My Slave Is My Love
.
.
Uchiha Sasuke, Haruno Sakura
.
.
Masashi Kishimoto
.
.
©Aomine Sakura
.
.
Dilarang COPAS dan PLAGIAT dalam bentuk APAPUN!
Don't Like Don't Read
Selamat Membaca!
oOo
"Memang belum terlalu kelihatan sih. Aku menyadarinya saat aku memegang bawah perutmu. Terasa tegang dan sedikit keras. Ibuku dulu seorang dokter di desa terpencil di pinggiran Hokkaido, aku selalu menemani ibuku untuk merawat beberapa pasiennya, membantu melahirkan dan segala macam lainnya. Aku bisa tahu hanya dengan menyentuh bagian bawah perutmu, Sakura-chan."
Sakura tertawa getir.
"Ini tidak mungkin, Rin. Sasuke pasti akan marah besar padaku." Sakura tidak bisa menahan isakannya. "Aku yang salah disini. Sasuke-kun memang memberikanku pil pencegah kehamilan. Aku tidak mau meminumnya karena aku menginginkan bayi darinya. Tetapi setelah kedatangan Shion membuatku bimbang. Sasuke-kun tidak akan mau bertanggung jawab atas bayi yang aku kandung. Dia pasti akan menyuruhku menggugurkannya."
Rin menepuk pundak Sakura dan tersenyum lembut. Mengusap air mata di pipi Sakura.
"Tidak Sakura-chan. Tidak. Aku mengenal Sasuke sejak aku remaja. Aku sudah menjadi tangan kanan keluarga Uchiha untuk mengurus Sasuke sejak lama. Hatinya untuk Shion sudah lama mati meski dia adalah cinta pertamanya. Semenjak perselingkuhan yang dilakukan Shion, Sasuke tidak mencintainya lagi. Di dunia ini, tidak ada ayah yang tidak menginginkan bayinya. Percayalah padaku, Sakura-chan."
Sakura menyeka air matanya dan memeluk Rin. Dia bersyukur karena Rin adalah wanita yang baik hati. Andaikan Rin bukanlah orang yang baik, dia tidak tahu harus lari kemana sekarang.
"Terimakasih, Rin."
.
Sasuke memijat pelipisnya yang terasa pening. Dokumennya memang tinggal satu, tetapi dia harus mengecek ulang semuanya. Hari ini pikirannya begitu kacau, hanya karena wanita yang semalam menemaninya di ranjang. Jika bukan karena beberapa rapat penting yang tidak bisa dia tunda, dia pasti memilih dirumah dan menemani Sakura. Ada rasa bersalah ketika melihat luka di sekujur tubuh Sakura.
"Sasuke." Kakashi masuk ke ruangan bosnya dan meletakan secangkir kopi di hadapannya.
"Kakashi, bacakan jadwalku hari ini," ucap Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen yang dibacanya.
"Jam 11 siang nanti, anda ada rapat dengan Hozuki corp. Pukul tiga sore ada rapat dengan Sabaku corp dan pukul lima sore ada rapat dengan Namikaze corp." Kakashi membacakan jadwal Sasuke.
"Batalkan rapat dengan Hozuki corp." Sasuke memandang Kakashi. "Majukan rapat dengan Sabaku dan Namikaze, kosongkan jadwalku dari pukul enam sore. Aku mau sampai rumah pukul tujuh tepat."
Kakashi menaikan satu alisnya.
"Tumben sekali?"
"Hn. Jangan banyak tanya dan lakukan sekarang juga."
"Baiklah Sasuke. Aku mengerti."
.
Sakura memandang langit-langit kamar milik Sasuke seraya mengelus perutnya dengan lembut. Rin sudah membuatkannya bubur dan dia juga telah meminum obatnya. Tangannya terulur untuk membuka laci miliknya. Tangannya mengambil sebuah obat pencegah kehamilan yang masih utuh.
Apa yang Rin katakan memang tidak sepenuhnya salah. Tetapi dia masih tidak yakin jika Sasuke mau bertanggung jawab. Tidak mungkin pemuda itu mau bertanggung jawab, selama ini dia hanya dianggap sebagai pemuas nafsu. Ibarat permen yang akan dibuang jika rasa manisnya telah hilang.
