Chapeter 6
Naruto dan teman-teman hanya milik MK sensei
Saya selaku Author hanya meminjam saja

Fic ini mengandung konflik yang lumayan berat dan ada beberapa adegan Lime and Lemon di dalamnya
Bagi pembaca yang masih usia dibawah umur saya harap agar tidak membaca Fic ini

Genre: Romance, Hurt, NTR tingkat tinggi :v

Pair: NHL

Bacot author:
Cacian dan Hinaan anda, akanku buat menjadi SEMEANGAT.
Ingat kata-kata Maito Dai (ayah si monster hijau konoha)

"Engghh"
Desah Hinata saat terbangun dari tidurnya.
"Naruto-kun?" ucap Hinata saat dia menyadari Naruto tidak berada di sebelahnya.

Krieett.
Suara pintu yang sedang di buka dari luar kamar, membuat Hinata mengalihkan perhatiannya ke arah tersebut.

"Heii, kau sudah bangun? segeralah mandi, aku menunggumu untuk bergabung denganku di bawah" ucap Naruto.

"Ba-baik Naruto-kun, kamu bisa tunggu di bawah, aku mandi dulu"
Hinata melilitkan selimut tebal agar tubuh polosnya tidak terlihat pemuda yang saat ini masih berdiri di depan pintu.

Sedangkan Naruto, hanya bisa tersenyum melihat tingkah lucu Hinata, karna selimut tersebut membuat Hinata jadi susah berjalan.
"Cepat mandinya, atau makanan yang sudah di siapkan menjadi dingin"
Ucap Naruto lalu pergi dari kamar itu.

RzOneNHL

Saat ini terlihat Naruto sedang menggenggam sebuah handphone bewarna merah marun sambil memperhatikan nama panggilan yang masuk ke benda persegi tersebut.

#Sasuke calling.

Sejak siang tadi, handphone yang ternyata milik Hinata selalu berdering dan mengganggu tidurnya.
Beruntung bagi Naruto karena dia yang terbangun, bukan Hinata.
"Ok, baiklah." ucap Naruto lalu menerima panggilan dari Sasuke.

"Hinata-chan, kau di mana? Aku mencarimu, hari sudah semangkin gelap, aku akan menjemputmu diman-"

"Kau tidak perlu mengkhawatirkan Hinata, dia bersamaku sekarang tuan uchiha"
Sela Naruto dan sukses membuat Sasuke terpaku di di sebrang sana.

"KA-KAUU! DI MANA HINATAA! AKU AKAN MENGHAJARMU BILA DIA TERLUKA!"
Seru Sasuke terlihat sangat marah sekarang.

"Kau tidak perlu khawatir Sasuke-sama, calon pengantin Anda sangat baik sekarang, walau mungkin dia sedikit lelah saat ini"
Seringai Naruto terlihat jelas.

"JANGAN MAIN-MAIN DENGANKU BERENGSEK! AKU BENAR-BENAR AKAN MENGHABISIMU, KATAKAN DI MANA HINA-"
UcapanSasuke terhenti karna dia mendengar suara lembut dari Hinata di sebrang sana.
Tuttttt.
Naruto langsung memutus panggilan dan menghapus daftar panggilan dengan cepat, sedangkan Sasuke menggeram ketika batre handphone miliknya habis saat ingin menghubungi Hinata kembali. "ahkk SIAL" gumam Sasuke di sebrang sana.

"Naruto-kun, kau sedang apa?"
Hinata yang sedang berjalan menuju lantai bawah terhenti akibat melihat Naruto yang sedang berdiri beberapa meter dari dirinya.

"Ti-tidak apa-apa, aku hanya ingin turun bersamamu"
Ucap Naruto kikuk sambil menggaruk belakang kepalanya.

Hinata memperhatikan sesuatu yang tidak asing bagi dirinya.
Sebuah benda persegi bewerna merah marun yang berada di tangan kiri Naruto.

"Na-naruto-kun, apakah yang kau pegang itu handphoneku?"
Tanya Hinata.

