My Slave Is My Love
.
.
Uchiha Sasuke, Haruno Sakura
.
.
Masashi Kishimoto
.
.
©Aomine Sakura
.
.
Dilarang COPAS dan PLAGIAT dalam bentuk APAPUN!
Don't Like Don't Read
Selamat Membaca!
oOo
Sasuke sudah siap dengan pakaian kerjanya, memandang Sakura yang telah menyiapkan sarapan untuknya. Melihat tuannya sudah siap, Sakura berjalan mendekat dan memakaikan dasi untuk Sasuke. Sudah menjadi kebiasaan baginya untuk memakaikan dasi Sasuke.
"Hn. Apakah siang nanti kamu sibuk?" Sasuke memandang Sakura.
"Umm.. sepertinya tidak. Ada apa?"
"Antarkan makan siang untukku. Jangan terlambat."
Sakura tidak bisa menahan senyumnya dan menganggukan kepalanya.
"Baiklah, ayo kita sarapan."
Naruto tersenyum membaca hasil pekerjaan milik Sakura. Selama tiga bulan mengajar Sakura, banyak peningkatan yang dialami Sakura. Gadis bermata emerald itu termasuk gadis yang pintar.
"Sebentar lagi kamu akan menjalani ujian kelulusan, apakah kamu siap?" tanya Naruto.
"Umm.. iya." Sakura menunjukkan cengirannya.
Tiga bulan berteman dengan Naruto, membuat sifat malu-malunya menghilang. Sikap Naruto yang seenaknya dan ceria, membuatnya cepat akrab.
"Baiklah. Ngomong-ngomong Sakura, aku masih penasaran dengan kehidupanmu. Kenapa kamu sampai menjual dirimu." Naruto memandang Sakura.
Sakura menundukan kepalanya.
"Ada sesuatu hal yang membuatku harus melakukan hal itu."
"Katakan saja, Sakura-chan. Kamu sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Mungkin aku bisa membantumu."
"Itu tidak perlu, Naruto. Kamu mau menjadi guruku saja aku sudah senang." Sakura tersenyum.
"Haahh.. baiklah, sebaiknya aku segera pulang. Jaa-"
Sakura menganggukan kepalanya dan mengantarkan Naruto hingga pintu rumahnya.
.
.
"Haahh.." Sakura menarik nafas panjang. Dia bingung harus memakai pakaian apa untuk ke kantor Sasuke.
"Kenapa aku harus bingung? Kan hanya ke kantor Sasuke." Sakura kembali memilih pakaian yang cocok untuknya.
"Sakura-chan!"
Sakura menolehkan kepalanya dan terkejut melihat Rin berdiri di depan pintu kamarnya sedang tersenyum.
"Ah, ada apa, Rin?" tanya Sakura.
"Tidak ada apa-apa sih. Sasuke menyuruhku untuk menemanimu ke kantornya. Katanya kamu tidak mungkin datang ke kantornya sendirian," ucap Rin.
"Dimana Kakashi?" Sakura menaikan satu alisnya.
"Entahlah, katanya dia sedang sibuk." Rin tersenyum, "Nah, sekarang aku akan memilihkan pakaian untukmu. Tidak mungkin kamu pakai pakaian biasa saja ke kantor Uchiha itu."
Sakura tersenyum dan memilih menunggu Rin memilihkan baju untuknya. Tiga bulan tinggal di rumah milik tuannya, membuatnya akrab dengan Rin. Baginya, Rin itu sudah menjadi kakak baginya.
"Nah, pakai blus ini saja." Rin menyerahkan sebuah blus berwarna pink.
"Um.. baiklah. Aku akan bersiap-siap." Sakura mengambil blus yang diberikan Rin.
Sasuke menarik nafas panjang ketika rapat yang dia lalui sudah selesai. Memandang arlojinya, sudah waktunya jam makan siang dan Sakura belum juga datang. Sebenarnya beberapa koleganya mengajaknya makan siang bersama, tapi dia ingin melihat wajah gadisnya itu. Menyuruh Sakura membawakan makan siang merupakan ide yang bagus untuk bisa bertemu dengannya.
"Sasuke-sama." Sakura melongokan kepalanya.
"Sakura." Sasuke tidak bisa menahan senyum tipisnya, "Masuklah."
