Chapeter 9
Naruto dan teman-teman hanya milik MK sensei
saya selaku author hanya meminjam saja
Fic ini mengandung konflik yang lumayan berat dan ada beberapa adegan Lime and Lemon di dalamnya
Bagi pembaca yang masih usia dibawah umur, saya harap agar tidak membaca Fic ini
Genre: Romance, Hurt, NTR tingkat tinggi :v
Pair: NHL
Bacot author:
Cacian dan Hinaan anda, akanku buat menjadi SEMEANGAT.
Ingat kata-kata Maito Dai (ayah si monster hijau konoha)
Hinata POV.
Aku terbangun dengan kondisi badan yang cukup mengenaskan, pakaian berserak dimana-mana, bahkan celana dalamku sangat jauh dari tempat ku saat ini.
Aku melihat wajah Naruto-kun yang masih terlelap, pria jangkung yang saat ini menjadi kekasihku juga terlihat tidak mengenakan apapun di balik selimut tebal yang menutupi tubuh kami berdua, atau mungkin dia hanya mengenakan celana boxser kodok kesayangan dirinya, karena setiap kami melakukannya, aku pasti melihat gambar kodok di setiap boxsernya.
Terkadang aku tertawa pelan, mengapa cowok secool Naruto suka dengan hewan menggelikan itu.
Aku mencoba bangkit lalu memunguti pakaian ku.
Setelah itu aku segera pergi ke toilet yang berada di kamar ini.
Setelah selesai dengan penampilanku, aku kembali menghampiri Naruto dan membangunkannya.
Sebenarnya sih aku tidak tega, tapi aku harus segera pulang, karena ini sudah sangat larut.
Jika aku pulang tanpa memberi tahu dirinya, bisa-bisa Naruto-kun marah.
" Naruto-kun bangun, aku harus segera pulang"
Ku coba menggoyangkan tubuh Naruto-kun agar dia cepat tersadar dari mimpinya.
Wajah memelasnya tampak jelas ketika di mencoba duduk dan menyandarkan diri pada kepala tempat tidur.
"Ini pukul berapa Hime, apa tidak sebaiknya kau menginap di rumahku saja?"
Ucap Naruto sambil mengucek mata biru kesukaan diriku.
Sebenarnya sih ingin tetap tinggal di sini, tapi itu tidak mungkin, Neji-nii pasti khawatir, sebab tadi pagi Tou-san pergi keluar kota dan menitipkan diriku untuk di awasi Kaka sepupuku itu.
"Tidak Naruto-kun, aku harus tetap pulang, aku takut Neji-nii marah, dan ini hampir pukul 21:00."
Ku tatap Naruto-kun intens, tapi dirinya tetap tidak bergeming, dia malah cuek menguap lebar di depanku, dan itu membuatku sedikit kesal.
"Sudah terlalu larut sayang, Tou-san dan Nii-san mu pasti marah, lebih baik sekalian besok pagi saja aku mengantarmu Hime"
Seperti tidak memiliki beban Dirinya mengucapkan itu, dia kira aku akan selamat jika pulang pagi, bahkan tunanganku sendiri akan mati jika ketahuan menyekapku di rumahnya.
"Tidak Naruto-kun, Tou-san sedang ada urusan di luar kota, dan mungkin akan kembali esok pagi, maka dari itu aku harus ada di Rumah, Neji-nii tidak akan marah besar jika aku pulang sekarang"
Aku tetap memaksa Naruto-kun untuk mengantarku pulang, dan akhirnya dia menyerah dan bangkit dari kasur empuknya sambil mengumpat tidak jelas, dan itu terlihat lucu. Dan satu lagi, tebakanku benar, dia menggunakan Boxser kodok miliknya dan berjalan cuek ke arah kamar mandi.
Hinata POV end.
Jalanan terlihat sepi saat ini, padahal ini malam Minggu, mengapa terasa sepi, atau mungkin para muda mudi Tokyo sedang menikmati malam panas mereka di love Hotel. Dan itu tidak terlalu asing lagi untuk kota megapolitan seperti ini.
"Kita sudah sampai Hinata-chan, bangunlah, atau kau mau ku gendong sampai kedalam kamar milikmu?"
Naruto tampak sedang membangunkan Hinata dengan menggoyangkan tubuh mungil itu pelan. Sepertinya si Hyuga ini sangat lelah.