Nafasnya menjadi berat dan air mata mulai mengalir di pipinya.
Mau bertanggung jawab atau tidak, itu urusan belakangan. Jika Sasuke tidak mau bertanggung jawab, dia akan pulang ke kampung halamannya dan membesarkan bayinya seorang diri. Dia harus kuat demi bayinya.
.
Sasuke menarik nafas panjang ketika rapat dengan Sabaku corp telah selesai. Dia masih memiliki waktu setengah jam untuk beristirahat sebelum akhirnya rapat dengan Namikaze corp.
"Teme!"
Baru saja dirinya mendudukan diri di kursi miliknya. Suara cempreng sudah mengganggu pendengarannya. Naruto muncul dengan peluh yang membasahi wajahnya.
"Apa-apaan dobe! Masuklah dengan cara sopan!" Sasuke mendenguskan wajahnya.
"Apa yang kau lakukan pada Sakura-chan, teme?" Naruto menatap Sasuke dengan pandangan menyelidik.
Apa yang dia lakukan pada Sakura? Sasuke mengangkat alisnya.
"Aku datang ke rumahmu ketika menerima telepon jika Sakura-chan tidak bisa mengikuti homeschooling. Ketika aku sampai kesana, aku bisa melihat tubuh Sakura terdapat banyak luka, demamnya juga tinggi sekali. Dia bahkan hanya diam saja ketika aku bertanya. Apa yang kau lakukan padanya, teme?!"
Sasuke terdiam. Otak jeniusnya mencerna apa yang terjadi. Apakah yang dilakukannya keterlaluan semalam? Ada rasa gelisah menyelimuti hatinya.
"Hn. Tidak usah bicarakan tentangnya, dia hanya pemuas nafsuku. Sebaiknya kita mulai rapatnya."
Sasuke bisa merasakan sesuatu yang keras mengenai pipinya. Onyxnya menatap Naruto dengan pandangan tidak suka.
"Dobe-"
"Pemuas nafsu, katamu?!" suara Naruto meninggi. "Apa kau tidak bisa melihatnya?! Apakah dimatamu hanya ada Shion?! Wanita brengsek yang berselingkuh dengan lelaki kaya?! Begitukah seleramu? Cih, rendahan sekali. Aku tidak menyangka jika kamu akan memperlakukan Sakura dengan cara seperti itu. Dia memang pemuas nafsumu, Teme. Tapi dia adalah gadis yang baik, catat itu!"
Naruto membalikan badannya dan memandang Iruka.
"Iruka. Batalkan rapat dengan Uchiha dan semua kolegaku hari ini. Aku mau pulang."
"Baik, Naruto-sama."
oOo
Sasuke mengendarai mobilnya tak tentu arah. Perkataan sahabatnya benar-benar menusuknya tadi. Memang Sakura hanya pemuas nafsunya bukan? Tidak ada yang salah dengan hal itu.
Tetapi ada satu hal yang mengganggunya. Sakura tidak pernah menuntut apapun darinya. Dia hanya pasrah ketika dirinya memukulinya, dia hanya menerima dengan semua yang dilakukannya atas gadis itu. Jika itu bukan Haruno Sakura, mungkin gadis-gadis itu akan menuntut segala macam darinya.
Onyxnya menatap restaurant yang ada di seberang jalan. Mungkin dia bisa membelikan sesuatu untuk makan malam.
.
Sasuke memarkir mobilnya di halaman rumahnya dan terkejut melihat sebuah mobil terparkir di halamannya juga. Satu alisnya terangkat. Itu bukan mobil milik kakaknya, juga bukan milik Kakashi, apalagi milik Naruto. Mobil jaguar hitam yang mewah dan terlihat masih baru.
Melangkahkan kakinya masuk. Rin menyambutnya dengan sopan dan telinganya bisa menangkap suara Sakura yang sedang mengobrol dengan seseorang.
"Siapa yang datang, Rin?" tanya Sasuke.
"Tidak tahu, Sasuke-sama. Tamunya Sakura-chan."
Sasuke semakin curiga. Melangkahkan kakinya menuju ruang makan, Sasuke bisa melihat siapa yang sedang mengobrol dengan Sakura.
Rambut hitam, kulit pucat. Shimura Sai!
"Shimura!" desis Sasuke.