Sakura tersenyum malu-malu dan memasuki ruang kerja Sasuke. Pemuda bermata onyx itu memandang Sakura yang mengenakan sebuah blus yang menunjukan lekuk tubuhnya. Ada sesuatu dibawah sana yang berteriak minta dipuaskan.
"Kemari, Sakura."
Sakura meletakan kotak makannya di meja Sasuke.
"Duduk di pangkuanku."
"A-apa?" Sakura memandang Sasuke dengan pandangan tidak percaya.
"Sakura." Sasuke mendenguskan wajahnya.
Mengerti dengan maksud tuannya itu, tanpa diperintah dua kali segera menuruti perintah Sasuke. Sakura duduk di pangkuan Sasuke dan segera saja bibirnya menjadi santapan Sasuke. Dengan ganas, Sasuke mengekploitasi bibir Sakura, melumat dan memasukan lidahnya.
"Ugghh.. Sasuke-samaahh.." Sakura tidak bisa menahan desahannya di sela-sela ciumannya.
Sasuke tidak diam meremas gundukan kenyal di dada Sakura sebelum akhirnya mendaratkan wajahnya ke payudara Sakura yang menggiurkan itu. ah- dia selalu suka aset milik Sakura itu.
"Ahh.. aahh.."
Secara tidak langsung, bagian bawah Sakura menggesek penis Sasuke yang langsung menegang.
"Oi! Otouto-" perkataan Itachi menggantung di udara ketika melihat apa yang sedang dilakukan Sasuke.
"Grrhh.. kau menggangguku, Itahi!" umpat Sasuke.
"Hehehe.. aku hanya ingin menyampaikan satu hal saja kok." Itachi tersenyum tanpa dosa.
Sakura ingin bangkit dari pangkuan Sasuke, namun tangan Sasuke malah semakin erat memeluk pinggangnya.
"Katakan saja."
Itachi menarik nafas panjang.
"Sebelum itu, apa Sasuke suka sekali bermanja-manja seperti itu padamu?" goda Itachi.
Sakura bisa merasakan wajahnya memanas, pasti sekarang wajahnya memerah.
"Umm.. etto.." Sakura tidak tahu harus menjawab apa.
"Grrhh.. Sakura tidak mungkin menjawabnya. Baka aniki! Sebaiknya kamu pergi jika hanya mengangguku!"
"Hahaha.. baiklah-baiklah. Aku hanya ingin menyampaikan, jika ayah ingin kamu datang makan malam di mansion Uchiha. Kamu kan tahu sendiri, jika kamu sudah hampir satu tahun tidak pulang."
Sasuke menarik nafas panjang.
"Baiklah, aku akan datang."
Itachi tersenyum.
"Baguslah, ayah bisa marah jika kamu tidak datang." Itachi memandang Sakura sebelum mengedipkan satu matanya, "Sebaiknya kamu juga datang, Sakura-chan."
"Grrhh.. pergi dari sini, keriput gondrong!"
"Baiklah, baiklah, dasar pantat ayam tidak sabaran." Itachi segera keluar dari ruangan adiknya itu.
Sasuke tersenyum mesum ketika tinggal dirinya bersama Sakura saja.
"Puaskan aku, Sakura."
.
.
Sasuke memejamkan matanya ketika Sakura menggulum penisnya dan memasukannya ke dalam mulut sempitnya. Peduli amat dengan dokumen-dokumen yang membuat kepalanya itu terasa mau pecah, sekarang waktunya dia memanjakan diri.
"Ummhh.." Mata emerald Sakura menatap Sasuke sembari menggulum penis yang telah menegang itu.
"Cukuphh.. Sakuraahh.." ucap Sasuke, "Sekarang giliran liang sempitmu yang memanjakanku."
Sakura menurut saja dan menaikan roknya sebelum akhirnya menurunkan celana dalamnya. Blusnya sudah hilang entah kemana, menyisakan bra yang sudah terangkat dan memperlihatkan payudara dengan puting yang menggiurkan itu.
Sakura memposisikan diri di pangkuan Sasuke dan memasukan penis besar dan gemuk milik Sasuke.
"Ugghh.." Sakura memejamkan matanya dan terus memasukan penis itu hingga mentok.
Dengan instingnya, Sakura menaik turunkan tubuhnya. Membiarkan penis besar itu mengobok-obok vaginanya.
