My Slave Is My Love

.

.

Uchiha Sasuke, Haruno Sakura

.

.

Masashi Kishimoto

.

.

©Aomine Sakura

.

.

Dilarang COPAS dan PLAGIAT dalam bentuk APAPUN!

Don't Like Don't Read

Selamat Membaca!

oOo

Sakura menarik nafas panjang dan mulai mengerjakan soal-soal di hadapannya. Naruto selaku guru Home Schoollingnya memperhatikan perkembangan Sakura, sejauh mana muridnya ini mulai berkembang.

Naruto akui, Sakura tidak hanya cantik tetapi juga pintar. Dia bisa langsung menyerap apa yang diajarkannya dengan cepat dan memahaminya dalam sekejap. Benar-benar otak seperti milik Uchiha, wajar saja jika Sasuke memilih gadis itu.

"Sakura-chan, apakah kamu akan datang ke pesta ulang tahun Hinata?" tanya Naruto memandang Sakura.

"Hinata-san akan ulang tahun?" tanya Sakura. "Sebenarnya aku ingin datang, tetapi jika tidak dengan Sasuke-kun, aku tidak bisa datang."

"Sekali-kali jadilah pembangkang, Sakura. Apa salahnya datang ke pesta ulang tahun Istriku." Naruto menggenggam tangan Sakura dengan erat. "Jangan lupa, kamu harus datang."

Sakura menganggukan kepalanya. Ragu-ragu dengan dirinya sendiri.

.

.

"Aku juga merindukanmu, Sasuke-kun." Shion melepaskan pelukan pemuda di hadapannya dan memandangnya lekat-lekat.

Tidak ada yang berubah dari pemuda itu, masih tetap sama. Kharisma dan ketampanannya juga semakin terlihat dengan jelas. Sejenak, dia merasa kembali ke masa-masa sekolah menengah dulu. Dimana dia bertemu dengan Sasuke, jatuh cinta padanya, dan juga meninggalkannya.

Shion tersenyum pahit ketika kenangan itu kembali muncul. Dia meninggalkan Sasuke bukan tanpa alasan. Dia hanya tidak kuat dengan sifat posesif dan protective yang pemuda itu lakukan. Dia terlalu bodoh meninggakan Sasuke saat itu. Dan dia menyesalinya.

Dia tidak pernah mengerti dengan apa yang ada di pikiran Sasuke. Bahkan setelah dia menyakitinya, Sasuke masih mau memaafkannya.

"Sasuke, aku lapar," ucap Shion mengapit lengan Sasuke manja. "Rasanya sudah lama sekali aku tidak pulang ke Jepang."

Sasuke berjalan menuju mobilnya dan masuk ke dalamnya diikuti oleh Shion. Mobil yang dikendarainya membelah jalanan Tokyo.

Sasuke sendiri memandang jalanan di depannya. Dia tidak pernah mengerti dengan cara kerja hatinya. Dia selalu luluh dengan Shion, meski gadis itu telah membekukan hatinya, meski gadis itu telah menyakitinya, dia selalu luluh pada gadis itu. Meskipun, saat ini yang ada di pikirannya hanyalah gadis berambut merah muda.

"Sasuke-kun, kamu masih ingat makanan kesukaanku." Shion tersenyum hangat memandang restoran Sushi di hadapannya.

"Hn. Tentu saja."

Shion tak segan-segan untuk memesan sushi kesukaannya, sedangkan Sasuke hanya diam di bangkunya. Setelah pesanan mereka datang, Shion langsung menyantapnya dengan lahap.

"Kau terlihat berbeda, Sasuke-kun." Shion menatap Sasuke. "Apakah kamu memiliki seseorang yang istimewa sekarang?"

Sasuke yang menyeruput kopi hitamnya mmandang Shion dengan pandangan datar. Ditanya seperti itu, membuat Sasuke teringat pada seseorang.

"Hn."

Apakah gadisnya baik-baik saja sekarang?

.

.