"Ahkk benda ini? y-ya mungkin, aku menemukannya di lantai kamarku tadi"
Jawab Naruto sambil mengembalikan handphone itu kepada Hinata.

Hinata menerima handphone tersebut lalu mengecek kotak SMS dan panggilan.

"0 "pesan"

Dan tidak ada panggilan masuk.

'Aku selamat, ahhhh'
Batin Hinata.

Hinata tidak menyadari bahwa semua panggilan dan SMS dari Sasuke telah di lenyapkan oleh Naruto.

"Simpan handphonemu dan kita turun, kalau tidak, makanan yang ada di bawah akan dingin."
Ucap Naruto lalu berjalan menuruni tangga rumahnya di ikuti Hinata.

RzOneNHL

Saat ini Naruto dan Hinata sedang berada di ruang keluarga kediaman Uzumaki.
Naruto terlihat sedang menghembuskan asap rokoknya dengan berlahan.

"Na-naruto-kun, matikan rokokmu, aku tidak suka orang yang merokok!"
Hinata terlihat mengibas ngibaskan tangannya karena asap dari rokok Naruto.

"Hahaha, maaf Hime, ini sebagian dari hidupku, aku tidak bisa berhenti"
'Apa lagi kalau baru selesai makan, gk merokok kayak kodok' batin Naruto sambil terus menghisap racun di tangannya.

Hinata terlihat memanyunkan bibirnya karena jawaban Naruto membuatnya sebal.

"Baiklah, kau menang"
Ucap Naruto sambil mematikan api rokoknya.
'Untung tinggal sedikit lagi, kalau masih panjang gue bisa rugi.'
Batin nista Naruto.

Hinata tersenyum senang karena Naruto menurutinya.
"Terimakasih" ucap Hinata memeluk lengan Naruto.

"Dasarr, tapi ini belum selesai"
Naruto dengan cepat menindih tubuh Hinata.
lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Hinata.

"Kau sangat cantik"
Ucap Naruto tepat di depan wajah Hinata.
Sedangkan wanita di bawahnya terlihat seperti susah bernafas.
"Heii, kenapa wajahmu? "
Tanya Naruto karena melihat raut wajah Hinata seperti menahan nafas.

"Mu-mulut Naruto-kun bauu"
Cicit Hinata karna bau tembakau dari mulut Naruto sangat menyengat.

"Hahhh"
Naruto terlihat mencoba merasakan bau dari mulutnya sendiri.
"Hmmm, kau benar, apa kau ingin merasakan tembakau dari sini?"
Tanya Naruto sambil menunjuk bibirnya.

"Ti-tidak Naruto-khunnnhnn hmmhh"
Ucapan Hinata terhenti karna ulah Naruto yang langsung melahap bibirnya.

"Bagaimana rasanya hime?"
Tanya Naruto setelah melepas pautan bibir mereka.

"Ti-tidak buruk"
Jawab Hinata.

"Hmm, berarti kita lanjutkan"

"Tapi Naruto-kun, a-aku harus pulang, ini sudah malam"
Cela Hinata cepat.

"Tenanglah, just kissing, no more, ok"
Naruto mencoba merayu Hinata.
"Kau janji?"

"Tentu saja, dan sebentar lagi akan ada yang menjemputmu, mungkin dia masih di jalan"
Setelah mengatakan itu Naruto kembali menyatukan bibir mereka. Mungkin rasa bibir manis Hinata telah membuatnya candu untuk terus ia lahap.

RzOneNHL

Sebuah mobil bewarna merah memasuki kediaman Uzumaki.
Mobil tersebut terparkir apik tepat di halaman di depan pintu utama.

"Mengapa Naruto-nii memanggilku? Aku akan menghajarnya bila dia hanya ingin aku urut"
Seorang gadis cantik bermahkota merah panjang turun dari mobil tadi.

Karin berjalan pelan di dalam rumah bak istana sambil mencari keberadaan Naruto.

"Heii, kau tau di mana Naruto-nii sekarang?"
Tanya Karin kepada salah satu Maid di rumah tersebut.

