My Slave Is My Love
.
.
Uchiha Sasuke, Haruno Sakura
.
.
Masashi Kishimoto
.
.
©Aomine Sakura
.
.
Dilarang COPAS dan PLAGIAT dalam bentuk APAPUN!
Don't Like Don't Read
Selamat Membaca!
oOo
Sasuke membuka matanya dan tangannya meraba sisi samping ranjangnya, dimana Sakura semalam tidur dalam pelukannya. Sisinya itu kosong, menandakan Sakura sudah bangun dari tidurnya.
Mendudukan dirinya, Sasuke segera bangkit keluar dari kamarnya. Melangkahkan kakinya menuju dapur, onyxnya menatap sesosok gadis berambut pink yang sedang memasak. Sebuah senyum terukir di bibir Sasuke.
"Hn."
Sakura menolehkan kepalanya dan tersenyum ketika melihat Sasuke.
"Ohayou, Sasuke-sama." Sakura tersenyum.
Sasuke tidak menjawab, melainkan mendudukan dirinya di salah satu kursi makan.
"Kenapa kamu yang memasak?" tanya Sasuke.
"Tidak apa, Sasuke-sama. Aku tidak biasa untuk bangun siang, jadi aku memtuskan untuk memasakan sarapan untuk Sasuke-sama."
"Hn." Sasuke bangkit dari duduknya, "Sebaiknya aku segera bersiap untuk ke kantor."
Sakura menganggukan kepalanya dan kembali melanjutkan memasaknya yang tertunda.
Setengah jam kemudian Sasuke muncul dengan balutan pakaian kantornya. Di meja makan sudah siap nasi goreng tomat dan secangkir kopi hitam.
"Sasuke-sama sudah selesai?" Sakura mendudukan dirinya di salah stau kursi.
Sasuke memandang nasi goreng yang menggugah seleranya itu. Dia tidak menyangka jika Sakura tahu tentang buah kesukaannya itu.
"Hn. Dari mana kamu tahu aku suka tomat?" Sasuke menyeruput kopi hitamnya.
"Eh?" Sakura mengedip-kedipkan matanya, "Sasuke-sama suka tomat? Aku tidak tahu, karena begitu banyak tomat di kulkas. Aku memasukannya saja ke nasi goreng itu."
Sasuke tersenyum tipis dan menyendokan nasi goreng itu ke dalam mulutnya. Lezat. Satu kata itu yang langsung terpikirkan di otaknya ketika merasakan nasi goreng buatan Sakura.
"Enak tidak, Sasuke-sama?" tanya Sakura ragu-ragu.
"Hn."
Sakura tersenyum dan memandang tuannya yang sedang makan itu. Dalam hati dia mengakui jika tuannya itu sangatlah tampan, pastilah banyak gadis yang jatuh hati kepada tuannya itu. Menggelengkan kepalanya, Sakura merutuki pemikiran bodohnya itu.
"Kenapa menggeleng-gelengkan kepalamu?" Sasuke menatap Sakura dengan satu alis terangkat.
Sakura tersenyum kikuk, ketahuan memikirkan macam-macam tentang tuannya itu.
"Ti-tidak ada, Sasuke-sama."
"Hn." Sasuke bangkit dari duduknya, "Pasangkan dasiku."
"Hah?" Sakura menatap Sasuke dengan pandangan tidak percaya.
Sasuke mendenguskan wajahnya.
"Apa perlu aku ulangi dua kali?"
Tanpa diperintah, Sakura segera bangkit dari duduknya dan mengambil dasi dari tangan Sasuke. Mengeliminasi jarak antara dirinya dan tuannya, Sakura mulai memasangkan dasi di leher tuannya itu.
Sasuke tidak bisa menahan detakan jantungnya yang berdetak dengan kencang. Wajah cantik Sakura begitu dekat dengan dirinya dan itu mampu membuat jantungnya berdetak tidak karuan.
"Sudah selesai, Sasuke-sama." Sakura mengangkat wajahnya dan emeraldnya bertatapan dengan onyx milik Sasuke.
Sasuke mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir merah menggoda Sakura dengan lembut. Bibirnya memagut bibir Sakura dan menggulumnya dengan lembut. Kali ini ciumannya bukan ciuman menuntut dan penuh nafsu, melainkan ciuman yang lembut.
Sasuke menjauhkan wajahnya dan menatap wajah Sakura yang telah memerah.
"Hn. Aku berangkat dulu," ucap Sasuke.
Sakura menganggukan kepalanya.
