"Itu tak mengurangi kekayaanku sedikitpun, lagipula aku juga tak terlalu suka dengan desain lamanya."
"Dasar sombong!"
Tittle: Killer Chef
Chap 3 [Angel]
Genre: Romance, fluff, drama, Killer
Rate: M
Cast:
Uzumaki Naruto
Uchiha Sasuke
And the other cast of Naruto
Pairing: Sasunaru Always
Disclaimer: Chara hanya milik masashi sensei yang saya hormati, saya hanya meminjam nama, NO PLAGIARISM, try to improve with permission is allowed.
Name of chara:
©Masashi Kishimoto
Story:
©TemePedopilsmUchiha (Teme The X-clan)
.
.
.
Killer Chef
[Day before burst]
"Dalam hitungan ketiga, masuklah kebawah meja" titah Sasuke saat berada di cafe langganan Naruto yang berseberangan dengan restoran miliknya yang akan segera grand opening minggu depan. Membuat Naruto mengerutkan kedua alisnya, merasa bingung dengan ucapan Sasuke yang baru saja meneguk seperempat dari espressonya.
"Apa maksudmu, Teme?" tanya Naruto akhirnya, yang merasa ada keganjilan dari beberapa kata yang di ucapkan Sasuke saat ia memakan potongan orange chesse cake nya.
"Ikuti saja ucapanku, Dobe. Satu.." jawab Sasuke, dan ia mulai menghitung dan kembali menyesap sedikit espresso bebas gula miliknya. Membuat Naruto sedikit panik saat Sasuke meletakkan cangkir kopi di tatakan gelasnya dan kembali menghitung.
"Tiga, menunduk!" shit! Naruto panik dan Sasuke segera menarik tangan Naruto untuk berjongkok masuk kedalam celah meja.
"Sial! Apa kau tidak bisa berhitung? Kau melewati angka du-"
BLAR!
PYAR!
"Kyaaa! Ada ledakan!" seluruh kaca yang berada di dalam cafe pecah berkeping-keping akibat radiasi dari bom yang meledakkan restoran gaya perancis yang berada di seberang cafe, membuat seluruh pengunjung yang beruntung sedikit sepi dan juga orang-orang yang berlalu lalang di sekitar jalan panik, mencoba menyelamatkan diri.
"Apa?! Apa yang terjadi, Teme?!" Naruto menatap Sasuke dengan wajah panik dan mencengkeram erat tangan kiri Sasuke yang sedari tadi menggenggam tangannya, dengan lengan kanan sasuke yang memeluk bagian belakang tubuh Naruto.
"Aku sudah mengetahui tentang ledakan yang akan terjadi di restoran" ujar Sasuke tenang sebelum ada seorang petugas medis yang menemukan mereka di bawah meja cafe.
"Apa kalian baik-baik saja?" tanya seorang tim medis yang baru saja datang mengamankan korban ledakan dan juga area yang terkena dampak ledakan.
"Kami baik-baik saja" jawab Sasuke, lalu keluar dari bawah meja sembari menuntun Naruto yang masih tersirat raut panik di wajahnya.
"Oh, bukankah, anda tuan Uchiha dan Uzumaki? Dan juga ledakan itu berasal dari restoran anda Uchiha-san?" tanyanya lagi sesaat setelah Sasuke dan Naruto kembali duduk di kursi yang sebelumnya sudah Sasuke bersihkan dari serpihan kaca dengan sapu tangannya.
"Ya, dan aku tak tahu perihal ini, mungkin sudah direncanakan" jawab Sasuke tenang
"Dan juga, ini bertepatan setelah acara kompetisi dapur panas itu, pasti ada sesuatu, bukan?" sahut Naruto yang penasaran menatap wajah Sasuke, mencari tahu akan kejadian ledakan di restoran Sasuke yang akan grand opening minggu depan.
"Entahlah, kau tahu bukan, jika kompetisi ini sangat ketat, jadi besar kemungkinan banyak yang membenciku" aku Sasuke, memijat pangkal hidungnya.
"Yang berakhir restoran barumu di ledakkan.." cibir Naruto.
"Sepertinya kita harus segera pergi, sebelum mereka menemukan kita" bisik Sasuke setelah ia berdiri dari duduknya, dan segera menggandeng tangan Naruto untuk mengikutinya keluar dari cafe yang ternyata sudah banyak pers berkumpul di depan restoran miliknya, meliput berita tentang ledakan yang berasal dari restorannya.
