Disclaimer ©Tite kubo
(Saya hanya meminjam karakter di dalamnya sebagai karakter dalam fanfik saya, tanpa berniat mengambil keuntungan apa pun selain kesenangan pribadi)
.*.
Devil Beside Me
by
Ann
.*.
Peringatan: AU, OOC (Sesuai kebutuhan cerita), Typo(s),
tidak suka? Mungkin bisa tekan tombol 'Back' atau 'Close'
Dan untuk kalian yang berniat meneruskan membaca ...
selamat menikmati.
.*.
Cinta tak hanya memiliki satu jalan, terkadang ada persimpangan yang membuatmu harus memilih.
.*.
Bagian Delapan
.*.
Ichigo sudah pernah menghadapi ratusan perkelahian, mulai dari adu tinju sampai yang menggunakan senjata. Bermacam lawan telah ia taklukkan, berhasil dikalahkan, baik dengan mudah maupun sulit. Ia sudah memiliki pengalaman menghadapi situasi sulit, genting, bahkan yang mengancam nyawa. Namun, tak satu pun dari semua pengalaman itu yang bisa dijadikan sebagai pegangan untuk menghadapi lawannya sekarang. Ah, lawannya bukanlah pemilik sabuk hitam dalam ilmu bela diri, maupun petinju yang memiliki pukulan cepat dan kuat, atau seorang penembak jitu yang mampu melesatkan peluru yang mengenai sasaran dengan tepat. Lawan yang sekarang Ichigo hadapi berupa gadis yang tingginya bahkan tidak mencapai satu setengah meter, berambut hitam dengan kulit seputih salju, dan mata sewarna permata amethyst. Lawannya kini tidak lain tidak bukan adalah calon istrinya sendiri, yang sejak tadi memasang wajah cemberut, dan tak mau menatapnya.
Kemarahan Rukia membuat Ichigo kebingungan, karena ia tak tahu apa sebabnya. Sejak Rukia membukakan pintu untuknya, Rukia memang sudah terlihat tidak senang. Bahkan teh hangat dan setumpuk roti lapis yang dibawakan Ichigo tak membuat Rukia tersenyum barang sedikit.
"Apa kau melihat ponselku?" Pertanyaan Ichigo membuatnya mendapat delikan marah dari manik violet Rukia. Insting Ichigo langsung bereaksi menyuruhnya waspada.
"Ponselmu ada di dalam selimut itu," sahut Rukia tak acuh sambil menyeruput teh.
Ichigo mengernyit bingung. "Kenapa ada dalam selimut?"
"Mungkin ponselmu kedinginan." Rukia masih mempertahankan sikap tak acuh.
Meskipun tak mengerti dengan sikap Rukia, Ichigo tak bertanya lebih jauh. Ia memilih mengambil ponselnya dalam diam. Ponsel itu mati karena kehabisan batere. "Kau punya charger?" Ia bertanya sembari melangkah menghampiri Rukia.
"Tidak," jawab Rukia singkat.
Sebelah alis Ichigo terangkat mendengar jawaban Rukia padahal di meja, tepat di depan gadis itu, ada charger. Ia mengambil charger. "Ini tidak bisa dipakai?"
"Tidak tahu." Rukia berpura-pura asyik dengan rotinya.
Ichigo meletakkan ponsel dan charger di meja, kemudian berjongkok di depan Rukia. "Sebenarnya, ada masalah apa?" tanyanya sambil mencoba menangkap tatapan Rukia, yang selalu dialihkan darinya.
"Tidak ada apa-apa," sahut Rukia.
"Kau yakin?"
Rukia tidak menjawab, membuat Ichigo yakin kalau gadis itu tengah menutupi sesuatu darinya. "Aku merasa ada masalah," pancing Ichigo.
"Apa?" Rukia masih tak mau memandang Ichigo.
"Aku tidak tahu," jawab Ichigo. "Mungkin kau mau berbaik hati memberitahuku."
"Aku juga tidak tahu," sahut Rukia. "Sebaiknya kau minum tehmu sebelum dingin." Rukia menghabiskan roti lapisnya, lalu melangkah cepat ke kamar mandi.