Hinata yang merasakan bisikan dan sentuhan Naruto pada pundaknya, hanya mampu memerah dan mengerucutkan bibirnya akibat ucapan Naruto.
"Mou Naruto-kun, a-aku bisa sendiri, dan aku hanya sedikit terlelap tadi"
Jawab Hinata.
Melihat wajah manis dan sikap tsundre wanitanya, Naruto jadi benar-benar ingin menggendong kekasihnya ini hingga ke kamar dan menelanjanginya seperti beberapa jam yang lalu.
"Ya ya Hime, jangan tunjukkan wajah manismu itu sekarang, atau kubawa kau pulang!"
Naruto mengucapkan kata-kata miliknya sambil terkekeh pelan. Sebab wajah Hinata benar-benar terlihat kesal sekarang.
Cup
Hinata mencium pipi Naruto dan segera keluar dari mobil itu dan berlari memasuki gerbang rumahnya.
"Hati-hati Anata!"
Naruto tampak terpaku dengan senyum di bibirnya sambil memandang Hinata yang mulai tidak terlihat setelah masuk kedalam gerbang mansion Hyuga.
"Aku mencintaimu Hinata"
Gumam Naruto setelah Hinata benar-benar hilang dari pandangan matanya.
RzOneNHL
"Dari mana saja?"
Suara Neji menghentikan acara mengendap-ngendap Hinata.
Menolehkan kepalanya sedikit, lalu memasang senyum terbaik miliknya agar Neji melepaskan dan tidak memberi tahu ayahnya tentang ini.
"Ma-maaf Nii-san, aku ada urusan tadi"
Hinata tampak gugup karena senyuman termanis miliknya tidak mempan untuk batu es di hadapannya.
"Jangan berbohong Hinata, aku melihat ada mobil hitam mengantarmu, siapa dia, itu bukan Sasuke, jadi katakan dengan jujur!"
Tatapan Neji menegas, dan Hinata hanya bisa tertunduk sedih.
Sepertinya itu sedikit membuat Neji lunak, sebab dia melihat air mata Hinata menetes di lantai kayu rumah ini.
"Bagaimana aku bisa marah, kau sudah menangis padahal aku tidak memukulmu"
Tampaknya Neji sedikit frustasi, sebab dirinya sangat lemah akan air mata adik sepupu kesayangannya ini.
"Ma-maaf"
Hanya kata maaf yang keluar dari bibir Hinata, dan itu berhasil membuat dirinya selamat dari tekanan sepupunya.
"Masuklah ke kamarmu, aku hanya khawatir, Hiasi-sama mempercayakan dirimu padaKu, jadi aku sangat khawatir kau pulang terlambat sekalipun ini malam Minggu."
Neji hanya bisa menghela nafas berat setelah mengucapkan uneg-unegnya pada sepupu yang mulai nakal ini.
Melihat Neji sudah memberi lampu hijau, Hinata langsung memeluk Neji dan mengucapkan terima kasih berulang-ulang.
Neji yang di peluk Hinata hanya dapat pasrah, tapi hidungnya mencium bau parfum cowok yang sangat kental di tubuh sang adik.
"Baumu seperti cowok, jangan terlalu menempel, Nii-san akan selalu mendukungmu, tapi kau harus berhati-hati dengan peria itu"
Pelukan mereka terlepas, sebab Hinata mencerna kata-kata Neji barusan.
Dia tampak berfikir, apa Neji sudah tau? Mungkin itu yang ada dalam benaknya.
Selagi Hinata masih terpaku, Neji mencium kening adiknya, dan berlalu pergi meninggalkan koridor rumah di mana Hinata berada saat ini.
"Nii-san... Terima kasih"
Gumam Hinata pelan ketika dia sudah kembali dari keterkejutannya. Sekarang hanya tinggal dirinya di sini, meneteskan air mata dalam diam.
Hinata menyadari kesalahan yang dia perbuat, tapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur dan mungkin sudah berjamur.
Melangkahkan kakinya pelan menuju kamarnya miliknya.
Dia harus tidur untuk melepas perasaan lelah yang semakin memberatkan kaki-kaki jenjang miliknya, sedikit bersandar pada dinding-dinding di sebelah nya, pasti dapat membantu agar tubuhnya tidak terjungkal di sini, tak berapa lama dia sampai di kamar dan menghempaskan tubuhnya di ranjang.
Entah mengapa hujan turun deras malam ini, padahal tadi cuaca baik-baik saja.