"Sahabatku akan kemari untuk menjadi gurumu, tinggal beberapa bulan lagi Ujian Kelulusan akan kamu jalani."
"Te-terimakasih, Sasuke-sama." Sakura tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Hn. Aku juga sudah menyiapkan obat pencegah kehamilan."
Sakura membelalakan matanya, ada sesuatu yang menohok hatinya ketika Sasuke mengatakan hal itu.
"Hn. Aku berangkat."
Sakura menatap Sasuke dengan pandangan yang sulit diartikan. Tidak, dia hanyalah pelayannya dan tidak boleh berharap lebih.
.
.
Sakura sedang membaca novel ketika pintu rumahnya diketuk. Dia segera bangkit untuk membukakan pintu dan menatap seorang pemuda yang berdiri di hadapannya.
"Anda.. siapa ya?" tanya Sakura dengan sopan.
"Teme mengutusku kemari untuk menjadi gurumu." Cengirnya.
Sakura mengangguk paham, jadi inilah yang akan menjadi gurunya.
"Silahkan masuk."
Naruto mendudukan dirinya di sofa milik sahabatnya itu. Dia sudah sering datang kesini, jadi tidak masalah jika dia langsung mendudukan dirinya begitu saja.
"Baiklah.. umm.."
"Naruto. Namaku Namikaze Naruto." Naruto mengulurkan tangannya.
"Umm.. salam kenal Naruto-san, aku Haruno Sakura." Sakura tersenyum kikuk, "Apakah anda ada hubungan kerabat dengan Hinata-san?"
"Hinata?" Naruto menaikan satu alisnya, "Dimana kamu mengenalnya?"
"Oh eh.. Sasuke-sama yang mengajakku ke butiknya."
"Sasuke-sama?" Naruto tersenyum geli, "Aku tidak mengerti apa yang ada dipikirannya. Tetapi kamu adalah gadis yang pertama kali diperlakukan seperti ini olehnya."
"Me-memangnya bagaimana Sasuke-sama memperlakukan para gadisnya?" Sakura tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya.
"Hmm.. entahlah. Tetapi dia itu playboy kelas kakap, sudah banyak wanita yang rela mengangkangkan kakinya hanya untuk tidur dengannya." Naruto menunjukan cengirannya, "Jadi, apa yang membuatmu terjebak dengannya?"
"Ceritanya panjang Naruto-san," ucap Sakura.
"Aku yakin, kamu tidak mungkin mau tidur dengan Teme bukan tanpa alasan. Mungkin kamu bisa menceritakannya padaku."
Sakura menundukan kepalanya. Dia tidak mungkin mengatakan alasan sebenarnya mau menjual keperawanannya kepada Sasuke.
"Aku tidak bisa mengatakannya, Naruto-san."
"Setiap orang pasti punya privasi, mungkin kamu bisa menceritakannya jika kamu siap. Aku cukup penasaran denganmu, tidak ada gadis yang diajak kerumah ini selain kamu."
"Terimakasih, Naruto-san." Senyum Sakura, "Sebaiknya kita mulai saja pelajarannya."
"Baiklah." Naruto mengeluarkan beberapa buku dari dalam tasnya, "Ngomong-ngomong, Hinata adalah istriku."
"Apa?!" Sakura tidak bisa menahan keterkejutannya.
"Hehehe.. kamu terkejut ya." Naruto membuka buku fisikanya, "Baiklah, kita akan mulai belajar."
.
.
Sasuke memasuki ruangannya dan mendudukan diri di kursinya. Di mejanya sudah menumpuk berbagai berkas yang harus dia periksa dan tanda tangani.
"Sasuke."
Sasuke menolehkan kepalanya ketika Kakashi memasuki ruangannya.
"Hn. Ada apa?"
"Aku sudah menemukan rekening milik siapa yang ditransfer oleh Sakura."
"Hn?"
"Atas nama Haruno Mebuki."
"Haruno Mebuki?" tanya Sasuke, "Selidiki tentangnya."
.
.
"Huaaahh.. lelah juga." Naruto meregangkan tangannya setelah tiga jam mengajari Sakura.
"Biar aku buatkan minuman." Sakura segera bangkit dan keluar membawakan dua gelas ocha.
"Terimakasih Sakura-chan! Teme pasti beruntung sekali mendapatkan istri sepertimu," ucap Naruto.
Blush! Wajah Sakura sontak memerah.
"Aku hanya pelayannya saja, Naruto-san. Aku tidak mungkin menjadi istrinya."
