Disclaimer ©Tite kubo

(Saya hanya meminjam karakter di dalamnya sebagai karakter dalam fanfik saya, tanpa berniat mengambil keuntungan apa pun selain kesenangan pribadi)

.*.

Devil Beside Me

by

Ann

.*.

Peringatan: AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo(s),

tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'

Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca ...

selamat menikmati.

.*.

Cepat atau lambat, aku dan kau akhirnya akan berubah menjadi kita.

.*.

Bagian Tujuh

.*.

"Tidakkah kau menginginkan ciuman lagi?"

Ichigo membisikkan pertanyaan itu di bibir Rukia. Ia tidak mengharapkan jawaban, kalaupun ia mengharapkannya, sudah jelas yang diinginkan Rukia berkata, Ya, tentu saja.

Ia ingin meneruskan ciuman ini, melakukannya lagi dan lagi. Berpetualang di kulit seputih salju dan selembut sutra. Rukia berbaring di bawahnya dengan bibir bengkak akibat ciumannya, sepasang tangan gadis itu menggantung di lehernya, dan mata violet itu menatap sayu ke arahnya. Rukia adalah godaan nyata yang tak bisa Ichigo lewatkan begitu saja.

Baru saja ia menyentuh bibir Rukia sekali lagi, pintu kamar terbuka dengan cepat.

"Ups! Maaf, aku datang di saat yang tidak tepat."

Keterkejutan Ichigo berganti menjadi kemarahan ketika menoleh ke pintu. "KELUAR!"

Hisagi melangkah mundur sambil menarik pintu hingga tertutup, gerakan yang sama cepatnya seperti saat ia membuka pintu.

"Aku tidak mau mengganggu, Kaichou, tapi semua orang menunggumu untuk memulai rapat." Pemberitahuan dari Hisagi dijawab Ichigo dengan geraman.

"Sepertinya kau sibuk," ujar Rukia.

"Ya, ada rapat yang harus kupimpin," jawab Ichigo, namun tak bergerak dari posisinya semula.

"Kau tidak mau pergi?" tanya Rukia, tapi gadis itupun tak mau bergerak. "Orang-orang menunggumu."

"Aku tahu." Mulut Ichigo mengerucut. "Apa kau mau aku membatalkan rapatnya?" Ia menawarkan.

Rukia mempertimbangkan tawaran Ichigo. "Aku mau ... tapi tidak. Kau punya kewajiban yang harus didahulukan." Ia melepaskan tangan dari leher Ichigo.

Sambil mengerang, Ichigo menggulingkan tubuhnya hingga berbaring di tempat tidur. "Kadang aku berharap aku hanya orang biasa. Semua kerumitan ini ... membebaniku," ujarnya pelan. Ia mendengar Rukia bergerak kemudian jemari gadis itu menyentuh keningnya.

"Tapi kau bukan orang biasa. Kau seseorang yang memiliki segudang tanggung jawab. Jadi, bangunlah, pemalas. Orang-orang menunggumu." Kata-kata itu diikuti tepukan keras di lengan Ichigo.

Ichigo bangun dengan cepat, mengaduh pura-pura. "Pukulanmu boleh juga, Nona."

Ia berdiri, melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka dan merapikan diri. Saat ia keluar dari kamar mandi Rukia duduk di ujung kamar tidur. Mata gadis itu menatap bulan separuh melalui jendela kaca. Ia menghampiri Rukia. "Apa yang kau pikirkan?"

Rukia menggeleng pelan. "Aku sedang berusaha tidak memikirkan apa pun."

"Bagus. Kau sebaiknya tidak merepotkan diri berpikir yang macam-macam, kepalamu bisa meledak," ujar Ichigo.

Rukia tertawa. Namun, tawa gadis itu lenyap setelah tatapannya bertemu dengan mata Ichigo. Rukia menelan ludah. "Apa kau akan kembali?"

Ya adalah kata yang ingin Ichigo berikan, tapi ia menggeleng. "Tidak."

"Kenapa?" Kebingungan terpancar di mata Rukia.