"Iniiiihhh.. uuuhhh.. dalamhh sekaliiihh.." Sakura mendongakan kepalanya, merasakan sedalam apa penis Sasuke memasuki liangnya.
Sasuke memejamkan matanya, menikmati pijatan lembut dinding vagina milik Sakura. Hah.. vagina Sakura memang selalu bisa memuaskannya.
Dia segera menenggelamkan kepalanya kearah payudara Sakura sebelum melumat putingnya, menggigit bahkan menyusu. Ini benar-benar nikmat.
"Sasukeeehh.. samaaahh.." Sakura benar-benar menikmati seks ini.
"Jangan panggil aku Sasuke-sama. Panggil aku Sasuke-kun," perintah Sasuke.
"Sasuke-kunnhh.. kyaaaahhh!" Sakura mendesah hebat kala pinggul Sasuke ikut bergerak, menumbukan kejantanannya pada vaginanya.
"Akuhh.. akuhh mauhh.. aaaaahhhhh!" Sakura ambruk menimpa Sasuke.
Sasuke masih belum puas karena dia belum keluar. Dia akan terus memompa Sakura hingga dia sendiri merasa puas.
.
.
Sakura duudk di dalam mobil Sasuke dengan tubuh yang benar-benar kelelahan. Melayani nafsu tuannya itu tidak akan ada habisnya.
"Jam makan malam akan segera datang, sebaiknya kita segera bersiap." Sasuke menghentikan mobilnya di butik milik Hinata.
"Kita mau apa kesini, Sasuke-sama?" tanya Sakura.
"-Kun! Panggil aku dengan embel-embel itu."
Sakura menganggukan kepalanya dengan ragu-ragu.
"Baiklah, Sasuke-kun."
Sasuke tersenyum tipis. Mereka segera memasuki butik milik Hinata.
"Sa-Sasuke-kun, Sakura-chan," ucap Hinata, "A-ada yang bisa aku b-bantu?"
"Make over dia secantik mungkin. Aku ingin dia tampil cantik malam ini." Sasuke melirik Sakura.
"Ba-baiklah, aku akan melakukannya. A-ayo, Sa-Sakura-chan."
Sakura segera mengikuti langkah Hinata dan meninggalkan Sasuke. Pemuda beramut emo itu mendudukan dirinya di salah satu sofa dan memejamkan matanya, mungkin dia bisa tidur sebentar sembari menunggu Sakura.
Satu jam kemudian, Sakura muncul dengan gaun malam yang menampilkan lekuk tubuh sexynya. Rambut pink itu diikat keatas, menampilkan leher jenjang yang dibalut sebuah kalung dengan bandul berlian.
"Sasuke-kun," panggil Sakura malu-malu.
Sasuke membuka matanya dan tidak berkedip menatap Sakura. Matanya langsung tertuju kearah payudara Sakura yang terlihat sangat padat dan siap untuk dilumat. Sial! Pikiran kotornya kembali lagi.
"Hn."
"Ba-bagaimana penampilanku?" tanya Sakura menundukan kepalanya.
"Cantik dan seksi. Aku tidak sabar untuk membawamu ke ranjang dan menyetubuhimu semalam suntuk."
Sakura tidak bisa menahan rona merah yang menjalari kedua pipinya.
.
.
Sakura benar-benar mengagumi rumah megah di hadapannya ini, Mansion Uchiha memang megah dan mewah. Sasuke turun dari mobilnya diikuti Sakura, pemuda itu menggenggam tangan Sakura sembari memasuki mansion Uchiha.
Sakura bisa mencium aroma maskulin tuannya itu. Meski tadi tuannya hanya berganti pakaian dan tidak mandi, tetapi aroma maskulin itu masih saja memabukan.
"Nah, itu dia Sasuke."
Mikoto langsung berteriak ketika melihat siapa yang Sasuke bawa.
"Siapa dia, Sasuke-kun? Ibu pikir kamu tidak akan pernah menikah seumur hidupmu!" pekik Mikoto.
Sasuke menarik nafas panjang.
"Ibu terlalu melebih-lebihkan, dia hanyalah wanitaku," ucap Sasuke.
"Dia pasti lebih dari wanita yang kamu kencani itu, Sasuke-kun." Mikoto memandang Sasuke, "Berhentilah bermain-main, ibu selalu mengatakannya padamu. Baguslah jika pada akhirnya kamu sudah mendapatkan tambatan hatimu."