"Terimakasih, Naruto." Sakura sedikit membungkukan badannya.

"Hehe.. sama-sama, Sakura-chan." Naruto menunjukan cengirannya. "Jangan lupa datang ke pesta ulang tahun Hinata."

Sakura tersenyum canggung setelah kepergian Naruto. Menutup pintu rumahnya, Sakura masuk ke dalam untuk membuat makan malam. Meski dia tidak tahu kapan majikannya itu akan pulang, setidaknya dia bisa mempersiapkan makan malam yang enak.

Shion tersenyum ketika Sasuke mengantarkannya hingga apartemennya. Gadis itu tersenyum dan mencium bibir Sasuke dengan lembut. Rasanya, sudah lama dia merindukan pemuda itu, merindukan semua yang dimiliki pemuda itu.

"Aku mencintaimu, Sasuke-kun."

.

.

Sasuke menarik nafas panjang dan meletakan dokumennya di atas mejanya. Melonggarkan dasinya, Sasuke memandang dokumen yang masih sangat banyai diatas mejanya. Jam sudah menunjukan pukul dua belas malam, tetapi dia baru saja selesai menghadiri rapat dengan Hoshigaki corp dan perdebatan alot dengan Kisame menguras banyak energinya.

Saat itu juga pintu ruangannya terbuka, onyxnya menatap Kakashi yang masuk ke dalam ruangannya sembari membawa secangkir kopi. Onyxnya menatap Kakashi dengan pandangan keheranan.

"Kenapa belum pulang?" tanya Sasuke.

Kakashi tersenyum dibalik maskernya.

"Sebenarnya aku ingin pulang, tetapi aku tidak mungkin meninggalkanmu ketika perdebatan alot berlangsung tadi."

"Hn." Sasuke menyeruput kopi miliknya.

"Sebaiknya kamu pulang, Sasuke." Kakashi menatap atasannya itu. "Aku yakin Sakura pasti menunggumu."

Sasuke memandang Kakashi. Dia baru ingat jika Sakura pasti menunggunya. Setelah mengantarkan Shion tadi, dia langsung menuju kantornya untuk melakukan rapat yang sempat dia tunda dan hasilnya? Dia harus pulang lebih larut dari biasanya.

"Lagipula, tubuhmu butuh diistirahatkan juga, Sasuke."

Sasuke mengambil jasnya dan bangkit dari duduknya. Sepertinya apa yang Kakashi katakan benar, dia juga butuh istirahat.

"Sebaiknya kamu juga pulang, Kakashi. Rin pasti mengkhawatirkanmu."

Kakashi tersenyum dibalik maskernya. Secara tidak langsung, kedatangan Sakura membuat hidup Sasuke lebih berwarna. Meski pemuda itu tidak merasakannya, tetapi dia bisa melihatnya dengan jelas.

"Sasuke, aku harap dia bisa merubahmu."

.

Sasuke memarkir mobilnya di garasi rumahnya dan berjalan masuk ke dalam rumahnya. Rumahnya yang megah telah sepi dan dia yakin jika beberapa pelayannya pasti suda tidur, termasuk Sakura. Langkah kakinya terhenti ketika melihat menu yang terhidang di meja makan. Berbagai makanan ada di meja makannya dan membuat perutnya terasa lapar. Pasti Sakura yang membuatkannya.

Dan ketika dirinya melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Rasa lelahnya menguap kala melihat wajah Sakura yang tidur dengan wajah damai dan polos. Rasanya, tanpa mandi sekalipun rasa lelahnya sudah hilang.

Mengganti pakaiannya dengan piyama tidurnya, Sasuke langsung merebahkan diri di sebelah Sakura. Dan emerald itu mulai terlihat diantara kegelapan malam.

"Sasuke-kun, sudah pulang?" tanya Sakura dengan suara serak.

"Hn. Tidurlah lagi." Sasuke tersenyum tipis dan mengusap rambut Sakura dengan lembut.

"Apa kamu sudah makan? Aku memasakanmu banyak makanan."