"Karena yang tadi tak boleh terjadi lagi," jawab Ichigo. Sebelum Rukia membuat kesimpulan sendiri atas kata-katanya, Ichigo segera melanjutkan, "Kita akan menunggu sampai setelah pernikahan." Ia berlutut di depan Rukia, berkata dengan janji dalam ucapannya. "Apa pun yang tertunda malam ini akan kita lanjutkan setelah upacara pernikahan."

Rukia menyapu sebutir air mata dari sudut matanya. "Kau membuatku merasa istimewa."

"Kau memang istimewa. Tidak ada gadis sepertimu sebelumnya." Ichigo hendak menyentuh pipi Rukia, namun menarik tangannya dan berdiri. "Aku harus pergi."

"Tapi sebelum pergi, kau harus memberitahuku kapan tepatnya pernikahan kita akan terjadi." Rukia melipat tangan di depan dada. "Seharian aku melakukan ini dan itu, diseret ke sana-sini, mempersiapkan pernikahan tanpa tahu kapan sebenarnya aku akan menikah."

"Tujuh hari dari sekarang."

"APA?!" Rukia melompat berdiri. "Kau bercanda, kan?!"

"Tidak. Aku serius. Kenapa? Apa menurutmu terlalu lama? Kau ingin dipercepat?"

Rukia memutar bola mata.

"Kalau kau mau lebih cepat, aku bisa memaksakan persiapan dilakukan dalam tiga hari. Persiapannya mungkin tida─" Ichigo tak sempat menyelesaikan kata-katanya karena Rukia mendorongnya keluar kamar. "Hei, Ruki─" Sekali lagi kalimat Ichigo harus mengambang di udara karena pintu di depannya tertutup dengan cepat kemudian terdengar suara pintu diputar. Rukia dan kebiasaan mengunci pintunya.

Ichigo bersungut di depan pintu, menyadari dengan jelas apa yang menyebabkan dirinya dikeluarkan dari kamar dengan paksa. Rukia marah karena pernikahan yang dilakukan terlalu cepat.

"Ka-kaichou." Panggilan gugup dari Hisagi membuat Ichigo menoleh.

"Aku akan segera ke sana," ujarnya setelah memberi tatapan galak pada Hisagi.

.*.

Ichigo dan anggota Black Sun menjadikan ruangan terluas di lantai satu, yang berada tepat di samping tangga, sebagai ruang rapat. Ruang itu bisa menampung setidaknya 30 orang. Namun, malam ini tak sampai sepuluh orang yang mengisi ruangan tersebut. Semua yang berada di ruangan tersebut bisa dikatakan sebagai petinggi Black Sun. Orang-orang yang mengurusi bisnis yang ada di bawah naungan Black Sun. Beberapa di antaranya bukan pilihan Ichigo, tapi merupakan pilihan ketua sebelumnya. Ia sengaja tidak mengganti mereka karena menghormati pilihan Gin, ketua Black Sun terdahulu. Ichigo percaya bahwa orang-orang itu akan tetap setia kepada Black Sun, kecuali satu orang.

"Maaf harus mengganggu malam panasmu, Kaichou."

Suara sinis itu berasal dari kursi terjauh Ichigo. Marechiyo Oumaeda. Pria bertubuh besar itu bersandar di kursi dan menatap Ichigo dengan tidak bersahabat. Melihat Renji siap menembakkan balasan, Ichigo memberi isyarat agar temannya itu diam.

"Abaikan saja dia," ujar Shunsuke Amagai yang duduk di bagian tengah. "Dia hanya belum bisa menerimamu sebagai Kaichou."

"Aku tidak bisa menerima orang yang menunjuk dirinya sendiri menjadi ketua sebagai Kaichou," sahut Oumaeda.

"Ichigo tidak memilih dirinya sendiri, Gin yang memilihnya," Renji bersuara.

"Itu perkataanmu," sahut Oumaeda. "Sejak awal bergabung kalian memang bertujuan untuk mengambil alih Black Sun, bukan?"

"Oumaeda hentikan," kata Iba. "Kita di sini bukan untuk membahas hal itu. Lagi pula, keputusan Kurosaki menjadi Kaichou diambil berdasarkan keputusan bersama. Kita mengadakan pengambilan suara, ingat?"

