DISCLAIMER: Masashi Kishimoto Ichi Ishibumi
Suda satu minggu sejak dia pertama kali pindah ke sekolah itu, tidak banyak hal yang terjadi setelah dia membongkar identitasnya di hadapan anggota OSIS. Hanya beberapa kejadian saja, itupun kejadian yang tidak terlalu penting.
Namun, tetap saja dia perlu menuliskan laporan pada orang yang menyuruhnya untuk pindah sekolah. Siapa lagi kalau bukan ibunya, Namikaze Kushina.
"Hah... Merepotkan saja, kenapa juga harus dikirim langsung, lalu untuk apa ada email?" Pemuda pirang itu, atau lebih tepatnya Naruto. Dia sudah selesai menuliskan laporannya beberapa menit yang lalu, dan yang membuatnya bingung adalah kenapa harus dia sendiri yang menyerahkan laporan itu secara langsung.
Bukankah itu berarti dia harus pulang ke rumahnya, dan asal kalian tahu itu sangat merepotkan. Jika tidak, untuk apa dia repot-repot pindah ke apartemen ini sedangkan rumahnya sudah seperti istana?
Sebenarnya Naruto sendiri tahu maksud sebenarnya kenapa dia harus menyerahkan laporan itu secara langsung, mereka ingin bertemu dengannya. Bukan bermaksud terlalu percaya diri, namun itu memang kenyataannya.
"Maa... Kurasa tidak masalah, lagi pula aku sudah jarang berkunjung ke rumah. Walaupun yang terakhir adalah minggu lalu." Menutup berkas yang tadi ia baca lalu berjalan ke arah kasur, merebahkan diri di atas kasur yang sudah menemaninya kurang lebih 4 tahun belakangan ini.
Tersenyum sejenak, sebelum akhirnya Naruto menyelam ke alam mimpi. Oh Naruto, jika saja kau tahu maksud dari orang tuamu yang sebenarnya.
My Life
Chapter 2
Disinilah dia, di depan gerbang sebuah istana, dengan orang-orang yang sudah berjajar rapi seperti ksatria yang sedang menyambut bangsawan penting. Bukan maksud melebih-lebihkan, tapi memang itu yang ada di depannya.
"Etto... Bisakah kalian menegakkan badan kalian?" Bertanya dengan gugup pada salah satu butler yang ada disana.
"Tidak bisa Naruto-sama, bagaimanapun ini perintah langsung dari Kushina-sama." Seorang dengan rambut coklat yang diikat kebelakang, luka horizontal di atas hidung. Kepala pelayan keluarga Namikaze, Umino Iruka.
Pemuda kuning itu lalu mengalihkan pandangannya pada beberapa maid disana, dan anehnya. Mereka yang memandangnya langsung menundukan kepala dengan wajah yang bbersemu merah. Hey, apa yang salah dengan wajahku?
Alasan kenapa para maid itu menundukkan kepala dengan wajah bersemu merah adalah, penampilan Naruto. Ingin tahu?
Baiklah, penampilan Naruto cukup sederhana. Kemeja hitam lengan pendek dengan list putih vertikal di bagian kanannya, celana tactical coklat sebagai bawahannya, dan juga sepatu hitam dengan garis-garis putih.
Untuk wajahnya sendiri tidaklah terlalu banyak perubahan, hanya saja sudah tidak ada lagi sosok laki-laki si kutu buku. Sosoknya sudah diganti layaknya seorang pangeran.
Rambut pirang jabrik yang bersinar karena cahaya Matahari, mata biru saphire layaknya langit tanpa awan, tiga pasang whisker yang melintang di kedua bagian wajahnya. Jangan lupakan kacamata persegi dengan frame hitam dan list putih. Tidak salah lagi, sekarang dia sudah menjadi seorang ikemen!
Mendelikkan bahu tidak peduli, lalu dia berjalan masuk melewati gerbang.
"OKAERINASAI, NARUTO-SAMA!" Hampir saja jantungnya copot, apa-apan itu. Jika ingin mengucapkan selamat datang bukannya seharusnya dari tadi?