"Naruto-sama berada di ruang keluarga saat ini"
Jawab Maid tersebut sambil menunduk.

"Hmm, kau bisa lanjutkan tugasmu, pergilah"
Usir Karin pada Maid barusan.

"Baik nona"
Balas Maid tersebut lalu meninggalkan Karin yang masih berdiri di sana.

Setelah kepergian Maid tersebut, Karin melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga yang tidak jauh dari tempatnya sekarang.

"Naruto-nii, ada perlu apa kau memang-gilku" ucapan Karin tersendat saat menatap pemandangan yang tidak senonoh di hadapannya saat ini.

"Kauuu! dasar penjahat kelaminn! Kau memanggilku hanya untuk menyaksikan perbuatan bejatmu dengann-!"
Ucapan Karin terhenti karena mengenali wanita yang di tindih Naruto.

"HINATAAA!"
Teriak Karin kencang lalu menarik wanita tersebut dari tindihan Naruto.

"Kau berisik sekali Karin, tenanglah"
Kenapa adik sepupunya ini tiba di saat yang tidak tepat.
Sedangkan Hinata saat ini hanya bisa menenggelamkan wajahnya di balik kedua telapak-tangan mungilnya.
"Karin" cicit Hinata.

"Hinata diamlah! Aku akan memberi pelajaran untuk Om-Om hidung belang sepertinya"
Karin terlihat seperti melindungi Hinata sekarang.

"Diamlah Karin, aku memanggilmu kemari bukan untuk mendengarkan ocehan tidak jelas darimu, kau antar Hinata pulang, lalu tugasmu selesai, karna sekarang aku harus pergi"
Kalimat panjang lebar dari Naruto malah menbah emosi Karin sekarang.

"Apa katamu, kau menyuruhku mengantarnya pulang setelah apa yang kau lakukan kepadanya, tidak Akan semudah itu, aku akan menelepon Baa-chan karena anak tersayangnya mencoba memperkosa temanku"
Ocehan Karin semangkin ngelantur sekarang, itu membuat Naruto terpaksa mengeluarkan jurus andalannya.

"Ini kredit cardku, kau bisa gunakan sepuasmu, lalu kembalikan akhir pekan ini, aku tak ingin tabunganku habis di buat olehmu"

Naruto meletakkan kartu kredit miliknya tepat di atas meja di depan mereka.
Wajah keras Karin sekarang tergantikan dengan senyum mempesona yang dapat melenyapkan seluruh isi tabungan Naruto.

'Habis sudah semua uangku'
Batin Naruto terpuruk.

"Hmm, kau mencoba menyuapku? Ok aku terima, tapi aku tetap akan meminta penjelasan padamu nanti, dan kau Hinata," tunjuk Karin kearah Hinata "Kita belum selesai"

"Hahh, jangan bertanya yang tidak masuk akal padanya, kau hanya kuminta mengantarnya, bukan mengintrogasi Hinata."
Peringatan Naruto sepertinya tidak berpengaruh sekarang.

"Pergilah, aku akan mengantar temanku pulang dengan selamat, seharusnya aku yang mengkhawatirkan Hinata kerna kau mencoba memperkosanya tadi!"

"Diamlah Karin, kau tidak tau apa-apa, aku pergi dulu"
Naruto menghampiri kedua wanita di depannya, mencium kening Karin seperti biasa, begitu juga dengan Hinata.

"Aku pergi dulu Hime"
Bisik Naruto di telinga Hinata lalu mencium pipi gambil wanita tersebut.

"Ha-hati-hati Naruto-kun"
Ucap Hinata sambil mengelus pipinya yang mulai memerah.

RzOneNHL

Saat ini Hinata masih terus menunduk karna malu kepergok oleh salah satu sahabatnya.
Tidak tahan dengan kebisuan yang saat ini terjadi, Hinata mencoba membuka percakapan denngan Karin.

"Ka-karin, aku bisa menje-jelaskan semuanya"
Cicit Hinata mencoba membuka percakapan.