"Eh? Bukankah itu Uchiha-san dan Uzumaki-san?!"seru seorang reporter yang mengetahui keberadaan Sasuke dan Naruto yang baru saja keluar dari cafe yang bersebrangan dengan kejadian ledakan.
Sasuke yang menghentikan langkahnya, kembali berjalan biasa melewati para wartawan yang sedang sibuk mengambil gambar kearah dimana ledakan berasal,
"Uchiha-san, apa ada konfirmasi perihal ledakan restoran anda?"
"Apa anda sudah mengetahui ledakan ini Uchiha-san"
"Apa anda memiliki hubungan dengan Uzumaki-san?" dan masih banyak pertanyaan lainnya yang sebenarnya membuat telinga Sasuke dan Naruto panas, bagaimana bisa ketika mereka meliput ledakan, malah berbalik mencari berita sensasi karena Sasuke sedang bersama dengan Naruto. Mungkin sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui.
Sasuke berhenti berjalan, dengan setengah enggan ia berbalik "Kalian akan mendapatkan undangan pers conference dariku dalam waktu dekat, mengenai ledakan ini, dan juga hubunganku dengan sang novelis-Uzumaki Naruto" terang Sasuke, ia kembali berbalik memunggungi para wartawan yang sedang tercengang dengan wajah bingung. Dan seketika para juru kamera mencoba mendapatkan hasil rekaman ataupun momen foto dimana sebelah tangan Sasuke melingkar di pinggang Naruto, dan berjalan kearah dimana mobilnya di parkirkan. Hingga mereka menghilang di balik mobil, para wartawan terus mencoba mendapatkan momen bagus untuk berita headline di majalah, ataupun surat kabar keesokan harinya.
"Jadi ini alasanmu kembali dari Paris secara mendadak?" tanya Naruto, setelah mobil yang mereka tumpangi berjalan meninggalkan tempat kejadian.
"Ya, sekaligus aku merindukan seseorang.."
"Menma?"
.
.
.
.
Killer Chef
"Tadaima.."seorang anak kecil berusia sekitar dua tahun setengah, memasuki apartemen setelah membukanya, dan akan melepas sepatu kecilnya, sebelum sebuah suara yang familiar di telinga menyapanya.
"Okaeri, Menma.. kenapa kau sendiri, dimana paman Kurama?" tanya Naruto, seseorang yang membalas ucapan Menma, sembari celingukan mencari dimana sosok Kurama sang sepupu. Si bocah bersurai raven bermanik shappire segera melepas sepatunya lalu berlari memeluk erat Naruto.
"Ah, paman kurama, tadi sepertinya terburu-buru, jadi dia mengantarku sampai di depan pintu masuk gedung apartemen, tapi tadi, paman penjaga mengantarku hingga sampai lantai ini, Papa" jawab Menma masih memeluk erat Naruto.
"Ehem, tak merindukanku, Menma?" interupsi Sasuke yang masih asyik duduk di meja makan sembari meminum jus tomatnya.
"Daddy..~"
.
Menma, lebih tepatnya Uchiha Menma, putra dari Naruto dan Sasuke, yang berusia dua tahun lima bulan, memiliki perawakan yang hampir sama dengan keduanya, dengan rambut raven perpaduan style rambut antara Sasuke dan Naruto, warna mata sapphire, berkulit tan serta tiga garis tipis di kedua pipinya sama seperti Naruto, namun sifat dan kejeniusannya menurun dari Sasuke, Menma di usia satu tahun, sudah lancar berbicara, di usia dua tahun ia telah lancar membaca, bahkan mulai belajar berhitung, dan di tahun selanjutnya ia telah belajar bahasa asing, ia juga mulai membaca novel buatan Naruto dan juga menjadi tester untuk resep baru buatan Sasuke, dan di jadikan sebagai menu baru di restoran yang akan grand opening minggu depan, bukankah ia perpaduan yang sempurna?
"Jadi…, Daddy sengaja pulang karena apa? Bukankah Menma atau Papa tak menyuruh Daddy pulang?" tanya bocah dua tahunan ini saat duduk di pangkuan Sasuke. Dan membuat hatinya tertohok karena ucapan polos namun menusuk dari putranya ini, membuat Naruto hanya menahan tawa, benar-benar sifat Sasuke–buah tak jatuh jauh dari pohonnya, bukan?
"Atau, Daddy pulang karena tau jika restoran di ledakkan?" lanjut Menma bertanya, membuat Sasuke mengacak pelan surai putranya ini.