"Siapa tahu, Sakura-chan. Teme itu susah ditebak." Cengir Naruto, "Aku sendiri tidak mengerti kenapa Sasuke menyuruhku untuk menjadi gurumu. Padahal sewaktu sekolah aku adalah murid yang paling bodoh."
"Hah?" Sakura shock ditempat. Jika Naruto adalah murid paling bodoh di kelasnya dulu, bagaimana nasibnya sekarang? Jangan-jangan apa yang diajarkan Naruto salah semua.
"Hehehehe.. tidak-tidak, itu dulu. Setelah masuk sekolah menengah atas aku bertemu dengan Hinata, dia yang mengajariku dan aku jadi menguasai semua mata pelajaran. Meski otakku masih jauh dibawah otak milik Teme."
Sakura tersenyum canggung. Ternyata dia telah berburuk sangka.
"Jaa, sebaiknya aku segera kembali ke kantor. Banyak pekerjaan yang harus aku lakukan." Naruto bangkit dari duduknya.
"Terimakasih atas bantuannya, Naruto-san."
"Jangan panggil aku dengan embel-embel –San. Aku risih sebenarnya dipanggil seperti itu," ucap Naruto, "Panggil saja aku Naruto, oke? Supaya kita bisa lebih akrab."
Sakura hanya menunjukan senyum canggungnya sebelum menganggukan kepalanya. Naruto segera masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah milik tuannya itu. Sakura menutup pintu rumah dan tersenyum, tuannya pasti beruntung memiliki sahabat seperti Naruto. Dia orang yang ceria dan menyenangkan, dia merasa nyaman berada disisi Naruto yang ceria.
.
.
"Teme!"
Sasuke baru saja selesai dengan pekerjaannya dikejutkan oleh teriakan sahabatnya itu.
"Hn, sudah selesai mengajari Sakura, dobe?" tanya Sasuke.
"Sudah dari tadi! Aku langsung ke kantor dan baru bisa kemari untuk menemuimu."
Sasuke memandang arloji di tangannya yang menunjukan pukul enam sore. Tidak terasa jika pekerjaannya sudah selesai dan dia ingin pulang.
"Hn."
"Temani aku makan ramen, teme!" ajak Naruto.
"Tidak mau."
"Mentang-mentang mendapatkan mangsa baru!" cibir Naruto, "Oi Teme! Jangan sakiti Sakura-chan, dia gadis yang polos dan baik hati."
"Hn." Sasuke memakai jasnya.
"Ngomong-ngomong, teme. Kenapa aku yang disuruh menjadi gurunya Sakura-chan? Bukankah Neji atau Shikamaru lebih pintar dariku."
Sasuke memandang Naruto sebelum mengambil tas kerjanya.
"Kalau mereka yang mengajari Sakura, bisa-bisa Sakura dibawa lari oleh mereka."
Naruto hanya bisa bengong ditempat.
.
.
Sakura langsung menyambut tuannya ketika mendengar suara mobil memasuki pelataran rumah. Sasuke tidak bisa menahan senyum tipisnya ketika melihat Sakura menyambutnya.
"Se-selamat datang, Sasuke-sama." Sakura menundukan kepalanya.
"Hn."
Sakura masih tidak berani menatap Sasuke, dan itu membuatnya sedikit terganggu.
"Ada apa, Sakura?" tanya Sasuke.
"Ma-maafkan aku, Sasuke-sama. Aku belum memasak makan malam apapun untuk anda, a-aku tidak tahu jika Sa-Sasuke-sama akan pulan lebih awal."
Sasuke tersenyum dan mengelus rambut merah muda Sakura dengan lembut.
"Tidak apa. Masakan aku sup ekstra tomat, mungkin aku akan mandi dulu."
Sakura mengangkat kepalanya dan memandang Sasuke. Dia merasakan sesuatu yang berdesir ketika menatap tuannya itu.
Tidak! Dia tidak boleh jatuh cinta kepada tuannya itu.
"Hn."
Lamunan Sakura buyar.
"Ba-baiklah Sasuke-sama, aku akan menyiapkan makan malam untuk anda."
.
.
Sasuke membiarkan air shower mengguyur tubuhnya. Dia masih tidak bisa mengenyahkan Sakura dari pikirannya. Entah mengapa, dia begitu takut kehilangan Sakura dan dia tidak mengerti dengan apa yang dia rasakan.
