"Jadi aku tak berperan banyak, sebagai sahabatmu, eh?" elak Neji
"kau hanya perantara saja"
"Sialan kau Uchiha!"
"Kau baru menyadarinya?"
"Argghht...lama-lama aku jadi gila jika terus berdekatan denganmu"
"Ingat statusmu sebagai dokter, bodoh"
"Terkutuklah kau, Uchiha Sasuke!"
"Hahahaha"
.
.
Tittle: Killer Chef
Chap 2 [Butterfly]
Genre: Romance,fluff, drama,Killer
Rate: M
Cast:
Uzumaki Naruto
Uchiha Sasuke
And the other cast of Naruto
Pairing: Sasunaru Always
Disclaimer: Chara hanya milik masashi sensei yang saya hormati, saya hanya meminjam nama, NO PLAGIARISM, try to improve is allowed.
Name of chara:
©Masashi Kishimoto
Story:
©Teme Pedopilsm Uchiha
.
.
.
Killer Chef
.
.
"Argh sial! Lepaskan tanganku! dan Menjauh dari punggungku!" geram Sasuke saat Naruto dengan sukses menundukkan sang berandal sekolah yang memiliki tatanan rambut belakangmelawan gravitasi.
"Tidak, sebelum kau menyerah, jadi ucapkan saja, dan kau akan kulepaskan" jawab Naruto yang masih menduduki punggung Sasuke dengan sebelah lututnya, kedua tangannya mengunci tangan Sasuke dari belakang dan satu kakinya ia gunakan untuk mengunci kedua kaki Sasuke. Jangan remehkan Naruto, walaupun ia memiliki badan yang terkesan mungil sebagai anggota kedisplinan, ia memiliki tenaga yang sangat besar, terbukti dari ia yang sering menyabet juara judo berkali-kali, sesuai dengan teknik yang ia pelajari, kunci lalu banting lawan. Seperti yang ia lakukan kepada Sasuke saat ini.
"Ugh! sial!" geram Sasuke yang tak bisa bergerak sedikitpun walaupun tubuhnya lebih besar dari Naruto.
"Cepat katakan, atau kupatahkan tanganmu atau lebih parahnya aku bisa mematahkan tulang belakangmu, tuan Uchiha" bisik Naruto tepat di telinga Sasuke yang jujur saja membuat Sasuke merinding dengan ucapan atau lebih tepatnya ancaman dari Naruto yang terdengar tidak main-main.
"Sial! Baiklah aku menyerah" akhirnya Naruto melepaskan kunciannya di tubuh Sasuke, sebenarnya ia tak bermasalah dengan ancaman dari Naruto yang akan mematahkan tangannya, toh ia sudah terbiasa dengan itu, namun ia tak mau mendapatkan luka fatal di tulang belakangnya, hanya itu.
"Bagus. Kau tahu, ini sudah hampir setahun..." Naruto beranjak berdiri lalu membersihkan blazernya "Kubiarkan saja kau berbuat sesuka hatimu, namun aku sadar, kalau kau harus segera dihentikan tuan Uchiha. Jika tak ada yang bisa merubah sikapmu..,"lalu membenarkan kancing blazernya "Maka aku yang akan merubah sikap bermasalahmu itu"
"Itu bukan urusanmu, lagipula untuk apa repot-repot merubahku tuan Uzumaki?" tanya Sasuke dengan wajah meremehkan dan penekanan saat menyebutkan marga Naruto
"Karena kau adalah temanku dan aku peduli padamu" Sasuke mengerutkan sedikit keningnya, namun masih tertutupi dengan wajah dinginnya, yang membuatnya berpikir untuk apa lelaki pirang ini bersikeras merubahnya, sedangkan selama ini tak ada yang berani menghentikannya, dan mungkin tak peduli padanya.
"Karena aku tahu, kau melakukan hal ini untuk mendapatkan perhatian, dan sekarang kau akan mendapatkannya, dariku" ujar Naruto dengan wajah serius, dan menatap mata onyx yang tersirat kesepian itu.
"Huh? Jangan bodoh, kau pikir kau itu siapa, bisa mengaturku seperti itu" dengus Sasuke, memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.