"Ya, benar, karena ada yang memberi tahu perihal restoran yang telah di pasang bom. Sekaligus meridukan putra kesayangan Daddy"
.
'Ku tunggu kalian di aula sharingan apartemen di distrik konoha pukul tiga sore ini, katakan kepada resepsionis jika kalian tamu yang ku undang, mereka akan mengantar kalian,
Uchiha Sasuke'
Kurang lebih begitulah pesan singkat yang diterima oleh peserta yang lolos di dapur sang Uchiha muda itu, Ino, Chouji, Sasori, Sai, tenten, dan Shino. Membuat mereka sedikit cemas, akan ada kejadian apa, apa karena berita tentang ledakan yang terjadi di restoran bosnya pagi tadi? Mungkinkah mereka akan menganggur karena menunggu restoran yang meledak itu di bangun kembali? Entahlah.
.
"Oh, kalian sudah berkumpul rupanya" ujar Sasuke setelah memasuki ruang aula, mengenakan pakaian kasual, sweater turtleneck krem dan perpaduan jeans hitamnya tepat pukul tiga lebih dua menit dengan sebuah amplop coklat di tangannya, dia sangat on time walau hanya terlambat dua menit dari perjanjian, karena ia beralasan ada sedikit masalah di apartemen yang ia huni tepat berjarak tiga puluh langkah dari aula ini, jadi jangan mencoba untuk datang setelah sang Uchiha ini masuk, atau mereka akan kena tendang keluar dari ruang pertemuan, sadis.
"Apa benar, berita mengatakan bahwa restoran meledak, Uchiha-san?" Tanya Ino yang penasaran dengan berita yang ia tonton tadi pagi, breaking news, saat ia sedang menonton acara memasak Chef favoritnya dan harus berhenti karena breaking news membuatnya kesal setengah mati, namun seketika terkejut karena berita yang dibawakan menyangkut tempat dimana ia akan menggantungkan hidupnya untuk beberapa tahun kedepan, atau mungkin sampai ia tua dan pensiun. Ia sudah mencintai restoran itu dan juga bekerja di bawah perintah sang Uchiha muda berbakat membuatnya banyak mendapat ilmu serta pengalaman baru.
"Ya, begitulah, maka dari itu, aku mengundang kalian kemari untuk membicarakan masalah peledakan restoran dan juga pekerjaan pertama kalian." Jawab sang Uchiha santai, setelah seorang room service datang membawakan pesanan sang Uchiha, afternoon tea katanya.
"Lalu, apa pekerjaan pertama kita Uchiha-san? Bukankah restoran masih belum diperbaiki?" Tanya Sai setelah memakan cemilan diatas mejanya. Sasuke mengeluarkan isi amplop yang ia bawa tadi ia bawa lalu membagikannya, serentak para calon pegawai membaca dan membulatkan mata serta mulut mereka.
"Kapal pesiar keluarga Uchiha? Amaterasu?"
"Kami akan bekerja disana?"
"Pekerjaan dimulai tiga minggu lagi?"
"Apa anda serius Uchiha-san?" Tanya mereka tak percaya, yang mereka ingat, hanya orang-orang pilihan dan kaya saja yang dapat menaiki kapal pesiar mewah milik keluarga Uchiha itu. Dan hanya koki pilihan saja yang dapat menjamu para tamu mereka. Walaupun memliki banyak uang, tak akan menjamin dapat masuk tanpa ada persetujuan dari kepala keluarga Uchiha fugaku atau Uchiha Itachi sang anak sulung, kapal yang dijuluki Amaterasu, menurut mitologi jepang adalah dewi matahari, yang memiliki lambang seorang wanita mengangkat matahari di atas kepalanya, berwarna emas dengan kombinasi cat warna biru tua dan hitam di sekeliling bagian luar kapal sangat khas dari keluarga Uchiha. Walau sebenarnya orang yang mendesain kapal pesiar mewah ini adalah sang bungsu Uchiha Sasuke, tak pernah terbesit sedikitpun dari sang ayah maupun sang putra sulung, bahwa sebenarnya desain kapal ini, adalah untuk cinta pertama dan terakhir dari sang bungsu Uchiha – Uzumaki Naruto, pemilik senyum secerah matahari.