Mempercepat langkahnya dengan para pelayan tadi yang mengekori dibelakang, berjalan lebih cepat bermaksud agar para pelayan itu berhenti mengikutinya. 'Kenapa mereka malah ikut-ikutan!' Yah, usahanya gagal. Para pelayan itu sama keras kepalanya dengan ratu di istana ini.
DUAR DUAR DUAR
Lagi-lagi jantungnya hampir saja lepas, ini kedua kalianya Naruto dikejutkan oleh suara dadakan. Suara kali ini berasal dari confetti-confetti, dan itu terjadi saat dia telah membuka pintu rumahnya, ditambah banner besar yang terpampang di atas langit-langit rumahnya itu yang bertuliskan...
SELAMAT DATANG UZUMAKI NAMIKAZE NARUTO!!!
Sebulir keringat jatuh di pelipisnya, apa-apaan ini. Setidaknya itu yang pemuda berambut pirang itu pikirkan. Keluarganya benar-benar absurd, hanya karena kepulangannya saja sudah seperti ini, bagaimana jika kepala negara yang datang?
Menatap sejenak banner itu lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah keluarga yang menyambutnya itu, para pelayan juga sudah mulai kembali menjalankan aktivitas mereka.
"Na... Ru... To..."
"Na... Ru... Nii..."
Sepasang perempuan dengan rambut yang sama-sama merah, wajah yang juga identik. Bedanya ada pada gaya rambut, yang satu dibiarkan tergerai, dan yang satu lagi diikat twinstail. Yang satu sudah kepala empat namun parasnya masih terlihat muda, yang satu emmm... Bagaimana menyebutkannya, anggap saya kau melihat sosok bidadari pada sosok satunya lagi.
Yah, mereka berdua adalah ibu dan adiknya, Namikaze Kushina dan Namikaze Naruko. Saat ini mereka tengah berlari ke arahnya dengan ilusi bunga-bunga yang bermekaran.
Sedangkan untuk Naruto sendiri, dirinya hanya menatap kedua orang itu dengan swetdrop. 'Apa-apaan ilusi bunga itu?'
GREB
"Onii-chan... Aikatatta, kau tahu nee... Naruko sangat merinduhkanmu, bahkan Naruko setiap malam selalu memimpikan, onii-chan." Yang pertama kali angkat bicara setelah memeluknya adalah adiknya, Namikaze Naruko.
Naruto sendiri membalas pelukan adiknya itu, lalu tangannya beralih kepucuk kepala Naruko seraya mengelus-ngelusnya.
Oke entah kenapa sekarang Naruto merasa sedang mengelus-elus seekor kucing, bahkan dia dapat membanyangkan sepasang telinga kucing di pucuk kepala adiknya itu.
"Na... Ru... To..."
Sekali lagi sebuah suara memanggilanya, hampir sama seperti yang pertama. Bedanya, suara ini lebih ke nada bass.
Dan yang memanggilnya dengan nada sing a song itu tidak lain dan tidak bukan adalah ayahnya, Namikaze Minato. Dengan ilusi bunga-bunga yang bermekaran juga.
DUAK
Namun, bukan sebuah pelukan hangat yang diterima ayahnya. Melainkan tendangan kaki dari anak laki-lakinya itu.
"Guh... Hidoi yo, Naruto. Aku ini ayahmu..." Minato bersimpuh di lantai sambil memgangi perutnya, dengan raut wajah yang dibuat-buat seperti anak kecil yang ingin menangis.
"Hentikan itu tou-san, kau membuatku jijik. Atau, kau ingin kaki yang satunya ini menghantam wajahmu,?" Dengan wajah datar dan suara berat Naruto membalas ucapan ayahnya itu.
"Hiii... Kushina-chan, Naruto menakutkan!" Minato sendiri langsung bersembunyi di balik tubuh istrinya yang sedang membawa nampan.
Yah, Kushina tidak jadi memeluknya. Dia merubah arah larinya saat sebuah ilusi lampu menyala muncul di atas kepala merahnya itu.
"Sudahlah Naruto, jangan membuat wajah seperti itu. Hora, ayahmu meringkuk seperti bayi." Mungkin niat Kushina adalah melerai mereka, meskipun mereka tidak bertengkar.
