Chapeter 8
Naruto dan teman-teman hanya milik MK sensei
saya selaku author hanya meminjam saja
Fic ini mengandung konflik yang lumayan berat dan ada beberapa adegan Lime and Lemon di dalamnya
Bagi pembaca yang masih usia dibawah umur, saya harap agar tidak membaca Fic ini
Genre: Romance, Hurt, NTR tingkat tinggi :v
Pair: NHL
Bacot author:
Cacian dan Hinaan anda, akanku buat menjadi SEMEANGAT.
Ingat kata-kata Maito Dai (ayah si monster hijau konoha)
Suara alunan musik cukup terdengar di tempat Naruto berada saat ini.
Tatapan menusuk tak lepas dari matanya.
"Kau menyetujuinya? Kalau begitu tanda tangani di sini lalu aku akan pergi dan memikirkan yang terbaik untukmu."
Kata-kata penuh percaya diri pemuda dengan kacamata minus yg bertengger di area dimatanya aka Kabuto, membuat Naruto mendengus tidak Suka.
"Kau terlihat percaya diri, tapi kali ini kepercayaan dirimu tepat, berikan yang terbaik untuk pemuda Uchiha itu, aku akan membayar mu dobel." Ucap Naruto dingin sambil menunjukkan seringai liciknya.
Naruto mengambil kertas yang di berikan Kabuto lalu menandatangani surat tersebut.
"11 Oktober, 3 minggu dari Sekarang, kuharap rencanamu ini berhasil"
"Kau tidak perlu khawatir, semua akan berjalan sesuai dengan harapan Anda Uzumaki-kun"
RzOneNHL.
Seperti biasa, Matahari kembali menyinari permukaan bumi di pagi hari.
Begitu juga dengan seorang wanita cantik aka Hyuga Hinata yang baru terbangun dari tidurnya.
"Enghh"
Terdengar keluhan dari bibir ranum itu.
Sambil merentang kedua tangannya, Hinata mencoba bangkit dari kasur empuknya.
Tanpa sengaja, Hinata melihat kedipan dari lampu kecil di bagian atas handphone miliknya yang berada di atas nakas.
'Sepertinya ada pesan'
From: Mesum. "Sepertinya aku harus mengubahnya, nama Mesum terlalu berlebihan"
Gumam Hinata setelah milahat nama Naruto di kontak Handphone miliknya.
From : Mesum
Siang ini temani aku, tak ada penolakan, jangan buat aku menunggu.
Pukul 14:00 di taman kota dekat stasiun Tokyo.
Terlihat senyum bahagia dari wajah si manis Hyuga yang sempat merasa bahwa Naruto menjauhi dirinya.
"Aku kan datang Naru-kun"
Gumam Hinata bersemangat.
Tok tok tok !
Rasa gembira Hinata terhenti setelah mendengar ketukan dari pintu kamarnya.
"Hinata-sama, Sasuke-sama sedang menunggu di bawah, Hiasi-sama juga berpesan agar Anda segera turun dan sarapan."
Ucap maid keluarga Hyuga yang saat ini berada di luar kamar milik Hinata.
"Ahkk ya, aku akan turun 15 menit lagi"
Setelah mengucapkan itu, Hinata langsung terjun ke kamar mandi untuk menyelesaikan ritual paginya.
Sedangkan di lain tempat.
"Naruto! Cepat selesaikan makan mu, ini sudah terlambat, pesawat kaa-chan akan segera berangkat"
Omelan Kushina masih terus berlanjut sampai meja makan.
"Pesawat Kaa-chan berangkat pukul 10, ini masih pukul 8 kaa-chan, apa yang kaa-chan pikirkan?"
"Hehehehe, maaf Naru, Kaa-chan tidak ingin telat, ada launching gaun terbaru di German, jika kaa-chan telat, bisa gawat, sudahlah, cepat selesaikan makan mu, kita akan ke bandara setelah kau selesai."
Akhirnya acara makan keluarga Uzumaki selesai.
Naruto selaku anak yang baik langsung mengantarkan sang ibu ke bandara dan menunggu sang ibu sampai benar-benar naik ke pesawat yang akan membawa ibu tersayangnya kembali jauh darinya.
"Naru, jaga dirimu baik-baik, kaa-chan pergi dulu, jangan buat masalah OK, Kaa-chan menyayangi putra Kaa-chan yang nakal ini."
Kushina tampak meneteskan air matanya, keluarga mereka tidak pernah berkumpul seperti keluarga sebenarnya. Kushina dan Minato terlalu sibuk dengan urusan masing-masing, walaupun kebutuhan ekonomi Naruto selalu mencukupi bahkan berlebih, tapi putra mereka yang satu ini sangat kurang kasih sayang, bahkan sahabat dia tidak punya, kalau teman untuk berfoya-foya banyak.
"Sudahlah Kaa-chan, jangan menangis, ini sudah biasa bukan, bahkan sejak kecil aku selalu hidup sendiri, yang terpenting, Kaa-chan dan Tou-san tidak melupakan ku, itu sudah cukup"
"Ta-tapi Kaa-"
"Cepat berangkat atau aku akan menyeret Kaa-chan kembali kerumah!"