"Kau memang harus menjelaskannya Hinata, aku ingin tau semuanya, bagai mana kau bisa kenal dengan Naruto-nii, atau dimana kalian bertemu, apa hubungan kalian, bagai mana kau bisa berada di sana dan satu hal yang paling penting,
Mengapa kau hanya pasrah ketika ia melecehkanmu Hinata?"
Oceh Karin panjang lebar.

"I-itu tadi tak-"
Kata-kata Hinata terhenti karena Karin memotongnya.

"Stop Hinata, aku sedang mengemudi saat ini, kita bisa lanjutkan nanti di rumahmu"
Ucap Karin serius.

Jarak antara rumah Hinata dan Naruto cukup jauh dan memakan banyak waktu ditambah macatnya jalanan Kota.
Sudah hampir 20 menit di perjalanan, akhirnya mobil Karin tiba di kediaman Hyuga.

"Sudah lama aku tidak main kemari"
Ucapan Karin mengalihkan pandangan Hinata kearahnya.

"Semenjak lulus dari senior high school, kita jadi tak seakrab dulu"

Hinata tersenyum mendengar ucapan Karin, semua itu memang benar sekarang.

Hinata di ikuti Karin memasuki kediaman Hyuga.
Dapat mereka berdua lihat bahwasanya saat ini ada 2 pria dewasa sedang menatap kearah mereka.

"Hinata, dari mana saja kamu?" tanya Hiashi tegas.

"Tou-san maaf, aku tadi sedang ada urusan dengan Karin"
Hinata mencoba mencari alasan untuk selamat dari ceramah sang ayah.

"Oji-san, maaf, aku tadi meminta bantuan pada Hinata."
Karin membungkukkan badannya di hadapan Hiashi.

"Kalau kau ada urusan, sebaiknya beri kabar untuk Tou-san atau Neji juga Sasuke, dia menunggumu dan baru saja pulang"

"Maaf"
Jawab Hinata pelan.

"Apa kalian berdua sudah makan?"
Tanya Neji.

"Kami sudah makan Nii-san, aku dan Karin masih ada urusan, kami permisi dulu Neji-nii, Tou-san"
Hinata menarik tangan Karin agar cepat bebas dari kedua pria dewasa tersebut.

RzOneNHL

Hinata mengunci pintu kamarnya lalu berjalan kearah kasur miliknya di ikuti Karin.

"Sekarang aku ingin penjelasan darimu Hinata, aku sangat penasaran saat ini."

"Kau ingin tanya apa?"
Hinata bingung harus menjawab apa.

"Pertama, aku ingin tau apa hubunganmu dengan Naruto-nii?"
Pertanyaan dari Karin membuat Hinata bingung, pasalnya setau Karin, Hinata itu tunangannya Sasuke.

"Naruto-kun adalah ke-kekasihku"
Jawab Hinata jujur.

Jawaban dari Hinata membuat Karin tercengang.
"Apa! Coba ulangi Hinata, mungkin aku salah dengar"
Karin mencoba meyakinkan pendengarannya.
Sayangnya jawaban kedua dari Hinata, sama seperti jawaban yang pertama.

"Kau gila Hinata, bagai mana kau bisa memiliki hubungan dengannya, kau tau Hinata! Naruto-nii itu seorang playboy, dan umurnya terpaut jauh dari kita"

"Ti-tidak Karin, Naruto-kun sangat baik, dia tidak seperti yang kau tuduhkan"
Sanggah Hinata.

"Heii Hinata-chan, aku ini sepupu Naruto-nii kau tau? Bahkan di usianya yang sudah beranjak ke 26, dia belum sarjana karna kegilaanya kepada wanita, entah sudah berapa wanita yang dia tiduri ketika di USA"

Hinata sedikit kaget karna usia Naruto sudah setua itu, tapi tak masalah baginya.
Satu hal yang membuatnya tidak suka dengan ucapan Karin adalah tentang Naruto yang suka meniduri wanita.
Bukankah kata Naruto dia adalah wanita yang pertama dia tiduri.