Rasa dingin menusuk kulit seorang peria reven yang sedari tadi menghalangi laju mobil Naruto di sekitar kompleks perumahan Hinata.
Naruto masih terlihat diam di dalam mobil hitam miliknya, sudah hampir setengah jam dia memandang mobil milik Sasuke yang menghalangi jalannya.
Komplek ini terasa sangat sunyi, sangat cocok bila di jadikan tempat adu jotos.
Sasuke semakin mengeratkan genggaman tangannya pada pentungan baseball di tangan kanannya. Sepertinya rasa cemburu sudah membakar akal sehat pemuda reven satu ini, tanpa memperdulikan kemampuan dan orang yang di hadapinya saat ini.
Naruto masih terlihat santai saat Sasuke turun dengan senjata di tangannya.
Air hujan tampak membasahi bajunya, dan Sinar dari kedua lampu mobil mereka membuat hawa dingin berkurang walau sedikit.
Naruto mengikuti apa yang di lakukan Sasuke, turun dengan tangan kosong seakan tak takut dengan tebaran hawa membunuh dari pukulan baseball yang di genggam erat peria di depannya.
"Ternyata bocah Uchiha berani nekat juga, haii bocah! Apa aku harus memulangknmu ke rumah sakit, kau sudah melukai kedua sisi wajahku, saat itu aku hanya diam, tapi sekarang tidak. Akan ku ajari kau bagaimana cara bertarung dan hormat kepada Nii-san mu!"
Terlihat seringai Naruto yang sedikit membuat sang Uchiha bergetar, bagai manapun Naruto terlihat sangat menakutkan saat ini.
Otot yang terpatri di tubuh pemuda itu sangat jelas terlihat, sebab Naruto membuka bajunya sebelum turun dari mobilnya.
"Cihh, karena kau lebih besar dariku kau pikir aku takut paman bajingan, kau sudah tua, tidak pantas dekat dengan wanitaku. Sebaiknya kau mundur sebelum benda di tanganku ini mengeluarkan isi otak busukmu di sini!"
Sasuke mencoba membalas aksi provokator dari Naruto. Walau pemuda pirang di depannya tampak Santai.
Terjangan angin dan hujan malam yang dapat membuat tubuh menggigil tidak berpengaruh untuk mereka.
Terutama Naruto, hawa panas dalam tubuhnya bergejolak seperti ingin menghabis adik kecil di depannya.
Sasuke berlari kearah Naruto sambil mengangkat tinggi pentungan di tangan kanannya.
Ayunan keras itu berhasil di hindari Naruto.
Tapi kaki Sasuke tidak tinggal diam, tendangan keras miliknya berhasil membuat Naruto mundur beberapa langkah dan bertumpuan pada kap mobil di belakangnya.
"Cuiih! Hanya segitu kekuatan mu?"
Umpat Naruto, meski dia sempat meringis.
Sasuke mundur beberapa langkah, sepertinya dia tidak ingin merusak mobil Naruto di depannya.
"Aku tak ingin meneruskan mobil mahal mu, kemarilh, kita selesaikan di tengah."
Mendengar nada sindiran Sasuke, Naruto tersenyum sinis.
'ternyata mulut Uchiha pedas juga' pikir Naruto.
Kali ini Naruto mencoba menyerang Sasuke dengan tangan kosong miliknya.
Pukulan-pukulan terarah miliknya membuat Sasuke kewalahan, walau beberapa pukulan menghantam kayu keras yang di genggam Sasuke, dia tidak merasa sakit.
Buggg!
Hantaman tangan kiri Naruto kearah dada sang Uchiha membuat Sasuke jatuh terduduk dan meringis.
Tidak sampai di situ, Naruto kembali menendang Wajah Sasuke dan membuat pemuda itu tergeletak mengenaskan di atas aspal dingin.
"Cuihh! Aku pikir kau kuat, hanya dengan dua pukulan ku, kau sudah tidak berdaya. Datang padaku saat kau kuat, aku akan kembali mengajarimu cara bertarung."
Sasuke meringis menahan sakit di dada dan rahangnya, tendangan tanpa perasaan Naruto mungkin sudah menggeser posisi rahang milik Sasuke.
Melihat kondisi Sasuke yang sudah tidak berdaya, menumbuhkan rasa iba walau sedikit.
Cuaca yang semakin dingin juga memaksanya agar segera pulang.