Ancaman Naruto sukses membuat Kushina nyengir tanpa dosa.
"Hehehehe, sepertinya pesawat Kaa-chan akan segera berangkat, Kaa-chan pergi dulu Naru! Jaga dirimu baik-baik, Kaa-chan mencintaimu"
Ucap Kushina sambil melambaikan tangan menuju terminal keberangkatan.
"Hehh, dasar orang tua gila karir, aku juga mencintai kalian berdua, orang tua gila karir" guma Naruto sambil tersenyum simpul.
RzOneNHL.
"Masih pukul 10:30, sepertinya aku ke kampus saja sambil menunggu Hinata"
Naruto melajukan mobilnya menuju universitas Tokyo.
Kurang lebih 20 menit mobil sport hitam itu berhenti di parkiran universitas Tokyo.
"Hi Sasuke, bukankah itu pria yang kau pukul di kantin kemarin?"
Tanya seorang pria dengan senyum yang terlihat aneh di wajahnya.
Sasuke yang mendengar perkataan temannya yang bernama Sai tersebut, menolehkan sedikit kepalanya kearah yang di tunjukkan Sai.
"Hnn"
Gumam Sasuke tak jelas, terlihat ada perasaan kesal di sana.
"Dia tampan, maksudku penampilannya sempurna dan terlihat lebih tua daripada kita, kau lihat otot-ototnya yang di pertontonkan, sepertinya kau akan terkapar jika di membalas pukulanmu waktu itu"
Sai tampak memperhatikan Naruto dari atas sampai bawah, dan membandingkannya dengan sahabatnya yang satu ini.
Sai akui Sasuke itu memiliki wajah yang menarik, bahkan terlalu tampan, tapi, Naruto Uzumaki yang berada beberapa meter dari mereka terlihat lebih mempesona dari Sasuke.
Sai seorang seniman, jadi dia bisa menentukan bentuk model yang tepat untuk karyanya.
"Mungkin aku akan mengundangnya untuk menjadi model lukisan terbaru ku."
"Cihh, kau berlebihan Sai, atau mungkin kau Homo?"
Ledek Sasuke untuk sahabat pucatnya ini.
"Kehkk, kau iri karena aku tak pernah menawarkan mu untuk menjadi model lukisan terbaru ku"
Ucapan pedas Sai menohok tepat kearah jantung Sasuke.
"Kau, akan kubakar galeri-mu! Dasar mayat"
Sedangkan Sai hanya tersenyum tipis melihat amukan Sasuke.
"Hei kalian berdua, bisa tenang sedikit, aku sedang mimpi indah tadi, tapi suara cempreng kalian merusak semuanya!"
Teriak pemuda nanas aka Shikamaru terbangun dari mimpi indahnya.
"Kau tahu tentangnya Shikamaru?"
Ucap Sasuke sambil menunjuk Naruto yang sedang berjalan berlawanan dengan posisi mereka saat ini.
"Hnn, Uzumaki Naruto ya? Aku hanya punya sedikit informasi tentang dirinya."
Shikamaru terlihat menggali beberapa informasi tentang Naruto yang dia punya.
"Anak dari Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina, berada di dalam keluarga kaya raya membuat hidupnya bebas, Pernah menempuh pendidikan di Harvard walau tidak sampai sarjana, umur sekitar 26 tahun, di lebih tua 6 tahun dari kita, memiliki hobi mempermainkan wanita ketika berada di Amerika, dan meniduri mereka tanpa rasa bersalah. Walaupun begitu, selama di Jepang, aku tidak pernah mendengar kabar aneh darinya, selain mabuk, yah dia sudah cukup umur untuk itu, akan tetapi tunanganmu, sudah menjadi targetnya untuk saat ini, kuharap kau berhati-hati"
Shikamaru mengakhiri kata-katanya sambil menatap Sasuke yang sedang memperlihatkan ekspresi yang mudah di tebak atau bisa dibilang murka.
Ternyata informasi Shikamaru cukup sempurna, akan tetapi, saat ini bukan lagi menjadi incaran Naruto, bahkan sudah jatuh ke atas ranjang pemuda tersebut.
Naruto melangkah menuju perpustakaan, pertemuan mereka masih lama dari waktu yang telah di tetapkan Naruto.
Beberapa meter sebelum sampai perpustakaan, tanpa sengaja Naruto melihat seorang gadis gulali berjalan kearahnya.
"Hi, Sakura?"
Tegur Naruto setelah gadis musim semi itu berada di tempat di hadapannya.
"Heii kuning, jangan pura-pura lupa dengan gadis yang menolongmu dan gadis yang kau intip, dasar mesum"
Oceh sakura terlihat kesal karena nada ucapan Naruto seolah melupakan dirinya.
"Hehehe, maaf Sakura-chan, aku hanya berbasa-basi, sedang apa di area fakultas sastra Sakura?"
Naruto heran mengapa Sakura selaku mahasiswa kedokteran bisa berada di area Fakultas sastra.