Mendengar sebuah suara. Mereka menolehkan kepalanya. Sakura tersenyum manis dan bangkit dari duduknya. Sai tersenyum memandangnya.
"Sasuke-kun sudah pulang? Kami baru saja akan makan malam, aku pikir Sasuke-kun lembur malam ini," ucap Sakura.
"Apa yang mayat itu lakukan disini?!" tanya Sasuke tidak suka.
"Aku hanya ingin melihat Sakura." Sai mendekati mereka. "Aku dengar jika Sakura demam, aku hanya ingin melihat kondisinya. Dan benar saja, aku melihat beberapa luka di tubuh Sakura."
Sasuke menatap Sai dengan pandangan tidak suka. Sialan! Apa maksudnya itu?!
"Jika kamu memang menganggap Sakura sebagai pemuas nafsumu tidak apa-apa." Sai memeluk pinggang Sakura dari belakang. "Aku akan mengambil Sakura dari tanganmu, Uchiha."
Satu pukulan dilayangkan Sasuke untuk Sai. Pemuda berkulit pucat itu jatuh tersungkur dan mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. Obsidiannya menatap Sasuke yang kini mengepalkan tangannya.
"Sasuke-kun, tahan emosimu." Sakura mencoba melerai keduanya.
"Kenapa kamu membelanya, Sakura?!" Sasuke menatap Sakura dengan pandangan tidak suka.
"Ti-tidak, bukan begitu. Aku dan dia hanya teman saja."
Sasuke menghiraukan Sakura dan melangkahkan kakinya keluar dari rumahnya. Tangannya mengeluarkan kunci mobilnya dan langsung masuk ke dalamnya. Hancur sudah moodnya malam ini. Tadinya dia ingin memberi kejutan untuk Sakura dengan membawakannya makan malam. Tetapi semuanya hancur hanya karena kedatangan Shimura sialan itu!
Sasuke mengemudikan mobilnya menuju sebuah apartemen. Mau apa Shimura sialan itu mendekati wanitanya?! Jika memang Shimura itu mau merebut Sakura, dia harus melangkahi mayatnya.
Dengan gusar, Sasuke masuk ke dalam gedung apartemen dan menuju kamar apartemen yang sudah dia hafal nomornya. Satu tangannya menekan bel pintu dan munculah gadis berambut pirang.
"Sasuke-kun, apa yang kamu lakukan disini?"
Shion membulatkan matanya ketika Sasuke mencium bibirnya dengan kasar. Detik berikutnya, Sasuke sudah mencumbu Shion tepat di ranjang wanita itu.
.
"Sai-kun, kamu tidak apa-apa?" Sakura mengompres luka di pipi Sai dengan air es.
"Aku tidak apa-apa, terimakasih banyak." Sai bangkit dan mencium puncak kepala Sakura dengan lembut. "Jika Uchiha itu memperlakukanmu dengan seenaknya sendiri. Hubungi aku. Aku pasti akan langsung membawamu pergi."
"Terimakasih Sai-kun, aku menghargainya." Sakura tersenyum dan mengantarkan Sai hingga pintu rumahnya. Ada sesuatu yang sesak ketika melihat kepergian Sai.
Mengusap perutnya, Sakura tersenyum getir.
"Sayang, apa yang harus Mama lakukan sekarang?"
.
Sai memejamkan matanya ketika dirinya sampai dirumah. Masih terbayang bagaimana wajah Sakura yang mengobatinya, tatapan matanya yang lembut dan perlakuan gadis itu kepadanya tidak berubah. Tetap Sakura yang polos dan baik hati.
Dia tidak hanya satu dua tahun mengenal Sakura. Sejak mereka masih mengenakan popok, teman pertamanya adalah Sakura. Gadis berambut merah muda itu sudah mengambil perhatiannya sejak dia kecil. Gadis cengeng, penakut tetapi kuat dan mandiri. Gadis itu selalu ada disisinya dan membuatnya nyaman. Mengingatkannya pada sosok ibu.
Ibu.
Satu kata yang membuat dadanya terasa sesak dan matanya terasa panas. Ibunya meninggal karena penyakit kanker rahim yang menggerogotinya. Dan ketika dirinya kehilangan orang yang paling dia kasihi, Sakura yang ada disisinya. Sakura yang memberikannya semangat dan dukungan, Sakura bagai ibu kedua baginya.