Ichigo mencoba mengejar, tapi gadis itu bergerak lebih gesit, dan hidung Ichigo bertemu dengan daun pintu yang tertutup dengan keras. "Aduh! Sial!" Ia mengumpat sembari mengelus hidungnya yang sakit. "Rukia, aku tahu kau sedang kesal padaku. Tapi aku tidak tahu alasannya, dan aku tidak akan tahu kalau kau tidak mengatakannya."
.*.
Rukia menyandarkan punggungnya di balik pintu. Ia mendengar Ichigo mengaduh lalu mengumpat, sepertinya tanpa sengaja ia sudah membuat─entah bagian mana dari tubuh Ichigo─terantuk pintu. Nuraninya menyuruh agar Rukia keluar dan melihat keadaan Ichigo, tapi sesuatu dalam dirinya menyuruhnya tetap tinggal.
"Rukia, aku tahu kau sedang kesal padaku. Tapi aku tidak tahu alasannya, dan aku tidak akan tahu kalau kau tidak mengatakannya." Teriakan Ichigo terdengar.
"Bagaimana aku harus mengatakannya? Aku tidak tahu caranya," Rukia mendumel. "Apa aku harus bilang, 'Ada perempuan ganjen yang tak berhenti meneleponmu semalam, juga mengirimu pesan yang isinya menyuruhmu meninggalkanku'? Tidak! Aku tidak akan mengatakan itu. Terdengar seperti tunangan cemburuan yang tidak punya kepercayaan diri."
Ah, Rukia memang tak punya kepercayaan diri yang besar jika beradu fisik dengan Orihime. Ia kalah body dari perempuan itu, siapa pun yang melihatnya akan mengakui itu. Mulai dari tinggi badan, bentuk badan, juga dada. Kelebihannya hanya satu, yaitu Ichigo memilihnya. Sebenarnya, kelebihan itu cukup untuk menaikkan kepercayaan diri Rukia, karena walau segunung kelebihan yang dimiliki Orihime tak akan berguna jika Ichigo sudah menentukan pilihan. Tapi entah mengapa ia tetap merasa terganggu. Kehadiran Orihime benar-benar membuatnya tak tenang, walau mungkin di sisi Orihime justru dirinyalah yang dianggap pengganggu. Tetapi ia calon mempelai wanita, dan ia memiliki hak penuh untuk merasa terganggu dengan kehadiran seseorang yang tengah berusaha menggagalkan pernikahannya. Dan Orihime tengah mengusahakan hal itu.
Rukia melangkah ke wastafel, membasuh kedua tangannya. Sembari menatap refleksi dirinya di cermin, ia berkata, "Apa kau tidak lelah bersembunyi, Rukia? Kau menghabiskan tahun-tahun yang lalu dengan bersembunyi. Sekarang kau masih mau melakukannya sementara di balik pintu ini ada pria yang berkata mencintaimu dan ingin menikahimu?" Ia diam sesaat, merenungi kata-kata yang baru ia ucapkan kepada diri sendiri.
Mencengkeram pinggiran wastafel dengan erat, Rukia memutuskan untuk berterus terang kepada Ichigo. "Aku harus mendengar sendiri jawaban Ichigo mengenai Orihime."
Dengan tekad kuat, Rukia menyentak pintu hingga terbuka. Ichigo yang saat itu tengah menelepon seseorang langsung menatapnya. Melangkah cepat dan mantap ke arah Ichigo, Rukia membuat pria itu berjengit dan mundur selangkah.
"Ru-rukia?"
"Kurosaki-kun ..." Suara dari ponsel Ichigo membuat Rukia terbakar. Ia merebut ponsel dari tangan Ichigo dan berbicara pada si penelepon. Hanya satu orang yang Rukia tahu memanggil Ichigo dengan Kurosaki-kun. Orang itu baru sekali Rukia temui, tapi ia ingat betul bagaimana rupa dan suaranya.