"Memangnya tidak boleh apa? Aku hanya ingin ke kantin"
Jawab Sakura ketus.
"Haha tidak" balas Naruto sambil menggaruk kepalanya kikuk 'dasar dada rata'
Batin nista Naruto kambuh.
"Bukankah di tempatmu ada Kanti juga?"
Tanya Naruto kembali.
"Hn, aku suka makan di sini, temanku juga ada yang mengambil jurusan sastra, jadi aku sering ke kantin fakultas sastra"
"Ohh"
Jawab Naruto enteng.
"Oi, kau tidak ada kelas?"
Tanya Sakura.
"Tidak, kelasku sudah usai, aku hanya sedang mengulur waktu dengan membaca di sana" tunjuk Naruto kearah perpustakaan dan di ikuti lirikkan mata Sakura.
"Bagaimana kalau kita ke kantin, kebetulan kali ini temanku ada kelas, kita bisa ngobrol di sana."
Sakura mencoba merayu Naruto agar dia tidak sendirian di kantin.
"Ide bagus, sekaligus aku mentraktir mu, atas bantuan mu saat itu, aku tak ingin ada hutang Budi padamu"
Naruto menstujui permintaan dari Sakura.
"Hnnn, ini bagus, aku akan makan besar kali ini, tidak masalah bukan? Kau yang bayar"
Sepertinya duit yang tersisa di kantongmu akan lenyap Naruto.
"Hahaha, lakukan semampumu."
'Gawat, uang cash ku tinggal sedikit, kartu kredit di bawa kabur Karin, Hinata di kasih makan apa nantiya?'
Batin Naruto.
"Hi baka, ayo cepat, aku lapar"
Tarikan tangan berhasil menyadarkan Naruto dari dunia hayalnya.
"Ia ia, dasar bawel."
Akhirnya perjalanan Naruto dan Sakura menuju kantin di temani dengan saling sikut dan ejekan yang entah mengapa membuat perasaan Sakura menjadi semankin hangat ketika dekat dengan pemuda ini.
RzOneNHL.
"Kau mau pesan apa Naruto? Biar aku pesankan"
Tanya sakura ketika mereka tiba di dalam kantin.
"Satu porsi ramen dan air meneral botol saja. Aku tunggu di sana, dan cepatlah kembali."
Naruto berjalan kearah meja paling pinggir tepat di samping kaca jendela Kantin fakultas sastra.
Naruto menyadari ada beberapa pasang mata yang menatap dirinya dengan intens.
'cih, pemuda Uchiha ternyata'
Decih Naruto saat melihat Sasuke dan gerombolannya yang jaraknya beberapa meja dari dia duduk saat ini.
"Hi, ini minuman mu, ramen untukmu sebentar lagi tiba, dan juga makanan aku"
Sakura merasa aneh dengan arah pandangan mata Naruto. Dan dia mulai mengikutinya.
"Owhh, kau naksir dengan pemuda uchiha itu?"
Perkataan Sakura sukses membuat Naruto terjengit dari tempat duduknya.
"Aku? Dengan lelaki? Kau pikir aku gay. Lebih baik aku menyetubuhi wanita jadi- jadian sepertimu"
Perkataan Naruto barusan, sukses membuat perkelahian kecil di antara mereka terjadi lagi, sampai pesanan mereka datang dan memakannya seolah tak terjadi apa-apa.
Sedangkan di sebrang sana, pemuda reven aka Sasuke memandang sinis kepada dua sejoli di depannya.
"Sepertinya dia dapat mangsa baru hari ini?"
Ucap Sai singkat.
"Kau benar Sai, apakah akan sampai ke atas ranjang?"
Tanya Shikamaru lalu menidurkan kembali kepalanya.
"Ya, mungkin kalian benar, jadi kali ini Hinata tidak akan di ganggu, selagi dia punya mangsa baru"
"Sakura Haruno, anak kedokteran, dia pandai memilih santapan"
Ucap Sai pelan.
RzOneNHL.
"Hinata! Ayo ke kantin, kelas berikutnya berlangsung 40 menit lagi, klau tidak makan sekarang, bisa gawat."
Ino memanggil Hinata yang masih asyik dengan lamunannya.
"Ya Ino, kita makan di kantin, aku juga lumayan lapar"
Hinata melihat waktu di jam tangannya. 11:20.
Saat ini Hinata dan Ino sudah tiba di kantin. Mereka berdua terlihat mencari meja kosong.
"Hinata, tunggu di sana, aku akan memesan seperti biasa, apa hari ini menumu berbeda?"
"Tidak Ino, seperti biasa saja, aku akan duduk di bangku itu"
Setelah Ino pergi, Hinata berjalan kearah meja kosong itu.
'Naruto-kun'
Batin Hinata saat melihat Naruto tak jauh dari meja yang dia duduki.
Terlihat jelas wajah murung Hinata, saat melihat tawa Naruto pecah di depan wanita lain.