Hingga akhirnya dia mengikuti ayahnya untuk pindah ke Amerika. Dia masih ingat bagaimana wajah Sakura yang menangis kala dirinya meninggalkan gadis itu.
Sai menarik nafas panjang dan membuka matanya. Tidak akan dia biarkan Sakura menderita terus menerus di tangan Uchiha Sasuke. Dia akan mengambil Sakura jika sudah waktunya nanti.
.
"Sasuke-kunhh.. ohh.. ini terlalu dalamhh.."
Shion menggenggam sprei di sampingnya dengan erat ketika Sasuke menyodoknya semakin keras dan dalam. Sasuke sendiri menggeram ketika miliknya dihisap dengan kuat oleh Shion. Memang ini bukan persetubuhannya yang pertama dengan Shion, tetapi liang Shion masih saja rapat.
Meski dia akui, liang Sakura masih lebih baik dari ini.
"Sasukeehh.. kamu masih belum keluar?" tanya Shion menyadari jika Sasuke belum keluar sejak persetubuhan mereka.
"Ughh.. sebentar lagi."
Sasuke menggeram dalam hati karena miliknya masih tegak dan belum menyemburkan spermanya dari tadi. Shion bahkan sudah keluar lima kali dan dirinya bahkan belum keluar sama sekali. Rasanya sungguh menyiksa.
"Ugh.. Sasuke-kunhh.. sakith..."
Sasuke memejamkan matanya. Dia bisa mendengar suara Sakura yang menggema di kepalanya. Bisa dia bayangkan bagaimana wajah Sakura yang penuh kenikmatan ketika dirinya menyodoknya, payudara sekal Sakura yang bergerak naik turun dan liang sempit yang memanjakannya.
Sasuke semakin bergerak dengan liar hingga membuat ranjang mereka bergerak seiring sodokannya yang semakin kencang. Shion bahkan tidak bisa menahan teriakannya akibat sodokan penuh tenaga dari Sasuke.
Rasanya kejantannya semakin membesar. Sebentar lagi.. sebentar lagi.
"Sakuraahh.. aku mencintaimu!"
Shion membuka matanya ketika Sasuke menyemprotkan sperma ke dalam rahimnya. Bukan karena Sasuke mengeluarkannya di dalam, tetapi karena perkataan Sasuke barusan.
"Sakura? Siapa itu Sakura?"
Sasuke yang baru saja mendapatkan pelepasannya membuka matanya. Sial! Dia keceplosan mengatakan Sakura di hadapan Shion. Memakai pakaiannya, Sasuke berdiri membelakangi Shion.
"Sasuke! Katakan siapa itu Sakura?! Jangan bilang jika dia adalah gadis berambut pink waktu itu!" Shion menutupi tubuhnya dengan selimut dan memandang pria di hadapannya. "Sasuke! Kamu tahu bukan, aku tidak suka ketika kamu bercinta denganku tapi kamu memikirkan wanita lain!"
Sasuke melirik Shion sebelum berjalan menuju pintu kamar Shion.
"Bukan urusanmu."
Shion menatap pintu kamarnya yang ditutup oleh Sasuke. Pandangan matanya berubah sendu. Apakah memang sudah tidak ada dirinya di hati Sasuke? Apakah dirinya hanya dianggap sebagai pelampiasan saja?
"Sasuke-kun.. maafkan aku.."
.
.
Sakura membuka matanya ketika mendengar suara mobil memasuki pelataran rumahnya. Memandang jam yang menunjukan pukul tiga pagi, Sakura bangkit dari posisinya. Tidur di sofa sembari menunggu Sasuke membuat beberapa tubuhnya terasa pegal dan kaku.
"Sasuke-kun!" Sakura menyambut Sasuke yang berjalan masuk ke dalam rumah.
Emerald milik Sakura membulat ketika Sasuke memeluknya begitu saja. Wanita yang sedang mengandung itu tidak berkutik, bahkan saat Sasuke meletakan dagunya diatas pundak Sakura.
"Sakura.. aku lelah."
oOo
Sakura sedang menyiapkan sarapan dimeja makan ketika Sasuke muncul sembari mengenakan jam tangannya. Dasi pemuda itu terpakai asal, sepertinya Sasuke sedang terburu-buru.