Seumur hidupnya, dia tidak pernah mengenal cinta lawan jenis. Baginya wanita yang mencintainya itu tidak pernah tulus, mereka hanya menginginkan kepopuleran, harta dan ketampanannya. Karena itulah dia tidak percaya dengan cinta dan tidak mengenal apa itu cinta.
Keluar dari kamar mandi, Sasuke memandang setumpuk pakaian yang ada di ranjangnya. Kedua sudut bibir Sasuke terangkat, gadis itu begitu perhatian padanya dan itu membuat dadanya semakin berdebar.
Sakura meletakan panci sup di tengah meja dan duduk manis menunggu tuannya muncul. Setelah ini, dia akan makan bersama tuannya yang tampan itu. Membayangkannya saja sudah membuat kedua pipinya memanas.
"Hn."
Sakura menolehkan kepalanya dan melihat Sasuke muncul dengan pakaian santainya. Tuannya itu segera mendudukan diri dihadapan Sakura, dengan cekatan gadis berambut merah muda itu mengambil makanan untuk Sasuke.
Mereka makan dalam diam, Sakura sesekali curi pandang kearah tuannya itu.
"Sakura, ada yang ingin aku tanyakan padamu."
Sakura yang baru memakan setengah makan malamnya memandang Sasuke. Pemuda berambut biru donker itu sudah selesai dengan makan malamnya dan sekarang sedang memandanginya.
"A-ada apa, Sasuke-sama?"
"Katakan alasanmu menjual diri malam itu di bar."
Sakura membulatkan matanya.
"Ke-kenapa Sa-Sasuke-sama ingin tahu?" tanya Sakura dengan gugup.
"Aku ingin tahu, kenapa kamu mentransfer banyak uang kepada Mebuki Haruno. Dia ibumu bukan?"
Sakura menundukan kepalanya dalam-dalam.
"I-iya, Sasuke-sama."
"Lalu, apa alasanmu menjual diri di bar malam itu?"
Sakura meneguk ludahnya sebelum menjawab.
"A-aku adalah seorang pelajar di Konohagakuen High School. Aku dibesarkan bukan dari golongan berada, ayahku seorang pekerja serabutan dan ibuku seorang penjahit. Aku memutuskan untuk sekolah ke kota karena tidak betah dengan kelakuan ayahku yang suka main perempuan. Baru-baru ini, ayah meninggalkan ibu dan menikah dengan wanita lain. Aku membutuhkan uang untuk menghidupiku dan ibuku, maka dari itu aku memutuskan untuk menjual diri. A-aku tidak ingin ibuku menderita lagi."
Sasuke menarik nafas panjang dan menyandarkan punggungnya. Sudah dia duga, jika Sakura menual dirinya bukan tanpa alasan. Tangannya merogoh sesuatu dan menyerahkannya kepada Sakura.
"A-apa ini, Sasuke-sama?" Sakura menatap buku tabungan dan kartu ATM yang diberikan Sasuke.
"Hn, itu untukmu. Aku sudah mengisinya dengan uangku, jadi kamu tidak perlu kesulitan jika ingin mengirimkan uang kepada ibumu."
"Ta-tapi, bagaimana Sa-Sasuke-sama mendapatkan tanda tanganku untuk membuat ini semua?" Sakura masih tidak percaya dengan apa yang diberikan Sasuke.
Sasuke mendenguskan wajahnya.
"Apa yang tidak bisa dilakukan oleh uchiha, hn?"
Sakura memandang ragu-ragu kearah buku tabungan dan kartu ATM yang diserahkan Sasuke.
"Ta-tapi, aku tidak bisa menerima semua ini. Sa-Sasuke-sama sudah memperbolehkanku tinggal disini, membelikanku baju dan menyekolahkanku homeschooling. Sasuke-sama tidak perlu melakukan yang lebih baik dari ini, aku tidak bisa menerimanya." Sakura menyerahkan kembali buku tabungan dan kartu ATM yang diberikan Sasuke.
"Hn. Itu bayaranmu ketika melayaniku, aku membelimu dan sudah sepantasnya kamu aku berikan sebuah gaji."
"Ta-tapi, Sasuke-sama-"
"Tidak ada penolakan, Sakura."
Akhirnya Sakura menerima buku tabungan dan kartu ATM yang diberikan Sasuke. Dia adalah budak yang dibeli oleh Sasuke, mengapa tuannya itu begitu memperlakukannya dengan baik.
"Satu lagi." Sasuke bangkit dan mengambil sebuah kotak.
"I-ini-" Sakura menatap tidak percaya kearah kotak yang diberikan Sasuke.