"Makanannya bisa untuk sarapan besok pagi, Sakura." Sasuke memeluk Sakura dengan erat. "Jangan berisik dan kembalilah tidur."

Sakura tidak bisa menahan dadanya yang menghangat. Dia balik memeluk Sasuke dan mulai memejamkan matanya.

oOo

"Sasuke-kun."

Sasuke yang sedang meminum kopinya menolehkan kepalanya. Sakura meletakan semangkuk sup ekstra tomat dan tersenyum manis.

"Hn, ada apa?"

"Apakah aku boleh datang ke ulang tahun Hinata?" tanya Sakura. "Naruto yang mengundangku."

Sasuke meletakan cangkir kopinya dan menatap Sakura yang duduk di hadapannya. Tidak ada salahnya dia mengajak Sakura ke pesta ulang tahun Hinata, toh Sakura juga jarang berpergian.

"Jam tujuh malam, aku akan menjemputmu." Sasuke bangkit dari duduknya dan mencium puncak kepala Sakura. "Rin akan memilihkan gaun untukmu."

Sakura tidak bisa menahan senyumannya. Dia terlihat seperti kucing yang menggemaskan di mata Sasuke. Dan itu membuat Sasuke tidak bisa menahan dirinya untuk mencium bibir Sakura.

"Terimakasih, Sasuke-kun."

.

Rapat dengan Sabaku corp sama sekali tidak dia dengarkan. Pikirannya melayang kepada Sakura, dia tidak sabar untuk melihat Sakura dengan balutan gaun yang akan memperlihatkan lekuk tubuhnya. Membayangkannya saja membuat darahnya berdesir, dia semakin tidak sabar.

Melirik arlojinya, Sasuke menarik nafas dalam-dalam. Masih tujuh jam sampai dia menjemput Sakura nanti. Dia sudah tidak sabar untuk menemui wanitanya itu.

.

"Lihatlah dirimu, Sakura-chan!" Rin memandang Sakura dengan mata yang berbinar.

"Apakah ini benar-benar cocok untukku, Rin?" Sakura mematut dirinya di depan cermin.

"Umm.. cocok sekali!" Rin tersenyum. "Ayo, aku akan meriasmu. Aku yakin Sasuke pasti tidak akan berkedip melihatmu."

.

Sasuke menghentikan mobilnya di depan rumahnya. Dia sengaja tidak turun dari mobilnya dan membiarkan Sakura yang keluar. Dia tidak sempat mandi dan hanya berganti pakaian. Biarpun begitu, kharisma dirinya tidak luntur sama sekali.

Onyxnya tidak berkedip melihat Sakura yang muncul dari balik pintu rumahnya. Sialan! Wanitanya itu begitu tampak seksi dengan gaun berwarna merah yang menunjukan lekuk tubuhnya. Payudaranya terlihat seperti akan tumpah dan itu membuat celananya sedikit menggembung. Dengan riasan sederhana dan rambut yang diikat keatas, membuat Sakura terlihat semakin cantik.

"Sasuke-kun." Sakura tersenyum malu-malu. "Bagaimana penampilanku?"

"Seksi."

Satu kata yang keluar dari mulut bungsu Uchiha itu mampu membuat Sakura membeku di tempat. Dirinya tidak bisa menahan warna merah yang menjalar di wajahnya.

"Te-terimakasih, Sasuke-kun."

Sasuke membukakan pintu untuk Sakura barulah kemudian dirinya masuk ke dalam mobilnya. Onyxnya melirik Sakura yang terlihat sangat seksi sekarang. Membuat dirinya semakin tidak sabar untuk membawa Sakura keatas ranjangnya. Menikmati vagina sempit Sakura dan menggulum payudara montok itu.

Pesta ulang tahun Hinata diadakan di Mansion Namikaze dan dihadiri dengan banyak orang. Sakura bersyukur Rin mau mendandaninya sehingga dirinya tidak tampil memalukan di depan tamu undangan yang hadri. Jika tidak ada Rin, Sakura pasti sudah salah kostum sekarang.