Naruto memapah tubuh pemuda yang sudah terkapar di depannya.
Lalu membawanya kedalam mobil milik Uchiha itu. Tak lupa melemparkan pentungan baseball ke bangku penumpang.
"Pulanglah, sebentar lagi rasa peningmu akan hilang, kau bisa kembali mengemudi, aku mengenal Nii-sanmu, tidak mungkin aku meninggalkan imouto kesayangan terkapar di sini."
Ucap Naruto dengan sedikit senyum.
"Terimakasih, tapi urusan kita belum berakhir sampai disini"
Walau sudah kalah, tampaknya pemuda Uchiha ini masih mengeluarkan kata-kata pedas dan manis secara bersamaan.
Dan di balas singkat oleh Naruto.
"Aku tidak peduli!"
Membanting pintu mobil Sasuke, lalu berjalan kearah mobilnya dan pergi dari tempat kejadian.
RzOneNHL
Bandara Narita terlihat sibuk pagi ini.
Seorang pria berambut kuning tapi sedikit lebih panjang dan tindak memiliki 3garis namun sangat mirip dengan Naruto baru saja keluar dari pintu kedatangan internasional.
Pria itu sesekali mengecek Handphone miliknya dan mencoba menghubungi seseorang.
"Minato?"
Pria kuning tadi aka Minato Namikaze menoleh kearah seseorang yang memanggilnya.
"Hiashi Itu kau? Lama tidak bertemu."
Minato mencoba mengenali teman lamanya lalu berjabat tangan.
Dulu mereka tidak terlalu dekat, akan tetapi istri mereka dulu bersahabat.
"Tentu saja, kau melupakanku? Ya wajar saja, sudah hampir 20 tahun kita tidak bertemu."
Balas Hiashi sambil duduk di kursi tunggu yang sama dengan Minato.
"Kau menunggu seseorang?"
Lanjut kepala keluarga Hyuga itu.
"Begitulah, putra ku sulit sekali di hubungi"
Minato berucap sambil melihat jam di handphone miliknya.
06:05 waktu Tokyo.
"Mungkin ini terlalu pagi" sambungnya.
"Ikutlah denganku, kau bisa menunggunya di kediaman ku, kebetulan sebentar lagi keponakanku akan datang, dan rumahku juga tidak jauh dari bandara."
Hiashi mencoba mengundang teman lamanya, sebab Minato terlihat sangat kelelahan saat ini.
Wajah Minato terlihat menimbang-nimbang ajakan Hiashi, dan lagi pula dirinya tidak memiliki siapa-siapa di Jepang kecuali Naruto dan keluarga istrinya.
Meski Minato pengusaha sukses dan memiliki rumah mewah di Jepang, akan tetapi cabang usaha miliknya sama sekali tidak ada di negara matahari terbit ini.
"Mungkin aku akan ikut"
Minato menerima ajakan Hiashi dan tersenyum singkat.
"Sepertinya Neji sudah datang, kita pergi, kau bisa mengirim alamat rumahku nanti."
RzOneNHL.
Naruto mencoba menyesuaikan pandangan matanya akibat silau matahari yang menerobos celah pentilasi jendela kamar miliknya.
Mengedipkan matanya berkali-kali dan itu berhasil mengembalikan kesadarannya.
Tangan kanan Naruto mencoba meraih Handphone miliknya dan membaca pesan dan notifikasi panggilan tak terjawab pada layar handphone miliknya.
TOU-SAN-
Jemput TOU-SAN- di alamat ini, pagi tadi TOU-SAN- baru sampai di Jepang dan menghubungimu, tapi kau tidak menjawab.
#************(alamat)#
Naruto sedikit terkejut dengan kedatangan Minato, di tambah alamat yang tidak asing di mana Naruto sering kesana.
"Sepertinya pagi ini aku akan dapat ciuman selamat pagi"
Gumam Naruto dan sedikit menyeringai.
Pastinya pagi ini akan terasa panas dikediaman Hyuga.
Naruto berjalan ke kamar mandi pribadi yang berada di kamarnya, tidak butuh waktu lama akhirnya Naruto menyelesaikan rutinitas paginya.
Memilih beberapa baju dan celana, akhirnya Naruto menjatuhkan pilihannya kepada Jeans hitam dan kaus V neck bewarna putih lalu di balut jaket dengan warna yang senada dengan celana miliknya, tidak lupa sepatu sneaker hitam dengan list putih juga sudah terpasang rapi di kakinya.