"Sudah sepantasnya kamu memiliki sebuah ponsel, itu bisa digunakan untuk menghubungiku."
Sakura tersenyum menatap Sasuke, dia tidak tahu harus membalas kebaikan tuannya itu dengan cara apa.
"Terimakasih, Sasuke-sama."
.
.
Sasuke sedang duduk menghadap laptop di ruang kerjanya. Sehabis makan malam, dia langsung masuk keruang kerjanya untuk mengerjakan beberapa dokumen yang dikirimkan anak buahnya melalui email.
Sasuke tidak bisa menahan senyumnya ketika teringat wajah bahagia Sakura. Dia tidak mengerti, kenapa hanya melihat wajah Sakura yang tersipu malu membuat hatinya membuncah bahagia. Mungkinkah dia telah jatuh cinta?
Sasuke menarik nafas panjang.
Tidak, dia tidak mungkin jatuh cinta kepada gadis itu. Dia tidak percaya dengan yang namanya cinta.
Lalu, kenapa jantungnya berdebar-debar jika berada di dekat Sakura?
Suara ketukan pintu membuat perdebatan hatinya terhenti. Melepas kacamatanya, Sasuke berdeham.
"Masuk saja."
Sesosok gadis berambut pink yang dibalut piyama muncul. Di tangan gadis itu, terdapat secangkir kopi hitam yang baunya menyapa indra penciumannya.
"Ada apa, Sakura?" tanya Sasuke.
"A-aku membuatkan kopi untuk Sasuke-sama." Sakura menjawab dengan gugup.
"Hn. Letakan saja disini."
Sakura meletakan kopi buatannya dihadapan Sasuke sebelum tersenyum.
"Apa ada yang anda butuhkan lagi, Sasuke-sama?" tanya Sakura dengan sopan.
"Hn, kemarilah."
Sakura berjalan mendekat dan sebuah kecupan lembut langsung diterimanya. Bibirnya dikulum dengan lembut oleh Sasuke.
"Hn, sebaiknya kamu segera tidur."
Sakura menganggukan kepalanya dan buru-buru keluar dari ruang kerja milik tuannya itu. Jantungnya berdegub kencang kala Sasuke mencium bibirnya dengan lembut.
Sasuke tersenyum lembut ketika Sakura berlari keluar ruangannya dengan gugup. Tuh, kan! Jantungnya berdegub dengan kencang lagi.
.
.
Meregangkan kedua tangannya, Sasuke menutup laptopnya. Jam sudah menunjukan pukul satu dini hari, kopi di cangkirnya sudah habis dan matanya sudah mulai terasa berat.
Bangkit dari duduknya, Sasuke segera keluar dari ruang kerjanya. Sakura pasti sudah tertidur lelap. Sasuke tidak bisa menahan senyumnya ketika membuka pintu kamarnya dan menemukan Sakura tertidur dengan lelap dan damai. Mendudukan dirinya di pinggir ranjang, sebelum pada akhirnya merebahkan dirinya di samping Sakura dan memeluk pinggang gadisnya itu dengan erat.
Dia menjadi kecanduan dengan bau harum tubuh Sakura. Sasuke semakin mengeratkan pelukannya sebelum akhirnya dirinya berkelana dialam mimpi.
oOo
Sasuke muncul dengan setelan pakaian kerjanya dan melihat Sakura sedang menyiapkan sarapan. Apron merah muda melekat di tubuh gadisnya itu dan pikiran kotor mulai menjalari otaknya.
Sakura terkejut ketika Sasuke memeluknya dari belakang dengan erat.
"Sasuke-sama?"
"Hn." Sasuke tersenyum tipis, "Kamu sangat seksi dengan apron itu. aku tidak bisa membayangkanmu mengenakan apron dalam keadaan telanjang."
Sakura bisa merasakan sebuah tonjolan mengenai bokong padatnya itu. ohh.. tuannya itu pasti sudah terangsang sekarang. Sasuke semakin mengeratkan pelukannya sebelum mencium pundak Sakura dengan lembut.
"Engghh.. Sasuke-samaahh.."
Sasuke mencium bibir Sakura dengan penuh nafsu. Melumat bibir merah merona itu dan menjilat lidah gadisnya itu. Sakura hanya bisa pasrah menerima ciuman-ciuman dari tuannya itu.
Ciuman itu berpindah menuju leher Sakura. Pemuda berambut emo itu membalikan badany gadisnya dan mendorong Sakura hingga gadis itu terjatuh ke atas sofa. Melihat wajah memerah Sakura, saliva menempel di bibir dan apron yang melekat di tubuhnya membuat ereksinya semakin tak terbendung.