"Maaf, Orihime-san. Ichigo sedang sibuk sekarang, kami sedang membahas mengenai persiapan pernikahan kami. Kau bisa menghubungi lain kali, tapi aku lebih suka jika kau tidak pernah menghubungi Ichigo lagi. Terima kasih." Rukia berkata dengan tenang, tak sekali pun memperdengarkan kemarahan dalam suaranya. Tapi mata dan gestur tubuhnya menampakkan emosinya dengan jelas. Ichigo bahkan meringis melihatnya. Ia memutus sambungan meski lawan bicaranya sepertinya masih ingin bicara, lalu mengembalikan ponsel ke empunya.
"Kau sudah membaca pesan-pesan yang masuk ke ponselmu?" tanya Rukia.
Ichigo mengangguk.
"Bagus. Berarti sekarang kau tahu apa yang membuatku begitu kesal, ya, kan?"
Ichigo mengangguk lagi.
"Dan aku ingin bertan─" Dering ponsel Ichigo menginterupsi kalimat Rukia. Melirik layar, Rukia kembali menemukan nama yang sama di sana. Ia menatap Ichigo, memberi pria itu kesempatan untuk menentukan pilihan.
Ichigo menolak panggilan itu dan meletakkan ponsel, yang masih tersambung dengan kabel pengisi daya.
Pilihan yang tepat
.*.
Walau tak pernah memiliki pengalaman memiliki kekasih, pesan-pesan yang dikirimkan Orihime dan reaksi Rukia sekarang sudah cukup untuk membuat Ichigo tahu apa penyebab kekesalan Rukia pagi ini, mungkin bahkan sejak malam tadi, mengingat waktu pesan Orihime dikirimkan serta dibaca. Tak perlu menjadi penakluk wanita untuk tahu bahwa kemarahan Rukia adalah bentuk kecemburuannya. Dan cemburu merupakan tanda cinta. Itu artinya ... Ichigo semringah. Meski tadi sempat tidak senang membaca pesan-pesan dari Orihime dan puluhan pangggilan tak terjawab dari gadis itu, kini Ichigo justru merasa senang. Sebab, bisa dibilang berkat Orihimelah Rukia akhirnya menampakkan perasaannya.
"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Ichigo, berusaha tidak terdengar riang agar Rukia tak semakin kesal. Belajar dari pengalaman dibesarkan dua wanita dan tumbuh besar bersama teman perempuan yang lebih tua beberapa tahun darinya, Ichigo tahu bahwa tertawa atau bersikap cuek saat seorang perempuan marah adalah kesalahan besar.
"Tentang dia," Rukia memberi isyarat pada ponsel Ichigo, "apa hubunganmu dengannya?"
"Teman," jawab Ichigo karena tahu yang dimaksud Rukia adalah orang yang baru saja mencoba menghubunginya lagi.
"Hanya itu?" selidik Rukia.
"Ya. Hanya itu. Kami satu sekolah saat SMA, sekelas selama dua tahun berturut-turut, dan dia adiknya Sora. Aku dan Sora menjadi rekrutan baru Black Sun di tahun yang sama. Sora meninggal beberapa tahun yang lalu dan memintaku menjaga adiknya," jelas Ichigo.
"Jadi, kau penjaganya. Pantas saja dia terus meneleponmu," ujar Rukia, tepat dengan dering nyaring ponsel Ichigo.
Ichigo mengabaikan lengkingan suara ponsel, dan fokus pada sang calon istri. Rukia melihatnya, dan kemarahan gadis itu sepertinya mulai surut. Nada suara Rukia tak lagi terdengar tajam ketika bertanya, "Dia menyukaimu, kau tahu itu?"
"Ya, dan aku pun sudah menyatakan dengan jelas jawabanku tentang hal itu. Aku menolaknya. Dia adalah temanku, adik rekanku, tanggung jawab yang dititipkan kepadaku. Hanya itu," tegas Ichigo.
Rukia tak mengalihkan tatapan dari Ichigo ketika bertanya lagi, "Kau yakin tidak pernah menyukainya?"
"Kalau aku menyukainya, aku sudah tidak ada di sini lagi," jawab Ichigo.
Sebelah alis Rukia terangkat. "Maksudnya?"