Oumaeda terdiam. Tiga tahun lalu, setelah kematian Gin, Ichigo diangkat menjadi ketua Black Sun. Di saat terakhir Gin menunjuk Ichigo sebagai penggantinya, namun keputusan itu tak serta-merta menjadikan Ichigo sebagai Kaichou. Setelahnya, diadakan pengambilan suara yang melibatkan seluruh anggota Black Sun, dan Ichigo mendapatkan suara terbanyak, 90% suara. Tapi kemenangan telak itu tak membuat Oumaeda puas, dia masih merasa Ichigo tak layak memimpin Black Sun.

"Meskipun tidak suka, kau harus menerima keputusan bersama," Sasakibe buka suara. Sasakibe merupakan anggota tertua Black Sun yang masih aktif sehingga dia menjadi orang yang paling dihormati.

Walaupun merengut, Oumaeda tak lagi bersuara.

"Sekarang, lebih baik membahas apa yang sebenarnya ingin kita bahas," ujar Amagai. "Kudengar kau ingin menyerang Bat Knight," tambahnya dengan ketertarikan yang besar.

"Ya, aku ingin kita melakukan itu," jawab Ichigo. "Bat Knight sudah sangat meresahakan. Berkali-kali mereka menghancurkan tempat usaha kita, membuat kerugian yang cukup besar bagi Black Sun. Tindakan mereka sudah tak bisa ditoleransi, aku ingin menghancurkan mereka semua."

"Bagaimana dengan mediasi?" Sasakibe menyarankan.

"Kami sudah berkali-kali mengirimkan undangan mediasi pada ketua Bat Knight, dan tak pernah mendapat tanggapan. Sepertinya, mereka memang tak ingin menempuh jalan damai," Uryuu menjelaskan.

"Siapa ketua Bat Knight sekarang setelah kematian Sousuke Aizen?" Sasakibe bertanya. Memandangi satu persatu orang yang berada di ruangan tersebut, dan masih belum mendapat jawaban.

"Itulah yang belum kami ketahui," Ichigo mengakui.

"Anak-anak sekarang." Sasakibe menghela napas. "Sebaiknya, kalian mencari tahu terlebih dahulu siapa ketua baru Bat Knight sebelum menyerang mereka. Kalian harus tahu siapa musuh yang sedang kalian hadapi."

"Apa jadinya kami tanpamu, Sasakibe-san." Ichigo menyengir lebar.

Sasakibe menggeleng pelan. "Kalian hanya bertambah besar, tapi masih bersikap seperti anak-anak."

.*.

Seminggu?!

Rukia tak bisa tidak merasa panik setelah tahu seberapa singkat waktu yang dipunyainya untuk mempersiapkan diri.

"Ichigo baka!" serunya sebal seraya melempar bantal ke pintu. "Bagaimana mungkin dia berpikir dapat mempersiapkan pernikahan dalam seminggu, bahkan yang memiliki waktu sebulan kelimpungan melakukannya. Kami-sama, ternyata Ichigo benar-benar gila. Dan aku akan menikahinya." Rukia mengenyakkan diri di tempat tidur. "Entah apa yang akan terjadi dengan kehidupanku setelah pernikahan ini. Mungkin aku akan ikut gila sepertinya."

Walaupun berpikir seperti itu, Rukia sama sekali tidak berpikir untuk membatalkan pernikahan dengan Ichigo. Hatinya sudah sangat yakin dengan pria itu, bahkan saat ada seorang wanita dari masa lalu muncul, ia tetap tak berniat mengundurkan diri.

Ichigo sudah memilihku, dan aku percaya kepadanya. Apa pun yang terjadi di masa lalu biarlah tetap berada di masa lalu.

Tapi sepertinya masa lalu yang enggan meninggalkan Ichigo. Ponsel Ichigo, yang tertinggal di nakas samping tempat tidur, terus berbunyi. Rukia menghampiri ponsel itu, layarnya menampilkan nama Inoue. Tanpa sebab yang jelas, Rukia merasa kesal melihat nama itu ada di sana. Ah, alasan rasa kesal itu tentu sudah sangat jelas, hanya saja Rukia tak mau mengakui bahwa dirinya merasa cemburu.