'Naruto-kun tidak pernah tertawa dan bercanda seperti itu pada ku, dia hanya merayuku saja'
"Hoi-hoi Hinata, apa yang kau lihat"
Tegur Ino ketika melihat wajah murung Hinata.
"Ehkhh Ino, kau sudah datang? Aku tadak melihat apa-apa kok, jangan pedulikan."
Hinata mulai gugup sekarang.
"Hnnn, Naruto senpai ya? Sepertinya itu kekasihnya, mereka terlihat serasi, apa kau cemburu?"
Goda Ino kepada teman baiknya yang saat ini terlihat memerah di kedua pipinya.
"Ti-tidak Ino, aku ti-tidak mungkin cemburu"
Wajah kesal Hinata terlihat jelas.
Sebenarnya sih saat ini dia emang sedang cemburu tingkat Hokage.
"Hahaha, ia Hinata cantik, aku hanya becanda, jangan pasang wajah begitu, lihat tu, pesanan kita sedang menuju kemari."
Percakapan kedua sahabat itu terhenti, sebab mereka harus buru-buru menikmati makanan siangnya, waktunya sangat terbatas untuk mereka saat ini.
Terlihat seringai dari meja yang tidak jauh dari Ino dan Hinata.
Naruto menatap gadis pujaannya yang sedang kesal ketika memandang kearahnya.
Sebenarnya Naruto sudah menyadari kehadiran Hinata dari awal Hinata menginjakkan kakinya di kantin ini. Dia sengaja membuat Hinata cemburu dengan interaksi kepada Sakura. Walau Sakura sedikit risih dengan perilaku Naruto yang tiba-tiba aneh kepadanya.
"Oii baka, hentikan senyuman menjijikkanmu itu, tadi kau tertawa sambil mengusap rambutku, sekarang kau semakin aneh. Aku mulai takut di dekat mu sekarang"
Sakura terlihat sedikit menjauh dari Naruto.
"Terserah kau, aku hanya ingin membuat wanitaku yang di meja sana cemburu."
Naruto berkata cuek, sebenarnya makanan mereka sedari tadi sudah habis.
"Apa! Kau memanfaatkan aku, dasar baka, bagaimana kalau dia melabrak ku bodoh?!"
Sakura semangkin kesal sekarang di tambah hatinya terasa nyeri saat Naruto berkata 'wanitaku'
"Tenanglah Sakura, dia tidak akan melakukan hal bodoh yang tadi kau ucapkan, kau lihat perempuan imut berambut dark blue panjang di meja sana, apa wajahnya terlihat suka memberontak?"
Sakura mengikuti arah mata Naruto, danSakura merasa sangat terkejut.
"A-apa! Hyuga Hinata, kau gila, mana mungkin dia mau bersamamu, di sudah tunangan, bahkan satu universitas tahu dia milik siapa."
Naruto yang mendengar perkataan Sakura hanya tersenyum meremehkan.
"Kau tidak tahu sedang berbicara dengan siapa nona, kita lihat saja nanti"
Ucap Naruto sombong.
"Terserah, kau aneh, aku pergi dulu."
Ketika Sakura hendak bangkit dari tempat duduknya, tangan Tan Naruto langsung menahannya.
"Temani aku sebentar lagi, nanti aku antar kau pulang"pinta Naruto, dan Sakura kembali duduk dengan wajah kesalnya.
Naruto menatap kearah Sasuke cs.
'Sepertiny aku bisa memanfaatkan Sakura sekarang'
Naruto berpikir dengan adanya Sakura, Sasuke akan merasa Hinata aman saat ini.
Dan benar saja, terlihat Sasuke cs menghampiri meja Hinata, tak berapa lama berbicara dengan kedua wanita itu, Sasuke dan gengnya pergi meninggalkan kedua wanita itu.
"Sebentar lagi, kuantar kau pulang" ucap Naruto kepada Sakura, setelah melihat kepergian Sasuke.
RzOneNHL.
Tidak berapa lama Sasuke dan gengnya pergi, Hinata dan Ino juga pergi keluar dari kantin untuk jam kuliah terakhir mereka.
Tanpa memperdulikan tatapan Naruto, Hinata pergi begitu saja.
Sedangkan Naruto hanya tersenyum lucu melihat wajah Hinata saat meliriknya tadi.
"Kau aku antar pulang, apa masih ingin di sini?"
Tanya Naruto.
"Tentu saja pulang, aku sudah tidak memiliki urusan lagi disini."
Sakura berjalan begitu saja meninggalkan Naruto.
"Tunggu di depan, aku bayar tagihan dulu"
"Terserah!"
Balas Sakura ketus lalu berjalan keluar kantin.
Sedangkan Naruto terkekeh dengan mendengar ucapan Sakura.
Perjalanan Naruto dan Sakura terasa sunyi, Sangat berbeda dengan kondisi mereka yang sebelumnya.
'Ini menyebalkan, kenapa aku harus terjebak dalam kondisi seperti ini.