"Kalau begitu mari kita berbica di ruang keluarga, tidak baik berdiri seperti ini terus. Juga Minato-kun, bisa kau melepaskanku?" Wajah dan suara yang digunakannya di akhir kalimat, itu sama seperti yang digunakan Naruto saat menghujat ayahnya. Ibu dan anak sama saja
"Hiii..." Setelah Minato melepaskan pelukannya, Kushina langsung berjalan ke ruang tengah, diikuti oleg kedua anaknya itu. Dengan Naruko yang masih setia memeluk kakaknya.
'Aku kepala keluarga kan?'
Line Break
"Jadi, ini laporan yang kaa-san minta." Saat ini mereka sedang di ruang keluarga, dengan Naruko yang duduk di sampingnya dan terus memeluknya. Ibunya yang duduk di kuris di depan Naruto, dengan sang ayah melakukan hal yang sama seperti yang Naruko lakukan pada Naruto.
Perbedaannya, Naruko memeluknya dengan wajah berseri-seri, dengan senyuman yang membuat Naruto berkata 'Akan kulindungi senyuman itu sampai kapanpun.' Di dalam hati. Sedangkan, ayahnya memeluk sang ibu dengan wajah ketakutan karena dirinya.
Kushina mengambil laporan yang Naruto taruh di meja lalu membacanya sejenak, dan menyimpannya kembali. Setelah itu pandangannya beralih pada Minato yang sedang memeluknya.
"Anata, bukankah kau harus membereskan pekerjaanmu, hm?" Bertanya pada sang suami dengan senyum yang sangat-sangat manis. Bahkan, saking manisnya membuat siapapun ketakutan.
Dipandangan Minato sendiri, kalimat dan tingkah laku istrinya itu, seolah mengatakan. Pergi dari sini atau kau akan sengsara, kira-kira seperti itu.
Tentu saja Minato langsung berlari keruang kerjanya, tanpa sepatah katapun. Dan tiga orang di ruang keluarga ini, Naruto yang sedang dipeluk terus oleh adiknya, dan sang ibu yang berada di hadapannya. Merah kuning merah, seharusnya merah kuning hijau, mungkin itu akan menjadi lirik lagu.
Ok lupakan, sekarang Naruto sedang mencoba melepaskan pelukan sang adik, dan bagaimana pun dia mencobanya selalu gagal. Bagaimana tidak, saat dia memanggil nama adiknya, dan sang adik menoleh. Jika hanya menoleh saja mungkin tidak apa-apa. Tapi ini, Naruko melihatnya dengan wajah memelas. Seperti anak kucing, ya dan Naruto sangat tidak tahan dengan hal itu.
Kushina sendiri hanya melihat interaksi kedua anaknya dengan senyum. Baginya ini adalah sebuah anugrah tersendiri, mempunyai seorang suami dan dua anak yang bisa membuat hidupnya menjadi sangat berwarna. Oh, berapa kali dia harus bersyukur atas kebahagiaan ini. Tapi yang pasti, Kushina ingin menjaga keluarganya tetap seperti ini.
"Jadi Naruto, bagaimana sekolahmu selama disana?" Pada akhirnya dia bertanya, meskipun enggan untuk menghentikan interaksi kedua anaknya itu. Tapi, bagaimanapun juga dia perlu tahu kondisi laki-lakinya itu.
"Buruk, kaa-san. Para 'pembaca' itu hanya melihat sampulnya saja, aku bahkan salut pada ketua OSIS. Dia berasal dari keluarga biasa dan masuk dengan jalur beasiswa. Namun apa yang kudapatkan, dia seolah membuat sebuah sampul yang begitu indah dan menarik untuk dibaca. Bukan hanya itu, isinya pun saya indahnya dengan sampulny. Seolah-olah dia dapat menyeimbangkan seduanha. Bahkan semua 'pembaca' disana menghormatinya, oh aku tidak dapat membayangkan apa yang sudah dia lalukan hingga dapat membuat sebuah sampul yang begitu indah."
Menghentikan interaksinya dengan sang adik, lalu menjawab pertanyaan dari sang ibu. Yah, Naruto juga tidak tahu kenapa dia jadi menjelaskan ketua OSIS pada ibunya.