Rukia mengabaikan ponsel Ichigo, namun benda itu tak berhenti berbunyi. Setelah hampir setengah jam mendapat panggilan berkali-kali dari nomor yang sama, akhirnya ponsel itu berhenti bernyanyi.

"Baguslah kalau kau sudah lelah mencoba menghubungi calon suamiku, karena aku juga sudah lelah nada berisik itu," ujar Rukia pada layar ponsel yang gelap. Tapi rasa senang Rukia tak bertahan lama, ponsel itu kembali berbunyi. Kali ini bukan panggilan, namun deretan pesan yang masuk, tetap dari orang yang sama. "Apa kau tidak bisa berhenti mengganggu? Bukannya kau bilang kau dan Ichigo hanya berteman, tapi kenapa kau terus mengganggunya?"

Setelah kata-kata itu terucap, Rukia merasa bersalah. Bisa saja Inoue menelepon untuk meminta bantuan. Jadi, ia meraih ponsel Ichigo dan memeriksa pesan yang masuk.

.

"Kenapa kau tidak menjawab teleponku, Kurosaki-kun? Apa kau tidak mau berbicara denganku? Tadi pun kau mengabaikanku. Kau mendengar panggilanku, tapi berpura-pura tidak mendengar. Kenapa? Apa aku berbuat salah kepadamu?"

.

Pesan pertama yang Rukia baca tidak mengindikasikan bahwa Inoue membutuhkan bantuan. Namun, isinya membuat Rukia penasaran sehingga ia melanjutkan membaca pesan berikutnya.

.

"Aku ingin bicara denganmu, Kurosaki-kun. Kita harus bicara. Kau tidak boleh menikah dengan Kuchiki. Aku tidak mengizinkanmu menikah dengannya."

.

Seharusnya, aku tidak membaca pesan-pesan ini, pikir Rukia. Mengabaikan peringatan dari otaknya, Rukia tetap meneruskan membaca pesan yang berikutnya.

.

"Aku mencintaimu, Kurosaki-kun. Aku sangat mencintaimu. Kau hanya boleh menikah denganku!"

.

Rukia mengernyit membaca pesan itu. "Apa-apaan gadis ini?" Ia meletakkan kembali ponsel ke nakas karena kesal, tapi mengambilnya kembali dalam hitungan detik. Sudah terlanjur membaca lebih baik selesaikan sampai akhir.

.

"Aku tahu, kau sudah menolakku. Tapi ... aku tidak bisa melupakanmu. Kumohon, jangan menikah dengan gadis itu. Aku akan tinggal di Karakura bersamamu, aku akan meninggalkan karierku sebagai model. Akan kulakukan apa pun agar kita bisa bersama. Jadi, jangan menikah dengan gadis itu. Dia tidak pantas untukmu, dia bahkan tidak peduli padamu. Andai kau mendengar caranya bicara tentangmu tadi siang, kau akan sadar bahwa dia tidak baik untukmu."

.

Perempatan siku muncul di dahi Rukia setelah membaca pesan panjang itu. "Memangnya aku mengatakan apa, hah? Gadis ini benar-benar─" Ia menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Sabar, Rukia ... tahan emosimu."

Semakin Rukia membaca, pesan-pesan itu semakin terasa menyebalkan. Terkadang memang muncul rasa kasihan membaca pesan putus asa yang ditulis Inoue, bagaimana gadis itu menceritakan perasaannya kepada Ichigo, menunggu pria itu selama bertahun-tahun hanya untuk ditolak. Andai Rukia adalah gadis yang baik hati, ia tentu akan mengambil langkah mundur dan membiarkan Inoue bersama Ichigo. Tapi Rukia bukanlah gadis baik hati, ia orang yang egois. Untuk kali ini Rukia tak ingin mengalah. Meski perasaannya pada Ichigo belum bisa diyakini sebagai cinta, dan masa depan yang menanti tidak semulus yang ia harapkan, Rukia masih tidak mau mengalah. Ia adalah orang yang akan menikah dengan Ichigo, dan ia tak akan membiarkan ada orang yang mencoba menghancurkan pernikahannya.