"Aku mengerti, kalau aku memang bukan siapa-siapa untukmu, tapi kau adalah teman sekelasku, yang berarti aku juga harus memperhatikanmu, walaupun secara tak langsung" balas Naruto
Sasuke berbalik dan segera beranjak pergi, lalu menghentikan langkahnya "Berhentilah, atau kau hanya akan mendapat masalah jika dekat denganku"
Merasa tak mendapat balasan dari Naruto, ia kembali melangkahkan kakinya keluar dari gedung judo, yang tadinya mereka gunakan untuk berduel. Namun langkahnya kembali terhenti, matanya mendadak melebar saat sepasang tangan melingkar di pinggangnya "Aku tak akan berhenti, aku berjanji padamu. Aku tak peduli kau akan mengataiku bodoh, atau apa, aku hanya ingin kau berubah menjadi lebih baik, klise memang, tapi aku mengerti bagaimana kesepiannya dirimu." Naruto melepas pelukannya dan menyelipkan sesuatu di saku celana Sasuke, lalu menahan tangan Sasuke yang akan mengambil sesuatu yang di masukkan Naruto "Bukalah, jika kau sudah berada di rumah" bisik Naruto
"Baiklah!" Naruto menepuk kedua tangannya "Kita harus segera kembali ke kelas, karena sebentar lagi pelajaran ke lima akan segera dimulai" Naruto berjalan melewati Sasuke yang masih berdiam diri di tempatnya
"Kau tidak berniat membolos lagi kan, Sasuke?" tanya Naruto menoleh kebelakang dengan senyuman yang tak bisa diartikan
"Sial" gumam Sasuke yang mengerti maksud dibalik senyuman Naruto, lalu berjalan cepat meninggalkan Naruto yang masih tersenyum
"Kuharap kau masuk kelas kali ini, Sasuke!" teriak Naruto dan berjalan kearah kelasnya dengan senyuman secerah matahari.
.
Sasuke telah berada di kelas, dengan tatapan heran teman-temannya, namun diabaikan olehnya, dan banyak yang bergumam 'Keajaiban', 'Apa benar itu si berandal Uchiha?', 'Dia tidak sedang mengigau, kan?', dan masih banyak lainnya, hingga membuat Kakashi Sensei terkejut dan hampir melempar buku di tangannya saat melihat sosok si bungsu Uchiha itu ada di dalam kelas. Benar-benar sebuah keajaiban.
Ia merogoh saku celananya, dan mengeluarkan lipatan kertas dari Naruto yang ternyata kosong, dan membuat Sasuke mendengus sebal, ia meremas kertas di tangannya, namun ia mengerutkan keningnya saat mencium aroma lemon dari balik tangannya yang meremas kertas pemberian Naruto "Si Dobe ini, berniat bermain denganku rupanya" gumam Sasuke kembali memasukkan kertas yang baru saja ia remas kedalam saku celananya.
.
Sasuke seketika ingat, lalu merogoh saku celananya, dan menemukan lipatan kertas yang di selipkan Naruto tadi, saat ia akan mengantarnya ke perpustakaan kota. Seketika Sasuke mendengus sambil tersenyum, bahkan sedikit terkekeh, saat melihat kertas tersebut kosong, dan tak berisi tulisan apapun, lagi-lagi Naruto mengerjainya.
Neji yang menyadari perubahan di wajah Sasuke tiba-tiba menatap horor kearah Sasuke, apa karena efek stres, Sasuke jadi tertawa sendiri. Entahlah.
"Dobe" gumamnya, ia tahu bahwa ini adalah lemon letter yang suka Naruto berikan padanya.
"Ada pemantik?" tanya Sasuke membuat Neji menaikkan sebelah alisnya
"Setelah tertawa, sekarang kau minta pemantik?" tanya Neji dengan tatapan aneh
"Sudah berikan saja, akan kutunjukkan permainan yang sering kami lakukan" jawab Sasuke sembari menunjukkan kertas kosong kepada Neji.