"Hn. Ayo masuk."

Sakura mengapit lengan Sasuke yang membawanya masuk ke Mansion Namikaze. Sakura tidak berkedip melihat kemewahan dihadapannya. Untuk gadis polos yang tinggal di sebuah desa kecil di Hokkaido, Sakura terkagum-kagum setiap melihat kemewahan yang dihadirkan oleh Uchiha dan Namikaze.

"Sakura-chan! Teme!" Naruto menghampiri mereka dengan Hinata di sampingnya.

"Otanjobi omedeteou, Hinata-san." Sakura sedikit membungkukan badannya. "Maaf karena aku tidak bisa memberikanmu kado."

"Ti-tidak apa, Sakura-chan." Hinata tersenyum. Sebuah gaun ungu yang melekat ditubuhnya dengan polesan make up yang tidak terlalu menor membuatnya terlihat seperti seorang ratu malam ini.

"Kami senang kalian mau datang-ttebayou!" Naruto tersenyum.

"Aku sudah mentransfer beberapa uang ke rekening Hinata. Anggap saja itu sebagai hadiah ulang tahunmu."

"Arigatou, Sasuke-kun."

"Kalian bersenang-senanglah," ucap Naruto. "Aku dan Hinata mau menyapa beberapa tamu yang datang. Nikmati saja pestanya."

Sakura sedikit membungkuk dengan sopan sebelum tersenyum.

"Naruto begitu perhatian pada Hinata-san, ya." Sakura memandang Sasuke.

"Hn. Mereka memang pasangan yang unik."

Sakura menganggukan kepalanya. Emeraldnya menatap beberapa kue yang terhidang di meja. Dia hampir tidak bisa menahan air liurnya ketika melihat berbagai macam kue dan minuman di meja.

"Sasuke-kun!"

Mereka menolehkan kepalanya ketika seorang gadis berambut pirang menghampiri Sasuke. Gadis itu langsung memeluk lengan Sasuke dengan senyuman terkembang di wajahnya. Menurut Sakura, gadis itu sangat cantik.

"Sasuke-kun! Kamu mengatakan tidak bisa menjemputku, tetapi kamu datang kemari!" Shion mengerucutkan bibirnya.

"Hn. Aku datang bersama seseorang."

Entah mengapa, dadanya terasa sesak kala melihat bagaimana gadis itu memeluk lengan Sasuke dengan erat. Memandang Sasuke dengan matanya yang bersinar, senyum yang bahagia terpancar di wajah gadis itu. Dan itu semua membuatnya merasa sesak.

"Ah!" Shion baru menyadari kehadiran Sakura ditengah-tengah dirinya dan Sasuke. "Dia siapa, Sasuke-kun?"

"Dia-"

"Aku pemuas nafsunya."

Sasuke memandang Sakura dengan tatapan mata terkejut dan langsung menyembunyikan di balik topengnya. Sedangkan Shion tidak bisa menahan keterkejutannya.

"Sasuke-kun, apa yang dikatakan gadis itu benar?" tanya Shion mengintimidasi.

"Hn."

"Kau benar-benar, Sasuke-kun!" Shion tersenyum ramah kearah Sakura. "Kamu cantik sekali, perkanalkan namaku Shion."

"Haruno Sakura." Sakura balas tersenyum.

"Aku akan meminjam Sasuke untuk berdansa denganku, apa kamu tidak keberatan?" tanya Shion.

Sakura memandang Sasuke yang memasang wajah tanpa ekspresi.

"Silahkan."

Sakura bisa melihat Shion begitu bersemangat mengajak Sasuke menuju tengah-tengah mansion Namikaze dan mengajaknya berdansa. Sakura bisa melihat Sasuke sesekali tersenyum tipis dan mengelus rambut Shion dengan lembut. Hatinya terasa begitu sakit, bagaikan ditusuk ribuan jarum yang membuatnya berdenyut-denyut sakit.