Dengan ponsel Ichigo di tangannya, Rukia berniat mencari calon suaminya. Sebuah kejelasan, itu yang ia butuhkan sekarang. Ia sudah beranjak ke pintu, begitu teringat Ichigo sekarang tengah rapat, ia mengurungkan niat dan kembali duduk di tempat tidur.

Ponsel di tangan Rukia kembali berbunyi. Layarnya kembali menampilkan nama yang sama. Rukia meletakkan ponsel itu di nakas, tapi bunyinya masih terasa sangat mengganggu. Untuk sesaat Rukia tergoda menjawab panggilan itu dan mengatakan pada Inoue agar tidak mengganggu Ichigo lagi. Sempat pula terpikir untuk mematikan ponsel itu atau membuangnya ke jendela sekalian. Tak satu pun dari pikiran itu Rukia lakukan. Ia menarik selimut dari permukaan tempat tidur dan membungkus ponsel Ichigo dengan selimut itu, kemudian meletakkan buntalan besar itu di sudut terjauh dari tempat tidur. Setidaknya sekarang tidak akan ada lagi suara berisik yang mengganggu telinganya.

.*.

Di sebuah bar di pinggiran Karakura, di waktu yang sama:

Menunda pekerjaan hanya karena perempuan tak pernah ia lakukan. Ini pertama kalinya, dan setelah ini mungkin akan ada kali-kali yang lain ia melakukan hal ini. Alasannya sudah jelas, karena perempuan ini istimewa. Gadis berambut karamel dengan mata bening yang sudah memikat hatinya sejak pertemuan pertama. Ia tak pernah mengira akan jatuh cinta. Jenis pekerjaan yang digelutinya, serta hati sehitam arang di dalam dirinya, membuat ia berpikir rasa itu mustahil akan datang. Tapi nyatanya ia tetap jatuh cinta. Dan ketika ia mencintai, akan dilakukannya dengan sungguh-sungguh, sama seperti ia melakukan pekerjaannya.

"Kau tahu, aku mencintainya sejak lama." Gadis itu berkata dalam keadaan setengah sadar. Bergelas-gelas minuman beralkohol sudah menghilangkan separuh pikiran waras gadis itu. "Aku mencintainya, tapi dia menolakku," sang gadis kembali bersuara. "Aku mengajaknya pergi ke Eropa agar dia aman, karena di sini dia selalu dicelakai orang, tapi dia menolak. Lalu saat aku kembali dia malah merencanakan pernikahan dengan perempuan lain. Dia benar-benar jahat!"

"Kenapa tidak kau lupakan saja dia?"

Seharusnya, pertanyaan itu ia ajukan pada dirinya sendiri. Semestinya, ia melupakan gadis ini dan mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya. Tapi ... ah, orang yang mencintai selalu membuat alasan, tapi, tapi, dan tapi, hanya untuk membenarkan tindakan mereka. Dan sekarang ia menjadi salah satu orang bodoh itu, mencari-cari alasan untuk membenarkan tindakannya. Andai tuannya tahu apa yang dilakukannya sekarang, sudah jelas ia akan kehilangan nyawa, atau jika beruntung ia akan berakhir di sudut ruangan dengan tubuh penuh lebam.

Jatuh cinta mungkin tak akan membuat tuannya murka, tapi menunda tugas karena seorang perempuan, pasti akan memberinya bencana, apalagi jika tuannya tahu siapa yang ia cintai. Gadis ini berasal dari kelompok musuhnya, bahkan mencintai ketua kelompok itu. Tuannya pasti tak akan mau memberi kelonggaran jika tahu kebodohannya ini.

"Aku tidak bisa. Aku sudah terlalu lama mencintainya. Dia ... cinta pertamaku."