"Ya, tentu saja aku serius, karena akan ada pertemuan serta jamuan dan berlibur untuk keluarga besar Uchiha, Uzumaki, serta namikaze, untuk dua minggu kedepan, serta pemberhentian kita di Negara otogakure, jadi persiapkan diri kalian, setelah aku mengadakan pers conference, kita akan bersiap menyiapkan menu serta bahan-bahannya."
"Baik Chef!" serempak mereka ber-enam
"Tidak! Tunggu Menma! Kau tidak-"
Cklek
"Uzumaki-san?"
"Eehhh?"
"Ah, maafkan kami ya, Menma kembali kesini sekarang!" ujar Naruto masih berdiri di depan pintu yang terbuka lebar serta seorang anak kecil berusia dua tahunan berlari kearah sang Chef Uchiha Sasuke dan memeluk pinggangnya. Membuat seluruh pegawai yang mengadakan pertemuan dengan sang koki michaelin ini ternganga tak percaya, dengan rentetan kejadian yang begitu cepat di ingatan mereka.
"Daddy..~ Papa tak mengijinkan Menma menemui Daddy" ohh, rengekan anak kecil yang membuat mereka semua tersadar dari keterkejutannya, membuat Sasuke serasa di intimidasi dari cara pandang calon pegawainya yang menuntut kejelasan, 'sebenarnya, dia anak siapa? Dan apa hubungan anda dengan Uzumaki-san sang penulis idola Sai?' kurang lebih begitu tatapan mata mereka kearah sang Uchiha, membuat Sasuke menghela nafas panjang, lalu menggendong dan mendudukkan Menma di pangkuannya.
"Berhenti membuat aura intimidasi di depanku, jika kalian ingin tau, ini adalah Menma, dia putra kandungku, dan Uzumaki Naruto, yang berdiri di depan pintu dengan wajah bodohnya adalah pasangan sah ku" jelas Sasuke sembari mengusap kepala Menma sayang, membuat semua orang disana kembali tak percaya serta Menma yang terkikik senang dengan perlakuan Daddy-nya, bahwa sang Chef yang terkenal galak itu, cocok juga jadi seorang ayah, malah cocok sekali. Tolong tampar mereka agar kembali sadar dari dunia mereka. Sasuke menyuruh Naruto masuk dan duduk di sampingnya, lalu mendekatkan bibirnya di telinga Naruto, membisikkan sesuatu, membuat Naruto mengangguk paham, lalu membaca lembaran yang berisi pekerjaan untuk pegawai Sasuke.
"Tunggu, jadi kalian adalah.. keluarga?" Interupsi Sai sebelum sang Uzumaki itu selesai membaca lembar kertas di tangannya.
Naruto tersenyum cerah, lalu menjawab dengan ringan "Tentu saja"
"Di pers conference, kami akan mengklarifikasinya" tambah Sasuke setelah mencium pipi Menma lalu tersenyum bahagia, membuat kedua wanita disana ingin mimisan. Oke ini berlebihan.
Jadi sudah bertahun-tahun mereka menyembunyikan ini? Berakhirlah sudah para penggemar dari sang Chef dan juga novelis imut itu yang ingin menikah dengan mereka. Hanya ilusi. Oke ilusi. Dan semua tulisan ini juga ilusi. Serta penulisnya juga ilusi, semua ilusi.
.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan pada putri keluarga yang meledakkan restoranmu itu hmm? Otouto?" Tanya sang sulung setelah melihat sang adik kesayangannya duduk di hadapannya, lebih tepatnya di seberang meja kerjanya dengan secangkir espresso di tangannya.
"Tidak, buat mereka membayar apa yang dilakukan putri kesayangan mereka. Kurasa akan aman-aman saja, jika aku tak salah menghitung" jawab Sasuke dengan wajah berpikir.
"Yakin hanya itu? Kau benar-benar menghitung pengeluaran untuk renovasi bangunan restoran rupanya" kekeh Itachi, menggeleng tak percaya dengan sang adik yang menurutnya ajaib ini. Dan Itachi sadar bahwa Sasuke akan merubah besar-besaran desain restorannya, dan jika ia tak salah melihat nominalnya, ia melihat banyak angka nol berderet disana, sekitar empat belas digit. Itu sudah terhitung ratusan trilyun. Wow, adiknya benar-benar sudah gila.
Sasuke menghitung dengan jarinya, dan menggeleng pasti menjawab pertanyaan sang kakak, "Tidak, cukup itu sudah sangat mempengaruhi perusahaan mereka."
"Kau memang sengaja melakukan ini bukan?"