Mencoba untuk tidak terbawa perasaannya, Sakura melangkahkan kakinya menuju salah satu meja dan mengambil sebuah gelas berisi cola. Dia tidak terbiasa minum-minuman beralkohol, jadi dia memilih cola. Emeraldnya melirik Sasuke yang memeluk pinggang Shion dengan lembut dan Shion yang memeluk leher Sasuke. Jarak mereka begitu dekat dan semakin membuat dadanya sesak.

Jadi, dia adalah cinta pertamamu ya? Sakura tersenyum miris. Dia begitu cantik, pantas saja jika kamu mencintainya. Aku memang pemuas nafsumu, aku tidak mungkin berharap kamu mencintaiku seperti aku mencintaimu.

"Sakura?"

Sakura menolehkan kepalanya dan terkejut melihat siapa yang ada di sampingnya. Gadis berambut bubble gum itu tidak bisa menahan dirinya untuk memeluk pemuda itu.

"Sai!"

"Apa kabar, jelek?" Sai mengelus rambut Sakura dengan lembut.

"Kenapa kamu bisa disini?" Sakura melepaskan pelukannya dan memandang Sai.

"Aku CEO Shimura corp, Sakura." Sai tersenyum.

"Benarkah?" Sakura tidak bisa menahan kekagumannya. Shimura Sai, teman semasa kecilnya yang kemudian pindah ke Amerika sekarang sudah sukses sebagai CEO. Ini merupakan kejutan baginya.

"Jadi, kamu bersekolah dimana sekarang?" tanya Sai.

"Aku homeschooling."

"Benarkah?" Sai mengusap rambut Sakura dengan lembut. "Apa yang kamu lakukan disini?"

"Aku-"

"Dia pasanganku malam ini, Shimura."

Mereka menoleh dan memandang Sasuke yang berdiri tidak jauh dari mereka. Sakura merasa ketakutan ketika melihat onyx milik Sasuke yang kini berubah seperti ingin menerkam siapa saja disekitarnya. Dan ketika dia menyadari segalanya, tangannya sudah ditarik oleh Sasuke untuk bersembunyi di belakangnya.

"Begitukah?" Sai tersenyum aneh dan mengecup pipi Sakura dengan lembut. "Mungkin aku bisa mengunjungimu."

Mata Sasuke nyaris keluar dari kerangkanya melihat bagaimana Sai mencium Sakura tepat di depan matanya. Meski itu hanya di pipi, tetap saja itu menyulut amarahnya.

Sai tersenyum tanpa dosa dan melangkahkan kakinya keluar dari Namikaze Mansion. Tangannya merogoh saku celananya dan menghubungi seseorang.

"Kak Shin, cari tahu tentang Haruno Sakura."

.

Sakura masih membeku di tempatnya berdiri. Semua ini sulit dimengerti oleh kerja otaknya, Sai yang menciumnya, pandangan membunuh milik Sasuke. Tiba-tiba otaknya terasa macet. Bagi gadis polos sepertinya, hal ini membuat kerja otaknya menjadi lebih berat. Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benaknya.

Dia hanya diam ketika Sasuke menariknya secara paksa dan membawanya masuk ke dalam mobil milik Sasuke. Otaknya masih mencoba mencerna semua ini.

"Apa hubungan kalian?"

Sakura memandang Sasuke. Dia seperti orang bodoh malam ini, dan dia yakin ekspresinya pasti sangat jelek.

"Hubungan apa?" tanyanya tidak mengerti.

"Hubunganmu dan Shimura sialan itu!" Sasuke membanting stirnya menuju apartemennya. "Beraninya dia mencium milikku!"

"Aku dan dia hanyalah teman semasa kecil," ucap Sakura. "Lagipula kenapa kamu harus marah? Aku kan hanya pemuas nafsumu."

"Berhenti bicara tentang hal itu, Sakura!"

Sakura tidak mengerti, apa yang salah dengan kata-katanya. Sasuke hanya mengganggapnya sebagai pemuas nafsunya, lantas mengapa pemuda itu harus marah ketika Sai mencium dirinya?