Ichigo meraih tangan kiri Rukia, membimbing gadis itu kembali ke sofa, menarik Rukia hingga duduk bersamanya di sofa panjang. "Inoue mengajakku pergi ke Eropa bersamanya." Ia menjawab pertanyaan Rukia. "Dia mendapat kontrak kerja dari salah satu agency di Paris, dan ingin aku ikut dengannya," jelas Ichigo.
"Kau tidak ikut karena memilih untuk memenuhi kewajibanmu sebagai ketua?"
Menyandarkan punggungnya di sofa, Ichigo menatap langit-langit yang digambar dengan garis biru dan putih yang saling menyilang. Obrolan ini membuatnya lelah secara psikis. Mencoba menjelaskan pada Rukia tentang hubungannya dengan Inoue serta bagaimana perasaannya sangat menguras pikiran. Lebih baik beradu tinju daripada melakukan ini, pikirnya.
"Kau tidak memilihnya karena dia memintamu meninggalkan Black Sun. Bagaimana jika aku meminta hal yang sama?"
Ichigo mengarahkan matanya pada Rukia. "Kau tidak akan melakukan itu," ujarnya yakin.
Sekarang kening Rukia yang berkerut. "Bagaimana kau tahu?"
"Karena kau berbeda dengan Inoue. Kau adalah gadis yang akan bertarung di sisiku saat lawan mengadangku, bukannya mencoba menggali lubang dan menarikku untuk bersembunyi." Rukia menatap Ichigo tak berkedip. Mulut gadis itu terbuka ingin mengatakan sesuatu, namun tertutup kembali tanpa mengeluarkan suara. "Aku tidak bilang kalau Inoue pengecut, dia hanya ... menginginkan kehidupan yang tenang."
"Dan aku menyukai kehidupan yang menantang maut?" Rukia akhirnya bersuara.
"Kau ..." Tangan Ichigo menggapai rambut hitam Rukia, mengelusnya pelan, kemudian menyentuhkan jemarinya yang kapalan ke pipi halus Rukia. "Kau seorang petarung, Rukia. Pemberani dan menyukai tantangan."
.*.
Ingin rasanya Rukia menyandarkan pipinya di telapak tangan Ichigo nan hangat. Tapi ia tak merasa berhak melakukannya. Ia tak merasa berhak atas semua kenyamanan yang ditawarkan Ichigo untuknya. Semua itu ... Ichigo terlalu tinggi menilai dirinya. Ia bukanlah seorang petarung yang pemberani. Ia hanya ...
Rukia menggeleng. "Aku seorang pengecut. Aku tidak berani menghadapi pamanku, juga orang-orang yang pernah melecehkanku. Aku penakut." Ia menunduk. "Aku takut kau akan menyuruhku pergi dari kehidupanmu sementara aku sudah mulai membiasakan diri dengan semua ini." Menarik napas dalam, Rukia melanjutkan, "Kau tahu, semua ini sulit bagiku. Begitu banyak kejutan dalam beberapa hari terakhir. Kehidupanku jungkir-balik, tak karuan. Tapi aku mulai menerima, membiasakan diri dengan keadaan ini. Aku benar-benar tidak rela kalau ada orang yang mencoba mengusik semua ini, dan aku jadi marah, lalu─" Rukia menghela napas, perlahan matanya kembali menatap Ichigo. "Aku merasa sudah berbuat jahat."
"Terkadang, kita memang perlu berbuat jahat, Rukia," kata Ichigo. "Aku juga sering berbuat jahat."
Ucapan Ichigo memunculkan senyum di wajah Rukia. "Jadi kita ini pasangan jahat?"
Ichigo tertawa. "Boleh, jika kau ingin menyebutnya seperti itu."
"Bersamamu memang mengubah total diriku." Namun tak ada penyesalan dalam suaranya, justru Rukia merasa senang dan bersemangat dengan perubahan yang dibawa Ichigo ke dalam kehidupannya.
"Masuk ke dalam kehidupanku memang akan mengubah dirimu." Ichigo mengiakan.
"Aku akan berubah menjadi gadis yang kuat dan pemberani, jago bertarung, penuh semangat, dan ..." Rukia sengaja menggantungkan kalimatnya.
"Dan?" tanya Ichigo dengan sebelah alis terangkat.