Naruto berjalan menuruni tangga dan di sambut senyuman hangat dari para pekerja wanita di kediaman miliknya.
Terdengar beberapa bisik-bisik memuja dari beberapa maid yang dia temui.
"Bersihkan kamar Tou-san, sebentar lagi dia datang"
Mendengar perintah sang majikan, mereka yang merasa itu bagian pekerjaan miliknya langsung pergi untuk menjalankan tugas yang baru di terima.
"Maaf Naruto-sama, teman Anda sedang menunggu diluar, apa di suruh menunggu di ruang tamu saja?"
Seorang pria salah satu pekerja di rumah ini menghampiri Naruto.
"Tidak perlu, aku akan menemuinya di depan, pergilah dan lanjutkan pekerjaanmu"
Mendengar balasan dari sang majikan, pria itu berlalu dari hadapan Naruto.
RzOneNHL.
"Oi Naruto, aku sudah hampir membusuk menunggu disini, cepatlah, aku masih ada urusan selain mengantarkan mobil pesananmu"
Sasori langsung melempar kunci mobil yang saat ini dia duduki kap-nya.
"Evo x launcher dan sedikit modifikasi seperti pesanan ku, terima kasih Sasori, kau bisa pergi sekarang."
Naruto berucap cuek sambil mengusir Sasori.
"Apa! Hoi kuning sialan, aku pulang naik apa, antar aku kerumahku, baru kau bisa pergi dengan mobil ini."
Sasori tampak marah karena sikap Naruto yang semena-mena padanya.
Naruto melempar kunci mobil yang baru dia ambil dari kantong jeans-nya.
"Bawa mobil lama ku, aku ada urusan penting"
"Dimana mobil mu? Aku tidak melihatnya"
Sasori celingak-celinguk mencari mobil yang biasa Naruto pakai, bahkan harga mobil lama Naruto hampir 3 x lipat lebih mahal dari Evo x yang dia antar.
"Tentu saja di garasi BAKA! Minggir dari mobil baruku, aku sedang terburu-buru"
Naruto mendorong Sasori dari depan mobilnya, dan di hadiahi tatapan tajam oleh Sasori, tapi itu tidak berpengaruh sama sekali dengan pemuda Uzumaki di depannya.
"Kau membuatku seperti sopirmu brengsek, awas kau"
Naruto hanya tertawa renyah mendengar umpatan Sasori.
"Bukankah kau pernah jadi sopirku ketika di New York, apa kau lupa?"
Dan Sasori hanya bisa menghela nafas.
"Jangan ingatkan aku tentang itu, itu menyebalkan"
Balas Sasori sambil meratapi nasibnya di masa lalu, kala itu dia tidak memiliki kendaraan, sebab 3 mobil yang di beri orang tuanya habis di jual di tahun yang sama, hanya untuk bermain dengan Wanita jalang.
RzOneNHL
Di kediaman Hyuga terlihat seorang wanita yang sedang berjalan menelusuri tangga rumahnya, sepertinya dia tidak menyadari bahwa ada 3 orang pria yang sedang sarapan di meja makan yang dia lewati.
Dengan menggunakan celana pendek bahkan tidak cocok di katakan celana, mungkin bisa di sebut Daleman dan baju yang tampak kebesaran, tapi itu membuat penampilan dirinya semakin seksi dengan tubuh mungil berisinya.
"Hinata kemari lah"
Panggil Hiashi pada putrinya.
"Ini paman Minato, dia baru tiba dan sedang menuggu anaknya di sini"
Minato tersenyum ramah pada Hinata.
'calon menantu idaman'
Batin Minato.
"Saya Hinata Oji-san, salam kenal"
Hinata menunduk hormat untuk menghargai orang yang lebih tua di depannya.
"Sama-sama Hinata, kau cantik sama seperti ibumu. Senang bertemu denganmu"
Minato membalas dengan ramah.
"Bergabunglah Hinata, temani Hiashi-sama dan Minato-jisan. Nii-san ada urusan di luar."
"Tidak usah, sebentar lagi mungkin putraku akan menjemputku, Hiashi saja sudah cukup di sini."
Sela Minato, sepertinya dia tidak ingin mengganggu acara weekend keluarga ini.
"Kalau begitu saya permisi."
Setelah mengucapkan itu, Neji pergi dari ruangan itu menuju pintu keluar, sepertinya pemuda itu benar-benar ada acara.
