, ia tahu ada seseorang di sana. Seorang gadis tengah berbaring nyaman di bagian kanan tempat tidur dengan napas yang teratur.
Tanpa suara Ichigo menghampiri tempat tidur, mengambil tempat di sisi yang kosong, dan duduk bersandar di kepala tempat tidur sembari memerhatikan Rukia. Hilang sudah niatan awalnya untuk menyapa Rukia dan menanyakan bagaimana hari yang dilalui gadis itu.
Apakah gadis itu menikmati kunjungan ke butik dan toko bunga, juga toko kue?
Apakah Rukia sudah menentukan gaun mana yang ingin dikenakannya di hari pernikahan mereka nanti?
Dan apa yang dikatakan Inoue kepadanya?
Ada banyak pertanyaan yang ingin Ichigo sampaikan, namun semua memudar saat ia menatap wajah tidur Rukia. Begitu damai, seolah gadis itu tak pernah melalui masa-masa kehidupan yang mengerikan.
.*.
Tidur selama lebih dari lima jam dari sore hingga malam hari memberi efek menyegarkan bagi Rukia. Setidaknya, kepalanya tak lagi dipenuhi dengan berbagai pertanyaan dan migrennya menghilang. Ia sudah hendak turun dari tempat tidur dan menyalakan lampu, ketika selimut yang ditariknya terasa berat. Dalam keremangan, ia menemukan ada sosok lain di tempat tidur. Jantung Rukia seketika memacu, tapi kembali tenang saat mengenali siapa yang duduk berselonjor sambil bersandar di kepala tempat tidur. Rukia mengubah posisi ke duduk, kemudian beringsut mendekati Ichigo, yang tengah terlelap. Kepala pria itu terkulai ke sisi kanan, napasnya teratur, dengan kedua tangan bertumpuk di atas perut.
Ketika tidur, pria itu terlihat begitu tenang dan damai. Semua beban terangkat dari Ichigo, tak ada berjibun tanggung jawab, tak ada perkelahian, tak ada ketua Black Sun, hanya seorang pria yang tengah melepas lelah.
Rukia mengulurkan tangan untuk menyentuh wajah Ichigo, namun menarik jemarinya lagi karena tak ingin membangunkan pria itu. Ia kembali memandangi Ichigo, pria yang akan segera menikah dengannya, walau ia tak tahu kapan segera itu akan terjadi.
Rukia tak pernah berpikir dirinya akan menikah secepat ini. Ia memiliki impian yang ingin dicapai sehingga menjalin hubungan dengan lawan jenis apalagi pernikahan tak pernah muncul dalam benaknya. Tapi anehnya, ketika ide itu muncul dari Ichigo, Rukia menerimanya. Yah, ia memang sempat ingin mengulur waktu, namun tak pernah dengan keras. Mungkin karena dalam dirinya Rukia tahu bahwa keputusan untuk bersama Ichigo adalah yang paling benar.
"Apa aku mencintaimu?" Pertanyaan itu muncul dalam bisikan. "Aku tak tahu apakah aku mencintaimu? Aku hanya tahu bahwa aku ingin bersamamu." Rukia masih tak melepaskan matanya dari Ichigo. "Kau tahu, rasanya sangat mengejutkan bagiku memiliki rasa ketergantungan kepada orang lain, orang asing sepertimu. Kau tiba-tiba masuk dalam kehidupanku, menarikku ke jalan yang tak pernah kukira akan kulalui sebelumnya. Dari orang asing kau menjadi seseorang yang ..." Rukia bingung memilih kata. "Penting." Kata itu meluncur dari bibirnya beberapa saat kemudian. "Apa itu artinya aku mencintaimu?" Ia kembali ke pertanyaan awal.
"Aku tak tahu."
Suara itu kembali membuat jantung Rukia memacu. "Ku-kukira kau tidur," ujarnya terbata.
Sepasang iris berwarna madu menatap Rukia. "Tadinya, aku memang tidur."
"Maaf, membangunkanmu," ucap Rukia sembari menunduk.
Ichigo menyentuh wajah Rukia, mengangkatnya perlahan sehingga mereka saling bertatapan.
"Kau orang asing dalam kehidupanku. Muncul dalam wujud seorang dewi penyelamat, tapi di saat bersamaan kau mencuri hatiku. Kau mengubah kehidupanku, seperti aku mengubah kehidupanmu. Orang asing yang menjadi penting bagiku." Ichigo mendekatkan wajahnya. "Aku mencintaimu, itu suatu hal yang pasti, dan soal apa kau mencintaiku atau tidak." Pria itu mengangkat bahu dengan tak acuh. "Kita bisa bersama-sama mencari tahu."
"Kau baik-baik saja dengan itu?" selidik Rukia.
Ichigo tersenyum. "Aku orang yang percaya diri, Rukia. Aku yakin bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku."