Rukia mempersempit jarak. "Dan ... kau mengubahku menjadi gadis yang nakal, Ichigo Kurosaki." Ia memutus jarak. Memagut bibir Ichigo dalam sebuah ciuman lama dan dalam.
.*.
Uryuu melangkah mundur dari pintu, dan menarik pintu itu hingga tertutup rapat. Memberikan privasi bagi pasangan kekasih yang tengah memadu kasih di dalam kamar.
"Kenapa tidak jadi masuk? Kaichou tidak ada di sana?" tanya Hisagi.
"Ichigo pasti ada di sana, tapi sedang sibuk." Renji yang menjawab sementara Uryuu hanya berdiri sambil membetulkan letak kacamatanya yang sudah sempurna.
"Ah, aku mengerti," ujar Hisagi. "Apa kita berikan paket bulan madu saja untuk hadiah pernikahan mereka?" usul Hisagi.
"Jangan jauh-jauh nanti susah nyari Kaichou," sahut Renji.
"Paket bulan madu ke pemandian air panas saja," kata Hisagi.
Sementara teman-temannya mendiskusikan tentang hadiah pernikahan untuk Ichigo, Ishida mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan kepada Tatsuki. "Bagaimana keadaan, Inoue?"
Tak berapa lama, jawaban Tatsuki muncul di layar. "Tidak terlalu baik. Dia menangis lagi sekarang. Kami tak tahu harus melakukan apa."
Uryuu menghela napas setelah membaca pesan itu. Sejak semalam ia mengkhawatirkan keadaan Inoue, setelah mendengar kabar dari Rangiku bahwa Inoue mabuk. Namun ia tak pergi menemui Inoue, hanya mengecek keadaan gadis itu melalui Tatsuki atau Rangiku.
Pesan lain dari Tatsuki menghias layar ponsel Uryuu. "Tapi kau jangan menyalahkan Ichigo karena masalah ini. Bukan kesalahannya jika tak bisa balas mencintai Hime. Hanya saja, Hime belum bisa menerima kenyataan itu."
"Aku mengerti." Ishida memberi jawaban. Tapi sebenarnya ia tidak mengerti. Memandang pintu kamar Ichigo, ia berpikir alasan apa yang membuat gadis bernama Rukia itu lebih baik dari Hime di mata Ichigo, sementara di matanya, Inoue lebih segalanya dibanding Rukia.
"Bagaimana pendapatmu, Uryuu?"
Uryuu ditarik paksa dari pikirannya. "Voucher ke pemandian air panas juga bagus," sahutnya.
Hisagi dan Renji saling tatap, lalu keduanya tertawa.
"Kau melamun, ya? Bukan itu yang kami bahas," kata Renji.
"Wah, wah, ternyata kau bisa hilang fokus juga, ya," Hisagi menimpali.
"Terserah kalian saja," sahut Ishida. "Memangnya apa yang sedang kalian bahas?"
Tawan Hisagi dan Renji langsung terhenti. "Kami sedang membicarakan tentang kepergian Ichigo hari ini," jawab Hisagi.
"Akan lebih baik jika kita menemaninya," ujar Renji. "Tidak aman baginya jika hanya pergi bersama Rukia."
"Biarkan saja," sahut Ishida, "lagi pula, ini urusan keluarga."
"Kalau begitu kau juga harus terlibat, kan?" kata Hisagi.
Uryuu mendelik pria bertato itu. "Kami tidak terikat hubungan keluarga seperti itu," sahutnya sambil lalu. "Kalian jaga markas, aku harus pergi ke suatu tempat."
.*.
Uryuu menepikan mobilnya di parkiran sebuah tempat latihan tembak. Ia turun dari mobil dan mengambil tas besar berisi perlengkapan yang akan dipakainya dari bagasi. Langkah cepatnya, membawa Uryuu memasuki tempat itu dengan cepat. Karyawan di sana langsung mempersilakan Uryuu masuk ke ruang member VIP untuk berganti pakaian dan memakai perlengkapan. Ia memasuki arena sepuluh menit kemudian, mengambil salah satu jalur kosong di arena, yang pagi itu memang masih tampak sepi.