"Kertas kosong? Apa maksudnya?" Tanya Neji mengerutkan dahinya
"Cium bau kertasnya, ini akan menambah pengetahuanmu akan pesan rahasia" Sasuke menyodorkan kertas kosong tersebut kearah hidung Neji, "ini! Lemon?"
"Ya, inilah letter lemon, Naruto, orang yang pertama kali membuatku penasaran dengan isi dibalik pesan rahasianya saat high school dulu." Sasuke menarik lilin dari meja Neji dan menyalakannya, lalu mengarahkan kertas kosong tersebut mendekat kearah api yang keluar dari lilin tersebut, samar-samar mulai timbul tulisan rahasia dari Naruto.
'Kau yang terbaik, jadilah dirimu sendiri'
"Setelah kejadian itu, kau selalu masuk kelas saat pelajaran itu, eh? Apa yang dilakukan Naruto padamu, sampai-sampai sang tuan berandal ini bersedia mengikuti pelajaran?"
"Karena dia bersekongkol denganmu Hyuuga Neji, benar?" jawab Sasuke tersenyum tipis setelah melihat isi pesan dari letter lemon.
.
.
Naruto duduk di bangku taman, ditemani sebuah buku novel karya 'sir Arthur Conan Doyle', penulis terkenal dengan novel detektif favoritnya, se-cup teh earl grey yang masih hangat serta beberapa jenis cemilan manis, sembari menikmati semilir angin musim gugur, hingga sebuah tangan terulur dihadapannya yang membuatnya harus berhenti dari kegiatannya membaca.
"Ah, Hyuuga-san, senang bisa bertemu denganmu" sapa Naruto menjabat tangan sang Tuan Hyuuga yang mengulurkan tangan kearahnya.
"Pantas saja, surat ancamanmu terasa sangat menakutkan, kau penggemar novel karya dokter ahli forensic itu ternyata" ujar Neji Hyuuga, sembari duduk di samping Naruto.
"Ya, jika tak seperti itu, mungkin kau akan tutup mulut masalah sahabatmu itu, benar?"
"Kau benar-benar mengerikan, Uzumaki Naruto, ini alamat apartemen Sasuke" Neji memberikan kertas berisi alamat apartemen Sasuke
"Dia tinggal di apartemen? Bukankah dia salah satu Uchiha kaya raya itu? Bukankah ini berada di kawasan umum, dan terkesan sangat sederhana?" Tanya Naruto setelah membaca alamat apartemen Sasuke.
"Ya, dia kabur dari rumahnya dua tahun ini, selama ini dia bekerja dan membiayai dirinya sendiri, dia bisa berada disekolah itu berkat bantuan dari beasiswa juga, karena kejeniusannya, tapi sayangnya aku tak bisa masuk ke sekolah yang sama dengannya, dan alhasil aku hanya mengawasinya dari jauh, karena permohonan dari kakaknya, itachi"
"Kabur dari rumah? Bagaimana bisa?"
"Dia adalah tipe koleris si pemberontak, sejak kecil dia dididik keras oleh ayahnya, untuk menjadi pewaris perusahaan, sama seperti kakaknya, karena pada dasarnya Sasuke ingin kebebasan memilih masa depannya sendiri. Dan juga kejadian dimana kedua orang tuanya yang tak pernah akur, ibunya yang tak memperhatikannya, dan juga ayahnya yang terlampau kejam padanya, disitulah Sasuke memutuskan menjauh dari keluarganya dan kabur dari rumah, dia ingin menunjukkan pada mereka, bahwa tanpa bantuan mereka, ia bisa menggapai cita-cita yang di inginkannya." Jelas Neji panjang lebar menceritakan tentang Sasuke.
"Karena itu juga dia bersikap berandalan?"
"Ya, dia ingin diperhatikan, dan mungkin pelampiasan juga.." Neji beranjak dari tempat duduknya,
"Aku masih ingat ia tersenyum tulus walau hanya sekali, kuharap kau bisa merubahnya, Naruto" lanjutnya menatap Naruto. Membuat Naruto tersenyum "Dia ada di café depan, aku sudah menyuruh butlerku untuk mengawasinya, agar tidak beranjak pergi, temuilah, karena itu bayaran yang bisa kuberikan padamu" jawab Naruto menunjuk sebuah café dengan nuansa inggris dengan telunjuknya.