Seharusnya, Rukia tertawa. Bukankah kepercayaan diri yang berlebihan seperti itu memang patut ditertawakan, apalagi jika menyangkut tentang dirinya. Tapi Rukia tidak tertawa. Sedikit pun tidak. Karena ia tahu Ichigo serius, dan ia percaya bahwa Ichigo akan mewujudkan kata-katanya. Rukia merasa suatu hari ia akan benar-benar bisa mencintai Ichigo.
Karena Ichigo tepat berada di sana.
Dekat, begitu dekat. Hanya beberapa jengkal. Sudah lama sejak siapa pun berada begitu dekat dengannya, bahkan tak seorang pun pria yang pernah berada begitu dekat seperti ini, kecuali ... ah, Rukia tak akan mengingat-ingat kejadian buruk itu lagi. Masa itu sudah berlalu, tak lagi terasa nyata. Sekarang yang nyata adalah pria yang ada di hadapannya, yang menunduk ke arahnya.
Kami-sama, ia menginginkan Ichigo.
Ia bahkan tidak bergerak. Ichigo mengelus pipinya dengan ibu jari yang kapalan, dan ia tetap tidak bergerak.
Rukia menatap Ichigo, menjilat bibir dan menunggu ...
Menunggu momen itu, sentuhan itu, sekalipun jantungnya memacu dengan debar di atas normal, Rukia tahu itu akan terasa sempurna.
Dan memang begitu.
Berbeda dengan ciuman pertama mereka yang penuh kejutan. Bibir Ichigo menyentuhnya dalam belaian samar. Ciuman yang diam-diam menggoda, menggetarkan seluruh tubuh Rukia.
.*.
bersambung ...
.*.
Hola~ Saya datang lagi. Semoga nggak bosan, ya? Hehe ...
Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah setia menanti kelanjutan fanfik ini. Jangan berhenti memberi dukungan pada saya, karena kalian adalah penyemangat saya dalam mengetik lanjutan kisah ini.
.*.
Review's Review:
Azura Kuchiki
Hola, Mou-chan. Sankyu dah RnR, ya.
Haha ... ternyata ada juga yang kayak Rukia.
Bentar lagi mereka nikah, tenang aja.
Yup. Pun sebaliknya, Ichigo juga chaya bagi Rukia.
Akan diselipin di chap selanjutnya tentang si ketua Bat Knight.
Udah apdet nih.
Eonnichee835
Haha ... itulah saya, muncul tanpa diundang dan menghilang tanpa pamit.
Semoga aja tetap bisa konsisten, ya, paling nggak muncul sebulan sekali buat apdet. wkwkwkwk ...
Makasih dah RnR, ya.
IchiRuki HF
Makasih dah RnR, ya. Amin ... semoga kerajinan saya bertahan lama setelah ini, paling nggak sampai akhir tahunlah. *plak!*
Wah, makasih banget udah mau ngulang-ngulang baca fanfik ini. Saya pun sering ngulang-ngulang supaya jalan ceritanya tetap bisa nyambung. Hehe ...
Rukichigo
Iyup. Ichigo ngeri kalo marah, tapi manis kalo lagi tidur. Eh?
Orang yang ditugaskan ngebunuh Ichigo bakal muncul di chap selanjutnya.
Makasih dah RnR, ya.
Izumi Kagawa
Lha, rajinnya sih tiap hari. Alhamdulillah ... tapi yang diketik macam-macam. Haha ...
Belum. Next chapter deh kayaknya.
NOOOOO! Saya nggak mau diteror, mending kasih terong balado. Wkwkwk ...
Makasih dah mampir.
Loly Jun
Sudah lanjut nih. Mampir lagi, ya. Sankyu.
Nad-Ru15
Amin ... semoga awet. Paling nggak, nggak sampai bikin kamu nunggu apdetan fic ini berbulan-bulan. Hehe ...
Ruki tingkahnya emang ngegemesin, makanya Ichi nggak bisa jauh-jauh dari dia. Maunya sesegera mungkin dihalalkan. :'v
Amin ...
Makasih dah RnR, ya. Jangan bosan mampir lagi.
Hazuna
Makasih dah RnR, ya.
Tunggu beberapa chapter lagi, ya. Pokoknya di fanfik ini IchiRuki pasti nikah.
Yuliita
Makasih dah RnR, ya.
Nggak berat, kok. Simpel-simpel aja, soalnya saya juga nggak suka bikin yang berat-berat, nggak kuat ngangkatnya. *plak!*
.*.
O ya, sebentar lagi beberapa author IR bakal ngadain semacam event. Beberapa author bakal bikin fanfik IR bareng buat ngeramein fandom kita yang hidup segan mati tak mau ini. So, don't miss it!
Akhir kata, makasih dah mampir dan maaf apabila masih banyak kekurangan di dalamnya, terutapa typos, karena fanfik ini langsung dipublish setelah selesai ketik. Hehe ...
See ya,
Ann *-*
ps: buat yang nungguin apdet fanfik saya yang lain mungkin masih lama apdetnya karena saya mau fokus ke yang ini dulu, mumpung moodnya lagi bagus. :3