Kau juga cinta pertamaku. Rasa hatinya ingin mengucap kata itu, tapi ia diam, mendengarkan setiap keluh-kesah yang dikeluarkan gadis itu hingga gadis itu menelungkup di meja tempat minum sepi, yang sengaja dipilihnya sebagai tempat pertemuan agar tak menarik perhatian. Sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya, gadis yang kupanggil Hime itu sempat berkata, "Bisakah kau lenyapkan gadis itu untukku? Tolong ... lenyapkan Rukia Kuchiki agar aku bisa bersama Kurosaki-kun."

"Aku akan menolongmu Hime-sama," ia menjawab dengan suara pelan, "aku akan melenyapkan gadis itu untukmu, tapi kau tetap tak akan bisa bersama orang yang kau cintai. Dia pun akan lenyap, karena tuanku menginginkan kematiannya."

Terdengar suara pintu yang terbuka. Dua perempuan masuk ke dalam bar, langsung mengarah ke meja bar. Ia memanfaatkan waktu itu untuk meninggalkan meja, bergerak tanpa suara melewati pintu dan kembali pada kegelapan malam. Ia menunggu beberapa saat sampai dua perempuan itu keluar dari bar sambil memapah Hime-nya dan menaiki taksi. Ia menaiki motor hitamnya setelah taksi itu pergi.

"Ah, mereka sudah pergi." Pemilik bar yang berlari keluar kecewa melihat jalanan kosong. Kemudian tersenyum cerah saat melihatnya. Pemilik bar mendekatinya dan bertanya, "Kau bersama Nona tadi, kan?" Karena tak mendapat jawaban, pemilik bar itu menambahkan, "Perempuan cantik berambut panjang."

"Ya," ia menjawab singkat.

"Syukurlah, Nona itu meninggalkan ini." Pria itu menunjukkan sebuah selendang. "Kau bisa mengembalikan selendang ini padanya?"

Ia ingin menjawab tidak, namun tangannya sudah bergerak untuk mengambil selendang biru pucat itu dari pemilik bar.

"Boleh saya tahu nama Tuan?" tanya pemilik bar. Melihat keengganannya, pemilik bar menambahkan, "Hanya untuk berjaga-jaga siapa tahu Nona itu kembali, dan kalian berselisih jalan."

Itu tidak mungkin. Kalimat itu menggantung di ujung lidahnya, tapi tak pernah meluncur keluar. "Schiffer." Ia menyebutkan namanya.

"Aku akan mengingatnya, terima kasih, Tuan."

Pemilik bar kembali ke dalam kedai, meninggalkannya dengan sebuah selendang di tangan. "Hime, aku akan mengembalikan selendang ini setelah pekerjaanku selesai."

.*.

Kembali ke markas Black Sun:

Tengah malam sudah lewat, ketika ruang rapat itu menjadi sunyi. Semua orang pergi, meninggalkannya sendiri di sana. Sembari mengawasi pintu yang tertutup, ia mengeluarkan ponsel, mengetikkan nomor yang sudah ia hafal di luar kepala, kemudian menghubungi nomor tersebut. Panggilannya dijawab sebelum dering ketiga.

"Kau punya berita untukku?" Suara di seberang sana terdengar tidak sabar.

"Ya. Mereka berniat mencari tahu tentangmu."

Tawa nyaring mengisi telinganya. "Bukankah sudah sangat terlambat mencari tahu tentangku sekarang? Kelompokmu bergerak sangat lamban."

"Tidak akan begitu jika aku yang memimpin mereka."

"Baiklah, terserah padamu. Kau menginginkan Black Sun, itu yang akan kau dapatkan. Yang kuinginkan hanyalah Ichigo Kurosaki."

"Dan itu yang akan kau dapatkan. Besok dia akan pergi mengunjungi ibunya bersama calon istrinya, itu kesempatanmu untuk bergerak. Kali ini jangan membuat kesalahan dengan mengirim cecunguk untuk menghabisinya."

"Tak perlu memberitahu apa yang harus kulakukan!"

Sambungan diputus dengan kasar, bertepatan dengan pintu ruang rapat yang terbuka. Ichigo muncul di ambang pintu. "Kau masih di sini?"

"Ya. Menyelesaikan beberapa urusan bisnis," jawabnya seraya menyimpan ponsel. "Kau mencari sesuatu?"