"Tunggu, kau masuk anggota OSIS, Naruto?" Tanya Kushina, bagaimanapun Naruto tidak akan dapat menjelaskan seseorang dengan sebuah perumpamaan, jika dirinya tidak dekat dengan orang itu. Dan Kushina asumsikan Naruto masuk keanggotaan OSIS.
"Yah, dan itu semua ulah baa-san." Awalnya Naruto menduga, dia masuk anggota OSIS karena disuruh oleh ibunya melalui sang nenek. Namun setelah mendengar ibunya sendiri mengatakan demikian, maka mungkin asumsinya salah.
"Naru-nii... Naru-nii... Kenapa nii masih menggunakan penampilan kutu buku saat di sekolah?" Sang adik yang dari tadi sibuk memeluk kakanya itu, akhirnya angkat bicara.
"APA! KATAKAN KALAU ITU BOHONG NARUTO! KATAKAN!"
DUAK
Secara tiba-tiba Minato yang sedang di ruang kerjanya ada di hadapan Naruto, namun naas. Dia dihadiahi dengan jitakan dari sang istri tercinta.
"Tenanglah anata, Naruto pasti mempunyai alasannya tersindiri." Dari semua orang di keluarga ini, Kushinalah yang paling berwibawa. Mungkin karena dia seorang ibu dan wanita, maka dia harus memberikan contoh baik pada anak-anaknya.
"Seperti yang kaa-san katakan, belum saatnya mereka tahu bagaimana isi dari sampul ini sebenarnya. Biarkan mereka tertipu oleh sampulnya, biarkan para 'pembaca' itu tertipu oleh pandangan mereka. Aku hanya ingin mengamati, bagaimana mereka tidak hanya mengambil buku dan melihat-lihat sampulnya saja. Tapi mencoba membaca isinya, dan itu akan menjadi akhir yang sangat bagus untuk diamati."
Mungkin jika ada orang lain yang mendengarkan apa yang barusan Naruto katakan, mereka tidak akan mengerti atas apa yang diucapkan oleh Naruto. Namun keluarga ini berbeda, adiknya, ibunya, dan ayahnya mereka seolah-olah terhubung dengan sebuah ikatan yang sangat kuat satu sama lain.
Mereka tersenyum, tentu saja mereka mengerti apa yang dikatakan oleh Naruto, dan mereka juga mengerti apa yang akan dilakukan oleh Naruto untuk kedepannya.
Keluarga ini sangat unik, bahkan tidak perlu sebuah percakapan dari mulut untuk berkomunikasi. Dengan hanya bertatapan saja mereka sudah dapat mengerti apa yang ingin disampaikan, mungkin dari luar keluarga ini terlihat konyol. Dengan adik-kakak yang mengidap brocon dan siscon, si ayah yang kalah berwibawa dari si ibu. Oke itu memang terdengar konyol.
Namun, itu hanya dari luarnya saja. Orang lain tidak mengetahui mereka dari dalam, hanya memperlihatkan sampul. Itulah yang keluarga Naruto lakukan, tentu tidak setiap saat juga.
"Hmph, tetap saja aku tidak suka saat mereka mulai menghujat Naru-nii. Bahkan Ru-chan tidak dapat memeluk Naru-nii saat di sekolah..." Melampiaskan kekesalannya dengan kembali memeluk sang kakak, terdengar aneh memang. Tapi, seperti yang Naruko katakan, dia tidak dapat memeluk kakak tercintanya ini di sekolah. Maka dia lampiaskan saat ada kesempatan saag ini.
"APA! NARUTO KAU DIHUJAT! AWAS SAJA MERE-"
DUAK
Kembali sebuah jitakan melayang ke kepala Minato, dan yang melakukannya pun orang yang sama. Namun kali ini, dengan sebuah aura intimidasi yang hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang sudah beristri.
"Hah... Tenanglah anata, aku tidak ingin terus menjitakmu. Naruto melakukan itu semua bukan tanpa alasan yang tidak jelas, dia pasti sudah mempertimbangkannya dengan sangat matang." Lihat, istri malah lebih berwibawa daripada suami. Kekonyolan keluarga ini memang tidak ada habisnya.