"Terima kasih, Naruto"
"Tidak, aku yang harusnya berterima kasih padamu, dan aku juga tahu kalau kalian saling menyukai, walau sepupuku berambut merah itu sangat tsundere" balas Naruto kembali membaca novel yang sempat tertunda tadi.
"Aku sangat tahu itu Naruto"
"Ya, untuk apa kau membuang waktu Hyuuga, kau ingin gaara kabur?" gertak Naruto, lalu meminum teh sembari tertawa pelan, saat melihat Neji berlari kearah café yang ditunjuk Naruto.
.
Tok
Tok
Tok
Sasuke yang sedang fokus membaca buku segera menutupnya dan meletakkannya di meja, untuk membuka pintu apartemennya, dengan sedikit menggerutu karena merusak suasana tenangnya, jika ia berpikir itu Neji, sepertinya bukan, karena biasanya sahabat bersurai panjangnya itu selalu masuk tanpa mengetuk pintu. Dan ia juga berharap jika bukan kakak atau kedua orang tuanya yang datang.
"Hai.." sapa Naruto dengan senyuman lebar sesaat setelah Sasuke membuka pintu apartemennya, namun senyum itu tak bertahan lama, kerena Sasuke kembali menutup pintunya, dengan cekatan Naruto menahan pintu itu agar tidak tertutup
"Ayolaah, aku kemari hanya ingin berkunjung, ttebayo!" gerutu Naruto, membuat Sasuke menghela nafas lelah, dan kembali membuka pintu apartemennya dan membiarkan Naruto masuk ke dalam
"Jadi? Apa yang membuatmu kemari? Menertawaiku tuan Uzumaki yang agung?" tanya Sasuke dengan sedikit menyindir Naruto yang sedang mengeksplore apartemen Sasuke yang terkesan sederhana namun sangat rapi dan terlihat elegan, sebuah kamar, sebuah rak buku yang lumayan besar menempel di sudut ruangan tak jauh dari ruang tengah, dan yang paling mencolok adalah bagian dapurnya, yang terkesan 'wow!' batin Naruto terkesima dengan bagaimana bersih dan lengkapnya peralatan memasak di dapur apartemen Sasuke.
"Apa aku tidak boleh mengunjungi temanku? Dan berhentilah memanggilku Uzumaki, panggil aku Na-ru-to"
"Hn" gumam Sasuke berjalan kearah sofa dan kembali membaca bukunya
"Ah! Aku membawa bingkisan untukmu...anggap saja sebagai hadiah pertemanan" Naruto meletakkan sebuah kotak bento yang terbungkus rapi di meja.
"Jika sudah selesai kau boleh pergi"
"Apa seperti itu caranya kau menyambut teman yang datang mengunjungimu?" gerutu Naruto menunjuk wajah Sasuke dengan jari telunjuknya
"Hn, lagipula aku tak mengundangmu datang kemari"
"Menyebalkan! Eh? Ini buku resep?" bentak Naruto, yang seketika diam memperhatikan rak buku yang berada di dekatnya, berisi banyak buku, dan tabloid resep. Terjawab sudah pertanyaan Naruto mengapa di apartemen ini yang sangat mencolok adalah bagian dapurnya.
Sasuke yang menyadari keganjilan Naruto segera menarik buku resep yang baru saja diambil Naruto dari rak yang dapat ia jangkau.
"Bisakah kau tak mencampuri urusanku?" tanya Sasuke dingin menatap tajam kearah Naruto
"Eh? Eh"
"Apa sekarang kau akan memperolokku, dan memajang namaku di mading sekolah jika seorang berandalan bernama 'Uchiha Sasuke' suka memasak seperti anak perempuan?"
"Hei yha! A-aku tak bermaksud seperti itu, sumpah!"
"Lalu?"
"Kupikir tiap orang memiliki kesukaan yang berbeda, tapi aku tak menyangka jika kau suka memasak, apa kau bercita-cita menjadi seorang chef?"
"Hn"
"Bagaimana jika kita membuat sebuah perjanjian?"