"Saya juga permisi Tou-sa, Oji-san."
Pamit Hinata menuju dapur rumah ini.
Tidak berapa lama setelah kepergian putra-putri itu, terlihat Naruto berjalan kearah di mana Hiashi dan Minato sedang mengobrol, setelah bertanya kepada pekerja di rumah ini.
Wajah Naruto terlihat sangat ceria saat ini. Seperti baru menemukan Oasis di tengah gurun.
"Tou-san"
Panggil Naruto setelah tiba tempat hadapan meja Hiashi dan Minato.
"Naruto, kau sudah datang"
Minato lalu berdiri dan memeluk anak lelaki satu satunya ini.
"Ini putraku yang kuceritakan barusan."
Hiashi menatap Naruto lalu tersenyum tipis.
"Duduklah sebentar, kita bisa mengobrol sebentar di sini, kau tidak terburu-buru kan Naruto?"
Tanya Hiashi.
Naruto yang mendengar tawaran tersebut, tentu saja gembira bukan kepayang.
Sambil melirik kesana-kemari Naruto menganggukkan kepalanya tanda dia setuju.
Minato yang merlihat gelagat aneh anak mudanya mencoba bertanya.
"Kau kenapa Naruto, apa ada yang kau cari?"
"Tidak Tou-san, aku hanya ingin ke toilet, perutku sepertinya bermasalah"
Jawab Naruto.
Tampak seringai licik terpatri di wajahnya, akan tetapi tidak di sadari kedua orang tua di hadapannya.
Hiashi yang mendengar ucapan Naruto, segera menunjuk arah kamar mandi di rumah ini.
"Berjalan lurus ke arah sana, kau akan menemukan toilet tepat di sebelah Dapur."
Mendengar ucapan Hiashi, Naruto tidak buang-buang waktu dan langsung berjalan kearah yang di beri tahu barusan.
Dan jalan itu juga baru saja di lalui Hinata.
"Sepertinya dia sudah tidak bisa menahannya"
Gumam Hiashi dan di balas tawa oleh Minato.
Mereka tidak menyadari maksud Naruto sebenarnya, dan mana mungkin mereka tahu. Bahwasanya Naruto sudah tidak tahan untuk segera menjamah tubuh mungil Putri bungsu Hyuga tersebut.
"Aku datang Hime, kau dimana?"
RzOneNHL.
Di dapur Hinata tampak termenung sambil mengaduk teh yang saat ini dia sedu.
Sepertinya Putri Hyuga ini sedang memikirkan sesuatu.
"Paman Minato terlihat sangat mirip dengan Naruto-kun, apa mereka ada hubungan keluarga?"
Hinata terus bertanya-tanya dalam benaknya.
Dirinya tidak menyadari ada seseorang yang tersenyum mesum sedang mengendap-endap di balik tubuhnya.
"Kyaahpppp"
Hinata merasa terkejut dan takut ketika ada tangan seseorang yang memeluk pinggangnya dan membekap mulutnya dengan lancang.
Akan tetapi ketakutannya hilang ketika mencium bau parfum yang wanginya sangat dia kenal dan hanya menyisakan keterkejutannya.
"Kau takut padaku Hime?" Naruto bertanya sambil menyesap bau pada leher jenjang Hinata.
Hinata hanya dapat menggeliat Tak-nyaman dengan lidah Naruto yang menempel di leher miliknya.
"Na-naruto-kunhhh, ap-aphaa yanghh kau lakhukhann di sini?"
Hinata terlihat sangat menderita nikmat di pagi hari, dia heran mengapa pemuda yang di cintanya ini bisa nyasar ke kediaman miliknya, apa mungkin Naruto ada hubungannya dengan paman Minato.
Mungkin itu yang ada di benak Hinata saat ini.
"Tou-san ku ada di sini, mungkin dia akan melamar dirimu untukku?"
Canda Naruto pada kekasih gelapnyanya ini.
Tangan Naruto yang semula diam kini meremas gemes bokok berisi milik Hinata.
"Enghh!"
Desah Hinata tertahan.
"Jangan bercanda Naruto-kun, aku serius"
Hinata sekarang Berhasil lolos dari jeratan Naruto dan menghadapkan wajahnya ke arah Naruto.
"Aku hanya menjemput Tou-san ku Hime, kita tak punya banyak waktu. Servis di pagi hari tidak buruk juga"
Naruto menyeringai sambil menatap penampilan Hinata Dari atas sampai bawah.