"Naruto-kun tidak mumgkin meniduri wanita lain Karin, Naruto-kun pernah bilang dia hanya melakukannya padaku"

Brakkk!
Karin sukses terjatuh dari atas tempat tidur Hinata sekarang.
Dengan polosnya, sahabatnya ini mengakui bahwa Naruto telah menidurinya.

Sedangkan Hinata masih mencerna ucapannya barusan.
'Apa yang aku katakan barusan.'
Rutuk Hinata sambil memukul keningnya.

"Hi-hinata, kau benar-benar bodoh, aku sudah lama mengenalmu, bahkan di cium Sasuke saja kau menolak, dan sekarang kau berkata bahwa Naruto telah sukses menodai dirimu, aku akui Naruto-nii memang keren, tapi ini sudah berlebihan"
Karin terduduk sambil meremas seprai tempat tidur Hinata.
Dia takut sahabatnya yang satu ini akan seperti wanita-wanita Naruto lainnya.

"Ma-maaf, tapi Naruto-kun sudah berjanji padaku, dia tidak akan meninggalkan ku"

"Bagaimana dengan Sasuke, Hinata! Kau tau dia sangat mencintai dirimu bukan, aku ingin kau tak menyesal karena salah memilih, Naruto-nii tidak baik untukmu, tapi aku tidak bisa melarangmu"

"Cu-cukup Karin! Aku percaya pada Naruto-kun, dia sudah berjanji padaku"
Hinata tampak tidak terima karna Karin menjelek-jelekkan Naruto Sekarang.

"Sudah beberapa lama kalian saling mengenal?"
Tanya Karin penasaran karna sikap Hinata yang membela Naruto sangat keras.

"3 ha-hari"
Hinata tampak kikuk sekarang, mungkin dia sedikit malu dengan Karin.

"3 hari? Dan kau sudah mempercayai dirinya begitu saja, bahkan aku yang sudah mengenalnya hampir seumur hidupku belum bisa percaya kepadanya."

Karin mulai yakin sekarang, bahwa Naruto memang benar benar playboykelas atas karna bisa menaklukkan salah satu primadona Tokyo universitas dengan waktu 3 hari. Bahkan Sasuke belum dapat melakukannya kepada Hinata.

"Naruto-kun juga mempercayai diriku, kami saling percaya"

'Tentu saja dia percaya kepada wanita polos sepertimu, bahkan kau membongkar semuanya di hadapanku' batin Karin saat ini.

"Tidak ada gunanya menceramahi dirimu, yang penting kau bahagia saja aku sebagai sahabatmu sudah senang, bila si baka itu menyakitimu, kau bisa lapor padaku, aku akan memotong Naruto juniornya"
Ucap Karin lalu memeluk Hinata.

"Terimakasih Karin-chan, aku ingin kau merahasiakan semua ini, terlebih dari Ino-chan"
Hinata juga membalas pelukan dari Karin.

"Tentu Hinata-chan, tapi aku ingin tau 1 hal lagi!" ucap Karin

"Apa?"
Tanya hinata.

"Sudah berapa kali kalian melakukan sex Hinata-chan? Aku seorang mahasiswi kedokteran, jadi aku khawatir padamu"
Tanya Karin serius.

Hinata tampak berfikir sekarang.
Jujur, tidak, jujur, tidak.
Mungkin itu yang ada di benak Hinata saat ini.

"3"
Hinata menunjukkan 3 jari kearah Karin.

"3 hari mengenal dan juga 3 kali melakukan hubungan badan, itu rekor baru Hinata, dan kuharap kau meminum pill pencegah kehamilan, atau kau akan menjadi ibu muda"
Karin mencoba memberi saran.

"Aku sudah melakukannya Karin, terimakasih" dusta Hinata.

"Sebelum aku pulang, jika kalian melakukannya lagi, usahakan agar dia menggunakan pengaman atau jangan mengeluarkannya di dalam, baiklah aku pulang dulu, berbincang denganmu cukup melelahkan"

Perkataan Karin yang cukup vulgar membuat Hinata memerah.

"A-aku akan mengantarmu ke bawah" lalu Hinata dan Karin pergi meninggalkan kamar tersebut.