Sasuke sudah tidak bisa menahannya lagi. Pertanyaan polos Sakura malah membuatnya semakin kesal. Kali ini dia tidak akan segan-segan lagi, melihat bagaimana Sai memeluk dan mencium Sakura membuat emosinya naik secara mendadak.

Memarkir mobilnya secara sembarangan, dia menarik tangan Sakura keluar. Persetan dengan semua ini, emosinya sedang di ubun-ubun sekarang. Dengan lift yang membawanya menuju kamar apartemennya, Sasuke berjalan dengan langkah gusar dan cepat. Tidak peduli apakah Sakura akan kesakitan atau tidak. Dia tidak peduli.

Ketika sampai di Apartemennya. Sasuke membuka pintu itu dengan kasar dan menutupnya begitu saja. Dia langsung membalik tubuh Sakura menghadap tembok dan merobek gaun yang dikenakan gadis itu. Memandang apa yang tersaji di hadapannya membuatnya lupa diri. Tangannya menampar pantat sekal milik Sakura dan membuat gadis itu menjerit kesakitan.

"Sasuke-kun... aku mohon, hentikan. Ini terasa sakit."

"Ini hukuman untukmu, jalang!"

Sakura bisa merasakan tidak hanya tubuhnya terasa sakit, tetapi juga hatinya. Umpatan yang Sasuke berikan untuknya membuat dadanya terasa semakin sesak.

"Sasuke-kun-"

"Diam!" Sasuke tidak bisa menahan nada suaranya. Melepas celananya, dia membiarkan celananya melorot begitu saja. Memembebaskan kejantanannya yang sudah siap untuk bertempur.

Mengocok kejantanannya, Sasuke melepas celana dalam milik Sakura.

"Sakura, rasakan ini."

Sakura tidak bisa menahan teriakannya ketika Sasuke langsung melesakan kejantanannya begitu saja. Vaginanya terasa sakit dan perih, apalagi Sasuke langsung menyodoknya dengan brutal.

"Sasuke-kun, sakit." Sakura hampir menangis merasakan vaginanya terasa perih.

"Rasakan itu, jalang. Itu hukumanmu."

.

.

"Ohh.. Sasuke-kunhh!"

Sasuke masih setia memompa kejantanannya yang entah keberapa kali menyemburkan sperma ke dalam rahim milik Sakura. Dia tidak pernah puas menyetubuhi Sakura, merasakan nikmatnya vagina Sakura dan juga payudara sekal milik gadis itu. Sakura sendiri hanya bisa pasrah dan merasakan sakit disekujur tubuhnya. Badannya dipenuhi dengan luka cambukan, akibat Sasuke mencambuknya.

"Sempith.. ssshh.."

Sakura hanya bisa pasrah ketika kejantanan milik Sasuke mulai membesar di liang vaginanya. Dia tahu, Sasuke pasti akan keluar sebentar lagi. Kesadarannya menghilang, tepat saat Sasuke menyemburkan spermanya.

"Oughhh! Sakuraahh.. aku mencintaimu."

oOo

Sasuke mengguyur tubuhnya dengan air yang mengalir dari shower yang ada diatasnya. Tangannya memegang tembok di hadapannya, dia sama sekali tidak berniat beranjak dari tempatnya berdiri, meski sudah satu jam dia berada disana. Ada rasa menyesal ketika melihat tubuh Sakura dipenuhi oleh luka, bagaimana tubuh mungil itu mendesahkan namanya sedangkan dia menyetubuhinya dengan membabi buta.

Menyetubuhi? Mungkin memperkosa adalah kata yang tepat dengan apa yang dilakukannya semalam. Dia seperti binatang yang kehilangan akal sehatnya, dan itu karena pemuda berkulit pucat. Dia tidak mengerti mengapa dia begitu marah ketika Sakura dekat-dekat dengan pemuda itu, seharusnya dia tidak marah, mengingat Sakura hanya pemuas nafsunya.