"Ponselku," jawab Ichigo. "Aku meninggalkannya entah di mana." Pria berambut oranye itu mencari-cari di sekitar. "Mungkin tertinggal di kamar Rukia." Ichigo melangkah kembali ke pintu.

"Ichigo."

Ichigo menghentikan langkah.

"Aku belum mengucapkan selamat atas pertunanganmu dengan─ah, aku bahkan tak tahu namanya."

"Rukia Kuchiki."

"Rukia Kuchiki. Selamat atas pertunanganmu dengan Rukia Kuchiki. Kapan pernikahannya?"

"Minggu depan. Kau harus datang."

"Ya, tentu saja. Jika ada yang bisa kubantu katakan saja."

Ichigo mengangguk. "Terima kasih, Amagai-san."

Ruangan itu kembali sunyi setelah kepergian Ichigo. "Sayangnya, kau tidak akan pernah bisa menghadiri pernikahanmu sendiri, Ichigo."

.*.

bersambung ...

.*.

Hola~ nggak nyangka bisa menyapa kalian secepat ini. Sepertinya, syndrom rajin saya tambah akut beberapa hari ini. Hehe ... Tapi lanjutannya mungkin nggak bakal secepat ini karena kerjaan sudah menanti di luar sana.

Dari review yang masuk, kayaknya pada nggak seneng Inoue muncul. Saya minta maaf untuk itu. Sebenarnya, saya juga agak ragu memasukkannya dalam cerita, tapi karena dari awal saya emang berencana memakai Inoue, saya tetap melakukannya. Kalau ganti tokoh, saya harus ganti plot, dan prosesnya bakal makan waktu. Jadi, saya memilih untuk mengikuti plot yang sudah ada.

Yah, mungkin agak mengganggu bagi pembaca yang nggak suka sama dia, tapi kemunculannya nggak akan terlalu banyak, kok, plus nggak akan membuat Ichigo berpaling dari Rukia (setidaknya, dalam fanfik ini).

Sekarang saya mau balas review dulu.

Review's Review:

Azura Kuchiki

Betul. Pengantin zaman now. Wkwkwk ...

Iyup. Inoue emang nggak suka sama Rukia karena dianggap sebagai 'pengganggu'.

Apa harus bikin yang lebih legit lagi, ya, setelah ini?

Haha ... mood saya emang lagi bagus, makanya bisa apdet cepet.

Makasih dah RnR, ya.

Rukichigo

Halo, makasih dah mampir, ya.

Ichigo pengen pernikahan kilat makanya begitu. wkwkwk ...

Pastinya, mereka nggak akan tergoyahkan hanya karena seorang Inoue.

Udah lanjut nih.

Hazuna

Hai, Hazuna.

Jawaban pertanyaan kamu sudah ada di chapter ini, ya.

Makasih dah RnR.

Nad-Ru15

Terima kasih juga sudah membaca fanfik saya. 😊

Aduh, pertanyaan itu (kapan nikah?) sebaiknya nggak perlu dikeluarkan. Wkwkwk ...

Haha ... Inoue emang bawa mimpi buruk buat pecinta IR. Tapi dia saingan yang paling greget kalo dimasukin di fanfik IR.

Hum, kamu mau diundang ke nikahannya ketua gangster? Siap-siap bawa pemukul bisbol, ya.

Sankyu.

xox

Makasih dah RnR, ya. Udah lanjut nih.

IchiRuki HF

Terima kasih kembali karena sudah mau membaca fanfik saya.

Yup. Greget kalo dia yang jadi saingan Ruki, tapi rasanya puas kalo berhasil ngalahin dia (walau hanya dalam fanfik).

Mungkin flashback untuk penolakan itu nggak bakal saya masukin.

Sabar, ya, bentar lagi juga nikah.

Amin ... makasih dukungannya. 😊

.*.

Akhir kata, terima kasih untuk kalian semua yang udah baca, review, follow, dan nge-fav, fanfik ini, dan maaf jika di dalamnya masih banyak kekurangan.

See ya,

Ann *-*