Meraih pistolnya, Uryuu menembakkan peluru dengan cepat ke sasaran. Sama sekali tak memikirkan keakuratan tembakannya. Ia hanya ingin melepaskan rasa frustrasi dan amarahnya.
Kau jangan menyalahkan Ichigo karena masalah ini.
Lalu siapa yang harus Uryuu salahkah? Orihime? Tidak. Ia tak bisa melakukan itu, karena di matanya Orihime Inoue adalah gadis sempurna yang tak bercacat. Tapi ia pun tak bisa menyalahkan Ichigo maupun Rukia, karena di dalam hatinya, Uryuu menyimpan harapan bahwa Inoue akan berhenti mencintai Ichigo. Argh! Lalu siapa yang harus ia salahkah. Tuhan? Takdir?
Uryuu menembakkan sisa peluru di senjatanya hingga habis tak bersisa. Selang beberapa menit, sasaran tembak berbentuk manusia berhenti di depannya. Banyak sekali tembakan yang meleset, tembakan terbaiknya hanya mengenai bahu kiri sasaran. Uryuu membuka tutup telinga.
"Hasil yang buruk, ya?"
Menoleh ke arah suara, Uryuu menemukan Amagai di belakangnya. Pria itu juga memakai perlengkapan sepertinya.
"Aku tidak pernah melihatmu di sini sebelumnya, Amagai-san," ujar Uryuu tanpa basa-basi.
"Aku memang tidak terlalu suka menembak. Tapi hasilku tidak seburuk dirimu." Amagai menunjuk sasaran di jalur yang dipakainya.
"Aku baru pemanasan," sahut Uryuu setelah melihat hasil tembakan Amagai lebih baik darinya.
"Ah, tentu saja. Tapi tidak baik melakukan sesuatu dalam kemarahan. Redakan emosimu, susun rencana, dan bergeraklah," kata Amagai.
"Step by step yang bagus. Anggap saja aku sedang melakukan tahap awal dari tiga tahapan yang kau katakan," ujar Uryuu.
"Itu bagus. Karena mengikutiku adalah pilihan terbaik, Ishida."
"Mengikutimu?"
"Hanya perkataan sambil lalu," ujar Amagai. Tapi Uryuu tahu itu bukan hanya perkataan sambil lalu. Amagai bukan tipe pria yang mengucapkan sesuatu yang tak memiliki arti. Berhati-hati dalam bicara juga bertindak, begitulah Amagai menurut pengamatan Uryuu.
"Ah, ya, aku mendengar tentang Orihime Inoue yang kembali. Dia membatalkan kontrak kerja yang sudah susah payah didapatnya," kata Amagai.
Uryuu memandangi Amagai, mencoba mencari tahu maksud pria itu memasukkan Inoue ke dalam obrolan. "Aku tidak tahu kalau dia membatalkan kontrak," ujar Uryuu, berusaha tidak terlihat peduli.
"Rasanya aneh jika kau tidak tahu, bukankah selama ini kau sangat memerhatikannya, Ishida?" pancing Amagai. Pria itu satu dari sedikit orang yang mengetahui perasaan Uryuu kepada Orihime.
"Kepada siapa aku memberi perhatian tidaklah penting," sahut Uryuu.
Amagai mengangkat bahu. "Jika itu yang kau katakan."
Merasakan sesuatu di balik kata-kata Amagai, Uryuu bertanya, "Katakan apa yang kau ketahui?"
"Sekarang kau ingin tahu?"
"Kalau kau tak mau─"
"Inoue sedang dalam masalah," potong Amagai. "Pembatalan kontrak dengan agency sebesar Minx akan membawa banyak masalah baginya."
Mata Uryuu menyipit ke arah Amagai. "Jika kau peduli, kau akan membantunya."
"Ah, bukan aku yang peduli padanya," kata Amagai. "Kau yang peduli," tambahnya dengan suara rendah.
Amagai tak pernah memberikan sesuatu tanpa mengharapkan imbalan di baliknya. Selalu ada harga dari setiap bantuan yang diberikan oleh pria itu. "Yang kau inginkan?" tanya Uryuu.
"Dukunganmu."