Akhirnya setelah pamit kepada Hiashi dan Neji.
Karin pergi dari kediaman Hyuga tersebut.

RzOneNHL

Saat ini Naruto telah tiba di gedung yang penuh dengan suara-suara cempreng.

"Hot karouke"

Tulisan itu terpampang jelas di depan gedung di mana Naruto berada.

"Ini kunci motormu Sasori"
Naruto melempar kunci motor tersebut ke arah seorang pemuda merah di depannya.

"Heii sobat, bagaimana kencan dengan menggunakan motorku, seru bukan?"
Tanya Sasori kepada Naruto.

"Pasti seperti biasa, berakhir di atas ranjang bukan?"
Pemuda dengan tindakan di seluruh wajah bahkan mungkin tubuhnya juga menimpali.

"Diam lah, aku benci motor, mana mobilku?"
Tanya Naruto sambil mengulurkan tangannya.

"Maaf Naruto, mobilmu tidak aku bawa, besok kau bisa kerumahku, aku akan mengembalikannya."

"Kalau begitu antar aku pulang, kau dengar suara cempreng kedua Zombie itu? Sangat merusak malamku jika aku terlalu lama berada di sini."
Naruto berucap sambil menunjuk Duet Hidan dan Kakuzu yang sangat menggelikan yang saat ini sedang menari-nari.

Sedangkan yang di tunjuk hanya cuek dan malah mengeluarkan suara merdunya semangkin keras.

"Tinggallah sebentar, ini masih pukul 22:00, kita bisa parti malam ini."
Ajak Yahiko sambil merangkul pundak Naruto.

"Aku tidak bisa lama, tapi minum segelas atau 2 gelas mungkin bisa menenangkan pikiranku"
Naruto berjalan dan mendudukkan pantatnya tepat di samping Sasori.

"Ok, kau boleh pulang satu jam lagi, sambil menunggu yang lain bagai mana kalau kau menyanyi dulu, kau terlihat sedang dalam masalah sobat."
Ucap Sasori dan menungkan wine untuk Naruto.

"Tidak perlu, wine cukup menenangkan saat ini"
Naruto langsung menegak habis wine di hadapannya.

Tidak berapa lama Naruto berbincang dengan Yahiko dan Sasori, handphone Naruto yang berada di atas meja berbunyi.

"Kaa-san"
Gumam Naruto.
'Apakah Karin memberi tau kejadian tadi kepada Kaa-san? Dasar bocah sialan'
Batin Naruto.

Naruto keluar sebentar untuk mengangkat telepon dari sang ibu.

"Kaa-san, kenapa malam begini meneleponku?"

"Maaf sayang, sekarang Kaa-san berada di bandara, bisa kau jemput Kaa-san?"

"A-apa, bagai mana bisa, Kaa-san bukannya masih ada urusan di German? Mengapa tiba-tiba di Jepang?"
Naruto mangkin pusing sekarang. Belum juga urusan Hinata selesai, sekarang di tambah tempat pengaduan Karin mendekat.

"Kaa-san ada urusan saat ini, nanti Kaa-san ceritakan di jalan, sekarang cepat jemput Kaa-san"

"Baiklah Kaa-san, aku sampai 15 menit lagi"
Naruto mematikan panggilan lalu masuk kembali kedalam ruangan yang sempat dia tinggal.

"Yahiko, kemarikan kunci mobilmu, aku harus menjemput ibuku di bandara"
Naruto langsung menyambar kunci mobil yang berada di atas meja di hadapannya.

"Oii Naruto, aku pulang bagai mana?"
Teriakan Yahiko tak berpengaruh untuk Naruto.

"Ck, oi Sas, aku pulang denganmu."

"Terserah, asal tarifnya sesuai"
Jawab Sasori dengan wajah watadosnya.
Sedangkan Yahiko sweetdrop karna temannya telah menjadi tukang Ojek.

RzOneNHL

"Mana mobilmu, ini bukan milikmu bukan?"
Tanya Kushina ketika melihat mobil penuh dengan modifikasi milik Yahiko.