Sebenarnya aku bingung dengan perasaanku, aku merasa sangat sesak saat dia bilang bahwa Hinata Hyuga adalah wanitanya. Wajar sih bila seorang lelaki menyukai tuan putri seperti Hinata, cantik, baik, dan ahkkkk, tubuhnya membuatku iri.
Apa semua lelaki menyukai dada besar seperti milik Hinata, kalau itu benar, mana mungkin Naruto mau melihat kearahku.'
"Hei hei Sakura, kita sudah sampai, kau turun atau kubawa kau pulang"
Mendengar ucapan Naruto, wajah putih Sakura memerah malu, di tambah dia tadi sedang menghayalkan lelaki bodoh di sebelahnya.
"Enak saja, kau pikir aku apaan, barang?"
Jawab Sakura ketus.
"Naruto?"
"Hn"
Gumam Naruto saat mendengar namanya di panggil.
"Apa benar ka-kau me-menyukai Hi-hinata?"
'aduhhhh! Kenapa kau gagap Sakura' teriak batin Sakura.
"Kenapa kau menyakkan itu?"
Naruto bingung dengan pertanyaan Sakura padanya, dan otak cerdasnya langsung memberi alaram tanda bahaya.
"Jawab saja, aku hanya penasaran"
"Hei hei, kau cemburu?"
Goda Naruto, dan merah di wajah Sakura semakin padam.
"Iss, dasar kuning baka, klau GK mau jawab ya sudah, aku turun"
Sakura langsung menarik kenop pintu mobil Naruto.
Tapi sebelum pintu terbuka, tangan Naruto menghentikannya.
"Jangan marah, akanku jawab"
Saat ini sakura dapat merasakan terpaan nafas Naruto di depan wajahnya.
Posisi mereka sangat dekat, karena tadi Naruto mencoba Manarik pintu yang di coba di buka oleh Sakura.
"Menjauh kau baka!"
Sakura mendorong wajah Naruto yang tadi tepat di depan wajahnya.
'Matanya seakan menyerapku kedalam' batin Sakura.
"Ya ya bawel"
Lalu Naruto duduk seperti sediakala.
"Hinata, dia wanita yang berhasil menarik atensi ku disaat pertama aku melihatnya sekitar 3 Bulan yang lalu di perpustakaan kota, beberapa hari yang lalu kami menjalin hubungan. Tapi, kau tahu bukan, dia sudah tunangan, dan bulan depan akan menikah"
Naruto menceritakan hubungannya dengan Hinata tanpa beban.
Peria kuning tersebut terus menatap langit-langit mobilnya tanpa memperdulikan wajah tegang dan sedih Sakura.
"Apa aku salah jika merebutnya di saat di sudah akan menikah?"
Sakura tak mampu menjawab, baru kali ini dia merasakan jatuh cinta, tapi cintanya harus musnah ketika mendengar curahan hati dari orang yang di anggapnya istimewa.
'Semenjak pertemuan pertama kita, aku berharap kita kembali bertemu, sebab itu aku mulai sering mengunjungi fakultas sastra, hanya untuk melihatmu Naruto.'
Batin Sakura sedih.
Sakura berbohong tentang dia yang memiliki teman di fakultas sastra, nyatanya dia hanya ingin melihat pujaan hatinya yang saat ini berada di sebelah dirinya.
"Kau tidak salah, aku masih disini"
Setelah mengucapkan kalimat yang sedikit ambigu di akhirannya, Sakura segera turun dari mobil peria yang membuat nya nyaman sekaligus patah hati di saat bersamaan.
Naruto masih kaku akibat kalimat terakhir Sakura barusan, sampai-sampai dia tidak menyadari Sakura sudah turun dari mobilnya.
"Apa maksud ucapannya? Dasar gadis bodoh, lebih baik kau menjauh dariku, sebelum aku mempermainkanmu Sakura, jangan beri aku celah, kau sudah kuanggap teman, tidak lebih."
Ucap Naruto dengan penekanan di setiap kalimatnya, walau Sakura sudah tidak berada di sebelahnya.
Dia tidak bodoh, dia sadar akan kalimat Sakura.
Melihat pintu gerbang rumah besar di depannya tertutup, Naruto segera pergi dari tempat itu, untuk menuju tempat yang sudah di tetapkan dengan Hinata.
RzOneNHL.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 14:00
Naruto masih setia menunggu Hinata.
Karena jam kuliah Hinata pasti baru selesai, dan butuh 15menit berjalan kaki dari universitas ketaman stasiun Tokyo.
14:19
Hinata tampak terengah-engah saat tiba di hadapan Naruto.
"Kau telat 19 menit, apa aku harus menghukummu?"
Naruto pura-pura marah.
Mana mungkin Naruto marah dengan wanita yang berhasil menundukkannya.
"Maaf Na-naruto-kun, aku baru selesai jam kuliah, bahkan aku rela lari-lari kemari, a-apa Naruto-kun masih marah. Hiks-hiks"
'Entah mengapa aku langsung menagis ketika melihat wajah Naruto-kun' batin Hinata.
Mendengar isakan Hinata, Naruto gelagapan tak tentu.