"Kau terlihat sangat seksi, tapi aku tidak suka tubuhmu terekspos walaupun kau di rumah!"
Mendengar ucapan Naruto, Hinata sedikit malu dan ada sedikit perasaan bersalah.
"Maaf Naruto-kun, a-aku biasanya hanya mengenakan pakaian ini di kamar, tadi aku sedikit haus, jadi turun untuk membuat teh" jelas Hinata.
"Baguslah, tubuh ini hanya aku yang boleh menikmatinya, jadi jaga baik-baik tubuh dan hatimu untukku, karena itu semua milik Uzumaki, aku tidak suka bila milikku di sentuh ataupun di tatap lapar orang lain."
Setelah mengucapkan itu, Naruto kembali menyerang Hinata, tanpa mau tahu lokasi mereka berada.
Naruto mencium Hinata tepat di bibirnya, decakan suara becek akibat gesekan bibir dan lidah penuh liur mereka menggema di dapur keluarga Hyuga.
Naruto mendudukkan Hinata ke atas pantry pada dapur.
Tangannya tidak tinggal diam dan menyeludupkan jarinya ke dalam celana pendek yang di kenakan Hinata.
Merasa ada benda asing yang mulai membelai lembut kemaluannya, Hinata hanya dapat menggelinjang tak nyaman.
Tangannya yang menahan berat tubuh Naruto mencoba bergerak untuk menghentikan tindakan pemuda itu pada area sensitif miliknya.
Bibirnya tidak dapat berbicara, sedari tadi mulut Naruto menguncinya, bahkan lelehan liur telah membasahi dagunya.
Hinata merasa tubuhnya sangat panas, dan ada sesuatu yang siap merembes di bawah sana.
Naruto yang menyadari Hinata akan klimaks, segera menghentikan permainan jarinya, dan itu sukses membuat Hinata menderita dan menggerakkan pinggulnya refleks untuk menggesekkan selangkangan miliknya pada tangan Naruto yang saat ini masih berada di area terlarang itu.
"Enghh Nahrutohggh-khun, jangan menyiksaku enggghhhh"
Hinata mulai tampak kehilangan ketenangan dan kesadaran bahwasanya saat ini tempat mereka sangat mudah di pergoki siapa saja, termasuk kedua orang tua mereka.
Sedangkan di ujung sana, kedua orang tua mereka terhanyut dalam urusan bisnis yang mereka coba bangun tanpa mengetahui kegilaan yang terjadi di dapur rumah ini.
Naruto melepas ciumannya pada bibir ranum Hinata, terlihat benang-benang Saliva tipis menghubungkan kedua bibir mereka.
Tampak sedikit bengkak di bibir Hinata, tapi itu tidak mempengaruhi kecantikan gadis tersebut, malah terlihat semakin seksi di mata Naruto.
"Kau sudah tidak tahan Hime, gairah seseorang akan membuncah di pagi hari, apa kau merasakannya?"
Hinata tidak menjawab pertanyaan kekasihnya tersebut, dirinya sibuk mencari oksigen dan kenikmatan sambil terus menggerakkan pinggulnya agar bergesekan dengan jari Naruto dibawah sana.
"Kita lanjut kemenu utama Hime?"
Tanya Naruto.
Akan tetapi di jawab dengan gelengan Hinata.
"Ki-kita tidak mungkin me-melakukannya di si-sini Naruto-kun"
Hinata membohongi dirinya, sebenarnya tubuhnya berkata lain, sudah terasa sangat menyiksa dan basah di bagian bawahnya.
Naruto menarik tangannya dari dalam celana Hinata, tampak basah di beberapa jarinya, mungkin itu cairan Hinata yang sudah mengalir keluar, tapi Hinata belum mencapai klimaksnya yang tertunda.
Wajah Hinata mengkerut tidak suka ketika jari-jari nakal Naruto tidak berada lagi pada area sensitif miliknya. Padahal dia sedang mencari klimaks yang tertunda.
Melihat wajah Hinata yang merenggut lucu, Naruto kembali menyatukan bibirnya dengan Hinata.
"Kau sudah tidak tahan Hime, kita bisa melakukannya di toilet rumahmu"
Tangan Tan itu langsung menggendong Hinata ala bridal style sambil memperhatikan daerah sekitar mereka agar tidak ada yang memergoki.