Mematikan showernya. Sasuke melilitkan handuk di bagian bawah tubuhnya dan keluar dari kamar mandi. Onyxnya menatap Sakura yang masih terbaring lemah di ranjangnya. Setelah mengganti pakaiannya, Sasuke mendekati Sakura dan menyentuh tubuh rapuh itu.

Panas. Itulah yang dirasakan tubuhnya pertama kali ketika menyentuh kulit Sakura. Sebegitu kejamnyakah dirinya, hingga Sakura menjadi demam seperti ini. Mengambil ponselnya, Sasuke segera menghubungi seseorang.

"Rin, kemarilah sekarang juga."

.

Sakura membuka matanya ketika merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kepalanya. Dan ketika dirinya membuka matanya, emeraldnya memandang Rin yang sedang tersenyum kearahnya.

"Rin?"

"Syukurlah kamu sudah sadar, Sakura-chan."

Sakura mencoba untuk duduk, namun tubuhnya terasa sakit semua.

"Tidurlah kembali, aku sudah mengobati semua luka di tubuhmu." Rin mengelus surai merah muda Sakura dengan lembut.

"Dimana Sasuke-kun?" tanya Sakura dengan suara parau.

"Dia berangkat ke kantor, ada urusan yang tidak bisa dia tinggalkan."

Sakura tersenyum getir. Mana mungkin Sasuke mau merawatnya, rasanya mustahil pemuda itu mau merawatnya.

"Aku tidak menyangka Sasuke tega melakukan hal ini padamu." Rin memandang Sakura. "Apalagi dengan bayi di dalam kandunganmu."

Emerald Sakura seketika membulat.

"A-apa?!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Balasan Review :

Undhott : sudah..

Chichak Deth : hehehe.. makasih yaa.. :) yup, silahkan di Fave and Foll :3

Cherryhamtaro : Hahaha.. lihat nanti yaaa..

Jamurlumutan462 : Waahh.. nanti bakal kelihatan kok, Sasuke bakal ama siapa :3

Uchihaliaharuno : Hehehe.. makasih yaa.. masih inget aja soal yang kecepetan itu :3

Guest (1) : duuhhh... aku sendiri aja kecewa pas bacanya dulu :3 semoga chap ini memuaskan yaa..

Guest (2) : Hah? Aku gak jago bikin NaruHina :3

Yoshimura arai : udah..

Bang Kise Ryouta : XD

AsahinaUchiharuno : Hehe.. makasih yaaa..

Shinma Hanasaki : hehe.. sabarsabar senpai XD

Frozen Quen : Ini udah yang paling kilat :3

Algheesa H : makasih buat masukannya ya.. bermanfaat banget buat author lho.. makasih juga buat semangatnya yaaa..

: Hahaha.. suatu saat pasti ada karma untuknya XD

Yoriko Yokochidan : Sudah XD

ToruPerri : *kasih tissu*

Yui : sudah di update..

Gomio : gak janji bakal banyak lemon :3

Wedusgembel41 : sudah..

LavenderR-chan : ini sudah dilanjut..

Ongkitang : makasih.. ini sudah dilanjut.. :3

KimRyuu-chan : sudah..

CoolAndCold : hehe.. makasih yaa..

Cuntea : sudaahh.. makasih yaaa..

Happy Orange : gak janji gaada selingkuh yaa.. dilihat nanti saja.. :3

Yanglinlin49 : dilihat aja Sasu bakal nikah ama siapa yaa..

Protect Sakura : yang aku rubah di bagian chap 3 akhir sama chp 4 aku hapus :3

Guest (3) : sudah di update..

Hehe.. kelamaan nunggu ya.. semoga ini bisa menjadi obat buat waktu update yang laamaaaaaaaa banget :3 makasih banyak buat yang udah review.. Saku gak nyangka sebanyak ini *nyekaingus

Hehe.. sampai ketemu di chap depan, nee~

-Aomine Sakura-