"Mobilku sedang dalam perawatan, ayolah Kaa-san, ini sudah hampir tengah malam"
Naruto membukakan pintu untuk sang Ibu.

"Pelan pelan mengemudi, kau bau alkohol, sudah Kaa-san bilang jangan minum minuman itu lagi"
Uacap Kushina dan masuk kedalam mobil.

Naruto hanya bergumam tak jelas sambil mengemudikan mobilnya.

"Naru-chan"
Panggil Kushina pelan.

"Ada apa Kaa-san?"
Naruto tau jika ibunya sudah merengek seperti ini.

"Kau tau, salah satu sahabat Kaa-san, anaknya akan segera menikah, usianya lebih muda darimu ternyata, bukankah itu hebat?"
Kushina mencoba memprovokasi Naruto.

"Hmm, Kaa-san ingin cucu? Aku akan berikan secepatnya"
Jawab Naruto asal.
Sedangkan Kushina hanya bisa pasrah dengan keadaan sang anak yang tak pernah berpikir untuk mencari istri.
Tapi kalau mencari kekasih Naruto sangat ahli.

"Kaa-san ingin kau menikah, bukan ingin cucu, setelah kau menikah baru kau boleh memberi Kaa-san cucu."

"Aku pasti menikahi seseorang, tapi bukan sekarang"
Naruto sedikit kesal jika membahas soal pernikahan.

"Tapi kapan, teman-teman sosialita Kaa-san sudah membawa menantu mereka bila sedang ada acara, kau tak kasihan melihat Kaa-san, setiap hari Kaa-san merancang busana pengantin, tapi busana pengantin untuk anak sendiri belum pernah"
Kushina sedikit mendramatisir, tetapi tidak berpengaruh kepada Naruto.

"Terserah Kaa-san"
Jawab Naruto datar.
Kushina hanya bisa diam seperti biasa saat mereka berbicara mengenai masalah pernikahan.

RzOneNHL

Pagi ini Hinata terlihat cantik seperti biasa.
Sasuke juga sudah siap untuk menjemputnya di bawah.

"Hari ini Kaa-san ingin membawamu ke suatu tempat, kau tidak perlu kuliah hari ini Hinata"
Sasuke lebih memilih diam untuk masalah semalam, sekarang lebih baik dia bermain aman agar pernikahannya berjalan sesuai rencana.

"Kemana Mikoto-baasan akan membawaku?"
Tanya Hinata, padahal dia ingin bertemu Naruto pagi ini.

"Kaa-san ingin kau memilih gaun untuk pernikahan kita, aku tidak bisa ikut karna ada tugas yang akan ku selesaikan"

"Ta-tapi Sasuke-kun, bu-bukankah pernikahan kita masih 1 bulan lagi, kenapa terburu-buru?"
Hinata bingung sekarang, kalau dia menolak, nanti pasti Mikoto-baasan bisa kecewa padanya.

"Jangan kecewakan Kaa-san Hinata, ini tidak akan lama, dan aku akan mengantarmu kerumah, Kaa-san pasti sudah menunggu"

Sasuke menjalankan mobilnya menjauh dari kediaman Hyuga.
Setibanya di rumah Sasuke, Mikoto ibu dari Sasuke langsung mengajak Hinata untuk pergi bersamanya.

Tak berapa lama dalam perjalanan akhirnya Mikoto dan Hinata tiba di sebuah rumah mewah dimana perancang busana itu tinggal.

"Kita sampai Hinata-chan, ini rumah sahabat Baa-san, dia seorang perancang busana pernikahan"
Mikoto menarik lengan Hinata untuk turun karna melihat Hinata masih diam terpaku di dalam mobil yang mereka tumpangi.

"Baa-san, apakah kita tidak salah"
Hinata tau ini rumah milik siapa, karna semalam dia baru datang kemari.

"Tentu tidak sayang, mana mungkin Baa-san melupakan rumah sahabat sendiri, ayo kita masuk, dia pasti sudah menunggu di dalam"

RzOneNHL

Setelah mencoba beberapa gaun yang di sediakan Kushina, sekarang Hinata malah berakhir di antara dua ibu-ibu cantik yang sedang bernostalgia.