Dengan tidak sabar, tangannya membuka apron yang dikenakan Sakura sebelum membuka T-shirt yang dikenakan gadis itu. Sasuke sungguh sangat menyukai pemandangan indah di hadapannya, dimana Sakura hanya mengenakan sebuah bra dan celana pendek yang melekat di tubuhnya.
"Sasuke-kunnhh.." Sakura tidak bisa menahan erangannya ketika Sasuke meremas payudaranya dan menciumi lehernya.
Satu tangan Sasuke beralih menuju punggung Sakura untuk membuka pengait bra kekasihnya itu. Erangan dan desahan Sakura, menjadi melodi tersendiri untuk meningkatkan gairahnya sebagai lelaki.
Onyxnya menangkap gundukan kenyal dengan puting kecoklatan yang meminta mulutnya untuk berpartisipasi disana. Puting yang menegang itu menantang mulutnya untuk memberi kenikmatan yang lebih.
"Sasuke-kunhh... aaahh.. inihhh sunguh sangathhh.. umhhh.." Sakura menyodorkan payudaranya ketika Sasuke melumat keduanya dengan penuh gairah. Sakura semakin mendesah hebat dan dia tidak ingin semuanya ini berakhir, dia ingin Sasuke memanjakan tubuhnya yang lain.
Celananya kini sudah hilang entah kemana, begitu pula dengan pakaian Sasuke dan menyisakan boxer yang dikenakan pemuda itu. Sasuke masih tak henti-hentinya memanjakan bukit kenyal milik kekasihnya itu. Dia sangat menyukai aset milik wanita itu, dimana benda itu begitu padat dan kenyal.
Satu tangannya masuk ke liang surgawi dimana kenikmatan telah menantinya disana. Memasukan dua jarinya, dia merasakan kewanitaan Sakura begitu hangat menjepitnya. Membayangkan miliknya yang masuk membuat penisnya semakin menegang.
"Sahsssuhkeeehh.. uaaahh... ummhhhh..." Sakura tak henti-hentinya menggeliatkan tubuhnya. Dia ingin milik Sasuke memasukinya dan memberikannya kenikmatan.
"Masukhkaannhh.. aaggghhhh.."
Sasuke menyeringai setelah mendengar erangan Sakura.
"Masukan apa, Sakura?"
Wajah Sakura benar-benar menggoda sekarang. Sakura memandang Sasuke yang sedang meremas kedua dadanya.
"Penisshh.. muuhhhh..."
Sasuke tersenyum namun tidak menuruti keinginan Sakura. Dia menurunkan wajahnya untuk melihat kewanitaan Sakura yang menggoda imannya. Gundukan berwarna pink, tembam dan berkedut. Mengeluarkan lidahnya, Sasuke menjilatnya sebelum mengemut kewanitaan Sakura.
"Huaaahh! Apa ittuhhh.. umhhh.. yeaaahhh.. begitu.. terussshhh.."
Sakura mengangkat pinggulnya ketika lidah Sasuke melesak semakin dalam. Sasuke begitu menyukai liang kewanitaan Sakura yang hangat.
"Ugghh.. aku mauhh.. aaaahhh..!"
Sakura sedikit lagi akan mengeluarkan orgasmenya, tapi tidak tersalurkan ketika Sasuke menghentikan kegiatannya.
"Ke-kenapah berhentihh.. sasuke-samaaahh.." Sakura merengek ketika kegiatan Sasuke berhenti.
"Aku tidak ingin kamu klimaks sebelum merasakan milikku. Aku akan memberikanmu klimaks yang hebat dengan milikku."
Sasuke melebarkan kedua paha Sakura sebelum mengocok penisnya sendiri. Menggesekan penisnya ke bibir Vagina Sakura, benda kebanggan millik lelaki itu melesak masuk.
"Ahhhhhh!"
Sasuke langsung menggenjot Sakura dengan sekuat tenaga. Dia tidak peduli jika pelayannya yang lain akan melihat kegiatan mereka diatas sofa, yang penting nafsu birahinya harus dituntaskan.
.
.
"Ugghh.. Sasukeeehh.. samaaahhh.."
Sudah tiga ronde mereka jalani dan sekarang Sakura berada dalam posisi doggy style. Sasuke selalu suka posisi ini, dia bisa melihat penisnya yang mengobok-obok liang vagina Sakura yang sempit dan memanjakannya.