"Sakura, pasangkan dasiku."
Sakura segera mendekati pria itu dan memasangkan dasi Sasuke dengan benar. Onyx itu memandang Sakura yang dengan telaten memasangkan dasinya dengan benar. Sepertinya apa yang dikatakan Naruto memang benar, jika Sakura adalah gadis yang baik.
Seharusnya dia menyadarinya dari awal. Bahwa Sakura akan mengurus segala kebutuhannya, menemaninya dengan setia dan selalu ada di sisinya. Seharusnya dia menyadari hal itu.
"Sudah selesai, Sasuke-kun."
Sasuke mencium bibir Sakura dengan lembut. Memagut bibir pink itu dan tersenyum tipis.
"Hn. Aku ada rapat hari ini, aku akan berangkat."
Sakura tidak berkedip ketika menerima ciuman dari Sasuke. Benarkah yang tadi itu Sasuke yang angkuh? Yang selama ini selalu menganggapnya sebagai pemuas nafsunya? Ini aneh.
Sasuke merogoh ponselnya dan menelpon seseorang.
"Naruto, kamu benar soal Sakura."
.
.
Sasuke baru saja sampai di ruangannya ketika teleponnya berbunyi. Tayuya menyampaikan bahwa dirinya kedatangan tamu. Dan ketika tamu itu masuk ke ruangannya, Sasuke tersenyum tipis.
"Silahkan duduk, Shimura."
Sai tersenyum aneh dan mendudukan diri dihadapan Sasuke. Sasuke sendiri menatap Sai dengan pandangan tidak suka.
"Ada apa, Shimura?"
"Aku kesini untuk memperingatkanmu." Sai tersenyum. "Jika aku mendengar kamu menyakiti Sakura sekali lagi. Aku akan mengambilnya secara paksa."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Special's Thanks to :
Yanglinlin49, Bang Kise Ganteng, Lightflower22, Jamurlumutan462, Cherryhamtaro, Pinkramens, Frizca A, Williewillydoo, Zarachan, Undhott, , Dolphin, Ayuniejung, Chichak Deth, Slacker Shasha, Japanloveyou, Omoo, Erica, Tanpa Nama, Genie Luciana, Del Rey, Greentea Kim, Guest (1), Respitasari, Guest (2), AsahinaUchiHaruno, Leni265, Cun Tea, CoolAndCold69, Protect Sakura, Saki, Yoriko Yokochidan, K1ller, Guest (3), Beautifullcreature, Uchiha Lady Haruno, Dera Xiao-chan, Rosmiyati543, Guest (4), Uchiharu83, Itsbabygirl13, Krigaya17, Panda Kim Bear, Smilecherry, Dudut17, Guest (5), Meikitoteka, Guest ( 6), Guest (7), YashiUchihatake, Hikaru Sora 14, Miyasato, Yhantii378, Uchiharu83, 3, Guest (8)
SSL : Wah.. author yang cantik ini jablay ya? Atas dasar apa ya ngatain saya jablay? Pernah liat apa kalo Author yang cantik ini jablay? Hebat banget dong ya.. punya mata batin ya?
NS LOVER : duhhh.. kenapa? Iri sama pair SasuSaku ya? Pake ngatain readernya "Goblog" semua.. kok keren banget ya? Itu dapet inspirasi dari mana bisa ngomong gitu?
Btw, ada yang namanya belum kecantum? Maaf ya, gabisa bales satu-satu.. banyak juga ternyata yang ngerespon cerita ini tanpa adanya flame atau kata-kata kotor.. Saku seneng deh :) oh ya.. kalo mau ngflame, log in dong.. entah ini ngutip dari Author mana Saku juga lupa, dia bilang gini.. "Gak punya AKUN aja belagu ngflame orang! Kalo berani log In dong! Dasar pengecut!"
Kalo gak salah sih kata-katanya gitu, tapi lupa juga:3
Makasih banyak buat yang mau ninggalin review dan memberikan respon yang positif tanpa kata-kata yang kasar. Kalo ada kritik dan saran diterima kok, asal pake bahasa yang sopan ya :)
Pokoknya, sekian aja cuap-cuap Author iniiii!
Sampai ketemu di chap depan!
-Aomine Sakura-