Kening Uryuu berkerut tak senang. "Untuk?"
"Pencalonanku sebagai ketua baru Black Sun."
.*.
bersambung ...
.*.
Hola~ saya kembali. Setelah berkali-kali mencoba update dan nggak bisa-bisa, akhirnya bisa update juga. Fiuh~
Di chapter ini saya ngeroman dulu, mau bikin hubungan IR mantap dulu, baru masuk ke konflik utama. Lalu soal Inoue, dia dicintai dua cogan di sini, semoga nggak pada protes soal ini, ya. Hehe ...
Saya belum tahu apakah akan menyisipkan lime ke fanfik ini atau tidak, jadi untuk sementara fanfik ini bakal tetap di rate T. Ini jawaban buat someone yang minta ada limenya. Wkwkwk ...
Dan untuk yang bilang isi per chapternya kurang panjang, saya cuma bisa bilang kalau inilah kemampuan saya. Saya tak terlalu pandai bikin chapter yang panjang sampai 5k apalagi 10k. Standar saya hanya 2-4k kata per chapter, mohon dimaklumi.
Udah ah, ntar kebanyakan curcol. Langsung balesin review aja.
.*.
Review's review:
Azura Kuchiki
Hahaha ... ada yang terbakar. OI emang selalu bikin kamu esmosi, yah, Mou-chan.
Iyup. Supaya nggak ketinggalan zaman. :'v
Masih rate T, jadi yang aman aja dulu, ya.
Iya. Dia belum muncul, di akhir-akhir dia baru muncul.
Nikahnya nanti. Rencananya kemaren mau dicepetin nikahnya, tapi ada ide yang muncul, jadi delay dulu.
Makasih dah selalu review. 😉
Yuliita
Makasih dah RnR, ya.
Hehe ... Amagai emang nggak terduga.
Kemaren-kemaren sih rajin, nggak tahu sekarang gimana. Hahaha ...
Hazuna
Udah lanjut, nih. Makasih dah mampir.
Rukichigo
Dibantai pake bangkai. wkwkwk ...
Makasih dah RnR, juga buat semangatnya.
Renren Abarai
Makasih dah RnR, ya.
Sinya rajin saya naik turun kayak sinyal 4G di tempat saya. Hahaha ...
IchiRuki HF
Makasih dah RnR lagi, ya.
Haha ... saya terpengaruh kids zaman now. Wkwkwk
Iya, Schiffer itu Ulqui. Semua saling terkait dan masing-masing punya tujuan sendiri. Saya juga penasaran bisa nyelesein fanfik ini apa nggak. *plak!*
Yupz. Makasih sudah selalu kasih saya semangat.
Nad-Ru 15
Ea ... Syukurlah Hisagi muncul. *eh?*
Mau jadi bini keduanya Ichi?
Bukan, Ichigo memulai dari bawah di Black Sun, sampai akhirnya berhasil jadi ketua. Papah Isshin nggak mewariskan apa pun. Eh, mungkin nanti bakal ada sesuatu yang diwariskan ke Ichigo dari papahnya.
Wkwkwk ... mediasi emang lebih sering dipakai dalam dunia hukum sih.
TK emang suka matiin chara keren, trus bikin ending yang nggak banget. -_-
Amin ... Nanti kamu berdiri di belakang meja prasmanan, ya. Wkwkwk ... *justkidding*
Makasih dah RnR, ya.
Guest
Silakan datang, tapi jangan lupa bawa perlengkapan pertahanan diri. :'v
Makasih dah RnR.
Loly jun
Ruki nggak ngalah kok sama Inoue. Dia bakal berjuang ampe titik darah penghabisan.
Makasih dah RnR, ya.
yao
Makasih dah RnR. Ini udah apdet, tapi nggak pake kilat. 😉
.*.
Akhir kata, makasih banyak untuk kalian yang sudah membaca fanfik ini, kasih review, juga fav dan follow. Semua itu akan menjadi penyemangat saya untuk menyelesaikan fanfik ini sampai akhir. Dan maaf jika ada salah-salah kata, juga pabila hasil tulisan saya kurang memuaskan.
See ya,
Ann *-*