"Ugghh.." Sakura mendesah hebat ketika Sasuke meremas kedua payudaranya yang bergoyang-goyang dan memilin putingnya.
"Ssshh.. milikmu meremasku.. sshh.. aku mau keluar.."
Sasuke memejamkan matanya dan semakin bersemangat memompa batang kejantannya kedalam vagina nikmat milik Sakura. Tak berapa lama, Sasuke mendesah dibarengi dengan desahan hebat Sakura dan keduanya ambruk diatas sofa.
"Kau hebat, Sakura," bisik Sasuke, "Liangmu begitu sempit dan nikmat."
"Milikku pasti lecet, Sasuke-sama." Sakura berkata dengan pelan.
"Hn?"
"Tidak-tidak." Sakura mencoba tersenyum.
Sebuah langkah kaki terdengar mendekat dan sebuah suara mengagetkan mereka.
"Ohayou, Otouto!"
Itachi membeku ditempat ketika melihat posisi Sasuke bersama seorang gadis berambut pink di sofa. Dia bisa merasakan miliknya menegang karenanya. Sakura buru-buru menutupi tubuhnya dengan apapun yang dia bisa, begitu pula dengan Sasuke.
"Baka Aniki! Pergi dari sini!" teriak Sasuke.
Itachi tersadar dan tersenyum geli.
"Maafkan aku, baka otouto. Aku pasti mengganggu kegiatan kalian. Mungkin aku bisa menunggu di halaman saja." Itachi segera melangkahkan kakinya menuju halaman rumah milik adiknya itu.
"Si-siapa dia, Sasuke-sama?" tanya Sakura dengan gugup.
"Hn, dia kakakku."
Sakura mematung. Kakak? Kakak tuannya baru saja melihatnya bercinta dengan adiknya. Dia merasa malu sekali karena ini.
"Pakai pakaianmu, Sakura. Aku akan menemui baka aniki itu." Sasuke mengenakan celananya dan berjalan menuju halaman rumahnya.
Sakura tidak bisa menahan rona merah diwajahnya. Segera dia memakai pakaiannya sebelum ada orang lain yang melihatnya.
"Ada apa, baka aniki?" Sasuke muncul dengan wajah datarnya.
"Apa aku menganggumu, baka otouto?" Itachi tersenyum menggoda.
"Diamlah, baka!" Sasuke mendenguskan wajahnya, membuat tawa Itachi meledak.
"Ada apa kamu kerumahku pagi-pagi seperti ini?"
"Hanya mengunjungi adik kecilku, dan aku malah diberi kejutan melihatmu telanjang bersama seorang wanita." Itachi tersenyum, "Kamu sudah berani membawa wanita kerumahmu, aku bertaruh kali ini kamu pasti serius."
Sasuke mendenguskan wajahnya.
"Sebaiknya kamu segera pergi, baka aniki."
"Hahahaha.. baiklah, baiklah. Lanjutkan saja kegiatanmu, jangan lupa pakai pengaman jika tidak ingin kekasihmu itu hamil." Itachi mengedipkan sebelah matanya.
"Cepat pergi dari sini, baka Itahi!"
.
.
Sasuke mengusap rambutnya ketika pekerjaannya yang begitu banyak belum juga selesai. Sebenarnya dia ingin segera pulang dan bertemu dengan Sakura, tetapi sepertinya niatnya tidak akan bisa terlaksana.
"Sasuke."
Sasuke mengangkat kepalanya dan melihat Kakashi datang membawa secangkir kopi.
"Hn."
"Aku membawakanmu kopi." Kakashi mendudukan diri di hadapan Sasuke.
"Hn, terimakasih."
Kakashi tersenyum di balik maskernya. Kedatangan gadis berambut pink itu mampu merubah sosok Sasuke menjadi sedikit lebih lembut.
"Kenapa belum pulang?" tanya Sasuke.
"Apa perlu aku menemanimu lembur?"
"Hn. Apa Rin tidak menunggumu dirumah?"
"Tentu saja. aku sebenarnya ingin pulang, tetapi aku tidak mungkin meninggalkanmu lembur sendirian."
"Aa."
"Sebaiknya kamu segera menikah, Sasuke." Kakashi memberi saran, "Kamu akan merasakan betapa menyenangkannya ketika ada seseorang yang menyambutmu, mengkhawatirkanmu dan perhatian padamu. Sakura mungkin orang yang cocok."
Sasuke mendenguskan wajahnya.
"Kenapa aku harus melakukan itu?"