Krekk bamm.
Terdengar suara pintu kamar mandi yang di buka lalu di tutup kembali dengan sedikit keras.
"Kita bisa ketahuan Naruto-kun, ini bisa menimbulkan masalah besar nanti"
Hinata mencoba menghentikan Naruto yang saat ini sudah membuka baju dan memperlihatkan ototnya.
Mata Hinata tertumpu pada luka memar di area perut roti sobek Naruto.
"Awww, Jangan sentuh Hime, itu sakit, sentuh yang ini"
Naruto berucap sambil mengeluarkan Naruto junior dari sangkarnya.
Hinata yang semula menyentuh luka lebam Naruto, sekarang shock berat ketika merasakan benda hangat, keras dan terasa panjang di genggam nya..
"Seesssdhhh" geram Naruto saat merasakan telapak tangan Hinata pada juniornya.
Hinata hanya mampu terpaku tanpa menggerakkan tangannya, dia masih shock, selama mereka bermain, baru kali ini dia menggenggam milik Naruto.
"Gerakan tanganmu sayang, aku sudah tidak tahan enghh"
Naruto menggeram saat tiba-tiba Hinata mencengkram miliknya dengan kuat dan merasakan gerakan kaku di sana.
Walau terasa malu, Hinata tetap menggerakkan tangannya, mata rembulannya juga tidak berpaling dari area junior Naruto, seakan dia sangat tertarik dengan benda besar dan keras itu.
'jadi ini yang selama ini memasuki tubuhku, pantesan sangat sakit' batin Hinata.
Naruto semangkin tersiksa dengan keadaan miliknya, Hinata sangat kaku, dan itu menyakitkan.
Dengan cepat Naruto menarik dan mengangkat tubuh mungil itu dan mendudukkan pantat Hinata ke Westapel kamar mandi.
Menarik celana pendek Hinata beserta dalamannya, Naruto dengan tidak sabaran memposisikan miliknya di depan liang kenikmatan Hinata.
"Kau menyiksaku Hime, kita langsung mulai saja sekarang, tidak perlu foreplay, aku sudah tidak sabar."
Perlahan tapi pasti, milik Naruto memasuki lubang Hinata dengan lancar walau harus sedikit menekan keras, cairan cinta Hinata sangat membantu proses penyatuan kedua insan yang sudah di penuhi nafsu duniawi.
"Enggghhhh" Hinata mendongakkan kepalanya menghadap Langi-langit toilet, leher jenjangnya terekspos dan tidak di sia-siakan oleh pemuda yang sedang menggagahinya.
Goyangan Naruto semangkin cepat dan menggila.
Tubuh kecil yang ada di hadapannya tersentak-sentak seakan bisa hancur kapan saja.
Tangan Naruto menyingkap kaus kebesaran Hinata dan menenggelamkan wajahnya di antara bukit kembar Hinata.
"Naruhhh ahkkkk, jangan terlalu cerphathh seehhhgg!"
Remasan pada rambut Naruto yang semakin kuat seakan pertanda bahwa gadis itu sudah pada puncak klimaks nya.
Naruto sedikit memelankan gerakan miliknya ketika merasakan semprotan klimaks Hinata seakan mendorong miliknya keluar, tetapi cengkraman dinding rahim Hinata juga seperti menjepit miliknya semakin kuat.
Hinata sedikit menggelinjang di dekapan Naruto, tubuhnya bergetar pertanda klimaks yang dialaminya akan segera usai.
"Aku belum sampai sayang, kau harus bertahan sampai akhir, jangan pingsan di sini, itu berbahaya dengan kondisi kita"
Bisikan Naruto menyadarkan Hinata yang mungkin akan pingsan tadi.
Kebiasaan buruk Hinata sering terjadi bila Naruto bermain dengan kasar ataupun klimaks yang sangat dahsyat juga bisa mengantarkan dirinya ke alam mimpi.
"Persiapkan dirimu untuk puncak yang kedua, H-i-m-e-s-a-m-a".
Ucap Naruto sedikit penekanan di akhir kalimatnya.
TBC.
RzOneNHL off.
Bukan masalah sakitt atau alasan lain yang membuat fic ini jarang update.
Alasan seperti itu sudah pasaran, munkin dengan alas an yg satu ini pembaca bias mengerti.
Tetapi ide yang hilang dan berubah-ubah. Itu masalah saya yang sebenarnya.
RzOneNHL off