"Tak kusangka kau sudah akan menikahkan anak keduamu, terlebih calon menantumu anak mendiang Hikari, padahal rasanya baru semalam Hitachi menikah, dan sekarang Sasuke"
Kushina berucap dengan nada kesedihan yang terselip di sana.

"Kau tidak perlu bersedih Kushina, Naruto pasti akan menyusul, aku lama tidak melihatnya, kemana anakmu itu, pasti dia sangat tampan seperti Minato"
Mikoto bertanya soal Naruto.
Hinata yang mendengar nama Naruto jadi semangkin gugup.

"Kaa-san, apakah ada tamu?"
Seorang pemuda pirang menampak Batang hidungnya tak jauh dari mereka.

"Itu dia Naruto, kemari sayang"
Panggil Kushina kepada anak sematawayangnya.

Naruto mendekat kearah ketiga wanita yang tak jauh darinya.
Sepertinya dia mengenal salah satu tamunya.

"Kau sudah dewasa sekarang Naruto, terakhir baa-san melihatmu, kau masih sangat kecil, perkenalkan ini Hinata, calon menantu baa-san"
Ucap Mikoto pada Naruto sambil memperkenalkan Hinata.

Sedangkan Naruto yang sejak awal memperhatikan Hinata hanya tersenyum sambil mengulurkan tangannya seolah baru bertemu.

"Panggil saja Naruto"
Naruto menjabat tangan dari Hinata.
Sang Hyuga hanya mengangguk sambil menyebut namanya.

"Kau pasti sudah tidak mengingat Hinata-chan ya Naruto, padahal ketika Hinata lahir, kau berada di sana dan merengek untuk membawa Hinata pulang."
Kushina mengingat kejadian dimana Hinata lahir, saat itu umur Naruto sekitar 6 tahun.

"Kau benar Kushina, aku ingat saat itu, aku yang sedang menggendong Sasuke saja kewalahan untuk ikut menenangkan Naruto yang mengamuk di rumah sakit."
Mikoto ikut menimpali.

Naruto yang tidak mengingat kejadian itu hanya tersenyum kikuk.
'Dasar ibu-ibu tak tau tempat membongkar aib dan aku akan menghukummu sayang' batin Naruto saat melihat Hinata yang tampak sedang menahan tawa.

"Bawa Hinata berkeliling Naru-chan, Kaa-san sedang ingin mengobrol masalah ibu-ibu, mungkin Hinata akan bosan jika mendengarnya."

"Jaga calon menantu Baa-san Naruto-kun."
Perkataan Kushina dan Mikoto bagaikan angin segar untuk Naruto, tanpa di minta Naruto juga pasti akan menarik Hinata ke dalam kamar miliknya.
Berbeda dengan wajah sumringah Naruto, wajah Hinata tampak berkeringat sekarang.

"Ayo Hinata-chan, kau pasti lelah sedari tadi mendengar pembicaraan ibu-ibu di hadapanmu, mungkin kita bisa berbincang-bincang di taman"
Naruto berjalan meninggalkan ruangan tersebut di ikuti Hinata.
"Aku permisi dulu Baa-san"

"Pergilah, Baa-san akan mencarimu ketika kita akan pulang"
Jawab Mikoto.

"Baa-san bisa meneleponku saja agar lebih mudah"
Hinata takut saat Mikoto mencarinya, bias-bisa Mikoto melihat pemandangan yang tidak diinginkan.

"Kalau begitu pergilah, Naruto sudah menunggumu." ucap Mikoto kepada Hinata.
Dia tidak menyadari akan hal-hal yang di luar kewajaran akan terjadi di antara Naruto dan calon menantu idamannya.

TBC

Maaf atas keterlambatan Update.
Saya tidak memiliki banyak waktu sekarang.
Jadi terpaksa mencicil kata demi kata setelah pulang bekerja.

Thx untuk Raider yang mendukung.
RzOneNHL :OFF