Sasuke mendesah lelah, "Ibu."
"Siapa namamu?" tanya Mikoto tersenyum ramah.
Sakura tersenyum malu-malu.
"Haruno Sakura, bibi. Salam kenal."
"Cantik sekali! Dimana kamu mendapatkan gadis secantik ini! Fugaku-kun, ayo kemari dan lihat calon menantumu ini."
Sakura segera membungkukan badannya ketika Fugaku berjalan mendekat.
"Hn. Lumayan."
"Hanya lumayan? Kamu tidak ada bedanya dengan Sasuke," ucap Mikoto, "Ayo masuk, Sakura-chan. Tahu tidak, kamu adalah wanita pertama yang dibawa Sasuke-kun."
Sakura tersenyum dan memandang Sasuke yang tidak menampilkan ekspresi apapun.
"Sakura-chan! Akhirnya kamu datang juga." Itachi tersenyum menyambut Sakura dan Sasuke.
Sasuke mendenguskan wajahnya.
"Calon adik iparmu cantik sekali bukan, Itachi?" senyum Mikoto.
"Ya, tentu saja."
"Ibu, sudah berapa kali kukatakan kalau Sakura itu bukan calon istriku."
"Kalau begitu, kamu mau tidak menjadi istriku saja, Sakura-chan?" goda Itachi.
Ditanya begitu membuat Sakura menjadi gugup.
"Itahi sialan!" Sasuke memandang Itachi.
"Ibu, lihatlah sikap tsundere Sasuke ini." Itachi tidak bisa menahan tawanya.
Sasuke mendenguskan wajahnya.
"Sasuke-kun!"
Sakura membulatkan matanya ketika seorang wanita berambut merah langsung memeluk Sasuke dengan erat.
"Karin, lepaskan Sasuke."
Karin menolehkan kepalanya dan memandang Suigetsu dengan tatapan sebal.
"Aku kan kangen dengan Sasuke-kun!" ucap Karin.
"Kamu itu sedang mengandung anakku, jangan bersikap seperti itu."
Karin segera melepaskan pelukannya dan merengut kesal.
"Suigetsu jelek!"
"Ya, ya, terserah." Suigetsu memandang Sasuke, "Apa kabar, Sasuke?"
Sasuke tersenyum, "Hn. Baik. Apa yang kamu lakukan disini?"
"Ibumu yang mengundangmu. Beliau juga mengundang Juugo, tapi dia tidak bisa datang."
Sasuke hanya menganggukan kepalanya.
"Siapa yang kamu bawa ini, Sasuke-kun?" tanya Karin.
"Hn, dia Haruno Sakura."
"Ah- salam kenal Sakura. Namaku Hozuki Karin dan itu suamiku, Suigetsu." Karin tersenyum sembari menaikan kacamatanya.
Sakura tersenyum menanggapi.
"Apa dia calon istrimu?" Karin memandang Sasuke.
"Bukan, dia hanya wanita yang menjadi pemuas nafsuku."
"Mulutmu masih jahat seperti biasanya, Sasuke. Tega sekali mengatakan hal itu," ucap Suigetsu.
"Hn."
Sakura melirik Sasuke sebelum menundukan kepalanya. Tentu saja, dia hanyalah pemuas nafsu bagi Sasuke.
"Baiklah, ayo kita segera makan." Mikoto tersenyum.
.
.
"Ne, Sakura."
Sakura yang sedang memakan makan malamnya memandang Karin.
"Ada apa, Karin-san?" tanya Sakura.
"Apa kamu tahu, jika kamu adalah wanita pertama yang dikenalkan Sasuke kepada keluarganya?"
Sakura menganggukan kepalanya.
"Bibi Mikoto sudah mengatakan hal itu tadi."
"Kamu tahu tidak, kenapa Sasuke tidak suka terikat dengan hubungan serius?" bisik Karin.
Sakura memandang Karin, dia tertarik dengan topik pembicaraan ini.
"Memangnya kenapa?"
"Dahulu, dia pernah berpacaran dengan primadona sekolah, namanya Shion. Tetapi, ternyata Shion berselingkuh di belakang Sasuke dan menjadi simpanan pria hidung belang yang mampu membelikannya berbagai macam barang. Sejak saat itulah, Sasuke tidak percaya dengan yang namanya cinta dan wanita. Hatinya menjadi beku sejak saat itu, karena penghianatan yang dilakukan Shion yang notabene adalah cinta pertamanya."