Bahkan orang-orang di sekitar mereka mulai menatap kearahnya, seolah olah Hinata dan Naruto adalah tontonan.
"Lihat pemuda itu, dia membiarkan gadis cantik itu menangis"
"Dasar peria jahat"
"Mungkin dia menghamili gadis manis itu, lalu mencoba meninggalkannya di stasiun"
Mendengar ocehan tak jelas di sekelilingnya, Naruto langsung menarik Hinata kepelukanya sambil menenangkan Hinata, dan kalimat yang terakhir dia dengar, memmbuatnya bergedik ngeri.
"Sssstt, tenang Hime, aku tidak akan mungkin menghukum wanita yang paling ku sayangi."
Naruto mengelus Surai panjang Hinata, berharap sang kekasih diam dan gak mewek lagi.
Bukannya diam, Hinata malah semangkin meninggikan suaranya.
Wajah Naruto terlihat pucat sekarang, bahkan orang-orang yang disekitar mereka mulai mendekat kearah mereka, seolah-ingin menangkap dan menghajar Naruto.
Tak ingin tambah gawat, Naruto langsung menarik Hinata untuk masuk kedalam mobilnya.
Brumm
Mobil milik Naruto melaju meninggalkan Taman dan membawa Hinata ke tempat yang lebih nyaman.
"Hi sayang, jangan menangis terus, aku jadi semangkin merasa bersalah salah karena tadi memarahimu"
Naruto memberhentikan mobilnya di trotoar, memeluk kembali wanita di hadapannya.
"Hiks-hiks, Naruto-kun tadi sangat mesra dengan wanita pink itu di kantin, ba-bahkan a-aku pernah melihat Na-naruto-kun membonceng dia dan memeluk mesra Naruto-kun."
Mendengar ucapan Hinata barusan, bibir Naruto langsung tersenyum gemes, dia pikir Hinata menangis akibat dia marah tadi.
Ternyata Hinata nya cemburu pada Sakura.
Cup
Naruto mencium bibir Hinata singkat, dan itu sukses menghentikan tangisan Hinata.
"Apa aku pernah mencium wanita pink itu seperti tadi? Dan apa aku mengatakan cinta pada wanita pink tadi? Kami hanya teman, dia yang menolongku saat aku kedinginan menunggumu di halte bus dekat mansion Hyuga, apa aku salah tertawa bersamanya?"
Hinata malah terlihat merasa bersalah sekarang, dia tahu siapa penyebab Naruto kedinginan, yaitu dirinya sendiri.
"Maaf, aku hanya cemburu melihat Naruto-kun Dengan wanita lain."
"Kau milikku, dan aku milikmu, wajar kau cemburu, tapi percayalah, aku mencintaimu walaupun aku berada di sekitar wanita tercantik sekalipun."
Hinata merasa terpesona dengan kalimat murahan Naruto barusan.
"Apa sekarang aku boleh menciummu? Aku kangen"
Hanya anggukan yang di terima Naruto, dan itu sudah cukup.
Cup
Yaaaa coba bayangin sendiri
RzOneNHL.
Setelah melakukan ciuman panas yang mampu membuat keringat mengucur deras untuk meluapkan rasa rindu yang terlarang ini, dan mereka berdua mulai membahas apakah yang akan terjadi selanjutnya.
"Ini masih jam 14:30. Filmnya tayang jam 16, kita masih punya banyak waktu. Apa kau lapar?"
Rencananya hari ini Naruto ingin mengajak sang kekasih untuk nonton film baru.
"Ehkk, film? Apakah kita mau nonton?" 'Akupukir dia akan menyertku ke kamarnya'
Tanya Hinata bingung, dia pikir Naruto akan menelanjangi seperti biasa.
Dasar Hinata, Naruto GK gitu juga kali.
"Ia Hime, kita makan dulu ya, kau pasti lapar setelah menangis cemburu seperti tadi?"
Kata-kata Naruto sukses membuat pipi Hinata menggembung, dan itu terlihat sangat manis di mata biru Naruto.
"Mou Naruto-kun, jangan menggodaku!"
Sedangkan Naruto hanya tertawa melihat tingkah lucu wanitanya.
"Jangan pasang wajah menggoda seperti itu, atau aku akan menyeretmu ke ranjangku sekarang!"
Ancaman Naruto mendapat cubitan di pinggangnya.
"Dasar mesum, aku lapar, jangan menggodaku terus, atau aku pulang saja!"
Sepertinya Hinata beneran kesal sekarang, sedangkan Naruto jangan di Tanya, dia sudah sangat merindukan Hinata, mana mau dia di tinggal untuk saat ini.
"Baik Hyuga-sama, kita pergi makan sekarang."
Naruto mengemudikan mobilnya menuju mall Ciputra seraya di pusat kota Tokyo (wkwkwk Ciputra)
Sepertinya mereka akan makan dan nonton di tempat yang sama.
RzOneNHL.
Di tempat lain, terlihat seorang gadis aka Ino Yamanaka sedang menggrutu tidak jelas didepan sebuah mall.
Sepertinya gadis itu menunggu seseorang.