"Maksudmu?"
"Aku tahu, kau kesulitan masalah finansial untuk saat ini,"
"Apa yang kau rencanakan?" seru Sasuke. Menatap tajam Naruto
"Tidak, hanya sedikit memberi penawaran.."
"Aku tidak tertarik dengan hal semacam itu"
"Kau bebas menggunakannya atau tidak, tapi kau harus menjanjikan kesuksesanmu untukku, dan seluruhnya akan kutanggung"
"Dasar licik, dan apa yang bisa kudapatkan dari itu?" Sasuke mendengus dan menyilangkan kedua tangannya
"Apapun yang kau mau"
"Walaupun itu akan mustahil kau penuhi?"
"Apapun itu, asal kau kembali dengan gelar chef terhormat"
...
Killer Chef
.
"Menikahlah denganku"
sebuah permintaan Sasuke kepada Naruto setelah ia kembali dari perancis, mendapat gelar sebagai Executive Chef serta mendirikan restoran sendiri di perancis dan mendapat dua Michaelin Star, seperti perjanjiannya dengan sang Uzumaki bersurai matahari ini.
"Kau tidak sedang terbentur atau jetlag, bukan?"
"Kau berjanji padaku akan menuruti apapun keinginanku, semoga kau masih mengingatnya."
"Sejak kapan kau menyukaiku, hm? Bukankah dulu kau terlihat membenciku karena ide brilianku."
"Sejak pertama kali kau menyelipkan lemon letter kedalam saku celanaku dulu" Sasuke mengeluarkan lipatan kertas kecil dari balik saku mantelnya, dan memberikannya kepada Naruto
"Itu balasan untuk suratmu dan aku sudah mengucapkannya tadi"
"Surat sepuluh tahun yang lalu, dan kau baru membalasnya sekarang?"
"Kau tahu, aku menunggu waktu yang tepat untuk membalas suratnya, bisakah kita kembali sekarang, karena kita harus menyiapkan acara pernikahan kita seminggu lagi"
"A-APAAA? KAU GILA TEME, KAU GILA!"
"Ya, dan bersyukurlah orang gila ini akan menjadi suamimu minggu depan"
"AKU TIDAK MAU!"
"Kau sudah berjanji padaku, tidak ada penolakan"
"TA-TAPI, BUKAN SEPERTI ITU! TEMEEE!"
.
KILLER CHEF
.
"Aahh... memang chef Uchiha terlihat tak ada romantis-romantisnya, cara melamarnya saja seperti itu" protes ino, saat selesai mendengar cerita Naruto tentang bagaimana mereka bisa menikah dan bertahan hingga tiga tahun ini.
"Ehem, bukankah kalian harusnya sedang melakukan persiapan? Tiga jam lagi restoran akan buka" intrupsi Sasuke saat memasuki dapur dengan pakaian chef nya, dan melihat para asistennya yang telah lolos dari kompetisi Uchiha kitchen.
"Kembali ke station!" bentak Sasuke yang membuat semua asistennya berlarian dan kembali ke tempat mereka bekerja.
"Jadi? Kau masih mau duduk disana Uchiha Naruto?"
"Bisa kau menemaniku sebentar ke seberang? Aku ingin membeli kue untuk ibu"
"Apa perlu kita membeli tokonya sekalian?"
"Setelah kau membeli cafe di seberang restoran yang menjadi langgananku, apa kau sekarang akan mencoba membeli yang lainnya?"
"Jika itu keinginanmu maka akan kupenuhi"
"Tak ingat, jika kau baru saja selesai memperbaiki restoran yang di ledakkan si Haruno itu?"
"Itu tak mengurangi kekayaanku sedikitpun, lagipula aku juga tak terlalu suka dengan desain lamanya."
"Dasar sombong!"
.
.
.
.
TBC-
Sankyuu... yg udah mau mampir di ff nista saya... yg lama update pula, sekali update bkin yg absurd gini.. xD
Semoga suka dengan ff updatean yg nista ini.. xD
Dan sankyu buat para readers yg sudi review di ff saya walau saya gk sempet buat nulis nama kalian semua.. huhu.. T-T