Pada akhirnya, hari itu dihabiskan dengan kebersamaan keluarga. Dan itu baik, tentu saja. Kebersaan sebuah keluarga adalah poin yang penting dalam hidup, keluarga juga lah yang menentukan bagaimana kepribadian kita terbentuk. Jadi bagaimanapun, keadaan sebuah keluarga adalah salah satu hal yang paling penting dalam hidup.
Line Break
"Naruto, setidaknya menginaplah disini. Besok hari Minggu, jadi tidak apa-apakan?" Yah, hari sudah malam. Naruto sendiri memutuskan untuk kembali ke apartemennya setelah makan malam tadi.
"Naru-nii..." Jika tadi ibunya yang membujuk Naruto agar menginap, kali ini adalah adiknya.
"Ugh, baiklah. Kurasa aku bisa meminta libur satu hari pada manager." Hanya dengan panggilan saja yang keluar dari adknya, dan itu dapat merubah segala keputusan Naruto. Yah, segala keputusan Naruto. Tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana Naruko dapat membuat kakaknya yang keras kepala itu berubah pikiran.
"Yeay, Naruto akan menginap malam ini!" Ucapan itu keluar dari sang kepala keluarga. Dengan tingkah seperti anak kecil sehabis dibelikan mainan kesukaannya.
"Hentikan, itu menjijikan anata."
JLEB
"Lagipula kau sudah kepala empat, itu membuatku ingin menghantammu, tou-san."
JLEB JLEB JLEB
"Tou-chan, kimochi warui."
JLEB JLEB JLEB JLEB JLEB JLEB JLEB
Minato merasa seperti seorang iblis yang ditikam oleh pedang suci, dicemooh oleh keluarganya sendiri. Itu sangat menyakitkan.
'Sakit tapi tidak berdarah.' Ucap Minato dalam hati sambil memegangi dadanya.
Malam itu pun dilalui dengan penuh kegembiraan, keluarganya memang sesuatu sekali. Naruto tidak tahu keadaan ini akan bertahan sampai kapan, namun yang pasti. Selagi dia dapat mempertahankannya, makan akan dia lakukan. Seberapa beratnya pun itu. Karena tanpa adanya keluarga ini, dia tidak akan seperti sekarang. Bahkan Naruto ragu apa dia akan tetap ada jika bukan mereka keluarganya.
"Kurasa aku akan diceramahi habis-habisan oleh manager." Ucap Naruto sebelum akhirnya dia tenggelam ke alam mimpi, dengan sang adik yang sudah terlebih dahulu tidur sambil memeluknya.
Ya
Malam ini dia tidur bersama sang adik yang super imut, moe bin kawai...
TBC
Fiuhhh akhirnya beres juga nih fic, setelah bekutat selama dua minggu. Jika kalian yang sudah menunggu update fic ini, maka inilah dia. Maaf jika mengecewakan, tapi inilah yang dapat saya berikan untuk saat ini. Inipun sudah saya prioritaskan, bahkan Trouble Life dan All for One belum saya sentuh selama dua minggu ini.
Oke, stop curhatannya. Sekarang kita bahas chapter ini, seperti yang di atas. Waktunya saya skip satu minggu, jadi. Jika ada yang penasaran sama reaksi anggota OSIS, maka maaf saja tidak saya tunjukan.
Di chapter ini saya hanya ingin memperlihatkan bagaimana keadaan keluarga Namikaze, dan seperti yang saya ceritakan. Tidak ada pengucilan keluarga, tidak ada. Di sini Minato sama Kushina sifatnya terbalik, dan kakak adik sama-sama mengidap complex.
Dan, jika ada diantara kalian yang minta drama. Mungkin akan ada, tapi isi fic ini akan full dengan lovely fluffy. Sedangkan untuk Trouble Life, itu akan penuh dengan Hurt/comfort. Itu salah satu yang membedakan dua fic original saya
Terakhir, saya ucapkan terimakasih kepada Anee. Uhhh hontouni arigatou Anee jika bukan karenamu aku tidak akan menyelesaikannya dalam 2 malam. Hiks... Hiks... T-T
Ok itu saja, tolong berikan review kalian, karena itu dapat menjadi salah satu booster bagi saya untuk menulis.
Jaa na...
Ps: Anee itu panggilan saya buat salah satu senpai saya, dan dia perempuan asal kalian tahu.