Dan, tidak berapa lama, orang yang di tunggu sang gadis itu datang.
"Saiii! Aku akan mencekikmu bila kau datang terlambat lagi!"
Ino langsung memaki sang kekasih yang baru sampai di hadapannya.
"Hahaha, maaf Cantik, aku terjebak macat."
Bohong Sai dengan senyum dan alasan palsunya.
"Diam Sai, jangan berbohong, kau pasti menonton pertandingan basket bersama Sasuke dan Shikamaru. Melihat Topi yang kau kenakan, aku sudah tahu!"
Saat ini Sai hanya mampu tersenyum kecut. Dia hampir saja melupakan janji dengan kekasih cantiknya ini.
"Hehehe"
Grepppp
Tiba-tiba Ino menarik tangan Sai dan menyembunyikan tubuh mereka di balik papan iklan kecil di mall yang saat ini mereka singgahi.
"Ada apa Ino, kau kenapa?"
Sai bertanya karena tingkah aneh Ino.
"Sstttt! Diam Sai-kun, lihat disana, bukankah itu Hinata-chan dan Naruto senpai, mengapa mereka bisa bersama?"
Sai mengikuti arah pandangan Ino.
Dia sedikit terkejut dengan apa yang dia lihat.
'Kupukir dia akan bersama Sakura hari ini, ternyata dia licik juga, membuat Sakura menjadi peralihan perhatian Sasuke.' batin Sai.
"Kita ikuti mereka, sepertinya mereka ingin makan di sana"
Sai langsung menarik Ino ke dalam restoran yang saat ini di masuki Naruto dan Hinata.
Hampir 1 jam mereka memperhatikan interaksi antara Naruto dan Hinata yang terlihat sangat mesra di bangku restauran.
Bahkan Hinata tanpa malu memeluk pinggang Naruto dan menyandarkan wajahnya di dada pemuda pirang itu dan di sambut tawa halus dari Naruto.
Ino hanya mampu menjatuhkan rahangnya sekarang, di terpaku dengan sifat manjanya Hinata pada Naruto.
'Ini sangat langkah'
Batin Ino. Walau Ino juga sedikit merasa kecewa disana.
Sedangkan Sai, dia hanya diam dengan wajah datarnya.
'Sasuke harus tahu'
Sai lalu merogoh HP-nya untuk menelepon Sasuke.
Tetapi, hasilnya nihil, sepertinya handphone Sasuke sedang lowbat saat ini.
"Ahkkkk, Sasuke tidak bisa di hubungi, apa kita harus mengikuti mereka sekarang?"
Sai mendecih tak suka, Ino hanya menatap Kekasihnya yang terlihat kesal, dan bingung dengan kondisi mereka saat ini, sepertinya, acara berbelanja Ino harus di pending.
"Kita ikuti mereka, sepertinya Hinata dan pemuda kuning itu akan segera pergi dari tempat ini."
Sai dan Ino setia menstalking kedua sejoli tersebut.
Dan sekarang Hinata dan Naruto terlihat memasuki Gedung bioskop dan membeli tiket untuk sebuah film.
Ino dan Sai juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan Naruto dan Hinata.
Berjarak 4 block dari kursi Hinata dan Naruto, mereka dapat melihat dua sejoli itu dengan jelas.
Sepertinya, film yang mereka lihat saat ini tidak terlalu seru, karena terlihat banyak bangku kosong di ruangan ini.
Malah, pandangan Sai dan Ino lebih suka menyaksikan live movie sekarang.
Adegan hot yang di lakukan Naruto kepada Hinata berhasil membuat mereka berdua menegang.
Bagaimana tidak? Saat ini dengan gesit Naruto mengekploitasi bagian bibir dan leher gadis Hyuga tersebut.
Seolah-olah, tidak ada orang lain di sekitar mereka berdua.
Ino tercengang dan hampir menjerit jika saja Sai tidak membekap mulutnya.
"Kita pergi, ini sudah cukup. Sasuke tidak harus tahu, ini akan sangat menyakitkan bila kita memberitahu kepadanya"
Sai langsung menarik Ino untuk keluar dari gedung bioskop tersebut.
Karena dia tidak tahan dengan wajah sedih Ino dan pemandangan di hadapannya tadi.
RzOneNHL.
"Na-naruto-kun, enghh! Ini te-tempat umumhh, bagaimana jika ada tangguh mhh me-melihat?"
Hinata tampak mati-matian menahan erangan sebab bibir Naruto bermain di area leher hingga belahan dadanya, bahkan 2 kancing bajunya sudah terbuka.
"Sssstt, aku tidak tahan lagi, kita ke Rumahku, hampir 2 hari aku tidak menjamah tubuhmu Hime."
Dengan segera Naruto menyeret Hinata keluar ruangan tersebut, sepertinya bermain di ranjang lebih nyaman piker Naruto.
Butuh waktu 20 menit mereka akhirnya tiba di rumah Naruto.
Naruto menarik Hinata menuju kamarnya yang berada di lantai 2 tanpa memperdulikan tatapan maid yang memandanginya.