"Kamu sudah matang untuk menikah. Aku melihat Sakura membuatmu terlihat sedikit lembut dan hangat. Aku tahu kamu peduli padanya, sebaiknya kamu segera menikahinya."
Sasuke menyeruput kopinya.
"Sebaiknya kamu pulang, Kakashi."
Kakashi membulatkan matanya.
"A-apa?"
"Rin pasti menunggumu, aku bisa mengerjakan berkas ini dirumah. Aku juga ingin segera pulang." Sasuke memakai jasnya dan segera bangkit, "Ngomong-ngomong, terimakasih untuk kopinya. Kamu asisten yang pengertian."
Kakashi mendenguskan tawanya ketika Sasuke berjalan meninggalkannya. Pemuda yang sejak lama dia kenal dingin, sudah mulai berubah berkat kedatangan gadis berambut merah muda itu. Dia yakin jika suatu hari mereka berdua akan bersatu.
"Dasar dia itu."
.
.
Sasuke memarkir mobilnya sembarangan dan masuk ke dalam rumahnya. Dia bisa mendengar suara televisi dinyalakan. Onyxnya menangkap sosok Sakura yang tertidur di ruang keuarga sembari memeluk novelnya. Gadisnya itu pasti ketiduran setelah nekat ingin menunggunya pulang.
Entah mengapa, melihat wajah damai gadisnya itu membuat rasa lelahnya menghilang. Dia segera menggendong Sakura dan merebahkan gadis itu dengan hati-hati diatas ranjangnya. Setelah berganti pakaian, dia merebahkan diri di sebelah Sakura dan memeluknya dengan erat.
"Oyasumi, Sakura."
.
.
.
.
.
-Bersambung-
.
.
.
.
Catatan kecil author :
Terimakasih banyak untuk yang sudah mendukung dan memberi semangat di kotak review! Ini udah updet kilaaaaattt lhoo :D pokoknya ide pasaran dan gak greget sama sekali -_-
Sampai ketemu di chap selanjutnya!
.
.
Balasan review :
Ciheelight : Salam kenal juga :D udah di updet kok :D
Mitress Blueberry : Hahaha.. makasih nanti akan diganti menjadi decitan ranjang kok, tenang aja :D
Berithlslies : itu masih mula banget kok, nggak hot sama sekali :3 malah menurutku nggak kerasa lemonnya :D makasih ya, udah updet kok.
QRen : Udah updet.. makasih ya
Bandung Girl : udah updet..
Mantika Mochi : iya, konfliknya masih samar-samar.
Wichan : udah updet kok
Michelle : salam kenal juga :D udah updet :D
: ah masa? :3 udah dilanjut kok ini :D
Ryanachan : sudah dilanjut.
Hyuuga Dekita : udah dilanjut ini :D
Sasara Keiko : Hahaha.. makasih Sasara-chan! Sudah di updet lhooo..
Misikaken : sudah dilanjuttt..
Hanazono Yuri : Udah dilanjut kok..
.129537 : aku masih pemula, jadi belom bisa bikin yang hard lemon :3
Megaa : Hahaha... sudah dilanjut kok..
Azi-chan : Salam kenal juga :D makasih ya, udah di updet lhoo :D
Kyuaiioe : sudah dilanjut belom bisa bikin lemon yang kecutt.. :D
Herawaty659 : nggak janji ya.. udah dilanjut kok ini..
Oktf : sudah dilanjuttt..
Ninjatutrle402 : emang sengaja dibikin pake aku-kamu, emang agak aneh sih.. kebiasaan pake aku-kau, waktu bikin karangan buat tugas, malah disalahin sama gurunya. Jadi mulai membiasakan diri pake aku-kamu deh tapi, makasih sarannya yaa..
Ikalutfi97 : Hahaha.. bolehlah XD sudah dilanjuttt..
Manda Vvidenarint : Nggak janji yaa.. makasih..
Rereuchiha : Hahaha.. sudaaahh dilanjut XD
Caren : makasihhh.. sudah dilanjuttt..
Naida clara : makasihhh.. nggak janji konfliknya dibikin berat yaa.. :D
Maikaze-chan : Yah, mungkin nanti bisa dibuat flashbacknya..
GaemSJ : bukaann.. ini murni ide author sendiri :3
Luca Marvell : Itachi ada kok, tapi nggak jadi tokoh utama.. yah, mungkin itu bisa jadi rahasia dan bikin kamu semakin penasaran :D
Queenshila : sudah diupdettt XD
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penulisan nama :D
-Aomine Sakura-