"Aku bisa mendengarmu, Karin."
Karin melirik Sasuke yang dengan tenang memakan makan malamnya.
"Memangnya kenapa kalau aku menceritakan hal ini kepada Sakura."
"Dia tidak berhak tahu tentang masa laluku. Dia hanyalah pemuas nafsuku yang aku beli."
Sakura menundukan kepalanya. Kata-kata Sasuke benar-benar menyayat hatinya, namun dia kembali menekankan kalau apa yang dilakukan Sasuke hanyalah karena dia adalah budaknya. Dia cukup tahu diri untuk tidak berharap lebih.
"Sebaiknya aku segera pulang." Sasuke bangkit dari duduknya.
"Kenapa cepat sekali?" tanya Mikoto dengan nada kecewa.
"Sakura akan kelelahan jika pulang terlalu malam."
"Dia bisa menginap disini," bujuk Mikoto.
Sasuke mendesah lelah.
"Mungkin lain kali. Ayo Sakura."
Sakura membungkukan badannya sebelum akhirnya mengikuti langkah Sasuke. Tidak ada yang berbicara diantara mereka sepanjang perjalanan pulang, bahkan hingga Sasuke berganti pakaian dan tidur. Sakura menarik nafas panjang dan merebahkan diri di samping Sasuke, sekarang dia tahu mengapa tuannya itu tidak pernah membawa seorang wanita untuk dikenalkan kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya.
"Pasti kamu sangat sakit hati karena itu," bisik Sakura mengusap pipi Sasuke dengan lembut, "Jika aku jadi kamu, mungkin aku juga akan merasakan hal yang sama."
Sakura kemudian memejamkan matanya dan memasuki alam mimpi.
Sasuke membuka matanya dan memandang Sakura yang tertidur dan terdengar dengkuran halus. Tangannya segera melingkari pinggang Sakura dan kemudian dia tertidur lelap.
oOo
Sasuke tersenyum ketika Sakura memasakan sarapan untuknya. Dia sudah siap dengan pakaian kerjanya dan sekarang sedang duduk di kursi makan. Sakura menghidangkan sepiring sup miso dengan ekstra tomat kesukaan Sasuke.
Selagi tuannya memakan sarapannya, Sakura tenggelam dalam pikirannya. Tidak, dia tidak boleh jatuh cinta pada Sasuke apapun yang terjadi. Dia hanyalah pemuas nafsu seperti yang Sasuke katakan semalam. Dia tidak lebihnya pelacur yang hanya melayani diatas ranjang. Namun, tidak bolehkah dia berharap?
"Hn, apa yang kamu lamunkan?"
Sakura memandang Sasuke yang menatapnya keheranan.
"Tidak ada, Sasuke-kun."
Sasuke merasakan ponselnya bergetar, memandang Caller ID di layar ponselnya, tangannya segera mengusap layar ponselnya. Dengan seksama, dia mendengarkan apa yang si penelpon ucapkan.
"Hn, aku akan segera kesana."
Sakura memandang Sasuke dengan pandangan keheranan. Pemuda itu bangkit dan mencium puncak kepala Sakura dengan lembut.
"Aku harus menemui seseorang, aku berangkat."
Gadis berambut bubble gum itu mengantarkan Sasuke hingga pintu sebelum akhirnya pemuda itu hilang di dalam mobilnya. Ada yang aneh dengan sikap pemuda itu setelah menerima telepon.
Menarik nafas panjang, dia harus segera bersiap untuk melakukan home schoollingnya.
.
.
.
.
"Hn."
Sasuke menghampiri seorang wanita berambut pirang dan mencium bibirnya dengan lembut.
"Shion, aku merindukanmu."
.
.
.
.
.
.
TBC
Duhh.. entah ini udah berapa bulan ya? Ini republishnya.. :3 karena banyak permintaan untuk di repub dan setelah dibaca ulang kok kurang mantep, akhirnya berhasil ngerepub fict ini.. :3 maap banget atas keterlambatan ini dan gabisa ngebalesin review kalian satu-satu.. mungkin beberapa readers udah tahu jalan ceritanya kan? Tapi ini ada yang dirombak dan dirubah.. :)
Pokoknya, ditunggu aja chap selanjutnya ya!
-Aomine Sakura-