"Tentu saja, semua sudah kuatur sedemikian rupa, untuk menyadarkannya dari dunia ilusi yang mereka buat sendiri, karena menggilai keluarga keturunan kita, tapi akan kupastikan bahwa seluruh keturunan keluarga Uchiha tak akan pernah bersanding dengan keluarga itu, aku tak suka dengan mereka"
Itachi berdecih, "Kau benar-benar gila"
"Tidak, aku hanya masokis, kau sudah paham benar akan hal itu, nii-san" mata Sasuke menajam seketika dengan smirk andalannya.
"Kau memang pantas untuk menjadi kepala keluarga Uchiha generasi selanjutnya, darah kakek madara mengalir deras di dalam tubuhmu, yang menginginkan bibit terbaik untuk keluarga Uchiha"
"Dan aku bangga dengan hal itu, kuharap sumpah itu tak akan ternodai dalam keadaan apapun, segeralah menikah, jujur saja aku tak terlalu tertarik dengan menjadi kepala keluarga Uchiha, dengan segala tetek bengeknya yang merepotkan itu, aku tak mau membagi waktu bersama keluargaku dengan mengurusi klan, aku sangat mencintai Naruto, begitu juga dengan Menma" ujar Sasuke panjang lebar serta berterus terang yang jujur saja menohok hati sang kakak. Membuat Itachi tersenyum maklum dengan sifat adiknya ini yang masih saja seenaknya sendiri, tak pernah berubah.
.
"Jadi apa benar, pelaku peledakan restoran Uchiha adalah ulah dari salah satu peserta yang gagal dalam kompetisi yang anda adakan?" Tanya seorang wartawan pertama yang sangat penasaran dengan ledakan di restoran sang bungsu Uchiha ini saat hari pers conference yang mereka tunggu telah berlangsung.
…
"Mungkin seperti itu, aku masih belum mengetahui siapa pelakunya, dan tim penyidik juga masih memeriksanya, jadi kami akan menunggu kabar baik dari mereka" jawab Sasuke santai tanpa mengeluarkan ekspresi apapun. Seluruh pertanyaan dari para wartawan mengenai restoran dan nasib karyawannya, telah terjawab seluruhnya.
Namun bagian intinya baru saja akan dimulai saat Sasuke mempersilahkan Naruto memasuki ruang pers conference, dan mengklarifikasi tentang hubungannya dengan sang novelis romance itu, membuat seluruh wartawan yang datang tercengang, membatu di tempat sampai ada seorang wartawan yang menjatuhkan bolpoint yang ia bawa, dan ada pula yang menjerit histeris serta mimisan. Mungkin ini adalah kejadian yang tak akan dilupakan oleh keduanya, sebelum mengundurkan diri, Sasuke dan Naruto meminta maaf kepada publik akan konfirmasi yang pastinya akan menjadi gosip terpanas untuk musim gugur ini. Benar-benar pasangan yang penuh fenomenal. Semoga tak mempengaruhi karir mereka kelak.
"Hihihi, Papa dan Daddy lucu sekali" ujar Menma cekikikan melihat tayangan di televisi yang di siarkan secara live itu, bersama seluruh karyawan sang Uchiha bungsu itu di kediaman atau lebih tepatnya di apartemen mewah sang Uchiha Sasuke beserta keluarga kecilnya, menonton televisi bersama sang tuan muda Menma di tengah-tengah mereka, ternyata sangat menyenangkan, sama seperti ketika bersama uzumaki-san, yang sekarang telah berubah marga menjadi Uchiha.
Ino yang tersenyum dengan wajah berbinar-binar, begitu pula dengan Tenten yang bersemangat dengan klarifikasi hubungan keduanya, Sai yang berkedip-kedip tanpa memberikan respon apapun, Shino yang diam, ia memang selalu diam. Choji, yang masih memakan keripik kentang, dan Sasori yang terkagum dengan mata melebar serta bibirnya yang membentuk huruf 'o'.
"aku benar-benar menjadi penggemar abadi mereka, kyaaa!" teriak Ino tiba-tiba.
The End.
Apa perlu d lanjutkan atau cukup disini? Hoho
Ini udah 2 tahun gk update dan baru hari ini d update T_T
Dia sudah berdebu di folder, yg entah kenapa kok ya gk saya post2 juga, padahal udah kelar /tepok jidat
Akhir kata, terima kasih karena sudah mau baca ff gratisan ini, walau emg gk sekeren author yg lainnya.
Chaaaa...