Sebelum mereka tiba di kamar Naruto, pemuda kuning itu meneriaki semua maid yang tiba-tiba semangkin remain menonton mereka berdua.
"KALIAN SEMUA, JANGAN ADA YANG MEMBUKA MULUT KEPADA KAA-CHAN, ATAU KUPECAT! DAN, BUBAR KALIAN SEMUA, APA ADA HAL YANG INGIN KALIAN KATAKAN, APA ADA PERTUNJUKAN YANG MENARIK? BUBARRR!"
Mendengar teriakan dari majikan mereka, para maid di rumah Naruto hanya mengangguk patuh, lalu pergi kembali bekerja seperti biasa.
"Naruto-kun, jangan marah, aku takut mendengar suara bentakan Naruto-kun tadi"
Cicit Hinata.
"Itu buat mereka yang suka mengurusi urusan pribadi majikannya, kau tidak termasuk Hime, kalau begitu ayo kita lanjut yang tadi"
Dan di jawab dengan anggukan dari kepala Hinata.
Cekrekk
Naruto membuka pintu kamarnya, lalu mereka berdua masuk, dan tidak lupa untuk menguncinya kembali.
Hinata berjalan kearah nakas untuk meletakkan tas Selempangnya.
Tiba-tiba Naruto memeluknya dan mencium tengkuknya dari belakang.
"Naruto-kun, geli enghh, kita bisa melakukannya di ranjang"
Hinata mencoba berbalik menghadap Naruto, akan tetapi, Naruto menahannya.
"Menungging Hinata, kita langsung saja!"
Sedangkan Hinata tersentak karena Naruto menekan tengkuknya untuk menungging.
Tangan Hinata sekarang bertumpuan pada nakas di depannya.
Hinata merasa sangat malu sekarang. Naruto menunggangi dirinya bagai kuda.
Secara perlahan Naruto mengangkat Rok yang Hinata pakai dan menurunkan celana dalam Hinata.
Sedikit menghirup bau Manis dari selangkangan Hinata saat dia menyusupkan kepalanya di antara paha Hinata.
"Enghh Naruhhh, ahkkkk ja-jangan dihhh ji-jihlhat begitu!"
Tidak hanya menghirup, Naruto juga menjilati kepemilikan Hinata dengan brutal, bahkan Hinata sudah sangat basah sekarang.
Entah sadar atau tidak, Hinata memohon kepada Naruto agar segera memasukkan miliknya kedalam milik Hinata.
"Ce-cepat Ma-masukhanhh Naruhhh! A-aku sudah tidaklah tahan!"
Mendengar permintaan sang kekasih, Naruto segera mengeluarkan juniornya yang sedari tadi siap menantang.
Terlihat sedikit percum keluar dari kepala junior Naruto.
"Kau sudah basah Hime, kita bisa mulai sekarang."
Perlahan tapi pasti, penis Naruto memasuki lobang surga dunia milik Hinata.
Walau sudah beberapa kali melakukannya, lobang milik Hinata masih terasa sempit bagi milik Naruto.
"Enghh" desahan dan desisan Naruto menggema di ruangan tertutup ini.
"HINATAKHHH, kau sempit sekali enghh!
Naruto meracau hebat kala dia menggedor habis-habisan pertahanan Hinata.
Sedangkan Hinata hanya bisa teriak histeris dengan kenikmatan yang di berikan penis Naruto kepada dirinya.
"Na-naruto-kunhhh, akguuhh keluarkkhhh! Ahgghh aghhh!"
Erangan erangan nikmat itu terus berlanjut, seakan tiada hari esok.
"Keluarkan semua Himehhh enggghhhh, jangan kau tahan!"
Tangan Naruto tak menyia-nyiakan dada Hinata yang menggantung, meski masih terbalut pakaiannya yang sudah awut-awutan.
Remasan demi remasan dia berikan untuk menambah nikmat yang di terima Hinata.
Sudah merasa lelah dengan posisi doggy stylenya. Naruto menarik Hinata ke ranjang empuk di sebelah mereka.
Melucuti semua baju milik Hinata dan miliknya lalu melanjutkan gerakan erotis yang sempat tertunda.
"Aku mencintaimu Naruto-kun"
"Enghh, aku juga"
Kecupan, tindihan, remasan dan goyang terjadi sore itu.
Erangan-erangan nikmat terlepas dari mulut kedua sejoli yang sudah di mabukkan dunia yang mereka singgahi saat ini.
Cinta tidak butuh waktu, tapi kenyamanan yang cinta butuhkan.
Seseorang terlalu bodoh bila mengejar matahari. Karena tanpa di kejar, sinar matahari akan menghampiri mereka.
Begitu juga dengan Hinata.
Selama Matahari masih memberikan kehangatan, apakah harus berpikir ulang untuk menerima kehangatan itu.
TBC.
RzOneNHL off.
Selamat menikmati makanan mata dan imagination anda.
Orang yang mampu berimajinasi, pasti sukses.
RzOneNHL COMEBACK
Ada yang fic ane tidak.
